Tampilkan postingan dengan label 2.5 STARS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2.5 STARS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

A VERY YUPPY WEDDING: NOT YUPPY AS IT'S TITLE

Judul: A Yuppy Very Wedding
Pengarang: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Rosi L. Simamora
Jumlah halaman:  288 halaman
ISBN: 978-979-22-8798-1
Cetakan 9, Maret 2013
Segmen: Dewasa muda
Genre: Metropop, chiclit, realistic fiction
Harga: RP 60.000
Rate: ★★½


Maaf kalau telat review posbarnya, karena bulan Februari ini saya mengalami distraksi baca luar biasa yang bikin mood membaca jadi turun. Tambah lagi buku yang saya pilih untuk posbar profesi ternyata juga tidak asyik IMO  dan imbasnya saya jadi lelet sekali bacanya, karena menyaksikan doggy-doggy lucu di youtube jauh lebih menyenangkan daripada membaca pertengkaran Andrea-Adjie melulu. #maapkan

Saya bingung ceritain tentang resensinya, karena secara keseluruhan ceritanya hanya tentang pasangan bankir yang selalu salah paham dalam pacaran dan kesibukan menyiapkan pernikahan.

Eniwei, buku ini tidak sepenuhnya bahas profesi, lebih seperti cerita romance yang berlatar belakang profesi bankir. Karena meski ada banyak beberapa istilah bankir, juga bagaimana super sibuknya profesi bankir ini, saya tetap merasa fokus utama adalah hubungan Andrea-Adjie, yang sayangnya sangat tidak enjoyable sepanjang saya membacanya.

Rabu, 10 Desember 2014

INSURGENT: FULL IN ACTION BUT WEAK STORYLINE AND BORING PLOTLINE

Judul: Insurgent (Divergent #2)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan Fantasi 
Penerjemah: Nur Aini
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 551 halaman
Cetakan 2, Mei 2013
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia
Harga: Rp 59.000, bisa di beli di bukukita
Rate: ★★½

"Insurgent = Orang yang bertindak sebagai oposisi terhadap otoritas yang mapan, yang tidak selalu dianggap sebagai orang yang suka berperang." ~ hal 478

 Dari Amity ke Candor, kembali ke Dauntless, berkumpul di Abnegation dan menuju Erudite ( this review contain spoiler).

Rabu, 30 April 2014

PARIS: ALINE (SETIAP TEMPAT PUNYA CERITA #1)

Judul Buku: Paris: Aline (STPC #1)
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona, Ibnu Rizal
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi: Diani Apsari
Jumlah Halaman: 212 Halaman 
Terbit: Cetakan kedua, 2013
Segmen: Remaja
Genre: Romance
Rate: ★★½
Catatan: Buntelan dari ultah Gagas Media #unforgotTEN (kado untuk blogger)

Siapa Aeolus Sena? Hanya dari penemuan sebuah porselin yang dibuang, hari-hari Aline di Paris mendadak jadi dipenuhi misteri seputar pria itu. 

Tidak ada yang biasa tentang Sena. 
- Pertama pria itu mengajaknya bertemu tepat tengah malam di sebuah tempat yang dulunya dipergunakan untuk mengeksekusi mati para tahanan. 
- Kedua, pria itu berani berjanji akan mengabulkan apapun 3 permintaan Aline.
- Ketiga, pria itu  membuat janji dengan cap darah.
- Keempat, pria itu selalu muncul dan menghilang dengan tiba-tiba. 
- Kelima, pria itu menyukai tempat-tempat yang gelap dan seram seperti kuburan.
- Keenam, pria itu bekerja di tukang reparasi mesin tik. 
- Ketujuh, setiap ekspresi di wajah pria itu tidak bisa ditebak, sedetik ia tampak usil dan sedetik kemudian ia serius.

Siapa Aeolus Sena? Mengapa ia selalu datang dan pergi dengan tiba-tiba? Di mana ia tinggal? Sena tidak pernah memberikan jawaban langsung pada Aline. Untuk mencari tahu jawabannya, Aline berusaha mengumpulkan setiap kepingan puzzle dengan menyusuri setiap tempat di Paris

Jumat, 28 Februari 2014

BLISS (THE BLISS BAKERY TRILOGY #1): NOT AS DELICIOUS AS ITS COVER.

Judul Buku : Bliss (The Bliss Bakery Trilogy #1)
Pengarang: Kathryn Littlewood
Penerbit: Noura Books (Mizan)
Jumlah Halaman: 310 Halaman
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Penyelaras Aksara: Aini Zahra
Segmen: Anak-anak, Remaja
Genre: Fantasy, Culinary
Harga: Rp 49.500, bisa dibeli di www. mizan.com
Rate: ★★½

Pada suatu hari: 


Tersebutlah ada satu keluarga yang menjalankan usaha toko roti. Nama keluarga tersebut adalah Bliss, yang terdiri dari Purdy dan Albert sebagai orang tua dan 4 orang anak mereka, yaitu Thyme (15), Rosemary (12), Sage (9) dan Parsley (3). Kue dan roti buatan toko roti Bliss sangat digemari oleh penduduk kota, kue-kue dan roti-roti tersebut tidak hanya lezat, tapi juga terkadang bisa menyembuhkan dan memecahkan masalah bagi mereka yang membutuhkannya. 

Ada rahasia mengapa kue dan roti dari toko roti Bliss bisa meyembuhkan atau memecahkan masalah bagi mereka yang memakan kue-kue tersebut, rahasianya adalah sihir. Purdy dan Albert menyimpan resep rahasia, di mana mereka terkadang mencampur bahan-bahan eksotis dan tidak biasa dalam adonan roti dan kue mereka lalu mengucapkan mantera saat mengaduk semua bahan-bahan tersebut. 

Bahan-bahan itu misalnya :
- Halilintar 
- Kuapan musang tidur
- Sayap peri yang dikeringkan
- Dll.

Rosemary, si putri pertama, sangat penasaran dan berharap suatu saat bisa ikut menggunakan sihir dalam membuat roti dan kue seperti ibu mereka. Namun Purdy dan Albert melarang keras anak-anak mereka untuk ikut menggunakan sihir. Hingga suatu hari ada urusan mendesak yang membuat Purdy dan Albert harus pergi dan terpaksa meninggalkan anak-anak mereka untuk sementara, termasuk meminta anak-anak untuk menjaga toko roti. 

Rose tahu kalau resep-resep rahasia keluarga Bliss sangat berharga dan harus dijaga baik-baik, namun sedikit coba-coba, rasanya tidak masalah, lagipula ia harus berlatih dengan resep-resep itu bila ingin sepandai ibunya dalam menjadi ahli sihir dapur. 

Tapi Rose tidak tahu bahwa menggunakan resep sihir tidaklah sama dengan resep biasa.

Rabu, 11 Desember 2013

BOOK REVIEW: MAHOGANY HILLS BY TIA WIDIANA

★★½

Judul Buku: Mahogany Hills
Pengarang: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 344 Halaman
Segmen: Dewasa
Genre: Romance, Domestic Romance
Status: Pinjaman dari Mbak Dewi

Sebenarnya, saya malas mereview buku ini. Kenapa? Pertama, karena ceritanya biasa saja menurut saya. Kedua, buku ini juga sudah selesai saya baca sejak 5 hari yang lalu dan sekarang saya sudah lanjut baca buku lain. Jadi feelnya sudah menghilang 50% (saya memang tipe yang selesai baca harus langsung review, kalau tidak cepat direview dan langsung lanjut baca buku lain, pasti feelnya bakal hilang, kecuali bukunya itu sangat berkesan sampai bikin saya book hangover) Ketiga, sudah banyak review-review seru dan menarik tentang buku ini lebih tepatnya seru baca reviewnya, alih-alih seru baca bukunya :P 

Terus, apa yang membuat saya akhirnya mereview buku ini? Yah, itu karena semata-mata, isi blog saya akhir-akhir ini lebih banyak uneg-uneg, opini, curhat, meme, dll daripada review buku. Jadi katakanlah review saya kali ini boleh dibilang kejar setoran. #jujur

Eniwei, busway, sekarang ini saya banyak dengar istilah domestic romance? Apa sih itu? Domestic Romance adalah cerita romens yang lebih membahas mengenai hubungan antar suami-istri atau pasangan yang sudah menikah. Nah Mahogany Hills ini juga begitu. 

Perhatian: Review mengandung spoiler dan juga mungkin bakal nyebelin. 

Ceritanya ada pasangan pengantin baru yang bernama Jagad dan Paras. Mereka menghuni sebuah rumah yang bernama Mahogany Hills, suatu daerah pegunungan di Sukabumi. Jagad dan Paras menikah karena perjodohan dari orang tua. Paras menerima pernikahannya dengan sebuah harapan indah untuk membangun suatu rumah tangga yang bahagia bersama Jagad. Sayangnya, Jagad tidak merasa demikian. Dia menikah karena terpaksa. Hal itu menyebabkan Jagad memperlakukan istrinya, Paras dengan sangat buruk. Sementara Paras tetap berusaha tabah menerima semua perlakuan Jagad, dengan harapan suatu saat cinta bisa bersemi di antara mereka. 

Yup, itulah ringkasan ceritanya. Dari situ sudah ketahuan polanya. Awalnya cowoknya arogan, menyebalkan, lalu akhirnya jadi bertekuk lutut sama ceweknya. 

Saya tahu Mahogany Hills dari beberapa review anak-anak BBI. Boleh dibilang, daripada bukunya sendiri, membaca review-review Mahogany Hills lebih seru. Misal review Ren atau Mbak Dewi yang lebih banyak mencak-mencak karena jalan ceritanya atau tokoh cowoknya yang minta ditampol. Tapi ada juga yang suka, seperti review Stefanie atau reviewnya Luckty. Eh apa maksud saya nih, bawa-bawa ripiu orang ke blog saya?

Tidak ada maksud apa-apa sih, tapi supaya adil, saya harus kasih review yang suka dan tidak suka donk. Namanya juga pendapat dan selera, pasti beda-beda. Lha, terus saya sendiri bagaimana? Sayangnya, saya lebih condong ke kubu yang tidak suka. Alasannya, yah, silakan cek sendiri di link review yang saya sebutkan di atas. Lalu alasan lain, mungkin saya merasa penuturannya terlalu banyak narasi dan deskripsi yang kadang bikin saya bosan, karena jadinya bertele-tele. Meski dari segi diksi sudah baik, tapi yah penuturan yang terlalu panjang dan detil (macam truk pengangkut sayur mayur pun dijelaskan lengkap susunan sayurannya, padahal truknya hanya lewat selintas saja) bikin saya suka hilang fokus dan teralihkan ke hal lain. 

Saya ingat, buku ini sempat heboh di grup bajai jaboers. Kebanyakan penasaran karena buku ini adalah pemenang pertama lomba penulisan Amore tapi justru beberapa reviewnya jelek. Lalu, saya tanya, "Emang bukunya seperti apa sih?" dan dijawab, "Mirip Harlequin jadul."

Setelah saya selesai membacanya, ternyata memang mirip Harlequin jadul, termasuk penuturan Tia, hanya saja lebih disesuaikan dengan budaya Indonesia. (Baca: maksudnya tuh nggak ada adegan gelenyar-menggelinjang). 

Saya sebenarnya lumayan menikmati Harlequin sewaktu SMA, cuma berhubung ternyata setelah itu, saya mengetahui kalau kehidupan tidaklah semanis kisah Harlequin, saya pun mulai beralih ke genre lain yang cerita, konflik dan karakternya lebih real. Yah, tapi berhubung saya banyak melihat lini Amore di toko buku, maka saya mengambil kesimpulan, bahwa tema basi pun tak lekang dimakan jaman asal pengemasannya menarik. 

Tapi, yang saya sayangkan pengemasan menarik itu tidak sebanding dengan isi ceritanya. Tia, mempunyai gaya diksi yang rapih seperti novel terjemahan. Tapi mungkin saja selera saya agak bertentangan dengan mainstream, saya tidak suka tipe cowok arogan dan cewek yang nrimo. Terus saya juga tidak suka dengan cerita perkosaan dan amnesia. Bayangin, ceweknya diperlakukan dengan dingin, harga diri sang cewek sudah dipermalukan pas malam pertama, terus pas lagi lebam-lebam karena habis diserang cowok lain, bukannya diobati dulu luka-lukanya dan dihibur malah diperkosa, meski suaminya sendiri, tetap perbuatan itu tidak pantas. 

Oke, ralat, saya benarnya gak masalah, dengan tema basi, cerita klise termasuk adegan "lupa" selama punya relevansi dan alasan yang bagus untuk keseluruhan plot ceritanya. Tapi kadang berasa adegannya ini, lebih karena untuk sekedar nambahin konflik. Padahal, konflik utama sudah ada, yaitu Jagad yang tidak mau mengakui perasaannya. Tapi mengapa harus tunggu "lupa" dulu baru mau mengakui.

Selain itu, karakternya juga tidak konsisten, terutama Paras, saat dia amnesia. Dia takut pada Jagad, tapi juga pengen dekat-dekat sama Jagad, lha?

Kalau saya, penulisnya, mungkin, alih-alih amnesia, saya lebih baik mengubah karakter Paras. Misal Paras jadi syok karena keguguran dan membenci Jagad dan tidak mau menerimanya kembali. Etapi, kalau kayak gini, namanya bukan Amore yah, tapi jadi Udah Putusin Aja! 

Kamis, 21 Februari 2013

NIGHTSHADE (NIGHTSHADE #1)

✮✮½
  • Judul Buku    : Perburuan Takdir
  • Pengarang     : Andrea Cremer    
  • Penerbit        : Gagas Media

Okay I will give harsh critique about the translation, because I read the Indonesian translation, so first, I want to complain about the translation, it's just... SO HORRIBLE, really and I am thinking maybe  there are no editor or proofreader for this book,  because the translator seems using google trans to translate this book because there are so many wrong structure and phrases in many sentences I read. 

Alright let's review :
1. I must push myself so hard to read and finish this book, because it's not real fantasy, it's more about romance like Twilight, when a hormonal teenage werewolf girl cannot decide around 2 boys she likes. The Heroine here is called Calla, the author describe her as kick ass but what it showed on the story is more how she is so emotional when it about boys (and mostly anything involved her in the book are about 2 boys), I think maybe I'm just have high expectation about kick ass heroine definition. For me kick ass more than just tomboy, can fight or kungfu or become a leader of some groups. For me kick-ass it's about independent, smart and able to take control on a situation no matter how odd it is, I will give an example, I like Meghan Chase from The Iron King, she is not a fighter but won't mind sacrifice something on herself as long as she can help her little brother.

2. There are not really a real story in this first book. The story are more about romance and Calla's feeling (or hormone). Sure there are universe introduction about werewolf in this book (keeper, guardian & searcher), although it kind of weird and more like fanfiction (too much making up). 

3. Both Calla and Shay are annoying me in some point. Calla annoys me about her hormonal issue, please note I don't have problem with romance novel, I like love story as long as is not overdone or exaggerated and this book so much show how Calla's hormone take control rather than about her feeling, I think she even still confused about her feeling, and Shay annoys me about his free spirited issue, his free spirited attitude and rebellious just making him look like irresponsible character and that's what I see in him. No wonder many readers dislike Shay.

4. The last 100 pages of this book saved the story, I just felt the tense near the ending are the only part that wake me up. And too bad, the twist even just felt incomplete. I still don't know who is Shay's uncle, what about the searcher and many other questions, okay there are sequel but still some question should explain in first book.

5. Last, I shipped Calla with Ren. Funny thing here, the author told Ren as bad boy while it's shown the opposite, he is nice with Calla and will do anything for her.  

So far, I am not find any satisfying books about werewolf. Also note to myself, it's time for me to step up from YA romance with high school background, I think I'm getting too old for this kind of genre (a.k.a easily getting bored).

And since I used to say this book remind me of Twilight, so whether this is still a better love story than Twilight? Well this time I will said no. Because Edward and Jacob are better than Shay, well sorry, just my opinion.  

Rabu, 26 Desember 2012

NEW MOON (TWILIGHT #2)

✮✮½
  • Judul Buku : New Moon (Dua Cinta)
  • Pengarang  : Stephenie Meyer
  • Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis :

Kisah dibuka dengan kejutan dari keluarga Cullen atas ulang tahun Bella yang ke-18, keluarga Cullen mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Bella, sayangnya Bella tidak berhati-hati saat membuka kadonya, sebab kertas pembungkus kado tersebut mengiris kulit Bella yang berakibat darah keluar dari kulit tangannya dan pesta pun menjadi kacau, karena para vampir Cullen menjadi lapar melihat darah manusia akibat luka kecil dari tubuh Bella.  Jasper yang tidak bisa menahan diri terpaksa dihentikan oleh Emmet. Hanya Dr Carisle Cullen yang tampak tenang dan dapat menahan diri melihat darah dan merawat luka-luka pada tangan Bella (yah, luka kecil akibat teriris menjadi besar karena Edward terpaksa mendorong Bella dari serangan Jasper yang membuat Bella terlempar dan tangannya mengenai pecahan kaca), bahkan Edward pun tidak bisa berlama-lama melihat darah Bella. 

Akibat keadaan itu, keluarga Cullen dan Edward memutuskan tidak aman bagi Bella untuk berada bersama mereka. Maka Edward dan keluarga Cullen pun pergi meninggalkan Bella secara sepihak yang menyebabkan Bella patah hati dan mengalami guncangan batin dan syok emosional yang hebat. Hari-hari Bella yang sebelumnya indah karena ada Edward menjadi terasa begitu kosong dan hampa. Bella menjadi pemurung, menarik diri dari lingkungan sekitar sehingga dia sulit berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya baik itu keluarganya maupun teman-temannya.

Lalu muncullah Jacob Black, teman masa kecil Bella. Kemunculan Jacob seperti menjahit luka pada hati Bella akibat ditinggalkan Edward dan perlahan-lahan Bella  mulai menjadikan Jacob sebagai bagian dari dunianya. Ternyata jacob pun mempunyai perasaan terhadap Bella dan ingin agar Bella memilihnya. Namun masalahnya Bella masih tetap mencintai Edward dan tidak akan pernah bisa melupakan Edward dan disatu sisi lain  ternyata Jacob juga memiliki rahasia, bahwa ia masih keturunan dari salah satu klan suku Indian yang memiliki kemampuan untuk berubah menjadi serigala dengan kata lain Jacob adalah manusia serigala. 

Kesan saya :

Pasti ada pertanyaan, mengapa saya mau membaca sekuel buku ini padahal jelas-jelas saya menyatakan bahwa cerita dalam Twilight bukanlah jenis cerita yang saya suka?

Katakan saja saya berbaik hati kepada pengarangnya (Stephenie Meyer) dengan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki ceritanya di buku 2 setelah cerita buku 1 hanya lebih berkisar pemujaan Bella terhadap Edward. Dan setelah saya baca, yah, emang sih lebih baik sedikit, tuh buktinya saya kasih tambahan 1/2 bintang (buku 1, hanya saya kasih 2 bintang) :D karena buku 2 menurut saya ceritanya lebih matang dari buku 1. 

Sayangnya, ketidaksukaan saya sama Bella tetap sama. Apalagi disini dia sangat cengeng dan   seolah tampak tidak peduli pada keadaan sekitar akibat diputus Edward dan Bella menggambarkan dirinya sebagai manusia paling malang sedunia karena dia baru saja ditinggal sama Edward. Yah emang sih bisa dimaklumi mengingat Bella masih remaja dan dia baru saja merasakan patah hati pertamanya wajarlah kalau dia sedih, merasa down, depresi, kesepian dan segala perasaan paling malang lainnya. Cuma masalahnya mau berapa lama? Kesedihan Bella terasa sangat berlebihan dan Bella bahkan ngga berusaha untuk mencoba tegar demi ayahnya yang mengkhawatirkan keadaan dirinya, justru yang ada Bella melakukan banyak perbuatan berbahaya yang mengancam nyawanya demi bisa mendapat delusi mengenai Edward, sebab baginya sudah jelas Edward adalah dunianya dan Edward pergi berarti dunianya runtuh. Please deh Bella cari cowok lain, jangan jadi cewek menyedihkan kaya githu hanya karena ditinggal cowok. 

Pada akhirnya memang ada cowok lain, dan disini kita diperkenalkan sama karakter Jacob Black yang sifatnya jauh berbeda dari Edward. Bila sifat Edward digambarkan tenang, kalem dan cenderung dingin, Jacob ini sifatnya ceria, cenderung kekanak-kanakan dan juga terus terang. Rupanya Bella ini emang sesuatu yah, (pinjam istilah Syahrini) karena semua mahluk-mahluk supranatural  bisa jatuh cinta sama Bella, bahkan Bella pun berpikir begitu dan menganggap itu memang sudah takdirnya (saya ngakak sih kalau baca salah satu bagian kalimat itu). Mengapa saya bilang semua mahluk-mahluk supranatural jatuh cinta sama Bella, karena Jacob yang jatuh cinta sama Bella juga ternyata mahluk supranatural, yaitu manusia serigala. O ya, bukan bermaksud ikut-ikutan team Edward atau team Jacob tapi kalau saya sih lebih pilih Jacob daripada Edward, secara penggambaran Jacob lebih realistis dan manusiawi. 

Terus adakah villain lain yang mengancam Bella kali ini? oh akan selalu ada kalau urusannya sama Bella (dia kan magnet bagi mahluk-mahluk supranatural, baik yang jatuh cinta maupun yang mau bunuh dia). Villainnya masih dari kawanan vampir yang sama dengan buku 1, yaitu temannya James si Laurent. Kali ini karena Edward ngga ada, maka tugas Heronya diambil alih oleh Jacob dan kawanan serigalanya. Selain itu ada muncul kelompok vampir baru, yaitu keluarga Volturi yang sayangnya gagal dieksplorasi lebih oleh Meyer, padahal  penggambaran karakteristik keluarga Volturi ini lumayan menarik lho, ngga membosankan macam keluarga Cullen. 

Dan hingga akhir cerita buku 2,  Meyer masih tetap menganggap vampir adalah subyek dan manusia adalah obyek. Karena ada plothole mengenai cara keluarga Volturi mencari makan, yaitu dengan menjebak serombongan wisatawan yang ingin melihat kastil tempat mereka tinggal. Sedangkan keluarga Volturi sangat menjaga kerahasiaan mereka dan dengan membunuh banyak turis asing sekaligus, tidakkah para polisi akan memeriksa kemana hilangnya para turis asing tersebut? dan keluarga Cullen seolah tampak masa bodoh dengan hal itu, mungkin mereka tidak setuju dan katakanlah mereka juga tidak cukup kuat untuk bisa melawan keluarga Volturi pada saat itu yang boleh dikatakan klan vampir paling kuat dan berkuasa yang bahkan menetapkan dasar-dasar aturan bagi kaum vampir . Oke katakan saja keluarga Cullen tidak punya hak secara itu bukan teritori mereka, tapi bahkan kisah selanjutnya tidak ada pembahasan sama sekali mengenai hal itu, misal keluarga Cullen berencana untuk membuat gerakan vampire vegetarian demi melindungi umat manusia, kedengaran konyol memang, tapi ini akan membuat keluarga Cullen punya tujuan hidup sebagai vampir, namun sudahlah ini kisah romance seorang cewek remaja yang dunianya hanya mengenai mati sebagai vampir agar bisa bersama kekasihnya sebaiknya jangan terlalu dicerna secara logika. 

Senin, 17 Desember 2012

It HAPPENED ONE AUTUMN (WALLFLOWERS #2)

✮✮½
  • Judul Buku  : Suatu hari Di Musim Gugur
  • Pengarang   : Lisa Kleypas
  • Penerbit       : Gramedia Pustaka Utama

Buku kedua kali ini mengambil tema musim gugur dan menceritakan tentang wallflower kedua, yaitu Lilian. Dan bila di buku pertama, Marcus sang Earl hanya menjadi cameo, maka dibuku kedua, kali ini sang Earl menjadi pemeran utama. Tapi saya merasa buku kedua ini adalah yang paling membosankan dari semua seri wallflowers, ceritanya klise tentang sepasang pria dan wanita yang mula-mula saling benci dan lambat laun menyadari kalau keduanya saling memiliki perasaan dan akhirnya jatuh cinta. Sebagaimana gambaran masa itu, sedikit banyak saya belajar mengenai tata krama dan sifat para kaum bangsawan Eropa pada masa lampau yang ternyata tidaklah seenak yang kita bayangkan. Kalau suka dengan buku Pride & Prejudice, maka pasti suka dengan buku ini.

Mungkin point menarik disini adalah karakter Lilian, tokoh utama wanita yang berkarakter pemberontak, ceplas-ceplos(nyablak dan suka menyumpah) dan cenderung pembangkang, bukan tipikal gambaran rata-rata heroine abad modern dan bukan karakter wanita yang umumnya ada di zaman HR, tapi ngga tau kenapa, saya merasa karakternya agak over untuk wanita pada masa itu. Alih-alih saya melihat jiwa feminis dalam diri Lilian yang saya lihat dia malah annoying. Mungkin ini salah satu alasan saya tidak suka buku ini, heroinenya tidak cukup likeable untuk saya. Yah mungkin ini balik ke masalah opini dan selera. 

Ceritanya sendiri standar khas HR dan novel romance pada umumnya, hero yang alpha male yaitu gagah, tampan, kaya, berkuasa dan juga arogan, mungkin karena bangsawan, karakter heroine nya sudah saya sebutkan di paragraf atas, halangan cinta hanya datang dari ibu sang hero (tipikal standar mertua yang tidak setuju sama calon menantu karena dianggap tidak sederajat, karena heroinenya bukan dari kalangan bangsawan meskipun kaya). Interaksi dan chemistry hero dan heroinenya menurut saya membosankan.

Minggu, 09 Desember 2012

THE ALCHEMYST (THE SECRETS OF IMMORTAL NICHOLAS FLAMEL #1)

✮✮½
  • Judul Buku   : The Alchemist (The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel)
  • Pengarang     : Michael Scott
  • Penerbit        : Matahati
 (WARNING : Bermuatan Spoiler!!!)

Kekuatan buku ini

1. Mythologi, buku ini kaya akan mythology daripada buku2 fantasi lain, lumayan buat nambah2 ilmu pengetahuan.
2. Covernya (heheheh, yeah I'm cover's lover)

Yang tidak disuka dari buku ini daripada bilang kelemahan karena mungkin emang masalah selera dan mood saat baca :
  1. Plot atau alur yang sangat ketebak, bikin malas buat balik tiap halaman.
  2. Karakter yang nyaris sempurna dan datar, nyaris seperti membaca biografi, karena minim pengembangan emosi dan membuat saya sulit connect dengan para tokoh.
  3. Inti cerita yg klise : ramalan, anak kembar, takdir, menyelamatkan dunia, yah intinya sih gpp kalau klise, karena cerita yg orisinal untuk sekarang ini emang sangat langka dan rata-rata cerita yang ada sekarang pun kebanyakan "retelling"  dan banyak yang bertema sama tapi asalkan pengemasannya menarik akan tetap terasa segar saat dibaca, dan masalahnya pengemasannya juga standar di buku ini.
  4. Serba instant, berasa segala sesuatu di buku ini serba instant, termasuk tiba2 saja hanya dengan transfer ilmu seorang karakter langsung serba bisa dan jago sihir, dan sim salabin, masalah beres, padahal saya saja butuh berjam-jam dan berhari-hari untuk level up suatu karakter di game RPG
  5. Balik ke masalah serba instant, karakter di buku ini sepertinya tidak terlalu struggling dalam menghadapi masalah besar macam perang.
  6. Dewa-dewi / tetua (sebutan di buku) terlalu overrated. Mereka digambarkan sangat kuat dan berkuasa tapi ternyata gampang dikalahin hanya dalam hitungan jam setelah puluhan ribu tahun mereka hidup dan berkuasa.
Yah, mungkin memang "not my cup of tea"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...