Senin, 05 Oktober 2026

THE BALLAD OF SONGBIRDS AND SNAKES: THE BIRTH OF A VILLAIN


Judul Buku: The Ballad of Songbirds and Snakes (The Hunger Games #0)

Pengarang: Suzanne Collins
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Hetih Rusli
Editor: Raya Fitrah
Jumlah halaman: 656 halaman
ISBN: 9786020650944
Cetakan 5, Januari 2024
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Distopia, action
Rate: ★★★½

Bukan cerita yang menyenangkan untuk dibaca.

Rasanya sudah lama sekali sejak saya menulis ulasan buku, jadi mohon maklumi bila ulasan kali ini terasa kaku kalimatnya. Perhatian, saya hanya akan menulis kesan saya akan buku ini, karena saya menyelesaikan buku ini cukup lama alias baca, berhenti lama, lalu lanjut kembali.  Bukunya sendiri terbilang tebal, 600 halaman lebih dan tokoh utamanya bukan yang membuat pembaca bersimpati. Kalau kalian pembaca trilogi The Hunger Games, jelas udah pada tahu sama presiden Snow. Nah kali ini, settingnya mundur ke masa-masa awal The Hunger Games dengan tokoh utama Coriolanus Snow remaja alias prekuel dari trilogi The Hunger Games. 

Dulu waktu trilogi Hunger Games, saya tidak pernah berpikir pemerintahan negara Panem itu sebenarnya apa, selain daripada opresif ke rakyatnya sendiri. Tapi setelah sekian lama berlalu dan kembali lagi ke Panem melalui The Ballad of Songbirds and Snakes, saya jadi berpikir kalau para distrik itu sebenarnya dijajah sama Capitol. Bagaimana tidak bila semua hasil dan sumber daya yang dikerjakan dengan keringat warga distrik diambil dan dikelola oleh Capitol dan distrik sendiri tidak mendapatkan apa-apa kalau pun ada hanya sedikit. Jadi buku ini juga memberikan sedikit sejarah mengenai perang pemberontak dengan Capitol. Sayangnya hanya sedikit sekali dibahas penyebab Capitol sampai bisa menjajah distrik-distrik di Panem. 

Inti utama cerita dalam buku ini adalah tentang Snow dan pemikirannya. Mulai dari sifat, kepribadiannya, psikologisnya, latar belakang keluarga Snow dan tujuan utama Snow sendiri. 

Pada awalnya, Snow tidak digambarkan jahat tapi juga bukan manusia baik hati. Mungkin oportunistik, ambisius dan pragmatis adalah sifat yang tepat buat Snow remaja di awal cerita. Berbeda dengan trilogi The Hunger Games, POV yang dipakai kali ini POV orang ketiga dari sudut pandang Snow. Mungkin ada yang suka, mungkin ada yang tidak. Tapi kesan yang saya rasakan buku ini lebih banyak narasi daripada dialog. 

Karena Capitol baru saja menang perang, gambaran rakyat Capitol di buku prekuel sangat berbeda dengan trilogi The Hunger Games.  Rakyat Capitol belum menjadi dangkal dengan fashion norak warna warni yang tahunya hanya bersenang-senang saja, sebaliknya Suzanne Collins sukses menggambarkan negara yang hancur akibat perang. Seperti kemiskinan dan kesulitan mendapatkan makanan bagi warga Capitol sendiri, yang membuat makanan macam sandwich saja menjadi suatu kemewahan. Jadi pembaca bisa melihat sisi lain Capitol di awal menang perang. 

Soal game atau arena sendiri menurut gue karena dilihat dari POV Snow sebagai mentor (bukan perserta langsung) itu oke tapi tidak seseru sebagai peserta langsung yang berada di arena macam Katniss. Tapi bukan berarti tidak menarik, karena pembaca akan memahami dinamika para mentor. Dan mentor di sini bukan mantan peserta The Hunger Games, tapi remaja-remaja Capitol yang masih bersekolah di SMU. Jadi fokus interaksinya lebih ke sesama mentor bukan para tribute. Untuk mentor, ada beberapa karakter yang cukup menarik menurut gue seperti Sajanus Plinth dan Lysistrata Vickers. 

Selain Snow dan teman-teman sesama mentor, ada satu karakter yang beneran vibe villainnya kenceng, yaitu Dr Gaul. Cukup dengan sedikit adegan body horror di laboratorium, perlakuannya kepada murid yang berbohong  dan pandangan politiknya mengenai Hunger Games, pembaca bisa melabelinya the evil scientist & manipulative mastermind. 

Bagaimana dengan peserta?

Karena sudut pandang utama bukan dari tribut, tidak banyak informasi soal peserta yang ikut Hunger Games ke 10 kecuali Lucy Gray dan sedikit karakter minor. Bahkan Lucy Gray sendiri hingga akhir tetap digambarkan misterius termasuk nasibnya (ini spoiler ya). Pembaca hanya tahu, Lucy bukan asli warga distrik 12, punya keluarga pengembara yang mencari nafkah dengan menyanyi bersama saudara-saudara sepupunya, suaranya indah, menyukai burung dan yang terpenting prinsipnya adalah kebebasan di atas segalanya.

Karakter utama.

Seperti yang saya tulis dijudul, buku ini menceritakan transformasi Snow dari yang awalnya hanya anak remaja miskin yang ambisius dan oportunis menjadi seseorang yang akan melakukan segala cara supaya tujuannya tercapai meski harus melumuri tangannya dengan darah. Penulis mengajak pembaca untuk mengerti karakternya bukan menyukai karakternya. Boleh dibilang buku berisi 80% karakter Snow yang masih abu-abu dan sisanya karakter Snow yang sudah mendekati Presiden Snow yang kita tahu.

Romansa: Meski ada ketertarikan antara Snow dan Lucy Gray, pembaca tidak akan merasakan itu sebagai cinta. Lebih sekadar ketertarikan semata karena terbawa suasana. Saya sudah merasa sesuka-sukanya Coryo Snow terhadap Lucy Gray, dia tidak akan rela berkorban demi gadis itu. Dan ini terbukti di bagian akhir dan bukan karena patah hati, sebab sejak awal saya tidak merasakan cinta antara Snow dan Lucy, sekiranya dari sisi Snow. 

Kesimpulan: Ceritanya cukup bagus secara storytelling. Lebih banyak narasi daripada dialog, sehingga banyak yang lebih terasa diberitahu alih-alih ditunjukkan, mungkin karena tema utama buku bukan tentang arena atau Hunger Games tapi pandangan politik dan filosofi para tokohnya. Hanya saja saya merasa agak sia-sia karena 650 halaman hanya membahas psikologis Corolianus Snow mengingat world building The Hunger Games cukup kompleks. Maksud saya kenapa gak bahas soal Avox dan kesalahan apa yang membuat lidah mereka sampai dipotong? Apakah mereka mengetahui suatu rahasia? Bahkan selain potong lidah ada yang dijadikan eksperimen di laboratorium (mengingatkan saya dengan unit 731 yang dilakukan Jepang semasa PD 2). 

Lalu mengapa tidak membahas soal distrik-distrik kaya di Panem macam 1, 2 dan 4. Walau dari distrik 2 sudah ada karakter yang mewakili yaitu Sajanus. Nah Sajanus ini sedikit dari karakter yang punya kompas moral jelas dalam buku. Selain Sajanus, saya juga suka dengan Tigris yang lembut dan empatik. Untuk mentor, Lysistrata juga menarik perhatian saya, karena meski menjadi bagian dalam sistem yang negara kejam, Lyssi digambarkan tidak menikmatinya dan dia memandang warga distrik 12 dengan manusiawi. 

Saya sematkan tiga setengah bintang untuk Balada Burung Penyanyi dan Ular. Not bad, but it felt I read it like doing a homework. 

"Dan dalam pelaksanaanya, hukum dan tata tertib membutuhkan kontrol. Tanpa adanya kontrol untuk melaksanakan kontrak, kekacauan bakal merajalela."


Minggu, 11 Maret 2018


MANHWA PRINCESS
Pengarang: Han Seung Won
Vol: 1-31 (not finished)

Sebelumnya, maafkan saya yang telah lama hiatus dan tidak pernah menulis di blog yang nyaris setahun lamanya. Terakhir menulis bulan Maret 2017 dan sekarang ketemu Maret 2018 lagi. 

Hanya saja, tiba-tiba saya sangat ingin membahas komik Princess. Komik Princess ini adalah sebuah manga dari negeri ginseng, Korea Selatan yang ditulis oleh Han Seung Won. Manga ini sudah sangat lama terbit, saya lupa kapan tepatnya terbit di Indonesia, tapi di negeri asalnya sendiri sudah sejak tahun 1996. Sayangnya kondisi kesehatan penulisnya membuat manhwa ini tidak selesai hingga sekarang dan alasan itu juga yang membuat saya memutuskan menjualnya di tokopedia, hingga saat benar-benar ada yang membeli saya malah merasa sedih melepasnya, karena 31 buku itu saya kumpulkan dalam rentan waktu yang cukup lama. Tentu ada perasaan terikat yang membuat saya merasa sedih saat melepasnya. Untung saja ada mangascannya, yang meski halamannya sangat berantakan, namun cukup bisa mengobati kerinduan saya seandainya saya kangen dengan tokoh-tokoh di dalamnya atau beberapa adegan di dalamnya. 

Senin, 20 Maret 2017

Hai Miiko vol 29: Akhirnya Miiko naik kelas


Judul buku: Hai Miiko vol 29 (Kocchimuite Miiko vol 29)
Pengarang: Ono Eriko
Penerbit: M&C
Penerjemah: Dian Indrinuswati
Cetakan 1, Maret 2017
Segmen: Remaja, semua umur
Genre: Komik, manga


Setelah lama menunggu, akhirnya salah satu komik yang selalu saya nantikan terbit juga. Hai Miiko vol 29 dikemas spesial, karena saat beli ada bonus dibelakangnya, yaitu sebuah pouch/sarung mini, karenanya pas beli harganya menjadi mahal banget, jadi Rp 55,000 rupiah. Tapi berhubung saya sudah suka Miiko, dan nggak sabar untuk membaca ceritanya, jadi tanpa pikir panjang saya langsung membayarnya ke kasir. Hai Miiko vol 29 sama seperti komik Hai Miiko vol 28 edisi spesial yang mendapat tambahan bonus merchandise dan juga jumlah halaman yang lebih banyak dari edisi regular. 


Langsung saja, bahas cerita Miiko 29 yah. Miiko 29 terdiri dari 8 cerita mengenai kisah Miiko dkk plus 1 cerita bonus di luar tokoh Miiko dkk (namun saya rasa masih dalam dunia yang sama dengan Miiko). 

Senin, 27 Februari 2017

WISHFUL WEDNESDAY #49: THE MYTH


Semoga masih belum telat postingnya, karena saya baru tahu WW ini pas hari Senin. Hehehe. Di usia blog yang telah berjalan 4 tahun, sepertinya blog saya seperti arti angka 4 itu sendiri dalam bahasa China (shi/mati) karena memang seperti mati suri, alias jarang update, hahaha. 

O ya, sebelumnya, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Wishful Wednesday. Saya beruntung pernah 2 kali menang Wishful Wednesday yang diadakan oleh Kak Astrid, salah satu reviewer favorit saya di BBI.

Untuk mengejar waktu sebelum jam 12 malam (macam Cinderella saja), langsung saja saya ke list buku-buku yang saya idamkan, yang masih terkait dengan kesukaan saya akan sesuatu yang berbau fantasi, yaitu:

Rabu, 11 Januari 2017

KOLPRI SALE NEW YEAR 2017

Di tahun 2017 ini, saya ingin menjual beberapa buku kolpri saya, karena ingin memberi space untuk buku-buku baru. Semua buku kolpri dalam kondisi mulus karena cuma baca 1 kali. Rata-rata sudah disampul plastik., jadi langsung saja yah:


Senin, 12 Desember 2016

Markituka Jabodetabek

Hai semua, untuk sesaat, blog ini terasa seperti mati suri. Karena tidak ada update post sama sekali selama sebulan terakhir.



Sejujurnya saya depresi. Saya kehilangan mood membaca dan merasa tidak bisa memiliki kebebasan untuk membaca atau pun melakukan hobby apa pun yang saya suka dengan tenang. Yang membuat timbunan buku saya menjadi statis tidak berkurang selama tahun 2016 (yah memang ada beberapa yang dibaca, tapi pembelian baru juga ada), Kalau boleh pilih, saya lebih tertarik photo prop ketimbang buku.

Awalnya, saya sempat ragu ingin ikut markituka. Karena beberapa alasan:
1. Saya tidak punya ide buku apa yang saya inginkan.
2. Timbunan saya masih banyak
3. Saya masih reading slump & juga alasan yang saya sebut di atas, tidak ada ketenangan untuk bisa melakukan hal yang saya suka. 

Senin, 17 Oktober 2016

MINI REVIEW: THE LITTLE PRINCE


Judul: The Little Prince (Petit Prince)
Pengarang: Antoine de Saint-Exupery
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Listiana Srisanti
Jumlah halaman: 112 halaman
ISBN: 979-22-0469-5
Segmen: Anak-anak, umum
Genre: Fantasi, filosofi

Oke, sebenarnya saya sungguh malas mereview buku ini, tapi berhubung foto buku sudah ada, saya putuskan saya ingin memajangnya di blog dengan cara... direview.

Oh ya, salah satu alasan saya malas mereview buku ini adalah karena saya tidak enjoy sama sekali saat membaca buku ini. Namun bukan karena buku ini jelek, tapi katakanlah saya masih dalam mood reading slump dan jenis buku ini bukan jenis buku yang bikin penasaran. Gampangnya, not my cup of tea. Cuma berhubung tipis, saya paksain diri menyelesaikan buku ini. Dan sungguh, membaca sesuatu yang tidak kita sukai itu sama sekali tidak menyenangkan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...