Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

RECOLLECTION: FANTASI LOKAL DENGAN DENGAN RASA ANIME DAN GAME

Judul Buku: Recollection (Ther Melian Series)
Pengarang: Shienny M. S. 
Penerbit: Elex Media
Editor: Desy Natalia
Jumlah halaman: 460 halaman
Cetakan 1, Juni 2013
ISBN: 978-602-02-1388-0
Segmen: Remaja
Genre: High Fantasy
Rate: ★★★½


Menjelang festival perayaan musim kemarau, serangkaian pembunuhan sadis terjadi di desa Dominia, membuat para warga desa menjadi resah dan jam malam pun diberlakukan. Elya, gadis Vier-Elv yang juga penduduk Dominia menemukan seorang pemuda misterius dalam keadaan sekarat di malam terjadinya salah satu peristiwa pembunuhan sadis tersebut. 

Namun alih-alih mencurigai keterlibatan pemuda misterius tersebut, Elya memutuskan untuk membawa pemuda tersebut ke rumahnya serta merawat luka-lukanya dengan harapan saat si pemuda siuman, ia bisa memberitahukan bagaimana peristiwa pembunuhan sadis tersebut terjadi. Sayang harapan Elya pupus, karena saat tersadar si pemuda tidak ingat siapa dirinya dan tidak bisa memberi petunjuk apa pun mengenai peristiwa pembunuhan sadis tersebut. Karena si pemuda lupa akan namanya, Elya memutuskan untuk memberi nama si pemuda misterius tersebut, Lucca, yang berarti "Si Anak Hilang."

Sementara rentetan pembunuhan sadis masih terus terjadi di sekitar Dominia, Lucca mendapati beberapa kilasan ingatannya kembali dan menyadari bahwa ia ada hubungannya dengan salah satu peristiwa pembunuhan di Dominia. 

Siapakah sebenarnya Lucca? Apakah ia ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa pembunuhan sadis yang terjadi di Dominia? Siapakah pelaku dari serangkaian pembunuhan sadis tersebut? Apa motif dibalik peristiwa pembunuhan tersebut di sekitar Dominia?

Rabu, 03 Juni 2015

4 DOZEN ROSES: SEBUAH NOVEL DOMESTIC ROMANCE YANG TO THE POINT

Judul: 4 Dozen Roses - Aku Mencintaimu Tanpa Syarat
Pengarang: Bey Tobing
Penerbit: Sunray Books
Editor: Beby Yunina
Jumlah halaman: 164 halaman
Cetakan 1, Maret 2012
ISBN: 978-602-8325-14-1
Segmen: Dewasa
Genre: Domestic romance, chiclit, metro-pop
Rate: ★★★½

Ada doktrin yang tertanam dalam pikiran Odilia, sebelum ia memutuskan untuk menikah. 

Bahwa laki-laki yang menyayangi keluarganya adalah laki-laki yang pantas untuk dijadikan suami. Karena bagaimana mungkin seorang suami bisa menyayangi keluarga istrinya jika ia bahkan tidak menyayangi keluarganya sendiri? ~hal 10.

Namun ternyata tahun pertama mengarungi kehidupan rumah tangga bersama Alan, membuat Odilia menyesali keputusannya sendiri, karena ia harus berbagi perhatian dan finansial suaminya dengan keluarga suaminya. Karena keluarga Alan masih membutuhkan bantuan Alan untuk membiayai kuliah adik Alan, Laura. Tambah lagi ketiadaan anak membuat Odilia tidak bisa menuntut penuh perhatian suaminya. 

Karenanya Odilia berpikir bahwa ia harus segera hamil, karena mempunyai anak akan mengubah prioritas Alan untuk lebih mengurangi perhatiannya terhadap keluarganya. Namun ternyata dokter memvonis Odilia akan sulit mempunyai keturunan. 

Namun bukan itu saja masalahnya, karena akibat ego masing-masing masalah lain pun berdatangan dan rumah tangga mereka terancam hancur berantakan. 

Minggu, 24 Mei 2015

LOVE AND THE CITY: SAAT HARUS MEMILIH ANTARA KARIR ATAU JODOH

Judul: Love and The City
Pengarang: Momoe Rizal, Nabila Budayana, Anggun Prameswari, Indah Arifallah, Kent Sutjipto, Indah Hanaco, Zelie Petronella, Winda Oei, Winda Krisnadefa, Nurilla Iryani, Windhy Puspitadewi, Septantya Chandra
Penerbit: Bypass
Editor: Aditya Yudis
Jumlah halaman: 208 halaman
Cetakan 1, Januari 2015
ISBN: 978-602-1667-05-7
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Metropop, chiclit, romance
Rate: ★★★

"Bahagianya orang itu nggak sama, Jani. Kalau bahagiamu adalah menikah, bahagianya Ajeng belum tentu."

Love and The City adalah sebuah kumpulan cerpen yang ditulis oleh 12 penulis dengan satu tema utama yaitu mengenai karir dan jodoh.


Boleh dibilang karir dan jodoh adalah salah satu realita sosial yang biasa ada dalam kehidupan masyarakat urban. Kehidupan kota yang sibuk terkadang membuat seseorang harus memilih antara menghabiskan waktu bersama pasangannya atau menghabiskan waktu akibat tuntutan pekerjaan.

Waktu mendengar tema utama buku ini yaitu mengenai memilih antara karir atau jodoh, saya sedikit mengerutkan kening. Mengapa? Karena menurut saya karir dan jodoh bisa saja jalan berdampingan secara damai asal bisa kompromi. Mengapa temanya terkesan hanya bisa memilih salah satu?

Tapi itu hanya tema, isi cerita di dalamnya ternyata tidak melulu mengenai memilih karir atau jodoh, memang setiap cerpen membahas kedua hal tersebut tapi eksekusinya bermacam-macam. 

Sabtu, 09 Mei 2015

SUPERNOVA: KSATRIA, PUTRI DAN BINTANG JATUH

Judul: Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee (Dewi Lestari)
Penerbit: Truedee Books
Proofreader: Prof. Dr. Fuad Hassan, Hermawan Aksan
Cetakan V, November 2001
ISBN: 979-96257-0-X
Jumlah halaman: 231 halaman
Segmen: Dewasa
Genre: Filosofi, Magical Realism
Rate: ★★★
Special Note: Thanks to Indah for lending me your book. 

"Free will adalah kebebasan manusia untuk mengubah perspektif."

Bagaimana saya mereview buku ini?


Untuk review kali ini, saya tidak akan mereview ceritanya tapi langsung mengenai opini saya mengenai buku ini. Karena seperti yang kalian semua tahu, ini buku sudah terbit sangat lama dan saya memang telat banget baru membacanya sekarang, jadi saya yakin kalian semua sudah tahu mengenai ceritanya. 

Kamis, 30 April 2015

THE NAKED TRAVELER: 1 YEAR ROUND THE WORLD TRIP - PART 2

Judul: The Naked Traveler: 1 Year Round The World part 2
Penulis: Trinity
Editor: Nurjannah Intan
Proofreader: Pritameani & Titish A.K. 
Cetakan 1, September 2014 (326/555)
ISBN: 978-602-1246-15-3
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, traveling, personal literature
Rate: ★★★★

Negara: Kolombia, Kuba, Jamaika, Meksiko, Guatemala

Kolombia
Lanjut berpetualang ke Amerika selatan. Kali ini Mbak T mengunjungi negara yang sempat terkenal akan kartel narkobanya, yaitu Kolombia. Saya baru tahu, bahwa Kolombia, tepatnya di kota Cali adalah tempat lahirnya tarian salsa. Namun bab yang menarik perhatian saya adalah saat Mbak T mengikuti underground tour (tour tidak resmi yang bahkan dilarang pemerintah, namun bukan Mbak T namanya kalau perjalanannya normal-normal saja) di Kota Medellin, kota yang terkenal pernah menjadi pusat kartel narkoba dan dijuluki The Most Violent City In The World. Mungkin karena saya suka akan sejarah dunia, makanya bab ini menjadi salah satu favorit saya dari tntRTW part 2, saya jadi tahu secara garis besar sejarah raja narkoba terkenal Pablo Escobar, yang siapa sangka juga dianggap Robin Hood dan dicintai kaum papa, karena uang haram hasil narkoba banyak dipakai untuk membantu rakyat miskin. 

THE NAKED TRAVELER: 1 YEAR ROUND THE WORLD TRIP - PART 1

Judul: The Naked Traveler: 1 Year Round The World part 1
Penulis: Trinity
Editor: Nurjannah Intan
Proofreader: Pritameani & Titish A.K. 
Jumlah halaman: 260 halaman
Cetakan 1, September 2014 (115/555)
ISBN: 978-602-1246-14-6
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, traveling, personal literature
Rate: ★★★½

Negara: Eropa (just a little), Brasil, Cile, Ekuador, Peru. 


Nama Trinity adalah salah satu nama terdepan untuk penulis buku-buku bertema travel. Para pembaca (termasuk saya) menyukai gaya menulis Mbak T yang cenderung blak-blakan dan jauh dari kesan kaku atau standar. Selain itu pembahasannya seputar traveling selain informatif juga ditulis dengan sangat menghibur, karena Mbak T tidak hanya membahas mengenai tempat-tempat wisata dari suatu tempat tapi juga kebiasaan masyarakatnya dan tentunya pengalaman-pengalaman serunya (baik yang menyenangkan maupun tidak) dari setiap tempat yang dikunjunginya dengan gaya pengemasan yang terkadang kocak. Tak hanya itu Mbak T juga suka berkunjung ke tempat-tempat yang tidak biasa  (bukan destinasi turis) yang tentunya sangat menambah pengetahuan bagi saya. Karena itu saat tahu kalau Mbak T sedang traveling keliling dunia selama setahun, saya coba tahanin tidak membaca keseluruhan blognya, karena saya ingin membaca ceritanya dari buku. 

Dan saat buku ini diterbitkan, saya pun langsung PO edisi bertanda tangan di tokbuk online langganan. 

Saya akan berikan saja kesan singkat dari setiap negara:

Minggu, 01 Maret 2015

A VERY YUPPY WEDDING: NOT YUPPY AS IT'S TITLE

Judul: A Yuppy Very Wedding
Pengarang: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Rosi L. Simamora
Jumlah halaman:  288 halaman
ISBN: 978-979-22-8798-1
Cetakan 9, Maret 2013
Segmen: Dewasa muda
Genre: Metropop, chiclit, realistic fiction
Harga: RP 60.000
Rate: ★★½


Maaf kalau telat review posbarnya, karena bulan Februari ini saya mengalami distraksi baca luar biasa yang bikin mood membaca jadi turun. Tambah lagi buku yang saya pilih untuk posbar profesi ternyata juga tidak asyik IMO  dan imbasnya saya jadi lelet sekali bacanya, karena menyaksikan doggy-doggy lucu di youtube jauh lebih menyenangkan daripada membaca pertengkaran Andrea-Adjie melulu. #maapkan

Saya bingung ceritain tentang resensinya, karena secara keseluruhan ceritanya hanya tentang pasangan bankir yang selalu salah paham dalam pacaran dan kesibukan menyiapkan pernikahan.

Eniwei, buku ini tidak sepenuhnya bahas profesi, lebih seperti cerita romance yang berlatar belakang profesi bankir. Karena meski ada banyak beberapa istilah bankir, juga bagaimana super sibuknya profesi bankir ini, saya tetap merasa fokus utama adalah hubungan Andrea-Adjie, yang sayangnya sangat tidak enjoyable sepanjang saya membacanya.

Jumat, 28 November 2014

TIGA BIANGLALA: KISAH KESEDERHANAAN PERSAHABATAN ANAK-ANAK YANG POLOS

Judul: Tiga Bianglala
Penulis: Misna Mika
Penerbit: Gramedia pustaka Utama
Jumlah halaman: 304 halaman
Cetakan 1, 2013
Segmen: Anak-anak, remaja, semua umur
Genre: Drama, realistic fiction
Harga: Rp 57.000
Rate: ★★★½


Itut dan Manna, 2 anak SD yang sudah bersahabat sejak kecil. Mereka berdua hidup susah dan miskin di sebuah kampung di kota Palembang. Ayah Itut hanya bekerja serabutan sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tidak tetap yang harus menghidupi istri dan keenam anak-anaknya termasuk Itut. Untuk makan sehari-hari pun mereka sering kesulitan yang membuat Itut sering kelaparan karena tidak kebagian jatah makanan dengan saudara-saudaranya. 

Begitu pula dengan Manna, sahabat karib Itut. Kendati ayah Manna lumayan berkecukupan dan sangat menyayangi Manna, ia terpaksa tinggal dengan nenek tirinya yang miskin karena ibu tirinya membenci Manna dan sering menyakitinya. Uang yang diberikan ayah Manna kepada nenek tirinya untuk kebutuhan Manna terpaksa dibagi untuk membiayai kebutuhan hidup saudara-saudara tiri Manna yang lain dan sering membuat Manna kelaparan karena tidak kebagian makanan di rumah nenek tirinya. 

Hal ini ditambah lagi dengan perlakuan salah satu teman sekelas mereka, yaitu Vivi, anak orang kaya yang sombong dan suka menghina Itut dan Manna karena mereka berdua miskin. Meskipun susah dan sering menderita, Itut dan Manna berusaha gembira seperti anak-anak lain. Itut yang jahil, lincah dan banyak akal selalu mempunyai banyak ide untuk membuat hari-hari mereka yang penuh keterbatasan menjadi ceria, mulai dari mencuri jambu tetangga yang terkenal pelit, menyewa sepeda, bermain cak engkleng hingga berjualan es bungkus.

Saat bagi raport, nilai-nilai Itut banyak yang merah, dari sini Itut dan Manna memutuskan untuk belajar dengan Meimei, gadis Tionghoa teman sekelas mereka yang selalu juara 1. Meimei sendiri senang berteman dengan Itut dan Manna. Karena etnisnya yang berbeda, Meimei selalu dijauhi oleh teman-teman yang lain dan dianggap anak aneh. 

Tiga gadis cilik ini menamakan persahabatan mereka sebagai 3 bianglala. Seperti pelangi, persahabatan mereka akan dipenuhi oleh berbagai warna-warni, yang tidak hanya berisi canda dan tawa tapi juga haru. 

Rabu, 30 April 2014

PARIS: ALINE (SETIAP TEMPAT PUNYA CERITA #1)

Judul Buku: Paris: Aline (STPC #1)
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona, Ibnu Rizal
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi: Diani Apsari
Jumlah Halaman: 212 Halaman 
Terbit: Cetakan kedua, 2013
Segmen: Remaja
Genre: Romance
Rate: ★★½
Catatan: Buntelan dari ultah Gagas Media #unforgotTEN (kado untuk blogger)

Siapa Aeolus Sena? Hanya dari penemuan sebuah porselin yang dibuang, hari-hari Aline di Paris mendadak jadi dipenuhi misteri seputar pria itu. 

Tidak ada yang biasa tentang Sena. 
- Pertama pria itu mengajaknya bertemu tepat tengah malam di sebuah tempat yang dulunya dipergunakan untuk mengeksekusi mati para tahanan. 
- Kedua, pria itu berani berjanji akan mengabulkan apapun 3 permintaan Aline.
- Ketiga, pria itu  membuat janji dengan cap darah.
- Keempat, pria itu selalu muncul dan menghilang dengan tiba-tiba. 
- Kelima, pria itu menyukai tempat-tempat yang gelap dan seram seperti kuburan.
- Keenam, pria itu bekerja di tukang reparasi mesin tik. 
- Ketujuh, setiap ekspresi di wajah pria itu tidak bisa ditebak, sedetik ia tampak usil dan sedetik kemudian ia serius.

Siapa Aeolus Sena? Mengapa ia selalu datang dan pergi dengan tiba-tiba? Di mana ia tinggal? Sena tidak pernah memberikan jawaban langsung pada Aline. Untuk mencari tahu jawabannya, Aline berusaha mengumpulkan setiap kepingan puzzle dengan menyusuri setiap tempat di Paris

Minggu, 02 Maret 2014

ENTROK: SEPENGGAL KRITIK SOSIAL MASA LALU DARI KISAH TENTANG PEREMPUAN

Judul: Entrok
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi dan desain sampul: Restu Ratnaningtyas
Jumlah halaman: 283 Halaman
Segmen: Dewasa
Genre: Historical Fiction, Drama, Feminisme
Rate: ★★★★

"Mbok, aku mau punya entrok."
"Entrok itu apa, Nduk?"
"Itu lho, Mbok, kain buat nutup susuku, biar kenceng. Seperti punya Tinah."

Cerita ini dimulai dari suatu akhir baru. 

Sekiranya itulah yang saya lakukan saat membaca selesai hingga halaman terakhir. Dari halaman terakhir, saya balik ke halaman paling pertama untuk mendapatkan kisah selanjutnya. Jika kalian berpikir bahwa buku itu ditulis secara flasback. maka kalian benar. 
Kebisaan di pasar, buruh-buruh perempuan diupahi dengan bahan makanan. Beda dengan kuli laki-laki yang diupahi dengan uang. ~hal. 22

Selasa, 31 Desember 2013

BOOK REVIEW: GET LOST (AND GIVEAWAY, SOON)

 ★★★
 Judul Buku: Get Lost
Pengarang: Dini Novita Sari
Penerbit: Bhuana Sastra (BIP)
Penyunting: Agatha Tristanti
Jumlah Halaman: 198 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa
Genre: Travel Lit, Drama, Realistic Fiction
Harga: Rp 32.500

Jadi mana yang mau duluan? Ceritanya atau langsung ke pembahasannya? Saya rasa mari kita mulai dengan inti ceritanya dulu. 

Buku ini berkisah tentang seorang gadis bernama Lana Sagitaria yang sedang mencari arti perjalanan hidup dengan melakukan perjalanan di tengah-tengah rutinitasnya sebagai seorang pekerja kantoran. Tapi rupanya Lana tidak hanya sekedar melakukan perjalanan. Lana juga tengah berusaha mencari seseorang. Siapakah orang tersebut yang membuat Lana sampai rela menempuh jarak ribuan mil, mulai dari Bali, Singapore, Korea hingga pulang ke Surabaya? Berhasilkah Lana berjumpa dengan orang tersebut?

I easily Get Lost because

The plot sometimes get lost. Seorang penulis pernah berkata, bahwa sekarang ini penulis berlomba-lomba menciptakan ejaan yang baku, diksi yang keren, bahasa yang puitis dan berbunga-bunga  namun melupakan satu hal penting dalam menulis fiksi yaitu plot. Terkadang apa yang membuat seorang pembaca merasa betah atau tidak bosan dalam membaca suatu buku bukan karena penuturan atau gaya bahasa semata, tapi karena plotnya. Plot yang terstruktur akan membuat pembaca betah untuk tetap fokus membalik halaman demi halaman. Saya agak lama menyelesaikan buku ini karena jalinan plotnya kurang kuat. Jadinya untuk seseorang yang gampang teralihkan seperti saya, terkadang suka menunda bacanya, karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya.

Ini hanya sekadar pengandaian saja dari saya, misal, bab 1, plotnya meminta ijin cuti dari kantor. Nah penulis bisa mengeksplorasi betapa susahnya minta ijin cuti, karena kerjaan kantor lagi banyak, sementara ia sudah terlanjur booking tiket pesawat, terus bosnya tidak memberi ijin karena ada proyek yang harus dikerjakan. Bab 2,  plot utama cari hostel murah di Bali. Tapi ternyata karena di negara-negara 4 musim sedang winter, akibatnya Lana susah cari hostel karena banyak yang sudah penuh. Sempet ada adegan ini, tapi cuma sebentar. Padahal bakal lebih seru, kalau Lana itu kelabakan karena hingga malam tiba belum ketemu hostel dan terpaksa bermalam di rumah seseorang yang bekerja sebagai PSK, tapi dari sana Lana mendapat pelajaran hidup yang penting. Lalu sepanjang cari hostel, bisa diceritakan kalau hostel-hostel yang ditemui Lana, banyak yang aneh-aneh, dst.

Untuk seseorang yang berencana Get Lost, perjalanan Lana tergolong lancar dan smooth menurut saya, padahal saya berharap ada sesuatu yang bisa bikin Lana merasa kesusahan, panik dan putus asa kalau perlu :P

Bali dan Sela. Saya bingung apa sebenarnya plot atau cerita tentang Bali? Sementara Sela, saya merasakan bab ini hanya sekedar filler saja.

Singapore. Saya setuju dengan review-review lain mengenai banyaknya faktor kebetulan, dengan berbagai kemudahan yang didapat Lana sepanjang perjalanannya. Saya berharap daripada cerita soal bule dan kekasihnya, penulis membuat cerita tersesat di Singapore. Misal, Lana terpaksa menginap di hotel kawasan Geylang dan mendapat pengalaman seperti teman saya yang sewaktu ke Singapore, menginap di hotel kawasan Geylang dan setiap malam suka mendengar suara orang merintih-rintih. #mulaibablasOOT 

Korea. Agak berasa ini plotnya agak K-drama. Dan di sini juga, penulis lebih bercerita mengenai cerita karakter pendamping alih-alih karakter utama. Mengapa tidak cerita mengenai kebiasaan masyarakat Korea yang dianggap tak lazim di mata kita. Sedikit sharing cerita, ada cerita lucu dari 2 orang pendeta Indonesia yang pernah ke Korea. Saat di Korea, mereka kaget karena rumah yang ditempatinya tidak ada kamar mandi, hanya ada WC untuk panggilan alam. Rupanya orang Korea itu tidak sesering orang Indo kalau mandi  dan kadang rumah sederhana suka tanpa kamar mandi, jadi kalau mau mandi, harus di pemandian umum. Bentuk pemandian umum ini seperti ruko (yang suka baca manga pasti tahu) yang dalamnya berisi bak-bak besar. 

Tapi yang bikin aneh bagi orang Indonesia adalah mandi sama-sama dengan telanjang bulat, meski sesama jenis sekalipun. Akhirnya dua pendeta ini memutuskan untuk tetap memakai celana dalam dengan alasan bagian tersebut terlalu pribadi untuk dilihat publik, yang berakibat orang Korea melihat 2 pendeta dari Indonesia ini aneh (karena mandi dengan tetap menggunakan celana dalam) dan 2 pendeta ini justru melihat orang Korea yang aneh. Apa maksud cerita saya sih? maksud saya itu culture shock. 

Surabaya dan sekitarnya. Ini adalah salah satu plot utama dalam buku ini. Seandainya saja penulis ingin memasukkan genre misteri, saya rasa buku ini akan lebih menarik, bahkan bisa dikasih judul "Where is Dharma?"

When main character is the author herself

Saya tahu sih, kalau buku ini banyak diinspirasi dari pengalaman penulis sendiri. Tokoh utama pun juga mungkin secara tidak langsung mengambil kepribadian penulis juga. Seandainya ini non fiksi, saya tidak akan cerewet, tapi untuk sebuah fiksi, saya berharap karakter yang lebih imajinatif (baca: berbeda dengan kepribadian penulis, cerita boleh sama tapi karakter, buatlah semenarik mungkin, misal kikuk, teledor, ambisius, sarkastik, pemberontak) saya termasuk yang lebih suka 3rd person POV atau sudut pandang orang ketiga, karena ada kalanya saat membaca sudut pandang orang pertama, penulis suka tertukar dengan karakternya sendiri. 

Penuturan

Cara penuturan di buku ini, seperti personal literature. Jadi kita seperti membaca jurnal perjalanan Lana. Untuk bagian awal, saya merasa penuturannya agak terasa membosankan. Sepertinya hal ini dikarenakan terlalu banyak monolog.  Saya sebenarnya tidak masalah dengan monolog, asal porsinya pas, tidak berlebihan (misal terlalu banyak membahas pemikiran atau perasaan si tokoh utama). Bahkan monolog pun harus masuk bagian dalam plot, misal menjelaskan adegan flashback. Untunglah saat masuk bab Singapore, tampaknya penulis sudah mulai enjoy dalam menulis ceritanya. 

Gaya Bahasa

Saya tidak tahu mengapa, tapi pada bab-bab awal, gaya bahasanya terasa sangat baku dan kaku. Bahkan saya pun membacanya jadi berasa tidak lepas dan tidak santai.

Selain itu terkadang perpindahan adegan terasa terlalu cepat, tanpa penghubung. Misal adegan Oleq kasih lihat KTP-nya ke Lana. Saya rasa akan lebih enak dibaca bila Lana juga memberi sedikit penjelasan mengenai apa yang dilihatnya dalam KTP tersebut alih-alih langsung memberitahukan kesimpulannya pada pembaca. 

Memorable quote:
Dan baru-baru ini aku menyadari, kalau kenyamanan itu mencandu, menimbulkan rasa ketergantungan yang akut. Dan aku rasa, sudah tak seharusnya lagi aku bergantung kepada dia."
Pesan terakhir saya untuk penulis.

"Selamat atas buku perdananya, dinoy. Saya tunggu karya-karyamu selanjutnya, baik fiksi maupun non fiksi. Menulislah tanpa peduli dengan peraturan. Menulislah seperti apa yang kamu rasakan dengan hatimu, menulislah dengan mengekspresikan emosimu."

Rabu, 11 Desember 2013

BOOK REVIEW: MAHOGANY HILLS BY TIA WIDIANA

★★½

Judul Buku: Mahogany Hills
Pengarang: Tia Widiana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 344 Halaman
Segmen: Dewasa
Genre: Romance, Domestic Romance
Status: Pinjaman dari Mbak Dewi

Sebenarnya, saya malas mereview buku ini. Kenapa? Pertama, karena ceritanya biasa saja menurut saya. Kedua, buku ini juga sudah selesai saya baca sejak 5 hari yang lalu dan sekarang saya sudah lanjut baca buku lain. Jadi feelnya sudah menghilang 50% (saya memang tipe yang selesai baca harus langsung review, kalau tidak cepat direview dan langsung lanjut baca buku lain, pasti feelnya bakal hilang, kecuali bukunya itu sangat berkesan sampai bikin saya book hangover) Ketiga, sudah banyak review-review seru dan menarik tentang buku ini lebih tepatnya seru baca reviewnya, alih-alih seru baca bukunya :P 

Terus, apa yang membuat saya akhirnya mereview buku ini? Yah, itu karena semata-mata, isi blog saya akhir-akhir ini lebih banyak uneg-uneg, opini, curhat, meme, dll daripada review buku. Jadi katakanlah review saya kali ini boleh dibilang kejar setoran. #jujur

Eniwei, busway, sekarang ini saya banyak dengar istilah domestic romance? Apa sih itu? Domestic Romance adalah cerita romens yang lebih membahas mengenai hubungan antar suami-istri atau pasangan yang sudah menikah. Nah Mahogany Hills ini juga begitu. 

Perhatian: Review mengandung spoiler dan juga mungkin bakal nyebelin. 

Ceritanya ada pasangan pengantin baru yang bernama Jagad dan Paras. Mereka menghuni sebuah rumah yang bernama Mahogany Hills, suatu daerah pegunungan di Sukabumi. Jagad dan Paras menikah karena perjodohan dari orang tua. Paras menerima pernikahannya dengan sebuah harapan indah untuk membangun suatu rumah tangga yang bahagia bersama Jagad. Sayangnya, Jagad tidak merasa demikian. Dia menikah karena terpaksa. Hal itu menyebabkan Jagad memperlakukan istrinya, Paras dengan sangat buruk. Sementara Paras tetap berusaha tabah menerima semua perlakuan Jagad, dengan harapan suatu saat cinta bisa bersemi di antara mereka. 

Yup, itulah ringkasan ceritanya. Dari situ sudah ketahuan polanya. Awalnya cowoknya arogan, menyebalkan, lalu akhirnya jadi bertekuk lutut sama ceweknya. 

Saya tahu Mahogany Hills dari beberapa review anak-anak BBI. Boleh dibilang, daripada bukunya sendiri, membaca review-review Mahogany Hills lebih seru. Misal review Ren atau Mbak Dewi yang lebih banyak mencak-mencak karena jalan ceritanya atau tokoh cowoknya yang minta ditampol. Tapi ada juga yang suka, seperti review Stefanie atau reviewnya Luckty. Eh apa maksud saya nih, bawa-bawa ripiu orang ke blog saya?

Tidak ada maksud apa-apa sih, tapi supaya adil, saya harus kasih review yang suka dan tidak suka donk. Namanya juga pendapat dan selera, pasti beda-beda. Lha, terus saya sendiri bagaimana? Sayangnya, saya lebih condong ke kubu yang tidak suka. Alasannya, yah, silakan cek sendiri di link review yang saya sebutkan di atas. Lalu alasan lain, mungkin saya merasa penuturannya terlalu banyak narasi dan deskripsi yang kadang bikin saya bosan, karena jadinya bertele-tele. Meski dari segi diksi sudah baik, tapi yah penuturan yang terlalu panjang dan detil (macam truk pengangkut sayur mayur pun dijelaskan lengkap susunan sayurannya, padahal truknya hanya lewat selintas saja) bikin saya suka hilang fokus dan teralihkan ke hal lain. 

Saya ingat, buku ini sempat heboh di grup bajai jaboers. Kebanyakan penasaran karena buku ini adalah pemenang pertama lomba penulisan Amore tapi justru beberapa reviewnya jelek. Lalu, saya tanya, "Emang bukunya seperti apa sih?" dan dijawab, "Mirip Harlequin jadul."

Setelah saya selesai membacanya, ternyata memang mirip Harlequin jadul, termasuk penuturan Tia, hanya saja lebih disesuaikan dengan budaya Indonesia. (Baca: maksudnya tuh nggak ada adegan gelenyar-menggelinjang). 

Saya sebenarnya lumayan menikmati Harlequin sewaktu SMA, cuma berhubung ternyata setelah itu, saya mengetahui kalau kehidupan tidaklah semanis kisah Harlequin, saya pun mulai beralih ke genre lain yang cerita, konflik dan karakternya lebih real. Yah, tapi berhubung saya banyak melihat lini Amore di toko buku, maka saya mengambil kesimpulan, bahwa tema basi pun tak lekang dimakan jaman asal pengemasannya menarik. 

Tapi, yang saya sayangkan pengemasan menarik itu tidak sebanding dengan isi ceritanya. Tia, mempunyai gaya diksi yang rapih seperti novel terjemahan. Tapi mungkin saja selera saya agak bertentangan dengan mainstream, saya tidak suka tipe cowok arogan dan cewek yang nrimo. Terus saya juga tidak suka dengan cerita perkosaan dan amnesia. Bayangin, ceweknya diperlakukan dengan dingin, harga diri sang cewek sudah dipermalukan pas malam pertama, terus pas lagi lebam-lebam karena habis diserang cowok lain, bukannya diobati dulu luka-lukanya dan dihibur malah diperkosa, meski suaminya sendiri, tetap perbuatan itu tidak pantas. 

Oke, ralat, saya benarnya gak masalah, dengan tema basi, cerita klise termasuk adegan "lupa" selama punya relevansi dan alasan yang bagus untuk keseluruhan plot ceritanya. Tapi kadang berasa adegannya ini, lebih karena untuk sekedar nambahin konflik. Padahal, konflik utama sudah ada, yaitu Jagad yang tidak mau mengakui perasaannya. Tapi mengapa harus tunggu "lupa" dulu baru mau mengakui.

Selain itu, karakternya juga tidak konsisten, terutama Paras, saat dia amnesia. Dia takut pada Jagad, tapi juga pengen dekat-dekat sama Jagad, lha?

Kalau saya, penulisnya, mungkin, alih-alih amnesia, saya lebih baik mengubah karakter Paras. Misal Paras jadi syok karena keguguran dan membenci Jagad dan tidak mau menerimanya kembali. Etapi, kalau kayak gini, namanya bukan Amore yah, tapi jadi Udah Putusin Aja! 

Rabu, 04 Desember 2013

BOOK REVIEW: I'MPOSSIBLE AND GIVEAWAY ANNOUNCEMENT (SOON)


★★★
Judul Buku: I'mpossible
Pengarang: Orinthia Lee
Editor: Ara Philomina
Penerbit: Ping!!! (Diva Press)
Jumlah Halaman: 195 Halaman
Segmen: Remaja
Genre: Teenlit, Drama, Realistic Fiction
Harga: Rp 32.000

Sinopsis:

Fay tidak pernah menyangka kalau hidupnya bakal berubah 180 derajat. Dari seorang cewek kaya raya yang populer dan hanya tahu cara berfoya-foya tiba-tiba saja harus mati-matian mencari cara untuk membayar uang sekolahnya, karena perusahaan keluarganya tiba-tiba dinyatakan bangkrut. 

Bagaimana cara Fay mengatasinya? Apalagi selama ini ia hidup dalam kesombongan karena dirinya adalah gadis populer, cantik, dan kaya di sekolahnya. Apakah teman-temannya tetap mau bergaul dengannya meski ia telah jatuh miskin? Lalu bagaimana pandangan orang lain terhadapnya? Dan yang terpenting, bagaimana Fay bisa tetap mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolahnya yang sangat mahal? 

Fay merasa tidak punya keahlian apapun. Satu-satunya keahlian Fay adalah bersenang-senang dan menghabiskan uang dengan berbelanja dan salah satunya adalah belanja di toko online. Fay pun mulai berpikir untuk memulai bisnis online demi membayar uang sekolahnya. 

Jadi bagaimana  cara Fay berbisnis online?

It's fun and light teenlit

Kalau diibaratkan makanan, buku ini seperti cemilan yang renyah atau popcorn caramel, yang terus kita makan tanpa kita sadari dan, tahu-tahu habis. Yup bukunya tipis, hanya 195 halaman dengan tulisan yang besar dan renggang. Saya baca buku ini sambil tunggu bus Trans Jakarta datang, dan ternyata saat busnya tiba, tanpa saya sadari, saya sudah membacanya hingga 60 halaman lebih. Bila fokus membaca buku ini tanpa jeda (distraksi), saya rasa dalam 2-3 jam pasti selesai. 

Penuturannya sangat ringan dan membumi dengan bahasa gaul yang biasa dipakai sehari-hari. Jadi waktu saya baca buku ini, serasa seperti membaca curhatan Fay. Mungkin yang menyenangkan dari membaca I'mpossible adalah karena buku ini banyak dialog atau percakapan antar tokohnya alih-alih narasi atau deskripsi yang kadang cenderung suka bikin bosan, terutama untuk pembaca yang tidak sabaran. Jadi karena buku ini banyak dialog, saya tidak merasa bosan sama sekali saat membacanya. 

Tapi mungkin karena bukunya terlalu ringan dan tipis, jadinya kurang meninggalkan kesan untuk saya (berasa terlalu cepat dan numpang lewat) saat selesai membacanya. Hehehe. Nah mengapa saya merasa seperti itu, lihat penjelasan di bawah. 

Sebenarnya saya berharap emosi atau konfliknya bisa dikembangkan. Saya merasa alur buku ini sangat cepat atau lebih tepatnya terlalu banyak tell alih-alih show. Misal waktu perusahaan papanya Fay bangkrut, mengapa Fay hanya dikasih sedikit reaksi. Padahal dengan 1st person POV, saya berharap bisa melihat lebih banyak reaksi Fay, misalnya bagaimana ekspresi panik, malu, kalut, dll dari Fay. Karena di buku hanya diceritakan, Fay sedih dan kalut tapi tidak digambarkan bagaimana kekalutan dia, jadi saya kurang menangkap emosi Fay. Saya tidak tahu apakah ada pembatasan jumlah halaman, tapi waktu mamanya Fay meninggalkan Fay pun, saya merasa reaksi Fay agak kurang. Padahal saya juga berharap ada sedikit usaha dari Fay untuk mencari tahu atau menghubungi mamanya (diluar telepon yang tidak diangkat), misal dengan mendatangi rumah keluarga dari pihak mamanya, kan diceritakan masih di sekitar Jakarta juga, dalam hal ini Fay terasa pasif. 

Dan saya setuju dengan review Zelie mengenai alasan mamanya meninggalkan keluarga yang agak "nanggung" karena membawa kedua anaknya yang masih kecil. Entah apa karena penulis berpikir, kalau kedua adik Fay masih terlalu kecil dan butuh diasuh seorang ibu atau supaya cerita hanya fokus pada jualan online Fay, tapi kayaknya bakal lebih seru kalau seandainya kedua adik Fay juga ditinggal dan penulis menambahkan plot atau adegan Fay sebagai seorang kakak yang berusaha mengurus adik-adiknya. 

Eniwei walau bertema jualan online dan judul seperti buku motivasi, buku ini nggak menggurui sama sekali kok. Dan setelah saya selesai membacanya, saya sadar walau bertema jualan/bisnis online, namun utamanya buku ini membahas perubahan karakter tokoh utama. Dari yang tadinya  dangkal dan hanya tahu gaya hidup hedon, perlahan-lahan mulai menyadari bahwa selama ini pandangannya salah. Tapi saya merasa hingga akhir, karakter Fay ini tetap digambarkan self centered. Sekiranya dari cara penuturannya yang selalu, "Nanti aku bagaimana? Aku begini, aku begitu"

Trus begitu pula dengan penyelesaian konflik yang terasa terburu-buru. Dan lagi-lagi saya merasa Fay tidak diberikan banyak waktu untuk bereaksi yang lebih dramatis. Tapi yah sudahlah, mungkin memang yang ingin difokuskan dalam buku ini adalah tema bisnis onlinenya dan karakter Fay. 

O ya, saya bingung, sama kutipan di sampul depan tentang bunga matahari, itu kayaknya nggak ada di buku yah? Atau saya yang terlewat? 

Dibandingkan novel perdana Orin yang Why Always Me, menurut saya pribadi, I'mpossible dikemas lebih ringan. Dalam WAM, saya justru lebih merasakan konflik dan angst-nya tokoh utama. Entah apa karena karakter Fay lebih ceria dan easy going dibanding  Bianca?

Bagaimanapun, untuk teman-teman yang mau berbisnis online, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini, karena ceritanya sangat membahas mengenai seluk beluk jualan online termasuk masalah-masalah apa saja yang mungkin timbul saat jualan online, jadi bisa untuk pembelajaran juga. Hehehehe

GIVEAWAY ANNOUNCEMENT 

Dan sekarang yang sudah dinantikan. Menyambut ulang tahun blog yang genap setahun pada Desember ini (benarnya blog saya lahir November tapi baru benar-benar jadi blog buku bulan Desember), saya bermaksud mengadakan 2 giveaway yang terbagi menjadi 2 periode GA. 

Supaya, tidak kepanjangan, saya putuskan postingan Giveaway terpisah dengan review. Terpisah? Apa giveaway-nya berhubungan dengan buku ini? Yup, salah satu hadiahnya adalah buku I'mpossible bertanda tangan penulisnya, Orinthia Lee. Dan itu hanya salah satu hadiahnya, karena supaya lebih meriah, saya tambahkan hadiah lain juga. 

Tunggu postingan saya berikutnya ^^

Kamis, 28 November 2013

BOOK REVIEW: SATIN MERAH


★★★
Judul Buku: Satin Merah
Pengarang: Brahmanto Anindito dan Rie Yanti
Editor: Widyawati Oktavia
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 313 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa-Muda
Genre: Thriller
Harga: Rp 10.000 (obral)
"Pengakuan, bagi sebagian orang jauh lebih penting dibanding apa pun."
Sinopsis:
Nadya hanya ingin diakui bahwa ia hebat, bahwa ia cerdas. Karena itu ia selalu mati-matian belajar giat agar bisa menjadi siswa berprestasi dan teladan di sekolahnya. Nadya pun selalu berhasil menjadi 3 besar di sekolah setiap tahun, namun masih ada 1 ambisi lagi yang ingin Nadya capai, yaitu memenangkan gelar siswi teladan se-Bandung. Dan untuk meraih ini, salah satu persyaratannya, Nadya harus membuat suatu makalah atau karya tulis. 

Karena itu Nadya ingin membuat karya tulis yang berbeda. Karya tulis yang temanya tidak pasaran. Tapi tema apa yang harus Nadya buat agar bisa memenangkan gelar siswi teladan se-Bandung?

Sekarang, ripiu yang sebenarnya:
Saya tidak akan kasih banyak sinopsis, secara tema thriller itu paling asyik kalau dibaca sendiri tanpa baca sinopsis atau review lain sama sekali. Saya agak bingung sama inti buku ini, apakah:
  1. Buku bergenre thriller dengan tema Sastra Sunda, atau
  2. Cerita mengenai tips-tips menulis dengan latar belakang Sastra Sunda dan unsur thriller.
Yah, yang manapun tidak masalah, yang penting bukunya enak dibaca. Saya agak bingung sih review Satin Merah ini tanpa spoiler jalan ceritanya, walau dari sinopsis belakang buku, sebenarnya sudah jelas who is the suspect. Karena alasan itulah, saya tidak melabeli buku ini dengan misteri, karena misterinya sendiri sudah terpapar jelas sejak awal. So, this is not mystery-detective genre. 

Saya akan coba memberi pendapat tanpa melibatkan isi ceritanya. Buku ini menurut saya:

- Sebaiknya dibaca oleh siapa pun yang mempunyai cita-cita jadi penulis. Serius, buku ini punya banyak sekali tips-tips mengenai cara menulis. Saya coba ambil sebagian ya:
  1. Syarat penulis ya harus sering-sering menulis. Hal. 42
  2. Mempercantik karangan dengan penjelasan terperinci, menambahkan majas, metafora. hal. 42
  3. Buatlah prioritas untuk untuk mendeskripsikan tokoh. Tokoh utama diberi porsi detil. Tokoh figuran dideskripsikan seadanya. Kalau setiap tokoh didetailkan atau porsinya dibikin hampir setara, nanti tokoh utama kehilangan pamor. Hal. 90
  4. Malas itu musuh. Jangan mau bersahabat dengan rasa malas. Hal. 150
  5. Baca, baca dan baca. Ingin bisa nulis dengan baik harus banyak baca karya orang dulu. Hal. 155
- Selain itu, ada juga penjabaran singkat dan padat mengenai self publising.

Nah, sekarang bagian yang saya pertanyakan:
- Penjelasan yang terlalu frontal. dan kalanya saat baca buku ini, bagian tips-tips menulisnya, meskipun inspiratif tapi juga membuat saya merasa membaca text book Bahasa Indonesia dalam bentuk novel. Oke, saya tahu semua penjabaran itu masih termasuk logis, tapi untuk buku fiksi, hal tersebut bukanlah selera saya (agak menggurui). Maksud saya kalau memang mau menjelaskan tips-tips menulis, mending buat saja satu buku soal tips menulis. 

- Nanggung. Berasa buku ini serba nanggung. Misteri? Seperti yang sudah saya tulis, sejak awal, pembaca sudah tau siapa "tersangkanya" Tapi yang jadi misteri adalah psikologisnya. Nah, yang saya sayangkan tuh, aspek psikologis ini kurang banget dibahas. Memang duo penulis sudah menjelaskan alasan dan latar belakang mengapa si penjahat sampai jadi seperti itu melalui adegan flasback. Tapi tetap saja masih terasa kurang dan nanggung. 

- Nanggung 2. Saya agak kecewa, dari beberapa pembunuhan yang dilakukan oleh si tokoh, hanya 1 yang diperlihatkan adegannya. Yup, hanya 1. Sisanya instant alias langsung berupa penemuan mayat tanpa ada penjelasan bagaimana? Saya merasa, ini seperti penulisan yang malas. Padahal untuk setiap kejadian dalam novel thriller saya sangat mengharapkan ketegangan di adegan suspense pembunuhan tersebut. 

- Ending deus ex machina. Dan Sim Salabin, semua beres. Saya tuh paling ngga puas kalau baca buku thriller yang selama konflik berlangsung seru, tapi justru eksekusi adegan finalnya malah terasa hambar. Metaforanya adalah, saya sedang menyusun menara dari setumpuk kartu remi lalu tiba-tiba ada orang yang membanting pintu, dan wuussh, semua susunan menara kartu saya langsung hancur berantakan. 

yang saya suka dari Satin Merah adalah:
  • Penokohan. Satin merah mempunyai penokohan atau karakterisasi yang kuat pada setiap tokoh yang berperan. Baik yang figuran maupun tokoh utama. Ada beberapa bagian, yang membuat saya sedikit mengasihani pelaku, walaupun tidak sampai membuat saya suka dengan si pelaku. Duo penulis pintar membuat karakter pelaku, kadang likeable kadang annoying. jadi tidak ada karakter 1 dimensi. Begitu pula dengan karakter figuran. 
  • Kalimat-kalimat atau gaya bahasa yang sederhana, rasanya seperti membaca tabloid atau cerpen dalam koran.  
Overall, saya suka Satin merah, karena jarang ada buku-buku lokal yang bergenre thriller dan juga mempunyai pesan moral kuat mengenai pelestarian budaya daerah (Sastra Sunda). 
Catatan typo:
- Hal 200: berlawaan → berlawanan
- Hal 271: amit → pamit
- hal 277: puitih → putih

Memorable quote:
"Kamu ini ya, Sastra Sunda aja dipikirin! Ngapain sih, mau-maunya! Biar orang desa yang lebih berbakat kesenian yang ngurusin perkara remeh gitu. Di keluarga kita, nggak ada darah-darah sastrawan, tahu nggak! Kamu mau jadi apa, Naaak, ngurusin sastra itu mau jadi apaaaa? Orang kere di Indonesia ini udah banyak!"
Buku ini saya ikut sertakan sebagai buku untuk tema baca bareng BBI

Sabtu, 19 Oktober 2013

BOOK REVIEW : AKU TAHU KAMU HANTU


✭✭✭½
Judul Buku : Aku tahu Kamu Hantu
Pengarang : Eve Shi
Penerbit : Gagas Media
Editor : Alit Tisna Palupi
Jumlah Halaman : 208 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Horror, Paranormal, Thriller
Special Note : Kado untuk Blogger dari Gagas Media #unforgotTen

Cerita bermula saat :

Ulang tahun ke-17 Liv. Sweet Seventeen seharusnya jadi peristiwa membahagiakan dalam hidup Liv. Tapi alih-alih bahagia, hari ultahnya malah terasa buruk. Bagaimana tidak? pertama-tama ayahnya sendiri lupa mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu kelasnya kena semprot seorang guru akibat ulah jahil seorang murid dan keadaan tambah parah dengan penampakan sosok ganjil di toilet sekolah. 

Mulanya Liv tidak pernah menyangka kalau dia akan memiliki kekuatan untuk melihat mahluk halus. Liv sempat mengira semua yang dilihatnya hanyalah halusinasi sesaat karena Liv sedang dilanda stress. Sahabat baiknya sendiri, tidak percaya pada pengakuannya tentang melihat roh dan mahluk halus. Namun akhirnya Liv tahu kalau apa yang ia lihat bukanlah khayalan semata. Sebab mama Liv memberitahu bahwa dalam keluarganya, setiap anak sulung perempuan yang telah berusia 17 tahun akan mewarisi kemampuan untuk melihat mahluk halus atau arwah. 

Bagi Liv, kemampuan istimewa ini sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan bila banyak sosok berwujud ganjil dan seram tiba-tiba menampakkan diri setiap saat di mata Liv. Namun sebenarnya apakah kemunculan mahluk-mahluk tersebut hanya sekedar untuk menakut-nakuti Liv? ataukan ada maksud lain, seperti meminta bantuan Liv untuk menolong mereka?

My thought :

Rasanya sudah nyaris setahun saya nggak menyentuh genre horror atau thriller. Terakhir genre horror yang saya baca mungkin seri demonatanya Darren Shan. Kisah tentang hantu sendiri sebenarnya sudah sering saya baca, tapi berhubung bukunya lebih banyak yang ke genre pararom macam seri mediatornya Meg Cabot, maka alih-alih seram, justru jatuhnya malah romantis. 

Karena itulah saya kangen sama genre fantasi yang lebih ke thriller atau horror, macam Goosebumps. Saya kangen untuk merasakan feel tegangnya. Pas tahu kalau dari 10 buku yang Gagas berikan saat ultah ada buku bertema hantu, maka tanpa ragu langsung saya masukkan ke daftar reading-list saya untuk short term. 

Saya suka sama cerita ATKH ini, misteri dan suspense-nya cukup terasa. Faktor misterinya itu yang bikin saya betah untuk baca buku ini terus menerus tanpa henti (kecuali jeda makan, minum dan mandi) dan kebetulan saya baca pas weekend. Ilustrasi "hantu" yang ada di tiap beberapa bab sukses bikin saya mengambil kertas untuk menutupinya karena ketakutan sendiri. Saya akui, saya emang penakut akan gambar-gambar seram. 

Saya juga suka dengan covernya yang bergambar mawar merah. Mulanya saya bingung, kok buku horror, covernya bunga mawar. Tapi perhatikan deh bunga mawarnya, tepatnya di bagian tengahnya, bentuknya mirip tengkorak. Sedangkan warna merah yang menghias kelopaknya seperti bercak darah. 

Hanya saja ada untuk ukuran novel horror, saya merasa kurang plot twist di sini. Penulis cukup sukses mengeksekusi ketegangan, hanya saja menjelang 3/4 cerita, saya justru merasa ketegangan menurun. Karena sejak awal, pembaca sudah digiring untuk menebak tokoh antagonisnya dan saya sebenarnya berharap tebakan saya salah atau meleset, tapi ternyata memang begitulah adanya. Untuk motifnya sendiri juga standar (bully), bukan suatu hal yang baru. Spoiler, highlight to view: coba pembunuh sebenarnya Dani, yang mempunyai motif sebagai syarat masuk genk Stefan dkk. 

Adegan rumah kosong yang awalnya seram, mendadak jadi tidak seram akibat pestanya pecah. Dan saya lebih berharap antagonis yang cool-psikopat alih-alih yang malah berubah jadi brutal - gila dan suka teriak-teriak. Trus hantu-hantunya sendiri, saya ngerti misi utama Liv adalah Frans, cuma saya berharap hantu-hantu lain juga dibahas, penasaran dengan hantu penunggu bilik di toilet anak perempuan di sekolah. 

Buku ini sebagai buku baca bareng BBI untuk tema buku debut. 

BOOK REVIEW: WHY ALWAYS ME

✭✭✭½
Judul Buku : Why Always Me
Pengarang : Orinthia Lee
Penerbit : de TEENS (Diva Press)
Editor : Rina
Jumlah Halaman : 220 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Teenlit
Special Note : Hadiah giveaway dari Biondy dengan special tanda tangan dari Orinthia Lee

"Hal yang paling menakutkan di dunia ini adalah kebohongan"

Setiap orang yang melihat Bianca, pasti akan berkata dia gadis yang cantik dan imut. Bianca memiliki kulit putih pucat, rambut hitam lurus dan mata besar berbentuk setengah lingkaran, membuat parasnya terlihat elok seperti boneka. Namun sayangnya dibalik penampilan luarnya yang elok, hal tersebut tidak diikuti dengan kepribadiannya. Bianca menyimpan banyak kepahitan dan kemarahan dalam kehidupannya, sehingga membuat emosinya cenderung meledak-ledak. Baginya lebih baik berkata jujur dan blak-blakan daripada berbohong. 

Gara-gara sifat galaknya itu, banyak teman-teman sekelasnya tidak suka dengan Bianca. Hanya Anne, satu-satunya orang yang memahami dan tahan menghadapi sifat judes Bianca. Namun suatu hari akibat kesalahpahaman, Anne pun menerima tusukan dari mulut tajam Bianca dan kali ini tusukan tersebut benar-benar melukai hatinya dan membuat Anne memusuhi Bianca. 

Bianca selama ini tidak pernah peduli dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, namun ia sadar bahwa apa yang ia katakan terhadap Anne sangat keterlaluan. Tapi Bianca terlalu gengsi untuk meminta maaf pada Anne, jadi bagaimana kelanjutan persahabatan mereka? Akankah tersambung kembali atau justru selamanya berakhir?

My thought :

Sudah lama saya nggak baca teenlit dan sejujurnya bahkan saat remaja pun saya jarang baca teenlit. Kalaupun baca teenlit, biasanya ada embel-embel fantasi. Selain karena saya emang udah lewat dari masa teen, cerita-cerita dalam teenlit biasanya agak keju atau ringan untuk selera saya. Kenapa sih Lin, elu demen banget yang kelam, masokis dan angst. Elu mau saingan sama Bianca dalam hal kepahitan?

Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk Orinthia, atas kelahiran anak pertamanya, hehehe, maksud saya buku pertamanya. Menulis itu bukan hal mudah, selain ide dan ngayal juga perlu ketekunan dan fokus, karena itu saya ucapkan selamat dulu kepada Orin karena sudah berhasil menerbitkan buku pertamanya. Semoga terus produktif dan saya nantikan buku selanjutnya. 

Saya mulai dari yang saya suka dulu mengenai WAM :
  1. Penuturannya. Saya suka cara penulis merangkai kalimat demi kalimat yang terasa simpel dan down to earth dalam Why Always Me. Gaya bahasanya sederhana khas remaja dan juga apa adanya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada kalimat yang terkesan dilebih-lebihkan. Tatanan kalimat terasa enak saat dibaca dan prosa pun cukup mengalir dengan luwes. 
  2. Karakterisasi. Ada 3 POV di sini. Yaitu POV Bianca, Anne dan Irina. Semuanya memakai 1st person POV, tapi kentara sekali penulis sudah  sangat menguasai dan paham dengan para karakternya. Meski sama-sama memakai 1st POV, tapi terlihat jelas perbedaan mereka semua. Bianca yang cenderung lugas dan tanpa basa-basi. Sedangkan Anne terkesan lembut dan simpatik. Sementara si kecil Irina (dari semua karakter, fave saya adalah Irina) itu polos namun di satu sisi juga terasa mature. Menurut saya, buku ini salah satu buku yang berhasil mengeksekusi penggunaan multiple 1st person POV.
  3. Cerita sederhana tanpa muter-muter tapi tidak melupakan unsur emosi.  

Nah, sekarang sedikit harapan saya saja sih untuk cerita ini :

  1. Saya suka unsur persahabatannya, tapi saya kurang suka unsur romensnya. Dan saya berharap ada lebih banyak unsur drama keluarga. Alasan saya tidak suka unsur romensnya bukan karena saya tidak suka romens, saya justru suka romens, tapi sepertinya buku ini akan lebih terasa feelnya bila fokusnya lebih ke drama keluarga dan persahabatan. Selain itu Travis terlalu sempurna di mata saya dan saya merasa Travis kurang believable. Dia sepertinya terlalu baik, pengertian, nrimo dan tidak sombong #eh. Saya sebenarnya bingung apa yang membuat Travis bisa suka dengan Bianca, lha sebagai pembaca aja, kadang-kadang saya sebel sama dia. Maap yah, tapi saya ngga percaya cinta pada pandangan pertama, biasanya ada sesuatu yang membuat kita suka dan sebaliknya, ilfil dengan seseorang. Lain ceritanya kalau memang sudah dalam tahap hubungan serius, saya ngerti kalau logika sudah tidak bisa dipercaya. Soal masalah pendeskripsian fisik Travis yang terlalu gampang, saya sepakat sama teman-teman yang lain.
  2. Ignorant Mother? Ini mungkin perasaan saya saja, tapi saya merasa peran mama Bianca di dalam buku ini hanya sebagai plot device terutama untuk bagian pendahuluan. Jujur saja, saya masih inget pertanyaan Biondy untuk GA buku ini, yaitu apakah kamu pernah punya teman yang mulutnya setajam Bianca (kurang-lebih)? jawaban saya, "sejauh ini kalaupun kenal tapi tidak separah Bianca dan bukan teman dekat, malah mungkin sayalah yang kalau lagi marah mulut saya bisa tajam seperti Bianca, karena dari dalam, emosi saya ini cenderung meledak-ledak dan tipe yang forgive but not forget." Tenang, saya sudah belajar untuk mengontrol emosi. Oke, balik ke peran seorang mama dalam pembentukan karaker anak. Tapi mamanya Bianca ini apa tidak pernah menegur anaknya untuk lebih menjaga lidahnya? yang saya tangkap cuma Anne saja yang suka menasehati Bianca soal itu, Karena jujur, mama saya saja selalu ingetin saya untuk jangan galak dan hati-hati kalau berbicara, nanti orang bisa tersinggung dan sakit hati. Oke, saya stop curhat di sini. Kan mamanya pasti tahu perlakuan Bianca sama mboknya di rumah, tegur dan omelin donk anaknya supaya bisa lebih jaga ucapan. Saya berharap lebih ada unsur hubungan ibu-anak di sini. 
  3. Balik ke point nomor 1, kadang kala saat saya lagi asyik masuk ke konflik keluarga, macam kejadian Bianca saat ketemu sama papanya di bonbin, tiba-tiba konflik itu berakhir cepat dan meluap begitu saja, lalu secara kebetulan bisa ada Travis, yang menurut saya malah bikin tensi turun. 
  4. When Bianca met Irina. Saya merasa agak janggal baik secara situasi maupun faktor kekerabatan dalam keluarga Bianca. Aneh saja bagi saya kalau Bianca tidak tahu siapa Irina, mengingat mereka itu kan.... dan apakah hal ini karena mamanya terlalu ignorant  untuk menjelaskan pada Bianca? Trus reaksi Bianca saat ketemu Irina, kalau saya mungkin pertama tanya sama Irina dan kalau belum ada jawaban, saya nggak akan push Irina, tapi saya akan tanyakan langsung ke orang rumah, "Ini siapa?" Tapi sekali lagi, saya dan Bianca kan berbeda, tentu reaksi saya dan dia terhadap orang asing berbeda. 
  5. Kalimat metafora/hiperbolis yang justru mengacaukan feel. Di halaman 197, harusnya kan feelnya sedih, cuma gara-gara kalimat, "air mataku seperti air bah yang mengalir tanpa henti," saya malah pengin ketawa.  
Notable Quote : 
"Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang kubentak karena aku merasa akulah yang benar." ~hal.171

Sampai sini dulu, sebenarnya buku ini mau saya sertakan untuk Posbar anak-anak BBI sebagai baca bareng bertema buku penulis baru atau debut yang memang menjadi tema untuk bulan Oktober. Cuma berhubung buku selanjutnya Orinthia akan segera keluar, mungkin sudah tidak termasuk kategori debut penulis baru yah :P

Kamis, 03 Oktober 2013

BOOK REVIEW : HERE, AFTER

✮✮✮½
Judul : Here, after
Penerbit : Gagas Media
Pengarang : Mahir Pradana
Editor : Samira
Desain Sampul : Jeffri Fernando
Jumlah Halaman : 197 Halaman
Segmen : Dewasa
Genre : Metropop, Chiclit, Romance
Keterangan : Buntelan dari Gagas, kado untuk blogger #unforgotTEN

Kalau ditanya peribahasa apa yang cocok untuk melukiskan pengertian cinta berdasarkan buku ini, maka jawabnya adalah :
"Beginilah cinta, deritanya tiada berakhir."
Yup, ungkapan itu terasa familiar bagi yang suka menonton serial silat jadul yang berjudul Journey To The West. Betapa sering ungkapan tersebut dikatakan oleh Chu Pat Kay, seorang jendral yang dihukum harus menjalani beribu kali siksaan cinta dalam setiap kehidupan reinkarnasinya, hanya karena jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya ia cintai. 

Tapi tidak. Saya tidak akan bahas serial tersebut. Hanya meminjam ungkapan yang sering ditangisi oleh salah satu tokohnya saja, karena ungkapan itu juga cocok untuk 10 kisah cinta dalam buku ini. Lebih tepatnya 10 kisah percintaan dari karakter-karakter yang saling berhubungan dalam buku ini walau tidak semua karakter itu saling berinteraksi atau mengenal satu sama lain. 

Sepuluh kisah cinta
Sepuluh sudut pandang 
Sepuluh rasa pahit

Tunggu dulu, bukankah ini novel romens, cinta itu kan seharusnya indah, cinta itu kan seharusnya manis, mengapa menjadi pahit? 

Mengapa bingung? Bukankah judulnya dan premisnya sudah menjawab hal tersebut? Cerita cinta berakhir di sini. Jadi buku ini lebih membahas kepahitan dari cerita cinta atau penyebab negatif yang ditimbulkan oleh akhir sebuah cinta. 

1. Adi
Mengambil tema LDR. Saya tidak pernah merasakan LDR jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi LDR lebih daripada cinta. Sejujurnya cerita Adi ini mungkin yang paling sederhana dibanding yang lain, ok, mungkin cerita Adi dan Ollie, awal dan akhir boleh dibilang yang paling simple dibanding 8 cerita lain. 

2. Diana
Insecurities, insecurities, insecurities. Sebenarnya tidak ada cinta di cerita ini, hanya akhir cerita cinta semuanya. Akhir cerita cinta saat seseorang tidak bisa melepaskan belenggu masa lalunya. So this is how love become lust? because why we need love when lust is more fun? Love are pain, bitter, sacrifice, compromise and commitment while lust are sex, pleasure, freedom and fun. 

3. Rio
When love become illusion even dream could be real. Dari semua kisah cinta berakhir, saya paling tidak suka dengan cerita Rio, agak membosankan menurut saya. The 'dream' things nya itu rada maksa. 

4. Putra
Temanya rada lemah dan terlalu abege menurut saya. To be honest, I don't like when love is telling as philosophy. I want to see some show, some action. 

5. Nia
Marriage by arrangement. Tema basi tapi selalu disukai. Setelah 4 cerita awal terasa hanya sekedar cerita cinta sambil lalu, saya mulai merasakan tensi dan tone meningkat lebih serius di cerita Nia. 

6. Arya
Masih lanjutan dari tema Marriage by arrangement. Yang saya bingung di sini, mengapa ceweknya menyerah begitu cepat hanya dalam hitungan hari. Padahal saya berharap bagian yang ini lebih dibahas, kan cowonya janji mau memberikan cinta yang lebih tinggi, tapi saya tidak merasakan itu. Tapi suka sama endingnya #lha

7. Novi
Dari semua cerita, inilah cerita favorit saya. Meski masih nyerempet soal cerita cinta berakhir, tapi elemen utama cerita Novi adalah psikologis campur sedikit suspense dan horror, itulah yang membuat saya suka. Saya sempat berasa tegang juga di bagian cerita Novi yang pas ada adegan Dr Jekyll and Mr Hyde. Juga adegan crazy love Novi yang bikin saya geleng-geleng kepala dan teringat lagu Agnes ~Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, brisi semua hasrat dalam hati, ku hanya ingin dapat memiliki, dirimu hanya untuk sesaat~

8. Rizal
Beneran ya, adegan pembuka bangun tidur kuterus mandi itu memang membosankan. Tapi itu cuma openingnya doank. Ceritanya bukan tentang itu. Ya intinya, menikahlah karena cinta, jangan karena terpaksa. 

9. Intan
Baca cerita Intan ini agak ingetin saya sama film Korea Untold Scandal, yaitu affair vs affair. Berhubung tokoh-tokohnya suka puisi maka di cerita ini banyak puisinya.

10. Ollie
In the end, what is the difference between love and lust? Mungkin jawabnya gampang, cinta itu long term, sedangkan nafsu itu short term. Sesaat kita mengira kita mencintai seseorang dengan sangat bergelora dan menggebu-gebu tapi hanya dalam hitungan jam, oke mungkin hari, kita langsung move on dengan cepat. 

Overall : Saya suka dan menikmati buku ini, gaya bahasa atau penuturan Mahir Pradana benar-benar enak diikuti, kalimat-kalimatnya terasa membumi dan dialog-dialognya tidak ada yang berlebihan sebagaimana khas novel romens yang ujung-ujungnya suka jadi keju. 

Karakter? Sejujurnya saya rasa penulis membuat karakter disini untuk kebutuhan cerita bukan untuk diidolakan. Tidak ada karakter hitam dan putih. Semuanya hanya mencoba untuk menjalani hidup dengan lebih 'enjoy' melalui berbagai macam cara yang dapat mereka lakukan.

Cover? saya baru sadar, gambar jam pasir itu memang menandakan, cinta pun ada batasan waktunya. Eternal Love mungkin hanya ada dalam dongeng. Cinta bisa berakhir karena batasan jarak, hasrat, kondisi, dll. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...