Tampilkan postingan dengan label UFUK PRESS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UFUK PRESS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Februari 2014

UNEARTHLY (UNEARTHLY #1): (BUKAN) TWILIGHT VERSI MALAIKAT

★★★
Judul: Unearthly
Pengarang: Chynthia Hand
Penerbit: Ufuk Press
Jumlah Halaman: 509 Halaman
Penerjemah: Dina Begum
Pemeriksa Aksara: Uly Amalia 
Segmen: Remaja, Dewasa Muda
Genre: Paranormal Romance, Fantasy, Urban Fantasy
Bisa di beli di bukabuku
  • Halo namaku Clara Gardner, usiaku 16 tahun.
  • Aku remaja biasa yang tidak biasa.
  • Karena meski aku hidup sebagai remaja biasa, tapi sebenarnya aku bukanlah remaja biasa, aku ini keturunan malaikat. 
  • Aku punya sayap dan bisa melakukan hal-hal yang lebih baik dibandingkan manusia biasa, misal aku bisa menguasai berbagai macam bahasa, aku bisa berbicara dengan hewan, tubuhku mempunyai fisik yang lebih kuat daripada manusia biasa.
  • Tapi sebagai keturunan malaikat, aku dilahirkan dengan suatu tujuan khusus atau misi.
  • Belum jelas apa misiku, aku hanya diberi penglihatan sedikit demi sedikit yang akan membimbingku pada tujuanku.
  • Aku hanya tahu dalam penglihatan yang kudapat kalau aku harus menyelamatkan seorang pemuda tampan yang bernama Christian.
  • Demi pemuda itu atau tepatnya tugas malaikatku ini, aku dan keluargaku pindah dari California ke Wyoming.
  • Walau sejujurnya aku masih belum jelas, bagaimana aku bisa menyelamatkannya. Yang pasti aku langsung suka dengan Christian.
  • Lalu ada juga Tucker yang entah bagaimana juga masuk ke dalam hidupku.

Rabu, 30 Oktober 2013

BOOK REVIEW: ALANNA - SONG OF THE LIONESS (SONG OF THE LIONESS #1)


★★★
Judul Buku: Alanna - Song of The Lioness 
Pengarang: Tamora Pierce
Penerbit: Ufuk Press
Penerjemah: Leinofar Bahfein
Jumlah Halaman: 312 Halaman
Segmen: Remaja, Anak-anak
Genre: Fantasi, High Fantasi

Pada suatu hari :

Hiduplah sepasang anak kembar. Yang laki-laki bernama Thom dan yang perempuan bernama Alanna. Meskipun kembar Thom dan Alanna memiliki sifat dan cita-cita yang sangat berbeda. Thom lebih suka sihir dan bercita-cita untuk menjadi penyihir hebat, sedangkan Alanna lebih suka olahraga fisik seperti berkuda dan memanah dan juga bercita-cita menjadi seorang kesatria atau pejuang wanita. 

Sayangnya, ada suatu peraturan di dunia tempat Thom dan Alanna tinggal. Peraturan itu mewajibkan setiap anak-anak kaum ningrat yang sudah berusia 10 tahun dikirim ke suatu tempat untuk menjalani pelatihan.  Anak laki-laki dikirim ke istana untuk dilatih fisik seperti bela diri dan berpedang agar menjadi kesatria. Sedangkan anak perempuan dikirim ke konvensi untuk belajar tata krama agar bisa menjadi seorang lady. 

Masalahnya si kembar memiliki keinginan yang sangat bertentangan dengan peraturan tersebut. Thom tidak suka latihan fisik dan lebih suka sihir, sementara Alanna sangat suka latihan fisik dan ingin menjadi pejuang wanita. Akhirnya Alanna memutuskan untuk bertukar tempat dengan saudara kembarnya dengan menyamar sebagai anak laki-laki. 

Sesampainya di istana, Alanna langsung menjalani pelatihan sebagai kesatria. Mula-mula Alanna akan menjadi asisten bangsawan, lalu saat umurnya 14 tahun ia akan menjadi pengawal kesatria, dan saat usianya menginjak 18 tahun barulah ia akan dilantik menjadi kesatria. 

Tapi ternyata pelatihan sebagai kesatria tidak segampang yang Alanna bayangkan. Karena ia ditempa dengan berbagai macam tugas berat yang membuat Alanna terkadang ingin menyerah. Jadi sanggupkah Alanna menjalani pelatihannya untuk menjadi seorang pejuang wanita?

Mengapa 3 bintang?
Karena
  1. Too much tell. Dari segi plot buku ini lumayan enak dibaca. Masalahnya saya tidak suka penuturan pengarang yang lebih banyak tell, tell and tell. Sedangkan salah satu pelajaran penting dalam mengarang atau menulis kreatif adalah 'show it, don't tell'. Terlepas apakah memang hal tersebut sengaja dimaksudkan penulis, mengingat segmen buku ini lebih untuk anak-anak (maksudnya supaya kalimatnya nggak terlalu ribet). Tapi saya rasa penceritaannya akan terasa lebih seru apabila penulis lebih banyak menggunakan show daripada tell (lagian anak-anak sekarang pada pintar-pintar kok). Contoh penggunaan 'tell' pada hal. 134: Alanna mendinginkan ramuan yang dibuatnya, lalu meneteskannya ke tenggorokan Jonathan. → Saya sedang membayangkan cara Alanna 'mendinginkan' ini bagaimana? apa ramuannya dicemplungin es batu, atau dikipas-kipas, atau ditaruh dekat jendela supaya kena hembusan angin. 
  2. Too perfect character. Kalau ini mungkin lebih ke masalah selera. Tapi saya merasa Alanna terlalu sempurna untuk anak berumur pra-remaja. Penulis membuat orang dewasa terlihat bodoh dalam buku ini. Sepertinya hampir semua masalah bisa diatasi oleh Alanna sendiri. Mulai dari saat Alanna menolong Coram yang hampir jatuh dari kuda, melakukan tindakan pertama untuk menyelamatkan Jon, lalu menolong Jon dari kematian, dll.
  3. Too much coincidence. Lagi, apakah karena ini buku anak-anak, jadi segala sesuatunya dibuat jadi serba mudah. Mulai dari Alanna kebetulan dipilih oleh Dewi Pertiwi (saya nggak masalah sih sama ide cerita the choosen one tapi tetap kasih alasan kenapa githu). Alanna bisa langsung disukai George secara tiba-tiba, padahal George katanya tidak suka dengan kaum bangsawan. Lalu Alanna tidak sengaja bisa membuka ruang bawah tanah, lalu Alanna kebetulan menemukan pedang yang pas untuknya. Lalu Alanna tiba-tiba mendapat suntikan kekuatan. Bahkan  di halaman 268, ada kalimat, 'Sebelum subuh, Alanna mendadak terbangun." Yup, semua serba kebetulan mendadak. 
  4. Saya benci dengan ringkasan di cover belakang buku (saya tahu ini lebih karena ulah penerbit lokal). Lebih tepatnya ada 1 kalimat yang bikin saya jengkel yaitu, "Kepada siapakah akhirnya pilihan hatinya bermuara, Pangeran Jonathan ataukan George yang selalu setia membantunya?" FYI, buku ini tidak ada romens kok. Mungkin tanda-tanda ke arah sana ada, tapi sangat sedikit dan hanya tanda-tanda. Satu gadis dan 2 anak laki-laki, tipikal YA. Tapi masalahnya hal tersebut bahkan tidak ada dalam buku (dan saya lega karena tidak ada), jadi mengapa harus ikut-ikutan diangkat? 
  5. Typo hal. 135 : Timom, harusnya Timon. Lalu hal. 241, orang-orang kan belum tahu kalau Alanna itu perempuan, tapi mereka malah memanggilnya 'Alanna' alih-alih Alan. 
Mungkin seandainya saya lebih muda, katakan saja ABG #KanEmangUntukABG mungkin saya bisa kasih rating buku ini lebih tinggi. Inti ceritanya sih sederhana, tentang kesetaraan gender. 

Memorable quote :
"Kau ingin ini. Kau ingin itu. Di sini memang berbeda. Inilah yang disebut 'disiplin'. Kau tidak bisa berbuat seenaknya. Kau harus belajar berdisiplin." ~hal. 64
"Kita, kaum bangsawan, diajarkan untuk menerima segala sesuatunya tanpa memprotes. Bangsawan tidak boleh bergantung pada orang lain. Well, kita manusia. Dan manusia tidak dilahirkan untuk hidup sendirian." ~hal. 87
"Tidak dalam kasus ini. Persoalan moral tidak bisa dijawab dengan ya atau tidak." ~hal.121
"Alanna, kau hanya akan merasa bahagia apabila kau menerima dirimu apa adanya." ~hal.152
Cover, kali ini saya suka dengan cover yang dipilih Ufuk. Namun, ternyata itu bukan cover asli disain penerbit tapi mengambil cover Alanna versi Prancis. 
Masih soal cover, ternyata Alanna ini, punya banyak sekali cover. Karena tiap negara tampaknya menerbitkan cover versi masing-masing. 


Nah, kalau untuk favorit saya, yang 4 versi cover di bawah ini : 

Sabtu, 31 Agustus 2013

ARASSI

✭✭✭
Judul Buku : Arassi (Kumpulan Cerpen Fiksi Fantasi dari Pemenang Lomba Sayembara UFUK)
Penulis : Various
Penerbit : UFUK Fiction
Jumlah Halaman : 245 Halaman
Segmen : Remaja
Tahun Terbit : Januari 2013
Harga : Rp 31.450 (15% off from 37.000, bought at www.bukabuku.com)

Jadi ini adalah kumcer fantasi lokal ke-3 yang saya baca di bulan Agustus. Namun tidak seperti 2 buku sebelumnya, kali ini saya merasa agak kecewa dengan bukunya. Lebih tepatnya beberapa cerpennya yang menurut saya eksekusinya sangat poor (IMO). Langsung saja saya mulai dan sekalian penjelasan mengenai rate yang saya pakai untuk menilainya :
  • Exceed Expectation (E) artinya cerita cukup baik, plotnya terstruktur, gaya bahasa mudah dimengerti dan yang terutama saya tetap bisa mengingat ceritanya sesudah saya selesai membacanya. Istilahnya cukup well written deh
  • Acceptable (A) artinya cerita dan plot sudah oke, penuturannya mudah dipahami hanya saja seharusnya cerita bisa lebih baik. 
  • Poor (P) artinya cerita lemah, penuturannya ngejelimet (please CMIIW the spelling), plot ngga rapih karena terlalu banyak adegan kutu loncat. Dengan kata lain, cerpen perlu ditulis ulang. 
Troll? yah saya tergelitik untuk memberikan nilai itu, tapi sudahlah, bagaimana pun sekiranya bagi yang sudah mencoba menulis, selesai, dan mengirimkannya ke penerbit, apa pun hasilnya, menurut saya tidak selayaknya diberi nilai T. 

Pertama : Cover
Sepertinya UFUK gemar sekali memakai kaver yang berbau malaikat. Mungkinkah ini karena seri terbitan UFUK yang mengandung unsur malaikat laris manis (Halo, Hush.Hush)? yah bisa jadi, karena biasanya pembaca (terutama cewek) selalu suka sama mahluk-mahluk fantasi yang berbau malaikat. Mungkin karena penggambaran malaikat itu cantik, tampan, bersayap, apalagi kalau malaikat cowoknya bertelanjang dada dan six pack pokoknya keren githu lah.  

OR NO


Lalu hmmm, lho kok ngga ada daftar isi? mana daftar isinya? #BolakBalikHalaman, yah terpaksa buka per bab deh. 

1. Nora Antoine, penulis Icha Azania.
Nggg, saya bingung sama ceritanya. jadi si tokoh sudah tau kalau dia akan xxx. Trus kemudian dia ditaruh dalam sebuah tempat yang mirip sekolahan. Saya merasa cerpennya rada aneh saja sih. Seperti berusaha menggabungkan unsur time travel dan high school setting, ngga masalah sih selama eksekusinya wajar, cuma yang ini terkesan maksa gitu. Plotnya juga terasa kurang sinkron sama ceritanya.  Terlalu banyak editing kah?
Rate : Poor

2. Kembali, penulis Sani Nurahayu.
Tema nya sih klise dan agak mirip sama salah satu tema dari FF 2011. Tapi yang saya permasalahkan bukan tema klise tapi pengemasannya. Sejak awal cerpen sudah dibuka dengan tone mellow si tokoh utama, entah apa karena memang karakternya datar atau penuturannya yang melankolis. O ya cuma saya bingung sama adegan yang kekasihnya suka menggoda sepanjang perjalanan waktu berkendara di motor, apa ngga bahaya yah naik motor sambil menggoda orang yang dibonceng? Orang misterius itu siapa? Everything feels so flat. 
Rate : Poor

3. 83845, penulis Angela Oscario.
Cerpen bertema dystopia. Secara penuturan sudah cukup enjoyable. Suasana depresi ala dunia dystopia juga langsung tersampaikan ke pembaca. Cuma yah, saya lebih suka kalau ceritanya nggak ada unsur romens sama sekali. Misal dia hanya ingin bebas dan penasaran akan dunia di luar sana. Trus siapa yang mengajari membaca dan memberikan buku harian? Cukup berpotensi untuk berkembang kalau saja plotnya dipoles lebih dalam. 
Rate : Acceptable 

4. Biru, penulis Nastiti Denny.
Sebenarnya tokoh utama di sini itu siapa sih? Setelah dikisahkan mendapatkan item berharga itu, Marta bermaksud menggunakan item berharganya untuk rencana A, tapi ternyata dipakai untuk tujuan B, terus untuk rencana C terus tahu-tahu semuanya bersih dalam sekejap. Hmmm, tapi kok kesannya repot dan ribet banget yah. Sepertinya penulis terlalu  memikirkan banyak cerita waktu menulis cerpen ini. Ceritanya sudah klise, pengemasannya juga klise. 
Rate : Poor

5.  Mutiara Mimosa, penulis Chen-Chen.
Ini salah satu yang paling aneh dan buruk. Rasanya seperti membaca cerita abstrak. Gaya bahasanya bermaksud puitis dengan kalimat berbunga-bunga, tapi jatuhnya malah menjadi jargon-jargon yang bikin kening berkerut. Juga banyak narasi ngga penting yang tidak memberikan pengaruh bagi jalan cerita. Selain itu saya benar-benar tidak mengerti ceritanya tentang apa? questnya tentang apa? tujuannya apa? Sama sekali tidak ada struktur dalam plotnya. Lalu ada kalimat aneh, misal, "Pada musim dingin, suhu bisa mencapai 40 derajat Celcius." Mungkin musim dinginnya berbeda, I dunno. 
Rate : Poor 

6. Wina The Witch, penulis Ria Tumimomor.
Ceritanya sangat teenlit. High school setting, wannabe popular genk, naksir cowok. Untung penuturannya masih enak dibaca walau saya bingung, apa maksud dari ceritanya. No offense, but the story it's forgettable. 
Rate : Poor 

7. Apa Arti Kebebasan? penulis Susanty Tandra.
Salah satu cerpen yang cukup enjoyable dari segi penuturan dan cerita. Adegan actionnya cukup ditunjukkan dengan baik dan terarah. Mulai dari kejar-kejarannya sampai endingnya. Entah mengapa tema sains fiksi ini agak mengingatkan saya sama buku ini. 
Rate : Acceptable

8. Gelang Lelyard, penulis Alexia DeeChen.
Yah sebenarnya sih tema ceritanya klise mirip sama Solomon Ring. Tapi penulis mengemasnya dengan plot yang rapih dan teratur. Penuturan pun lugas tanpa melupakan detil yang perlu jadi cerita terasa padat terisi meski hanya dibatasi beberapa halaman saja. 
Rate : Exceed Expectation
 
9. Jack & Unicorn, penulis Rickman Roedavan.
Ceritanya simpel, plotnya juga linear. Gaya bahasanya sederhana. Saya rasa cocok untuk cerita anak-anak juga. Ceritanya sudah ketebak sih endingnya bakal bagaimana. Rupanya ini kali kedua saya membaca karya penulis, tampaknya settinngnya masih berhubungan dengan universe dari cerpen yang sebelumnya.
Rate : Acceptable

10.  Jantung Naga, penulis Feby Anggra
Another familiar name for fantasy author, so I think the story should decent at least. Mulanya saya kira cerita ini akan seperti cerita lain yang serius dan kelam. Tapi ternyata di pertengahan, cerita berubah menjadi komedi. Yah lumayan lah, it's just like breath of fire, I mean breath of fresh air. Ceritanya sendiri standar, tapi cukup menghibur.
Rate : Acceptable. 

11. Malaikat Pemberi Luka, penulis Ginanjar Teguh Iman
Waduh, multiple 1st person POV. Walau agak membingungkan sepanjang membacanya, karena saya harus tebak-tebak, siapa narasi siapa. Tapi secara keseluruhan saya paham sih sama ceritanya. Yah kalau suka sama kalimat-kalimat galau, sendu, melankolis, dan agak puitis mungkin bakal suka sama cerpen ini. Tapi berhubung saya selalu mengharapkan hal lebih dari setiap tema Angel daripada sekedar romens, jadi....
Rate : Poor

12. Ray of Light, penulis Fay Shalamar
Saya baca cerita ini kok berasa rempong. Sama seperti cerpen no. 4, berasa alurnya berkelok-kelok padahal intinya sederhana. Terus yang menggangu itu adegan atau kata-kata yang lebih cocok untuk video game, comic atau anime tapi dituang secara mentah-mentah oleh penulis. Padahal konseptual novel itu berbeda dengan video games. Dan memaksakan suatu hero's journey dalam cerpen 2000-an kata. Please, just no. 
Rate : Poor

13. Sang Pemanah Fajar, penulis Alfian Daniear
Pembukaan awal cukup menarik, sayang eksekusi ke titik permasalahan itu seperti kebingungan. Kalau memang mau perang, beritahukan saja sejak awal, terus buat heronya mencoba menyelamatkan atau memperingatkan seseorang akan perang itu. Saya rasa itu lebih reasonable. In the end, it's feel nothing. 
Rate : Poor

14. The Jin, penulis Aoi Shinji dan Shine Cyrus
Kenapa hanya cerita dengan tema jin saja yang paling mendingan di kumcer ini? Saya suka sama karakter-karakternya. Baik itu si jin yang tidak sabaran, sang kakak yang tegas dan tentu saja sang adik yang polos. Penuturan ceritanya sudah oke. Ide ceritanya juga agak berbeda dari ide cerita pemanggilan jin pada umumnya. Endingnya kok githu yah ._.
Rate : Exceed Expectation

15. Arassi, penulis Anggari Purnama Dewi
Diletakkan di akhir cerita, dan karena judul yang dipakai di cerpen juga merupakan judul yang dipakai di kaver utama, saya berasumsi, mungkinkah ini pemenangnya? Dan ceritanya disimpan terakhir dengan maksud save the best for the last? Sayangnya selesai saya membacanya, saya malah menjadi jengkel dengan semua tema malaikat dan cinta yang dibahas dalam buku. Entahlah, mungkin saya sudah capek membaca tema malaikat yang jatuh cinta. Padahal sepertinya cerita ini mempunyai jumlah halaman yang paling tebal dibanding cerpen lain, tapi ceritanya tidak jauh-jauh dari malaikat yang ingin merasakan cinta. I think if the story is just romance without the whole angel things, I might be like it. No need Angel, there are a lot of human who are not ready to fall in love even though they have found the right person. Yah, tapi saya coba obyektif. Gaya bahasa, standar. Cerita, standar. 
Rate : Acceptable

Sekarang akumulasi :
2 E + 5A + 8P = 3 STARS

E = 8
A = 6
P = 4

Khusus yang A (Acceptable) ada beberapa A+ sebenarnya. 

Lalu soal ilustrasi dalam halaman-halaman bukunya, saya tidak tahu diambil dari mana, sepertinya dari internet atau deviantart seseorang, biasanya saya suka sama ilustrasi, tapi untuk kali ini justru terasa disturbing dan terlihat maksa. Menurut saya, lebih baik tidak usah ada ilustrasi sekalian. 

Akhir kata, sayang sekali dibandingkan FF, kumcer di sini agak down. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan keterbatasan jumlah kata (yang kurang lebih 2000-an kata jadi terpaksa banyak cerita yang diedit dengan sadis dan menyebabkan plot yang kurang nyambung) atau memang fiksi fantasi butuh ditangani orang-orang yang memang betul-betul paham dan mengerti bagaimana cara menilai fikfan? Meskipun suatu cerita itu fantasi dan memakai logika ala fantasi, tetap perhatikan hal-hal yang membuat cerita menjadi reasonable dan believable.  (I'm talking about the stories I rate poor)

Jumat, 19 April 2013

THE DEMON'S LEXICON (THE DEMON'S LEXICON #1)

✭✭✭✭
Judul Buku : The Demon's Lexicon
Pengarang  : Sarah Rees Brennan
Penerbit     : Ufuk Press
Penerjemah : Rini Nurul Badriah
Jumlah Halaman : 359 Halaman
Segmen : Remaja

Biar kuceritakan sebuah kisah kepadamu :

Tersebutlah ada dua orang kakak beradik yang bernama Alan dan Nick. Bersama dengan sang ibu yang tidak sepenuhnya normal, bertiga mereka terpaksa hidup berpindah-pindah menghindari pengejaran para penyihir yang menginginkan jimat yang dipakai oleh Nick. Banyak cara yang dilakukan penyihir untuk meyerang mereka, salah satunya dengan mengirimkan utusan demon mereka. 

Akibat suatu sebab, demon berhasil mengenakan tanda iblis pada Alan. Melihat nyawa sang kakak terancam, Nick tidak tinggal diam dan berusaha mencari cara untuk menghapus tanda iblis tersebut dari tubuh Alan, namun pencarian tersebut tidak hanya mengenai cara menghapus tanda iblis tapi juga suatu rahasia besar dan mengerikan mengenai keluarga mereka dan termasuk Nick.

Kesan saya : 

Ini buku fantasy kedua yg saya baca yg bercerita mengenai penyihir dan demon dan kesan saya selesai membaca buku ini, adalah saya sangat suka, bahkan masuk list favorit saya di goodreads . Tapi kalau ditinjau dari unsur fantasy, sebenarnya fantasy dalam buku ini ngga terlalu banyak. Penjelasan mengenai demon ada, tapi kalau yang terbiasa nonton serial sejenis Supernatural, tidak ada hal yang terlalu baru, apalagi Nick dan Alan juga mengingatkan saya akan Sam dan Dean dari Supernatural. Tapi apa yang saya suka dari buku ini adalah karakter-karakternya dan hubungan antar saudara dalam buku ini. 

Dua karakter utama dalam buku ini adalah Nick & Alan. Mereka berdua adalah kakak beradik. Cerita diambil dari sudut pandang Nick sang adik. Awalnya karakter mereka sangat stereotype. Alan sang kakak mempunyai sifat baik hati, sabar, ramah dan suka dengan buku-buku & penelitian, digambarkan kurus dan berkacamata, stereotype gambaran pemuda geek/nerdy. 

Sedangkan sang adik, Nick, yang juga protagonis utama adalah khas badboy. Dia kasar, dingin dan lebih suka mengandalkan kekuatan otot sedangkan fisiknya yang kekar dan tampan membuatnya disenangi oleh para gadis-gadis. 

Sedangkan tambahan karakter lain dalam cerita adalah Mae & Jamie yang juga kakak beradik. Garis besar cerita berputar dalam upaya Nick menolong kakaknya dan Jamie yang mendapat tanda iblis di tubuh mereka. Namun saat saya selesai membaca buku ini saya baru sadar, kalau cerita ini mengenai jati diri Nick. 

Yang saya suka dari cerita ini adalah bagaimana pengarang menceritakan tentang hubungan persaudaraan yang kuat. Walaupun Nick selalu bersikap dingin dan cuek, tapi dia sangat sayang dan peduli sama kakaknya, semua yang dia lakukan selalu untuk kakaknya. Bagi Nick, Alan adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Dan saya merasa hubungan persaudaraan (interaksi Alan dan Nick)  itulah yang menjadi kekuatan utama di buku ini. Sarah Rees Brennan sangat piawai dalam menunjukkan emosi dan perasaan Nick terhadap Alan, meskipun Nick banyak tidak setuju dengan tindakan Alan, tapi karena sayang banget sama kakaknya yang sudah mengurus Nick sejak kecil, dia selalu ngalah, bagi Nick yang penting Alan selamat dan bahagia. Jarang-jarang banget kan ada buku YA yang mengisahkan perasaan yang dalam antar saudara (saking dalamnya sampai saya  mau ship Nick dan Alan). 

Kelemahan buku ini, mungkin penulisan plotnya yang terasa ngga teratur dan kurang terarah untuk berpindah dari satu adegan ke adegan lain, kadang kita bingung dan berasa adengannya sering loncat-loncat, tapi yah untuk buku pertama bisa dimengerti :D

Sekarang hal-hal teknis macam  cover, sudah ok, walau saya lebih berharap UFUK menggunakan cover yg versi terbitan UK, lebih dark dan sesuai dengan image Nick. Ini cover UK version :


Sedangkan cover yang dipakai untuk versi Indonesia (saya tau ada 2 cover untuk buku ini, saya punya cover lama yang nama tengah pengarangnya salah, untungnya sudah direvisi di cover baru),  mengikuti cover versi USA, somehow I feel too comercial dan lebih mirip TV show, model covernya ingetin aku sama Tom Welling yang main di Smallville. 


Tapi bagaimanapun saya angkat jempol karena UFUK selama ini pintar dengan tidak mengubah buku-buku yang covernya sangat menjual (teringat hush.hush dan City of Bones)

Untuk terjemahan : cukup oke tapi masih kurang mengalir kalau menurutku. Biasanya Mum dan Dad tidak diterjemahkan dan dibiarkan aslinya. Begitu pula istilah-istilah asing yang saling terkait. 

Masih tunggu buku keduanya yang menurut mbak Melody Violine sudah selesai diterjemahin, tapi kira-kira kapan diterbitin yah?

Sumber gambar

Selasa, 05 Maret 2013

WARM BODIES (WARM BODIES #1)

✮✮✮½

Judul Buku : Warm Bodies

Pengarang  : Isaac Marion

Penerbit     : Ufuk Fiction
Penerjemah : Meda Satrio
Jumlah Halaman : 374 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa Muda

This is not a story about survive in the middle of zombie's apocalypse, this about love story between 2 persons from different world. 

Jadi ceritanya :

Dunia masa depan berantakan dan diambang kehancuran (namanya juga Dystopia), dan ada 2 jenis kelompok manusia yang saling bertahan hidup. Kelompok pertama adalah manusia kaum hidup alias manusia biasa pada umumnya yang butuh makan, merasakan emosi, merasakan sakit, mempunyai kenangan, bertambah tua dan lain hal sebagainya. Lalu kelompok kedua adalah  para bekas manusia a.k.a. zombie a.k.a kaum mati (begitulah sebutan seringnya untuk zombie di cerita ini). Dan zombie-zombie ini eh kaum mati ini punya kebiasaan khas seperti zombie pada umumnya yaitu suka mengkomsumsi otak manusia/kaum hidup dan juga kelemahannya sama seperti zombie pada umumnya yaitu ada di kepala alias otak, karena itu kalau kamu ketemu zombie ingatlah untuk :


Meskipun secara garis besar para zombie alias kaum mati disini mirip dengan gambaran zombie pada umumnya seperti muka pucat, daging yang membusuk, pemakan manusia, termasuk cara jalan mereka yang sempoyongan, namun para zombie disini juga berbeda dari zombie-zombie pada umumnya, sebab mereka masih berbudaya, karena (1) mereka ada tempat ibadah/gereja sendiri (2) mereka bisa mengadakan upacara pernikahan (3) mereka masih ada keinginan untuk melakukan hubungan seks dan selingkuh (4)mereka membentuk suatu komunitas termasuk saat berburu (5)mereka juga ada sekolah untuk anak-anak zombie, jadi katakanlah zombie yang manusiwi. 

Oke, sekarang langsung ke tokoh utama dan ceritanya, jadi ada seorang zombie namanya Romeo R. Tapi R ini tidak seperti zombie-zombie lain (dia the special one karena dia tokoh utama) dia punya pemikiran sendiri dan lebih peka, meskipun dia tidak tau mengenai masa lalunya, oleh sebab itu dia (dan juga zombie-zombie lain) menobatkan makanan favorit mereka adalah otak manusia, sebab dengan memakan otak manusia mereka bisa merasakan sedikit kehidupan dari para korban mereka, sesuatu yang tidak mereka miliki sebagai zombie. 

Suatu  hari R dan teman-temannya melakukan perburuan dan di sini R memakan otak seorang pemuda bernama Perry Kelvin, dan R mendapat kenangan akan Perry termasuk kenangan akan pacarnya, yaitu seorang gadis bernama Juliet Julie dan Julie juga ada di lokasi perburuan. Dan seketika R jatuh cinta pada Julie dan berniat melindungi gadis itu dan menjaganya tetap aman. Jadi dimulailah hari-hari saat R perlahan tapi pasti berubah
dari mati menjadi hidup berkat cinta......

Kesan saya :

Sebelumnya saya ingin tekankan, bagi kalian yang menyukai fantasy dan terbiasa dijejali dengan cerita survivor in the middle of zombie apocalypse, jangan banyak berharap tentang hal tersebut akan ada dibuku ini. Seperti yang saya tulis di sinopsis, kalau zombie di Warm Bodies ini lebih beradab dan berbudaya dibanding zombie-zombie pada umumnya, karena itu jangan mengeluh bahwa cerita dan zombienya tidak masuk akal bila kalian bingung dengan zombie di Warm Bodies karena memang tidak dijelaskan apa yang membuat para manusia tersebut menjadi zombie dan saya lebih memilih kalau zombie-zombie di sini terjadi lebih dikarenakan hal gaib/supernatural/okultisme/kutukan bukan karena infeksi virus dan hal-hal yang bersikap sains. Sebab saat kita mengaitkan dengan sains meski fiktif sekalipun, maka kita akan meminta pertimbangaan logika. Lain hal nya dengan supranatural yang lebih diterima karena memang konsep gaib atau supranatural sendiri adalah di luar akal sehat. 

Terus bagi kalian yang Twilight haters atau ngga suka tipikal cerita yang menye-menye, dan khawatir kalau buku ini mirip Twilight (BTW, saya bukan haters tapi juga bukan fans Twilight saga) jangan cemas. Meskipun di depan ada premis dari Stephenie Meyer, sang penulis Twilight saga tapi buku ini tidak mirip dengan cerita Twilight. Buku ini lebih mirip cerita Romeo dan Juliet. Bahkan nama R dan Julie pun saya rasa terinspirasi dari Romeo dan Juliet. Keseluruhan Warm Bodies adalah kisah mengenai pemahaman akan umat manusia dan empati yang dibungkus dengan cerita cinta dan mahluk supranatural. 

Meskipun R menyukai Julie tapi yang membuat karakternya likeable (bagi saya), dia tidak memuja-muja Julie secara berlebihan sebagaimana orang lagi dimabuk cinta dan saya suka pengarang menunjukkan perasaan R pada Julie lewat interaksi dan tindakan serta pemikiran-pemikirannya terhadap manusia lain. Tapi sedikit pertanyaan untuk penulis, saya masih bingung apakah R suka terhadap Julie karena memakan otak Perry Kelvin(yang memang pacar Julie) atau R memang jatuh cinta pada pandangan pertama? Lalu berubahnya R menjadi lebih hidup dan makin manusiawi apakah karena sejak awal dia memang ditakdirkan special (faktor karakter utama dan fanboy penulis) atau emang otak Perry Kelvin yang dikonsumsi oleh R itu yang special?


Lalu bagaimana dengan karakter heroinenya sendiri? Julie cukup likeable, tipe gadis tetangga sebelah yang berjiwa bebas tapi dia care dengan orang-orang disekelilingnya, jadi saya rasa dia oke. Berhubung R mengkonsumsi otak Perry Kelvin, maka R terpaksa berbagi POV dengan Perry, jadi masa lalu R tetap misterius karena diisi oleh masa lalu Perry Kelvin. Mungkin bagi beberapa pembaca menganggap kisah Perry agak pointless selain kaitannya dengan Julie. 


Terus yang saya suka di buku ini adalah, cara penceritaannya yang kalem dan beberapa kutipannya yang cukup bagus dan menginspirasi, misal :


"Tidak ada tolak ukur untuk bagaimana "semestinya" hidup berjalan. Perry. Tidak ada dunia ideal untuk kautunggu-tunggu. Dunia selalu hanya seperti adanya sekarang. Terserah kepadamu bagaimana kau akan bereaksi terhadapnya." ~hal 180

"Menulis bukan hanya huruf-huruf di atas kertas. Menulis adalah komunikasi. Menulis adalah ingatan."~hal 222


Untuk cover sendiri, kebetulan saya beli bukunya yang udah cover film, mungkin dengan maksud marketable alih-alih pakai cover film yang seperti ini :
tapi malah cover yang dipakai mirip sama Twilight :
Hehehe, ngga ada maksud apa-apa sih, cuma sekedar membandingkan dua gambar tersebut (tapi saya harus bilang, kalau Nicholas Hoult dan Teresa Palmer lebih hidup dan punya ekspresi) mungkin seperti yang saya tulis sebelumnya, yaitu alasan marketing untuk menarik minat para Twihard. Tapi untuk saya pribadi, saya lebih suka poster dengan latar belakang merah dan pose R memberi bunga pada Julie, karena menurut saya poster film tersebut lebih bercerita and more artistic. 

Source gambar gif 1 Resident Evil Damnation
Source gambar gif 2 The Walking Dead
Source gambar poster Warm Bodies merah : 21 Cineplex
Source gambar poster Warm Bodies kedua : klik sini
Source gambar poster Twilight : klik sini

Selasa, 05 Februari 2013

KNIFE (FAERY REBELS #1)

✮✮✮✮
Judul Buku : Knife - Pemburu Mantra
Pengarang  : R.J. Anderson
Penerbit     : Ufuk Press
Penerjemah : Melody Violine
Jumlah Halaman : 375
Segmen : Anak-anak, Remaja 
Pertama kali tertarik dengan buku ini karena covernya (yah saya akui saya termasuk orang yang suka menambah nilai buku dari covernya) dan saya senang, UFUK tidak mengganti covernya. Dari covernya tentang seorang gadis dengan sayap capung dan latar belakang pohon, saya sudah tau kalau cerita ini mengenai peri dan ini ketiga kalinya saya baca buku YA yang bertemakan peri. 

Di buku sebelumnya yang saya baca tentang peri yaitu The Iron King, ras perinya adalah tipe elf itu loh yang biasa ada di novel-novel high fantasi dengan kuping lancip panjang seperti Legolas (LOTR) dan fisik lainnya persis sama dengan manusia kecuali bahwa elf mempunyai umur yang jauh lebih panjang dari manusia. Nah kalau di sini ras perinya setipe sama pixie yaitu tubuh mereka mungil, cuma segenggaman telapak tangan manusia dan punya sayap serangga, umumnya sayap capung atau kupu-kupu, contoh yang paling mirip seperti Tinkerbell, peri yang ada dalam cerita Peter Pan.

Waktu baca sinopsisnya, saya langsung tertarik karena ngga seperti kebanyakan buku YA urban fantasy, yang tokohnya biasanya manusia dulu lalu terseret dalam dunia mahluk-mahluk mitology atau fantasi dan lalu berubah jadi mahluk-mahluk fantasi itu (vampire, werewolf, peri, penyihir, angel, demon, dll). Kalau dalam KNIFE justru kebalikannya, yaitu tokoh utamanya peri yang tertarik dengan dunia manusia. 

Jadi ada peri muda bernama Knife yang senang berpetualang dan menyukai kebebasan, Knife tinggal di pohon Oak besar bersama para peri lainnya, sayangnya Knife hidup di dunia peri yang semakin sekarat karena populasi peri yang semakin sedikit dan juga para peri telah lama kehilangan sihir dalam diri mereka. Para peri disini tidaklah abadi atau immortal, walaupun mereka tergolong awet muda tapi mereka bisa menjadi tua dan mengalami kondisi "keheningan" lalu memudar. 

Karena para peri tidak abadi, maka  mereka juga harus makan untuk tetap bertahan hidup. Karena itulah dibentuk suatu sistem tugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan demi kelangsungan hidup para warga peri atau Oakenfolk. Ada 2 jenis jabatan yaitu Pengumpul dan Pemburu. Pengumpul ini mungkin lebih seperti petani, peri-peri yang bertugas untuk memetik buah-buahan, mencari biji-bijian, dll. Sedangkan pemburu seperti namanya, mereka berburu hewan untuk mendapatkan daging, karena itulah peri yang menjadi pemburu harus mempunyai skill untuk bertarung juga karena selain berburu mereka juga akan berhadapan dengan bahaya lain macam burung gagak yang ingin memangsa mereka.

Knife tidak pernah mengira kalau dirinya akan ditunjuk menjadi Pemburu. Selama menjadi Pemburu, Knife banyak belajar banyak hal, seperti melawan gagak pertamanya, mencari senjata yg pantas untuk melawan gagak yang diambilnya diam-diam dari sebuah rumah manusia dan mengetahui kalau para peri dahulu banyak yang pergi ke dunia manusia untuk mempelajari banyak hal dari manusia. 

Dari sinilah awal petualangan Knife di dunia manusia dan perkenalannya dengan seorang manusia bernama Paul dan bagaimana mereka bisa bersahabat dan saling mempercayai. 

Jadi sejak awal tertarik sama buku ini karena emang beda banget sama buku-buku YA urban fantasy lain, seperti yang saya sebutkan diatas, kalau tokoh utamanya adalah peri yang tertarik dengan dunia manusia, lalu para peri ini juga tidak digambarkan super dalam artian, kuat, abadi, perkasa, jago sihir. Justru peri-peri disini tampak inferior dan lemah dibandingkan dengan manusia dan justru banyak hal mereka pelajari dari manusia seperti seni, dengan kata lain ceritanya terasa manusiawi.

Yang saya suka dari buku ini adalah karakter-karakternya, penggambaran karakter terasa nyata dalam buku ini, misalnya, Knife yang keras kepala, pemberontak tapi peduli dan tidak egois lalu ada peri Wink yang baik hati, lembut dan keibuan, peri Thorn yang galak, keras tapi baik hati. Juga Paul McCormick, pemuda manusia yang pemurung dan putus asa akibat kecelakaan yang menimpanya. 

Buku ini cocok untuk yang suka action dan petualangan, yang suka cerita fantasy ringan dan yang suka cerita romantis. 

Alasan kenapa saya tidak kasih 5 bintang, karena ceritanya sebenarnya klise, mirip dengan cerita Disney yang berjudul Little Mermaid, tapi sang pengarang mengemasnya dengan sangat baik, dan tidak seperti umumnya cerita romance YA, saya suka karena cerita cinta disini tidak egois. Put other peoples first then yourself second. 


Untuk mbak Mel : terjemahannya oke. 

Sayangnya nasib sekuelnya (seri ini terdiri dari 3 buku a.k.a trilogi) tidak jelas mengingat sudah dua tahun lebih sejak rilis pertamanya tidak ada tanda-tanda bakal berlanjut, padahal ini series yang bagus, menarik refreshing dan kaya akan pesan moral, dan salah satu buku yang mengangkat karakter dengan cacat tubuh dan tetap terlihat "cool" well, this book kind of underrated to me. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...