Tampilkan postingan dengan label Buntelan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buntelan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

PARIS: ALINE (SETIAP TEMPAT PUNYA CERITA #1)

Judul Buku: Paris: Aline (STPC #1)
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona, Ibnu Rizal
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi: Diani Apsari
Jumlah Halaman: 212 Halaman 
Terbit: Cetakan kedua, 2013
Segmen: Remaja
Genre: Romance
Rate: ★★½
Catatan: Buntelan dari ultah Gagas Media #unforgotTEN (kado untuk blogger)

Siapa Aeolus Sena? Hanya dari penemuan sebuah porselin yang dibuang, hari-hari Aline di Paris mendadak jadi dipenuhi misteri seputar pria itu. 

Tidak ada yang biasa tentang Sena. 
- Pertama pria itu mengajaknya bertemu tepat tengah malam di sebuah tempat yang dulunya dipergunakan untuk mengeksekusi mati para tahanan. 
- Kedua, pria itu berani berjanji akan mengabulkan apapun 3 permintaan Aline.
- Ketiga, pria itu  membuat janji dengan cap darah.
- Keempat, pria itu selalu muncul dan menghilang dengan tiba-tiba. 
- Kelima, pria itu menyukai tempat-tempat yang gelap dan seram seperti kuburan.
- Keenam, pria itu bekerja di tukang reparasi mesin tik. 
- Ketujuh, setiap ekspresi di wajah pria itu tidak bisa ditebak, sedetik ia tampak usil dan sedetik kemudian ia serius.

Siapa Aeolus Sena? Mengapa ia selalu datang dan pergi dengan tiba-tiba? Di mana ia tinggal? Sena tidak pernah memberikan jawaban langsung pada Aline. Untuk mencari tahu jawabannya, Aline berusaha mengumpulkan setiap kepingan puzzle dengan menyusuri setiap tempat di Paris

Sabtu, 19 Oktober 2013

BOOK REVIEW: WHY ALWAYS ME

✭✭✭½
Judul Buku : Why Always Me
Pengarang : Orinthia Lee
Penerbit : de TEENS (Diva Press)
Editor : Rina
Jumlah Halaman : 220 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Teenlit
Special Note : Hadiah giveaway dari Biondy dengan special tanda tangan dari Orinthia Lee

"Hal yang paling menakutkan di dunia ini adalah kebohongan"

Setiap orang yang melihat Bianca, pasti akan berkata dia gadis yang cantik dan imut. Bianca memiliki kulit putih pucat, rambut hitam lurus dan mata besar berbentuk setengah lingkaran, membuat parasnya terlihat elok seperti boneka. Namun sayangnya dibalik penampilan luarnya yang elok, hal tersebut tidak diikuti dengan kepribadiannya. Bianca menyimpan banyak kepahitan dan kemarahan dalam kehidupannya, sehingga membuat emosinya cenderung meledak-ledak. Baginya lebih baik berkata jujur dan blak-blakan daripada berbohong. 

Gara-gara sifat galaknya itu, banyak teman-teman sekelasnya tidak suka dengan Bianca. Hanya Anne, satu-satunya orang yang memahami dan tahan menghadapi sifat judes Bianca. Namun suatu hari akibat kesalahpahaman, Anne pun menerima tusukan dari mulut tajam Bianca dan kali ini tusukan tersebut benar-benar melukai hatinya dan membuat Anne memusuhi Bianca. 

Bianca selama ini tidak pernah peduli dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, namun ia sadar bahwa apa yang ia katakan terhadap Anne sangat keterlaluan. Tapi Bianca terlalu gengsi untuk meminta maaf pada Anne, jadi bagaimana kelanjutan persahabatan mereka? Akankah tersambung kembali atau justru selamanya berakhir?

My thought :

Sudah lama saya nggak baca teenlit dan sejujurnya bahkan saat remaja pun saya jarang baca teenlit. Kalaupun baca teenlit, biasanya ada embel-embel fantasi. Selain karena saya emang udah lewat dari masa teen, cerita-cerita dalam teenlit biasanya agak keju atau ringan untuk selera saya. Kenapa sih Lin, elu demen banget yang kelam, masokis dan angst. Elu mau saingan sama Bianca dalam hal kepahitan?

Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk Orinthia, atas kelahiran anak pertamanya, hehehe, maksud saya buku pertamanya. Menulis itu bukan hal mudah, selain ide dan ngayal juga perlu ketekunan dan fokus, karena itu saya ucapkan selamat dulu kepada Orin karena sudah berhasil menerbitkan buku pertamanya. Semoga terus produktif dan saya nantikan buku selanjutnya. 

Saya mulai dari yang saya suka dulu mengenai WAM :
  1. Penuturannya. Saya suka cara penulis merangkai kalimat demi kalimat yang terasa simpel dan down to earth dalam Why Always Me. Gaya bahasanya sederhana khas remaja dan juga apa adanya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada kalimat yang terkesan dilebih-lebihkan. Tatanan kalimat terasa enak saat dibaca dan prosa pun cukup mengalir dengan luwes. 
  2. Karakterisasi. Ada 3 POV di sini. Yaitu POV Bianca, Anne dan Irina. Semuanya memakai 1st person POV, tapi kentara sekali penulis sudah  sangat menguasai dan paham dengan para karakternya. Meski sama-sama memakai 1st POV, tapi terlihat jelas perbedaan mereka semua. Bianca yang cenderung lugas dan tanpa basa-basi. Sedangkan Anne terkesan lembut dan simpatik. Sementara si kecil Irina (dari semua karakter, fave saya adalah Irina) itu polos namun di satu sisi juga terasa mature. Menurut saya, buku ini salah satu buku yang berhasil mengeksekusi penggunaan multiple 1st person POV.
  3. Cerita sederhana tanpa muter-muter tapi tidak melupakan unsur emosi.  

Nah, sekarang sedikit harapan saya saja sih untuk cerita ini :

  1. Saya suka unsur persahabatannya, tapi saya kurang suka unsur romensnya. Dan saya berharap ada lebih banyak unsur drama keluarga. Alasan saya tidak suka unsur romensnya bukan karena saya tidak suka romens, saya justru suka romens, tapi sepertinya buku ini akan lebih terasa feelnya bila fokusnya lebih ke drama keluarga dan persahabatan. Selain itu Travis terlalu sempurna di mata saya dan saya merasa Travis kurang believable. Dia sepertinya terlalu baik, pengertian, nrimo dan tidak sombong #eh. Saya sebenarnya bingung apa yang membuat Travis bisa suka dengan Bianca, lha sebagai pembaca aja, kadang-kadang saya sebel sama dia. Maap yah, tapi saya ngga percaya cinta pada pandangan pertama, biasanya ada sesuatu yang membuat kita suka dan sebaliknya, ilfil dengan seseorang. Lain ceritanya kalau memang sudah dalam tahap hubungan serius, saya ngerti kalau logika sudah tidak bisa dipercayaSoal masalah pendeskripsian fisik Travis yang terlalu gampang, saya sepakat sama teman-teman yang lain.
  2. Ignorant Mother? Ini mungkin perasaan saya saja, tapi saya merasa peran mama Bianca di dalam buku ini hanya sebagai plot device terutama untuk bagian pendahuluan. Jujur saja, saya masih inget pertanyaan Biondy untuk GA buku ini, yaitu apakah kamu pernah punya teman yang mulutnya setajam Bianca (kurang-lebih)? jawaban saya, "sejauh ini kalaupun kenal tapi tidak separah Bianca dan bukan teman dekat, malah mungkin sayalah yang kalau lagi marah mulut saya bisa tajam seperti Bianca, karena dari dalam, emosi saya ini cenderung meledak-ledak dan tipe yang forgive but not forget." Tenang, saya sudah belajar untuk mengontrol emosi. Oke, balik ke peran seorang mama dalam pembentukan karaker anak. Tapi mamanya Bianca ini apa tidak pernah menegur anaknya untuk lebih menjaga lidahnya? yang saya tangkap cuma Anne saja yang suka menasehati Bianca soal itu, Karena jujur, mama saya saja selalu ingetin saya untuk jangan galak dan hati-hati kalau berbicara, nanti orang bisa tersinggung dan sakit hati. Oke, saya stop curhat di sini. Kan mamanya pasti tahu perlakuan Bianca sama mboknya di rumah, tegur dan omelin donk anaknya supaya bisa lebih jaga ucapan. Saya berharap lebih ada unsur hubungan ibu-anak di sini. 
  3. Balik ke point nomor 1, kadang kala saat saya lagi asyik masuk ke konflik keluarga, macam kejadian Bianca saat ketemu sama papanya di bonbin, tiba-tiba konflik itu berakhir cepat dan meluap begitu saja, lalu secara kebetulan bisa ada Travis, yang menurut saya malah bikin tensi turun. 
  4. When Bianca met Irina. Saya merasa agak janggal baik secara situasi maupun faktor kekerabatan dalam keluarga Bianca. Aneh saja bagi saya kalau Bianca tidak tahu siapa Irina, mengingat mereka itu kan.... dan apakah hal ini karena mamanya terlalu ignorant  untuk menjelaskan pada Bianca? Trus reaksi Bianca saat ketemu Irina, kalau saya mungkin pertama tanya sama Irina dan kalau belum ada jawaban, saya nggak akan push Irina, tapi saya akan tanyakan langsung ke orang rumah, "Ini siapa?" Tapi sekali lagi, saya dan Bianca kan berbeda, tentu reaksi saya dan dia terhadap orang asing berbeda. 
  5. Kalimat metafora/hiperbolis yang justru mengacaukan feel. Di halaman 197, harusnya kan feelnya sedih, cuma gara-gara kalimat, "air mataku seperti air bah yang mengalir tanpa henti," saya malah pengin ketawa.  
Notable Quote : 
"Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang kubentak karena aku merasa akulah yang benar." ~hal.171

Sampai sini dulu, sebenarnya buku ini mau saya sertakan untuk Posbar anak-anak BBI sebagai baca bareng bertema buku penulis baru atau debut yang memang menjadi tema untuk bulan Oktober. Cuma berhubung buku selanjutnya Orinthia akan segera keluar, mungkin sudah tidak termasuk kategori debut penulis baru yah :P

Kamis, 03 Oktober 2013

BOOK REVIEW : HERE, AFTER

✮✮✮½
Judul : Here, after
Penerbit : Gagas Media
Pengarang : Mahir Pradana
Editor : Samira
Desain Sampul : Jeffri Fernando
Jumlah Halaman : 197 Halaman
Segmen : Dewasa
Genre : Metropop, Chiclit, Romance
Keterangan : Buntelan dari Gagas, kado untuk blogger #unforgotTEN

Kalau ditanya peribahasa apa yang cocok untuk melukiskan pengertian cinta berdasarkan buku ini, maka jawabnya adalah :
"Beginilah cinta, deritanya tiada berakhir."
Yup, ungkapan itu terasa familiar bagi yang suka menonton serial silat jadul yang berjudul Journey To The West. Betapa sering ungkapan tersebut dikatakan oleh Chu Pat Kay, seorang jendral yang dihukum harus menjalani beribu kali siksaan cinta dalam setiap kehidupan reinkarnasinya, hanya karena jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya ia cintai. 

Tapi tidak. Saya tidak akan bahas serial tersebut. Hanya meminjam ungkapan yang sering ditangisi oleh salah satu tokohnya saja, karena ungkapan itu juga cocok untuk 10 kisah cinta dalam buku ini. Lebih tepatnya 10 kisah percintaan dari karakter-karakter yang saling berhubungan dalam buku ini walau tidak semua karakter itu saling berinteraksi atau mengenal satu sama lain. 

Sepuluh kisah cinta
Sepuluh sudut pandang 
Sepuluh rasa pahit

Tunggu dulu, bukankah ini novel romens, cinta itu kan seharusnya indah, cinta itu kan seharusnya manis, mengapa menjadi pahit? 

Mengapa bingung? Bukankah judulnya dan premisnya sudah menjawab hal tersebut? Cerita cinta berakhir di sini. Jadi buku ini lebih membahas kepahitan dari cerita cinta atau penyebab negatif yang ditimbulkan oleh akhir sebuah cinta. 

1. Adi
Mengambil tema LDR. Saya tidak pernah merasakan LDR jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi LDR lebih daripada cinta. Sejujurnya cerita Adi ini mungkin yang paling sederhana dibanding yang lain, ok, mungkin cerita Adi dan Ollie, awal dan akhir boleh dibilang yang paling simple dibanding 8 cerita lain. 

2. Diana
Insecurities, insecurities, insecurities. Sebenarnya tidak ada cinta di cerita ini, hanya akhir cerita cinta semuanya. Akhir cerita cinta saat seseorang tidak bisa melepaskan belenggu masa lalunya. So this is how love become lust? because why we need love when lust is more fun? Love are pain, bitter, sacrifice, compromise and commitment while lust are sex, pleasure, freedom and fun. 

3. Rio
When love become illusion even dream could be real. Dari semua kisah cinta berakhir, saya paling tidak suka dengan cerita Rio, agak membosankan menurut saya. The 'dream' things nya itu rada maksa. 

4. Putra
Temanya rada lemah dan terlalu abege menurut saya. To be honest, I don't like when love is telling as philosophy. I want to see some show, some action. 

5. Nia
Marriage by arrangement. Tema basi tapi selalu disukai. Setelah 4 cerita awal terasa hanya sekedar cerita cinta sambil lalu, saya mulai merasakan tensi dan tone meningkat lebih serius di cerita Nia. 

6. Arya
Masih lanjutan dari tema Marriage by arrangement. Yang saya bingung di sini, mengapa ceweknya menyerah begitu cepat hanya dalam hitungan hari. Padahal saya berharap bagian yang ini lebih dibahas, kan cowonya janji mau memberikan cinta yang lebih tinggi, tapi saya tidak merasakan itu. Tapi suka sama endingnya #lha

7. Novi
Dari semua cerita, inilah cerita favorit saya. Meski masih nyerempet soal cerita cinta berakhir, tapi elemen utama cerita Novi adalah psikologis campur sedikit suspense dan horror, itulah yang membuat saya suka. Saya sempat berasa tegang juga di bagian cerita Novi yang pas ada adegan Dr Jekyll and Mr Hyde. Juga adegan crazy love Novi yang bikin saya geleng-geleng kepala dan teringat lagu Agnes ~Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, brisi semua hasrat dalam hati, ku hanya ingin dapat memiliki, dirimu hanya untuk sesaat~

8. Rizal
Beneran ya, adegan pembuka bangun tidur kuterus mandi itu memang membosankan. Tapi itu cuma openingnya doank. Ceritanya bukan tentang itu. Ya intinya, menikahlah karena cinta, jangan karena terpaksa. 

9. Intan
Baca cerita Intan ini agak ingetin saya sama film Korea Untold Scandal, yaitu affair vs affair. Berhubung tokoh-tokohnya suka puisi maka di cerita ini banyak puisinya.

10. Ollie
In the end, what is the difference between love and lust? Mungkin jawabnya gampang, cinta itu long term, sedangkan nafsu itu short term. Sesaat kita mengira kita mencintai seseorang dengan sangat bergelora dan menggebu-gebu tapi hanya dalam hitungan jam, oke mungkin hari, kita langsung move on dengan cepat. 

Overall : Saya suka dan menikmati buku ini, gaya bahasa atau penuturan Mahir Pradana benar-benar enak diikuti, kalimat-kalimatnya terasa membumi dan dialog-dialognya tidak ada yang berlebihan sebagaimana khas novel romens yang ujung-ujungnya suka jadi keju. 

Karakter? Sejujurnya saya rasa penulis membuat karakter disini untuk kebutuhan cerita bukan untuk diidolakan. Tidak ada karakter hitam dan putih. Semuanya hanya mencoba untuk menjalani hidup dengan lebih 'enjoy' melalui berbagai macam cara yang dapat mereka lakukan.

Cover? saya baru sadar, gambar jam pasir itu memang menandakan, cinta pun ada batasan waktunya. Eternal Love mungkin hanya ada dalam dongeng. Cinta bisa berakhir karena batasan jarak, hasrat, kondisi, dll. 

Senin, 12 Agustus 2013

MARRIAGEABLE

✭✭✭½
Judul Buku : Marriageable
Pengarang : Riri Sardjono
Penerbit : Gagas Media
Editor : Windy Ariestanty
Proofreader : Mita M. Supardi
Jumlah Halaman : 357 Halaman
Segmen : Dewasa
Special Note : Buku ini saya terima dari Gagas sebagai kado untuk blogger #unforgotTEn

Reviewer : 



Chiky


Oniyon



Momon



Monky



Kitten


Ada lima orang sahabat yang saat itu sedang berkumpul, sebenarnya mereka tidak berniat untuk hangout bareng. Chiky berencana membeli snack cacing kering di minimarket terdekat, Oniyon sedang asyik sendiri sama buku yang dibacanya, Momon ingin ke rental untuk meminjam DVD Korea, sedangkan kembarannya Monky sudah berjanji untuk main bola membantu temannya melawan tim RT tetangga sebelah yang berhadiah satu tandan pisang dan Kitten seperti biasa cuma bergolek-golek di kasur. Namun hujan deras turun dengan tiba-tiba membuat kelima mahluk tersebut terpaksa mengurungkan niatnya dan akhirnya berkumpul di ruang santai. Sambil menunggu hujan mereda, Chiky memutuskan untuk main games, sedangkan Momon dan Monky hanya berdiam diri melamun. 

"Sebel kenapa sih harus hujan," gumam Monky jengkel

"Tapi hujan itu romantis, gue suka hujan," sahut Momon yang berdiri di dekat jendela dan memandang hujan. 

"Romantis?" ejek Monky. "Becek, macet, gak ada ojek gini, menurut loe romantis?"

"Kenapa sih Ky,  elo tuh jadi mahluk sinis banget, ngga ada imajinasi sama sekali," desah Momon

Oniyon yang dari tadi asyik baca buku, menghentikan kegiatan bacanya dan berteriak jengkel kepada sepasang monyet kembar tersebut, "Tolong loe orang berdua jangan ribut, gue ngga bisa konsen nih," ujarnya dan lalu ia kembali tenggelam dalam buku yang dibacanya.  

Monky yang lagi bete karena hujan langsung mengalihkan perhatiannya pada Oniyon yang tampak sedang cengar-cengir di pojokan. Penasaran ia menuju ke tempat Oniyon membaca buku. 

"Lagi baca buku apa sih, dari tadi loe cengar-cengir sendiri kaya orang gila?" tanyanya sambil melirik cover sebuah buku yang bergambar kotak susu dengan totolan sapi. 

"Bentar lagi gue selesai, elo jangan ganggu gue dulu," ujar Oniyon sambil membalikkan badan membelakangi Monky. 

Tapi bukan Monky namanya kalau terima saja dicuekin sama Oniyon, dengan gesit dia langsung menyambar buku yang dibaca Oniyon dan membaca sinopsis yang ada belakang cover buku. 

Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan mencarikan Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk. Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See??
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That’s my reason, Darling!
"Kembaliin, gue belum selesai," sembur Oniyon sambil berusaha menarik kembali buku tersebut dari Monky. Namun seperti biasa Monky selalu lebih gesit dari bawang. 

"Wah kayanya nih buku lucu" ujar Monky sambil tetap memerhatikan cover belakang buku. Setelah itu Monky tertawa ngakak 

"Kenapa loe, tiba-tiba ketawa?" tanya Oniyon jengkel

"Kayanya gue tau deh, kenapa elo pilih buku ini buat elo baca?" sahut Monky sambil senyum-senyum

"Maksud loe?" tanya Oniyon heran

"Tema buku ini tuh sesuai sama keadaan elo," jawab Monky sambil tetap senyum-senyum

"Tema? keadaan gue? maksud elo apa sih?"

"STMJ," jawab Monky sambil tergelak

"STMJ? Apa itu STMJ? Ngomong yang jelas, emang loe kira gue kerja di CIA," tegur Oniyon tambah jengkel.

"STMJ itu artinya Sudah Tua Masih Jomblo." 

"Siaul loe!" 

Momon yang sedari tadi mengamati tampak tertarik dan ikut bergabung, "Buku apa sih? romantis ga?"

Monky memandang jengkel saudari kembarnya, "Gue rasa cerita horror pun di otak loe jadi romantis."

"Monky jahat!" teriak Momon sambil pergi meninggalkan ruangan tersebut. 

Chiky yang sedari tadi asyik main video game, tiba-tiba berhenti, "Kenapa sih elo sama kembaran loe sendiri aja susah akur, Ky?"
"Bukan begitu Chik, tapi dia tuh perlu disadarin kalau kenyataan ngga seindah impian," sahut Monky sambil memberikan buku tersebut kepada Oniyon yang langsung dikeukeup oleh Oniyon. 

"Gue udah baca tuh buku, menurut gue ceritanya lumayan," ujar Chiky sementara matanya tetap melihat layar TV

"Jadi gimana? akhirnya si Flory ini berhasil kawin ga? sebelum uh expired?" tanya Monky

"Kalau yang loe maksud apa si Flo dapat jodoh, jelas dapat, karena buku itu bukan soal pencarian jodoh," jawab Chiky datar.

"Eh, kalau gitu tentang apa donk?" tanya Monky keheranan

"Meoow, tentang cinta dan apa itu cinta," ngeong Kitten yang tiba-tiba saja memunculkan kepalanya dari balik selimut. 

"Huh cinta," dengus Monky sambil mencibir, "Gue sih ngga percaya cinta."

Kitten kecil kembali mengeong menyatakan ketidaksetujuannya atas Monky, "Jadi kalau elo gak percaya cinta, menurut elo kenapa para manusia itu pada menikah?"

"Gampang Ten," jawab Monky mantap. "Karena manusia perlu melanjutkan keturunan, dan dalam dunia manusia untuk melanjutkan keturunan, mereka harus menikah."

Chiky tiba-tiba menoleh dari layar TV dan bertanya, "Tapi kalau memang tujuannya buat melanjutkan keturunan, kenapa ada manusia yang mau menikah tapi ngga mau punya anak?"


Monky tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil kesimpulan dengan gaya sotoynya, "Mungkin untuk kenikmatan dan pengabdian."

Oniyon yang tampaknya sudah selesai membaca tiba-tiba nyerocos, "Kenapa bahasan elo orang jadi rumit gitu, pernikahan kan urusan para manusia, yang penting commitment."

"Apa pula itu commitment?" tanya Kitten polos. 

Oniyon tidak mengacuhkan pertanyaan Kitten dan alih-alih melemparkan pertanyaan kepada Chiky, "Chik, apa pendapat elo soal buku ini?"

Kali ini Chiky meletakkan tuas kendali video games yang dipegangnya, lalu dia mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna biru dan berkata, "Kalau menurut gue, konflik utama cerita ini ada pada karakter utama yang bernama Flory, karena dia cenderung over thinking  dan tema cerita secara keseluruhan tentang insecurity, tidak ada konflik yang benar-benar nyata dalam buku ini, karena semua konflik bersumber pada Flory yang cenderung menyelesaikan masalah dengan masalah."

Oniyon hanya manggut-manggut setuju, lalu menambahkan, "Kalau menurut elo gaya penceritaannya bagaimana?"

"Mirip script film, 70% dialog dan 30% narasi, buku ini banyak di percakapan dan permainan dialog" jawab Chiky.

"Bagaimana dengan typo?" tanya Monky tiba-tiba. 

Oniyon dan Chiky hanya saling memandang lalu Chiky kembali berkata, "Typo ada sih tapi ngga terlalu banyak. Halaman 204, 'membutuh' seharusnya 'membutuhkan' trus halaman 327, 'permaian' seharusnya 'permainan' dan hmmm kayanya cuma segitu aja."

"Elu yakin typonya cuma segitu?" ejek Monky. "Buku terakhir yang elo baca kan typonya ada 10 tapi elo sebut cuma 5."

"Tugas gue kan bukan memeriksa typo, Ky," jawab Chiky tenang. "Itu kan bagian elo yang memeriksa typo, kalau jumlah typonya ada lebih yah maklum deh."

"Kan gue belum baca bukunya, Chik," Monky mengingatkan Chiky. 

"Tapi ada satu hal yang mengganjal gue, Chik," gumam Oniyon, tangannya membuka-buka halaman buku dan menunjukkan sebuah kalimat dalam buku lalu membuka lagi lembar halaman lain dan kembali menunjukkan kalimat lainnya. "Gue bingung sama kata acuh di sini. Kalau yang gue nangkep dari penyampaian kalimatnya, makna kata acuh di sini adalah cuek. Tapi kenapa depannya ngga pakai kata 'tak'?"

Monky tampak bingung, "Maksud loe?" lalu Monky ikut membaca kalimat yang ditunjukkan oleh Oniyon. "Aneh ya, gue yakin acuh itu maknanya peduli, tapi kenapa di kalimat ini bermakna cuek?"

"Itu karena tidak ditambahkan kata 'tak' di depan kata 'acuh', jadi yang benar itu tak acuh bukan acuh," jawab Chiky. 

"Apa kelolosan?" tanya Oniyon pada Chiky

"Kelolosan kok banyak? bisa dibilang semuanya?" Chiky balik bertanya kepada Oniyon

"Hanya editor dan penulis yang tahu."

"..."

Kitten kembali menongolkan kepalanya dari balik selimut dan ikut nimbrung, "Kalau ceritanya bagaimana? kok ngga ada yang bahas cerita dan karakternya?"

"Lha tadi kan sudah disebut sama Chiky," seru Monky heran. "Makanya kalau nyimak tuh yang serius jangan sambil guling-guling di kasur."

"Gue dengar kok, tapi itu kan Chiky cuma bilang temanya. Bukan pembahasan cerita atau karakternya. Maksud gue banyak adegan romantisnya ga? adegan yang bisa bikin pembacanya merasa terenyuh," ujar Kitty dengan mata berbinar-binar. 

Monky, Oniyon dan Chiky cuma terbengong menatap Kitten. Tapi mereka memakluminya karena Kitten ditemukan dalam sebuah tong sampah saat masih seekor bayi kucing oleh Momon dan sejak saat itu Momonlah yang mengasuh Kitten, tidak heran kalau sifat Kitten miirp dengan Momon, sama-sama melankolis dan hopeless romantic. 

"Ceritanya seputar dunia sosialita. Adegan romantis ada, kata-kata keju ada, tapi ngga banyak, yang lebih banyak itu seputar persahabatan Flory dan genknya daripada interaksi Flory sama cowonya," ujar Chiky dan sebelum Oniyon sempat menyela, ia kembali menambahkan, "Kalau menurut gue buku ini lebih tentang persahabatan daripada kisah pernikahan itu sendiri."

"Persahabatan yang membahas tentang pernikahan," tambah Oniyon lalu ia kembali berujar, "sebenarnya gue berharap lebih banyak interaksi antara Flory dan suaminya. Kalau untuk karakter, gue paling suka Dina."

"Elo demen yang model bitchy begitu?" tanya Chiky

"Lho justru kan menariknya sifat dia karena bitchy itu. Kalau yang lain typical, ada Gerry yang tipikal cowo gay tukang gosip, si Flory sendiri tipe yang impulsif karena tindakan dan perkataannya bekerja lebih dulu daripada otaknya trus Kika si feminis nanggung dan Ara yang mirip-mirip sama Momon dalam hal romantika cinta. That's all"

"Jadi gue rasa kita udah siap buat laporan untuk Lady Storytelling," ujar Chiky sambil menutup buku catatan kecilnya dan disetujui dengan anggukan Oniyon. 

Sementara itu hujan di luar sudah mulai reda, Momon sudah menghilang entah kemana, Kitten melanjutkan bergolek-golek di kasur. Monky langsung pergi untuk bertemu temannya. Chiky pergi ke minimarket untuk membeli snack cacing kering favoritnya dan Oniyon menghadap Lady Storytelling.

Why I gave the rate 3.5 instead of 4


Note : Semua karakter saya ambil dari http://www.laymarks.com/ saya terinspirasi untuk membuat review ala cerpen dari blog Mbak Dewi saat saya membaca reviewnya yang berjudul Fifty Shades of Grey dan ternyata yah saya gagal untuk membuat cerpen yang lucu jadi sorry yah kalau reviewnya garing.  

Rabu, 31 Juli 2013

FAITH

✮✮
Judul Buku : Faith
Pengarang : Ca
Penerbit : Grasindo
Jumlah Halaman : 255 Halaman
Segmen : Remaja

Seumur hidup saya (oke, emang terdengar lebay, tapi memang begitulah kenyataannya),tidak pernah saya memenangkan yang namanya buntelan atau giveaway. Tapi bulan Juli ini boleh dibilang bulan keberuntungan saya dalam hal buntelan buku, karena hingga post ini saya tulis, saya berhasil mendapatkan kesempatan untuk memperoleh 3 buntelan buku gratis dari 3 pihak pemberi giveaway yang berbeda. 

Untuk buntelan pertama, saya dapat dari angelnya buntelan BBI yaitu mas Dion Yulianto dari blog Baca Biar Beken untuk buntelannya sendiri kami diperkenankan memilih salah satu dari beberapa buku yang ditawarkan oleh Mbak Yudith dari GPU. Beberapa pilihan bukunya ada yang terjemahan, ada yang lokal. Berhubung buku-buku terjemahannya rata-rata sekuel atau sambungan (sedangkan saya belum baca seri pertamanya) maka saya putuskan untuk memilih buku lokal. Pilihan saya jatuh pada buku Faith, alasan saya memilih buku tersebut selain faktor yang tidak terlalu tebal (mengingat keadaan saya yang so many books, so little time), saya juga penasaran sama tulisan Hangul disamping judul buku, karena sejujurnya saya belum pernah sekali pun membaca genre berbau Korea. Apakah itu K-Lit asli yang ditulis oleh pengarang Korea atau pun fiksi berbau Korea yang ditulis oleh penulis lokal.  Karena itu saya sangat senang saat mengetahui bahwa saya berhasil mendapatkan bukunya. 

Beberapa hari kemudian, buku tersebut tiba di rumah, saya sama sekali tidak mengira kalau buku tersebut adalah fanfiction, sekiranya itulah label yang tercantum di sudut kiri atas buku. Saya tau akhir-akhir ini segala sesuatu yang berbau Korea sedang menjadi trend di Indonesia, mulai dari munculnya boyband dan girlband ala Korea hingga buku fiksi. Secara garis besar saya tau apa itu fanfiction, karena saya juga pernah baca fanfic di internet walaupun bukan yang berbau Korea. Karena sejujurnya secara pribadi saya biasa saja dengan K-Pop ataupun K-Drama. Bahkan boleh dibilang drama Korea terakhir yang saya tonton, sudah sejak 2 tahun yang lalu yaitu Boys Before Flower #gakadayangtanya.  Selanjutnya saya sudah tidak mengikuti lagi perkembangan drama Korea, sedangkan untuk musik atau artis pop, saya hanya sebatas menyukai lagu-lagunya saja kalau memang ada yang nyantel di telinga saya. 

Sekarang mari membahas bukunya. Melihat dari cover, buku ini mempunyai cover yang cantik, warna kuning lemon dengan ilustrasi-ilustrasi yang seolah dilukis cat air. Begitu pun sinopsis belakang buku mempunyai kalimat-kalimat premis yang tampak menjanjikan :
Ini bukan dongeng, tapi realita.Lupakan pangeran tampan berkuda putih, ibu peri, dan kurcaci. Ini cerita romansa beberapa pribadi beserta keunikan masing-masing.
Dari pencarian cinta sejati sampai pembuktian komitmen masa depan. Dari Seoul sampai London. Dari bus kota sampai tembok besar Cina. 
Cerita ini adalah mengenai orang-orang yang menemukan cinta mereka masing-masing. Seseorang yang berusaha mencintai kebodohan pasangannya. Seorang sahabat yang tak bisa melepaskan sahabatnya. Seseorang yang rela menggantikan orang lain. Seseorang yang tak bisa melupakan cinta sejati. Seseorang yang mencoba membahagiakan pasangannya dengan mengorbankan dirinya. 
Ini bukan dongeng, jadi mungkinkah tiap-tiap ceritanya berujung happily ever after?
Maka saya pun mulai membacanya dengan ekspektasi positif. Namun sayangnya, hingga bab 1 selesai, saya tidak bisa klik ataupun masuk dalam cerita buku ini. 

Buku ini mengambil banyak sudut pandang orang pertama. Banyak? yah banyak. Untuk bab 1 saja ada enam orang yang memakai 1st person POV. Sejujurnya menurut saya penuturan 1st person POV untuk banyak karakter itu sangat beresiko, terutama bila kepribadian antara 1 karakter dengan karakter lain itu mirip. Selama ini multiple 1st person POV yang pernah saya baca itu paling banyak 2 orang. Sedangkan buku ini mempunyai 6 sudut pandang orang pertama. Mereka adalah : 
*Note, warna biru untuk laki-laki, warna merah untuk perempuan
  1. Park Sungyeol
  2. Baek Hyunji
  3. Kim Jongwan
  4. Kyung Subin
  5. Oh Haeri
  6. Hoon Sejung
Sejujurnya, saya tak terlalu merasakan perbedaan dari multiple POV tersebut, kecuali mungkin Subin dan Kim Jong yang memiliki kepribadian meledak-ledak. Menurut saya pribadi, apabila ada banyak karakter yang ingin diceritakan, daripada memakai banyak sudut pandang orang pertama, mengapa tidak sudut pandang orang ketiga saja, di mana penulis adalah penguasa. Atau cukup satu karakter utama yang mendapat 1st person POV, sisanya memakai 3rd person POV.

Untuk segi cerita, saya merasa cerita ini tidak dibangun berdasarkan plot cerita yang utuh tapi lebih seperti cerita yang dibangun berdasarkan adengan-adengan dalam drama Korea atau sinetron. Karena itu saya merasa banyak sekali adegan atau setting yang lompat-lompat dari satu adegan ke adegan lain tanpa penjelasan lebih lanjut dari adegan sebelumnya, sehingga membuat saya lebih lama memahami cerita dalam buku. Saya tidak tau apakah hal ini disengaja mengingat genre buku ini adalah fanfiction (yaitu potongan-potongan cerita yang diambil dari adegan film atau drama Korea) atau memang kelolosan editor saat mengedit? Kalau memang hal tersebut adalah gaya penulisan fanfiction, sepertinya saya tidak akan menyentuh genre fanfiction lagi. 

Nah sekarang, kita bahas ceritanya. Buku ini berkisah mengenai 3 pasangan plus 2 pasangan tambahan yang saling mengenal satu-sama lain. 


Pasangan pertama yaitu Baek Hyunji dan Park Sungyeol. Hyunji ini dikisahkan hanyalah gadis biasa saja, tampangnya juga biasa saja, personalitynya cenderung Mary Sue dan sering bikin repot orang lain (anehnya bisa disukai sama 3 orang pria), namun karena dia biasa saja inilah, Sungyeol si pemuda paling populer, kaya, tampan, yah pokoknya sempurna tanpa cela deh dengan pemberitahuan berulang kali dari penulis mengenai kesempurnaan fisik Sunyeol yang tiada tara, yang sukses bikin saya ilang filing, jadi ceritanya Sungyeol ini jatuh hati kepada Hyunji, cinta pun bersambut, Hyunji juga suka sama Sungyeol dan mereka pun resmi pacaran. Trus sudah selesai kah cerita mereka? O belum, untuk menambah bumbu maka dibuat konflik tambahan (yang menurut saya ngga perlu) ala Romeo & Juliet, di mana ternyata keluarga Park dan keluarga Baek ini saling bermusuhan akibat perseteruan turun temurun dari kakek-kakek mereka --> penyelesaian masalahnya pun ngga jauh-jauh dari buktikan dahulu kemampuanmu baru boleh pacaran. 


Pasangan kedua yaitu Kyung Subin dan Kim Jongwan. Subin ini digambarkan jenius matematika yang tergila-gila pada angka, sedangkan Jongwan ini BFF Hyunji which turn into have a feeling more than just friend for Hyunji. Tidak terlalu dijelaskan apa yang membuat Subin suka sama Jongwan, mengingat seharusnya Subin ini jengkel sama Jongwan yang sudah seenaknya merusak TTS kesayangannya, tapi dia malah bantu Jongwan. Trus konfliknya apa? konfliknya Subin suka sama Jongwan tapi masalahnya Jongwan suka sama Hyunji meskipun Hyunji had been taken by Sungyeol. Saking sukanya sama Jongwan, Subin rela jadi pengganti Hyunji agar Jongwan bisa bahagia --> penyelesaian masalahnya sepertinya paling gampang yang ini, karena semua masalah seolah beres dan menguap. Kalau saya jadi Subin sih mungkin no second chance. 


Pasangan ketiga yaitu Sejung dan Zhaoyi. Awalnya konflik mereka karena LDR (Sejung di Korea, sedangkan Zhaoyi di China) namun masalah teratasi saat salah satu pergi meninggalkan negaranya untuk bertemu kekasihnya, selanjutnya cerita bergulir ala Endless Love dan Stairway To Heaven yang kisahnya sudah bisa ditebak dengan salah satu ilustrasi di cover belakang buku. Penyelesaiannya wokeh lah. 


Sedangkan 2 pasangan lain, saya tidak tahu, khususnya Sherry & Ricky, saya benar-benar bingung apa pointnya menambah halaman dengan cerita mereka? Just canon fodder I think. 


EDIT : Saya rasa daripada membuat kisah cerita romance antar pasangan, lebih baik pilih salah satu dari 3 kisah utama, misal yang Sejun dan Zhaoyi, itu kan berpotensi jadi sick lit yang sekarang ini lagi ngetrend macam The Fault in Our Star-nya John Green atau Me Before You-nya Jojo Moyes yang dengar-dengar sukses bikin banyak pembacanya mewek berjemaah. Atau cerita Subin dan Jongwan bisa dibuat jadi cerita yang fokusnya ke pengembangan karakter.  

Nah sekarang masalah teknis, setahu saya editor buku ini ada 2 orang, tapi mengapa masih ada beberapa typo yang kelolosan (saya tidak hitung ada berapa tapi salah satunya di sinopsis belakang buku di mana kata pangeran ditulis pengeran). Bukan hanya typo, tapi juga beberapa kata yang penerapannya salah dan juga tatanan kalimat yang semraut atau kurang lengkap, misal hal 14 : Dia mentertawakan ekspresi gusarku saat aku menyambangi sosok mungilnya sudah ambil tempat di boncengan sepedaku.  --> Bagaimana kalau seperti ini : Dia menertawakan ekspresi gusarku saat aku menyambangi sosok mungilnya yang sudah mengambil tempat di boncengan sepedaku. 


Lalu halaman 165: Aku mengambil remote dan langsung mematikan TV tanpa menekan tombol 'pause', membiarkan cakram DVD terus berputar tanpa menampilkan gambarnya. Keheningan langsung mencekam suasana bersama kegelapan karena sumber cahaya lenyap-maksudnya agar efek bioskop muncul. Jongwan berinisiatif menekan sakelar lampu sehingga cahaya memperjelas wajah marahku. 


Entah mengapa saya harus mengulangi paragraf tersebut berkali-kali untuk menangkap maksudnya karena saya sempat mengira "Bagaimana mungkin sumber cahaya satu-satunya (TV) sudah dimatikan tapi masih ada cahaya lain?" 


Mungkin lebih enak bila seperti ini : Aku langsung mengambil remote dan mematikan TV tanpa turut menekan tombol pause pada DVD player, membiarkan cakram DVD tersebut tetap berputar tanpa menampilkan gambar dari TV. Keheningan dan kegelapan langsung muncul seketika, karena saat menonton film, kami selalu mematikan semua lampu untuk menampilkan efek bioskop. Namun Jongwan tidak membiarkan kegelapan itu berlama-lama menyelimutiku karena dengan seketika ia langung menyalakan sakelar lampu dan cahaya lampu memperjelas amarah pada wajahku. --> ini sih cuma menurut saya saja yah, karena untuk saya pribadi terdengar lebih luwes saat dibacanya.  


Sejujurnya saya ini tipe yang tidak terlalu ambil pusing mengenai genre, karena genre itu cuma label. Begitu pun dengan tema. Karena sekarang ini sudah sulit sekali mencari tema yang original. Bagi saya asalkan suatu buku itu memiliki gaya penulisan yang enak dibaca, memiliki plot yang baik, pengembangan karakter yang baik, maka bagi saya itu saja sudah cukup bagus. 


Sorry for the long review just my personal opinion, thanks to anyone who read it. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...