Minggu, 11 Maret 2018


MANHWA PRINCESS
Pengarang: Han Seung Won
Vol: 1-31 (not finished)

Sebelumnya, maafkan saya yang telah lama hiatus dan tidak pernah menulis di blog yang nyaris setahun lamanya. Terakhir menulis bulan Maret 2017 dan sekarang ketemu Maret 2018 lagi. 

Hanya saja, tiba-tiba saya sangat ingin membahas komik Princess. Komik Princess ini adalah sebuah manga dari negeri ginseng, Korea Selatan yang ditulis oleh Han Seung Won. Manga ini sudah sangat lama terbit, saya lupa kapan tepatnya terbit di Indonesia, tapi di negeri asalnya sendiri sudah sejak tahun 1996. Sayangnya kondisi kesehatan penulisnya membuat manhwa ini tidak selesai hingga sekarang dan alasan itu juga yang membuat saya memutuskan menjualnya di tokopedia, hingga saat benar-benar ada yang membeli saya malah merasa sedih melepasnya, karena 31 buku itu saya kumpulkan dalam rentan waktu yang cukup lama. Tentu ada perasaan terikat yang membuat saya merasa sedih saat melepasnya. Untung saja ada mangascannya, yang meski halamannya sangat berantakan, namun cukup bisa mengobati kerinduan saya seandainya saya kangen dengan tokoh-tokoh di dalamnya atau beberapa adegan di dalamnya. 




Sejak pertama kali melihat desain gambar manhwa Princess, saya sudah langsung jatuh hati dengan manga ini. Desainnya mengingatkan saya akan manga-manga klasik ala Candy-Candy / The Roses of Versailles / Pansy, dll. Manga / manhwa ini sendiri mengambil tema utama politik dan romance ala kerajaan jaman dulu di Eropa. Kisalnya sendiri mungkin ingetin sama Game of Throne, tentang perebutan kekuasaan dan tahta dengan banyak tokoh-tokoh kerajaan dan bangsawan. 

Princess ini juga punya banyak sekali tokoh, yang mungkin menjadi kelemahan dan sekaligus kelebihan buku ini. Karena beberapa tokoh tampak tidak efektif dan bikin cerita jadi tidak efisien. Princess berkisah mengenai 3 kerajaan Ramira-Anatoria-Skarde (sebenarnya ada lebih dari 3 kerajaan, tapi utamanya 3 kerajaan itu), karena itu banyak sekali karakternya. Bahkan hingga seri terakhir 32 (yang sepertinya tidak terbit di Indonesia), tokoh baru tetap bermunculan yang membuat saya bertanya-tanya, "Siapa lagi sih ini?"

Kembali mengenai kisah 3 kerajaan, yang membuat Princess mempunyai banyak layer atau sub-plot dalam bukunya. Nah masalahnya sebagai pembaca mungkin bakal ketemu beberapa sub-plot yang ngga disukai, entah karena tokoh-tokohnya kurang disuka atau plotnya sendiri bikin bingung. Seperti saya yang nggak suka sama sub plot tentang Skarde dan cerita cinta Pangeran Yapha dan Putri Theodora (mungkin karena saya nggak terlalu suka karakter keduanya juga, jadi bodo amat). 

Awalnya, Princess ini berfokus di kerajaan Ramira dengan kisah cinta utama Pangeran Biyon dengan putri dayang Biancast Rodith (Bii). Biyon dan Bii ini perlambang kisah cinta beda kasta. Yang satu calon raja dan yang satu cuma anak pembantu, jelas nggak bakal direstuilah. Saya sih so-so aja sama relationship Biyon dan Bii, karena relationship mereka cuma set-up untuk konflik politik di Ramira sekaligus kelahiran Freiya, yang sepertinya bakal menjadi tokoh penting untuk ke depannya, mungkin sebagai ratu pertama atau pemimpin wanita pertama di Ramira? Selain itu, saya memang kurang suka drama cinta beda kasta, apalagi kalau ceweknya yang miskin, karena jadinya ala-ala Cinderella. Selain itu interaksi Bii & Biyon menurut saya monoton. 

Selain itu dari segi karakter, saya nggak suka Biyon yang menurut saya terlalu gengges dan Bii yang terlalu menye-menye (cari sendiri di gugel kalau bingung arti kata itu). Walau terakhir-terakhirnya, saya lumayan suka sama karakter Bii yang jadi lebih kuat sebagai perempuan. 

Pasangan kedua dari Ramira adalah Eshilde - Leo. Nah ini pasangan favorit saya. Kisah romance Eshi - Leo ini mewakili kisah romance ala-ala Romeo and Juliet (2 pihak/keluarga yang saling bertikai tapi anak-anaknya malah jatuh cinta).  Antara Eshi atau Leo, saya lebih suka Eshi sebagai karakter dan kalau dibahas bakal panjang kali lebar. Jauh sebelum saya aktif di sosmed macam Twitter (yang mengenalkan saya akan arti feminist) saya sudah suka sama karakter Eshi yang menurut saya salah satu karakter paling kuat penokohannya di Princess. Dia digambarkan gadis bangsawan pemberontak dengan karakter berapi-api, angkuh, harga diri tinggi tipikal bangsawan dan dia nggak takut untuk menunjukkan perasaannya pada pria yang dia suka (Leo). meski Leo ini seperti batu karang yang tertutup banget kalau urusan perasaan.

Ryan (Leo) Vaida

Eshilde Barder
Meski bangsawan, tapi Eshilde nggak digambarkan tipikal gadis-gadis bangsawan kebanyakan yang sukanya hanya hura-hura dan pesta saja. Eshi ini pintar dan cerdik, suka membaca banyak buku, mengerti politik, ekonomi dan pemerintahan dan dia juga bisa bela diri (jago pedang dan berkuda), kurang feminist apalagi karakternya? Umumnya perempuan pada era itu ngga boleh belajar bela diri (perempuan masih dianggap sebagai obyek dan alat reproduksi), tapi Eshi diam-diam belajar pedang sama Leo, pengawal utama raja yang nanti juga jadi cinta sejatinya. Cuma sayangnya, ayahnya Eshi mengkhianati negara dan Raja Ramira dengan mengadakan pemberontakan dan kudeta, sementara keluarga Leo itu sangat setia sama Raja, jadinya yah susah buat mereka bisa menjalani hubungan mereka. Tapi meski begitu keduanya nggak bisa saling mengabaikan perasaan  di antara mereka yang malah makin kuat, akhirnya hubungan mereka dijalani secara backstreet dan nggak banyak orang lain yang tau mengenai hubungan mereka. BTW, meski ayahnya Eshilde mengkhianati negara, tapi Eshi ini justru cinta sama negaranya dan saat perang, dia tidak berdiam diri bersembunyi (meski amannya seperti itu, mengingat dia dicap sebagai putri pengkhianat negara), Eshilde membantu merawat orang-orang yang terluka akibat perang.

Eshilde / Eshi
Satu lagi, yang saya suka adalah sosok Eshilde ini digambarkan sebagai perempuan yang maskulin (ingetin saya sama Lady Oscar) dan tak mau dikontrol oleh siapa pun. Bahkan Leo pun ngga bisa mengatur Eshilde. Misalnya diminta jangan kemana-mana karena bahaya, tapi Eshi tetap pergi.

Kisah cinta Eshi - Leo ini sangat cocok dengan lirik lagi "How Can I Not Love You" by Joy Enriquez. Tentang falling in love with people they cannot have, dan benarnya semua kisah cinta di komik Princess ini seperti itu sih. Ada yang perasaannya saling berbalas macam Biyon - Bii dan Leo - Eshilde, Olivia - Ren tapi situasi dan kondisinya malah nggak memungkinkan buat para pasangan itu bersatu dengan damai. Sedangkan beberapa tokoh banyaknya unrequited love atau cinta bertepuk sebelah tangan.

Untuk Anatoria, ada 1 pasangan yang disorot, yaitu Raja Anatoria, Scotty Tore - Rara (selir raja). Saya pribadi ngga suka sama pasangan ini, tapi pasangan ini termasuk yang punya banyak penggemar, terutama kalau suka kisah romance slap and kiss atau ala ala BDSM. Rara ini menurut saya rada drama, karena dia sebenarnya suka sama Scotty tapi karena keras kepala, Rara merasa menderita karena suka sama Scotty, karena Rara menganggap dia merebut cinta kakaknya yang sudah meninggal (padahal kalau orangnya sudah tiada, dijalanin aja yah). Beberapa orang akan menyukai hubungan "love-hate" di antara mereka. Hanya saja saya pribadi nggak suka sama karakter Scotty yang seorang player dan suka memukul perempuan kalau keinginannya nggak dituruti. Jujur, saya nggak pernah suka bentuk kekerasan apa pun terhadap perempuan. Untuk karakter Rara sendiri, nggak jauh berbeda dengan kebanyakan karakter perempuan dalam Princess, yaitu lemah lembut, tidak berdaya, cenderung pasif dan pasrah menerima nasib. Satu lagi yang saya tidak sukai dari pasangan ini, yaitu gaya percintaan yang tidak consensual.

Terakhir, ada negara Skarde, agak rumit menggambarkan negara Skarde, karena tidak seperti 2 negara tetangganya, yang hanya punya 1 pewaris tahta, Skarde ini punya beberapa tokoh pangeran. Romansa yang diceritakan di buku juga mulai belakangan dan pacenya berjalan lambat. Saya tidak terlalu ingat detilnya, tapi kisah Pangeran Yapha dan Putri Theodora berjalan lamban dan kurang chemistry atau bisa juga saya sudah lelah dengan banyaknya romansa yang belum selesai terus sudah ditambah romansa baru. Saya paling kasihan sama Pangeran Shilla di sini yang sepertinya paling sial dalam urusan asmara, karena selalu naksir sama putri-putri yang dijodohkan untuk kakaknya. Karakter Theodora juga sama seperti karakter perempuan kebanyakan dalam Princess, lemah lembut, pasif, tidak berdaya. Eniwei, saya lebih suka pasangan Yapha dan Theodora daripada Scotty - Lala. Sekiranya pangeran Yapha itu termasuk gentleman dan tidak brengsek seperti Scotty Tore. Dia tidak memaksa wanita untuk melayaninya, meskipun wanita tersebut berkewajiban untuk itu, malah dia memberi kebebasan untuk pergi kalau wanitanya merasa tidak bahagia dengan pernikahan mereka.

Dari sini, kisah bergulir hingga ke anak Biyon dan Bii, yaitu Putri Freiya (Fri) yang sepertinya disetting oleh pengarang untuk menjadi tokoh utama selanjutnya, karena itu orang tuanya perlu dieliminasi (baca: dimatikan) supaya ada regenerasi. Kalau melihat dari ilustrasi-ilustrasinya, Pri ini akan punya kisah cinta dengan Hiro Vaida dan Sibel. Saya pribadi berharap jangan ada kisah cinta segitiga ala novel YA. Saya belum bisa berbicara banyak mengenai karakter Freiya dan Hiro, secara kemunculan mereka baru sebentar. Namun dari kemunculan yang sebentar itu, interaksi Sibel dan Freiya justru lebih menarik menurut saya daripada Freiya dan Hiro. Mungkin ini karena Hiro seperti tipikal laki-laki Vaida, yaitu kalem, serius dan agak kaku kalau urusan ekspresi. satu hal yang saya tidak suka adalah chemistry yang maksa antara Freiya dan Hiro, seperti waktu Freiya terluka, tiba-tiba Hiro ikut merasa sakit. Apakah mereka mau dibuat menjadi "imprint" ala Twilight? Saya harap tidak. Secara pribadi, saya malah lebih menjodohkan Hiro dengan Putri Anatoria seperti Beatrice Haiga atau Alea.

Beatrice Haiga

Alea Tore

Kalau untuk karakter cowok, saya paling suka sama karakter Sei Ren yang punya kemampuan ala Assassin. Sekali lagi Sei mewakili karakter yang cintanya bertepuk sebelah tangan di Princess. Dia sangat mencintai Bii dan berusaha yang terbaik untuk melindungi dan membuatnya bahagia meski Bii tidak tahu perasaan Sei.

Sebenarnya kisah Princess ini bisa saja dipersingkat, kalau hanya berfokus pada romansa. Karena pada awalnya komik Princess ini lebih banyak berkisah soal romansa keluarga kerajaan dan bangsawan dengan bumbu politik. Namun memasuki buku ke-11, ceritanya seolah berubah menjadi epik dengan tema peperangan dan saling perebutan kekuasaan. Seharusnya, waktu Biyon dan Bii bertemu kembali, itu tidak perlu ada adegan berpisah sementara yang berakhir tragis dan banyak hal-hal lain yang menurut saya terlalu didramatisir dan tidak perlu. Termasuk menceritakan kisah cinta hingga 3 generasi. Di antara generasi muda, tokoh cowok favorit saya justru yang minor, yaitu Pangeran dari Karta (bukan Sibel yang tampaknya ambisius atau Hiro yang membosankan).

Terakhir, meski panjang dan ceritanya jadi melebar, saya menikmati membaca manhwa bergenre historical fiction ini. Meski pesimis, berharap suatu saat nanti manga ini bisa dilanjutkan, keinginan saya cuma satu melihat OTP saya di Princess (Leo dan Eshilde) bisa bersatu. Walau bisa juga manhwa ini akan bernasib seperti topeng kaca dan melihat OTP bersatu hanya menjadi imajinasi semata (kalau ini, saya lagi bahas Masumi dan Maya). Yang kedua, saya penasaran, siapa wanita yang akan menjadi pasangan Pangeran Shilla mengingat, dia salah satu tokoh yang masih single dan pangeran favorit saya di Skarde. Heheheh.

Kalau dipikir-pikir, cerita ini cocok juga dibuat ala drakor, mengingat banyak kesedihan dan romansa tak sampai. Komiknya juga dari Korsel.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...