Tampilkan postingan dengan label Classic Lit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Classic Lit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 November 2014

POLLYANNA GROWS UP: SIMPLE AND WARMHEARTED (POLLYANNA #2)

Judul: Pollyanna Grows Up (Pollyanna #2)
Pengarang: Eleanor H. Porter
Penerbit: Orange Books (Lingkar Pena)
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Editor: Azzura Dayana & Dee
Jumlah halaman: 374 halaman
Cetakan 1, 2010
Segmen: Anak-anak, remaja, semua umur
Genre: Klasik, drama
Rate: ★★★½

Setahun berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Pollyanna terjadi. Kini  pihak rumah sakit menyatakan Pollyanna  telah sembuh dan ia bisa berjalan kembali.  Tidak ada yang berubah dalam diri Pollyanna. Ia tetap seorang gadis kecil yang ceria dan selalu ramah terhadap setiap orang. Sehingga mulai dari teman-temannya yang sesama pasien rumah sakit hingga para perawat dan dokter menyukai Pollyanna.  

Tak terkecuali salah satu dari perawat  rumah sakit yang bernama Ruth yang ingin agar Pollyanna tinggal sementara di rumah kakaknya yang pemurung dan kesepian di Boston. 

Ruth berharap kehadiran Pollyanna dapat menghibur sang kakak dan membuatnya bersemangat lagi menjalani kehidupan. Maka dimulailah hari-hari Pollyanna di kota Boston. Berbeda dengan pedesaan tempat Pollyanna dan bibinya tinggal, Boston sangat ramai dan penuh banyak orang, tapi Pollyana merasa sedih karena orang-orang di kota besar tersebut bersikap saling tak peduli. 

Namun berkat keramahan dan keberaniannya, Pollyana perlahan-lahan berhasil mendapatkan beberapa teman baru di Boston dan Pollyanna tidak hanya membantu mereka tapi juga mengubah hidup mereka. 

Kisah pun berlanjut hingga Pollyana tumbuh dewasa dan menjadi seorang wanita muda, namun lagi-lagi masalah dan kesedihan mengujinya saat suami Bibi Polly meninggal dunia dan membuat Bibi Polly kembali menjadi seperti Bibi Polly yang dulu, yang pemurung  dan memandang hidup dengan pahit.

Tapi Pollyanna tidak sendirian kali ini, ada teman-teman yang siap membantu termasuk menemukan pemuda yang membuat hatinya berdebar-debar. 

Sabtu, 27 September 2014

THE COUNT OF MONTE CRISTO: EPIC STORY ABOUT MONEY, REVENGE AND KARMA

Judul: The Count of Monte Cristo
Pengarang: Alexandre Dumas
Penerbit: Bentang Pustaka (Mizan Grup)
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Editor: Dhewiberta
Desainer Sampul: Edi Jatmiko
Proofreader: Nunung Wiyati, Intan Ren
Penata aksara: Supardi
Jumlah halaman: 568 halaman
Cetakan kedua, Juli 2011
Segmen: Universal
Genre: Historical fiction, classic lit
Harga: RP 20.000, beli di obralan Mizan.
Rate: ★★★★½


Edmon Dantes seharusnya mempunyai kehidupan dan karir yang cemerlang. Pertama, dia akan dipromosikan menjadi seorang kapten kapal. Kedua, dia akan menikahi gadis cantik dan berhati emas yang telah menjadi pujaan hatinya. Ketiga, ia akhirnya akan berkumpul kembali dengan ayahnya setelah lama berpisah karena Edmon adalah seorang pelaut. Nyaris semua orang juga suka pada Edmon, karena Edmon adalah seorang pemuda yang baik hati, ramah dan menyenangkan. Namun semua harapan indah itu hilang darinya saat beberapa orang yang iri pada masa depan dan kesuksesan Edmon telah merebut paksa semua itu.

Edmon mendapati dirinya terkurung dalam sebuah penjara yang sepi dan gelap. Kekasihnya direbut dan ayahnya meninggal dalam kemiskinan, kesepian dan kelaparan. Putus asa, nyaris membuat Edmon menjadi gila dan mati. Di tengah semua duka dan kemalangan bertubi-tubi datanglah sebuah harapan saat dia menemukan seorang teman di penjara. Seorang teman yang yang memberitahu mengenai suatu rahasia untuk dapat menikmati kembali kehidupannya yang telah hilang. 

Dengan rahasia itu Edmon bersumpah untuk membalas dendam pada mereka yang telah mengambil semua kehidupan Edmon Dantes yang penuh masa depan dan mengubahnya menjadi seorang Count of Monte Cristo yang penuh kepahitan. 

Kamis, 10 Juli 2014

THE YEARLING: EMOTIONAL, INTERESTING & BORING IN THE SAME TIME

Judul: The Yearling (Jody & Anak Rusa)
Pengarang: Marjorie Kinnan Rawlings
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Desain dan ilustrasi cover: Ratu Lakhsmita Indira
Jumlah halaman: 504 Halaman
Cetakan 1, Maret 2011
Segmen: Anak-anak, semua umur
Genre: Classic-lit, historical fiction, children book
Harga: Rp 38.500 (40% off at Gramedia)
Rate: ★★★★


"Hutan, berburu, beruang, rusa, makanan, daging, semak jagung, pelaut dari Boston,  lelaki-lelaki tinggi besar yang seperti beruang dan bertahan hidup."

Nun jauh di sana, di sebuah hutan rimba, hiduplah satu keluarga kecil yang dikenal sebagai keluarga Baxter. Keluarga Baxter terdiri dari Pa dan Ma Baxter, serta putra tunggal mereka Jody. Keluarga Baxter tidaklah kaya, mereka bahkan bisa dikatakan miskin. Meski miskin, keluarga Baxter selalu dapat menjaga diri mereka agar tidak sampai kelaparan. Untuk dapat bertahan hidup keluarga Baxter harus bekerja keras setiap harinya. Mulai dari bertani dan menanam biji-bijian hingga berburu hewan liar di sekitar hutan. 

Hidup jauh di dalam hutan, membuat keluarga Baxter tidak memiliki tetangga di sekitar mereka. Satu-satunya tetangga terdekat mereka adalah keluarga Forrester yang pria-prianya bertubuh besar dan juga beringas. Tapi keluarga Baxter menjalin hubungan baik dengan keluarga Forrester hingga suatu peristiwa membuat hubungan mereka renggang. Peristiwa apakah itu?

Sebagai satu-satunya anak tunggal dalam keluarga Baxter, Jody kerap kali dihinggapi kesepian. Meski mendapat kasih sayang berlimpah dari sang ayah, Jody menginginkan seorang teman yang bisa diajak berbagi dan menemaninya bermain. Hingga suatu hal membuat Jody menemukan seekor anak rusa di hutan. 

Sabtu, 28 September 2013

BOOK REVIEW : PIPPI SI KAUS PANJANG

✭✭✭
Judul : Pippi si Kaus Panjang
Pengarang : Astrid Lindgren
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Agus Setiadi
Jumlah Halaman : 168 Halaman
Segmen : Anak-anak
Genre : Fantasi, Humor
Harga : Rp 10.000 (obralan Gramedia)

Malam itu hujan turun dengan deras, angin bertiup kencang dan udara terasa dingin. Namun suasana di ruang santai sebuah rumah tetap hangat karena api di pendiangan tampak berkibar-kibar terang. Di ruangan itu juga banyak terdapat kursi malas dan sofa dengan bantal-batal empuk. Lantainya dilapisi oleh karpet yang empuk. Dinding ruangan terbuat dari panel-panel kayu yang memberikan kesan cozy menyenangkan. 

Seorang wanita sedang duduk di salah satu kursi malas, satu tangannya memegang sebuah buku dan satu tangannya lagi tampak memegangi bingkai kacamata merahnya yang suka merosot dari hidungnya. Sesekali terukir sebuah senyuman di wajahnya yang bulat telur tapi sesekali tampak keningnya berkerut. Tidak jauh dari kursi malas tersebut, seekor kucing kecil tampak asyik bermain-main dengan sebuah bola, si kucing memantul-mantulkan bola tersebut di lantai.
"Ini absurd," sebuah suara terdengar dari wanita berkacamata tersebut. Sebuah buku bersampul biru dengan gambar seorang anak perempuan berambut semerah wortel sekarang menggeletak di lantai dekat kursi malasnya. 

Ia melanjutkan gumamannya, "Bagaimana mungkin ada anak berumur 9 tahun bisa tinggal sendirian tanpa ada pengawasan. Dan yang paling membingungkan anak sekecil itu bisa kuat mengangkat kuda dan sapi dengan kedua tangannya. Dan juga ia bukan anak yang sopan dan suka membual."

Si kucing masih tetap tak acuh dan asyik memantul-mantulkan bolanya ke lantai. Merasa diabaikan, akhirnya wanita berkacamata tersebut memanggil si kucing kecil, "Puss, Kitten, kemarilah, ayo bahas buku ini, kita kan baca bareng."

Si anak kucing segera menghampiri perempuan berkacamata tersebut.
"Meooongggg, Kitten melayani milady."

Kitten mengendus-ngendus buku bersampul biru tersebut, lalu dia kembali mengeong, "Meonggg, Kitten sudah membuat reviewnya, milady, waktu itu Kitten ketik di laptop."
"Aku tahu, Kitten," jawab Lady Storytelling. "Tapi bagaimana bisa, kau memberi buku ini 5 bintang? ceritanya saja absurd. Pippi itu nakal dan tidak mau mendengar perkataan orang dewasa. Dan aku tidak tau pesan moral buku ini apa?"

"Meooongg, Pippi bukan anak nakal. Pippi hanya melakukan hal-hal yang ia suka. Selain itu Pippi selalu memberi hadiah kepada teman-temannya. Kitten suka dengan Pippi karena Pippi itu sangat bebas."

"Tetap saja Kitten, tidak sepantasnya anak-anak tinggal sendiri tanpa orang tua dan juga tidak bersekolah. Lihat akibatnya Pippi jadi tidak bisa berhitung dan menulis," jawab sang Lady, kacamatanya tampak melorot lagi. 

"Meonggg, Kitten suka karena tidak ada orang tua, jadi tidak ada yang memerintah makan, tidak ada yang menyuruh tidur dan Kitten bisa melakukan hal apa saja yang Kitten suka. Kitten punya banyak hal yang Kitten sukai dan pengin Kitten lakukan tanpa ada larangan," ujar Kitten, kali ini mulai melakukan kebiasaannya yaitu berbicara sambil berguling-guling di lantai yang berkarpet. 

Ladi Storytelling tampak tertarik, kedua alisnya terangkat, "Memang, Kitten mau melakukan apa saja kalau tidak ada orang dewasa?"

"Meoong, banyak yang akan Kitten lakukan, pertama Kitten akan mencoba minum teh Starbucks,
Terus Kitten akan bermain di celah-celah gorden kantor,
Terus Kitten akan mencuci muka di mangkok penuh popcorn,

Lalu Kitten akan pergi ke Jepang dan minum sake hingga mabuk."
"Kitten, kau kucing kecil nakal," Lady Storytelling mengeleng-gelengkan kepalanya. "Sedih hatiku karena ternyata kau lebih suka bila aku tak ada di sisimu."

"Meonggg, Kitten suka dengan milady kok. Karena milady suka mengelus-elus Kitten. Selain itu Kitten juga suka menjilati jari-jari tangan milady. 

Lady Storytelling hanya mendesah, akhirnya ia membuka laptopnya dan merevisi hasil review Kitten menjadi 3 bintang. Mungkin benar kata Kitten, logika orang dewasa berbeda dengan logika anak-anak. Pasti bagi anak-anak sangat menyenangkan bisa bebas bermain apa pun yang disuka setiap hari, tidak perlu bersekolah dan mengerjakan PR, tidak ada orang dewasa menyebalkan yang membatasi, tidak ada tanggung jawab dan kewajiban. Tapi Lady Storytelling tetap berpikir, Pippi Si Kaus Panjang adalah buku yang aneh dan tidak serius dan jadilah ia memberi 3 bintang. 

Senin, 16 September 2013

BOOK REVIEW: THE HOBBIT

✭✭✭✭✭
Judul Buku : The Hobbit
Pengarang : J.R.R. Tolkien
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : A.Adiwiyoto
Jumlah Halaman : 352 Halaman
Segmen : Semua Umur dan semua yang menyukai fantasi
Genre : Fantasi, Buku Anak
Harga : Rp 42.000

Alkisah ada 2 orang sahabat, yaitu :
Monky dan Oniyon
Kedua sahabat ini bekerja pada suatu perusahaan yang ajaib (sebenarnya lebih tepat dibilang aneh daripada ajaib, tapi ajaib lebih halus dan enak didengar daripada aneh) yang bernama Story-Telling. Boss mereka, seorang perempuan muda yang aneh dan nyentrik. Mengapa disebut begitu? Karena kegemarannya akan petualangan. Lebih tepatnya petualangan dalam buku-buku yang gemar dibacanya. 

Lady Storytelling, begitulah ia dikenal. Sehabis berpetualang, sang lady pasti akan menceritakan kisah-kisahnya kepada anak buahnya untuk dicatat dalam jurnal mereka. Namun tidak seperti boss mereka yang suka berpetualang, Monky dan Oniyon lebih suka hidup damai, tentram dan teratur di ruang kerja mereka yang nyaman dan sejuk. Lihat saja perut Monky yang gembul karena hobby makannya. Sedangkan Oniyon tidak pernah melewatkan rutinitas minum teh di sore hari. 

Tapi, di sore itu, ketenangan mereka berdua terusik, karena Lady Storytelling ternyata pulang lebih cepat dari rencana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kepulangan lady Storytelling, mengingat ini memang rumah sang lady dan sudah sewajarnya seorang pemilik rumah pasti pulang ke rumahnya. Namun biasanya sang lady pergi cukup lama, kurang lebih sebulan. Sedangkan ini baru 1 minggu dari kepergian sang lady, mengapa ia cepat kembali?

"Monky, Oniyon," dari jauh suara sang lady terdengar mengalun bagaikan nyanyian putri duyung yang ingin menenggelamkan kapal para pelaut.

Monky dan Oniyon saling pandang, firasat mereka berdua langsung tidak enak, rasanya seperti mendengar pengumuman siapa saja yang naik dan tinggal kelas. Dalam sekejap, sang lady sudah masuk ke dalam ruangan mereka, bingkai kacamatanya yang merah menyala tampak mengilat terkena cahaya matahari sore, tapi bagi Monky dan Oniyon rasanya seperti sambaran petir di siang bolong. 

"Kami siap melayani anda, Milady," ucap Monky dan Oniyon bersamaan walaupun dalam hati mereka berkata sebaliknya.

Sang lady mengambil sebuah kursi dan duduk, "Monky, Oniyon, coba tebak, kali ini kemana aku pergi?"

"Hamba, hanya bawang putih. Hamba tidak tahu, milady," jawab Oniyon.

"Dan hamba hanyalah seekor monyet kecil milady, bagaimana hamba bisa tahu," timpal Monky.

Lady Storytelling mengeluarkan sebuah peta, "Coba lihat dan bacalah," ia menyodorkan sebuah kertas yang tampak seperti peta pada Monky dan Oniyon. 

"Middle-earth," ujar Monky. 
"Liang hobbit," sambung Oniyon.
"Kerajaan Peri," timpal Monky lagi.
"Naga?" tanya Oniyon serak. 

"Benar," jawab sang lady terkekeh. "Aku baru saja kembali dari Middle-earth. Menemani pertualangan seorang hobbit dan 13 kurcaci serta seorang penyihir untuk membasmi seekor naga ganas bernama Smaug. Kalian tidak tahu kesulitan apa saja yang kami alami hanya untuk menuju ke tempat di mana Smaug berada."

"Mengapa sampai anda, maksud saya para kurcaci dan hobbit sampai ingin bersusah payah membasmi naga?" tanya Monky

"Quest for glory," pekik sang Lady. "Dan juga untuk emas dan harta benda lainnya, sebab Naga itu mencuri emas milik para kurcaci."

Sembari sang lady bercerita,  Monky dan Oniyon hanya mengangguk-angguk dan tentu saja mencatat kisah petualangan yang baru saja dilalui oleh sang lady, tapi mereka masih bingung dan cemas mengapa sang lady kembali lebih cepat. 

"Ah ya, aku tahu, kalian pasti bingung mengapa aku kembali lebih cepat dari biasanya?" potong sang lady tiba-tiba, seolah ia bisa membaca isi kepala Monky dan Oniyon. 

"Begini," sambung sang lady. "Aku bermaksud untuk mengunjungi sebuah kastil tua di Transylvania dan sesudah itu dilanjutkan pergi ke hutan rimba di belantara Amazon. Tapi aku tersadar, sebaiknya untuk kali ini aku tidak sendirian pergi kesana."

Inilah firasat buruk Monky dan Oniyon, bahkan sebelum sang lady meneruskan ucapannya, kedua mahluk tersebut sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh Lady Storytelling selanjutnya. 

"Aku ingin kalian berdua ikut denganku kali ini," sang lady berkata mantap.

"Maaf milady, tapi kalau kami ikut, siapa yang akan menjaga tempat ini dan juga menulis jurnal-jurnal untuk blog anda?" tanya Oniyon.

"Dan juga memposting meme yang anda ikuti?" tambah Monky

"Ah, mengapa kalian mengkhawatirkan masalah sepele macam itu. Bukankah masih ada Momon, Chiky dan Kitten?" jawab Lady Storytelling enteng. 

"Ta-tapi milady," suara Oniyon agak terbata-bata, "mengapa harus saya? saya hanyalah bawang putih, apa guna saya dalam petualangan anda? Saya jelas tidak bisa mencuri seperti BilBo Baggins karena langkah saya terlalu berisik untuk menjadi pencuri."

"Dan saya hanya seekor moyet kecil. Saya bahkan tidak bisa bertarung, mengapa saya diikut-sertakan?" Monky tak mau kalah dalam usahanya untuk mengubah pendirian sang lady. 

"Astaga Oniyon, kau sendiri yang bertanya, kau sendiri yang menjawab. Bukankan tadi sudah kukatakan, kalau aku akan pergi ke sebuah kastil tua di Transylvania. Kau tau kan tempat itu dipenuhi apa. Dan kau ini sesiung bawang putih, nah coba pikirkan kembali, apa kelemahan nosferatu?" dengus sang lady tak sabar.


"Apakah maksud anda ingin menggunakan saya sebagai senjata untuk melawan vampir? Oniyon langsung pucat seketika, walaupun tidak terlalu kentara perbedaannya, mengingat dia sendiri sudah putih. 

"Benar," jawab sang lady ceria, lalu tanpa memberi Oniyon kesempatan untuk menyela, sang lady langsung mengalihkan pandangannya pada Monky. "Dan Monky, tugasmu nanti adalah menjadi pemandu di belantara Amazon, kau kan monyet, pasti mudah bagimu untuk naik ke pohon dan mengawasi keadaan untukku. Dan aku tak ingin ada bantahan lagi"
Melihat kedua anak buahnya merengut, Lady Storytelling mencoba untuk membesarkan hati mereka.

"Kalian tau, alasan utama aku mengajak kalian dan bukannya Chiky, Momon dan Kitten, karena aku melihat potensi pada diri kalian. Kalian takkan pernah tau sampai kalian mencoba. Mungkin kalian terbiasa dalam zona nyaman kalian, tapi tidakkah kalian ingin naik ke tingkatan yang lebih tinggi?" 

"Apakah petualangan ini aman?" tanya Monky, yang sebenarnya sudah tau jawabannya. 

"Aman atau tidak, tergantung pada dirimu," jawab sang lady datar, seolah itu hal yang tidak penting. "Dan apakah kalian sudah selesai mencatat ceritaku dalam The Hobbit?"

Oniyon yang menjawab, "Sudah, milady. tapi berapa rating yang akan anda berikan?"

"Kasih 5 bintang," tegas sang lady. 

"Setinggi itu milady?" Oniyon tampak tak rela, karena buku tersebut membuat sang lady memaksa dirinya ikut berpetualang. 

"Ya, karena buku itu menginspirasi, dan sudah ada dalam klausa, bahwa setiap buku yang menginspirasi, ratingnya adalah 5 bintang."

"Saya tak mengerti milady, bagaimana bisa menginspirasi? dan saya belum memeriksa, tapi mungkin saja ada hal-hal teknis yang kurang dari buku," tambah Monky yang juga tak rela diajak ikut berpetualang karena sebuah buku. 

"Kalau yang kaumaksud terjemahan, hal itu sangat baik, bahkan terjemahan puisi dan nyanyian pun punya lirik yang ritmenya terdengar senada," jawab sang lady cepat. "Soal inspirasi, lihat saja game-game yang sering dimainkan oleh Chiky, bukankah banyak yang mirip dengan The Hobbit, lalu cerita-cerita fantasi kontemporer yang sering kalian baca pun banyak yang mengambil inspirasi dari The Hobbit."

"Dan juga, menurutku buku ini adalah kitab wajib bagi siapa pun yang ingin menulis fantasi," sambung Lady Storytelling. "Pesan moral ada, penuturan enak diikuti, cerita petualangannya asyik, humornya tidak garing, dan yang terutama, karakternya tidak keren sama seperti kita semua. It's a complete zero from hero journey with favorable ending."

Sesudah itu, Lady Storytelling segera memerintah Monky dan Oniyon untuk segera berkemas. 

Rabu, 24 Juli 2013

NOBODY'S BOY

✮✮✮✮✮
Judul Buku : Nobody's Boy (Sebatang Kara)
Pengarang : Hector Malot
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Tantri Lesmana
Jumlah Halaman : 378 Halaman
Segmen : Anak-anak, Remaja dan Semua Umur


Teman-teman, ijinkan saya untuk bernyanyi sebentar :

♪Selamat pagi gunungku, selamat pagi pohonku, selamat pagi teman-teman semua. Aku kan pergi jauh demi cita-citaku. Remy mohon doa restu darimu. Jangan bersedih teman-temanku. Hidup ini adalah perjuangan. Marilah kita mulai melangkah menuju cita-cita bahagia. Selamat berpisah semuanya. Aku kan pergi untuk mengembara. Jangan sedih karena kepergianku. Kelak pasti kita akan bertemu. ♫

Jauh sebelum 3D populer di bioskop, saya sudah menonton satu anime 3D setiap minggu pagi di RCTI dengan kacamata kertas 3D (yah, ketahuan deh kalau saya udah abege tua). Kebetulan bulan Juli ini, BBI ada acara baca bareng buku anak atau buku yang bertema anak-anak. Kali ini saya pilih buku yang sudah lama bertengger di list timbunan saya, yaitu buku klasik, yang karena klasik sering saya tunda bacanya, karena kadang kalimat dalam buku klasik suka berpanjang ria dan berbau puitis (Dracula, Frankenstein) yang kadang bikin memengaruhi mood membaca saya. 

Kalian yang abege tua  pernah menonton serial Petualangan Remi, pasti mengenal lagu yang saya yang saya tulis di paragraf atas.  Lirik lagu tersebut cukup mewakili isi buku ini terutama di kalimat hidup adalah perjuangan. 

Karena Nobody's Boy menceritakan mengenai perjuangan seorang bocah kecil bernama Remi. Sejak umur 8 tahun, Remi sudah dipisahkan dari ibu angkat yang sangat disayanginya dan menyayanginya untuk dijual kepada seorang seniman jalanan. Selama bersama  sang seniman jalanan itulah Remi memelajari berbagai macam hal yang membuat karakternya ditempa dalam menghadapi kerasnya perjuangan untuk bertahan hidup, seperti penolakan, kelaparan, kedinginan dan kehilangan. Namun sepanjang perjalanannya Remi tidak melulu merasa sendirian. Selain sang seniman jalanan, Remi juga bertemu banyak orang-orang baru yang menolongnya dan menjadi teman-teman yang akan selalu menerima kehadiran dirinya, termasuk berbagai macam peristiwa yang membimbingnya untuk bertemu dengan orang tua kandungnya. 

Kesan saya :

Dari segi judul, Nobody's Boy alias sebatang kara, sempat membuat saya mengira buku ini bakal sedih, mengingat dulu versi animenya juga banyak adegan sedihnya (saya tidak menonton full setiap episodenya). Tapi walaupun Remi banyak mengalami hal pahit, banyak juga hal-hal manis yang terjadi padanya, dan beruntungnya Remi walaupun orang-orang tersebut secara garis darah bukan keluarga namun mereka sangat setia dan tulus. Jadi berimbanglah kisah Remi, di mana habis gelap terbitlah terang. Walaupun Remi berpisah dengan banyak orang yang disayanginya namun Remi juga bertemu dengan banyak orang yang akan menyayanginya. So it's not sad at all. 

Terus ini kan klasik, bakal ngebosenin gak sih karena bakal banyak dialog super panjang? Jawabnya tidak.  Tidak ada dialog panjang, kalau pun ada, isi dialognya sangat padat dan menjelaskan banyak hal, bukan sekedar dialog yang dipanjang-panjangkan dengan kalimat penuh ornamen. Malah menurut saya plot Nobody's Boy ini termasuk cepat, dari satu adegan langsung melompat ke adegan lain. Selain itu Remi kan seorang pengembara jadi settingnya juga berubah-ubah sesuai kota di mana Remi berada, ngga melulu di satu tempat, pokoknya petualangan banget deh, karena tiap kota pasti beda. 


Negara Jepang sangat suka mengangkat kisah-kisah dari novel klasik dan mengadaptasinya ke anime. Terutama kalau tokohnya anak-anak, yatim piatu dan miskin. Sebut saja A Little Princess, Anne of Green Gables, Little Women (bukan yatim-piatu tapi miskin), Secret Garden, Pollyanna, Daddy Long-Legs dan tentu saja Nobody's Boy ini. Karena semua kisah anak-anak tersebut mengajarkan tentang perjuangan hidup, kerja keras, ketekunan, harapan, persahabatan, kebaikan, pantang menyerah dan keyakinan. Semua kata-kata moral yang penting sekali untuk diajarkan dan diingatkan terus kepada anak-anak. 

Sejujurnya saya selalu merasa kesulitan mereview suatu cerita yang saya kasih 5 bintang. Why? Karena sepanjang membacanya saya begitu menikmatinya sehingga tidak merasakan ada celah untuk mengkritik. Saya begitu menikmati bukunya dan masuk ke dalam ceritanya, bagian ending pun cukup memuaskan saya sehingga saat saya menutup buku tersebut, saya merasakan perasaan hangat dan banyak pesan moral dari buku yang saya serap. Definitely the book that I will give to my future children someday.

Notable quote :

"Sikap kejam tidak akan membawa banyak hasil tapi kau bisa mendapatkan banyak hasil, meski tidak sempurna, dengan menunjukkan kelembutan. Karena aku tidak pernah kejam pada binatang-binatangku, mereka bisa menjadi seperti ini. Kalau aku memukuli mereka, mereka akan menjadi mahluk-mahluk yang ketakutan. Rasa takut membuat kecerdasan jadi lumpuh."  ~Signor Vitalis hal. 62

"Hanya dengan belajar menghadapi kesulitan-kesulitan hidup karakter orang akan terbentuk." ~Signor Vitalis hal. 134. 

Eniwei busway, buat para abege tua yang kangen dengerin lagunya, ada di youtube kok (saya berterimakasih pada siapapun orang yang menguploadnya)




POLLYANNA (POLLYANNA #1)

✭✭✭✭
Judul Buku : Pollyanna
Pengarang : Eleanor H. Porter
Penerbit : Orange Books
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Jumlah Halaman : 300 Halaman
Segmen : Anak-anak, Semua Umur

Kehidupan Miss Polly Harrington yang teratur dan tenang seketika berubah saat ia menerima surat yang menyatakan bahwa keponakannya yaitu Pollyanna yang baru berumur 11 tahun akan tinggal bersamanya karena sang ayah baru saja wafat dan Miss Polly Harrington adalah satu-satunya kerabat yang dimiliki oleh gadis kecil tersebut. 

Suka atau tidak, Miss Polly tidak punya pilihan selain menerima dan merawat keponakannya tersebut. Pada awalnya, Miss Polly tidak terlalu suka pada keponakannya karena menganggap Pollyanna tidak memiliki etika dan tanggung jawab seperti yang ia harapkan, namun lambat laun kebaikan hati dan sikap ceria Pollyanna dapat melumerkan sikap kaku dan judes Miss Polly. 

Sikap ceria, baik hati dan suka menolong membuat Pollyanna juga disukai oleh setiap orang yang pernah mengenalnya. Selain itu Pollyanna juga mengajarkan mereka suatu permainan yang disebut permainan sukacita. Apa itu permainan sukacita 

"Memainkannya cukup dengan menemukan sesuatu yang bisa membuat kita senang dalam segala hal, tak peduli apa pun itu" ~hal 44 

"Tentang bersukacita dalam segala kondisi yang bisa membuat kita senang."

My Thought :

  1. Menginspirasi, cerita yang menyangkut tema positif thinking selalu memberi rasa hangat dan harapan saat membacanya, positif thinking disini adalah mengenai "permainan sukacita" yang selalu dimainkan Pollyanna saat keadaan sedang susah. Jujur saat baca ini, AC di kamar tiba2 bocor dan airnya mengenai salah satu buku novel saya yang masih baru, hampir seluruh kertas bagian bawah buku jadi lecek dan bikin buku bergelombang, mau beli lagi tapi sayang boros karena buku itu tidak rusak parah dan masih bisa dibaca cuma sebal rasanya lihat bagian bawah buku keriting akibat terendam air tapi karena baca buku ini, saya jadi berlapang dada dan menganggap buku yang terkena air tersebut istimewa dan lain sendiri daripada yang lain (yang bukunya bagus dan rapih) karena bagian bawahnya keriting
  2. Mengharukan, oke saya akui ini memang masalah selera, tapi dari dulu saya selalu merasa sedih dan bisa menangis sendiri apabila ada cerita yang menyangkut tema keluarga, kemiskinan, persahabatan dan ketabahan dalam menghadapi kesusahaan. Cerita asal mula kenapa bisa sampai ada "permainan sukacita" bikin saya terenyuh. 
  3. Selalu nikmati hidup, Pollyanna yang polos ingin hidup, maksud hidup di sini adalah melakukan hal-hal yang kita sukai. Dan ini mengingatkan saya sendiri, betapa hidup kadang seperti rutinitas belaka dimana kegiatan sehari-hari kita sudah dijadwalkan, bangun-bekerja-tidur dan tidak semua orang bahkan menyukai rutinitas mereka karena sebagian rutinitas itu dijalankan karena tidak ada pilihan lain tapi keterbatasan seharusnya tidak menghalangi kita untuk hidup (baca : melakukan hal yang kita sukai).
Akhir kata, seperti review Mia Queen,  cerita ini memang mengingatkan pada Anne of Green Gables & A Little Princess, yaitu tentang anak perempuan yatim piatu berusia 11 tahun yang ceria dan suka berimajinasi dan hal itu membantu mereka melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Mungkin karena inilah, cerita klasik anak tak pernah lekang dimakan zaman.  

Selasa, 23 Juli 2013

THE SECRET GARDEN

✭✭✭½
Judul Buku : The Secret Garden
Penulis : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Qanita
Penerjemah : Rien Chaerani
Jumlah Halaman : 456 Halaman
Segmen : Anak-anak, Orang Tua, Garden Lover

Mary Lennox bukanlah gadis yang menyenangkan. Walaupun sejak kecil, Mary sudah dimanja dengan berbagai jenis mainan bagus dan setiap kemauannya dituruti namun sifat Mary tidak menjadi lebih baik. Mary tumbuh menjadi anak berwatak buruk dan kasar. Ia suka menghina para pelayan pribuminya, sangat egois, bahkan guru privatnya pun tidak tahan berada di dekatnya. Kedua orang tua Mary tidak memedulikannya. Ayahnya selalu bekerja dan ibunya hanya mementingkan urusan pesta dan hura-hura. 

Suatu hari Mary mendapati bungalonya dalam keadaan sepi sebab semua orang meninggalkannya, termasuk pengasuh dan para pelayan pribumi lainnya. Mary sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, ia baru mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah meninggal akibat kolera saat seorang perwira Inggris menemukan Mary sendirian saja di bungalonya di India. 

Mary lalu dikirim pulang ke Inggris, ke rumah pamannya di padang kerangas. Rumah tersebut sangat besar seperti kastil. Namun tidak banyak orang yang tinggal di rumah besar tersebut selain para pengurus seperti tukang kebun dan pengurus rumah tangga. Mary mengisi waktunya dengan menjelajah kastil dan berjalan-jalan di sekitar kastil. Lalu Mary bertemu dengan Dickon,  seorang anak yang tidak biasa karena ia mendengar Dickon bisa mengerti tentang binatang dan bisa menumbuhkan tanaman apapun. 

Selain itu Mary juga mendengar kalau di kastil tersebut ada sebuah taman rahasia yang sangat indah, namun sejak istri pamannya meninggal dunia, taman tersebut digembok dan selama bertahun-tahun tidak seorang pun pernah melihat taman itu lagi. Bersama-sama dengan Dickon, Mary berusaha menemukan taman tersebut. Selain taman rahasia tersebut ada lagi keanehan di rumah besar tersebut, yaitu Mary merasa setiap malam mendengar seseorang menangis. 

Kesan saya :

Sebenarnya ada enaknya juga bila suatu buku diadaptasi menjadi film dan kebetulan kita nonton filmnya dulu baru baca bukunya, terutama bila bukunya mempunyai penjelasan yang panjang & detil mengenai uraian-uraian lokasinya, pemandangannya, jadi sekiranya saya sudah dapat gambaran mengenai pendeskripsian panorama yang ada dalam buku ini. 

Secara pribadi saya banyak fast forward deskripsi pemandangan alam yang terasa nge-drag dan bertele-tele. Walaupun suka taman, tapi saya ngga sampai tergila-gila banget sama taman, dan point di buku ini sebenarnya sederhana (keyakinan dan pikiran positif), tapi penjelasan mengenai setting tempat yang rasanya hampir separuh buku membuat saya merasa bosan dan pengen cepat menyelesaikan buku ini segera. 

Walaupun ini buku anak-anak tapi cocok banget dibaca oleh para orang tua, karena mengajarkan :
  1. Anak-anak yang kurang perhatian dan dimanja jadinya akan berperangai buruk. 
  2. Biarkan anak-anak banyak bermain di luar dan menikmati alam, jangan takut kuman dan kotor, justru menghirup udara segar di luar ruangan membuat tubuh sehat dan kuat, sangat bagus untuk pertumbuhan anak-anak (maksudnya anak2 jangan dibiarkan kelamaan main games komputer dan nonton TV).
  3. Yang selalu ada dalam classic lit, adalah selalu berpikir positif bahwa kita pasti bisa (ini yang saya suka dari classic lit), dan pemikiran ini terus bertahan sampai jaman kontemporer sekarang. Saya ingat pernah kerja di bimbel dan ada pertaturan di mana kita tidak boleh membuat anak-anak tidak percaya diri dengan mengatakan kata "tidak" dan kata-kata negatif lainnya, semua ini ada pada bab "SIHIR" dalam buku ini. 

***
Seperti yg saya tulis diatas, saya tau cerita ini dari film, dan filmnya salah satu yang berkesan untuk saya pada saat itu. Saya nonton yang versi Hallmark (1987) di RCTI, filmnya bagus, tapi rada beda sama buku, terutama endingnya. Mungkin karena Hallmark, maka endingnya jadi romantis, dimana Colin  (kebetulan pemeran Colin dewasa bernama Colin juga, yaitu aktor Colin Firth) dan Mary berciuman & menikah di akhir film, saya lupa tapi sepertinya Mary & Colin bukan sepupu di film versi 1987, yang di versi 1993 (Warner Bross) lebih terasa “sihirnya” dan pemeran anak2nya juga cute, dan lebih mengikuti cerita aslinya. Tapi saya suka dengan kedua-duanya. Bagi yang merasa ingin melihat visualisasi cerita di buku, coba saja nonton filmnya di youtube, filmnya lengkap kok di youtube, mungkin yang suka cerita romantis, nonton versi 1987,  untuk yang suka cerita anak-anak ala Harry Potter bisa coba yang versi 1993 (tambah lagi ada Prof. McGonagall di versi 1993 :P )

Versi 1987

Versi 1993

Senin, 22 Juli 2013

A LITTLE PRINCESS

✭✭✭½
Judul : A Little Princess
Pengarang : Frances Hodgson Burnett
Penerbit : Atria
Penerjemah : Teguh Hari
Jumlah Halaman : 339 Halaman
Segmen : Anak-anak

Sara Crewe adalah putri semata wayang dari Kapten Crewe. Mereka berdua tinggal di India. Namun pekerjaan ayahnya tidak memungkinkan Sara untuk selalu bersama-sama dengan ayahnya, selain itu Sara  juga harus bersekolah. Hanya saja kondisi di India tidak baik untuk anak-anak dan ayah Sara ingin memberi Sara pendidikan terbaik juga dengan maksud agar Sara mempunyai teman-teman sebaya untuk bermain dengannya. Maka Sara pergi dari India dan datang ke London untuk bersekolah di tempat Nona Minchin, sebuah sekolah asrama putri pilihan. 

Untuk seorang anak kecil, Sara sangat dewasa dan cerdas. Sikap dan tutur katanya selalu sopan dan bersahaja layaknya seorang putri. Ayah Sara yang kaya sangat menyayangi Sara dan gemar mengirimkan hadiah-hadiah mahal untuk putrinya seperti gaun-gaun yang indah, boneka yang sangat cantik dan juga meminta agar Sara mendapat kamar dan fasilitas terbaik di sekolah. Sara yang cantik, pintar dan bersahaja segera menjadi populer di sekolah, walau ada juga beberapa temannya yang tidak menyukainya karena mereka iri padanya. 

Suatu hari datang kabar buruk, bahwa Kapten Crewe, ayah Sara sakit keras dan meninggal dunia, kekayaannya pun habis. Nasib Sara berubah 180 derajat. Tidak ada lagi fasilitas dan kamar mewah, selain itu itu nona Minchin juga menjadikan Sara seorang pekerja di asrama untuk membayar hutang-hutang ayahnya atas Sara.

Namun Sara ingin menunjukkan meskipun ia telah jatuh miskin dan dihina oleh sebagian besar teman-temannya, sikapnya tidak akan berubah. Ia tetap menjadi Sara yang sopan, bersahaja dan tidak sungkan membantu mereka yang membutuhkan pertolongannya. 

My thought :

A Little Princess adalah salah satu kisah klasik anak-anak yang sangat terkenal. Sebelum baca bukunya saya pernah menonton filmnya yang dibintangi artis cilik tempo doeloe, yaitu Shirley Temple. Selain itu banyak penulis-penulis kontemporer yang mendapatkan inspirasi nya dari novel klasik ini, salah satunya Meg Cabot yang menuangkan karyanya dalam novel Princess Diaries. 

Tapi yang paling menarik saat baca kisah klasik adalah pesan moral atau quote-quotenya. Moral dari cerita ini mengajarkan pada kita tentang pentingnya pengendalian diri dan selalu bersikap baik, sopan, terhormat dan tegar meski dalam kondisi sulit. 

Tokoh dalam cerita ini, Sara Crewe mengingatkan saya dengan Anne dari Green Gables, karena mereka berdua sangat suka berkhayal. Dan memang benar kalau berkhayal itu bisa membantu mengurangi derita kita saat sedang susah, hehehe kadang saya juga begitu. 

Yang saya ngga suka dari cerita ini mungkin tokoh Sara yang digambarkan terlalu "Princess wannabe" tapi bisa dimaklumin sih di era PD 1, seorang putri memang digambarkan sebagai "role model" yang sempurna, mungkin karena saat itu belum banyak tokoh2 rakyat biasa yang jadi panutan karena aktivitas sosial mereka di masyarakat.  

Notable quote :

"Sara bilang, menjadi seorang putri itu tidak ada hubungannya dengan penampilanmu atau apa yang kaumiliki, tetapi apa yang kaupikirkan dan apa yang kaulakukan." ~hal. 75

(intinya bukan apa yang terlihat dari luar tapi apa yang ada di dalam a.k.a inner beauty things)

"Kemalangan menguji kekuatan seseorang. Kemalanganku telah mengujimu dan kau memang terbukti anak yang baik." ~Sara, hal.140

Jumat, 12 Juli 2013

THE PAINTED VEIL

✭✭✭✭
Judul Buku : The Painted Veil (Stambul Cinta)
Pengarang : William Somerset Maugham
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Tanti Lesmana
Jumlah Halaman : 299 Halaman
Segmen: Dewasa

Cantik, ceria, ramah dan populer, begitulah Kitty selama ini dikenal, namun saat usianya 25 tahun, dia panik mengetahui kalau dirinya masih belum menemukan calon suami yang dia inginkan, sedangkan adiknya yang jauh lebih muda darinya akan segera bertunangan dengan seseorang yang mempunyai gelar bangsawan. Jadi saat ada seorang ahli bakteri bernama Walter Fane yang tertarik dan berniat untuk menikahinya, tawaran tersebut langsung diterima Kitty. Setelah menikah mereka berdua pergi ke Hongkong, tempat Walter ditugaskan oleh Koloni Inggris. 

Namun Kitty tidak pernah mencintai Walter, pernikahannya dengan Walter terasa hambar. Ditambah lagi sifat suaminya yang kaku dan tertutup membuat Kitty kesepian. Pada suatu hari Kitty berkenalan dengan Charlie Townsend yang tampan, charming dan ramah.  

Wanita kesepian + pria mata keranjang = nafsu, maka itulah yang terjadi, Kitty dan Charlie menjalin affair sampai suatu hari Walter memergoki mereka berdua. 

Walter yang sakit hati memberikan 2 ultimatum pada Kitty, yaitu ikut dengannya ke Mei Tan Fu, sebuah wilayah di China yang sedang terjangkit wabah kolera hebat atau diceraikan dengan catatan bahwa Charlie juga harus menceraikan istrinya dan setelah itu Kitty dan Charlie harus menikah.  Awalnya Kitty memilih pilihan kedua, karena dia sangat mencintai Charlie, namun ternyata Charlie tidak peduli dan lebih memilih istrinya daripada Kitty. 

Tidak ada pilihan, maka Kitty ikut bersama Walter ke Mei Tan Fu dan menghadapi wabah kolera yang siap membunuhnya. 

Kesan saya :
(Note : review kali ini akan banyak saya bandingkan sama filmnya dan juga banyak gambar-gambar dari adegan film)

Pahit. Begitulah yang saya rasakan selesai membaca novel ini. Saya mengetahui cerita ini dari filmnya terlebih dahulu, dan dari sana saya baru tau kalau cerita tersebut diangkat dari buku. Sejujurnya saya lebih menyukai versi filmnya, karena di versi film selain pahit, namun ada juga kisah manisnya. 
is there anyone to make pre-wed photo like those?

Kalau cerita di filmnya tentang rekonsiliasi atau rujuk kembali, maka di bukunya lebih tentang perubahan karakter protagonis wanitanya, yaitu Kitty. 

Bagaimana Kitty dari wanita yang taunya hanya sekedar  bersenang-senang, berpikiran dangkal, berangan-angan bodoh dan pengkhayal muluk, perlahan-lahan berubah seiring dengan perjalanan hidup yang dilaluinya.


“Kalau seorang lelaki tidak mempunyai apa yang dibutuhkan untuk membuat seorang perempuan mencintainya, maka itu adalah kesalahan si lelaki, bukan si perempuan.”

Bagi Kitty, suaminya Walter tidaklah mempunyai gairah dan pesona yang dapat membuat dirinya bergelora, suaminya pendiam, canggung, kikuk,  tidak pandai bergaul dan Kitty pun merasakan kehidupan pernikahannya membosankan. 

Oh well, di sini saya belajar arti gairah sesaat dan cinta. Padahal, dibalik semua karakter luarnya yang kurang menarik (atau julukan kontemporernya adalah kutu buku atau nerdy), Walter mempunyai semua sifat yang saya para kaum hawa  idamkan (ehem) sebagai suami, bagaimana tidak, bila :
  • Sangat memerhatikan kenyamanan istri
  • Istrinya ingin sesuatu atau butuh sesuatu, langsung segera dilaksanakan
  • Memberikan hadiah-hadian kecil 
  • Sangat memanjakan saat sedang sakit
  • Gentleman dan sopan (chivalry mode on)
  • Sentimentil, sensual dan bergelora disaat intim 
Tapi malangnya yang didapat sang suami malah pengkhianatan. Saya terenyuh waktu membaca dialog Walter tentang Kitty :


“Aku tidak punya ilusi apa pun tentang dirimu,” kata Walter. “Aku tahu kau bodoh, dangkal, dan berkepala kosong. Tapi aku mencintaimu. Aku tahu tujuan-tujuan dan cita-citamu vulgar dan norak. Tapi aku mencintaimu. Konyol kalau kupikir-pikir betapa kerasnya aku berusaha merasa terhibur dengan hal-hal yang kausukai, dan betapa inginnya aku menyembunyikan darimu bahwa aku tidaklah bebal, vulgar, suka bergosip, dan tolol. Aku tahu betapa takutnya kau pada kecerdasan, dan aku berusaha sebisa mungkin untuk membuatmu mengira bahwa aku sama tololnya seperti lelaki-lelaki yang kaukenal. Aku tahu kau mau menikah denganku hanya supaya tidak kehilangan muka. Tapi aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak peduli. Kebanyakan orang, sejauh yang kulihat, kalau mereka mencintai seseorang dan cinta mereka  tidak berbalas, mereka akan merasa sangat sedih. Mereka menjadi marah dan getir. Aku tidak seperti itu. Aku tidak pernah mengharapkan kau mencintaiku, aku tidak melihat alasan apa pun yang membuatmu bisa mencintaiku, aku tidak pernah menganggap diriku sangat layak dicintai. Aku bersyukur sudah diperbolehkan mencintaimu, dan aku sangat bahagia kalau sesekali kupikir kau merasa senang padaku, atau kalau kulihat dimatamu ada sedikit saja binar-binar rasa sayang. Aku mencoba tidak membuatmu bosan dengan cintaku; aku tahu itu tidak boleh terjadi, dan aku selalu waspada memperhatikan kalau ada tanda-tanda kau mulai tidak sabar dengan kasih sayangku. Apa yang oleh sebagian besar suami dianggap sebagai hak mereka, rela kuterima sebagai sesuatu yang diberikan karena belas kasihan.”  ~Hal 82-83.


Walter yang malang, untuk seseorang yang sangat cerdas, dirinya ternyata bisa jatuh cinta pada seseorang yang salah, tapi penyesalan selalu datang terlambat. 


Source
Saya sempat baca review dari teman-teman lain di goodreads yang bingung sama jalan pikiran Walter. Saya tidak tau bagian mana yang bingung, tapi kalau bingung, mengapa Walter yang pintar bisa sampai jatuh cinta pada Kitty yang dangkal dan hanya melihat permukaan luar, jawabannya mungkin ada pada sepenggal bait dalam lagu Agnes Monica yang berbunyi,  ♪cinta ini kadang-kadang tak ada logika, ilusi sebuah hasrat dalam hati, dan hanya ingin dapat memiliki dirimu hanya untuk sesaat ♫ dan bait lagu tersebut juga berlaku untuk penyebab perselingkuhan Kitty dan Charlie.  

Tapi kalau maksud jalan pikiran Walter untuk mengajak istrinya ke daerah epidemik wabah Kolera, saya kira untuk untuk membalas dendam  atas perbuatan istrinya, tapi akhirnya justru kalah dan seperti yang Kitty bilang, suaminya meninggal karena patah hati, kolera hanyalah alat untuk itu. Kalau dari analisis personality sotoy saya, nih orang tipe Cancerian banget, moody, super sensitif, terlihat tertutup dan kaku di luar tapi lembut dan penyayang di dalam.  Biasanya saat Cancerian terluka, mereka akan masuk ke cangkang kepiting mereka dan membangun dinding beton karena mereka takut terluka lagi. 

Sama seperti kebanyakan literatur klasik, banyak quote-quote yang notable dan memorable, misal :
"Ada apakah dengan hati manusia, sehingga kau memandang rendah orang yang mencintaimu" ~hal 154
"Anakku, orang tidak bisa menemukan kedamaian dalam pekerjaan atau bersenang-senang, di dunia maupun di dalam biara. Kedamaian hanya bisa ditemukan di dalam jiwa." ~hal 170
"Ketenangan itu baru akan kau peroleh kalau kau sudah berhenti menghasratinya." ~ hal 216
Saya sarankan selain baca bukunya, tonton juga filmnya, mengingat bukunya hanya terasa bitter, untuk saya pribadi, saya lebih suka bitter sweet ending seperti filmnya (tambah lagi akting dan chemistry Edward Norton dan Naomi Watts juga bagus). Mungkin karena itulah bukunya, baik yang original maupun terjemahan dicetak ulang dengan cover filmnya.  


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...