Tampilkan postingan dengan label HIGH FANTASY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIGH FANTASY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 November 2015

THE RUNAWAY KING: SULITNYA MENJADI SEORANG RAJA

Judul Buku: The Runaway King (Raja Yang Minggat)
Pengarang: Jennifer A. Nielsen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Cindy Kristanto
Jumlah halaman: 376 halaman
Cetakan 1, Juni 2014
ISBN: 978-602-03-0484
Segmen: Remaja
Genre: High fantasy, historical fantasy
Harga: Rp 80.000
Rate: ★★★★

"Apa artinya memperoleh kedamaian jika hal itu membuat kami kehilangan kebebasan?"


Sekarang Jaron telah kembali ke istana dan menjadi Raja Carthya, namun ternyata masalah besar telah menunggu. Masalah yang menyangkut keberlangsungan Kerajaan Carthya. Di perbatasan, telah tersiar kabar bahwa Avenia dan para bajak laut tengah bersiap untuk menyerang Carthya. Bahkan usaha percobaan pembunuhan terhadap Raja Jaron pun terjadi sebagai peringatan bahwa ancaman mereka serius. 

Selain dari para negara tetangga, ancaman lain juga datang dari dalam kerajaan Jaron sendiri, karena para Regen tidak ingin Jaron duduk di takhta dan menganggap Jaron masih terlalu muda untuk menjadi seorang Raja. Mereka ingin mengangkat seorang wali hingga Jaron dianggap cukup umur untuk menjadi Raja yang memimpin Carthya. 

Perang adalah satu-satunya jalan untuk menjaga Carthya tetap berdaulat, namun di sisi lain, perang juga akan membuat rakyat menderita. Selain itu, Carthya juga tidak mempunyai cukup tentara yang kuat untuk menghadapi gempuran pasukan Avenia dan para bajak laut yang lebih banyak jumlahnya dan juga lebih kuat. 

Apa yang harus dilakukan Jaron untuk melindungi kerajaan dan rakyatnya? Apakah sebaiknya ia lari dan bersembunyi seperti yang para Regennya sarankan? Namun Jaron tahu, apapun pilihannya tidak ada yang mudah dan ia harus menghadapi langsung setiap resikonya. 

Kesan saya:

Selasa, 20 Januari 2015

DAYS OF BLOOD AND STARLIGHT: ANTARA CINTA DAN DENDAM

Judul Buku: Days of Blood and Starlight - Bersimbah Darah dan Cahaya Bintang (Daughter of Smoke and Bone #2)
Pengarang: Laini Taylor
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah:  Primadonna Angela
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Jumlah halaman: 608 halaman
ISBN: 978-602-03-0683-4
Cetakan 1, July 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Fantasi, romance, high fantasy. 
Harga: RP 88.000, bisa dibeli di Gramedia-online, bukabuku
Rate: ★★★½

Lebih banyak sihir, lebih banyak fantasi, lebih banyak cerita, lebih banyak karakter, lebih tegang, lebih epik.

Setelah Karou mengetahui siapa dirinya, ia tahu bahwa ia dan Akiva tidak bisa bersama. Sebab Karou harus membela bangsanya, bangsa chimaera dari serangan dan pembantaian para malaikat. Sedangkan Akiva harus melaksanakan perintah sebagai serdadu malaikat yang menghabisi bangsa chimaera. 

Setelah Loramendi, kota utama para chimaera dihancurkan oleh para serdadu seraphim, sekelompok chimaera yang berhasil selamat bersembunyi di dunia manusia, tepatnya di daerah padang pasir Maroko, dalam sebuah reruntuhan istana yang terlupakan. Di sinilah para chimaera yang dipimpin oleh Thiago, sang serigala putih mulai menyusun kekuatan dan rencana untuk membalas dendam terhadap para seraphim. Karou melaksanakan tugasnya sebagai pengganti Brimstone, yaitu sang pembangkit. Ia mengumpulkan gigi untuk membuat tubuh-tubuh baru bagi para chimaera yang tewas dalam pemberontakan melawan malaikat dan memanen jiwa-jiwa para chimaera untuk hidup kembali. 

Meski Karou berada di pihak chimaera, ia tidak bahagia dengan tugas yang dijalaninya sebagai sang pembangkit. Karou merasakan tekanan dan paksaan dari Thiago, sang serigala putih yang sesungguhnya masih tidak percaya terhadap Karou. Sang serigala terus memaksa Karou untuk bekerja membuat tubuh-tubuh monster untuk para chimaera guna membalas dendam terhadap para malaikat. Namun Karou tidak punya pilihan, ia tidak bisa membiarkan ras chimaera punah akibat peperangan melawan seraphim. Tapi benarkah  bahwa balas dendam dan pembantaian adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ras chimaera? Karena Karou justru merasa bahwa peperangan tidak akan menghasilkan kemenangan namun hanya kematian, duka dan kebinasaan. 

Di sisi lain, Akiva yang masih belum mengetahui keberadaan Karou juga mempunyai mimpi yang sama dengan Karou. Mimpi di mana para seraphim dan chimaera bisa hidup berdampingan dalam damai. Diam-diam Akiva bersama 2 saudaranya, Hazael dan Liraz membuat suatu rencana, yang akan menjadi permulaan untuk mengakhiri perang berkepanjangan antara bangsa malaikat dan kaum chimaera.

Apakah yang dilakukan Karou untuk menyelamatkan bangsa chimaera? Bagaimana Karou bisa melawan perintah Thiago? Apa rencana Akiva untuk mewujudkan Eretz yang damai?

Epik

Begitulah kesan saya setelah membaca buku Bersimbah Darah dan Cahaya Bintang.

Rabu, 25 September 2013

BOOK REVIEW : SERAPHINA

✭✭✭✭
JUDUL BUKU : SERAPHINA
Pengarang : Rachel Hartman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Desain Sampul : Martin Dima
Jumlah Halaman : 544 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa-muda
Genre : Fantasy, High Fantasy
Harga : RP 85.000 (Lebih murah kalau beli paketan sama The Host, 2 buku Rp 100.000)

Fantasy, misteri, politik, drama, satire, romance dan musik.

Itulah ketujuh unsur utama yang begitu kental mewarnai cerita dalam Seraphina. 

Selama berabad-abad, kaum naga dan manusia saling berperang. Hingga akhirnya kaum naga menemukan cara untuk membuat diri mereka beralih-rupa menjadi manusia. Naga yang berwujud manusia disebut saarantras. Dari sinilah mulai tercipta perjanjian damai antara para saarantrai (bentuk jamak dari saarantras) dengan manusia. Diharapkan naga yang berwujud manusia atau saarantras dapat mengurangi ketakutan manusia akan sosok naga yang seperti monster. 

Perlahan-lahan para saarantrai  mulai memelajari ilmu-ilmu yang dimiliki kaum manusia dan sebaliknya membagi ilmu-ilmu mereka terutama dalam hal logika dan matematis kepada manusia. Berbeda dengan manusia, otak saarantrai bekerja secara logis, matematis dan rasional. Kaum naga tidak mengerti emosi seperti halnya manusia.  

Namun biar bagaimana pun tidak semua pihak menginginkan perdamaian. Dari pihak manusia sendiri banyak yang tidak percaya sama kaum naga dan menganggap mereka tak lebih dari sekadar binatang buas yang menyamar sebagai manusia. Sedangkan dari pihak naga sendiri, banyak yang meremehkan manusia yang mereka anggap lemah dan aneh, karena memiliki emosi yang bisa membuat logika tumpul. 

Seraphina bekerja sebagai asisten pemusik utama di kerajaan Goredd, dan saat ini rakyat Goredd sedang bersiap-siap untuk mengadakan pesta akbar dalam rangka peringatan 40 tahun perjanjian damai antara rakyat Goredd dan kaum naga, pesta tersebut sangat megah dan mengundang banyak tamu besar dari negeri-negeri di sekitar Goredd. 

Namun di tengah persiapan pesta akbar tersebut, terjadi hal yang dapat mengancam kelangsungan hubungan damai antara manusia dan kaum naga, karena salah seorang anggota kerajaan, yaitu Pangeran Rufus ditemukan tewas terbunuh dengan kepala terpenggal. Cara pembunuhan yang umumnya dilakukan oleh kaum naga. 

Mau tak mau, hal tersebut berpengaruh pada persiapan pesta peringatan Malam Perjanjian Damai. Seraphina bekerja sama dengan Pangeran Lucian Kiggs berusaha menyelidiki siapa yang membunuh Pangeran Rufus.

Namun apa yang menyebabkan Seraphina yang seharusnya lebih bekerja sebagai pemusik kerajaan menjadi ikut terlibat dalam penyelidikan tersebut? 


Konflik :
Temukan siapa yang membunuh pangeran Rufus dan alasan yang membawa Seraphina sampai terlibat dalam penyelidikan tersebut. 

Saya agak kesulitan menulis resensi cerita ini tanpa spoiler. Jadi saya akan bahas saja esensi yang saya rasakan dalam Seraphina. Selain plot misteri pembunuhan yang membuat kisah ini mirip cerita detektif, saya juga merasakan drama satire yang dipakai pengarang untuk menuliskan ceritanya. Yang terutama adalah tentang penerimaan jati diri dari sosok Seraphina. 

Separuh awal, cerita terasa berjalan sedikit lamban karena banyak diisi dengan pengenalan karakter Seraphina, seperti kegiatan sehari-harinya sebagai pemusik kerajaan, tugas-tugas yang harus dikerjakan Seraphina, acara-acara yang harus ia hadiri di istana. Dari sini plot akan maju mundur karena penulis menceritakan mengenai masa lalu Seraphina dan orang-orang di sekitar Seraphina. 

Siapakah Seraphina, mengapa ia selalu mendapat visi-visi atau penglihatan yang membuatnya sakit kepala. Cerita ini secara tersirat membahas tentang eksistensi dari keberadaan seorang Seraphina dan dari sinilah arah cerita mulai dapat ditebak oleh pembaca. 

Dari sisi fantasy sendiri, saya suka universe atau world building yang dibangun oleh Rachel Hartman dan atas alasan itulah mengapa saya masukkan juga genre ini ke dalam high-fantasy. Penulis membawa unsur-unsur masalah yang umumnya terjadi dalam dunia real ke dunia alternatif di cerita Seraphina dalam bentuk drama satire,  mulai dari intrik politik antara manusia dan kaum naga, prasangka buruk manusia akan suatu hal yang kurang mereka pahami yang umumnya berujung pada main hakim sendiri, kisah para santo dalam religi di Seraphina, alasan di balik mengapa kaum naga takut akan emosi, sedikit membuat saya deja vu. Dan tentu saja mahluk-mahluk ganjil dalam visi yang didapat oleh Seraphina. 

Bagian romantis, sejujurnya unsur romance dalam cerita ini hanya sedikit dan baru benar-benar diperjelas menjelang ending. Tapi saya justru suka, karena dengan begitu pengarang tidak sampai kehilangan fokus cerita yang lebih mengutamakan konfliknya, seperti ucapan salah satu tokoh, "Dahulukan krisis, cinta bisa belakangan." 

Karakter-karakter dalam Seraphina :
Seraphina cukup punya banyak karakter, mulai dari karakter manusia yang kebanyakan adalah keluarga kerajaan istana dan para pekerja istana hingga kaum naga. Tapi saya akan bahas 2 karakter saja yang saya suka di sini :

- Lucian Kiggs, pangeran kerajaan Goredd dan yang nantinya akan menjadi love interest dari karakter utama. Saya suka cara pendeskripsian pengarang mengenai Lucian yang untungnya tidak Gary Stu. Pengarang benar-benar menggambarkan sifat Lucian yang ramah, cerdas, dan gentleman khas ksatria melalui show lewat tindakannya dalam mengatasi masalah dan juga interaksi-interaksinya dengan Seraphina. 

- Orma, saarantras yang juga guru musik Seraphina. Saya merasa lucu bagaimana Seraphina menggambarkan Orma itu seperti anak kucing. Tindakan-tindakan Orma yang berusaha mati-matian menekan segala bentuk emosi namun akhirnya tetap berujung pada kepedulian. 

Untuk Seraphina sendiri, saya cukup suka dengan karakternya, ada sisi dimana ia rapuh namun ada juga sisi di mana ia tangguh. 

Harapan untuk sekuelnya : Moga-moga actionnya lebih diperbanyak. Gaya bahasanya lebih down to earth. Banyaknya istilah musik mungkin agak sedikit membingungkan pembaca pada mulanya namun akan terbiasa saat konflik mulai berjalan. 

Terjemahan, saya tahu, dalam bahasa aslinya pun buku ini termasuk mempunyai gaya bahasa yang agak "tinggi" karena itu saya salut dengan terjemahan buku ini yang cukup luwes, yang membuat saya bisa  mengikuti ceritanya dengan mudah tanpa henti selama 3 harian (mengingat bukunya cukup tebal, ada 544 halaman). 

Ada sedikit typo :
Hal 118 : manyala → menyala
Hal 396 : hadapa → hadapan
Hal 480 : langir →langit
Hal 521 : terdengr → terdengar

Secara keseluruhan saya suka dengan cerita Seraphina dan pasti akan membaca sekuelnya. 

Senin, 16 September 2013

BOOK REVIEW: THE HOBBIT

✭✭✭✭✭
Judul Buku : The Hobbit
Pengarang : J.R.R. Tolkien
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : A.Adiwiyoto
Jumlah Halaman : 352 Halaman
Segmen : Semua Umur dan semua yang menyukai fantasi
Genre : Fantasi, Buku Anak
Harga : Rp 42.000

Alkisah ada 2 orang sahabat, yaitu :
Monky dan Oniyon
Kedua sahabat ini bekerja pada suatu perusahaan yang ajaib (sebenarnya lebih tepat dibilang aneh daripada ajaib, tapi ajaib lebih halus dan enak didengar daripada aneh) yang bernama Story-Telling. Boss mereka, seorang perempuan muda yang aneh dan nyentrik. Mengapa disebut begitu? Karena kegemarannya akan petualangan. Lebih tepatnya petualangan dalam buku-buku yang gemar dibacanya. 

Lady Storytelling, begitulah ia dikenal. Sehabis berpetualang, sang lady pasti akan menceritakan kisah-kisahnya kepada anak buahnya untuk dicatat dalam jurnal mereka. Namun tidak seperti boss mereka yang suka berpetualang, Monky dan Oniyon lebih suka hidup damai, tentram dan teratur di ruang kerja mereka yang nyaman dan sejuk. Lihat saja perut Monky yang gembul karena hobby makannya. Sedangkan Oniyon tidak pernah melewatkan rutinitas minum teh di sore hari. 

Tapi, di sore itu, ketenangan mereka berdua terusik, karena Lady Storytelling ternyata pulang lebih cepat dari rencana. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kepulangan lady Storytelling, mengingat ini memang rumah sang lady dan sudah sewajarnya seorang pemilik rumah pasti pulang ke rumahnya. Namun biasanya sang lady pergi cukup lama, kurang lebih sebulan. Sedangkan ini baru 1 minggu dari kepergian sang lady, mengapa ia cepat kembali?

"Monky, Oniyon," dari jauh suara sang lady terdengar mengalun bagaikan nyanyian putri duyung yang ingin menenggelamkan kapal para pelaut.

Monky dan Oniyon saling pandang, firasat mereka berdua langsung tidak enak, rasanya seperti mendengar pengumuman siapa saja yang naik dan tinggal kelas. Dalam sekejap, sang lady sudah masuk ke dalam ruangan mereka, bingkai kacamatanya yang merah menyala tampak mengilat terkena cahaya matahari sore, tapi bagi Monky dan Oniyon rasanya seperti sambaran petir di siang bolong. 

"Kami siap melayani anda, Milady," ucap Monky dan Oniyon bersamaan walaupun dalam hati mereka berkata sebaliknya.

Sang lady mengambil sebuah kursi dan duduk, "Monky, Oniyon, coba tebak, kali ini kemana aku pergi?"

"Hamba, hanya bawang putih. Hamba tidak tahu, milady," jawab Oniyon.

"Dan hamba hanyalah seekor monyet kecil milady, bagaimana hamba bisa tahu," timpal Monky.

Lady Storytelling mengeluarkan sebuah peta, "Coba lihat dan bacalah," ia menyodorkan sebuah kertas yang tampak seperti peta pada Monky dan Oniyon. 

"Middle-earth," ujar Monky. 
"Liang hobbit," sambung Oniyon.
"Kerajaan Peri," timpal Monky lagi.
"Naga?" tanya Oniyon serak. 

"Benar," jawab sang lady terkekeh. "Aku baru saja kembali dari Middle-earth. Menemani pertualangan seorang hobbit dan 13 kurcaci serta seorang penyihir untuk membasmi seekor naga ganas bernama Smaug. Kalian tidak tahu kesulitan apa saja yang kami alami hanya untuk menuju ke tempat di mana Smaug berada."

"Mengapa sampai anda, maksud saya para kurcaci dan hobbit sampai ingin bersusah payah membasmi naga?" tanya Monky

"Quest for glory," pekik sang Lady. "Dan juga untuk emas dan harta benda lainnya, sebab Naga itu mencuri emas milik para kurcaci."

Sembari sang lady bercerita,  Monky dan Oniyon hanya mengangguk-angguk dan tentu saja mencatat kisah petualangan yang baru saja dilalui oleh sang lady, tapi mereka masih bingung dan cemas mengapa sang lady kembali lebih cepat. 

"Ah ya, aku tahu, kalian pasti bingung mengapa aku kembali lebih cepat dari biasanya?" potong sang lady tiba-tiba, seolah ia bisa membaca isi kepala Monky dan Oniyon. 

"Begini," sambung sang lady. "Aku bermaksud untuk mengunjungi sebuah kastil tua di Transylvania dan sesudah itu dilanjutkan pergi ke hutan rimba di belantara Amazon. Tapi aku tersadar, sebaiknya untuk kali ini aku tidak sendirian pergi kesana."

Inilah firasat buruk Monky dan Oniyon, bahkan sebelum sang lady meneruskan ucapannya, kedua mahluk tersebut sudah bisa menduga apa yang akan dikatakan oleh Lady Storytelling selanjutnya. 

"Aku ingin kalian berdua ikut denganku kali ini," sang lady berkata mantap.

"Maaf milady, tapi kalau kami ikut, siapa yang akan menjaga tempat ini dan juga menulis jurnal-jurnal untuk blog anda?" tanya Oniyon.

"Dan juga memposting meme yang anda ikuti?" tambah Monky

"Ah, mengapa kalian mengkhawatirkan masalah sepele macam itu. Bukankah masih ada Momon, Chiky dan Kitten?" jawab Lady Storytelling enteng. 

"Ta-tapi milady," suara Oniyon agak terbata-bata, "mengapa harus saya? saya hanyalah bawang putih, apa guna saya dalam petualangan anda? Saya jelas tidak bisa mencuri seperti BilBo Baggins karena langkah saya terlalu berisik untuk menjadi pencuri."

"Dan saya hanya seekor moyet kecil. Saya bahkan tidak bisa bertarung, mengapa saya diikut-sertakan?" Monky tak mau kalah dalam usahanya untuk mengubah pendirian sang lady. 

"Astaga Oniyon, kau sendiri yang bertanya, kau sendiri yang menjawab. Bukankan tadi sudah kukatakan, kalau aku akan pergi ke sebuah kastil tua di Transylvania. Kau tau kan tempat itu dipenuhi apa. Dan kau ini sesiung bawang putih, nah coba pikirkan kembali, apa kelemahan nosferatu?" dengus sang lady tak sabar.


"Apakah maksud anda ingin menggunakan saya sebagai senjata untuk melawan vampir? Oniyon langsung pucat seketika, walaupun tidak terlalu kentara perbedaannya, mengingat dia sendiri sudah putih. 

"Benar," jawab sang lady ceria, lalu tanpa memberi Oniyon kesempatan untuk menyela, sang lady langsung mengalihkan pandangannya pada Monky. "Dan Monky, tugasmu nanti adalah menjadi pemandu di belantara Amazon, kau kan monyet, pasti mudah bagimu untuk naik ke pohon dan mengawasi keadaan untukku. Dan aku tak ingin ada bantahan lagi"
Melihat kedua anak buahnya merengut, Lady Storytelling mencoba untuk membesarkan hati mereka.

"Kalian tau, alasan utama aku mengajak kalian dan bukannya Chiky, Momon dan Kitten, karena aku melihat potensi pada diri kalian. Kalian takkan pernah tau sampai kalian mencoba. Mungkin kalian terbiasa dalam zona nyaman kalian, tapi tidakkah kalian ingin naik ke tingkatan yang lebih tinggi?" 

"Apakah petualangan ini aman?" tanya Monky, yang sebenarnya sudah tau jawabannya. 

"Aman atau tidak, tergantung pada dirimu," jawab sang lady datar, seolah itu hal yang tidak penting. "Dan apakah kalian sudah selesai mencatat ceritaku dalam The Hobbit?"

Oniyon yang menjawab, "Sudah, milady. tapi berapa rating yang akan anda berikan?"

"Kasih 5 bintang," tegas sang lady. 

"Setinggi itu milady?" Oniyon tampak tak rela, karena buku tersebut membuat sang lady memaksa dirinya ikut berpetualang. 

"Ya, karena buku itu menginspirasi, dan sudah ada dalam klausa, bahwa setiap buku yang menginspirasi, ratingnya adalah 5 bintang."

"Saya tak mengerti milady, bagaimana bisa menginspirasi? dan saya belum memeriksa, tapi mungkin saja ada hal-hal teknis yang kurang dari buku," tambah Monky yang juga tak rela diajak ikut berpetualang karena sebuah buku. 

"Kalau yang kaumaksud terjemahan, hal itu sangat baik, bahkan terjemahan puisi dan nyanyian pun punya lirik yang ritmenya terdengar senada," jawab sang lady cepat. "Soal inspirasi, lihat saja game-game yang sering dimainkan oleh Chiky, bukankah banyak yang mirip dengan The Hobbit, lalu cerita-cerita fantasi kontemporer yang sering kalian baca pun banyak yang mengambil inspirasi dari The Hobbit."

"Dan juga, menurutku buku ini adalah kitab wajib bagi siapa pun yang ingin menulis fantasi," sambung Lady Storytelling. "Pesan moral ada, penuturan enak diikuti, cerita petualangannya asyik, humornya tidak garing, dan yang terutama, karakternya tidak keren sama seperti kita semua. It's a complete zero from hero journey with favorable ending."

Sesudah itu, Lady Storytelling segera memerintah Monky dan Oniyon untuk segera berkemas. 

Senin, 17 Juni 2013

ASSASSIN'S APPRENTICE (FARSEER TRILOGY #1)

✮✮✮✮

Judul Buku : Assassin's Apprentice (Farseer Trilogy #1)
Pengarang : Robin Hobb
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

So, let me tell you a story :

Ada seorang anak haram hasil hubungan one night stand antara seorang pangeran yang bernama Chivalry dengan seorang wanita tak dikenal, dari hubungan itu lahirlah seorang bocah laki-laki. Saat umur 6 tahun, sang bocah dipisahkan dari ibunya dan dibawa secara paksa oleh sang kakek, karena sang kakek tidak mau lagi menanggung beban untuk membiayai kebutuhannya. Jadi si bocah kecil diserahkan kepada istana, tempat ayahnya seharusnya berada. 

Namun karena status si bocah yang tidak sah alias berasal dari hasil hubungan gelap, maka semua orang hanya menganggapnya sebagai anak haram yang tak diinginkan. Fitz, begitulah si bocah akhirnya dipanggil dan selama menjalani kehidupan di istana, Fitz bekerja di istal (kandang kuda), mengurus binatang-binatang milik anggota kerajaan dan para bangsawan  kastel dan selama itu pula dia mengalami berbagai macam penghinaan karena statusnya tersebut dan sebagian orang banyak yang membencinya karena iri hati dan sebagian lagi tidak suka karena menganggap keberadaan Fitz adalah sebuah ancaman bagi tahta kerajaan. 

Hingga akhirnya, pada suatu hari diam-diam Raja Shrewd  yang juga kakek Fitz memerintahkan seseorang untuk melatih Fitz sebagai pembunuh yang bertugas untuk membantu kerajaan mengatasi urusan-urusan rahasia demi kelangsungan kerajaan. Salah satunya adalah masalah serangan perompak yang tidak pernah selesai dan selalu menyerang desa-desa di wilayah Enam Duchy.  Bagaimana cara Fitz bisa membantu kerajaan Enam Duchy mengatasi serangan-serangan perompak ganas yang semakin hari semakin mengancam keutuhan Enam Duchy?

Kesan saya :

Nnggg, saya rada bingung bikin ripiu buku ini, jadi saya rasa cukup segitu aja, silakan baca sendiri, oke. 

*baiklah, baiklah, saya cuma bercanda*
Biasanya kalau saya kesulitan meripiu suatu buku, itu karena :
  1. Ceritanya sih benernya simpel cuma eksekusi plot-nya muter-muter
  2. Ceritanya terlalu rumit, jadi rada ribet bikin ripiunya
Kalau buku ini yang mana? saya ngga akan jawab nomor 1 dan 2, tapi saya akan bilang semua jawaban benar. Jadi inti utama cerita ini simpel, yaitu tentang peperangan antara kerajaan Enam Duchy vs Perompak Kapal Merah. Nah cuma plotnya itu rumit (ngga muter-muter sih cuma) banyak politiknya (ya elah pantes rumit, po-li-tik toh)


Saya baca buku ini sebagai additional challenge dari Fantasy Reading Challenge 2013 yaitu kategori high-fantasy. Cuma meskipun buku ini masuk ke kategori itu, sebenarnya tidak banyak fantasy dalam buku ini (no dragons, no fairy, no elf,  no magic, well maybe the last one, kind of arguable, since "the magic" in this book is not using spell or elemental). Karena penekanan buku ini lebih ke politik seputar istana dan kerajaan. Jadinya untuk pembaca yang berharap fantasi super imajinatif yang bisa bikin terbayang-bayang, lupakanlah, hal semacam itu tidak ada di buku ini. 

Tapi bagi saya, buku ini tetap memberikan banyak informasi dan referensi seputar dunia "high fantasy" hanya saja bukan dalam hal sihir dan mahluk-mahluk anehnya tapi dalam hal politik, taktik dan seni diplomasi. Yang menurut pendapat pribadi saya  justru agak sering terabaikan dalam buku-buku high fantasy (*makanya baca high fantasinya jangan yang tipe YA melulu), karena itu saya memahami apabila action dalam buku ini terkesan kurang. Tambah lagi cara penulisan cerita yang mirip autobiografi, membuat pembaca jadi lambat memahami emosi tokoh utama, karena dia seperti menceritakan kisah masa lalunya daripada kejadian langsung, jadi kita mendapatkan pemikiran dan opini si tokoh utama tapi kita tidak mendapatkan feel dan emosi si tokoh utama, seolah-olah emosi Fitz ini invisible.   

Trus balik ke judul, Assassin's Apprentice, sebelum baca buku ini, saya sempet ngira kalau tipe assassin dalam buku ini seperti yang ada di game-game, itu lho yang seperti ninja, kerjanya sangat mengandalkan kecepatan seperti menyusup, mengintai secara diam-diam lalu membunuh korbannya secara cepat sehingga si korban tidak sempat memberikan perlawanan. Tapi ternyata saya salah lagi, assassin di sini memang ada kalanya seperti itu tapi bukan bekerja dengan ninja style, namun lebih seperti mata-mata dan ahli racun (eh saya ngga sop iler kan). Nah buat saya pribadi, lumayan bisa tambah referensi dan buka wawasan kalau pembunuh yang disebut assassin itu nggak melulu harus main fisik dan kecepatan ala ninja walau intinya tetap sama, yaitu membunuh secara diam-diam.


Trus yang saya suka, pelatihan assassin dalam cerita ini juga bukan digambarkan melalui pelatihan fisik seperti cara memegang pisau atau melempar pisau tapi mengenai bagaimana membaca situasi, mengumpulkan informasi, dan mengambil kesimpulan. Jadi otak kita jadi ikut mikir juga khan. 

Trus kurangnya buku ini :
  1. Boleh dibilang waktu selesai baca buku ini, saya berasa lega banget (kayak udah lama sakit perut dan akhirnya bisa keluar #perumpamaanlebay), karena ini termasuk buku yang tebal (532 halaman dan tulisannya pun padat dan agak kecil). Tapi bukan masalah teknis yang bikin buku ini kurang nyaman bacanya, namun seperti hal-nya Delirium, ada bagian-bagian yang terasa bertele-tele dan membuat saya harus mengeluarkan kesabaran ekstra plus tekad baja untuk tetap fokus supaya perhatian saya ngga teralihkan. Bagi saya lebih baik suatu cerita itu ngawur namun tetap bikin penasaran daripada membosankan dan ketebak. Untungnya masuk persiapan pernikahan dan kerajaan Gunung dan seterusnya, plot cukup menarik. 
  2. That's all? itu adalah reaksi yang saya keluarkan kalau saya merasa ada sesuatu yang kurang dengan cara sebuah masalah diselesaikan. Dengan kata lain terlalu sepele dan kurang megah, padahal konfliknya udah megah dan menghabiskan lebih dari 40 % halaman buku, tapi eksekusi penyelesainnya dibuat terlalu gampang (okay I knew, save it for the sequel but still.....)
  3. Masih ngga ngerti soal Keahlian dan Kecerdasan, penjelasannya masih sangat kurang dan kurang jelas, well maybe for the sequel.... #sigh
But what I like :
  1. Karakterisasi yang kuat, terutama karakter antagonis. Jujur saja, jarang-jarang saya bisa ikutan emosi sama karakter antagonisnya dan si antagonis ini sukses bikin saya gemes dan seandainya bisa, pengen rasanya saya tampar bolak-balik. Mungkin karena selama ini karakter-karakter antagonis di YA yang saya baca walaupun jahat namun masih bekerlakuan cool jadinya ngga sampai bikin saya gemes dan emosi. 
  2. Lesson about politic and diplomacy. Yah ini emang masalah selera, karena banyak juga yang ngga suka karena bikin ceritanya jadi terlalu serius, melelahkan dan kurang asyik. Tapi buat saya pribadi, selama setiap cerita bisa memberikan suatu inspirasi, mengapa tidak. Contohnya, "Lebih baik berani salah daripada berdiam diri" atau "Seorang pemimpin adalah pelayan rakyatnya, dan untuk itu harus benar-benar mengesampingkan kepentingannya".
  3. Peta di bagian awal buku lumayan membantu untuk orang visual macam saya, dan juga pendeskripsian detil tempat-tempat dan orang-orangnya. Saya selalu bayangkan kalau Enam Duchy itu penduduknya seperti orang-orang Italia dan Spanyol (berkulit gelap dan banyak yang berambut gelap), sedangkan Kerajaan Gunung mungkin seperti masyarakat Eropa Utara (macam Russia atau Inggris yang kulitnya lebih bule daripada  masyarakat Eropa Selatan). 

Sayangnya, saya hanya bisa pasrah soal sekuel buku ini, karena saya tidak yakin New Matahati akan menerbitkannya. #malasbacaebook jadilah saya yang penasaran plus ga sabaran ini akhirnya baca wiki dan langsung tau semua endingnya. #carapraktisgakpakerempong #hush #janganditiru
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...