Tampilkan postingan dengan label Dystopia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dystopia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Agustus 2016

UNWHOLLY: SAAT EKSISTENSI MANUSIA MENJADI MASALAH


Judul: Unwholly (Unwind Dystology #2)
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Mery Riansyah
Jumlah halaman: 528 halaman
ISBN: 978-602-03-1807-3
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Dystopia, action, post-apocalypse


Setelah lama menunggu dengan harap-harap cemas, tak ada yang paling menggembirakan saat GPU mengumumkan buku-buku baru yang terbit dan salah satunya adalah Unwholly. Yang boleh terbilang waktu tunggunya cukup lama dari prekuelnya Unwind (terbit tahun 2013). Namun tak perlu khawatir lupa, sebab Neal Shusterman berbaik hati memberikan sedikit ulasan-ulasan penting dalam buku pertamanya, Unwind untuk membantu pembaca mengingat cerita dari buku pertama. 

Unwind salah satu buku YA dystopia favorit saya tahun lalu. Tema yang serius dan dewasa, karakter-karakter yang realistis dan eksekusi cerita yang mengalir alami, sukses membuat saya memberikan 5 bintang untuk Unwind, yang menurut saya salah satu dari sedikit buku YA yang sempurna dalam setiap eksekusinya, mulai dari isu sosial yang dipadukan dengan eksekusi khas YA, pengembangan dan interaksi antar karakter hingga ending yang menurut saya sudah tepat seandainya tidak ada sekuelnya sekali pun. 

Senin, 06 April 2015

CHAMPION: ANOTHER THE HUNGER GAMES WANNABE?

Judul: Champion (Legend #3)
Pengarang: Marie Lu
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Lelita Primadani
Editor: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 457 halaman
Cetakan 1, Maret 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Action, dystopia, science fiction, romance
Harga: Rp. 55.000
Rate: ★★★


"Saat emosi gagal, logikalah yang akan menyelamatkanmu. Kau mungkin iri pada Day, tapi kau tak akan pernah menjadi dirinya dan dia tak akan pernah menjadi dirimu. Dia bukan Elector Republik. Dia hanya seorang pemuda yang melindungi adiknya. Kau seorang politisi. Kau harus mengambil keputusan yang menghancurkan hatimu, yang melukai dan menipu, yang tak ada seorang pun akan mengerti. Itu Kewajibanmu." - June kepada Anden. 

Sinopsis:

Ditemukannya penyebaran virus baru di wilayah perang Koloni mengancam perjanjian damai antara pihak Republik dan Koloni. Pihak Koloni memberikan tenggat waktu kepada Republik untuk menemukan penawarnya atau perang akan kembali pecah. Dan kali ini kemenangan tampaknya akan berpihak pada Koloni, sebab Koloni mendapat bantuan dari sekutu yang kuat yaitu Afrika.

Pihak Republik sudah mencoba semua cara untuk menemukan penawarnya, namun gagal. Satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan meminta bantuan Eden, adik Day, untuk kembali menjadi eksperimen pihak Republik dalam menemukan penawar virus tersebut (antivirus?)

Namun bersediakah Day melepaskan Eden kembali setelah semua yang pihak Republik lakukan pada keluarganya? Pantaskah Republik mendapat pengorbanan nyawa dari Day lagi setelah semua penderitaan yang dialaminya?

Selasa, 31 Maret 2015

THE GIVER: DUNIA YANG TERATUR DAN TERENCANA

Judul: The Giver
Pengarang: Lois Lowry
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman
Editor: Barokah Ruziati
Jumlah halaman: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-0668-1
Cetakan 1, Agustus 2014
Segmen: Remaja, semua umur, middle grade
Genre: Dystopia, drama.
Harga: Rp 48.000
Rate: ★★★★

Bayangkan jika kau hidup di dunia yang segala sesuatunya serba teratur, terkendali, terduga dan tentunya terencana. Bayangkanlah hidup di mana keluargamu sudah ditentukan, kegiatanmu sudah ditentukan, pekerjaanmu sudah ditentukan, kehidupanmu sejak lahir sudah ditentukan, bahkan umurmu juga sudah ditentukan. Orang tuamu sudah dipilihkan, pasanganmu juga akan dipilihkan dan anak-anakmu juga akan dipilihkan. Bahkan kata-kata yang kau gunakan saat berbicara juga harus diatur. 

Jonas hidup dalam komunitas yang damai dan tanpa warna, tanpa emosi berlebihan dan juga tanpa mengenal apa itu rasa sakit. Hal-hal negatif tidak diperkenankan dalam komunitas Jonas. Menjelang usianya yang akan mencapai 12, komunitas Jonas mulai menentukan penugasan bagi setiap anak yang akan menjadi latihan untuk pekerjaan mereka saat dewasa kelak. 

Tapi Jonas tidak mendapatkan penugasan seperti anak-anak lain, karena para tetua dalam komunitas telah memilih Jonas untuk menjadi si penerima ingatan. Penerima ingatan adalah tugas terhormat yang hanya diemban seorang anak nyaris seumur hidup mereka, karena Jonas akan mendapatkan semua ingatan tentang masa lalu yang berisi banyak pengetahuan untuk menambah kearifan. Termasuk ingatan-ingatan yang menyakitkan dan mengerikan yang tidak pernah ada dalam hidup Jonas yang teratur dan tenang.  

Dan saat Jonas menjadi penerima ingatan, ia menjadi tahu mengenai hal-hal mengerikan yang sesungguhnya terjadi dalam komunitasnya yang damai. Karena ingatan telah membuat Jonas mengetahui apa yang sesungguhnya benar dan apa yang tidak. 

Selasa, 17 Maret 2015

PRODIGY: BETTER THAN FIRST BOOK BUT IT'S MORE YOUNG ADULT THAN DYSTOPIA

Judul: Prodigy (Legend #2)
Pengarang: Marie Lu
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Lelita Primadani
Editor: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 467 halaman
ISBN: 978-979-433-806-3
Cetakan 1, Agustus 2012
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, action, romance
Harga: 49.000
Rate: ★★★½

Day dan June berhasil lolos dari cengkraman Republik, pilihan mereka hanyalah meminta tolong kepada kelompok Patriot. Selain karena Tess sudah lebih dahulu ikut dengan kelompok Patriot, Day membutuhkan bantuan untuk mengobati kakinya yang mengalami luka parah dan juga menemukan adiknya Eden yang disekap oleh Republik. 

Namun meminta bantuan pada kelompok Patriot tidaklah gratis. Sebab Patriot menuntut balas jasa dari June dan Day demi menuntaskan misi mereka untuk menggulingkan pemerintahan Republik yang sekarang dipimpin oleh Elector muda yang baru terpilih menggantikan ayahnya, Anden. 

Patriot membutuhkan Day untuk menjadi api pengobar pemberontakan dalam melawan Republik, sementara June bertugas sebagai umpan yang akan menggiring pembunuhan Elector. Day yang membenci Republik dan butuh bantuan Republik untuk membebaskan adiknya langsung setuju, sementara June yang menjadi agen ganda dan bertemu sang Elector, menemukan rahasia kalau Elector Republik yang baru, Anden, tidak seperti para Elector Republik sebelumnya. Anden tidak kejam seperti yang selama ini disangka orang. 

Untuk pertama kalinya sejak kebersamaan mereka, Day dan June harus memilih satu sama lain, siapa yang harus mereka percayai?

Minggu, 01 Februari 2015

ALLEGIANT: THE MOST ANTICLIMAX OF THE TRILOGY

Judul buku: Allegiant (Divergent #3)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan fantasy (Mizan group)
Penerjemah: Nur Aini dan Indira Brianti Asni
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 496 halaman
ISBN: 978-979-433-837-7
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, action
Harga: Rp 65.000
Rate: ★★

Review ini mengandung spoiler. 

Sejujurnya, saya sangat malas bikin review untuk Allegiant. Tapi yah berhubung, buku 1 dan 2 ada reviewnya, rasanya tanggung kalau yang ke-3 tidak ada, jadi sekalian saja saya review supaya lengkap.

Saya beneran bingung sama cerita di Allegiant alias saya tidak tahu ceritanya itu sebenarnya tentang apa sih? Yang saya tahu ceritanya muter-muter, dari perang faksi vs pemberontak terus pemberontak membentuk Allegiant terus berubah ke perang pemberontak vs Biro/pemerintah dan balik lagi jadi perang factionless vs Allegiant. 

Baru kali ini saya baca buku ceritanya tidak terlalu saya ingat, padahal belum 1 jam sejak saya selesai baca, entah apa karena plot dan storytelling-nya gajebo-gak jelas-dipanjang-panjangin atau antiklimaks. Maaf untuk para Initiates kalau saya kasar dan blak-blak-an. Tapi sepanjang saya baca Allegiant, itu bawaannya mengantuk dan bosan terus, sempat mau DNF-Did Not Finished tapi saya paksa supaya tetap baca, padahal buku ini termasuk yang ceritanya action-oriented, tapi karena plotnya muter-muter dan terkesan dipanjang-panjangin untuk beberapa bagian saya membaca fast forward karena saya hanya ingin menyelesaikannya. Sudah plot-nya dipanjang-panjangin, banyak plot hole pula yang kadarnya sudah lewat batas toleransi saya. Untuk yang penasaran cerita Allegiant tapi malas membacanya, saya akan coba ingat-ingat ceritanya.

Minggu, 25 Januari 2015

UNWIND: SAAT MASALAH SOSIAL NYATA MENJADI TEMA DALAM FIKSI DYSTOPIA


Judul: Unwind - Pemisahan Raga (Unwind Dystology #1)
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Mery Riansyah
Editor: Barokah Ruziati
Desain sampul: Martin Dima
Jumlah halaman: 456 halaman
ISBN: 978-979-22-9802-4
Cetakan 1, Agustus 2013
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, thriller, science fiction
Harga: Rp 69.000, bisa dibeli di gramediaonline
Rate:  ★★★★★

"RUU Kehidupan menyatakan bahwa kehidupan manusia tak boleh disentuh sejak masa pembuahan hingga seorang anak mencapai usia tiga belas tahun. 

Namun, antara rentang usia tiga belas dan delapan belas, orangtua boleh memilih untuk secara retroaktif 'menggugurkan' seorang anak.

...dengan syarat  hidup anak tersebut tidak 'secara teknis' berakhir.

Proses seorang anak diterminasi tapi tetap hidup disebut Unwinding-Pemisahan Raga, dan anak itu disebut Unwind.

Saat ini, Pemisahan Raga merupakan hal yang lumrah dan diterima dalam masyarakat. 

Connor Lassiter

Semua orang hanya menganggap Connor anak pembuat masalah, berandalan, tukang bikin onar, tak terkecuali orangtuanya sendiri, yang memutuskan untuk menyingkirkan Connor dengan menjadikannya seorang Unwind. Namun Connor tidak ingin menjalani pemisahan raga dan ia tahu bahwa ia harus lari dan bertahan hidup hingga usianya 18 tahun.

Risa Megan Ward

Risa tinggal di panti asuhan, ia bukan anak yang bermasalah, ia mempunyai sikap yang baik dan cukup berbakat dengan piano. Namun untuk mengurangi beban negara dalam membiayai anak-anak yatim piatu seperti dirinya, mereka memutuskan untuk menyingkirkan Risa dengan menjadikannya seorang Unwind. 

Levi Jedediah Calder

Seumur hidupnya, Lev sudah didogma bahwa dirinya adalah anak persembahan. Yang berarti Lev hidup dengan mengemban misi mulia untuk memisah-misahkan raganya dan memberikan organ-organ tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan. Tidak seperti anak Unwind yang lain, anak persembahan memisahkan raga mereka atas kemauan mereka sendiri. 

Hingga suatu peristiwa, mempertemukan ketiga anak tersebut dan mengubah kehidupan mereka selamanya. 

Beginilah seharusnya fiksi dystopia dieksekusi. 

Rabu, 10 Desember 2014

INSURGENT: FULL IN ACTION BUT WEAK STORYLINE AND BORING PLOTLINE

Judul: Insurgent (Divergent #2)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan Fantasi 
Penerjemah: Nur Aini
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 551 halaman
Cetakan 2, Mei 2013
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia
Harga: Rp 59.000, bisa di beli di bukukita
Rate: ★★½

"Insurgent = Orang yang bertindak sebagai oposisi terhadap otoritas yang mapan, yang tidak selalu dianggap sebagai orang yang suka berperang." ~ hal 478

 Dari Amity ke Candor, kembali ke Dauntless, berkumpul di Abnegation dan menuju Erudite ( this review contain spoiler).

Jumat, 11 Oktober 2013

BOOK REVIEW : LEGEND (LEGEND #1)

✭✭✭
Judul : Legend
Pengarang : Marie Lu
Penerbit : Mizan (Mizan Fantasi)
Penerjemah : Lelita Primadani
Penyunting : Prisca Primasari
Proofreader : Emi Kusmiati
Jumlah Halaman : 382 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa Muda
Genre : Dystopia, Science Fiction, Action
Harga : Rp 55.000


Another action dystopia? pasti pikiran saya langsung membandingkan dengan The Hunger Games. Bukan hanya saya, tapi rata-rata para reviewer di goodreads pun menuliskan hal yang sama, wajarlah karena berkat The Hunger Games, genre dystopia jadi terangkat. Kalau menurut saya dibandingkan dengan Divergent, cerita dalam Legend ini lebih mirip The Hunger Games. Divergent lebih mirip dystopia yang terinspirasi dari pemilihan topi seleksi di Harry Potter. Sedangkan Legend, memiliki kemiripan unsur yang sama dengan The Hunger Games terutama dalam soal politik, media dan propaganda. 

Sebelumnya mari bahas dulu cerita dalam Legend :

Kali ini tidak ada distrik seperti The Hunger Games, tidak ada pembagian faksi-faksi seperti Divergent (mengapa saya hanya bandingkan dengan THG dan Divergent bukan YA lain macam Uglies atau Delirium, karena baik THG maupun Divergent sama-sama YA dengan poros utama action-survival). Bila biasanya setting dystopia mengambil tema setelah masa perang besar, maka Legend tidak perlu menunggu lewat masa perang tapi settingnya terjadi saat perang besar itu sendiri sedang berlangsung. Lebih tepatnya perang saudara di Amerika Serikat. 

Siapa saja yang berperang, yang utama ada 2 wilayah yang saling berperang tetapi sesungguhnya ada 3 pihak yang saling bertikai. Mereka adalah:
  1. Republik untuk wilayah Barat (west coast)
  2. Koloni untuk wilayah Timur (east coast)
  3. Patriot (pihak pemberontak yang menentang pemerintahan Republik)
Setting mengambil tempat di Republik. Berhubung keadaan sedang perang, maka negara banyak menggunakan rakyatnya untuk dijadikan tentara. Untuk itu mereka butuh manusia-manusia dengan genetik yang bagus. Oleh karenanya setiap anak-anak di wilayah Republik yang telah berusia 10 tahun harus mengikuti ujian untuk mengetest kemampuan mereka. Anak-anak tersebut menjalani suatu ujian untuk menguji kekuatan fisik dan kecerdasan otak mereka. 

Hasil dari ujian ini terbagi dalam 4 tingkatan nilai untuk kelayakan lulus, yaitu:
  1. Score 1500. Nilai yang sangat sempurna dan sangat teramat jarang ada anak yang mendapatkannya.
  2. Score 1450-1499. Nilai yang sangat baik dan cukup untuk jaminan modal hidup layak hingga tua di Republik, selain itu anak-anak yang mendapat score ini nantinya akan bekerja langsung pada pemerintah, dalam hal ini Republik. 
  3. Score 1250-1449. Nilai yang lumayan untuk hidup berkecukupan dan mendapatkan akses pendidikan. 
  4. Score 1000-1249. Nilai pas-pasan, tidak mendapat akses pendidikan dan biasanya akan bekerja sebagai buruh pabrik.
Dibawah itu maka tidak lulus. Apa yang terjadi kalau tidak lulus? Maka anak-anak tersebut akan dikirim ke kamb buruh dan tidak pernah dikembalikan lagi ke keluarga mereka.

So here the characters :

Ada 2 sudut pandang di sini. Sudut pandang Day dan sudut pandang June. Jadi cerita bakal selang-seling antara Day dan June.

Day adalah seorang anak lelaki 15 tahun yang selama ini menjadi buronan Republik. Day telah banyak melakukan tindakan kriminal melawan Republik seperti merusak fasilitas-fasiltas militer milik Republik. Hingga suatu hari Day melakukan kejahatan yang sangat besar, yaitu membunuh salah satu komandan tinggi militer Republik yang bernama Metias. Namun walaupun menjadi buronan paling dicari, Republik tetap gagal menangkap Day. 

June adalah seorang anak perempuan jenius berusia 15 tahun kesayangan Republik. Bukan hanya itu saja, June juga adalah adik satu-satunya Metias dan Metias adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki June sejak kedua orang tua mereka meninggal. Karena itu June sangat sedih dan marah saat tahu seorang buronan Republik telah membunuh kakak tersayangnya. Dengan semangat membalas dendam, June berniat membantu Republik dalam  memburu Day untuk membalaskan kematian kakaknya. 

Berhasilkan June menemukan pembunuh kakaknya tersebut?

Sekarang saatnya pembahasan :

Saya banyak mendengar review positif mengenai Legend dan berhubung saya masih penasaran dengan tipe action-dystopia, saya putuskan untuk membeli bukunya. Sayangnya tampaknya ekspektasi saya terlalu berlebih mengenai Legend. 

Bukunya tidak jelek, penulisannya cukup oke. Hanya saja saya tidak merasakan keseruan yang bikin saya penasaran seperti saat saya membaca THG, saya tidak tahu apakah karena saya mulai merasa bosan sama buku-buku bertipe action-dystopia atau memang eksekusi cerita dalam Legend yang kurang seru. Maksud kurang seru di sini adalah tidak menimbulkan efek penasaran saat membacanya. Dan kembali ke kalimat di awal review, saya membutuhkan hingga 200 halaman untuk bisa merasakan intensitas cerita meningkat dalam Legend. Atau lebih tepatnya saat bagian 2 dimulai. 

Sejujurnya dibanding Divergent, konsep dystopia dalam Legend ini lebih masuk akal menurut saya. Tapi (masih menurut saya) penuturan Veronica Roth di Divergent lebih seru, karena sejak awal sudah terasa intens. Balik ke Legend, di mana saat negara sedang perang, maka masyarakatnya banyak yang dijadikan prajurit. Dan untuk menjadi prajurit yang tangguh maka dibutuhkan gen-gen yang terbaik. 

Hanya saja, saya rasa Marie Lu sebaiknya tidak menggunakan 2 POV karakter untuk novel pertamanya ini. Mana dua-duanya menggunakan 1st person POV. Karakter Day dan June sendiri lumayan mirip. Penuturan Day lebih terlihat insecure sedangkan June lebih confident dan tenang. Tapi selain itu mereka mirip. Day digambarkan tampan, heroik, tangguh, cekatan, cerdas begitu pula dengan June yang cantik, cerdas, gesit pokoknya mereka berdua itu digambarkan keren deh. Dulu karakter flawless itu terlihat keren di mata saya tapi sekarang karakter flawless itu membosankan. Saya tidak merasakan strugglenya June saat harus memilih antara hal yang selama ini dipercayainya dengan kenyataan baru yang mengejutkannya. Begitu pun dengan karakter-karakter pendukung lain yang dikorbankan pengarang, saya hanya merasa angin lalu saja. Tidak ada efek sedih atau kehilangan.

Saya pernah menuliskan kalau memakai 1st person POV sebaiknya buat karakternya semenarik mungkin untuk menghindari penuturan yang terkesan terlalu 'rapih'. Saya rasa inilah yang membuat saya agak bosan dengan 200 halaman pertama. Tidak ada celutukan sarkasme dan humor baik dari Day atau June. Okelah kalau pun kondisinya tegang tapi kan tetep bisa, ciuman saja bisa masa sedikit humor tidak ada.

Entah apakah memang kebetulan atau terinspirasi, tapi karakter Day mengingatkan saya akan Robin Hood. Yang membuat saya kesulitan membayangkan wajah Day itu karena deskripsinya yang katanya berambut pirang platina dengan mata biru tapi wajah asia. Bagaimana itu membayangkannya? Bagi saya sih jatuhnya tetap bule. Masa iya saya harus membayangkan aktor K-Pop mewarnai rambut menjadi pirang dan memakai lensa kontak biru. OK, saya membayangkan Eiji Wentz, walau dia sebenarnya sudah tua, 28 tahun, tapi mukanya imut kok.


Kalau June, saya membayangkan si cantik Hailee Steinfield.

Kalau untuk pemeran Metias, kakak June, menurut pengarangnya itu (yah menurut pengarangnya langsung, bukan saya), yang cocok adalah Ben Barnes (selera Marie Lu bagus juga #eh)

Trus balik ke unsur yang bikin 'kurang penasaran'  saya rasa karena bagian 1 terlalu lama alias muter-muter. Seharusnya bagian 1 lebih dipadatkan, pertemuan Day dan June boleh dipercepat. Dan mungkin balik lagi ke masalah POV. Menurut saya daripada multiple 1st person POV selang seling, lebih baik bagian 1 POV June, bagian 2 POV Day dan tambah bagian 3 untuk POV June lagi.

Nah sekarang yang mau saya bahas terakhir adalah cover buku terjemahan, eng-ing-eng. Kesan pertama saya saat melihat cover terjemahannya adalah, "Alamak!" Warnanya itu lho sukses bikin mata jadi siwer (saya bersedia jadi relawan untuk tim artistik desain cover Mizan, saya memang bukan mahasiswa desain tapi saya tahu mana yang eye candy dan mana yang eye messy).

Coba bandingkan sama cover aslinya yang elegan dengan warna dasar silver dan bintang emas simbol militer, lengkap dengan kilauan sinar peraknya di tengah-tengah simbol. Seandainya Mizan cetak ulang dengan cover asli, saya mau beli lagi deh, karena cover aslinya keren.
Eniwei, saya pasti akan baca buku keduanya kok , Prodigy :D

Minggu, 31 Maret 2013

DELIRIUM (DELIRIUM #1)

✮✮✮✮
Judul Buku : Delirium
Pengarang  : Lauren Oliver
Penerbit     : Mizan
Jumlah Halaman : 518 Halaman
Penerjemah : Vici Alfanani Purnomo
Segmen : Remaja, Dewasa Muda
Genre : Dystopia

"Aku mencintaimu. Ingat. Mereka takkan bisa mengambilnya. " ~hal 515

"Kau takkan bahagia kecuali kau pernah merasa tak bahagia, kau tahu?" ~hal 34

Jadi kuberitahukan kau suatu cerita :

Pernahkan kau membayangkan kalau cinta itu adalah sebuah penyakit berbahaya? Dimana gejala-gejalanya adalah :

STADIUM SATU :
kegirangan; sulit berkonsentrasi
mulut kering
banyak berkeringat, telapak tangan berkeringat
pusing dan bingung
berkurangnya kesadaran mental; pikiran yang berpacu; hilangnya kemampuan menalar

STADIUM DUA :
periode euforia; tertawa histeris dan energi yang meluap-luap
periode putus asa; lesu
perubahan nafsu makan; penurunan atau penambahan berat badan yang cepat
keterpakuan terhadap satu hal; kehilangan minat terhadap hal-hal lain
kerusakan kemampuan logika; penolakan realitas
kacaunya pola tidur; insomnia atau kelelahan terus-menerus
pikiran dan tindakan yang obsesif
ketakutan berlebihan, cemas

STADIUM TIGA (KRITIS) :
sulit bernapas
nyeri di dada, tenggorokan, atau perut
sulit menelan; tidak mau makan
kehilangan akal sehat; tingkah laku yang tidak konsisten; pikiran dan fantasi yang bengis; halusinasi dan delusi

STADIUM EMAPT (FATAL) :
kelumpuhan emosi atau fisik (sebagian atau total)
kematian

Lena hidup dalam dunia yang dihantui oleh suatu penyakit yang bernama Amor Deliria Nervosa namun Lena tidak perlu khawatir lagi, sebab pada saat itu penawarnya sudah ditemukan dan setiap orang yang berusia 18 tahun akan menjalani prosedur berupa operasi agar mereka dapat disembuhkan dari penyakit cinta dan setelah disembuhkan mereka akan selalu merasa damai dan bahagia. 

Lena hidup dengan mempercayai CINTA adalah sebuah penyakit, namun beberapa minggu sebelum dia menjalani prosedur penyembuhan, hal yang tidak pernah diduga Lena terjadi padanya, hal yang tidak pernah diinginkannya, yaitu Lena mengalami jatuh cinta. 

Deliria menguasai Lena begitu hebat, membuat semua yang selama ini dipercayai dan menjadi pedoman hidupnya seolah runtuh dan terbalik, dan satu hal pasti Lena justru mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya saat dia jatuh cinta atau terinfeksi dengan Deliria bersama.... Alex. 

Kesan Saya :

Saya baca versi lokal dan dalam versi lokal, ada beberapa premis di cover seperti ini :

"Versi distopia Romeo and Juliet yang layak menjadi sebesar Twilight."
"Kombinasi antara The Handmaid's Tale dan Twilight...."

Jujur yah baca premisnya, reaksi saya seperti ini  :




Oke, saya paham, lagi-lagi strategi marketing untuk menarik para Twihard, tapi sejujurnya, saya harap untuk berikutnya setiap novel YA dengan genre romance cukup pede untuk tidak menambahkan embel-embel Twilight version of bla-bla. Karena menurut saya pribadi, Twilight bahkan tidak cukup bagus untuk sebuah novel romance (sorry, just my humble opinion) dan tidak semua pembaca YA menyukai romance menye-menye dan dangkal ala Twilight. 

Ok, back with review :

Sejujurnya karena premis Twilight ala distopia, saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa waktu awal membaca novel ini. Selain itu yang membuat saya merasa bosan adalah deskripsi   yang terlalu detil dan panjang, dengan kata lain terlalu banyak penjelasan yang tidak perlu, macam saat suasana hati Lena sedang gelisah atau marah, pengarang juga menambahkan penggambarannya melalui perumpamaan cuaca, pemandangan, alam, dll. Oke, maksudnya mungkin agar terkesan puitis karena ini novel romantis, tapi bagi saya yang gemar berimajinasi, yang ada malah merasa terganggu, tidak fokus dan teralihkan. 

Untuk setengah bagian pertama buku, cerita cenderung lambat dan tampak normal (tidak ada sesuatu yang benar-benar "intense"), persahabatan Lena dan Hana, hari kelulusan, rutinitas Lena sehari-hari sebelum prosedur dan ditambah lagi gaya penulis dalam mendeskripsikan segala sesuatunya yang kadang terlalu panjang dan bertele-tele, membuat saya merasa bosan membacanya. Jadi saya awalnya berpikir, "The story is okay, I will rate this book 3 stars."




too much unnecessary description, maybe I will give 3 stars.

Lalu memasuki pertengahan cerita saat Lena dan Alex mulai saling pacaran diam-diam. Cerita lebih menarik, seperti informasi mengenai alam liar dengan gaya hidup ala hippie  atau seniman bohemian. Juga yang menarik adalah pengembangan karakter Lena, dari yang tadinya gadis biasa-biasa dengan low self esteem, menjadi rebel dan yang saya suka disini adalah meskipun jatuh cinta, Lena tidak melupakan BFF-nya Hana. Selain itu, saya suka bagaimana pengarang membuat kita menyukai karakter Alex melalui interaksi Alex dan Lena. Jadi pengarang tidak memberitahukan bahwa betapa perhatian, baik dan tidak sombongnya Alex untuk membuat pembaca menyukainya. Ini adalah salah satu contoh dari istilah "show it and don't tell" dan yang terpenting, Alex tidaklah digambarkan sebagai karakter yang sempurna ala Gary Stu. Flawless character is boring, isn't it?



I'm enjoying the story so far, I will rate 3 stars and half. 

Tapi menjelang ending, inilah reaksi saya :



this is so intense, I'm sleepy but I cannot put the book because I'm too curious to find out what will happen next. 

Dan hanya ada SATU KATA untuk endingnya : KLIMAX



why the book ending is like that? but that's way I LIKE IT, cannot wait for the sequel. 

Sekiranya saya tuntas dalam melaksanakan target saya untuk membaca 2 genre distopia sebagai tema reading challenge bulan Maret. Saya baca Divergent dan Delirium, dan tidak pernah saya terpikir untuk mengatakan ini, mengingat awal-awal Divergent adalah my kind of genre (action and fantasy) sedangkan Delirium adalah my second alternate genre because I only like romance as a spice. Namun setelah saya selesai membaca dua-duanya, saya rasa sebagai keseluruhan cerita, saya lebih menyukai Delirium, (I didn't said it's better but I prefer). Lauren Oliver membuat sebuah plot cerita yang baik : slow and detail at the beginning - interesting in the middle - intense near the end - climax ending. 

Review cover : Saya lebih suka yang aslinya, simpel dan tidak terlalu banyak main warna, yang versi Indonesia menurut saya agak norak dan seolah dibuat agar terkesan futuristik distopian, yang sebenarnya tidak perlu (IMO), I like simple and elegant, but it just my personal taste.

Terjemahan : bagus (luwes dan mengalir), saya tidak tau apakah ada typo, tapi kalau saya sampai tidak tau atau tidak merasakan ada typo, saya kira itu hal yang bagus :D

Pertanyaan selanjutnya : Kapan sekuelnya mau diterbitkan?

Is the story better than Twilight ? Are you kidding me ?

This is really good story compared with a girl who fall in love with sparkling vampire. And  let's stop said everything are better than Twilight. We make ourselves like a hater.  


Sumber gambar gif :

- monkey emoticon : www.laymarks.com
- gif lain adalah buatan saya dengan menggunakan gif generator, video diambil dari youtube (Vampire Sucks dan Hotel Transylvania) :D


bye-bye

Jumat, 15 Maret 2013

DIVERGENT (DIVERGENT #1)

✮✮✮½
Judul Buku : Divergent
Pengarang  : Veronica Roth
Penerbit     : Mizan Fantasy (Mizan Group)
Penerjemah: Anggun Prameswari
Jumlah Halaman: 543 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa Muda
Genre: Dystopia, Science Fiction
Harga: Rp 41.300 (beli di www.mizan.com, promo 30% off)

"Kami yakin akan tindakan yang berani, dalam keberanian yang mendorong seseorang untuk membela yang lainnya." ~ Will, hal 235

"Tapi, kita hanya perlu membiarkan rasa bersalah itu menjadi pengingat agar kita menjadi lebih baik." ~ Four, hal 354

Jadi ceritanya :

Dengan bersetting di Chicago era setelah kehancuran akibat perang nuklir, sistem pemerintahan dan politik terbagi atas lima faksi yang dibuat berdasarkan sifat-sifat terbaik manusia, lima faksi tersebut adalah :

Amity : Bagi mereka yang cinta damai
Erudite : Bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan
Candor : Bagi mereka yang menghargai kejujuran dan tidak suka berbohong
Abnegation : Bagi mereka yang ingin membantu sesama dan tidak egois
Dauntless : Bagi mereka yang pemberani

Beatrice Prior berasal dari faksi Abnegation dan selama hidupnya dia diajarkan untuk selalu bertindak tanpa pamrih, tidak egois dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Namun selama ini Beatrice selalu merasa tidak yakin bahwa dia adalah seorang Abnegation, karena dia merasa dalam dirinya ada sifat egois yang justru sangat bertentangan dengan prinsip Abnegation yang tanpa pamrih. 

Sebelum upacara pemilihan, Beatrice di test terlebih dahulu untuk melihat faksi mana dia cocok, namun hasilnya sangat mengejutkan, karena Beatrice mempunyai sifat 3 faksi yaitu Abnegation, Erudite dan Dauntless yang juga menunjukkan dia seorang Divergent, yang menurut pengawas testnya, hal itu sangat berbahaya apabila sampai diketahui oleh orang lain dan menasehati Tris untuk menyimpan rapat-rapat rahasianya. 

Saat upacara pemilihan, Beatrice pun memilih untuk meninggalkan Abnegation dan bergabung bersama Dauntless dan mengganti namanya menjadi Tris. Setiap anak yang telah memilih faksi akan menjalani suatu ujian inisiasi dan baru benar-benar diterima oleh faksi-faksi tersebut apabila telah lulus ujian inisiasinya. Tris tak pernah mengira kalau ujian inisiasi Dauntless ternyata sangat berat, keras dan brutal. Namun pilihan Tris hanya dua, apabila ia mundur dan menyerah, maka dia akan menjadi factionless dan pilihan lainnya tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk meyelesaikan inisiasi Dauntless yang kadang kejam dan tak kenal ampun. 

Kesan saya :

Jadi ini toh novel distopia yang heboh itu dan katanya memiliki cita rasa The Hunger Games. Yang kalau menurut saya ngga sepenuhnya tepat. Kalau menurut saya Divergent ini 3/4 cita rasa Harry Potter dan 1/4 cita rasa The Hunger Games. Mengapa saya bilang cita rasa Harpot? karena mungkin faksi-faksi di Divergent ini mengingatkan saya akan asrama-asrama di Hogwarts. Dauntless, alih-alih mirip Griffyndor, lebih mirip seperti Slytherin, karena pakaian mereka yang hitam-hitam dan markas mereka yang remang-remang gelap. Bahkan sifat dingin para Dauntless juga mengingatkan saya akan Slytherin. 

Kalau secara selera pribadi, saya lebih berharap Tris memilih faksi lain macam Erudite secara saya mungkin bosan akan faksi yang sifat kekuatannya lebih ke fisik, karena sepertinya latihan dan kekuatan fisik sudah terlalu sering dipakai dalam genre YA, namun saya rasa pengarang sengaja memilihkan faksi Dauntless untuk Tris agar kita mendapatkan kick-ass heroine yang bisa berantem dan tidak sampai menjadi Damsel in Distress yang bergantung pada heronya. 

Awal-awal saya sempat bingung saat baca-baca review mengenai Divergent, karena rasanya aneh melihat pemerintahan yang dibentuk berdasarkan prinsip 5 sifat terbaik manusia, karena  sifat dan karakteristik manusia itu kan jauh lebih rumit dan kompleks daripada sekedar, cinta damai, cerdas, jujur, ngga egois dan pemberani. Namun anggap saja 5 sifat faksi tersebut mewakili garis besar dari sifat positif manusia dan juga nantinya berguna dalam mencari pekerjaan yang cocok berdasarkan sifat faksi.

Oke, balik ke Tris dan Dauntless. Ternyata sifat pemberani bagi Dauntless itu  berarti tindakan nekad, kekerasan, penampilan ala punk dengan banyak tato dan tindikan di badan plus baju hitam. Waktu baca mengenai inisiasi Dauntless, saya langsung tau kalau faksi Dauntless itu ngga beres.  Dan karena itulah novel ini disebut Distopia, ada sistem yang tidak beres dan sebagian orang-orang yang tidak puas dengan sistem dan keadaan tersebut. Bukan cuma Dauntless saja, bahkan faksi lain macam Abnegation, dalam beberapa hal saya rasa sangat berlebihan dalam menjalankan prinsipnya (macam dilarang melakukan sesuatu yang sifatnya menyenangkan diri sendiri seperti bercermin untuk melihat penampilan). Sedangkan Erudite, yah saya belum terlalu mendalami Erudite secara dibuku pembahasannya juga ngga banyak, selain daripada mereka berusaha membuat diri mereka terlihat pintar dengan memakai kacamata dan Tris menggambarkan mereka sombong dan serakah. Saya rasa negatifnya Erudite, mungkin karena mereka menganggap diri mereka sekumpulan orang cerdas, maka mereka berpikir bisa manipulatif terhadap faksi lain. Highlight to view spoiler jadi dari sini kita bisa mengambil kesimpulan kalau permasalahan faksi-faksi ini adalah pengertian Erudite, Abnegation, dan Dauntless yang dalam cerita ini diartikan secara dangkal dan lebih digambarkan sebagai tampilan luar.   Untuk Amity dan Candor, saya belum tau karena baru akan dibahas di buku berikutnya, Insurgent.

Secara karakter, Divergent, oke-oke saja menurut saya, saya tidak merasa suka atau benci tapi biasa saja (tidak merasa empati maupun simpati) dan tidak berkesan apa-apa, namun justru saya menangkap kesan tidak konsisten dari cara pengarang menggambarkan Tris dan Four. Terutama Tris yang penggambarannya tidak konsiten, sebentar rapuh, sebentar kuat, sebenar dendam, sebentar simpati. sebentar kangen keluarga, sebentar senang meninggalkan rumah, yah mungkin maksud pengarang Tris ini emosi dan pikirannya labil karena terlalu banyak mikir ini dan itu. Sedangkan Four ini sebentar hot dan sebentar cold, mungkin maksud pengarang karena Four ini harus memainkan kartunya dengan baik sebagai pacar Tris sekaligus instrukturnya. Four ini sedikit mengingatkan saya sama Dimitri dari Vampire Academy-nya Richelle Mead, mungkin karena sama-sama pengajar dan love interest dari heroine-nya. 

Untuk karakter lain highlight to view spoiler sebenarnya saya agak menyayangkan fungsi mereka yang hanya sebatas pengisi hari-hari Tris selama inisiasi Dauntless. Saya suka Albert yang rapuh dan saya sempat mengira kalau dia itu gentle giant tapi ternyata saya salah, karena pengarang membunuh karakternya dan agar pembaca tidak merasa simpati, pengarang membuatnya melakukan perbuatan tercela. Sedangkan dua teman Tris yang lain, Christina dan Will, tadinya saya berpikir, mereka ini akan menjadi Ron dan Hermione-nya Tris (Christina sebagai Ron dan Will sebagai Hermione) ternyata lagi-lagi pengarang tega membunuh salah satunya dan cara matinya pun begitu saja. Padahal akan seru kalau Tris, Christina dan Will tetap bersama secara mereka berasal dari latar belakang faksi yang berbeda-beda. 

Sekarang untuk cerita atau story arc buku pertamanya. Saya suka cara pengarang menuturkan ceritanya yang membuat saya selalu penasaran akan halaman berikutnya, hanya saja cara pengungkapan misteri atau story arc-nya menurut saya agak predictable. Yaitu mengenai 1. highlight to view spoiler  Apa itu Divergent? yang bila pembaca cukup jeli maka akan menyadarinya saat ujian inisiasi Tris tahap 2. Karena disini dikatakan kalau Divergent itu bisa memanipulasi simulasi  dan lebih diperjelas saat Tris tak sengaja mencuri dengar pembicaraan Eric dan Jeanine, yang menyebut Divergent sebagai pemberontak (hal 313) . Dan simulasi ini diberikan lewat suntikan serum. Bagi mereka yang Divergent maka mereka tidak terpengaruh oleh simulasinya dengan kata lain para Divergent ini memiliki keistimewaan berupa immune atau kekebalan terhadap serum pengendali otak yang diciptakan oleh faksi Erudite. 

Yang ke-2. highlight to view spoiler perang antar faksi atau lebih tepatnya saat faksi yang satu tidak puas dengan faksi lain yang memimpin mereka. Awalnya saya kira Dauntless yang akan mengkudeta pemerintahan Abnegation secara Dauntless ini ibaratnya militer atau departemen pertahanan, jadi mereka yang paling punya modal(skill, fisik, senjata) buat memberontak, namun ternyata Dauntless di sini lebih cenderung fisik gede tapi otak gampang dimanipulatif. Jadi musuh atau faksi antagonis disini adalah Erudite alih-alih Dauntless. 

Overall, Divergent buku yang bagus, mungkin beberapa plot dalam buku memang masih perlu dipertanyakan tapi saya rasa tidak ada buku yang sempurna. Veronica Roth membangun ceritanya dengan baik dan bisa membuat pembacanya penasaran, sehingga saya tidak menemui kendala kebosanan yang bikin saya lambat baca atau menunda-nunda untuk melanjutkan, bagi saya itu saja sudah mendapat 3 bintang. Sedangkan 1/2 bintang lagi karena buku ini memiliki cukup banyak kutipan-kutipan menarik serta element ketegangan dan emosi yang tidak datar. 

Dan sudah pasti saya akan membaca sequel lanjutannya Insurgent. 

Kamis, 07 Februari 2013

INCARCERON (INCARCERON #1)

✮✮✮½

  • Judul Buku : Incarceron
  • Pengarang  : Catherine Fisher
  • Penerbit     : Matahati
Sinopsis : 

Ada sebuah penjara bernama Incarceron, dan Incarceron ini bukan penjara biasa, karena Incarceron adalah sebuah dunia tersendiri, karena dalam Incarceron ada pasar, hutan logam, kota, lautan dan berbagai jenis mahluk hidup, mulai dari manusia dan binatang biasa sampai manusia dan binatang campuran hasil dari sistem Incarceron. Selain itu yang lebih unik, Incarceron juga hidup. Ya, Penjara tersebut memiliki AI atau Artificial Intelligent, di mana ia bisa melihat, berpikir, merasakan mahluk-mahluk yang ada dalam tubuhnya yang dipanggil anak-anak Incarceron dan ia juga bisa berbicara. 

Finn, salah satu dari sekian ribu tawanan yang menjadi penghuni Incarceron selalu merasakan dirinya berasal dari luar dan meyakini bahwa ada dunia di luar Penjara. Selain Finn ada juga Claudia, dan tidak seperti Finn, Claudia tidak tinggal di dalam penjara, dia hidup di luar Incarceron, namun Claudia merasa terpenjara akibat protokol, tatanan politik dan sistem sosial yang dianut pada saat itu, bahkan pernikahannya pun sudah diatur. 

Finn ingin keluar dari Incarceron, karena meyakini ada suatu dunia yang indah diluar sana, dunia dengan bintang-bintang, dan kehidupan di Penjara sendiri hanyalah  penderitaan, kesakitan, kemalangan, kelaparan dan kekejaman karena itulah Finn memutuskan untuk mencari jalan keluar dari Penjara bersama-sama dengan Keiro, saudara angkatnya yang tampan, berpenampilan necis tapi culas dan Gildas yang keturunan kaum Sapient dengan berbekal sebuah kunci yang diyakini akan menuntun mereka menuju pintu keluar Incarceron. 

Sementara Claudia sendiri menemukan sebuah kunci di ruang kerja ayahnya dan Claudia yakin kalau dengan kunci tersebut dia bisa menemukan gerbang masuk Incarceron, tapi sebenarnya apakah yang Claudia cari sampai ia ingin memasuki Penjara?

Kesan saya :

Salah satu buku yang bacanya perlu fokus supaya ngga bingung. Sekiranya itulah yang saya rasakan di bab-bab awal, saya banyak menerka-nerka beberapa istilah macam kaum Civicry (civilian?), kaum Scum (para penjahat, atau orang-orang tidak bermoral alias bejat, kira-kira seperti itulah kalau menurut Urban Dictionary) terus ada kaum Sapient (orang-orang pintar/cendekiawan/ilmuwan). Jangan harap ada penjelasan macam catatan kaki atau bahkan penjelasan narasi --> so you must figure it out by yourself.

Oke, sekarang dari segi cerita, menurut saya Incarceron adalah salah satu cerita dengan tema yang inovatif, mengapa saya bilang inovatif, karena temanya tentang penjara yang hidup dan punya sistem tersendiri, dan sepanjang cerita kita dibuat menerka-nerka sampai seluas mana penjara ini, mengingat di dalamnya bagai sebuah dunia lain yang lengkap dengan kota dan komunitas masyarakatnya. Dan satu-satunya cara untuk keluar penjara adalah dengan kunci yang ditemukan oleh Finn, dan kalau ada kunci pasti ada lubang untuk memasukkan kunci tersebut atau gerbang yang menghubungkan dunia luar dengan Incarceron yang hanya bisa dibuka dengan kunci, tapi ternyata...
Not as you're expectation (highlight to view spoiler)

Karena cara untuk keluar Incarceron ternyata sangat mudah, tidak butuh gerbang atau lubang kunci, cukup tekan suatu tombol dalam kunci itu sendiri. Entah apakah tokoh utama yang terlalu ceroboh atau bodoh atau memang ini adalah bagian dari plot twist pengarang sendiri, karena saat para pembaca berpikiran sama dengan semua tokoh di Incarceron yaitu mencari pintu masuk / keluar penjara dan ternyata metode yang digunakan adalah sejenis teleportasi. 


Dan bagaimana dengan letak Incarceron sendiri, jawabannya adalah nontonlah ending Man in Black 2 karena perumpamaannya seperti itulah letak Incarceron. 

Terus bagaimana dengan karakter-karakternya? Untuk karakter-karakernya, Incarceron cenderung tipikal, ada nice guy Finn (dan saya membayangkan muka Finn ini mirip dengan Finn Hudson yang dari serial Glee, secara emang sama-sama baik hati, naif dan juga terkadang bodoh dan lugu) lalu ada saudara angkat Finn yang bad boy yaitu Keiro, lalu gadis bangsawan angkuh, Claudia (yang masuk ke Incarceron demi kepentingan pribadi) lalu Jared, guru Claudia yang pintar tapi sakit-sakitan dan Gildas dan 1 tokoh lagi, tapi lebih baik tidak saya sebut karena spoiler. Yah saya tidak akan komen soal karakter karena menurut saya secara general masih oke walaupun standar, pengecualian untuk Incarceron, si penjara yang menurut saya secara karakter justru paling menarik. 

Biasanya saya suka karakter yang tradisional hero dalam artian baik hati, ramah, suka menolong dan jujur tapi untuk Incarceron ini saya lebih pilih Keiro. Daripada sama Finn-Claudia, saya membayangkan mungkin interaksi Keiro dan Claudia lebih menarik untuk dilihat. Ya masih ada buku kedua yaitu Sapphique, moga-moga ada penerbit yang berminat menerbitkan sequelnya, karena walaupun secara story arc sudah selesai tapi misi masih belum tuntas

Jumat, 28 Desember 2012

UGLIES (UGLIES #1)

✮✮✮½
  • Judul Buku : Uglies
  • Pengarang   : Scott Westerfield
  • Penerbit       : Matahati
Sinopsis : 

Ini adalah sebuah cerita tentang masa depan, tentang masa depan di mana seseorang dilihat dari fisik dan wajahnya. Tentang masa depan di mana manusia terdiri dari 3 kaum, yaitu kaum buruk rupa, kaum rupawan dan kaum spesial.

Semua manusia yang lahir ke dunia adalah buruk rupa, namun saat mereka mencapai usia 16 tahun, para manusia ini akan mengalami perombakan total secara fisik, di mana setiap senti tubuh mereka akan dioperasi, mulai dari tubuh bagian bawah seperti kaki hingga tubuh bagian atas macam wajah, bahkan tulang-tulang mereka pun ikut dioperasi demi mendapat hasil fisik yang proporsional, kulit wajah mereka pun dioperasi agar bisa terlihat halus dan mulus. Nantinya para manusia yang telah dioperasi akan menjadi tampan dan cantik dan mereka akan disebut kaum rupawan.

Tally Youngblood tidak sabar menunggu ulang tahunnya yang ke-16, di mana dia akan segera memasuki kehidupan kaum rupawan. Setelah lama menjadi kaum buruk rupa, bagi Tally, menjadi kaum rupawan bukan hanya berarti wajah yang cantik tapi juga kehidupan yang menyenangkan karena setiap harinya akan penuh dengan pesta-pesta. 

Sebelum dioperasi, Tally tinggal di suatu tempat asrama bersama-sama dengan anak-anak buruk rupa lainnya yang sedang  menunggu saat waktunya tiba bagi mereka untuk dioperasi menjadi kaum rupawan. Di sini Tally bertemu dengan Shay yang sesama kaum buruk rupa, namun berbeda dengan Tally yang begitu bersemangat dan tidak sabar untuk segera menjadi rupawan, Shay tidak tertarik untuk menjadi kaum rupawan dan sebelum sempat dioperasi, Shay sudah melarikan diri. 

Utusan kaum spesial datang ke asrama tempat Tally saat mengetahui hal tersebut, kaum spesial adalah rupawan bengis, mereka tidak hanya rupawan tapi juga sangat kuat dan menakutkan. Kaum spesial tidak senang mengetahui bahwa Shay berhasil kabur dan juga mengajak beberapa anak buruk rupa untuk tetap menjadi buruk rupa. Mengetahui bahwa Tally dan Shay berteman, mereka memerintahkan Tally untuk mencari Shay. Tally ingin menolak namun diancam bila ia tidak mau bekerja sama, maka Tally tidak akan diijinkan menjalankan operasi dan selamanya Tally akan menjadi kaum buruk rupa. 

Tidak punya pilihan, Tally pun terpaksa pergi mencari Shay ke alam bebas, ke tempat-tempat yang tidak pernah Tally pikir akan ia datangi dan menemukan ada banyak hal yang tidak pernah Tally duga akan ia jumpai.

Kesan saya (mengandung spoiler)

Baca buku ini rasanya seperti gado-gado, ada bagian-bagian yang seru, ada bagian-bagian yang membosankan dan bikin lama bacanya, ada bagian-bagian yang bikin mengerutkan kening. Ada bagian-bagian yang tidak masuk akal. 
  
Secara keseluruhan buku ini cukup menarik, ide cerita cukup orisinal dengan tema pembagian golongan atau kelas dalam masyarakat saat itu berdasarkan rupa & fisik. Jadi pemerintahan dalam universe Uglies "mengendalikan" masyarakatnya dengan memberikan mereka fisik rupawan dan kehidupan yang menyenangkan seperti pesta-pesta dan juga orang-orang tidak perlu bekerja keras agar masyarakatnya gampang diatur. Tapi bagaimana mungkin hanya dengan rupa cantik dan pakaian bagus serta makanan yang cukup akan membuat manusia puas?

Review saya yang berikut adalah spoiler, silakan highlight bila Anda ingin baca.

Rupanya operasi yang dilakukan untuk mengubah kaum buruk rupa menjadi rupawan saat mereka berusia 16 tahun juga termasuk operasi untuk mengubah cara kerja otak. Operasi tersebut membuat para kaum rupawan baru berpikiran dangkal dengan pola pikir mereka adalah manusia sempurna dan hanya perlu untuk bersenang-senang, sehingga membuat mereka gampang dikendalikan oleh pihak penguasa. 

Hal ini dilakukan agar kejadian buruk yang terjadi dalam sejarah manusia tidak terulang pada mereka, seperti perang, kejahatan dan pengrusakan alam akibat ulah manusia. Para penguasa mengatur agar mereka tetap terkendali dengan menjadikan mereka kaum rupawan agar tidak ada kesenjangan sosial antar umat manusia. 

Karena setting dunia dalam Uglies adalah futuristik, banyak bertebaran benda-benda high tech yang canggih, macam Hover Car (mobil terbang), Hover Board (papan selancar terbang) bertenaga surya, alat pemurni air, dan para manusia dalam Uglies tidak menggunakan alam hidup untuk menopang kehidupan mereka, karena itu tidak ada daging, yang ada makanan yang terbuat dari berbagai jenis serat sebagai pengganti daging, dan tidak ada pohon benaran di kota kaum rupawan dan  buruk rupa tinggal, sepertinya hal ini dikarenakan sejarah kerusakan alam yang parah. 


Sayangnya saya berasa ada sesuatu yang kurang di buku ini, mungkin eksplorasi atau perasaan  Tally sebagai remaja perempuan kurang digali oleh pengarang atau karena ini menggunakan POV orang ketiga bukan pertama sehingga saya jadi kurang merasakan emosinya Tally yah? Padahal Tally banyak mengalami kejadian sejak Shay lari dari asrama. Terus di awal saya bilang ada bagian yang membosankan, yaitu mengenai deskripsi lingkungan dan tempat yang terlalu berusaha untuk mendetil tapi yang ada malah jadi kepanjangan dan bertele-tele. 

Untuk karakter, saya cukup oke dengan karakter Tally, Scott Westerfield di awal menceritakan dia hanya gadis remaja biasa yang  terobsesi untuk segera dioperasi agar bisa menjadi kaum rupawan, namun dalam perjalananannya mencari Shay, kita bisa melihat perkembangan karakter Tally dan ternyata Tally tidaklah sedangkal seperti yang kita kira di awal, dia cukup cerdas dan setia kawan. Bagusnya buku ini juga mengangkat tema persahabatan sejak awal hingga akhir cerita dan karena ini adalah YA tentunya  ada bumbu romance. 

Adegan memorabel, mungkin yang waktu Tally dan Shay melihat majalah-majalah zaman dahulu saat dunia belum hancur di mana semua orang-orangnya buruk rupa dan ada seorang model di majalah itu yang paling menyerupai kaum rupawan, saya nyengir sendiri membaca percakapan Shay & Tally yang merasa keheranan kenapa model di foto itu sangat kurus dan tampak seperti orang kelaparan dan kenapa mereka mau difoto dengan pakaian dalam  :D --> sepertinya ini sindiran pengarang akan gaya hidup masyarakat saat ini. Dan walaupun cerita ini membahas bahwa dunia masa depan, yang masyarakatnya juga ingin menjadi cantik karena oplas, namun cerita buku ini justru membawa pesan yang berkebalikan, dimana bahwa pikiran manusia yang menginginkan hanya menjadi cantik dari luar justru terlihat dangkal bila dibandingkan dengan kecantikan yang terpancar dari dalam. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...