Rabu, 17 Agustus 2016

UNWHOLLY: SAAT EKSISTENSI MANUSIA MENJADI MASALAH


Judul: Unwholly (Unwind Dystology #2)
Pengarang: Neal Shusterman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Mery Riansyah
Jumlah halaman: 528 halaman
ISBN: 978-602-03-1807-3
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Dystopia, action, post-apocalypse


Setelah lama menunggu dengan harap-harap cemas, tak ada yang paling menggembirakan saat GPU mengumumkan buku-buku baru yang terbit dan salah satunya adalah Unwholly. Yang boleh terbilang waktu tunggunya cukup lama dari prekuelnya Unwind (terbit tahun 2013). Namun tak perlu khawatir lupa, sebab Neal Shusterman berbaik hati memberikan sedikit ulasan-ulasan penting dalam buku pertamanya, Unwind untuk membantu pembaca mengingat cerita dari buku pertama. 

Unwind salah satu buku YA dystopia favorit saya tahun lalu. Tema yang serius dan dewasa, karakter-karakter yang realistis dan eksekusi cerita yang mengalir alami, sukses membuat saya memberikan 5 bintang untuk Unwind, yang menurut saya salah satu dari sedikit buku YA yang sempurna dalam setiap eksekusinya, mulai dari isu sosial yang dipadukan dengan eksekusi khas YA, pengembangan dan interaksi antar karakter hingga ending yang menurut saya sudah tepat seandainya tidak ada sekuelnya sekali pun. 

Unwholly mengambil kejadian sesudah peristiwa peledakan kamp akumulasi Happy Jack. Akibat peristiwa itu dan banyaknya perlawanan akan program pemisahan raga, munculah undang-undang baru yang mengatur batas umur maksimal seseorang dari program pemisahan raga. yang diturunkan menjadi 17 tahun. Namun undang-undang ini tidak membuat tenang para anak-anak yang terancam pemisahan raga, sebab dengan adanya undang-undang, organ tubuh menjadi lebih sulit dicari dan muncul lah para perompak organ.

Bila pada Unwind terdapat 3 tokoh utama yaitu Connor, Risa dan Lev, maka dalam Unwholly ini lebih banyak lagi tokoh-tokohnya. Cerita di buka dengan pengenalan karakter baru yang bernama Starkey. Awalnya, saya mengira Starkey ini akan menjadi Connor kedua, namun ternyata saya salah, dan di sini penulis dengan cerdas mengeksekusi suatu karakter dari simpati menjadi antipati.

Selain Starkey, akan banyak tokoh baru yang bermunculan sepanjang cerita bergulir dan memberi banyak sub-plot cerita. Namun tidak perlu khawatir ceritanya akan melebar kemana-mana, sebab setiap sub-plot justru berfungsi untuk mendukung inti dari cerita utama. Banyaknya karakter baik dari segi protagonis maupun antagonis justru membuat pembaca melihat dari berbagai jenis sudut pandang baru yang menarik.
"Keutuhan berasal dari menciptakan pengalaman yang semata-mata merupakan milikmu, Cam."
"Nikmati hidupmu dan dengan segera kau akan menemukan bahwa kehidupan orang-orang sebelum kau tidaklah penting." 
Namun tokoh baru paling menarik perhatian saya di sini adalah Cam. Cam adalah manusia "buatan" yang seluruh organ tubuhnya terbuat dari organ tubuh anak-anak unwind. Terlepas dari apakah mungkin manusia dibuat ala Frankenstein, bisa hidup dan mempunyai nyawa, namun karakter Cam salah satu karakter baru yang paling menarik dan juga sangat manis. Cam mempunyai banyak ingatan anak-anak unwind, sehingga ia tidak yakin bahwa ia memiliki karakternya sendiri. Saya yakin pembaca akan menyukai kepribadian Cam yang polos namun kritis.

Bagaimana dengan tokoh-tokoh lama seperti Connor, Risa dan Lev? Di buku kedua ini, hanya Connor dan Risa yang bersama, sedangkan Lev terpisah. Di bab-bab awal diceritakan keseharian dan kegiatan anak-anak unwind di kuburan pesawat. Di sini, saya semakin suka dengan tokoh Connor Lassiter yang semakin menunjukkan ketangguhannya di saat keadaan sulit dan tentu saja kepemimpinannya. Begitu pula Risa yang cerdas dalam mengambil keputusan di saat genting. Sedangkan Lev, baru diceritakan saat sudah memasuki pertengahan buku. Saya suka akan pengembangan karakter para tokoh utama yang digambarkan semakin lebih tidak egois.

Untuk tema sendiri, Unwholly masih mengangkat tema eksistensi manusia. Namun kali ini lebih bervariasi, misalnya melalui sudut pandang tokoh baru bernama Camus Comprix. Dalam Unwholly juga lebih dijelaskan mengenai latar belakang perang Heartland dan mengapa masyarakat pada akhirnya menyetujui praktek pemisahan raga.

Remaja-remaja bermasalah hanya menyusahkan masyarakat dan para penjahat menjadi beban negara? Eksistensi mereka jelas hanya menjadi masalah bagi masyarakat. Bukankah saat keberadaan seseorang menjadi masalah, maka praktek pemisahan raga justru menjadi jawaban.
Risa dengan cepat menyadari bahwa, kenyataan menyedihkan mengenai umat manusia adalah bahwa mereka dengan mudah memercayai apa yang dicekokkan kepada mereka. Mungkin saat pertama kali masih ditolak, tapi begitu sudah keseratus kali, gagasan-gagasan tergila akhirnya menjadi hal yang wajar.
Unwholly saya rekomendasikan bagi mereka yang suka buku Young Adult dengan tema yang dewasa dan membuat pembaca berpikir seusai membacanya. Bagi saya segmen buku YA mempunyai 2 jenis pembaca, yaitu pembaca muda dan pembaca dewasa, dan Unwholly lebih condong untuk pembaca dewasa. Bagi yang suka YA dengan orientasi aksi, Unwholly juga cocok, sebab pertempuran akan menjadi salah satu klimaks buku.

Untuk terjemahan, saya rasa nama Mery Riansyah sudah menjadi jaminan mutu bahwa terjemahannya akan mengalir baik. Ada beberapa typo namun masih minim.

Salam hangat,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...