Tampilkan postingan dengan label Teenlit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teenlit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Desember 2014

THERE YOU'LL FIND ME: MENEMUKAN TUHAN ITU SEDERHANA

Judul: There You'll Find Me (Menemukan-Mu)
Pengarang: Jenny B. Jones
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Dharmawati
Desain sampul: Martin Dima
Jumlah halaman: 376 halaman
Cetakan 1, Agustus 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Realistic fiction, drama, romance, Christian fiction
Harga: Rp 73.000 , bisa dibeli di KoBu
Rate: ★★★★


Sejak kematian Will, kakak laki-laki tersayangnya yang tewas terbunuh dalam ledakan bom di Afganistan, hidup Finley Sinclair seolah menjadi kacau. Ia marah terhadap Tuhan karena telah mengambil kakaknya, Will. 

Mengapa harus Will? Pemuda baik hati dan beriman teguh yang sedang mengemban misi mulia di Afganistan.  Kepercayaan Finley pada Tuhan pun seolah ikut menipis. Karenanya Finley memilih  untuk melakukan suatu perjalanan ke Abbeyglen, Irlandia dalam suatu program pertukaran pelajar. 

Perjalanan itu dilakukan dengan berpegangan teguh pada jurnal Will, sebuah buku harian yang ditinggalkan sang kakak. Dalam jurnal tersebut, Will menulis bahwa ia merasakan kehadiran Tuhan yang sangat besar dalam perjalanannya ke Irlandia. Karena itulah Finley ingin melakukan perjalanan itu, ia ingin kembali menemukan Tuhan yang selama ini seolah diam atas musibah yang menimpa keluarganya.

Selama di Irlandia, Finley pun mulai melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang ditulis oleh Will dalam jurnalnya. Di sana Finley berjumpa dengan berbagai jenis orang, mulai dari aktor tampan yang sifatnya menyebalkan, nenek tua yang galak dan pemarah, biarawati bijaksana dan juga jahil. Semua peristiwa yang dialami Finley bersama mereka seolah menjadi suatu rencana dari Tuhan, agar Finley menemukan kembali imannya yang hilang, kembali menemukan Tuhan yang selalu dicarinya sejak kematian Will. 

Dan Finley pun sadar, bukan Tuhan yang menghilang darinya, tapi ia sendirilah yang menjauh dari Tuhan. 

Sabtu, 01 November 2014

FANGIRL: STORY ABOUT A GIRL WHO TOO MUCH LOVE FANFICTION

Judul: Fangirl
Pengarang: Rainbow Rowell
Penerbit: Spring
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Editor: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Desain sampul: Bambang "Bambi" Gunawan
Jumlah halaman: 456 halaman
Cetakan pertama, November 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Realistic fiction, drama, romance
Harga: Rp 72.000, bisa dibeli di OWL Book Store
Rate: ★★★½

Cath dan Wren adalah kembar. Sejak kecil mereka berdua selalu bersama. Mereka bermain bersama, mereka tertawa bersama, mereka menangis bersama, mereka mmebagi segala kegiatan dan milik mereka secara bersama-sama, bahkan mereka juga menggemari hal yang sama, yaitu menulis fanfiksi tentang Simon Snow, si penyihir remaja. 

Saat keduanya mulai kuliah dan menjadi mahasiswa, hubungan Cath & Wren merenggang. Cath, si kembar yang introvert merasa Wren seolah menjauh darinya. Wren bahkan tidak mau sekamar dengannya di asrama kampus dan juga merasa terganggu bila Cath menelponnya hanya untuk sekedar berbicara. Cath merasa dicampakkan oleh Wren.  

Sementara Wren mulai menikmati kehidupan kampus dan bersenang-senang dengan teman-teman mahasiswa lain, Cath semakin menenggelamkan dirinya dalam dunia imajinasinya dengan menulis fanfiksi tentang karakter dari novel favoritnya, yaitu Simon Snow dan Baz. Cath juga tidak mau bergaul dengan sesama mahasiswa lain, karena ia selalu merasa tidak cocok di lingkungan kampusnya, bahkan ia juga merasa tidak cocok dengan teman sekamarnya Reagan, yang selalu membawa masuk cowoknya ke kamar. 

Cath semakin enggan untuk melanjutkan kuliahnya saat tahu ayahnya kembali mengalami gangguan mental dan sempat dirawat di rumah sakit.  Cath ingin pulang dan merawat ayahnya. 

Namun yang membuatnya semakin down adalah saat Profesor jurusannya mengatakan kalau fanfiksi yang dibuatnya tidak pantas untuk diikut sertakan dalam tugas kuliahnya, karena fanfiksi itu adalah plagiat dan Sang Profesor meminta Cath untuk mengembangkan sendiri ide tulisannya tanpa mengambil karakter dari cerita orang lain. 

Namun Cath tidak mau, ia merasa tidak bisa melakukannya, karena selama ini hanya dunia Simon Snow-lah yang ia tahu. Cath merasa putus asa, bagaimana ia bisa sanggup menghadapi semua ini?

Rabu, 04 Desember 2013

BOOK REVIEW: I'MPOSSIBLE AND GIVEAWAY ANNOUNCEMENT (SOON)


★★★
Judul Buku: I'mpossible
Pengarang: Orinthia Lee
Editor: Ara Philomina
Penerbit: Ping!!! (Diva Press)
Jumlah Halaman: 195 Halaman
Segmen: Remaja
Genre: Teenlit, Drama, Realistic Fiction
Harga: Rp 32.000

Sinopsis:

Fay tidak pernah menyangka kalau hidupnya bakal berubah 180 derajat. Dari seorang cewek kaya raya yang populer dan hanya tahu cara berfoya-foya tiba-tiba saja harus mati-matian mencari cara untuk membayar uang sekolahnya, karena perusahaan keluarganya tiba-tiba dinyatakan bangkrut. 

Bagaimana cara Fay mengatasinya? Apalagi selama ini ia hidup dalam kesombongan karena dirinya adalah gadis populer, cantik, dan kaya di sekolahnya. Apakah teman-temannya tetap mau bergaul dengannya meski ia telah jatuh miskin? Lalu bagaimana pandangan orang lain terhadapnya? Dan yang terpenting, bagaimana Fay bisa tetap mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolahnya yang sangat mahal? 

Fay merasa tidak punya keahlian apapun. Satu-satunya keahlian Fay adalah bersenang-senang dan menghabiskan uang dengan berbelanja dan salah satunya adalah belanja di toko online. Fay pun mulai berpikir untuk memulai bisnis online demi membayar uang sekolahnya. 

Jadi bagaimana  cara Fay berbisnis online?

It's fun and light teenlit

Kalau diibaratkan makanan, buku ini seperti cemilan yang renyah atau popcorn caramel, yang terus kita makan tanpa kita sadari dan, tahu-tahu habis. Yup bukunya tipis, hanya 195 halaman dengan tulisan yang besar dan renggang. Saya baca buku ini sambil tunggu bus Trans Jakarta datang, dan ternyata saat busnya tiba, tanpa saya sadari, saya sudah membacanya hingga 60 halaman lebih. Bila fokus membaca buku ini tanpa jeda (distraksi), saya rasa dalam 2-3 jam pasti selesai. 

Penuturannya sangat ringan dan membumi dengan bahasa gaul yang biasa dipakai sehari-hari. Jadi waktu saya baca buku ini, serasa seperti membaca curhatan Fay. Mungkin yang menyenangkan dari membaca I'mpossible adalah karena buku ini banyak dialog atau percakapan antar tokohnya alih-alih narasi atau deskripsi yang kadang cenderung suka bikin bosan, terutama untuk pembaca yang tidak sabaran. Jadi karena buku ini banyak dialog, saya tidak merasa bosan sama sekali saat membacanya. 

Tapi mungkin karena bukunya terlalu ringan dan tipis, jadinya kurang meninggalkan kesan untuk saya (berasa terlalu cepat dan numpang lewat) saat selesai membacanya. Hehehe. Nah mengapa saya merasa seperti itu, lihat penjelasan di bawah. 

Sebenarnya saya berharap emosi atau konfliknya bisa dikembangkan. Saya merasa alur buku ini sangat cepat atau lebih tepatnya terlalu banyak tell alih-alih show. Misal waktu perusahaan papanya Fay bangkrut, mengapa Fay hanya dikasih sedikit reaksi. Padahal dengan 1st person POV, saya berharap bisa melihat lebih banyak reaksi Fay, misalnya bagaimana ekspresi panik, malu, kalut, dll dari Fay. Karena di buku hanya diceritakan, Fay sedih dan kalut tapi tidak digambarkan bagaimana kekalutan dia, jadi saya kurang menangkap emosi Fay. Saya tidak tahu apakah ada pembatasan jumlah halaman, tapi waktu mamanya Fay meninggalkan Fay pun, saya merasa reaksi Fay agak kurang. Padahal saya juga berharap ada sedikit usaha dari Fay untuk mencari tahu atau menghubungi mamanya (diluar telepon yang tidak diangkat), misal dengan mendatangi rumah keluarga dari pihak mamanya, kan diceritakan masih di sekitar Jakarta juga, dalam hal ini Fay terasa pasif. 

Dan saya setuju dengan review Zelie mengenai alasan mamanya meninggalkan keluarga yang agak "nanggung" karena membawa kedua anaknya yang masih kecil. Entah apa karena penulis berpikir, kalau kedua adik Fay masih terlalu kecil dan butuh diasuh seorang ibu atau supaya cerita hanya fokus pada jualan online Fay, tapi kayaknya bakal lebih seru kalau seandainya kedua adik Fay juga ditinggal dan penulis menambahkan plot atau adegan Fay sebagai seorang kakak yang berusaha mengurus adik-adiknya. 

Eniwei walau bertema jualan online dan judul seperti buku motivasi, buku ini nggak menggurui sama sekali kok. Dan setelah saya selesai membacanya, saya sadar walau bertema jualan/bisnis online, namun utamanya buku ini membahas perubahan karakter tokoh utama. Dari yang tadinya  dangkal dan hanya tahu gaya hidup hedon, perlahan-lahan mulai menyadari bahwa selama ini pandangannya salah. Tapi saya merasa hingga akhir, karakter Fay ini tetap digambarkan self centered. Sekiranya dari cara penuturannya yang selalu, "Nanti aku bagaimana? Aku begini, aku begitu"

Trus begitu pula dengan penyelesaian konflik yang terasa terburu-buru. Dan lagi-lagi saya merasa Fay tidak diberikan banyak waktu untuk bereaksi yang lebih dramatis. Tapi yah sudahlah, mungkin memang yang ingin difokuskan dalam buku ini adalah tema bisnis onlinenya dan karakter Fay. 

O ya, saya bingung, sama kutipan di sampul depan tentang bunga matahari, itu kayaknya nggak ada di buku yah? Atau saya yang terlewat? 

Dibandingkan novel perdana Orin yang Why Always Me, menurut saya pribadi, I'mpossible dikemas lebih ringan. Dalam WAM, saya justru lebih merasakan konflik dan angst-nya tokoh utama. Entah apa karena karakter Fay lebih ceria dan easy going dibanding  Bianca?

Bagaimanapun, untuk teman-teman yang mau berbisnis online, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini, karena ceritanya sangat membahas mengenai seluk beluk jualan online termasuk masalah-masalah apa saja yang mungkin timbul saat jualan online, jadi bisa untuk pembelajaran juga. Hehehehe

GIVEAWAY ANNOUNCEMENT 

Dan sekarang yang sudah dinantikan. Menyambut ulang tahun blog yang genap setahun pada Desember ini (benarnya blog saya lahir November tapi baru benar-benar jadi blog buku bulan Desember), saya bermaksud mengadakan 2 giveaway yang terbagi menjadi 2 periode GA. 

Supaya, tidak kepanjangan, saya putuskan postingan Giveaway terpisah dengan review. Terpisah? Apa giveaway-nya berhubungan dengan buku ini? Yup, salah satu hadiahnya adalah buku I'mpossible bertanda tangan penulisnya, Orinthia Lee. Dan itu hanya salah satu hadiahnya, karena supaya lebih meriah, saya tambahkan hadiah lain juga. 

Tunggu postingan saya berikutnya ^^

Sabtu, 19 Oktober 2013

BOOK REVIEW : AKU TAHU KAMU HANTU


✭✭✭½
Judul Buku : Aku tahu Kamu Hantu
Pengarang : Eve Shi
Penerbit : Gagas Media
Editor : Alit Tisna Palupi
Jumlah Halaman : 208 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Horror, Paranormal, Thriller
Special Note : Kado untuk Blogger dari Gagas Media #unforgotTen

Cerita bermula saat :

Ulang tahun ke-17 Liv. Sweet Seventeen seharusnya jadi peristiwa membahagiakan dalam hidup Liv. Tapi alih-alih bahagia, hari ultahnya malah terasa buruk. Bagaimana tidak? pertama-tama ayahnya sendiri lupa mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu kelasnya kena semprot seorang guru akibat ulah jahil seorang murid dan keadaan tambah parah dengan penampakan sosok ganjil di toilet sekolah. 

Mulanya Liv tidak pernah menyangka kalau dia akan memiliki kekuatan untuk melihat mahluk halus. Liv sempat mengira semua yang dilihatnya hanyalah halusinasi sesaat karena Liv sedang dilanda stress. Sahabat baiknya sendiri, tidak percaya pada pengakuannya tentang melihat roh dan mahluk halus. Namun akhirnya Liv tahu kalau apa yang ia lihat bukanlah khayalan semata. Sebab mama Liv memberitahu bahwa dalam keluarganya, setiap anak sulung perempuan yang telah berusia 17 tahun akan mewarisi kemampuan untuk melihat mahluk halus atau arwah. 

Bagi Liv, kemampuan istimewa ini sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan bila banyak sosok berwujud ganjil dan seram tiba-tiba menampakkan diri setiap saat di mata Liv. Namun sebenarnya apakah kemunculan mahluk-mahluk tersebut hanya sekedar untuk menakut-nakuti Liv? ataukan ada maksud lain, seperti meminta bantuan Liv untuk menolong mereka?

My thought :

Rasanya sudah nyaris setahun saya nggak menyentuh genre horror atau thriller. Terakhir genre horror yang saya baca mungkin seri demonatanya Darren Shan. Kisah tentang hantu sendiri sebenarnya sudah sering saya baca, tapi berhubung bukunya lebih banyak yang ke genre pararom macam seri mediatornya Meg Cabot, maka alih-alih seram, justru jatuhnya malah romantis. 

Karena itulah saya kangen sama genre fantasi yang lebih ke thriller atau horror, macam Goosebumps. Saya kangen untuk merasakan feel tegangnya. Pas tahu kalau dari 10 buku yang Gagas berikan saat ultah ada buku bertema hantu, maka tanpa ragu langsung saya masukkan ke daftar reading-list saya untuk short term. 

Saya suka sama cerita ATKH ini, misteri dan suspense-nya cukup terasa. Faktor misterinya itu yang bikin saya betah untuk baca buku ini terus menerus tanpa henti (kecuali jeda makan, minum dan mandi) dan kebetulan saya baca pas weekend. Ilustrasi "hantu" yang ada di tiap beberapa bab sukses bikin saya mengambil kertas untuk menutupinya karena ketakutan sendiri. Saya akui, saya emang penakut akan gambar-gambar seram. 

Saya juga suka dengan covernya yang bergambar mawar merah. Mulanya saya bingung, kok buku horror, covernya bunga mawar. Tapi perhatikan deh bunga mawarnya, tepatnya di bagian tengahnya, bentuknya mirip tengkorak. Sedangkan warna merah yang menghias kelopaknya seperti bercak darah. 

Hanya saja ada untuk ukuran novel horror, saya merasa kurang plot twist di sini. Penulis cukup sukses mengeksekusi ketegangan, hanya saja menjelang 3/4 cerita, saya justru merasa ketegangan menurun. Karena sejak awal, pembaca sudah digiring untuk menebak tokoh antagonisnya dan saya sebenarnya berharap tebakan saya salah atau meleset, tapi ternyata memang begitulah adanya. Untuk motifnya sendiri juga standar (bully), bukan suatu hal yang baru. Spoiler, highlight to view: coba pembunuh sebenarnya Dani, yang mempunyai motif sebagai syarat masuk genk Stefan dkk. 

Adegan rumah kosong yang awalnya seram, mendadak jadi tidak seram akibat pestanya pecah. Dan saya lebih berharap antagonis yang cool-psikopat alih-alih yang malah berubah jadi brutal - gila dan suka teriak-teriak. Trus hantu-hantunya sendiri, saya ngerti misi utama Liv adalah Frans, cuma saya berharap hantu-hantu lain juga dibahas, penasaran dengan hantu penunggu bilik di toilet anak perempuan di sekolah. 

Buku ini sebagai buku baca bareng BBI untuk tema buku debut. 

BOOK REVIEW: WHY ALWAYS ME

✭✭✭½
Judul Buku : Why Always Me
Pengarang : Orinthia Lee
Penerbit : de TEENS (Diva Press)
Editor : Rina
Jumlah Halaman : 220 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Teenlit
Special Note : Hadiah giveaway dari Biondy dengan special tanda tangan dari Orinthia Lee

"Hal yang paling menakutkan di dunia ini adalah kebohongan"

Setiap orang yang melihat Bianca, pasti akan berkata dia gadis yang cantik dan imut. Bianca memiliki kulit putih pucat, rambut hitam lurus dan mata besar berbentuk setengah lingkaran, membuat parasnya terlihat elok seperti boneka. Namun sayangnya dibalik penampilan luarnya yang elok, hal tersebut tidak diikuti dengan kepribadiannya. Bianca menyimpan banyak kepahitan dan kemarahan dalam kehidupannya, sehingga membuat emosinya cenderung meledak-ledak. Baginya lebih baik berkata jujur dan blak-blakan daripada berbohong. 

Gara-gara sifat galaknya itu, banyak teman-teman sekelasnya tidak suka dengan Bianca. Hanya Anne, satu-satunya orang yang memahami dan tahan menghadapi sifat judes Bianca. Namun suatu hari akibat kesalahpahaman, Anne pun menerima tusukan dari mulut tajam Bianca dan kali ini tusukan tersebut benar-benar melukai hatinya dan membuat Anne memusuhi Bianca. 

Bianca selama ini tidak pernah peduli dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, namun ia sadar bahwa apa yang ia katakan terhadap Anne sangat keterlaluan. Tapi Bianca terlalu gengsi untuk meminta maaf pada Anne, jadi bagaimana kelanjutan persahabatan mereka? Akankah tersambung kembali atau justru selamanya berakhir?

My thought :

Sudah lama saya nggak baca teenlit dan sejujurnya bahkan saat remaja pun saya jarang baca teenlit. Kalaupun baca teenlit, biasanya ada embel-embel fantasi. Selain karena saya emang udah lewat dari masa teen, cerita-cerita dalam teenlit biasanya agak keju atau ringan untuk selera saya. Kenapa sih Lin, elu demen banget yang kelam, masokis dan angst. Elu mau saingan sama Bianca dalam hal kepahitan?

Sebelumnya, saya ucapkan selamat untuk Orinthia, atas kelahiran anak pertamanya, hehehe, maksud saya buku pertamanya. Menulis itu bukan hal mudah, selain ide dan ngayal juga perlu ketekunan dan fokus, karena itu saya ucapkan selamat dulu kepada Orin karena sudah berhasil menerbitkan buku pertamanya. Semoga terus produktif dan saya nantikan buku selanjutnya. 

Saya mulai dari yang saya suka dulu mengenai WAM :
  1. Penuturannya. Saya suka cara penulis merangkai kalimat demi kalimat yang terasa simpel dan down to earth dalam Why Always Me. Gaya bahasanya sederhana khas remaja dan juga apa adanya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Tidak ada kalimat yang terkesan dilebih-lebihkan. Tatanan kalimat terasa enak saat dibaca dan prosa pun cukup mengalir dengan luwes. 
  2. Karakterisasi. Ada 3 POV di sini. Yaitu POV Bianca, Anne dan Irina. Semuanya memakai 1st person POV, tapi kentara sekali penulis sudah  sangat menguasai dan paham dengan para karakternya. Meski sama-sama memakai 1st POV, tapi terlihat jelas perbedaan mereka semua. Bianca yang cenderung lugas dan tanpa basa-basi. Sedangkan Anne terkesan lembut dan simpatik. Sementara si kecil Irina (dari semua karakter, fave saya adalah Irina) itu polos namun di satu sisi juga terasa mature. Menurut saya, buku ini salah satu buku yang berhasil mengeksekusi penggunaan multiple 1st person POV.
  3. Cerita sederhana tanpa muter-muter tapi tidak melupakan unsur emosi.  

Nah, sekarang sedikit harapan saya saja sih untuk cerita ini :

  1. Saya suka unsur persahabatannya, tapi saya kurang suka unsur romensnya. Dan saya berharap ada lebih banyak unsur drama keluarga. Alasan saya tidak suka unsur romensnya bukan karena saya tidak suka romens, saya justru suka romens, tapi sepertinya buku ini akan lebih terasa feelnya bila fokusnya lebih ke drama keluarga dan persahabatan. Selain itu Travis terlalu sempurna di mata saya dan saya merasa Travis kurang believable. Dia sepertinya terlalu baik, pengertian, nrimo dan tidak sombong #eh. Saya sebenarnya bingung apa yang membuat Travis bisa suka dengan Bianca, lha sebagai pembaca aja, kadang-kadang saya sebel sama dia. Maap yah, tapi saya ngga percaya cinta pada pandangan pertama, biasanya ada sesuatu yang membuat kita suka dan sebaliknya, ilfil dengan seseorang. Lain ceritanya kalau memang sudah dalam tahap hubungan serius, saya ngerti kalau logika sudah tidak bisa dipercaya. Soal masalah pendeskripsian fisik Travis yang terlalu gampang, saya sepakat sama teman-teman yang lain.
  2. Ignorant Mother? Ini mungkin perasaan saya saja, tapi saya merasa peran mama Bianca di dalam buku ini hanya sebagai plot device terutama untuk bagian pendahuluan. Jujur saja, saya masih inget pertanyaan Biondy untuk GA buku ini, yaitu apakah kamu pernah punya teman yang mulutnya setajam Bianca (kurang-lebih)? jawaban saya, "sejauh ini kalaupun kenal tapi tidak separah Bianca dan bukan teman dekat, malah mungkin sayalah yang kalau lagi marah mulut saya bisa tajam seperti Bianca, karena dari dalam, emosi saya ini cenderung meledak-ledak dan tipe yang forgive but not forget." Tenang, saya sudah belajar untuk mengontrol emosi. Oke, balik ke peran seorang mama dalam pembentukan karaker anak. Tapi mamanya Bianca ini apa tidak pernah menegur anaknya untuk lebih menjaga lidahnya? yang saya tangkap cuma Anne saja yang suka menasehati Bianca soal itu, Karena jujur, mama saya saja selalu ingetin saya untuk jangan galak dan hati-hati kalau berbicara, nanti orang bisa tersinggung dan sakit hati. Oke, saya stop curhat di sini. Kan mamanya pasti tahu perlakuan Bianca sama mboknya di rumah, tegur dan omelin donk anaknya supaya bisa lebih jaga ucapan. Saya berharap lebih ada unsur hubungan ibu-anak di sini. 
  3. Balik ke point nomor 1, kadang kala saat saya lagi asyik masuk ke konflik keluarga, macam kejadian Bianca saat ketemu sama papanya di bonbin, tiba-tiba konflik itu berakhir cepat dan meluap begitu saja, lalu secara kebetulan bisa ada Travis, yang menurut saya malah bikin tensi turun. 
  4. When Bianca met Irina. Saya merasa agak janggal baik secara situasi maupun faktor kekerabatan dalam keluarga Bianca. Aneh saja bagi saya kalau Bianca tidak tahu siapa Irina, mengingat mereka itu kan.... dan apakah hal ini karena mamanya terlalu ignorant  untuk menjelaskan pada Bianca? Trus reaksi Bianca saat ketemu Irina, kalau saya mungkin pertama tanya sama Irina dan kalau belum ada jawaban, saya nggak akan push Irina, tapi saya akan tanyakan langsung ke orang rumah, "Ini siapa?" Tapi sekali lagi, saya dan Bianca kan berbeda, tentu reaksi saya dan dia terhadap orang asing berbeda. 
  5. Kalimat metafora/hiperbolis yang justru mengacaukan feel. Di halaman 197, harusnya kan feelnya sedih, cuma gara-gara kalimat, "air mataku seperti air bah yang mengalir tanpa henti," saya malah pengin ketawa.  
Notable Quote : 
"Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang kubentak karena aku merasa akulah yang benar." ~hal.171

Sampai sini dulu, sebenarnya buku ini mau saya sertakan untuk Posbar anak-anak BBI sebagai baca bareng bertema buku penulis baru atau debut yang memang menjadi tema untuk bulan Oktober. Cuma berhubung buku selanjutnya Orinthia akan segera keluar, mungkin sudah tidak termasuk kategori debut penulis baru yah :P

Selasa, 02 Juli 2013

FLIPPED

✭✭✭
Judul Buku : Flipped
Pengarang : Wendelin Van Draanen
Penerbit : Orange Books
Jumlah Halaman : 262 Halaman
Segmen : Anak-anak, Pra Remaja, Remaja

Perhatian, untuk review kali ini, saya mau sok jadi editor sotoy karena saya ngga puas sama terjemahannya.  Jadi pertama-tama saya mau komplen soal terjemahannya dulu.

Buat saya, ada 3 jenis tipe terjemahan yang ngga enak :
  1. Yang terlalu kaku, misal genre fantasy atau genre lain yang bukan tipikal serius tapi terjemahannya terlalu formal.
  2. Terjemahan yang kelewat gaul, atau banyak penambahan perbendaharaan kata yang bikin karakter jadi tidak sesuai sama originalnya.
  3. Terjemahan mentah dengan banyak kata dalam satu kalimat yang kesannya muter-muter dan bikin pembacanya jadi tidak mengerti sama ceritanya atau memahami ceritanya secara berbeda. 
Nah, untuk novel Flipped ini, kasus ngga enak terjemahannya yang nomor 2 dan tambahan masalah EYD juga. Misal (note, red font terjemahan dari buku, blue font terjemahan sotoy saya) :

"Aku malah memotong rumput, menggunting rumput, kemudian menyapu jalan masuk ke rumah dan got. Menurutku sih menyapu got agak berlebihan ya."

Saya rasa lebih enak bila seperti ini :

"Aku malah memotong rumput, menyianginya, kemudian menyapu halaman depan rumah dan membersihkan selokan. Walau kupikir membersihkan selokan itu sedikit berlebihan."

Terus, penggunaan kata "nggak" alih-alih "tidak" Mungkin bila antara Juli dan Bryce yang menggunakan kata-kata tersebut, saya masih paham. Tapi bahkan termasuk orang tua saat sedang dalam jamuan makan malam formal.

"Kubilang pada Chet kalau mungkin sebaiknya kami menyewa tenaganya. Sepertinya dia ahli banget soal pagar, ya nggak?"

Saya pikir lebih enak bila :

"Kukatakan pada Chet, mungkin kami bisa menyewa tenaganya. Sepertinya dia sangat ahli soal pagar, benar kan?"

Dan ini yang ngga banget :

"Iya! Tapi terus kita ngga ngeh gitu sampai mereka tahu-tahu sudah kuning!", "Wow! Tahu-tahu sudah kuning: Yellow Already-nama yang keren tuh untuk band kita!"

Terlepas karakter yang mengucapkannya memang tipe yang pecicilan, tapi lebih baik seperti ini :

Iya! Tapi lalu kita tidak sadar kalau warna mereka tiba-tiba saja sudah menjadi kuning!" Wow! Tiba-tiba saja sudah menjadi kuning: Yellow Already-itu nama yang sangat keren untuk band kita!"

Dan saya janji ini contoh terakhir :

"Patsy, rumah ini bau enak! Selamat pagi, Rick. Halo Bryce,"

Bagaimana kalau diubah menjadi :

"Patsy, rumah ini wanginya harum!. Selamat pagi, Rick. Halo Bryce,"

Terus beberapa kalimat pendek lain dalam bahasa gaul lainnya, seperti "
  • Tuh lihat nggak? --> Lihat saja (hal  147)
  • Woi, bro ! -->; Hai, Kawan ! (hal 148)
  • Waah, santai saja, man! --> Hei, tenang bung! (hal 149)
Lalu tambahan kata-kata gaul yang lebih cocok untuk teenlit lokal macam : cemen, lebay, ngeh, eneg. Sorry, but I don't like those words appear in translation book. 

Kalau sudah begini biasanya saya jadi penasaran pengen baca yang dalam bahasa aslinya. Mungkin karena segmen buku ini pra remaja-remaja, jadi terjemahannya disesuaikan  ke bagaimana remaja sekarang ngomong. Hmmm sejujurnysa saya tidak yakin apakah semua remaja jaman sekarang ngomong seperti itu, karena bahkan percakapan twitter pun rasanya kalimatnya masih lebih terstruktur. Bagaimanapun saya berharap setiap buku terjemahan  harus diterjemahkan secara sewajarnya dalam artian terjemahannya tidak berlebihan ataupun sebaliknya terlalu mentah.  Baiklah cukup sekian soal editor terjemahan, sekarang saatnya membahas buku.

Tadinya saya berencana untuk membaca buku ini barengan sama Perfect Chemistry cuma berhubung satu dan lain hal, akhirnya buku ini baru sempat saya baca belakangan (alias baru-baru ini). Alasan saya mau baca bareng dengan buku Perfect Chemistry karena intuisi  saya (gaya bahasa sok keren saya) kalau kedua buku tersebut mirip dalam artian serupa tapi tak sama. 

Serupanya buku ini dengan Perfect Chemistry adalah sama-sama romansa remaja, 2 POV (POV orang pertama dari karakter utama cewe dan cowonya), karakter yang saling opposite attrach, dan perubahan tujuan/pandangan hidup dari karakternya menuju arah baru dan sama-sama ada anggota keluarga yang mengalami autis. Sedangkan beda atau tak samanya adalah Perfect Chemistry lebih rumit,  serius, kelam dan segmennya lebih untuk pembaca dewasa. Sedangkan Flipped itu ringan, dituturkan dengan ceria, lebih kocak dan segmennya untuk anak-anak - remaja. 

Jadi ceritanya :

Juli Baker dan Bryce Loski sudah lama bertetangga dan sejak pertama kali Bryce pindah ke seberang rumah Juli, gadis itu sudah naksir berat padanya terutama mata biru Bryce yang selalu membuat hati Juli berdebar-debar. Sayangnya Bryce tidak merasa demikian, sebaliknya dia merasa Juli itu gadis pengganggu yang selalu mengikutinya kemana-mana dan membatasi ruang geraknya. Tambah lagi Juli mempunyai kelakuan yang aneh, seperti berbicara pada ayam-ayam peliharaannya, mencintai pohon sikamor jelek yang tumbuh di atas bukit dan hal-hal lain yang tidak dipahami Bryce. 

Saat keduanya beranjak remaja, Juli makin menyadari kalau Bryce tidaklah seistimewa seperti yang selama ini ia kira dan perlahan rasa sukanya pada Bryce mulai menguap. Sebaliknya Bryce semakin hari makin menyadari kalau Juli yang selama ini hanya dianggapnya gadis aneh justru mulai melihat kalau gadis tersebut unik dan istimewa.

Jadi bagaimana kisah selanjutnya hubungan mereka?

Kesan saya :

Rasanya akhir-akhir ini saya banyak sekali membaca tema "don't judge a book by it's cover", atau "inner beauty" tema yang klise tapi tidak pernah usang dan selalu dikemas ulang. Begitu pula dengan buku ini. Juli adalah tipikal gadis periang, ramah, cerdas, baik hati, pemimpi dan memiliki rasa ingin tau yang besar, pokoknya gadis menyenangkan, sebagian pembawaan karakternya mengingatkan saya akan Anne dari Green Gables

Sedangkan Bryce, adalah kebalikan Juli, cenderung memandang dunia dengan skeptis. Walaupun dari luar sikap Bryce ini tampak cool dan pede tapi sebenarnya sebagai cowok, Bryce sering bersikap pengecut dan memilih jalan yang mudah alih-alih jalan yang benar. 

Dari 2 karakter tersebut saja pengarang sudah memberi pesan pada pembaca bagaimana cara memandang hidup agar lebih indah, seperti yang dikatakan Juli :
"Ayahku menggeleng dan bilang padaku untuk mulai melihat sesuatu secara keseluruhan, jangan hanya satu bagian saja." ~hal. 40
"Benar, yah. Aku sekarang mengerti soal keseluruhan lebih baik dari pada satu-satu bagian." ~hal. 47
Perumpamaannya mungkin :
Ada orang yang hanya melihat pepohonan, dan ada orang yang bisa melihat bahwa itu bukan hanya pepohonan tapi hutan. 
"Lain kali kalau kau menghadapi sebuah pilihan, pilih yang benar. Supaya ngga menyakiti orang lain nantinya." ~hal. 102
 "Sekarang sih mudah melihat kembali ke belakang dan memberikan nasihat, tapi sedihnya, banyak orang yang hanya melihat permukaannya saja hingga akhirnya semua sudah terlambat."
Seperti yang saya tulis di paragraf atas, kalau tema buku ini adalah inner beauty dan dalam interview dengan pengarang,  Wendelin Van Draanen memang berkata kalau pesan yang ingin disampaikan pada para pembacanya adalah agar mereka tidak hanya melihat orang lain dari tampilan fisik semata saja, tapi lihat juga kepribadiannya.  Misal percuma saja cantik tapi berotak kosong atau ganteng-ganteng tapi kelakuan jelek. Saya juga suka jawaban pengarang mengenai inti buku ini yaitu cinta sejati berlabuh setelah kita mengenal dan menghormati orangnya. (Opini sotoy saya adalah jatuh cintalah dengan orang yang juga mencintaimu).

Yang saya suka dari buku ini adalah 2 POV. Sehingga kita bisa melihat perspektif yang berbeda dan mengetahui bagaimana suatu masalah yang sama bisa berbeda tergantung dari cara pandang karakternya. Pengarang berhasil melakukan penguasaan karakterisasi yang baik karena walaupun dalam tiap bab ada nama karakter, namun bila pengarang tidak bisa menguasai karakternya maka yang terjadi kita akan merasa setiap karakter mirip dan sama walau beda POV. Di buku ini setiap bab kita tau karakter siapa yang bercerita hanya dari membaca narasi dan jalan pikiran mereka, Bryce cenderung cool dan sinis/sarkasme sedangkan POV Juli mempunyai tone percaya diri dan ceria. Buku lain yang saya rekomendasikan adalah Perfect Chemistry yang juga bagus untuk penguasaan karakter atau kalau anda ingin tau seperti apa POV karakter yang saya bilang agak mirip meskipun seharusnya sangat berbeda, anda bisa baca Breaking Dawn. 

Soal endingnya, hahaha saya suka, dan saya senang dengan keputusan bijak pengarang untuk tidak membuat lanjutannya. Spoiler(highlight to view) it's an open ending, do you think Bryce deserve the second chance with Juli? well to be honest yes (I shipped them) but not in the junior high school, maybe after both are adults and after both are working, Bryce can start dating Juli and propose her, LOL I should not make fanfiction here.  

Selain itu suka sama keluarga Baker, terutama Mr Baker yang baik dan berjiwa besar. Juga sama kakek Duncan yang bijaksana. Melalui kedua tokoh ini, pengarang memberikan pesan untuk tidak menjadi manusia yang dangkal yang hanya melihat permukaan luar saja.

Sebenarnya rate saya untuk buku ini adalah 4 stars tapi berhubung saya tidak nyaman dengan terjemahannya, maka saya kurangi bintangnya satu dan menjadi 3 bintang. 

Selain itu, saya jadi penasaran mau nonton filmnya, sepertinya cukup bagus, walaupun mungkin masuk kategori film Hallmark family
Sumber gambar : 1 dan 2, 3,  edited by me

Senin, 25 Maret 2013

AFTER

✮✮✮
Judul Buku : After (Setelah malam itu)
Pengarang : Amy Efaw
Penerbit  : Gramedia Pustaka Utama


Jadi begini ceritanya :

Terjadi berita heboh akibat penemuan suatu bayi dalam tong sampah di suatu pagi yang  tenang. Serta merta polisi pun mengusut kasus tersebut dan mulai mencari petunjuk di sekitar lingkungan tetangga tempat bayi tersebut ditemukan. Setelah usut punya usut ternyata bayi tersebut milik seorang gadis remaja bernama Devon yang usianya bahkan belum genap 16 tahun. 

Semua bukti mengarah terhadap Devon dan Devon tidak punya pilihan selain menjalani hukumannya dan masuk ke penjara anak dan remaja. Tapi apa yang sampai membuat Devon tega untuk membuang bayi yang dilahirkannya sendiri?

Kesan saya :


Benernya real life drama bukan jenis buku favorit saya, mungkin karena dalam kehidupan sehari-hari, kita udah punya banyak "drama" dalam kehidupan kita dan kita lebih ingin buku yang "entertain". Tapi sebenarnya buku real life drama lebih banyak mengajarkan arti kehidupan dibanding katakanlah genre fave saya, fantasy atau romance, heheheh

Oke, langsung aja review saya mengenai buku ini. 

Pertama dari sinopsis kita sudah tau buku ini mengangkat persoalan kehamilan remaja di luar nikah, atau lebih tepatnya akibat kehamilan remaja di lur nikah. Dan apa saja akibatnya? kalau dalam buku ini akibatnya adalah si remaja membuang bayi yang baru lahir di tong sampah, karena si remaja tidak menginginkan bayi tersebut. 

Sejak bab awal kita sudah melihat ada "sesuatu" yang tidak beres mengenai Devon. Misal ketika Devon diam saja saat ibunya berbicara dengannya dan juga bagaimana Devon yang tidak ada reaksi saat ada dua orang polisi masuk ke rumah dan bertanya padanya. Devon seperti hidup dalam pikirannya sendiri, dan dalam sekejap ketika ibunya mengangkat selimut yang menutupi tubuh Devon, maka kita pun tau kalau dia sedang terluka pasca melahirkan dengan banyaknya darah di celananya yang mungkin menyebabkan dia "stunned" (bengong).

Lalu cerita pun berlanjut seputar hari-hari Devon di penjara remaja, dan juga kilasan-kilasan kehidupan Devon sebelum "malam itu". Saya tidak akan menceritakan mengenai cerita detilnya, tapi ada sesuatu yang menarik, seperti :

1. Devon seolah tidak pernah merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan, atau tidak mengeti mengapa dia bisa ada di penjara, adegannya dideskirpsikan dengan keheranannya saat berada di penjara bersama anak-anak bengal, mengingat dia termasuk murid teladan. 

2. Bagaimana dia pelit & sukar bekerja sama dengan pengacaranya untuk menceritakan mengenai dirinya dan "lupa" akan kejadian2 yang membuat dia masuk penjara.

3. Devon selalu menyebut bayinya dengan kata "itu". Seolah bayi tersebut hanya benda tidak penting yang sangat mengganggu. 

Oke, pasti awal-awal hingga pertengahan baca buku ini, kita sebal setengah mati sama Devon. Terutama bagaimana Devon mengambarkan dirinya innocent setelah semua kejadian itu, lalu saya paham (pengaruh nonton NCIS, CSI, Criminal Minds) bahwa dia bukan menganggap dirinya innoncent, lebih tepatnya dia menyangkal akan semua yang pernah terjadi. Dia tidak pernah menganggap dirinya berhubungan sex, hamil dan melahirkan.  Dia tidak pernah "merasakan dan terhubung dengan semua kejadian tersebut" karena Devon lari dari realita dan kenyataan. 

Dan di akhir buku, psikolog di penjara remaja, Dr Bacon menjelaskan kalau Devon memang menyangkal semua yang pernah terjadi padanya (hubungan seks, kehamilan, melahirkan). Dan penyangkalan itu merupakan "mekanisme pertahanan diri" yang muncul akibat hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi pada diri seseorang agar seseorang itu tidak stress, maka dia menganggap semua hal itu tidak ada atau tidak pernah terjadi. 

Jadi lumayan bisa belajar psikologi juga kan :D

Anyway, inti buku ini emang sesuai dengan taglinenya "penyangkalan dan memaafkan diri sendiri" bukan tentang penghakiman atas perbuatan Devon  jadi jangan mengeluh kalau protagonis annoying, karena buku ini lebih bersifat psikologi dan kita seolah diajak menyelami keadaan psikologis Devon dan mengapa sampai Devon mengambil langkah "penyangkalan" alih-alih mencoba mencari solusi misal memberikan bayinya untuk diadopsi. Bagi saya pribadi buku ini juga cocok dibaca oleh para orang tua, karena dalam buku ini mengajarkan bahwa orang tua adalah role model atau patokan ingin menjadi seperti siapa saat anak dewasa nanti. Apalah mereka ingin menjadi seperti orang tua mereka atau justru sebaliknya, mereka justru menghindari agar jangan sampai jadi seperti orang tua mereka. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...