Tampilkan postingan dengan label Finding New Authors 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finding New Authors 2013. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

WRAP-UP POST: FINDING NEW AUTHORS 2013

Another RC that have finished. Selain fantasi, saya juga mengikuti RC-nya Ren dari blog Ren's Little Corner. Sebuah reading challenge yang bertujuan membaca buku pengarang yang belum pernah kita baca sebelumnya. Yang berarti bukan buku penulis favorit ataupun buku sekuel. Melainkan buku-buku karya pengarang yang belum pernah kita baca sebelumnya. 


Inilah buku-buku pengarang yang baru saya baca di 2013:
  1. Incarceron by Catherine Fisher - 7 Feb 2013
  2. Warm Bodies by Isaac Marion - 5 Maret 2013
  3. Divergent by Veronoca Roth 15 Maret 2013
  4. Delirium by Lauren Oliver - 31 Maret 2013
  5. Daughter of Smoke and Bone by Laini Taylor - 14 April 2013
  6. Graceling by Kristin Cashore - 29 April 2013
  7. Skulduggery Pleasant by Derek Landy - 12 Mei 2013
  8. Perfect Chemistry by Simone Elkeles - 19 Mei 2013
  9. Assassin's Apprentice by Ronin Hobb - 17 Juni 2013
  10. Where Mountain Meets The Moon by Grace Lin - 30 Juni 2013
  11. Flipped by Wendeline Van Draanen - 2 Juli 2013
  12. The Painted Veil - 12 Juli 2013
  13. Nobody's Boy by Hector Malor - 24 Juli 2013
  14. Marriageable by Riri Sardjono - 12 Agustus 2013
  15. Firelight by Sophie Jordan - 9 September 2013
  16. The Hobbit by J.R.R. Tolkien - 16 September 2013
  17. Seraphina by Rachel Hartman - 25 September 2013
  18. Legend by Marie Lu - 11 Oktober 2013
  19. Hold Me Closer, Necromancer by Lish McBride - 18 Oktober 2013
  20. Why Always Me by Orinthia Lee - 19 Oktober 2013
  21. Aku Tahu Kamu Hantu by Eve Shi - 19 Oktober 2013
  22. Thirteen Reasons Why by Jay Asher - 24 Oktober 2013
  23. Alanna by Tamora Pierce - 30 Oktober 2013
  24. Fleur by Fenny Wong - 3 November 2013
  25. Me Before You by Jojo Moyes - 11 November 2013
  26. The Fault In Our Stars by John Green - 20 November 2013
  27. Mahogany Hills by Tia Widiana - 11 Desember 2013
Yah, sewaktu memposting wrap-up ini, sebenarnya ada 28 buku yang selesai saya baca, tapi saya belum buat reviewnya. Bahkan seandainya saya bisa membaca hingga 30 buku sekalipun, level saya masih dalam standar Hard, bukan maniacs, heheheh.
    Silakan klik tautan linknya untuk melihat setiap reviewnya.

    Rabu, 11 Desember 2013

    BOOK REVIEW: MAHOGANY HILLS BY TIA WIDIANA

    ★★½

    Judul Buku: Mahogany Hills
    Pengarang: Tia Widiana
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Jumlah Halaman: 344 Halaman
    Segmen: Dewasa
    Genre: Romance, Domestic Romance
    Status: Pinjaman dari Mbak Dewi

    Sebenarnya, saya malas mereview buku ini. Kenapa? Pertama, karena ceritanya biasa saja menurut saya. Kedua, buku ini juga sudah selesai saya baca sejak 5 hari yang lalu dan sekarang saya sudah lanjut baca buku lain. Jadi feelnya sudah menghilang 50% (saya memang tipe yang selesai baca harus langsung review, kalau tidak cepat direview dan langsung lanjut baca buku lain, pasti feelnya bakal hilang, kecuali bukunya itu sangat berkesan sampai bikin saya book hangover) Ketiga, sudah banyak review-review seru dan menarik tentang buku ini lebih tepatnya seru baca reviewnya, alih-alih seru baca bukunya :P 

    Terus, apa yang membuat saya akhirnya mereview buku ini? Yah, itu karena semata-mata, isi blog saya akhir-akhir ini lebih banyak uneg-uneg, opini, curhat, meme, dll daripada review buku. Jadi katakanlah review saya kali ini boleh dibilang kejar setoran. #jujur

    Eniwei, busway, sekarang ini saya banyak dengar istilah domestic romance? Apa sih itu? Domestic Romance adalah cerita romens yang lebih membahas mengenai hubungan antar suami-istri atau pasangan yang sudah menikah. Nah Mahogany Hills ini juga begitu. 

    Perhatian: Review mengandung spoiler dan juga mungkin bakal nyebelin. 

    Ceritanya ada pasangan pengantin baru yang bernama Jagad dan Paras. Mereka menghuni sebuah rumah yang bernama Mahogany Hills, suatu daerah pegunungan di Sukabumi. Jagad dan Paras menikah karena perjodohan dari orang tua. Paras menerima pernikahannya dengan sebuah harapan indah untuk membangun suatu rumah tangga yang bahagia bersama Jagad. Sayangnya, Jagad tidak merasa demikian. Dia menikah karena terpaksa. Hal itu menyebabkan Jagad memperlakukan istrinya, Paras dengan sangat buruk. Sementara Paras tetap berusaha tabah menerima semua perlakuan Jagad, dengan harapan suatu saat cinta bisa bersemi di antara mereka. 

    Yup, itulah ringkasan ceritanya. Dari situ sudah ketahuan polanya. Awalnya cowoknya arogan, menyebalkan, lalu akhirnya jadi bertekuk lutut sama ceweknya. 

    Saya tahu Mahogany Hills dari beberapa review anak-anak BBI. Boleh dibilang, daripada bukunya sendiri, membaca review-review Mahogany Hills lebih seru. Misal review Ren atau Mbak Dewi yang lebih banyak mencak-mencak karena jalan ceritanya atau tokoh cowoknya yang minta ditampol. Tapi ada juga yang suka, seperti review Stefanie atau reviewnya Luckty. Eh apa maksud saya nih, bawa-bawa ripiu orang ke blog saya?

    Tidak ada maksud apa-apa sih, tapi supaya adil, saya harus kasih review yang suka dan tidak suka donk. Namanya juga pendapat dan selera, pasti beda-beda. Lha, terus saya sendiri bagaimana? Sayangnya, saya lebih condong ke kubu yang tidak suka. Alasannya, yah, silakan cek sendiri di link review yang saya sebutkan di atas. Lalu alasan lain, mungkin saya merasa penuturannya terlalu banyak narasi dan deskripsi yang kadang bikin saya bosan, karena jadinya bertele-tele. Meski dari segi diksi sudah baik, tapi yah penuturan yang terlalu panjang dan detil (macam truk pengangkut sayur mayur pun dijelaskan lengkap susunan sayurannya, padahal truknya hanya lewat selintas saja) bikin saya suka hilang fokus dan teralihkan ke hal lain. 

    Saya ingat, buku ini sempat heboh di grup bajai jaboers. Kebanyakan penasaran karena buku ini adalah pemenang pertama lomba penulisan Amore tapi justru beberapa reviewnya jelek. Lalu, saya tanya, "Emang bukunya seperti apa sih?" dan dijawab, "Mirip Harlequin jadul."

    Setelah saya selesai membacanya, ternyata memang mirip Harlequin jadul, termasuk penuturan Tia, hanya saja lebih disesuaikan dengan budaya Indonesia. (Baca: maksudnya tuh nggak ada adegan gelenyar-menggelinjang). 

    Saya sebenarnya lumayan menikmati Harlequin sewaktu SMA, cuma berhubung ternyata setelah itu, saya mengetahui kalau kehidupan tidaklah semanis kisah Harlequin, saya pun mulai beralih ke genre lain yang cerita, konflik dan karakternya lebih real. Yah, tapi berhubung saya banyak melihat lini Amore di toko buku, maka saya mengambil kesimpulan, bahwa tema basi pun tak lekang dimakan jaman asal pengemasannya menarik. 

    Tapi, yang saya sayangkan pengemasan menarik itu tidak sebanding dengan isi ceritanya. Tia, mempunyai gaya diksi yang rapih seperti novel terjemahan. Tapi mungkin saja selera saya agak bertentangan dengan mainstream, saya tidak suka tipe cowok arogan dan cewek yang nrimo. Terus saya juga tidak suka dengan cerita perkosaan dan amnesia. Bayangin, ceweknya diperlakukan dengan dingin, harga diri sang cewek sudah dipermalukan pas malam pertama, terus pas lagi lebam-lebam karena habis diserang cowok lain, bukannya diobati dulu luka-lukanya dan dihibur malah diperkosa, meski suaminya sendiri, tetap perbuatan itu tidak pantas. 

    Oke, ralat, saya benarnya gak masalah, dengan tema basi, cerita klise termasuk adegan "lupa" selama punya relevansi dan alasan yang bagus untuk keseluruhan plot ceritanya. Tapi kadang berasa adegannya ini, lebih karena untuk sekedar nambahin konflik. Padahal, konflik utama sudah ada, yaitu Jagad yang tidak mau mengakui perasaannya. Tapi mengapa harus tunggu "lupa" dulu baru mau mengakui.

    Selain itu, karakternya juga tidak konsisten, terutama Paras, saat dia amnesia. Dia takut pada Jagad, tapi juga pengen dekat-dekat sama Jagad, lha?

    Kalau saya, penulisnya, mungkin, alih-alih amnesia, saya lebih baik mengubah karakter Paras. Misal Paras jadi syok karena keguguran dan membenci Jagad dan tidak mau menerimanya kembali. Etapi, kalau kayak gini, namanya bukan Amore yah, tapi jadi Udah Putusin Aja! 

    Rabu, 20 November 2013

    BOOK REVIEW: THE FAULT IN OUR STARS

    ★★★★
    Judul Buku: The Fault In Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)
    Pengarang: John Green
    Penerbit: Qanita (Mizan Group)
    Jumlah Halaman: 423
    Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
    Segmen: Remaja, Dewasa-Muda
    Genre: Drama, Realistic Fiction, Romance
    Harga: 49.000 (diskon 30%, jadi Rp 34.300)

    The Fault In Our Stars salah satu buku yang gaungnya banyak saya dengan sejak 2012 kemarin. Bukan hanya secara lokal tapi juga international. Sebut saja tumblr, yang banyak sekali mereblog gif set dari sang pengarang, John Green. Selain itu John Green juga banyak dipuja-puji karena menulis buku young-adult yang diluar standar kebanyakan young-adult, yang akhir-akhir ini banyak mendapat kritikan karena isinya yang "kurang bergizi". 

    Nah berbicara soal bukunya sendiri, The Fault In Our Stars, selanjutnya saya singkat saja TFIOS juga punya rating yang termasuk top atau elit di goodreads, ratingnya yaitu 4.5 dari 390.000 users lebih. So, I'm curious to read it. 

    Setelah saya searching sekilas, ternyata TFIOS itu berkisar tentang kanker. Hmmmm, sejujurnya buku yang membahas tentang penyakit, apalagi kanker, bukanlah buku favorit saya. Karena: 1. Saya memang tidak suka tema serius yang bisa bikin sedih atau depresi. Karena bagi saya, baca buku itu untuk escapism alias senang-senang dari dunia yang terkadang tidak menyenangkan, jadi mengapa memilih tema yang justru bikin sedih. 2. Beberapa orang yang saya kenal, banyak yang kalah dan meninggal saat berjuang melawan penyakit itu. Jadi saya tidak mau mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukan oleh penyakit tersebut. Tapi, karena rating dan puja-puji itu plus banyak remaja yang suka dengan buku yang bertema serius ini, saya penasaran juga. Apa sih yang membuatnya begitu spesial dan istimewa dibanding buku-buku bertema sejenis lainnya.

    The Story

    Hazel Grace, seorang remaja berusia 16 tahun yang divonis menderita kanker tiroid. Penyakit tersebut juga telah menyebar ke paru-parunya yang membuat Hazel sulit bernafas dan terpaksa mengenakan alat bantu pernafasan berupa selang dan tabung oksigen yang harus dibawa kemana pun Hazel pergi. 

    Saat menghadiri pertemuan anak-anak penderita kanker, Hazel bertemu dengan Augustus Waters, sesama penderita kanker juga, yaitu osteosarkoma yang telah membuat Augustus kehilangan satu kakinya. Augustus yang tampan dan selalu bersikap positif membuat Hazel jatuh cinta padanya. 

    Augustus meyakinkan Hazel, bahwa ia bisa pergi ke Amsterdam untuk bertemu dengan penulis favorit Hazel, yaitu Peter Van Houten. Bersama-sama Hazel dan Augustus mencari jalan untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut.

    jadi bagaimana caranya Hazel dan Augustus bertemu dengan Peter Van Houten?

    My Thought

    So, is it true? Is it true, this is tearjerker book as they said? Well, maybe the answer is depend on your mood when you read it. I'm not cry but almost cry and I feel so sad while I close the book. I always say that I love the book about star crossed-lovers, but I correct it. No, I don't like if the star crossed-lovers such as illness played in the book. Because I know the ending usually sad and tragic and it just remind me that's how real life could be. But we must face it. 

    Tapi juga sulit bagi saya untuk tidak berkata bahwa ini buku yang indah. Bagaimana John Green dengan gaya bahasanya yang penuh kata-kata lucu dan juga witty berhasil membuat tema serius menjadi menghibur dan penuh filosofi. 

    Kekuatan novel ini, terutama ada pada karakter-karakternya, Hazel dan Augustus. Mungkin untuk sebagian pembaca, gambaran Hazel dan Augustus terlalu sempurna sebagai 2 remaja penderita kanker yang sedang sekarat. Mengapa terlalu sempurna? Karena mereka, terutama Augustus sangat memandang positif kehidupan. Meski dunia sangat tidak adil terhadap mereka. Padahal kenyataannya jarang yang bisa seperti itu. Tapi ini adalah buku fiksi dengan karakter fiktif jadi cukup pakai dan gunakan imajinasi kita. 

    Gambaran sempurna itu sangat terasa pada sosok Augustus Waters. Tidak heran, kalau tahun 2012 kemarin, banyak anak BBI yang memilih Augustus sebagai kriteria pacar ideal. Saya pun menganggap begitu. Augustus yang selalu bersemangat, riang, jenaka dan gemar bermerafora, terutama dengan perumpamaan rokok yang dianggap tidak berbahaya selama apinya tidak dinyalakan. Ah, andaikan di luar sana ada seorang Augsutus Waters (yang dalam keadaan sehat tentunya) yang menunggu saya, betapa bahagianya hati saya #lebaysebentar. Augustus tahu bagaimana caranya membuat suasana hati seseorang menjadi lebih baik. Berikut ini kalimat-kalimat dari Augustus yang saya suka:
    "Aku selalu berpikir dunia adalah pabrik pewujud-keinginan." ~hal. 150
    "Sadarlah bahwa berupaya menjaga jarak dariku tidak akan mengurangi kasih sayangku terhadapmu." ~hal. 167
    "Kepedihan menuntut untuk dirasakan." ~hal.89
    "Oh, aku tidak akan keberatan, Hazel Grace. Akan merupakan keistimewaan jika kau mematahkan hatiku." ~hal.298
    "Kisah-kisah kepahlawanan kita akan terus bertahan selama masih ada suara manusia." ~hal.273
     "Aku akan memeranginya. Aku akan memeranginya untukmu. Jangan mengkhawatirkanku, Hazel Grace. Aku baik-baik saja. Aku akan mencari cara untuk terus bertahan dan menjengkelkanmu untuk waktu yang lama." ~hal.288
    "Kau tidak bisa memilih apakah kau akan terluka di dunia ini, Sobat Lama, tapi kau bisa ikut menentukan siapa yang melukaimu. Aku menyukai pilihan-pilihanku. Kuharap Hazel menyukai pilihan-pilihannya." ~hal.418
    Seperti yang saya bilang, kelebihan novel ini ada di gaya bahasanya yang witty dan penuh humor. John Green mengajak pembaca untuk memandang penderita kanker sebagai manusia normal yang juga punya impian, cita-cita (diluar kesembuhan mereka), hasrat, dan keinginan duniawi lainnya alih-alih orang cacat yang patut dikasihani karena penyakit mereka. Dan mereka ingin dikenang bukan hanya karena perjuangan mereka melawan kanker, tapi hal-hal lain yang mereka lakukan semasa hidup mereka. 

    Ngomong-ngomong, soal John Green, seperti apa sih dia?




    OK, sepertinya John Green sama eksentriknya seperti Peter Van Houten. Saya lanjutkan pembahasannya. Saya rasa pesan moral buku ini seperti yang dikatakan Hazel Grace di halaman 281:
    "Aku percaya kau punya pilihan di dunia ini mengenai cara menceritakan kisah sedih, dan kami memilih cara yang lucu."
    Dan memang begitulah cara John Green menuliskan kisah dalam buku ini, dia meramu cerita sedih secara riang dan penuh canda yang sukses membuat pembaca merasakan berbagai emosi seperti tawa dan sedih. Selain itu yang saya suka, John Green tidak melupakan unsur drama keluarga. Saya suka deh sama keluarganya Hazel maupun Gus yang sangat supportif. Selebihnya saya akan kembali menulis quote-quote memorable dari buku ini yang saya suka:  
    "Hanya ada satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan daripada mati gara-gara kanker di usia enam belas, yaitu punya anak yang mati gara-gara kanker." ~Hazel Grace, hal. 15
    "Jika kau khawatir dilupakan untuk selamanya oleh manusia, aku mendorongmu untuk mengabaikannya saja. Tuhan tahu, itulah yang dilakukan semua orang lainnya." ~Hazel Grace, hal. 23
    "Semua orang begitu baik. Juga kuat. Di hari-hari terkelam, Tuhan meletakkan orang-orang terbaik dalam hidupmu." ~hal. 42
    "Tanpa penderitaan, bagaimana kita bisa mengenal kebahagiaan?" ~hal.52 (entah mengapa saya teringat salah satu quote dalam Delirium yang juga mirip)
    "Cinta sejati lahir dari masa-masa yang berat." ~hal. 40 
    "Terkadang itulah hal terburuk dari menderita kanker, penyakit itu memisahkanmu dari semua orang lainnya." ~hal. 195
    "Beberapa turis menganggap Amsterdam sebagai kota kebebasan, dan sebagian orang menemukan dosa di dalam kebebasan." ~hal. 211 
    "Pasti kau tahu kalau hanya ada dua emosi, yaitu cinta dan ketakutan." ~hal 254
    "Dorongan untuk menciptakan seni atau merenungkan filosofi tidak hilang ketika kau sakit." ~hal 285
    "Kau akan...kau akan...menjalani kehidupan terbaikmu hari ini. Inilah peperanganmu sekarang." ~Hazel Grace, hal. 290-291
    "Ketidaktahuan adalah kebahagiaan." 
    Terjemahan

    Kalau ada satu hal yang ingin saya protes, itu adalah terjemahan TFIOS yang menurut saya kaku dan tidak luwes. Bila anda secara pasif sudah paham bahasa Inggris, saya sarankan baca edisi aslinya saja daripada terjemahannya. Saya akan kasih contoh beberapa kekakuan bahasa yang saya rasakan selama membaca buku ini:
    • Kacamata matahari,  saya sampai mikir beberapa kali, apa itu kacamata matahari. Dan kalau diinggriskan, kacamata matahari itu adalah sun glasses. Tapi sun glasses sendiri kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia bukanlah kacamata matahari melainkan kacamata hitam
    • Taman bermain bertema, mungkin Inggrisnya Theme Park. Tapi menurut saya cukup taman hiburan. Lebih tidak kaku. 
    • Komputer genggam, saya juga mikir apa yang dimaksud komputer genggam di sini? Apakah tablet atau handphone? Atau gadget lain?
    Begitu pula beberapa kalimat lain yang terasa janggal bila diucapkan dalam bahasa Indonesia, John Green mengemas gaya bahasanya dengan witty, karena itulah menerjemahkannya pun harus bisa ikutan witty. 

    Terus gambar-gambar hati yang ada di tiap pojok halaman, ngga banget deh. Selain menggangu baca, gambar-gambar hati tersebut juga terkesan norak dan lebay. Biarkan saja halaman novel itu polos tanpa gambar-gambar tidak penting. Dan untuk covernya, jangan bandingkan dengan yang edisi asli, karena jelas yang terjemahan kalah jauh, walaupun sama-sama biru. 

    BTW, semua mungkin sudah pada tahu, kalau buku ini akan diadaptasi ke film. Beberapa pemerannya sudah ditetapkan, yaitu: 


    Saya sih oke-oke saja sama Shailene Woodley sebagai Hazel, walau kalau menurut gambaran Augustus di buku, wajah Hazel itu lebih mirip Natalie Portman, dan aktris muda yang mirip Natalie Portman menurut saya adalah:
     

    Untuk pemeran Augustus Waters adalah:

    Ansel Elgort

    Dan pemeran Isaac, teman Gus dan Hazel, adalah :

    Nat Wolff
    Yah, cowok-cowoknya eye candy sih ^_^

    BTW, saya baca buku ini barengan sama Indah dari Indah's Books Dreamland.

    Senin, 11 November 2013

    BOOK REVIEW: ME BEFORE YOU (SEBELUM MENGENALMU)

    ★★★½
    Judul Buku : Me Before You (Sebelum Mengenalmu)
    Pengarang: Jojo Moyes
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Jumlah Halaman: 656 Halaman
    Penerjemah: Tanti Lesmana
    Segmen: Dewasa
    Genre: Drama, Realistic Fiction, Romance
    Harga: Rp 98.000 (diskon 20%)


    Perhatian, review ini bermuatan curhat dan SPOILER!!

    Me Before You adalah salah satu novel yang tahun ini cukup banyak diperbincangkan. Mulai dari review-review positif yang bertaburan banyak bintang di goodreads, belum lagi review-review yang bilang cerita dalam buku ini tearjerker alias sukses bikin nangis. Trus novel ini juga sering masuk dalam daftar wish list para pembaca buku pada umumnya. Karena itu, saya pun tanpa ragu ikut memasukkan novel ini juga dalam buy list. Dan pada bulan November ini, saya berkesempatan membacanya. Nah tentu saja dengan begitu banyaknya reveiw positif, jadi wajarkan saya punya harapan tinggi akan buku ini. Minimal bisa bikin mata saya berkaca-kaca seperti ini :

    Tapi selesai baca, saya dapatnya mixed feeling. Alias perasaan bingung. Mulai dari, mengapa saya tidak menangis dan merasa sedih seperti yang lain? Kan ceritanya sedih. Mengapa saya bingung dengan tokoh utama novel ini antara oke and don't like her? Berapa rate yang sebaiknya saya berikan pada buku ini? Mengapa saya ada perasaan tidak suka dengan buku ini? Meski saya menikmati membacanya. Tapi saat ditutup, I just feel nothing and let's read the next book

    Okay, sekarang mari bahas ceritanya dulu:

    Buku ini berkisah tentang perubahan hidup seorang wanita muda bernama Louisa Clark. Lou, begitulah Louisa biasa disapa, adalah seorang wanita berusia 26 tahun yang biasa-biasa saja. Lou tidak punya ambisi dan keinginan apapun dalam hidupnya dan ia sudah berpacaran selama 7 tahun tanpa ada kepastian langkah selanjutnya dari pacarnya. Keluarga Lou sederhana dan hidup pas-pasan, sehingga Louisa pun harus ikut menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Karena itulah saat kafe di mana Lou telah bekerja selama 6 tahun mendadak ditutup, kehidupan Lou menjadi luntang-lantung tak jelas tanpa penghasilan tetap.  

    Keadaan ekonomi yang pas-pasan membuat Lou terpaksa menerima pekerjaan sebagai asisten pribadi dari seorang pria yang menderita kelumpuhan parah yang disebut Quadriplegia. Lou tidak pernah membayangkan bahwa ia akan sanggup menjadi perawat dari orang cacat. Yang membuat sulit, adalah sikap pria tersebut yang terang-terangan tidak menyukai kehadiran Lou.

    Will Traynor adalah seorang pengusaha muda yang sukses dan ambisius, senang melakukan banyak kegiatan luar ruangan dan aktivitas fisik. Namun kecelakaan fatal yang dialaminya 2 tahun yang lalu, membuat hidupnya berubah 180 derajat. Ia mengalami cedera tulang belakang yang mengakibatkan dirinya divonis menderita  Quadriplegia C5/6 yaitu suatu kelumpuhan nyaris total. Di mana selain kepala dan sebelah lengan Will, bagian tubuh lain tidak bisa digerakkan. Karena itulah Will yang merasa tidak berguna, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara eutanasia. 

    Dapatkan Louisa dengan keceriaannya mengubah tujuan Will agar tidak melakukan hal tersebut? 

    Characters:

    Ceritanya sih klise yah, tentang 2 orang yang berbeda dunia, terus jatuh cinta dan sesudah itu pandangan hidup mereka berubah. Tapi, entahlah, untuk ukuran novel romance, saya kok kurang merasakan chemistrynya Lou dan Will. Sepertinya cuma Lou doank yang cinta sama Will, sementara Will lebih cinta kehidupan lamanya, nggak peduli sesulit apa orang-orang disekitar dia berusaha bikin dia senang.

    Oke. Saya paham, Will menderita dan depresi tapi bukan berarti itu alasan untuk terus bersikap menyebalkan, sinis, egois dan bossy terhadap setiap orang dan  hingga akhir saya tetap gagal bersimpati terhadap Will. Selain itu, saya tidak tahu, apakah memang demikian tipikal orang-orang kaya di Inggris, tapi saya tidak melihat adanya suatu bonding pada keluarga Traynor. Saya melihat interaksi keluarga Traynot ini "dingin". Lalu POV, di sini, selain POV Lou, juga ada beberapa POV karakter pendukung macam anggota keluarga dari Will dan Lou, tapi sayangnya malah tidak ada POV Will sama sekali. Padahal seandainya ada, saya mungkin lebih dapat memahami karakter Will. 

    Lou, jadi Lou ini tipikal loser, yang belum tahu arah dan tujuan hidupnya, yah saya kadang juga githu plus labil pula tapi saya tahu apa yang saya suka dan tidak tapi bukan itu masalahnya. Banyak karakter loser yang saya suka juga kok, karena loser itu real dan manusiawi. Tapi entah mengapa ada sesuatu dalam karakter Lou yang sepertinya bikin saya sebal sama dia, mungkin karena dia tidak ada tegas-tegasnya sama sekali. Ataukah mungkin ini tandanya penulis sukses bikin karakter yang tidak 1D alias 1 dimensi, yang sukses bikin kita sebal dan suka sama Lou, kalau saya sih sebatas biasa saja sama Lou, dan memang ada beberapa adegan yang bikin dia terlihat annoying. Dari segi pengembangan karakternya sendiri, entah kenapa saya menganggap perubahan Lou lebih karena Will bilang begitu atau karena saran Will daripada karena 'aktualisasi diri'. Seandainya Will bilang, "Lou, kamu lebih cocok jadi pengasuh bayi dan kerja di yayasan sosial," maka saya rasa Lou pun akan menurut dan melakukan hal itu (alih-alih jadi fashion designer) because Will said so.

    Anehnya, karakter yang lumayan saya suka di sini, justru adalah Ritchie, teman chattingnya Lou di dunia maya yang hanya muncul beberapa halaman saja.

    Pro-Life vs Pro-Choice

    Penulis sebenarnya mengangkat tema yang menarik sih. Berlatar dari isu pro-life vs pro-choice maka terciptalah premis utama cerita ini. Hanya saja, saya tidak suka eksekusinya. Saya tidak mempermasalahkan mengenai pilihan apapun yang diambil Will, tapi coba dibuat juga adegan strugglenya dia saat harus bilang itu ke keluarganya. Saat saya menulis ripiu ini, kebetulan saya sedang membaca halaman-halaman awal TFIOS dan ada anak perempuan berumur 16 tahun berkata, "Aku ingin menyenangkan orang tuaku. Hanya ada satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan daripada mati gara-gara kanker di usia 16, yaitu punya anak yang mati gara-gara kanker." Duh Hazel aja yang masih remaja, lebih menyenangkan daripada Will, padahal sama-sama sekarat. #MulaiNgalorNgidul

    Grey Morality

    Sekarang ini, memang tampaknya lagi populer genre yang lebih berpandangan grey morality ya? Menurut saya MBY ini salah satunya. Mungkin seperti yang ditulis pengarang dalam salah satu karakternya, 
    "Kau tidak usah menganggap keputusannya benar. Tapi kau perlu mendampinginya di sana."
    Jadi moral abu-abu, bukanlah benar atau salah tapi apapun yang terjadi biarlah itu menjadi keputusan yang terbaik dan kita hanya bisa mendukung. 

    Ending

    Dan berbicara soal ending/epilog, saya juga gak suka (bukan soal Will tapi Louisa, secara cerita ini kan tentang Louisa yang hidupnya berubah sejak mengenal Will, so yes this is chicklit, not love story)

    Spoiler, highlight to view:
    "Alih-alih ngopi di kafe Paris (yang juga atas saran dan permintaan Will), mengapa Louisa tidak menggunakan uang warisannya saja untuk buka kafe di daerah pedesaan Inggris, dengan pelayan yang memakai seragam bercorak lebah."
    
    Some nice quotes : 
    "Kau hanya hidup satu kali. Sudah kewajibanmu untuk menjalani hidupmu sepenuh-penuhnya." ~Will hal. 335
    "Tapi kalau kita tidak yakin dia bisa merasa lebih baik, atau bahkan kondisinya akan membaik, bagaimana dia sendiri bisa meyakini bahwa hal-hal yang baik masih mungkin terjadi?"
     Tapi saya ketemu beberapa kosakata menarik, ini yang saya catat:
    • melesapkan
    • galur
    • cericip
    • menggusah
    • gemblung
    • lamat-lamat
    • keredap
    • menggeluguk
    • lembam
    • terlonggong-longgong 
    Dan ini beberapa typo yang saya temui:
    - Hal. 20 : daan, seharusnya dan
    - Hal. 200 : yag, seharusnya yang
    - Hal 427 : tetang, seharusnya tentang
    - Hal 550 : manyala, seharusnya menyala

    Overall, review ini hanya berdasarkan selera saya. Tapi menurut saya pribadi buku ini lebih ke chicklit daripada love story. Seperti yang salah satu sesama blogger, Mide pernah bilang dalam salah satu reviewnya, bahwa untuk sebuah cerita romens, kadang pembaca perlu untuk suka dengan karakternya dulu supaya bisa suka juga dengan cerita romensnya. 

    Maka saya pun menyimpulkan demikian. Saya punya beberapa karakter favorit dari suatu fandom dan karena saya suka mereka, saya pasangkan sebagai OTP saya di tumblr. #OOT

    Meski begitu dari segi plot dan penuturan, gaya bahasa Jojo Moyes enak diikuti. Plotnya pun rapih sehingga walaupun bukunya tebal, saya tidak sampai merasa bosan membacanya. Begitu pula beberapa hal yang diceritakan dalam kisah ini, bisa menambah informasi bagi kita macam Dignitas di Swiss dan tempat-tempat berlibur bagi penderita quad

    Minggu, 03 November 2013

    BOOK REVIEW: FLEUR


    ★★★½
    Judul Buku : Fleur
    Pengarang: Fenny Wong
    Penerbit: Diva Press
    Editor: Misni Parjiati
    Jumlah Halaman: 322 Halaman
    Segmen: Remaja, Dewasa-muda
    Genre: Fantasi, Romance, Historical Romance
    Note: Pinjaman dari Mbak Dewi ^^

    15.54

    Madam Shortcake sekali lagi menoleh ke arah teras belakang rumahnya. Memastikan segala sesuatunya tertata anggun dan terlihat indah seperti yang ia inginkan. Kursi-kursi empuk dengan bantalan mini yang bercorak bunga tampak tertata nyaman di masing-masing kursi. Lalu ia melihat meja bundar di tengah-tengah lingkaran kursi tersebut. 

    Segalanya  tampak sempurna dan indah di atas meja makan tersebut. Mulai dari meja berselimutkan taplak putih yang bagian tepinya berhias renda. Dua poci teh, yang masing-masing terdiri atas 1 poci teh Darjeeling dan 1 poci teh Chamomile. Lalu cangkir-cangkir kecil bermotif bunga yang tertata rapih di  meja sesuai dengan jumlah kursi. Dan tentu saja hidangan lezat yang terhampar penuh di meja, mulai dari kue tart, puding karamel, kue soes, setoples kue kering choco chip, sekaleng biskuit cracker berikut dengan selai kacang dan selai lemon dalam masing-masing mangkuk berukuran sedang, dan juga setoples permen pedas. Sementara di bagian tengah meja, sebuah vas dengan bunga-bunga mawar aneka warna tampak menghias cantik.  

    Setelah merasakan ruangan untuk minum tehnya siap, Madam Shortcake untuk kesekian kali mematut dirinya dalam cermin. Memastikan bahwa penampilannya pun pantas dan juga cantik.  

    16.00
    Ting-Tong

    Bel berbunyi. Segera Madam Shortcake melangkah cepat  menuju pintu dan membukanya. Datanglah lima tamu yang telah ditunggunya. Mereka adalah:

    Miss Momon
    Miss Pinkimos

    Miss Grinlif
    Lady Wan
    Miss Bleka

    "Selamat sore, Madam," salam Momon, ia menekuk kedua kakinya sedikit dan memberi hormat pada tuan rumah. Diikuti oleh keempat tamunya yang lain. Selesai memberi salam pada pada Madam Shortcake, Miss Pinkimos, Miss Grinlif, Lady Wan dan Miss Bleka langsung menuju teras dan mengambil tempat di setiap kursi yang telah disediakan. 

    Tapi Madam Shortcake menggamit lengan Momon, ia menahan Momon sebentar sebelum menuju teras untuk jamuan teh sore, "Jadi, Lady Storytelling sungguh tidak bisa datang?"

    Momon melihat seberkas ekspresi kecewa di wajah Madam Shortcake, "Tidak, maafkan aku, Madam. Aku sudah berusaha membujuknya, tapi Milady bilang ia sibuk di bulan November ini. Bukan petualangan, tapi menghibur mereka yang sakit," jeda sebentar lalu Momon melanjutkan, "selain itu, Milady tidak suka dengan pembahasan tema cinta segitiga. Karena menurut Milady, cinta segitiga tidak adil dan pasti ada satu pihak yang akan terluka." 

    "Aku mengerti. Hanya saja debat buku sore ini pasti akan terasa seru apabila Lady Storytelling ikut." Madam Shortcake lalu melepaskan genggaman tangannya dari lengan Momon dan menunjuk arah teras, "Silakan, Miss Momon."

    Suasana teras sudah ramai oleh percakapan dan gelak tawa saat Madam Shortcake memulai jamuan minum tehnya. Bukan sekedar jamuan minum teh biasa, karena sore ini mereka akan membahas buku percintaan berjudul Fleur. Madam  Shortcake bertindak selaku host dan moderator. 

    Madam Shortcake mengambil nafas sejenak, lalu ia bekata, "Baiklah, Nona-nona sekalian dan Lady Wan, karena kita sudah berkumpul semua, jadi silakan nikmati jamuannya dan bahas bukunya." Madam Shortcake mengambil 1 poci yang berisi teh chamomile dan menuangkannya ke cangkir Lady Wan. "Selain itu, tidak perlu menggunakan bahasa resmi dan kaku, jadikan pembahasan ini santai."

    "Oke, lagian mengapa sok resmi? Kita tidak berada dalam istana raja" sahut Lady Wan acuh tak acuh.

    "Dan gue masih bingung, kenapa elo bisa ikutan dalam acara bahas buku ini, Lady Wan," celetuk Miss Pinkimos. 

    "Maksud elo apa?" tanya Lady Wan, heran.

    Miss Pinkimos mengambil sekeping kue choco-chip, "Elo kan selalu ngaku kalau elo orangnya logis dan lebih suka cerita yang masuk akal. Gue heran, kok elo bisa ikut masuk klub pecinta novel romens sih?" Miss Pinkimos lalu mencelupkan kue choco-chipnya ke segelas susu. "Maksud gue, yang namanya cinta itu tidak ada logika."

    "Yee, justru karena gue logis dan yang paling rasional, makanya gue harus ikut pembahasan ini," jawab Lady Wan sambil kipas-kipas. "Menurut gue tuh, cinta yang sehat adalah cinta yang masih bisa menggunakan logika dan akal sehat."

    Miss Grinlif ikut menimpali, "Gue baru tau kalau elo ternyata hopeless romantic juga.  Biasanya kan elo selalu bilang cinta itu lebay dan keju."

    "Iya, emang benar, cinta itu lebay dan keju. Makanya gue ada di sini, mencegah elo orang jadi ikut-ikutan lebay dan keju. Gue adalah pengingat," ujar Lady Wan dengan pedenya yang diikuti sahutan, 'wooo' dari para hadirin lain. 

    "Cukup, cukup," Madam Shortcake menengahi. "Sekarang bahas bukunya, jadi Fleur ini bercerita mengenai kisah cinta antara peri bunga bernama Belidis, Dewa Bumi bernama Fermio dan Dewa Matahari bernama Helras. Tidak seperti peri bunga lain yang bisa menumbuhkan bunga dengan mudah. Belidis adalah seorang peri bunga lemah, hanya untuk membuat sekuntum bunga mekar saja, ia kesulitan. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Dewa Bumi bernama Fermio. Pertemuan mereka tidak biasa, namun pertemuan itu sungguh meninggalkan kesan bagi Fermio dan Belidis. Mereka berdua saling jatuh cinta. 

    Dewa bumi memberikan kekuatannya pada Belidis untuk membantunya menumbuhkan pohon-pohon dan bunga-bunga. Sayang, kisah cinta mereka terusik oleh Helras, Sang Dewa Matahari. Helras juga jatuh cinta pada Belidis dan berusaha memisahkan kebersamaan Fermio dan Belidis. Namun baik Fermio maupun Belidis saling bersumpah, meskipun mereka berpisah, mereka akan tetap saling mencintai satu sama lain. Apakah itu di kehidupan masa kini ataupun kehidupan yang akan datang. 

    Helras yang cemburu dan marah juga ikut membuat sumpah, ia bersumpah walaupun Fermio dan Belidis saling mencintai sampai kapanpun, mereka tidak akan bisa bersatu. Sebab Helras akan merebut Belidis dari Fermio. 

    Akhirnya abad demi abad berlalu. Belidis, Fermio dan Helras telah bereinkarnasi menjadi manusia. Belidis menjadi seorang nona bangsawan berparas jelita bernama Florence, Fermio menjadi George, kakak angkat Florence, dan Helras menjadi Alford Cromwell, seorang bangsawan terpandang yang sangat disegani dan juga tunangan Florence."

    Madam Shortcake kembali mengambil nafas sejenak setelah membacakan kalimat-kalimat panjang tersebut, lalu ia kembali berbicara, "Mulai dari Miss Momon dahulu," ia mempersilakan tangannya ke arah Momon. "Miss Momon, apa pendapatmu tentang cover buku ini?"

    Momon tampak bersemangat, "Covernya cantik. Gambar buku tua dengan background coklat, menyiratkan kesan klasik. Lalu gambar kupu-kupu dan ranting pohon menyiratkan kesan fantasinya." Ia lalu terdiam sesaat, "Tapi kurang suka sama gambar wajah orang di cover belakangnya. Kesannya jadi seperti romens picisan."

    Madam Shortcake mengangguk, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada tikus dengan telinga pink, "Lalu bagaimana cara penuturan cerita di buku ini menurutmu, Miss Pinkimos?"

    Miss Pinkimos menyesap tehnya sebelum menjawab, "Suka banget. Kata-katanya tersusun luwes. Kalimat-kalimat dalam narasinya mengalir lancar. Pokoknya diksinya enak dibaca dan enak didengar," kemudian ia meletakkan cangkir tehnya di meja, "Begitu pula percakapan dan interaksi antar karakter, seperti emosi, ekspresi. Semua digambarkan dengan jelas"

    "Bagaimana dengan karakter-karakternya, Miss Grinlif?" tanya Madam Shortcake kepada Grinlif yang sedari tadi tampak asyik memainkan cream pada kue tartnya. 

    Grinlif menoleh ke arah Madam Shotcake, "Aku suka dengan karakter-karakternya, Madam. Kurasa yang jadi kekuatan novelnya lebih karena karakter."

    "Dan karakter favoritku adalah Alford Cromwell. Dia romantis banget tapi...," ujar Bleka tiba-tiba, membuat perhatian semua orang teralih padanya, lalu raut wajahnya tampak sedih. "Tapi kasihan Alford, seharusnya ada keadilan juga buat dia." 
    Momon, Pinkimos dan Madam Shortcake diam-diam mengangguk. Hanya Grinlif yang tampak tidak setuju. Sedangkan Lady Wan sibuk mengoleskan selai lemon ke biskuit crackernya. 

    "Maaf menyela," tukas Lady Wan tiba-tiba, "tapi sekeren-kerennya karakter Alford Cromwell, harap diingat apa yang dia lakukan pada Florence di halaman 233." Ia lalu mengambil kepingan biskuit cracker lain dan menaruhnya di atas olesan selai lemon yang lalu membentuk biskuit sandwich cracker. Kemudian ia mencondongkan kepalanya dan berbisik, "Alford memukul Florence hingga lebam. Dan menurutku, sekalipun tunangannya salah, seorang pria tetap tidak boleh melakukan tindakan seperti itu terhadap seorang wanita."

    "Benar," timpal Grinlif bersemangat. "Seorang gentleman tidak akan melakukan hal tersebut, semarah apapun dia. Seharusnya dia bisa menjaga emosinya. George adalah satu-satunya yang pantas untuk Florence."

    "Tapi Grinlif, aku juga tidak suka kisah percintaan Florence-George," potong Lady Wan cepat. "Maksudku, mereka kakak-adik. Sekalipun tidak memiliki hubungan darah, tapi euhh bayangkan kakak-adik dan sudah dari kecil bersama-sama. Itu namanya pseudo-incest. Aku tak setuju."
    "Kali ini aku setuju dengan Lady Wan," jawab Pinkimos. "Mereka kakak-adik. Mengapa harus kakak-adik? Mengapa tidak buat hubungan cinta beda status sosial saja. Lebih enak dan sesuai dengan yang sering terjadi di era Victorian."

    "Benar," tambah Bleka. "Incest atau pseudo-incest, rasanya seperti membayangkan Miss Momon jatuh cinta dengan saudara kembarnya sendiri, Tuan Monky.

    Seketika itu juga teh yang baru masuk ke mulut Momon langsung tersembur keluar. Setelah terbatuk-batuk dan menenangkan diri. Momon langsung menatap jengkel ke arah Bleka, "Gila aja, masa menyandingkan gue sama monyet kurang ajar itu. Seandainya tuh monyet nggak ada hubungan darah sama gue pun, ogah gue disandingin sama dia."
    "Elo kenapa sih? Bete banget sama dia?" Grinlif tampak penasaran. 
    Panjang penjelasannya kalau sudah menyangkut hubungan Monky dan Momon. Tapi yang jelas Momon masih jengkel dengan ulah Monky yang menyembunyikan novel-novel romancenya. Kalau saja bukan karena bantuan Lady Storytelling yang mengancam akan membuang buah pisang dari menu makanan mereka, Monky tidak akan mengembalikan novel-novel romance Momon. 

    "Udah ah, jangan ngomongin Monky. Merusak suasana aja," Momon ogah menjawab, wajahnya masih cemberut. 
    Madam Shortcake langsung mengambil alih suasana, "Ayo semua, kembali ke topik. Jadi menurut kalian bagaimana ceritanya?"

    "Kalau menurutku, akan lebih seru kalau endingnya dibuat sebaliknya. Jadinya akan mirip cerita dengan...," Pinkimos tampak berpikir. "Apa tuh drama Korea yang waktu itu cowoknya naksir sama ceweknya gara-gara ceweknya berani ninju cowoknya. Padahal tuh cowok kan ditakuti sama semua anak di sekolah karena kaya dan berkuasa."

    "Boys Before Flower!" Momon dan Bleka menjawab serempak. 

    "Gue suka tuh film. Romantis," ujar Momon

    "Cowonya ganteng dan seksi," lanjut Bleka. 

    "Tapi pemaksa, tukang perintah, suka seenaknya. Gue lebih suka temannya yang lembut," protes Grinlif.

    Madam Shortcake mengetuk-ngetuk sendok ke meja, "Cukup, kalian OOT. Balik ke topik."

    "Aldis lebih bagus," gumam Lady Wan. 

    Madam Shortcake dan yang lain langsung menoleh ke arah Lady Wan, "Apa yang kau maksud Lady Wan?" 

    Lady Wan membuka kipasnya dan mulai mengipas, "Namanya, maksudku. Daripada Belidis, Aldis lebih enak didengar. Belidis mengingatkanku akan unggas dan merek saus sambal. Lagi pula, apa sih keistimewaan si Florence ini sampai diperebutkan 2 pria bangsawan tampan? Aku masih lebih suka karakernya saat menjadi Belidis. Florence terlalu plin plan dan kurang tegas menurutku."

    "Lady Wan," ujar Pinkimos, wajahnya tampak usil, "elo ngaku aja deh. Benarnya elo ngiri kan sama si Florence ini. Karena dia bisa diperebutkan 2 cowok ganteng, sedangkan elo sudah 3 musim, gagal melulu dapat calon suami potensial."
    Wajah Lady Wan tampak merah padam, namun dengan seketika ia sudah berhasil mengendalikannya, ia membuka kipasnya dan menyembunyikan sebagian wajahnya di kipas lalu memasang ekspresi angkuh, "Dengar yah, gue bukannya gagal mendapat calon suami. Yang benar adalah, banyak yang mendekati gue tapi gue tolak. Karena mereka semuanya di bawah level gue dan tidak sesuai dengan kriteria yang gue idamkan."

    "Memang kriteria calon suami idaman elo, yang seperti apa, Lady Wan?" tanya Bleka. 

    Lady Wan menurunkan kipasnya, matanya tampak menerawang, "Kriteria suami yang gue idamkan tuh yang punya tampang ganteng seperti Henry Cavill, senyuman menawan seperti Michael Fassbender, lalu suara menggoda dengan aksen seksi seperti Benedict Cumberbatch dan sifat gentleman seperti Tom Hiddlestone," wajahnya tampak merona. "Ahhh, gue jadi klepek-klepek sendiri."
    Momon, Grinlif dan Pinkimos tampak bisik-bisik.

    "Huh, katanya rasional," gumam sebuah suara.

    "Dan katanya berpikir logis," ujar sebuah suara lain.

    "Kenyataannya nggak waras dan delusional," timpal suara lain lagi.

    Lady Wan kesal dan langsung merauk beberapa permen pedas dan melemparnya ke arah Momon, Pinkimos dan Grinlif yang sedang berbisik-bisik.

    Dentingan suara sendok diketuk kembali terdengar, "Balik ke topik," hardik Madam Shortcake. Lalu ia memulai percakapan, "Aku setuju dengan pendapat Lady Storytelling mengenai cinta segitiga," ia menoleh dan mengangguk pelan ke arah Momon, "cinta segitiga itu tidak adil dan pasti ada salah satu pihak yang akan terluka."

    "Padahal, padahal, si Alford sudah berbicara seperti ini pada Florence," sambung Bleka
    "Florence, apa kau mencintaiku atau tidak, aku tidak ambil pusing. Aku menginginkanmu, dan itulah yang terpenting bagiku."
    "Jika ada satu hal, hanya satu hal saja di dunia ini, yang bisa membuatku terpisah darimu, apa pun itu, aku akan menggunakan segala cara yang kupunya untuk membuatnya musnah." ~hal. 127
    "Aku tidak khawatir akan pernikahan, Aku khawatir akan rasa dingin di antara kita." ~hal. 181
    Pinkimos ikut menambahkan, "Aku setuju.Seperti yang Alford sendiri bilang di hal. 270, mengapa semua menganggapnya sebagai orang yang jahat? Ia hanya memperjuangkan apa yang semua orang perjuangkan. Ia memperjuangkan cintanya."

    "Ia seperti Loki di film Thor: The Dark World, karakter yang rumit, tapi banyak groupie dan fangirlnya," desah Grinlif. 

    "Aku juga suka dengan Loki," Momon tampak bersemangat kembali. "Mereka harus membuat film tersendiri tentang Loki."

    "Jangan mulai OOT, ini peringatan terakhir" Madam Shortcake tampak jengkel. 

    "Jadi akhirnya Alford ini belajar arti cinta sejati, seperti Dear John?" tanya Lady Wan

    "Dan jangan berspekulasi yang menimbulkan spoiler dan OOT lagi," pertanyaan Lady Wan langsung ditutup oleh Madam Shortcake. "Hari sudah nyaris gelap, langsung saja kita tutup, berapa bintang?"

    "Tiga bintang,karena ceritanya terlalu banyak didramatisir" jawab Lady Wan.

    "Empat bintang, suka cerita dan endingnya," jawab Grinlif.

    "Empat bintang, suka dengan Alford yang keren," jawab Momon.

    "Gue setuju dengan Momon," jawab Pinkimos

    "Dua bintang. Karena nggak adil buat Alford, jawab Bleka.

    Lady Wan, menatap Bleka, "Dua bintang tidak adil. Penuturan dan plotnya sudah oke. Kalau soal cerita, gue juga ngga setuju sih, tapi nggak sampai 2 bintang lha."

    "Lagian kalau alasan elo kasih 2 bintang karena alasan OTP elo nggak canon, bikin aja fanficnya sendiri," sambung Grinlif sambil menuang tehnya ke cangkir. "Banyak kok fanfic yang sukses, contohnya Lima Puluh Semburat Kelabu. Elo bisa buat si Alford jadi Christian Grey. Cocok kan sama-sama cowok alpha male posesif."

    "Ih, enak aja, elo samain Alford sama si Grey yang itu," tukas Bleka jengkel.

    "CUKUP! Aku bilang jangan ada OOT lagi!" Madam Shortcake menggebrak meja. Ia jengkel dengan semua obrolan OOT dari para tamunya. Sementara para tamu lain tampak kaget. Mereka belum pernah melihat Madam Shortcake marah.

    Madam Shortcake lalu mengambil nafas dan menghembuskannya. Ia memejamkan mata dan kembali memasang ekspresi tenang, "Baiklah kukira yang adil adalah tiga setengah bintang. Bagaimana, kalian setuju?"

    Para tamunya kali ini tidak ada yang berbicara. Mereka kanya mengangguk-angguk tanda setuju. 

    Usai sudah, jamuan minum teh sore. 


    Disclaimer : http://emoticoner.com/
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...