Tampilkan postingan dengan label Post Apocalyptic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Post Apocalyptic. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Januari 2015

ANGELFALL: THE ANGEL VERSION OF THE HUNGER GAMES

Judul: Angelfall (Penryn and The End of Days #1)
Pengarang: Susan Ee
Penerbit: Matahari
Penerjemah: Nadiah Alwi
Redesain sampul: Apung Donggala
Jumlah halaman: 428 halaman
ISBN: 978-602-1139-26-4
Cetakan 1, Juli 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda.
Genre: Fantasi, dystopia, horror, thriller, paranormal-romance, urban fantasy.
Harga: Rp79.500, bisa dibeli di www.parcelbuku.net, bukabuku
Rate:  ★★★★
Note: Thank you Astrid for the present. 

Semenjak kedatangan para malaikat ke bumi, dunia Penryn seolah menjadi kiamat. Hujan bencana melanda di mana-mana. Para manusia hidup seperti gelandangan, kotor dan kelaparan. Kota menjadi kosong karena banyak rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Selain itu teror selalu mengancam hampir setiap dari para genk jalanan yang melakukan kekerasan dan pembunuhan sadis. Peradaban manusia menjadi hancur dan runtuh akibat ulah para malaikat.

Bagi Penryn, tak ada yang lebih penting selain menjaga agar keluarganya tetap utuh dan tidak kelaparan. Dengan ibu yang menderita gangguan mental dan Paige, adik perempuannya yang lumpuh, Penryn berusaha sekuat tenaga mengurus mereka dan menjaga mereka tetap aman setelah ayahnya meninggal. 

Suatu hari saat hendak mencari tempat persembunyian baru, tanpa  sengaja Penryn, ibu dan adiknya menyaksikan pertarungan sekelompok malaikat. Perkelahian brutal dan tidak seimbang itu menyebabkan salah seorang malaikat terkapar akibat luka parah. Selain itu kedua sayap sang malaikat juga dipotong dari punggungnya. 

Kehadiran Penryn dan keluarganya disadari oleh para malaikat lain dan mereka langsung menculik Paige, adik Penryn dan membawanya pergi. 

Putus asa ingin menemukan adiknya yang hilang, Penryn yang membenci ras malaikat, terpaksa harus bekerja sama dengan Raffe, malaikat yang sayapnya dipotong tersebut guna menemukan kembali sang adik. 

Surprise, buku ini ternyata seru. 

Selasa, 05 Maret 2013

WARM BODIES (WARM BODIES #1)

✮✮✮½

Judul Buku : Warm Bodies

Pengarang  : Isaac Marion

Penerbit     : Ufuk Fiction
Penerjemah : Meda Satrio
Jumlah Halaman : 374 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa Muda

This is not a story about survive in the middle of zombie's apocalypse, this about love story between 2 persons from different world. 

Jadi ceritanya :

Dunia masa depan berantakan dan diambang kehancuran (namanya juga Dystopia), dan ada 2 jenis kelompok manusia yang saling bertahan hidup. Kelompok pertama adalah manusia kaum hidup alias manusia biasa pada umumnya yang butuh makan, merasakan emosi, merasakan sakit, mempunyai kenangan, bertambah tua dan lain hal sebagainya. Lalu kelompok kedua adalah  para bekas manusia a.k.a. zombie a.k.a kaum mati (begitulah sebutan seringnya untuk zombie di cerita ini). Dan zombie-zombie ini eh kaum mati ini punya kebiasaan khas seperti zombie pada umumnya yaitu suka mengkomsumsi otak manusia/kaum hidup dan juga kelemahannya sama seperti zombie pada umumnya yaitu ada di kepala alias otak, karena itu kalau kamu ketemu zombie ingatlah untuk :


Meskipun secara garis besar para zombie alias kaum mati disini mirip dengan gambaran zombie pada umumnya seperti muka pucat, daging yang membusuk, pemakan manusia, termasuk cara jalan mereka yang sempoyongan, namun para zombie disini juga berbeda dari zombie-zombie pada umumnya, sebab mereka masih berbudaya, karena (1) mereka ada tempat ibadah/gereja sendiri (2) mereka bisa mengadakan upacara pernikahan (3) mereka masih ada keinginan untuk melakukan hubungan seks dan selingkuh (4)mereka membentuk suatu komunitas termasuk saat berburu (5)mereka juga ada sekolah untuk anak-anak zombie, jadi katakanlah zombie yang manusiwi. 

Oke, sekarang langsung ke tokoh utama dan ceritanya, jadi ada seorang zombie namanya Romeo R. Tapi R ini tidak seperti zombie-zombie lain (dia the special one karena dia tokoh utama) dia punya pemikiran sendiri dan lebih peka, meskipun dia tidak tau mengenai masa lalunya, oleh sebab itu dia (dan juga zombie-zombie lain) menobatkan makanan favorit mereka adalah otak manusia, sebab dengan memakan otak manusia mereka bisa merasakan sedikit kehidupan dari para korban mereka, sesuatu yang tidak mereka miliki sebagai zombie. 

Suatu  hari R dan teman-temannya melakukan perburuan dan di sini R memakan otak seorang pemuda bernama Perry Kelvin, dan R mendapat kenangan akan Perry termasuk kenangan akan pacarnya, yaitu seorang gadis bernama Juliet Julie dan Julie juga ada di lokasi perburuan. Dan seketika R jatuh cinta pada Julie dan berniat melindungi gadis itu dan menjaganya tetap aman. Jadi dimulailah hari-hari saat R perlahan tapi pasti berubah
dari mati menjadi hidup berkat cinta......

Kesan saya :

Sebelumnya saya ingin tekankan, bagi kalian yang menyukai fantasy dan terbiasa dijejali dengan cerita survivor in the middle of zombie apocalypse, jangan banyak berharap tentang hal tersebut akan ada dibuku ini. Seperti yang saya tulis di sinopsis, kalau zombie di Warm Bodies ini lebih beradab dan berbudaya dibanding zombie-zombie pada umumnya, karena itu jangan mengeluh bahwa cerita dan zombienya tidak masuk akal bila kalian bingung dengan zombie di Warm Bodies karena memang tidak dijelaskan apa yang membuat para manusia tersebut menjadi zombie dan saya lebih memilih kalau zombie-zombie di sini terjadi lebih dikarenakan hal gaib/supernatural/okultisme/kutukan bukan karena infeksi virus dan hal-hal yang bersikap sains. Sebab saat kita mengaitkan dengan sains meski fiktif sekalipun, maka kita akan meminta pertimbangaan logika. Lain hal nya dengan supranatural yang lebih diterima karena memang konsep gaib atau supranatural sendiri adalah di luar akal sehat. 

Terus bagi kalian yang Twilight haters atau ngga suka tipikal cerita yang menye-menye, dan khawatir kalau buku ini mirip Twilight (BTW, saya bukan haters tapi juga bukan fans Twilight saga) jangan cemas. Meskipun di depan ada premis dari Stephenie Meyer, sang penulis Twilight saga tapi buku ini tidak mirip dengan cerita Twilight. Buku ini lebih mirip cerita Romeo dan Juliet. Bahkan nama R dan Julie pun saya rasa terinspirasi dari Romeo dan Juliet. Keseluruhan Warm Bodies adalah kisah mengenai pemahaman akan umat manusia dan empati yang dibungkus dengan cerita cinta dan mahluk supranatural. 

Meskipun R menyukai Julie tapi yang membuat karakternya likeable (bagi saya), dia tidak memuja-muja Julie secara berlebihan sebagaimana orang lagi dimabuk cinta dan saya suka pengarang menunjukkan perasaan R pada Julie lewat interaksi dan tindakan serta pemikiran-pemikirannya terhadap manusia lain. Tapi sedikit pertanyaan untuk penulis, saya masih bingung apakah R suka terhadap Julie karena memakan otak Perry Kelvin(yang memang pacar Julie) atau R memang jatuh cinta pada pandangan pertama? Lalu berubahnya R menjadi lebih hidup dan makin manusiawi apakah karena sejak awal dia memang ditakdirkan special (faktor karakter utama dan fanboy penulis) atau emang otak Perry Kelvin yang dikonsumsi oleh R itu yang special?


Lalu bagaimana dengan karakter heroinenya sendiri? Julie cukup likeable, tipe gadis tetangga sebelah yang berjiwa bebas tapi dia care dengan orang-orang disekelilingnya, jadi saya rasa dia oke. Berhubung R mengkonsumsi otak Perry Kelvin, maka R terpaksa berbagi POV dengan Perry, jadi masa lalu R tetap misterius karena diisi oleh masa lalu Perry Kelvin. Mungkin bagi beberapa pembaca menganggap kisah Perry agak pointless selain kaitannya dengan Julie. 


Terus yang saya suka di buku ini adalah, cara penceritaannya yang kalem dan beberapa kutipannya yang cukup bagus dan menginspirasi, misal :


"Tidak ada tolak ukur untuk bagaimana "semestinya" hidup berjalan. Perry. Tidak ada dunia ideal untuk kautunggu-tunggu. Dunia selalu hanya seperti adanya sekarang. Terserah kepadamu bagaimana kau akan bereaksi terhadapnya." ~hal 180

"Menulis bukan hanya huruf-huruf di atas kertas. Menulis adalah komunikasi. Menulis adalah ingatan."~hal 222


Untuk cover sendiri, kebetulan saya beli bukunya yang udah cover film, mungkin dengan maksud marketable alih-alih pakai cover film yang seperti ini :
tapi malah cover yang dipakai mirip sama Twilight :
Hehehe, ngga ada maksud apa-apa sih, cuma sekedar membandingkan dua gambar tersebut (tapi saya harus bilang, kalau Nicholas Hoult dan Teresa Palmer lebih hidup dan punya ekspresi) mungkin seperti yang saya tulis sebelumnya, yaitu alasan marketing untuk menarik minat para Twihard. Tapi untuk saya pribadi, saya lebih suka poster dengan latar belakang merah dan pose R memberi bunga pada Julie, karena menurut saya poster film tersebut lebih bercerita and more artistic. 

Source gambar gif 1 Resident Evil Damnation
Source gambar gif 2 The Walking Dead
Source gambar poster Warm Bodies merah : 21 Cineplex
Source gambar poster Warm Bodies kedua : klik sini
Source gambar poster Twilight : klik sini

Senin, 11 Februari 2013

THE FOREST OF HANDS & TEETH (THE FOREST OF HANDS & TEETH #1)

✮✮✮
Judul Buku : The Forest of Hands and Teeth
Pengarang   : Carrie Ryan
Penerbit      : Kubika

Sinopsis :

Di suatu masa, ada satu kelompok mayarakat di sebuah desa kecil. Sepintas mereka tampak biasa saja, mereka bekerja, beristirahat, bergembira dan melakukan perayaan saat panen mereka berhasil namun sesungguhnya yang mereka lakukan adalah bertahan hidup dari para ternoda. Mary hidup dalam suatu desa yang dikelilingi pagar yang dapat melindungi desa dari para Ternoda. 

Desa tersebut diatur oleh para biarawati dan para biarawati inilah yang menentukan segalanya, seperti membuat peraturan bagi para warga desa karena menurut warga desa, para biarawati selalu tau apa yang terbaik karena mereka mengetahui segalanya. Mary selalu diberitahu bahwa hanya merekalah para manusia yang selamat dan berhasil bertahan hidup setelah masa Kembali dan untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup, Mary harus hidup menurut bimbingan gereja dan para biarawati. 

Namun Mary selalu meyakini ada suatu tempat di luar sana, suatu tempat yang bebas dari para Ternoda, tempat yang memiliki air yang banyak, yaitu laut. Tapi bisakan Mary keluar desa dan menerobos belantara Tangan dan Gigi untuk menemukan laut? Atau menemukan kehidupan lain yang bebas dari Ternoda ?

Kesan saya:

Menye-menye dan mellow. Itulah gaya penceritaan novel ini. Sebagai heroine, Mary juga agak mengewakan bagi saya. Dia memang tidak digambarkan kick-ass tapi bukan itu yang bikin saya kecewa, saya tidak pernah mempermasalahkan karakter seorang heroine dari kemampuan bertarungnya, tapi yang saya nilai adalah tindakan dia sepanjang cerita, sikap dan interaksi dia terhadap karakter lain, dan yang terutama tentu saja motivasi heroine itu sendiri. Tapi mungkin memang menye-menye bukanlah favorit saya dalam suatu karakterisasi. 

Somehow I feel Mary is really plain and at certain point she also remind me of Bella Swan. Self centered, selfish and just thinking about 1 thing. But since she came from apocalypse mess world, I can understand her a bit. 

Meskipun tentang zombie, tapi penulis sepertinya sengaja tidak bermaksud membuat novel ini menjadi novel horror atau suspense, karena sepanjang membacanya sama sekali tidak ada seram-seramnya, bahkan adegan yang seharusnya tegang pun jadi terasa datar karena pikiran mellow dari Mary. Yah tidak apa-apa sih bila ingin membuat tema yang beda, hanya saja berhubung saya terbiasa mengaitkan zombie dengan horror dan suspense, sepertinya ekspektasi saya terlalu jauh. Agak disayangkan, karena menurut saya pribadi bila cerita menyangkut zombie, justru kelebihannya ada di suspense atau horror. Tapi kalau mau dibilang novel romance, cerita ini juga gagal, karena chemistry Mary dan Travis ngga masuk kalau menurut saya.

O ya dan karena sifat self centered Mary, karakter lain jadi kurang dieksplor, selain Travis yang lain hanyalah seperti pelengkap. 

Nah sekarang mengenai misteri, ini yang bikin saya kuciwa sama buku ini, ada begitu banyak pertanyaan dan rahasia yang tidak dijelaskan atau dijawab, seperti misalnya, siapa Gabrielle, mengapa bisa ada mahluk seperti ternoda (apakah itu virus atau hal gaib) dan apa yang menyebabkan masa kembali, baiklah mungkin penulis bermaksud menjawabnya di buku berikutnya tapi yang ada malah menimbulkan banyak plot hole di buku ini, selain itu banyak kejadian yang tidak jelas seperti misalnya setelah Mary berhadapan dengan zombie-zombie itu, tau-tau di bab selajutnya hanya diceritakan dia terdampar di pantai dan selamat dari serangan segerombol zombie, not clear how she manage to survive? Hmmm, I guess Mary is such a lucky girl.

Jumat, 04 Januari 2013

WITHER (THE CHEMICAL GARDEN #1)

✮✮✮
  • Judul Buku : Wither (Layu)
  • Pengarang  : Lauren DiStefano
  • Penerbit      : Kantera 
Sinopsis :

Pernahkah membayangkan apabila di masa depan terjadi krisis penurunan populasi manusia akibat sebuah virus? Di mana virus ini membuat umur manusia hanya sepanjang 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Lalu sesudah itu manusia akan mati. 

Akibat dari keadaan tersebut, maka akan banyak terjadi pernikahan dini dan akan banyak anak-anak yatim piatu berada di jalanan akibat orang tua mereka mati muda, dan karena ingin   menambah populasi secara cepat dalam waktu singkat, maka paraktek pernikahan poligami saat itu dianggap sangat wajar dan terutama usia pengantin wanita yang sangat muda, misal 13 tahun sudah dianggap pantas untuk menikah dan mengandung bayi.

Protagonis dalam buku ini adalah Rhine, gadis berusia 16 tahun yang diculik oleh para pengumpul, para pengumpul disini adalah sebutan untuk profesi penculik gadis-gadis muda untuk dijual kepada tuan rumah kaya untuk dijadikan istri-istri atau rumah prostitusi.  Rhine diculik dan dijual ke seorang tuan rumah kaya yang bermaksud untuk menjadikan Rhine salah satu istrinya. Meskipun menjadi istri dari seorang tuan rumah kaya, Rhine tidak bahagia terkurung dalam rumah mewah tanpa kebebasan, dan Rhine mencari segala cara untuk bisa melarikan diri. 

Kesan saya :


Lagi-lagi buku bergenre dystopia, dan ini buku ketiga yang saya baca yang bergenre dystopia. Pertama Uglies dan kedua the famous one, The Hunger Games. Jujur kata-kata dystopia sebenarnya baru bagi saya, dan ternyata setelah saya cek di gugel kata itu adalah kebalikan dari utopia. Bila utopia adalah sesuatu atau keadaan atau sistem yang ideal, baik, sempurna, maka dystopia adalah kebalikannya, dimana segala sesuatunya serba diatur, tidak menyenangkan dan jauh dari sempurna dan universe dalam dystopia biasanya mengambil setting masa depan atau post apocalypse, dunia setelah kehancuran besar baik itu karena bencana alam, wabah penyakit ataupun perang besar macam perang dunia. 

Sama halnya dengan Wither, mengambil setting masa depan, di mana keadaaan dunia kacau balau akibat eksistensi umat manusia terancam punah karena suatu virus mematikan yang membuat umur manusia pendek dan virus ini hanya menyerang para generasi muda. Karena itu banyak kekacauan dimana-mana, banyak anak-anak yatim piatu berada di jalanan, prostitusi bagi gadis-gadis muda adalah pekerjaan yang biasa, begitu pula dengan human trafficking, poligami dan praktek pedofilia. Karena manusia, terutama para perempuan sulit mencari pekerjaan pada masa itu akibat banyak kantor-kantor yang ditutup untuk dijadikan pabrik atau laboratorium. Mengapa laboratorium, karena banyak orang yang menjadi ilmuwan untuk mencari antidot atau obat untuk mengatasi virus mati muda yang menyerang anak-anak mereka. Namun para ilmuwan pun mendapat tentangan dari kaum pro naturalis yang ingin kehidupan berjalan tanpa intervensi percobaan genetik lagi. Sebab kaum naturalis menyalahkan keadaan sekarang adalah akibat dari perbuatan kaum ilmuwan.

Sayangnya cerita bukan mengenai perang kaum pro naturalis vs kaum ilmuwan ataupun kaum pro ilmu pengetahuan, tapi lebih seputar drama mengenai kehidupan Rhine saat dia dijual para penculiknya ke seorang tuan rumah kaya untuk dijadikan pengantin. Bagaimana perasaannya yang selalu rindu dengan rumah dan saudara kembarnya.

Jadi cerita dalam buku 90% tentang kehidupan Rhine dalam rumah tuan muda kaya, Rhine menceritakan mengenai pernikahan poligami yang terpaksa dijalaninya, menceritakan mengenai persahabatannya dengan para istri lain dari tuan rumah, menceritakan mengenai rumah besar, megah dan mewah yang persis sangkar emas, menceritakan mengenai suaminya yang baik hati, lembut dan sabar dalam memperlakukan para istrinya dan tentu saja tujuan utama Rhine yaitu melarikan diri dari rumah tersebut, karena dia menganggap pernikahannya palsu sebab statusnya dia diculik dan dipaksa. Dalam setiap bab selalu disebutkan bagaimana Rhine mencari cara dan celah untuk kabur dari rumah tersebut dan mertuanya yang menyeramkan.

Mungkin karena buku pertama jadi penulis ingin pengenalan dulu mengenai universe dystopianya melalui POV Rhine. Tapi selain penjelasan mengenai universe dytopia, buku ini lebih banyak menuturkan mengenai dramanya dan bumbu romance Rhine dan si pelayan juga bagaimana Rhine mencoba menjaga dirinya agar tidak "disentuh" oleh suaminya. Sayangnya emosi karakter pendukung macam si suami dan si pelayan terasa kaku.


Sehabis baca, perasaan saya datar aja, tidak penasaran dengan cerita selanjutnya (saya dengar ini bakal trilogy) ataupun bersimpati & berempati dengan para tokoh di buku mungkin karena cerita yang beralur drama dengan penokohan karakter-karakter pendukung yang cenderung bersikap pasrah akibat keadaan pada masa itu, membuat cerita ini terasa kurang matang dan hambar.

Padahal bakal lebih bagus kalau fokusnya soal pertikaian antara kaum pro naturalis vs kaum ilmuwan. Dan alur ceritanya dibuat lebih berkisar action dan petualangan sebagaimana genre dystopia (IMO). Tapi seperti yang saya bilang ini baru buku pertama, belum fokus untuk mencari antidot atau penyembuhan dan juga Rhine adalah tawanan jadi bagaimana bisa beraksi dan berpetualang :D 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...