Tampilkan postingan dengan label Mizan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mizan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

THE TITAN'S CURSE: STILL ADVENTUROUS AND FUNNY

Judul: TheTitan's Curse (Percy Jackson & The Olympians #3)
Pengarang: Rick Riordan
Penerbit: Mizan Fantasi (Mizan Grup)
Penerjemah: Nuraini Mastura
Editor: Soehindrat A. Shinta
Proofreader: Alfyan
Jumlah halaman: 398 halaman
Cetakan V, Juli 2010
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Fantasi, petualangan, mitologi
Rate: ★★★½


Awal cerita langsung dibuka dengan adegan Percy, Thalia dan Annabeth yang berusaha menyelinap masuk ke sebuah asrama sekolah militer untuk mencari keberadaan anak-anak blasteran lain yang dikabarkan Grover berada di sekolah tersebut. 

Ternyata tidak hanya Percy dkk yang mencari keberadaan anak blasteran tersebut. Seekor monster Manticore yang menyamar sebagai salah satu guru, ternyata juga sedang mengincar anak-anak blasteran. Jadinya Percy dkk terpaksa bertarung dengan monster ganas tersebut untuk melindungi kedua anak blasteran baru yang ditemukan oleh mereka. 

Dalam pertarungan tersebut, mereka dibantu oleh sekelompok gadis yang ternyata para pemburu yang dipimpin oleh salah satu dari dewi Oympus. Meski berhasil menang, sialnya, pertarungan tersebut memakan korban salah satu dari mereka, karena Annabeth yang ingin melindungi kawan-kawannya dari serangan monster ikut terjatuh ke jurang bersama si monster. Percy meyakini Annabeth tidaklah mati, hanya menghilang ke suatu tempat bersama si monster.  

Tidak hanya itu saja, sesampainya di perkemahana blasteran, Percy mendapat mimpi kalau dewi yang membantu mereka saat melawan monter Manticore sedang ditawan dan disiksa, begitu pula Annabeth yang sedang disandera dengan ancaman akan dibunuh apabila monster yang dicari sang musuh sudah ditemukan. 

Sekarang Percy mempunyai tugas untuk:
1. Mencari dan menyelamatkan Annabeth.
2. Membantu para pemburu menyelamatkan dewi mereka. 
3. Menemukan monster purba sebelum si monster menghancurkan Olympus. 

Dan Percy, dkk hanya punya waktu sedikit untuk menemukan semua itu, karena bila mereka terlambat maka semua akan binasa. 

Senin, 06 April 2015

CHAMPION: ANOTHER THE HUNGER GAMES WANNABE?

Judul: Champion (Legend #3)
Pengarang: Marie Lu
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Lelita Primadani
Editor: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 457 halaman
Cetakan 1, Maret 2014
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Action, dystopia, science fiction, romance
Harga: Rp. 55.000
Rate: ★★★


"Saat emosi gagal, logikalah yang akan menyelamatkanmu. Kau mungkin iri pada Day, tapi kau tak akan pernah menjadi dirinya dan dia tak akan pernah menjadi dirimu. Dia bukan Elector Republik. Dia hanya seorang pemuda yang melindungi adiknya. Kau seorang politisi. Kau harus mengambil keputusan yang menghancurkan hatimu, yang melukai dan menipu, yang tak ada seorang pun akan mengerti. Itu Kewajibanmu." - June kepada Anden. 

Sinopsis:

Ditemukannya penyebaran virus baru di wilayah perang Koloni mengancam perjanjian damai antara pihak Republik dan Koloni. Pihak Koloni memberikan tenggat waktu kepada Republik untuk menemukan penawarnya atau perang akan kembali pecah. Dan kali ini kemenangan tampaknya akan berpihak pada Koloni, sebab Koloni mendapat bantuan dari sekutu yang kuat yaitu Afrika.

Pihak Republik sudah mencoba semua cara untuk menemukan penawarnya, namun gagal. Satu-satunya cara yang tersisa adalah dengan meminta bantuan Eden, adik Day, untuk kembali menjadi eksperimen pihak Republik dalam menemukan penawar virus tersebut (antivirus?)

Namun bersediakah Day melepaskan Eden kembali setelah semua yang pihak Republik lakukan pada keluarganya? Pantaskah Republik mendapat pengorbanan nyawa dari Day lagi setelah semua penderitaan yang dialaminya?

Selasa, 17 Maret 2015

PRODIGY: BETTER THAN FIRST BOOK BUT IT'S MORE YOUNG ADULT THAN DYSTOPIA

Judul: Prodigy (Legend #2)
Pengarang: Marie Lu
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Lelita Primadani
Editor: Dyah Agustine
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 467 halaman
ISBN: 978-979-433-806-3
Cetakan 1, Agustus 2012
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, action, romance
Harga: 49.000
Rate: ★★★½

Day dan June berhasil lolos dari cengkraman Republik, pilihan mereka hanyalah meminta tolong kepada kelompok Patriot. Selain karena Tess sudah lebih dahulu ikut dengan kelompok Patriot, Day membutuhkan bantuan untuk mengobati kakinya yang mengalami luka parah dan juga menemukan adiknya Eden yang disekap oleh Republik. 

Namun meminta bantuan pada kelompok Patriot tidaklah gratis. Sebab Patriot menuntut balas jasa dari June dan Day demi menuntaskan misi mereka untuk menggulingkan pemerintahan Republik yang sekarang dipimpin oleh Elector muda yang baru terpilih menggantikan ayahnya, Anden. 

Patriot membutuhkan Day untuk menjadi api pengobar pemberontakan dalam melawan Republik, sementara June bertugas sebagai umpan yang akan menggiring pembunuhan Elector. Day yang membenci Republik dan butuh bantuan Republik untuk membebaskan adiknya langsung setuju, sementara June yang menjadi agen ganda dan bertemu sang Elector, menemukan rahasia kalau Elector Republik yang baru, Anden, tidak seperti para Elector Republik sebelumnya. Anden tidak kejam seperti yang selama ini disangka orang. 

Untuk pertama kalinya sejak kebersamaan mereka, Day dan June harus memilih satu sama lain, siapa yang harus mereka percayai?

Minggu, 01 Februari 2015

ALLEGIANT: THE MOST ANTICLIMAX OF THE TRILOGY

Judul buku: Allegiant (Divergent #3)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan fantasy (Mizan group)
Penerjemah: Nur Aini dan Indira Brianti Asni
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 496 halaman
ISBN: 978-979-433-837-7
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia, action
Harga: Rp 65.000
Rate: ★★

Review ini mengandung spoiler. 

Sejujurnya, saya sangat malas bikin review untuk Allegiant. Tapi yah berhubung, buku 1 dan 2 ada reviewnya, rasanya tanggung kalau yang ke-3 tidak ada, jadi sekalian saja saya review supaya lengkap.

Saya beneran bingung sama cerita di Allegiant alias saya tidak tahu ceritanya itu sebenarnya tentang apa sih? Yang saya tahu ceritanya muter-muter, dari perang faksi vs pemberontak terus pemberontak membentuk Allegiant terus berubah ke perang pemberontak vs Biro/pemerintah dan balik lagi jadi perang factionless vs Allegiant. 

Baru kali ini saya baca buku ceritanya tidak terlalu saya ingat, padahal belum 1 jam sejak saya selesai baca, entah apa karena plot dan storytelling-nya gajebo-gak jelas-dipanjang-panjangin atau antiklimaks. Maaf untuk para Initiates kalau saya kasar dan blak-blak-an. Tapi sepanjang saya baca Allegiant, itu bawaannya mengantuk dan bosan terus, sempat mau DNF-Did Not Finished tapi saya paksa supaya tetap baca, padahal buku ini termasuk yang ceritanya action-oriented, tapi karena plotnya muter-muter dan terkesan dipanjang-panjangin untuk beberapa bagian saya membaca fast forward karena saya hanya ingin menyelesaikannya. Sudah plot-nya dipanjang-panjangin, banyak plot hole pula yang kadarnya sudah lewat batas toleransi saya. Untuk yang penasaran cerita Allegiant tapi malas membacanya, saya akan coba ingat-ingat ceritanya.

Rabu, 10 Desember 2014

INSURGENT: FULL IN ACTION BUT WEAK STORYLINE AND BORING PLOTLINE

Judul: Insurgent (Divergent #2)
Pengarang: Veronica Roth
Penerbit: Mizan Fantasi 
Penerjemah: Nur Aini
Editor: Esti Budihabsari
Proofreader: Emi Kusmiati
Jumlah halaman: 551 halaman
Cetakan 2, Mei 2013
Segmen: Remaja, dewasa muda
Genre: Dystopia
Harga: Rp 59.000, bisa di beli di bukukita
Rate: ★★½

"Insurgent = Orang yang bertindak sebagai oposisi terhadap otoritas yang mapan, yang tidak selalu dianggap sebagai orang yang suka berperang." ~ hal 478

 Dari Amity ke Candor, kembali ke Dauntless, berkumpul di Abnegation dan menuju Erudite ( this review contain spoiler).

Selasa, 05 Agustus 2014

LIESL & PO : BEAUTIFULLY WRITTEN BUT SHALLOW IN CHARACTERS

Judul: Liesl & Po
Pengarang: Lauren Oliver
Penerbit: Mizan Fantasi
Penerjemah: Prisca Primasari
Editor: Esti A. Budihabsari
Proofreader: Yunni Y.M.
Jumlah halaman: 320 halaman
Cetakan 1, April 2013
Segmen: Anak-anak, semua umur
Genre: Fantasi
Beli di: Stand Mizan IBF, Rp 34.000 (20% off dari 42.500), bisa juga beli di rakuten atau bukukita
Rate: ★★★½

Kehidupan Liesl sepeninggal ayahnya terasa begitu sepi, sedih dan hampa seperti dunia tanpa warna. Namun pada suatu hari Liesl didatangi oleh 2 sosok hantu bernama Po dan hewan peliharaannya yang bernama Bundle. Mengetahui bahwa Po adalah hantu yang bisa menembus dunia hantu dan dunia manusia, Liesl meminta tolong pada Po untuk mencari ayahnya dan menyampaikan pesan yang tak sempat dikatakan Liesl saat sang ayah meninggal. 

Di lain tempat, seorang Alkemis telah berhasil membuat sebuah sihir paling hebat yang pernah ada. Di mana sihir ini akan membuat yang tua menjadi muda kembali dan yang mati dapat hidup kembali. Sihir tersebut disimpan dalam sebuah kotak kayu kecil, namun akibat kesalahan sang murid, kotak kayu berisi sihir tersebut tertukar dengan kotak kayu yang di dalamnya terdapat abu ayah Liesl.

Melalui Po, Liesl tahu bahwa keinginan terakhir ayahnya adalah agar dapat dimakamkan bersama-sama dengan istrinya yang telah meninggal di bawah sebuah pohon willow di rumah lama mereka. Bersama-sama, Liesl & Po (yang tidak tahu bahwa kotak kayu berisi abu ayahnya telah tertukar dengan sebuah sihir paling hebat yang pernah ada) berniat melarikan diri dari loteng tempat ia dikurung oleh ibu tirinya yang kejam, agar dapat mengubur abu ayahnya di bawah pohon willow tempat sang ibu juga dimakamkan di sana. 

Namun perjalanan Liesl tidak mudah, karena sang Alkemis murka saat tahu kalau kotak yang menyimpan sihir ajaibnya telah hilang dan bertekad untuk merebutnya kembali.

Sabtu, 14 Juni 2014

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON: SIMPLE AND FUN STORY

Judul: How To Train Your Dragon
Pengarang: Cressida Cowell
Penerbit: Mizan Fantasi (Mizan Group)
Penerjemah: Mutia Dharma
Editor: Maria Masniari Lubis
Proofreader: Ela Karmila
Jumlah Halaman: 254 Halaman
Cetakan 2, Juni 2010
Segmen: Anak-anak, semua umur
Genre: Fantasi. humor
Harga: Rp 22.500
Rate: ★★★½

Lady Storytelling berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan. Tap tap tap, dari kiri ke kanan lalu tap tap tap balik lagi dari kanan ke kiri. Suara ketukan sepatunya menjadi satu-satunya irama dan juga suara yang terdengar dalam ruangan seluas seperempat lapangan sepakbola tersebut. Suasananya memang tenang tapi jauh dari kata santai, sebaliknya ketegangan seolah terasa begitu kental. Sesekali ia menengok ke sebuah keranjang rotan yang berada tepat di tengah-tengah ruangan tersebut. 

Jumat, 02 Mei 2014

THE NIGHT CIRCUS: VERY RICH IN DESCRIPTION BUT POOR IN STORYLINE

Judul: The Night Circus
Pengarang: Erin Morgenstern
Penerbit: Mizan Fantasi (Mizan Grup)
Penerjemah: Berliani Mantili Nugrahani
Penyunting: Prisca Primasari
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Windu Tampan
Jumlah Halaman: 610 Halaman
Cetakan 1, Januari 2013
Segmen: Dewasa
Genre: Fantasi, Magical Realism
Harga: 57.400 (diskon 30% darr Rp 82.000)
Rate: ★★★½


Le Cirque des Reves bukanlah sirkus biasa. Sirkus itu sangat misterius. Warna tendanya hitam dan putih, begitu pula suasana di dalam tenda sirkus yang semuanya serba hitam dan putih. Tidak ada penonton yang tahu kapan sirkus akan datang. Kemunculan sirkus selalu mendadak dan tiba-tiba. Selain itu sirkus hanya dibuka pada malam hari hingga subuh. 

Namun yang paling menakjubkan adalah setiap pertunjukkan yang ditampilkan oleh sirkus terasa begitu ajaib seolah semua ilusi dalam sirkus adalah nyata. Jubah-jubah yang bisa berubah menjadi burung merpati, taman es lengkap dengan salju-saljunya, labirin awan yang lembut, dan api unggun yang bisa berganti warna hingga 12 kali. 

Namun sesungguhnya sirkus malam bukanlah sekedar trik sulap, karena sihir sungguhan terlibat di sana dan sirkus tersebut juga merupakan tempat bagi 2 pesulap untuk saling bertarung. Jadi bagaimana pertarungan mereka?

Selasa, 01 April 2014

TIGER'S CURSE: THE IDEA IS GOOD BUT EXECUTION IS TOO TWILIGHTISH

Judul Buku: Tiger's Curse (The Tiger Saga #1)
Pengarang: Colleen Houck
Penerbit: Mizan Fantasi (Mizan Group)
Penerjemah: Angelic Zai Zai
Penyunting: Prisca Primasari
Proofreader: Wiwien Widyawanti
Jumlah Halaman: 634 Halaman
Terbit: Cetakaan 1, Februari 2013
Segmen: Remaja, Dewasa Muda
Genre: Fantasy, Paranormal Romance
Harga: Rp 48.300 (30% off dari Rp 69.000, beli di www.mizan.com)
Rate: ★★

Warning: Saya akan mereview dengan emosi dan mungkin lebay dan mungkin alay.

Jadi ceritanya: Ada seorang gadis bernama Kelsey, ia hanya gadis yang biasa-biasa saja (serius, dia beneran biasa aja, ngga ada istimewanya sama sekali, baik dari karakteristik atau pun kemampuan). Tapi entah bagaimana, dia terpilih sebagai The Choosen One untuk memecahkan kutukan seekor harimau putih. Yang sebenarnya bukanlah hanya seekor harimau putih tapi seorang pangeran dari India yang telah berusia 300 tahun. Untuk memecahkan kutukan sang pangeran, Kelsey ditemani si harimau putih harus melakukan berbagai misi bila ingin sang harimau kembali menjadi manusia. 

Minggu, 02 Februari 2014

BOOK REVIEW: THE INVENTION OF HUGO CABRET

Judul Buku: The Invention of Hugo Cabret
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Mizan Fantasy 
Jumlah Halaman: 543 Halaman
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Segmen: Anak-anak, Semua Umur
Genre: Picture Book, Steampunk
Harga: Rp 20.000 (Obral Mizan), beli di Sunter Mal
Rate: ★★★★


Kisah tentang seorang anak yang ingin menemukan pesan terakhir ayahnya dan seorang kakek tua yang terperangkap dalam dunia tanpa mimpi.

 The Invention of Hugo Cabret bercerita mengenai bocah yatim piatu bernama Hugo yang hidup sebatang kara di sebuah stasiun kereta api di Paris pada tahun 1931. Hugo menjaga keberadaan dirinya serahasia mungkin, karena bila sampai ada orang lain yang menemukan seorang bocah berumur 12 tahun hidup sendirian, maka mereka pasti akan membawanya ke Panti Asuhan.

Ada alasan Hugo tidak ingin pergi meninggalkan apartemennya tempat ia tinggal selama ini. Ada rahasia yang sangat berhubungan erat dengan almarhum Ayahnya yang telah tiada. Suatu rahasia yang akan membawa Hugo pada sebuah kisah lain.

Jumat, 11 Oktober 2013

BOOK REVIEW : LEGEND (LEGEND #1)

✭✭✭
Judul : Legend
Pengarang : Marie Lu
Penerbit : Mizan (Mizan Fantasi)
Penerjemah : Lelita Primadani
Penyunting : Prisca Primasari
Proofreader : Emi Kusmiati
Jumlah Halaman : 382 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa Muda
Genre : Dystopia, Science Fiction, Action
Harga : Rp 55.000


Another action dystopia? pasti pikiran saya langsung membandingkan dengan The Hunger Games. Bukan hanya saya, tapi rata-rata para reviewer di goodreads pun menuliskan hal yang sama, wajarlah karena berkat The Hunger Games, genre dystopia jadi terangkat. Kalau menurut saya dibandingkan dengan Divergent, cerita dalam Legend ini lebih mirip The Hunger Games. Divergent lebih mirip dystopia yang terinspirasi dari pemilihan topi seleksi di Harry Potter. Sedangkan Legend, memiliki kemiripan unsur yang sama dengan The Hunger Games terutama dalam soal politik, media dan propaganda. 

Sebelumnya mari bahas dulu cerita dalam Legend :

Kali ini tidak ada distrik seperti The Hunger Games, tidak ada pembagian faksi-faksi seperti Divergent (mengapa saya hanya bandingkan dengan THG dan Divergent bukan YA lain macam Uglies atau Delirium, karena baik THG maupun Divergent sama-sama YA dengan poros utama action-survival). Bila biasanya setting dystopia mengambil tema setelah masa perang besar, maka Legend tidak perlu menunggu lewat masa perang tapi settingnya terjadi saat perang besar itu sendiri sedang berlangsung. Lebih tepatnya perang saudara di Amerika Serikat. 

Siapa saja yang berperang, yang utama ada 2 wilayah yang saling berperang tetapi sesungguhnya ada 3 pihak yang saling bertikai. Mereka adalah:
  1. Republik untuk wilayah Barat (west coast)
  2. Koloni untuk wilayah Timur (east coast)
  3. Patriot (pihak pemberontak yang menentang pemerintahan Republik)
Setting mengambil tempat di Republik. Berhubung keadaan sedang perang, maka negara banyak menggunakan rakyatnya untuk dijadikan tentara. Untuk itu mereka butuh manusia-manusia dengan genetik yang bagus. Oleh karenanya setiap anak-anak di wilayah Republik yang telah berusia 10 tahun harus mengikuti ujian untuk mengetest kemampuan mereka. Anak-anak tersebut menjalani suatu ujian untuk menguji kekuatan fisik dan kecerdasan otak mereka. 

Hasil dari ujian ini terbagi dalam 4 tingkatan nilai untuk kelayakan lulus, yaitu:
  1. Score 1500. Nilai yang sangat sempurna dan sangat teramat jarang ada anak yang mendapatkannya.
  2. Score 1450-1499. Nilai yang sangat baik dan cukup untuk jaminan modal hidup layak hingga tua di Republik, selain itu anak-anak yang mendapat score ini nantinya akan bekerja langsung pada pemerintah, dalam hal ini Republik. 
  3. Score 1250-1449. Nilai yang lumayan untuk hidup berkecukupan dan mendapatkan akses pendidikan. 
  4. Score 1000-1249. Nilai pas-pasan, tidak mendapat akses pendidikan dan biasanya akan bekerja sebagai buruh pabrik.
Dibawah itu maka tidak lulus. Apa yang terjadi kalau tidak lulus? Maka anak-anak tersebut akan dikirim ke kamb buruh dan tidak pernah dikembalikan lagi ke keluarga mereka.

So here the characters :

Ada 2 sudut pandang di sini. Sudut pandang Day dan sudut pandang June. Jadi cerita bakal selang-seling antara Day dan June.

Day adalah seorang anak lelaki 15 tahun yang selama ini menjadi buronan Republik. Day telah banyak melakukan tindakan kriminal melawan Republik seperti merusak fasilitas-fasiltas militer milik Republik. Hingga suatu hari Day melakukan kejahatan yang sangat besar, yaitu membunuh salah satu komandan tinggi militer Republik yang bernama Metias. Namun walaupun menjadi buronan paling dicari, Republik tetap gagal menangkap Day. 

June adalah seorang anak perempuan jenius berusia 15 tahun kesayangan Republik. Bukan hanya itu saja, June juga adalah adik satu-satunya Metias dan Metias adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki June sejak kedua orang tua mereka meninggal. Karena itu June sangat sedih dan marah saat tahu seorang buronan Republik telah membunuh kakak tersayangnya. Dengan semangat membalas dendam, June berniat membantu Republik dalam  memburu Day untuk membalaskan kematian kakaknya. 

Berhasilkan June menemukan pembunuh kakaknya tersebut?

Sekarang saatnya pembahasan :

Saya banyak mendengar review positif mengenai Legend dan berhubung saya masih penasaran dengan tipe action-dystopia, saya putuskan untuk membeli bukunya. Sayangnya tampaknya ekspektasi saya terlalu berlebih mengenai Legend. 

Bukunya tidak jelek, penulisannya cukup oke. Hanya saja saya tidak merasakan keseruan yang bikin saya penasaran seperti saat saya membaca THG, saya tidak tahu apakah karena saya mulai merasa bosan sama buku-buku bertipe action-dystopia atau memang eksekusi cerita dalam Legend yang kurang seru. Maksud kurang seru di sini adalah tidak menimbulkan efek penasaran saat membacanya. Dan kembali ke kalimat di awal review, saya membutuhkan hingga 200 halaman untuk bisa merasakan intensitas cerita meningkat dalam Legend. Atau lebih tepatnya saat bagian 2 dimulai. 

Sejujurnya dibanding Divergent, konsep dystopia dalam Legend ini lebih masuk akal menurut saya. Tapi (masih menurut saya) penuturan Veronica Roth di Divergent lebih seru, karena sejak awal sudah terasa intens. Balik ke Legend, di mana saat negara sedang perang, maka masyarakatnya banyak yang dijadikan prajurit. Dan untuk menjadi prajurit yang tangguh maka dibutuhkan gen-gen yang terbaik. 

Hanya saja, saya rasa Marie Lu sebaiknya tidak menggunakan 2 POV karakter untuk novel pertamanya ini. Mana dua-duanya menggunakan 1st person POV. Karakter Day dan June sendiri lumayan mirip. Penuturan Day lebih terlihat insecure sedangkan June lebih confident dan tenang. Tapi selain itu mereka mirip. Day digambarkan tampan, heroik, tangguh, cekatan, cerdas begitu pula dengan June yang cantik, cerdas, gesit pokoknya mereka berdua itu digambarkan keren deh. Dulu karakter flawless itu terlihat keren di mata saya tapi sekarang karakter flawless itu membosankan. Saya tidak merasakan strugglenya June saat harus memilih antara hal yang selama ini dipercayainya dengan kenyataan baru yang mengejutkannya. Begitu pun dengan karakter-karakter pendukung lain yang dikorbankan pengarang, saya hanya merasa angin lalu saja. Tidak ada efek sedih atau kehilangan.

Saya pernah menuliskan kalau memakai 1st person POV sebaiknya buat karakternya semenarik mungkin untuk menghindari penuturan yang terkesan terlalu 'rapih'. Saya rasa inilah yang membuat saya agak bosan dengan 200 halaman pertama. Tidak ada celutukan sarkasme dan humor baik dari Day atau June. Okelah kalau pun kondisinya tegang tapi kan tetep bisa, ciuman saja bisa masa sedikit humor tidak ada.

Entah apakah memang kebetulan atau terinspirasi, tapi karakter Day mengingatkan saya akan Robin Hood. Yang membuat saya kesulitan membayangkan wajah Day itu karena deskripsinya yang katanya berambut pirang platina dengan mata biru tapi wajah asia. Bagaimana itu membayangkannya? Bagi saya sih jatuhnya tetap bule. Masa iya saya harus membayangkan aktor K-Pop mewarnai rambut menjadi pirang dan memakai lensa kontak biru. OK, saya membayangkan Eiji Wentz, walau dia sebenarnya sudah tua, 28 tahun, tapi mukanya imut kok.


Kalau June, saya membayangkan si cantik Hailee Steinfield.

Kalau untuk pemeran Metias, kakak June, menurut pengarangnya itu (yah menurut pengarangnya langsung, bukan saya), yang cocok adalah Ben Barnes (selera Marie Lu bagus juga #eh)

Trus balik ke unsur yang bikin 'kurang penasaran'  saya rasa karena bagian 1 terlalu lama alias muter-muter. Seharusnya bagian 1 lebih dipadatkan, pertemuan Day dan June boleh dipercepat. Dan mungkin balik lagi ke masalah POV. Menurut saya daripada multiple 1st person POV selang seling, lebih baik bagian 1 POV June, bagian 2 POV Day dan tambah bagian 3 untuk POV June lagi.

Nah sekarang yang mau saya bahas terakhir adalah cover buku terjemahan, eng-ing-eng. Kesan pertama saya saat melihat cover terjemahannya adalah, "Alamak!" Warnanya itu lho sukses bikin mata jadi siwer (saya bersedia jadi relawan untuk tim artistik desain cover Mizan, saya memang bukan mahasiswa desain tapi saya tahu mana yang eye candy dan mana yang eye messy).

Coba bandingkan sama cover aslinya yang elegan dengan warna dasar silver dan bintang emas simbol militer, lengkap dengan kilauan sinar peraknya di tengah-tengah simbol. Seandainya Mizan cetak ulang dengan cover asli, saya mau beli lagi deh, karena cover aslinya keren.
Eniwei, saya pasti akan baca buku keduanya kok , Prodigy :D

Kamis, 30 Mei 2013

THE SEA OF MONSTERS - LAUTAN MONSTER (PERCY JACKSON AND THE OLYMPIANS #2)

✭✭✭
Judul Buku : The Sea Monsters (Lautan Monster)
Pengarang  : Rick Riordan
Penerbit : Mizan Fantasy

Aku mau bercerita mengenai mitologi dari Yunani :

Setelah nyaris 1 tahun Percy berhasil melewatkan  tahun ajaran di sekolahnya dengan normal dan damai tanpa kejadian aneh, mendadak di hari terakhirnya di sekolah justru banyak kejadian aneh menimpa Percy. Misalnya tiba-tiba saja Percy mengalami mimpi buruk bahwa sahabatnya, Grover dalam bahaya, lalu tiba-tiba  ada monster kanibal yang muncul saat jam pelajaran olahraga sedang berlangsung dan membuat kekacauan di mana-mana. 

Percy meninggalkan keadaan yang kacau di sekolah manusianya dan menuju ke perkemahan blasteran. Namun sesampainya di perkemahan blasteran, ternyata keadaan lebih buruk karena banyak monster yang menyerang para pekemah di camp blasteran. Hal itu disebabkan karena pohon Thalia yang sihirnya selama ini melindungi perkemahan blasteran mendadak layu dan sekarat akibat diracun oleh seseorang. Untuk menyembuhkan kembali pohon Thalia, diperlukan bulu domba emas. Masalahnya bulu domba emas tersebut terletak di tempat yang sangat berbahaya yaitu di sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Lautan Monster dan dijaga oleh sosok cyclops ganas. 

Kesan saya :
Saya ngga pernah nyangka kalau saya akan menikmati Percy Jackson : The Sea Monsters. Karena jujur saja, buku Percy Jackson yang pertama itu kurang enak dibaca dan ceritanya agak annoying (IMO), saya sempet buat review singkat saya tentang Percy Jackson 1 di goodreads. Secara pribadi, saya suka sama terjemahan Percy Jakson 2 ini, karena bahasanya lebih ringan dan santai (sesuai dengan genre YA) dibanding terjemahan Percy Jackson 1. Saya baca Percy Jakcson 1 sudah termasuk lama sejak tahun 2010 dan seingat saya, termasuk buku yang saya baca dengan lama (alias kurang enjoyable) mungkin sebagian akibat faktor terjemahan yang kurang masuk, meskipun penerjemahnya cukup terkenal.

Boleh dibilang akibat buku 1 nya yang kurang enjoy, saya jadi kurang minat baca sequelnya, namun berhubung tahun ini saya banyak ikut reading challenge, salah satunya yang dihost oleh Ren's Little Corner yaitu tentang  judul buku yang mengandung unsur nama. Berhubung saya ngga terlalu banyak timbunan buku-buku dengan unsur nama dalam judulnya, maka saya masukkin yang saya punya dahulu, salah satunya Percy Jakson : The Sea Monsters.

Faktor kedua yang bikin saya kepingin lanjut baca buku ini, adalah faktor film Percy Jackson : The Sea Monsters yang akan rilis pada pertengahan Agustus 2013, dan sudah rahasia umum kalau film itu ngga sebagus bukunya dan sering kali ceritanya beda sama buku jadi  lebih baik saya baca bukunya dulu sebelum nonton filmnya.

Overall saya suka sama buku kedua Percy ini dan saya bacanya pun termasuk cepat. Apalagi dengan celetukan-celetukan humor sarkasme bin sinis ala Percy yang sukses bikin saya nyengir kuda. Terus karakter Percy juga lebih dewasa disini, sekiranya dalam hal "kualitas pahlawan". yaitu melindungi mereka yang kena bully, mengalah bila memang diperlukan (ngga egois), masih mempunyai rasa iba terhadap musuhnya, sigap menolong saat melihat ada yang membutuhkan atau terluka. Secara pribadi, itu cukup untuk membuat saya menyukai karakter tersebut. 

Tadinya saya mau kasih buku ini 4 bintang cuma ada 1 hal yang bikin saya ngga suka sama eksekusi cerita di buku ini yaitu terlalu banyak faktor Deus ex Machina. Kalau menurut saya beberapa point ini adalah faktor kebetulan untuk mempercepat plot device : highlight to view spoiler

  1. Percy yang mendapat 3 ransel dari Hermes komplit dengan semua perlengkapan yang dia butuhkan untuk petualangannya. (hal 138)
  2. Saat Percy kewalahan melawan Cyclops tiba-tiba saja Percy mendapat kekuatan untuk menghajar Cyclops bertubi-tubi. (hal 286 - 288)
  3. Saat Percy dkk nyaris kalah pasti muncul bala bantuan dengan timing yang tepat. Misal saat Tyson membantu Percy saat Percy vs Cyclops atau Chiron plus pasukan centaur yang tiba-tiba datang saat Percy yang tinggal selangkah lagi akan dibunuh oleh Luke. 
Jadi yah makanya 4 bintang nya saya kurangi 1, karena kebanyakan Deus ex Machina. Seperti yang saya pernah bilang dalam review saya di Percy Jackson 1 kalau Percy ini ibarat versi ringan plus kocak dari Harry Potter. Kronos ingetin saya sama om Voldie. Annabeth yang smart-ass ingetin saya sama Hermione, sedangkan Grover yang terkadang konyol ingetin saya sama Ron Weasley, hanya saja kalau Harry Potter itu cenderung serius, kelam dan ceritanya juga lebih kompleks sehingga orang dewasa pun banyak yang suka, sedangkan Percy Jackson memang lebih dibuat untuk  anak-anak. 

Ada 1 quite bagus di buku ini :
"Sepupu kecilku, jika ada satu hal yang kupelajari sekian ratus tahun ini, itu adalah bahwa kau tak bisa menyerah begitu saja menghadapi anggota keluargamu, betapa pun buruknya tingkah mereka. Tak masalah kalau mereka membencimu, atau mempermalukanmu, atau sekadar tak menghargai idemu menciptakan Internet-" 

Yah intinya sudah ngerti kan :D tapi sepertinya buku ini tidak jadi saya ikutkan dalam tantangan What's in a Name Reading Challenge karena saya baru ngeh kalau judul buku ini sebetulnya The Sea Monsters, bukan Percy Jackson and The Olympians, karena itu merupakan judul seri buku. Untuk buku selanjutnya, kalau ada diskon menarik, saya mau beli lanjutannya, karena rasanya sekarang saya sudah masuk dan menikmati petualangannya Percy.

O ya, tadi saya ngomong soal film Percy Jackson and The Olympians : Sea Monsters, ada yang sudah lihat trailer terbarunya :


WHAT THE FU*K ! Saya tau kalau book to movie adaptation memang ngga pernah sama persis tapi dari trailernya, sangat jelas bagian Grover terlalu dibuat berbeda dengan di buku. Yang sudah baca bukunya pasti ngerti, saya ngga akan sop-iler walau merasa sangsi. Yah sebagai tukang ngayal sejati yang selalu bermimpi ingin pergi ke Hogwarts, Narnia, Middle Earth, Planet Pandora tempat tinggal bangsa Na'vi dan sekitarnya, saya pasti tetap akan menonton film Percy Jackson : Sea Monsters (eh itu yang jadi Hermes rupanya om Brendan Fraser, ternyata bukan)

Buku ini saya ikutkan dalam Fantasy Reading Challenge 2013 kategori Pemenang Penghargaan atau Award Winner, yaitu penghargaan Mark Twain Award pada tahun 2009.

Minggu, 31 Maret 2013

DELIRIUM (DELIRIUM #1)

✮✮✮✮
Judul Buku : Delirium
Pengarang  : Lauren Oliver
Penerbit     : Mizan
Jumlah Halaman : 518 Halaman
Penerjemah : Vici Alfanani Purnomo
Segmen : Remaja, Dewasa Muda
Genre : Dystopia

"Aku mencintaimu. Ingat. Mereka takkan bisa mengambilnya. " ~hal 515

"Kau takkan bahagia kecuali kau pernah merasa tak bahagia, kau tahu?" ~hal 34

Jadi kuberitahukan kau suatu cerita :

Pernahkan kau membayangkan kalau cinta itu adalah sebuah penyakit berbahaya? Dimana gejala-gejalanya adalah :

STADIUM SATU :
kegirangan; sulit berkonsentrasi
mulut kering
banyak berkeringat, telapak tangan berkeringat
pusing dan bingung
berkurangnya kesadaran mental; pikiran yang berpacu; hilangnya kemampuan menalar

STADIUM DUA :
periode euforia; tertawa histeris dan energi yang meluap-luap
periode putus asa; lesu
perubahan nafsu makan; penurunan atau penambahan berat badan yang cepat
keterpakuan terhadap satu hal; kehilangan minat terhadap hal-hal lain
kerusakan kemampuan logika; penolakan realitas
kacaunya pola tidur; insomnia atau kelelahan terus-menerus
pikiran dan tindakan yang obsesif
ketakutan berlebihan, cemas

STADIUM TIGA (KRITIS) :
sulit bernapas
nyeri di dada, tenggorokan, atau perut
sulit menelan; tidak mau makan
kehilangan akal sehat; tingkah laku yang tidak konsisten; pikiran dan fantasi yang bengis; halusinasi dan delusi

STADIUM EMAPT (FATAL) :
kelumpuhan emosi atau fisik (sebagian atau total)
kematian

Lena hidup dalam dunia yang dihantui oleh suatu penyakit yang bernama Amor Deliria Nervosa namun Lena tidak perlu khawatir lagi, sebab pada saat itu penawarnya sudah ditemukan dan setiap orang yang berusia 18 tahun akan menjalani prosedur berupa operasi agar mereka dapat disembuhkan dari penyakit cinta dan setelah disembuhkan mereka akan selalu merasa damai dan bahagia. 

Lena hidup dengan mempercayai CINTA adalah sebuah penyakit, namun beberapa minggu sebelum dia menjalani prosedur penyembuhan, hal yang tidak pernah diduga Lena terjadi padanya, hal yang tidak pernah diinginkannya, yaitu Lena mengalami jatuh cinta. 

Deliria menguasai Lena begitu hebat, membuat semua yang selama ini dipercayai dan menjadi pedoman hidupnya seolah runtuh dan terbalik, dan satu hal pasti Lena justru mengalami kebahagiaan yang sesungguhnya saat dia jatuh cinta atau terinfeksi dengan Deliria bersama.... Alex. 

Kesan Saya :

Saya baca versi lokal dan dalam versi lokal, ada beberapa premis di cover seperti ini :

"Versi distopia Romeo and Juliet yang layak menjadi sebesar Twilight."
"Kombinasi antara The Handmaid's Tale dan Twilight...."

Jujur yah baca premisnya, reaksi saya seperti ini  :




Oke, saya paham, lagi-lagi strategi marketing untuk menarik para Twihard, tapi sejujurnya, saya harap untuk berikutnya setiap novel YA dengan genre romance cukup pede untuk tidak menambahkan embel-embel Twilight version of bla-bla. Karena menurut saya pribadi, Twilight bahkan tidak cukup bagus untuk sebuah novel romance (sorry, just my humble opinion) dan tidak semua pembaca YA menyukai romance menye-menye dan dangkal ala Twilight. 

Ok, back with review :

Sejujurnya karena premis Twilight ala distopia, saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa waktu awal membaca novel ini. Selain itu yang membuat saya merasa bosan adalah deskripsi   yang terlalu detil dan panjang, dengan kata lain terlalu banyak penjelasan yang tidak perlu, macam saat suasana hati Lena sedang gelisah atau marah, pengarang juga menambahkan penggambarannya melalui perumpamaan cuaca, pemandangan, alam, dll. Oke, maksudnya mungkin agar terkesan puitis karena ini novel romantis, tapi bagi saya yang gemar berimajinasi, yang ada malah merasa terganggu, tidak fokus dan teralihkan. 

Untuk setengah bagian pertama buku, cerita cenderung lambat dan tampak normal (tidak ada sesuatu yang benar-benar "intense"), persahabatan Lena dan Hana, hari kelulusan, rutinitas Lena sehari-hari sebelum prosedur dan ditambah lagi gaya penulis dalam mendeskripsikan segala sesuatunya yang kadang terlalu panjang dan bertele-tele, membuat saya merasa bosan membacanya. Jadi saya awalnya berpikir, "The story is okay, I will rate this book 3 stars."




too much unnecessary description, maybe I will give 3 stars.

Lalu memasuki pertengahan cerita saat Lena dan Alex mulai saling pacaran diam-diam. Cerita lebih menarik, seperti informasi mengenai alam liar dengan gaya hidup ala hippie  atau seniman bohemian. Juga yang menarik adalah pengembangan karakter Lena, dari yang tadinya gadis biasa-biasa dengan low self esteem, menjadi rebel dan yang saya suka disini adalah meskipun jatuh cinta, Lena tidak melupakan BFF-nya Hana. Selain itu, saya suka bagaimana pengarang membuat kita menyukai karakter Alex melalui interaksi Alex dan Lena. Jadi pengarang tidak memberitahukan bahwa betapa perhatian, baik dan tidak sombongnya Alex untuk membuat pembaca menyukainya. Ini adalah salah satu contoh dari istilah "show it and don't tell" dan yang terpenting, Alex tidaklah digambarkan sebagai karakter yang sempurna ala Gary Stu. Flawless character is boring, isn't it?



I'm enjoying the story so far, I will rate 3 stars and half. 

Tapi menjelang ending, inilah reaksi saya :



this is so intense, I'm sleepy but I cannot put the book because I'm too curious to find out what will happen next. 

Dan hanya ada SATU KATA untuk endingnya : KLIMAX



why the book ending is like that? but that's way I LIKE IT, cannot wait for the sequel. 

Sekiranya saya tuntas dalam melaksanakan target saya untuk membaca 2 genre distopia sebagai tema reading challenge bulan Maret. Saya baca Divergent dan Delirium, dan tidak pernah saya terpikir untuk mengatakan ini, mengingat awal-awal Divergent adalah my kind of genre (action and fantasy) sedangkan Delirium adalah my second alternate genre because I only like romance as a spice. Namun setelah saya selesai membaca dua-duanya, saya rasa sebagai keseluruhan cerita, saya lebih menyukai Delirium, (I didn't said it's better but I prefer). Lauren Oliver membuat sebuah plot cerita yang baik : slow and detail at the beginning - interesting in the middle - intense near the end - climax ending. 

Review cover : Saya lebih suka yang aslinya, simpel dan tidak terlalu banyak main warna, yang versi Indonesia menurut saya agak norak dan seolah dibuat agar terkesan futuristik distopian, yang sebenarnya tidak perlu (IMO), I like simple and elegant, but it just my personal taste.

Terjemahan : bagus (luwes dan mengalir), saya tidak tau apakah ada typo, tapi kalau saya sampai tidak tau atau tidak merasakan ada typo, saya kira itu hal yang bagus :D

Pertanyaan selanjutnya : Kapan sekuelnya mau diterbitkan?

Is the story better than Twilight ? Are you kidding me ?

This is really good story compared with a girl who fall in love with sparkling vampire. And  let's stop said everything are better than Twilight. We make ourselves like a hater.  


Sumber gambar gif :

- monkey emoticon : www.laymarks.com
- gif lain adalah buatan saya dengan menggunakan gif generator, video diambil dari youtube (Vampire Sucks dan Hotel Transylvania) :D


bye-bye

Jumat, 15 Maret 2013

DIVERGENT (DIVERGENT #1)

✮✮✮½
Judul Buku : Divergent
Pengarang  : Veronica Roth
Penerbit     : Mizan Fantasy (Mizan Group)
Penerjemah: Anggun Prameswari
Jumlah Halaman: 543 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa Muda
Genre: Dystopia, Science Fiction
Harga: Rp 41.300 (beli di www.mizan.com, promo 30% off)

"Kami yakin akan tindakan yang berani, dalam keberanian yang mendorong seseorang untuk membela yang lainnya." ~ Will, hal 235

"Tapi, kita hanya perlu membiarkan rasa bersalah itu menjadi pengingat agar kita menjadi lebih baik." ~ Four, hal 354

Jadi ceritanya :

Dengan bersetting di Chicago era setelah kehancuran akibat perang nuklir, sistem pemerintahan dan politik terbagi atas lima faksi yang dibuat berdasarkan sifat-sifat terbaik manusia, lima faksi tersebut adalah :

Amity : Bagi mereka yang cinta damai
Erudite : Bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan
Candor : Bagi mereka yang menghargai kejujuran dan tidak suka berbohong
Abnegation : Bagi mereka yang ingin membantu sesama dan tidak egois
Dauntless : Bagi mereka yang pemberani

Beatrice Prior berasal dari faksi Abnegation dan selama hidupnya dia diajarkan untuk selalu bertindak tanpa pamrih, tidak egois dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Namun selama ini Beatrice selalu merasa tidak yakin bahwa dia adalah seorang Abnegation, karena dia merasa dalam dirinya ada sifat egois yang justru sangat bertentangan dengan prinsip Abnegation yang tanpa pamrih. 

Sebelum upacara pemilihan, Beatrice di test terlebih dahulu untuk melihat faksi mana dia cocok, namun hasilnya sangat mengejutkan, karena Beatrice mempunyai sifat 3 faksi yaitu Abnegation, Erudite dan Dauntless yang juga menunjukkan dia seorang Divergent, yang menurut pengawas testnya, hal itu sangat berbahaya apabila sampai diketahui oleh orang lain dan menasehati Tris untuk menyimpan rapat-rapat rahasianya. 

Saat upacara pemilihan, Beatrice pun memilih untuk meninggalkan Abnegation dan bergabung bersama Dauntless dan mengganti namanya menjadi Tris. Setiap anak yang telah memilih faksi akan menjalani suatu ujian inisiasi dan baru benar-benar diterima oleh faksi-faksi tersebut apabila telah lulus ujian inisiasinya. Tris tak pernah mengira kalau ujian inisiasi Dauntless ternyata sangat berat, keras dan brutal. Namun pilihan Tris hanya dua, apabila ia mundur dan menyerah, maka dia akan menjadi factionless dan pilihan lainnya tentu saja berusaha sekuat tenaga untuk meyelesaikan inisiasi Dauntless yang kadang kejam dan tak kenal ampun. 

Kesan saya :

Jadi ini toh novel distopia yang heboh itu dan katanya memiliki cita rasa The Hunger Games. Yang kalau menurut saya ngga sepenuhnya tepat. Kalau menurut saya Divergent ini 3/4 cita rasa Harry Potter dan 1/4 cita rasa The Hunger Games. Mengapa saya bilang cita rasa Harpot? karena mungkin faksi-faksi di Divergent ini mengingatkan saya akan asrama-asrama di Hogwarts. Dauntless, alih-alih mirip Griffyndor, lebih mirip seperti Slytherin, karena pakaian mereka yang hitam-hitam dan markas mereka yang remang-remang gelap. Bahkan sifat dingin para Dauntless juga mengingatkan saya akan Slytherin. 

Kalau secara selera pribadi, saya lebih berharap Tris memilih faksi lain macam Erudite secara saya mungkin bosan akan faksi yang sifat kekuatannya lebih ke fisik, karena sepertinya latihan dan kekuatan fisik sudah terlalu sering dipakai dalam genre YA, namun saya rasa pengarang sengaja memilihkan faksi Dauntless untuk Tris agar kita mendapatkan kick-ass heroine yang bisa berantem dan tidak sampai menjadi Damsel in Distress yang bergantung pada heronya. 

Awal-awal saya sempat bingung saat baca-baca review mengenai Divergent, karena rasanya aneh melihat pemerintahan yang dibentuk berdasarkan prinsip 5 sifat terbaik manusia, karena  sifat dan karakteristik manusia itu kan jauh lebih rumit dan kompleks daripada sekedar, cinta damai, cerdas, jujur, ngga egois dan pemberani. Namun anggap saja 5 sifat faksi tersebut mewakili garis besar dari sifat positif manusia dan juga nantinya berguna dalam mencari pekerjaan yang cocok berdasarkan sifat faksi.

Oke, balik ke Tris dan Dauntless. Ternyata sifat pemberani bagi Dauntless itu  berarti tindakan nekad, kekerasan, penampilan ala punk dengan banyak tato dan tindikan di badan plus baju hitam. Waktu baca mengenai inisiasi Dauntless, saya langsung tau kalau faksi Dauntless itu ngga beres.  Dan karena itulah novel ini disebut Distopia, ada sistem yang tidak beres dan sebagian orang-orang yang tidak puas dengan sistem dan keadaan tersebut. Bukan cuma Dauntless saja, bahkan faksi lain macam Abnegation, dalam beberapa hal saya rasa sangat berlebihan dalam menjalankan prinsipnya (macam dilarang melakukan sesuatu yang sifatnya menyenangkan diri sendiri seperti bercermin untuk melihat penampilan). Sedangkan Erudite, yah saya belum terlalu mendalami Erudite secara dibuku pembahasannya juga ngga banyak, selain daripada mereka berusaha membuat diri mereka terlihat pintar dengan memakai kacamata dan Tris menggambarkan mereka sombong dan serakah. Saya rasa negatifnya Erudite, mungkin karena mereka menganggap diri mereka sekumpulan orang cerdas, maka mereka berpikir bisa manipulatif terhadap faksi lain. Highlight to view spoiler jadi dari sini kita bisa mengambil kesimpulan kalau permasalahan faksi-faksi ini adalah pengertian Erudite, Abnegation, dan Dauntless yang dalam cerita ini diartikan secara dangkal dan lebih digambarkan sebagai tampilan luar.   Untuk Amity dan Candor, saya belum tau karena baru akan dibahas di buku berikutnya, Insurgent.

Secara karakter, Divergent, oke-oke saja menurut saya, saya tidak merasa suka atau benci tapi biasa saja (tidak merasa empati maupun simpati) dan tidak berkesan apa-apa, namun justru saya menangkap kesan tidak konsisten dari cara pengarang menggambarkan Tris dan Four. Terutama Tris yang penggambarannya tidak konsiten, sebentar rapuh, sebentar kuat, sebenar dendam, sebentar simpati. sebentar kangen keluarga, sebentar senang meninggalkan rumah, yah mungkin maksud pengarang Tris ini emosi dan pikirannya labil karena terlalu banyak mikir ini dan itu. Sedangkan Four ini sebentar hot dan sebentar cold, mungkin maksud pengarang karena Four ini harus memainkan kartunya dengan baik sebagai pacar Tris sekaligus instrukturnya. Four ini sedikit mengingatkan saya sama Dimitri dari Vampire Academy-nya Richelle Mead, mungkin karena sama-sama pengajar dan love interest dari heroine-nya. 

Untuk karakter lain highlight to view spoiler sebenarnya saya agak menyayangkan fungsi mereka yang hanya sebatas pengisi hari-hari Tris selama inisiasi Dauntless. Saya suka Albert yang rapuh dan saya sempat mengira kalau dia itu gentle giant tapi ternyata saya salah, karena pengarang membunuh karakternya dan agar pembaca tidak merasa simpati, pengarang membuatnya melakukan perbuatan tercela. Sedangkan dua teman Tris yang lain, Christina dan Will, tadinya saya berpikir, mereka ini akan menjadi Ron dan Hermione-nya Tris (Christina sebagai Ron dan Will sebagai Hermione) ternyata lagi-lagi pengarang tega membunuh salah satunya dan cara matinya pun begitu saja. Padahal akan seru kalau Tris, Christina dan Will tetap bersama secara mereka berasal dari latar belakang faksi yang berbeda-beda. 

Sekarang untuk cerita atau story arc buku pertamanya. Saya suka cara pengarang menuturkan ceritanya yang membuat saya selalu penasaran akan halaman berikutnya, hanya saja cara pengungkapan misteri atau story arc-nya menurut saya agak predictable. Yaitu mengenai 1. highlight to view spoiler  Apa itu Divergent? yang bila pembaca cukup jeli maka akan menyadarinya saat ujian inisiasi Tris tahap 2. Karena disini dikatakan kalau Divergent itu bisa memanipulasi simulasi  dan lebih diperjelas saat Tris tak sengaja mencuri dengar pembicaraan Eric dan Jeanine, yang menyebut Divergent sebagai pemberontak (hal 313) . Dan simulasi ini diberikan lewat suntikan serum. Bagi mereka yang Divergent maka mereka tidak terpengaruh oleh simulasinya dengan kata lain para Divergent ini memiliki keistimewaan berupa immune atau kekebalan terhadap serum pengendali otak yang diciptakan oleh faksi Erudite. 

Yang ke-2. highlight to view spoiler perang antar faksi atau lebih tepatnya saat faksi yang satu tidak puas dengan faksi lain yang memimpin mereka. Awalnya saya kira Dauntless yang akan mengkudeta pemerintahan Abnegation secara Dauntless ini ibaratnya militer atau departemen pertahanan, jadi mereka yang paling punya modal(skill, fisik, senjata) buat memberontak, namun ternyata Dauntless di sini lebih cenderung fisik gede tapi otak gampang dimanipulatif. Jadi musuh atau faksi antagonis disini adalah Erudite alih-alih Dauntless. 

Overall, Divergent buku yang bagus, mungkin beberapa plot dalam buku memang masih perlu dipertanyakan tapi saya rasa tidak ada buku yang sempurna. Veronica Roth membangun ceritanya dengan baik dan bisa membuat pembacanya penasaran, sehingga saya tidak menemui kendala kebosanan yang bikin saya lambat baca atau menunda-nunda untuk melanjutkan, bagi saya itu saja sudah mendapat 3 bintang. Sedangkan 1/2 bintang lagi karena buku ini memiliki cukup banyak kutipan-kutipan menarik serta element ketegangan dan emosi yang tidak datar. 

Dan sudah pasti saya akan membaca sequel lanjutannya Insurgent. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...