Tampilkan postingan dengan label GAGAS MEDIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAGAS MEDIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

KEI: KUTEMUKAN CINTA DI TENGAH PERANG

Judul buku: Kei
Pengarang: Erni Aladjai
Penerbit: Gagas Media
Editor: Jia Effendi
Proofreader: Mita M. Supardi
Jumlah halaman: 250 halaman\
Cetakan 1, Agustus 2013
ISBN: 979-780-649-9
Segmen: Dewasa
Genre: Historical fiction, romance
Rate: ★★★
Special Note: Thanks to Ren for the GA.

"Tuhan dan agama tak pernah mengkhianati pemeluknya. Manusialah yang mengkhianati Tuhan dan agamanya."


Di tengah-tengah kerusuhan akibat perang SARA yang berkecamuk di Ambon dan merambah hingga ke kepulauan Kei. Namira dan Sala menumukan cinta saat keduanya berada di tempat pengungsian. 

Di tengah-tengah kesedihan karena rusuh yang mengambil nyawa dari semua orang yang mereka cintai, Namira dan Sala saling melindungi dan saling setia meski agama mereka berbeda karena mereka berpegangan pada hukum adat Kei bahwa semua masyarakat Kei bersaudara dan hukum adat adalah acuan pertama setelah agama yang datang belakangan. 

Namun cinta saja tidak cukup bagi keduanya untuk bisa berbahagia karena perang dan kerusuhan membuat keduanya terpisah...

Kamis, 31 Juli 2014

THE JOURNEYS: 12 JOURNALS ABOUT JOURNEYS

Judul: The Journeys
Penulis: Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke 'Sepatumerah', Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Editor: Resita Wahyu Febiratri
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, personal literature, travel
Harga: Rp 36,375 (25% off), bisa dibeli di @bukubukularis, www.bukabuku.com
Rate: ★★★


Sejujurnya saya agak malas mereview The Journeys ini di blog, karena entah kenapa saya merasa rada bosan saat membacanya, mungkin mood saya sedang jenuh membaca buku-buku bertema traveling dan niatan awal cuma mau ngereview di goodreads, tapi akhirnya saya mendapatkan mood untuk bikin reviewnya di blog (mood really control me). Ada 1 atau 2 kisah dalam The Journeys ini yang pernah saya baca, yaitu Kiss from a Stranger-nya Windy Ariestanty yang pernah saya baca di life Traveler dan Melipir ke Tel Aviv-nya Ve Handojo yang pernah saya baca di blog Ve. Dan untuk saya pribadi, personal literature bertemakan traveling itu lebih sebagai sebuah informasi yang saat saya sudah tahu (baca) maka sudah cukup. Jadi bukan jenis bacaan yang asyik untuk di reread.

Kamis, 15 Mei 2014

KEDAI 1001 MIMPI: MENERTAWAKAN IRONI NASIB DI NEGERI 1001 MALAM

Judul Buku: Kedai 1001 Mimpi
Pengarang: Valiant Budi (Vabyo)
Penerbit: Gagas Media
Editor: Alit Tisna Palupi
Proof Reader: Christian Simamora
Penata letak: Dian Novitasari
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Jumlah halaman: 444 halaman
Cetakan keempat, 2011
Segmen: Dewasa
Genre: Personal Literature, memoar, humor
Harga: Rp 46.750 (15% off beli di bukabuku)
Rate: ★★★★

Keinginan untuk bekerja di Arab Saudi itu akhirnya tercapai. Dengan melamar posisi  sebagai barista untuk sebuah kafe, Valiant Budi atau Vibi akhirnya bisa mencoret salah satu dari banyak hal di daftar keinginannya, yaitu tinggal di Saudi Arabia. 

Namun setibanya di negeri 1001 malam itu, kenyataan ternyata tidak seperti harapan. Mulai dari seringnya disangka Filipini dan dilecehkan oleh para pria lokal, belum lagi menghadapi customer unik bin ajaib yang suka bikin darah tinggi naik hingga 100 derajat plus diperparah dengan praktek manajemen kafe yang kacrut dan sangat jauh dari teori kafe berstandar internasional dan semua itu ditambah lagi dengan suhu udara yang panasnya bisa di atas 50 derajat celcius. 

Jadi bagaimana cara Vibi bisa bertahan dan tetap waras menghadapi semua hal-hal aneh tersebut?

Rabu, 30 April 2014

PARIS: ALINE (SETIAP TEMPAT PUNYA CERITA #1)

Judul Buku: Paris: Aline (STPC #1)
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona, Ibnu Rizal
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi Isi: Diani Apsari
Jumlah Halaman: 212 Halaman 
Terbit: Cetakan kedua, 2013
Segmen: Remaja
Genre: Romance
Rate: ★★½
Catatan: Buntelan dari ultah Gagas Media #unforgotTEN (kado untuk blogger)

Siapa Aeolus Sena? Hanya dari penemuan sebuah porselin yang dibuang, hari-hari Aline di Paris mendadak jadi dipenuhi misteri seputar pria itu. 

Tidak ada yang biasa tentang Sena. 
- Pertama pria itu mengajaknya bertemu tepat tengah malam di sebuah tempat yang dulunya dipergunakan untuk mengeksekusi mati para tahanan. 
- Kedua, pria itu berani berjanji akan mengabulkan apapun 3 permintaan Aline.
- Ketiga, pria itu  membuat janji dengan cap darah.
- Keempat, pria itu selalu muncul dan menghilang dengan tiba-tiba. 
- Kelima, pria itu menyukai tempat-tempat yang gelap dan seram seperti kuburan.
- Keenam, pria itu bekerja di tukang reparasi mesin tik. 
- Ketujuh, setiap ekspresi di wajah pria itu tidak bisa ditebak, sedetik ia tampak usil dan sedetik kemudian ia serius.

Siapa Aeolus Sena? Mengapa ia selalu datang dan pergi dengan tiba-tiba? Di mana ia tinggal? Sena tidak pernah memberikan jawaban langsung pada Aline. Untuk mencari tahu jawabannya, Aline berusaha mengumpulkan setiap kepingan puzzle dengan menyusuri setiap tempat di Paris

Kamis, 30 Januari 2014

SECRET SANTA 2013: AN OPEN LETTER TO MY SANTA AND BOOK REVIEW


Dear My Secret Santa

Sesungguhnya aku tidak ingin menuliskan surat terbuka seperti ini terhadapmu karena aku tidak suka drama, politik dan sinetron #eh namun aku merasa bagaimanapun juga aku harus jujur dan tetap memberikan credit terhadap mereka yang telah memberiku buku menarik ini. 

Kamis, 28 November 2013

BOOK REVIEW: SATIN MERAH


★★★
Judul Buku: Satin Merah
Pengarang: Brahmanto Anindito dan Rie Yanti
Editor: Widyawati Oktavia
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 313 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa-Muda
Genre: Thriller
Harga: Rp 10.000 (obral)
"Pengakuan, bagi sebagian orang jauh lebih penting dibanding apa pun."
Sinopsis:
Nadya hanya ingin diakui bahwa ia hebat, bahwa ia cerdas. Karena itu ia selalu mati-matian belajar giat agar bisa menjadi siswa berprestasi dan teladan di sekolahnya. Nadya pun selalu berhasil menjadi 3 besar di sekolah setiap tahun, namun masih ada 1 ambisi lagi yang ingin Nadya capai, yaitu memenangkan gelar siswi teladan se-Bandung. Dan untuk meraih ini, salah satu persyaratannya, Nadya harus membuat suatu makalah atau karya tulis. 

Karena itu Nadya ingin membuat karya tulis yang berbeda. Karya tulis yang temanya tidak pasaran. Tapi tema apa yang harus Nadya buat agar bisa memenangkan gelar siswi teladan se-Bandung?

Sekarang, ripiu yang sebenarnya:
Saya tidak akan kasih banyak sinopsis, secara tema thriller itu paling asyik kalau dibaca sendiri tanpa baca sinopsis atau review lain sama sekali. Saya agak bingung sama inti buku ini, apakah:
  1. Buku bergenre thriller dengan tema Sastra Sunda, atau
  2. Cerita mengenai tips-tips menulis dengan latar belakang Sastra Sunda dan unsur thriller.
Yah, yang manapun tidak masalah, yang penting bukunya enak dibaca. Saya agak bingung sih review Satin Merah ini tanpa spoiler jalan ceritanya, walau dari sinopsis belakang buku, sebenarnya sudah jelas who is the suspect. Karena alasan itulah, saya tidak melabeli buku ini dengan misteri, karena misterinya sendiri sudah terpapar jelas sejak awal. So, this is not mystery-detective genre. 

Saya akan coba memberi pendapat tanpa melibatkan isi ceritanya. Buku ini menurut saya:

- Sebaiknya dibaca oleh siapa pun yang mempunyai cita-cita jadi penulis. Serius, buku ini punya banyak sekali tips-tips mengenai cara menulis. Saya coba ambil sebagian ya:
  1. Syarat penulis ya harus sering-sering menulis. Hal. 42
  2. Mempercantik karangan dengan penjelasan terperinci, menambahkan majas, metafora. hal. 42
  3. Buatlah prioritas untuk untuk mendeskripsikan tokoh. Tokoh utama diberi porsi detil. Tokoh figuran dideskripsikan seadanya. Kalau setiap tokoh didetailkan atau porsinya dibikin hampir setara, nanti tokoh utama kehilangan pamor. Hal. 90
  4. Malas itu musuh. Jangan mau bersahabat dengan rasa malas. Hal. 150
  5. Baca, baca dan baca. Ingin bisa nulis dengan baik harus banyak baca karya orang dulu. Hal. 155
- Selain itu, ada juga penjabaran singkat dan padat mengenai self publising.

Nah, sekarang bagian yang saya pertanyakan:
- Penjelasan yang terlalu frontal. dan kalanya saat baca buku ini, bagian tips-tips menulisnya, meskipun inspiratif tapi juga membuat saya merasa membaca text book Bahasa Indonesia dalam bentuk novel. Oke, saya tahu semua penjabaran itu masih termasuk logis, tapi untuk buku fiksi, hal tersebut bukanlah selera saya (agak menggurui). Maksud saya kalau memang mau menjelaskan tips-tips menulis, mending buat saja satu buku soal tips menulis. 

- Nanggung. Berasa buku ini serba nanggung. Misteri? Seperti yang sudah saya tulis, sejak awal, pembaca sudah tau siapa "tersangkanya" Tapi yang jadi misteri adalah psikologisnya. Nah, yang saya sayangkan tuh, aspek psikologis ini kurang banget dibahas. Memang duo penulis sudah menjelaskan alasan dan latar belakang mengapa si penjahat sampai jadi seperti itu melalui adegan flasback. Tapi tetap saja masih terasa kurang dan nanggung. 

- Nanggung 2. Saya agak kecewa, dari beberapa pembunuhan yang dilakukan oleh si tokoh, hanya 1 yang diperlihatkan adegannya. Yup, hanya 1. Sisanya instant alias langsung berupa penemuan mayat tanpa ada penjelasan bagaimana? Saya merasa, ini seperti penulisan yang malas. Padahal untuk setiap kejadian dalam novel thriller saya sangat mengharapkan ketegangan di adegan suspense pembunuhan tersebut. 

- Ending deus ex machina. Dan Sim Salabin, semua beres. Saya tuh paling ngga puas kalau baca buku thriller yang selama konflik berlangsung seru, tapi justru eksekusi adegan finalnya malah terasa hambar. Metaforanya adalah, saya sedang menyusun menara dari setumpuk kartu remi lalu tiba-tiba ada orang yang membanting pintu, dan wuussh, semua susunan menara kartu saya langsung hancur berantakan. 

yang saya suka dari Satin Merah adalah:
  • Penokohan. Satin merah mempunyai penokohan atau karakterisasi yang kuat pada setiap tokoh yang berperan. Baik yang figuran maupun tokoh utama. Ada beberapa bagian, yang membuat saya sedikit mengasihani pelaku, walaupun tidak sampai membuat saya suka dengan si pelaku. Duo penulis pintar membuat karakter pelaku, kadang likeable kadang annoying. jadi tidak ada karakter 1 dimensi. Begitu pula dengan karakter figuran. 
  • Kalimat-kalimat atau gaya bahasa yang sederhana, rasanya seperti membaca tabloid atau cerpen dalam koran.  
Overall, saya suka Satin merah, karena jarang ada buku-buku lokal yang bergenre thriller dan juga mempunyai pesan moral kuat mengenai pelestarian budaya daerah (Sastra Sunda). 
Catatan typo:
- Hal 200: berlawaan → berlawanan
- Hal 271: amit → pamit
- hal 277: puitih → putih

Memorable quote:
"Kamu ini ya, Sastra Sunda aja dipikirin! Ngapain sih, mau-maunya! Biar orang desa yang lebih berbakat kesenian yang ngurusin perkara remeh gitu. Di keluarga kita, nggak ada darah-darah sastrawan, tahu nggak! Kamu mau jadi apa, Naaak, ngurusin sastra itu mau jadi apaaaa? Orang kere di Indonesia ini udah banyak!"
Buku ini saya ikut sertakan sebagai buku untuk tema baca bareng BBI

Sabtu, 19 Oktober 2013

BOOK REVIEW : AKU TAHU KAMU HANTU


✭✭✭½
Judul Buku : Aku tahu Kamu Hantu
Pengarang : Eve Shi
Penerbit : Gagas Media
Editor : Alit Tisna Palupi
Jumlah Halaman : 208 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Horror, Paranormal, Thriller
Special Note : Kado untuk Blogger dari Gagas Media #unforgotTen

Cerita bermula saat :

Ulang tahun ke-17 Liv. Sweet Seventeen seharusnya jadi peristiwa membahagiakan dalam hidup Liv. Tapi alih-alih bahagia, hari ultahnya malah terasa buruk. Bagaimana tidak? pertama-tama ayahnya sendiri lupa mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu kelasnya kena semprot seorang guru akibat ulah jahil seorang murid dan keadaan tambah parah dengan penampakan sosok ganjil di toilet sekolah. 

Mulanya Liv tidak pernah menyangka kalau dia akan memiliki kekuatan untuk melihat mahluk halus. Liv sempat mengira semua yang dilihatnya hanyalah halusinasi sesaat karena Liv sedang dilanda stress. Sahabat baiknya sendiri, tidak percaya pada pengakuannya tentang melihat roh dan mahluk halus. Namun akhirnya Liv tahu kalau apa yang ia lihat bukanlah khayalan semata. Sebab mama Liv memberitahu bahwa dalam keluarganya, setiap anak sulung perempuan yang telah berusia 17 tahun akan mewarisi kemampuan untuk melihat mahluk halus atau arwah. 

Bagi Liv, kemampuan istimewa ini sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan bila banyak sosok berwujud ganjil dan seram tiba-tiba menampakkan diri setiap saat di mata Liv. Namun sebenarnya apakah kemunculan mahluk-mahluk tersebut hanya sekedar untuk menakut-nakuti Liv? ataukan ada maksud lain, seperti meminta bantuan Liv untuk menolong mereka?

My thought :

Rasanya sudah nyaris setahun saya nggak menyentuh genre horror atau thriller. Terakhir genre horror yang saya baca mungkin seri demonatanya Darren Shan. Kisah tentang hantu sendiri sebenarnya sudah sering saya baca, tapi berhubung bukunya lebih banyak yang ke genre pararom macam seri mediatornya Meg Cabot, maka alih-alih seram, justru jatuhnya malah romantis. 

Karena itulah saya kangen sama genre fantasi yang lebih ke thriller atau horror, macam Goosebumps. Saya kangen untuk merasakan feel tegangnya. Pas tahu kalau dari 10 buku yang Gagas berikan saat ultah ada buku bertema hantu, maka tanpa ragu langsung saya masukkan ke daftar reading-list saya untuk short term. 

Saya suka sama cerita ATKH ini, misteri dan suspense-nya cukup terasa. Faktor misterinya itu yang bikin saya betah untuk baca buku ini terus menerus tanpa henti (kecuali jeda makan, minum dan mandi) dan kebetulan saya baca pas weekend. Ilustrasi "hantu" yang ada di tiap beberapa bab sukses bikin saya mengambil kertas untuk menutupinya karena ketakutan sendiri. Saya akui, saya emang penakut akan gambar-gambar seram. 

Saya juga suka dengan covernya yang bergambar mawar merah. Mulanya saya bingung, kok buku horror, covernya bunga mawar. Tapi perhatikan deh bunga mawarnya, tepatnya di bagian tengahnya, bentuknya mirip tengkorak. Sedangkan warna merah yang menghias kelopaknya seperti bercak darah. 

Hanya saja ada untuk ukuran novel horror, saya merasa kurang plot twist di sini. Penulis cukup sukses mengeksekusi ketegangan, hanya saja menjelang 3/4 cerita, saya justru merasa ketegangan menurun. Karena sejak awal, pembaca sudah digiring untuk menebak tokoh antagonisnya dan saya sebenarnya berharap tebakan saya salah atau meleset, tapi ternyata memang begitulah adanya. Untuk motifnya sendiri juga standar (bully), bukan suatu hal yang baru. Spoiler, highlight to view: coba pembunuh sebenarnya Dani, yang mempunyai motif sebagai syarat masuk genk Stefan dkk. 

Adegan rumah kosong yang awalnya seram, mendadak jadi tidak seram akibat pestanya pecah. Dan saya lebih berharap antagonis yang cool-psikopat alih-alih yang malah berubah jadi brutal - gila dan suka teriak-teriak. Trus hantu-hantunya sendiri, saya ngerti misi utama Liv adalah Frans, cuma saya berharap hantu-hantu lain juga dibahas, penasaran dengan hantu penunggu bilik di toilet anak perempuan di sekolah. 

Buku ini sebagai buku baca bareng BBI untuk tema buku debut. 

Kamis, 03 Oktober 2013

BOOK REVIEW : HERE, AFTER

✮✮✮½
Judul : Here, after
Penerbit : Gagas Media
Pengarang : Mahir Pradana
Editor : Samira
Desain Sampul : Jeffri Fernando
Jumlah Halaman : 197 Halaman
Segmen : Dewasa
Genre : Metropop, Chiclit, Romance
Keterangan : Buntelan dari Gagas, kado untuk blogger #unforgotTEN

Kalau ditanya peribahasa apa yang cocok untuk melukiskan pengertian cinta berdasarkan buku ini, maka jawabnya adalah :
"Beginilah cinta, deritanya tiada berakhir."
Yup, ungkapan itu terasa familiar bagi yang suka menonton serial silat jadul yang berjudul Journey To The West. Betapa sering ungkapan tersebut dikatakan oleh Chu Pat Kay, seorang jendral yang dihukum harus menjalani beribu kali siksaan cinta dalam setiap kehidupan reinkarnasinya, hanya karena jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya ia cintai. 

Tapi tidak. Saya tidak akan bahas serial tersebut. Hanya meminjam ungkapan yang sering ditangisi oleh salah satu tokohnya saja, karena ungkapan itu juga cocok untuk 10 kisah cinta dalam buku ini. Lebih tepatnya 10 kisah percintaan dari karakter-karakter yang saling berhubungan dalam buku ini walau tidak semua karakter itu saling berinteraksi atau mengenal satu sama lain. 

Sepuluh kisah cinta
Sepuluh sudut pandang 
Sepuluh rasa pahit

Tunggu dulu, bukankah ini novel romens, cinta itu kan seharusnya indah, cinta itu kan seharusnya manis, mengapa menjadi pahit? 

Mengapa bingung? Bukankah judulnya dan premisnya sudah menjawab hal tersebut? Cerita cinta berakhir di sini. Jadi buku ini lebih membahas kepahitan dari cerita cinta atau penyebab negatif yang ditimbulkan oleh akhir sebuah cinta. 

1. Adi
Mengambil tema LDR. Saya tidak pernah merasakan LDR jadi saya tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi LDR lebih daripada cinta. Sejujurnya cerita Adi ini mungkin yang paling sederhana dibanding yang lain, ok, mungkin cerita Adi dan Ollie, awal dan akhir boleh dibilang yang paling simple dibanding 8 cerita lain. 

2. Diana
Insecurities, insecurities, insecurities. Sebenarnya tidak ada cinta di cerita ini, hanya akhir cerita cinta semuanya. Akhir cerita cinta saat seseorang tidak bisa melepaskan belenggu masa lalunya. So this is how love become lust? because why we need love when lust is more fun? Love are pain, bitter, sacrifice, compromise and commitment while lust are sex, pleasure, freedom and fun. 

3. Rio
When love become illusion even dream could be real. Dari semua kisah cinta berakhir, saya paling tidak suka dengan cerita Rio, agak membosankan menurut saya. The 'dream' things nya itu rada maksa. 

4. Putra
Temanya rada lemah dan terlalu abege menurut saya. To be honest, I don't like when love is telling as philosophy. I want to see some show, some action. 

5. Nia
Marriage by arrangement. Tema basi tapi selalu disukai. Setelah 4 cerita awal terasa hanya sekedar cerita cinta sambil lalu, saya mulai merasakan tensi dan tone meningkat lebih serius di cerita Nia. 

6. Arya
Masih lanjutan dari tema Marriage by arrangement. Yang saya bingung di sini, mengapa ceweknya menyerah begitu cepat hanya dalam hitungan hari. Padahal saya berharap bagian yang ini lebih dibahas, kan cowonya janji mau memberikan cinta yang lebih tinggi, tapi saya tidak merasakan itu. Tapi suka sama endingnya #lha

7. Novi
Dari semua cerita, inilah cerita favorit saya. Meski masih nyerempet soal cerita cinta berakhir, tapi elemen utama cerita Novi adalah psikologis campur sedikit suspense dan horror, itulah yang membuat saya suka. Saya sempat berasa tegang juga di bagian cerita Novi yang pas ada adegan Dr Jekyll and Mr Hyde. Juga adegan crazy love Novi yang bikin saya geleng-geleng kepala dan teringat lagu Agnes ~Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, brisi semua hasrat dalam hati, ku hanya ingin dapat memiliki, dirimu hanya untuk sesaat~

8. Rizal
Beneran ya, adegan pembuka bangun tidur kuterus mandi itu memang membosankan. Tapi itu cuma openingnya doank. Ceritanya bukan tentang itu. Ya intinya, menikahlah karena cinta, jangan karena terpaksa. 

9. Intan
Baca cerita Intan ini agak ingetin saya sama film Korea Untold Scandal, yaitu affair vs affair. Berhubung tokoh-tokohnya suka puisi maka di cerita ini banyak puisinya.

10. Ollie
In the end, what is the difference between love and lust? Mungkin jawabnya gampang, cinta itu long term, sedangkan nafsu itu short term. Sesaat kita mengira kita mencintai seseorang dengan sangat bergelora dan menggebu-gebu tapi hanya dalam hitungan jam, oke mungkin hari, kita langsung move on dengan cepat. 

Overall : Saya suka dan menikmati buku ini, gaya bahasa atau penuturan Mahir Pradana benar-benar enak diikuti, kalimat-kalimatnya terasa membumi dan dialog-dialognya tidak ada yang berlebihan sebagaimana khas novel romens yang ujung-ujungnya suka jadi keju. 

Karakter? Sejujurnya saya rasa penulis membuat karakter disini untuk kebutuhan cerita bukan untuk diidolakan. Tidak ada karakter hitam dan putih. Semuanya hanya mencoba untuk menjalani hidup dengan lebih 'enjoy' melalui berbagai macam cara yang dapat mereka lakukan.

Cover? saya baru sadar, gambar jam pasir itu memang menandakan, cinta pun ada batasan waktunya. Eternal Love mungkin hanya ada dalam dongeng. Cinta bisa berakhir karena batasan jarak, hasrat, kondisi, dll. 

Senin, 12 Agustus 2013

MARRIAGEABLE

✭✭✭½
Judul Buku : Marriageable
Pengarang : Riri Sardjono
Penerbit : Gagas Media
Editor : Windy Ariestanty
Proofreader : Mita M. Supardi
Jumlah Halaman : 357 Halaman
Segmen : Dewasa
Special Note : Buku ini saya terima dari Gagas sebagai kado untuk blogger #unforgotTEn

Reviewer : 



Chiky


Oniyon



Momon



Monky



Kitten


Ada lima orang sahabat yang saat itu sedang berkumpul, sebenarnya mereka tidak berniat untuk hangout bareng. Chiky berencana membeli snack cacing kering di minimarket terdekat, Oniyon sedang asyik sendiri sama buku yang dibacanya, Momon ingin ke rental untuk meminjam DVD Korea, sedangkan kembarannya Monky sudah berjanji untuk main bola membantu temannya melawan tim RT tetangga sebelah yang berhadiah satu tandan pisang dan Kitten seperti biasa cuma bergolek-golek di kasur. Namun hujan deras turun dengan tiba-tiba membuat kelima mahluk tersebut terpaksa mengurungkan niatnya dan akhirnya berkumpul di ruang santai. Sambil menunggu hujan mereda, Chiky memutuskan untuk main games, sedangkan Momon dan Monky hanya berdiam diri melamun. 

"Sebel kenapa sih harus hujan," gumam Monky jengkel

"Tapi hujan itu romantis, gue suka hujan," sahut Momon yang berdiri di dekat jendela dan memandang hujan. 

"Romantis?" ejek Monky. "Becek, macet, gak ada ojek gini, menurut loe romantis?"

"Kenapa sih Ky,  elo tuh jadi mahluk sinis banget, ngga ada imajinasi sama sekali," desah Momon

Oniyon yang dari tadi asyik baca buku, menghentikan kegiatan bacanya dan berteriak jengkel kepada sepasang monyet kembar tersebut, "Tolong loe orang berdua jangan ribut, gue ngga bisa konsen nih," ujarnya dan lalu ia kembali tenggelam dalam buku yang dibacanya.  

Monky yang lagi bete karena hujan langsung mengalihkan perhatiannya pada Oniyon yang tampak sedang cengar-cengir di pojokan. Penasaran ia menuju ke tempat Oniyon membaca buku. 

"Lagi baca buku apa sih, dari tadi loe cengar-cengir sendiri kaya orang gila?" tanyanya sambil melirik cover sebuah buku yang bergambar kotak susu dengan totolan sapi. 

"Bentar lagi gue selesai, elo jangan ganggu gue dulu," ujar Oniyon sambil membalikkan badan membelakangi Monky. 

Tapi bukan Monky namanya kalau terima saja dicuekin sama Oniyon, dengan gesit dia langsung menyambar buku yang dibaca Oniyon dan membaca sinopsis yang ada belakang cover buku. 

Namaku Flory. Usia mendekati tiga puluh dua. Status? Tentu saja single! Karena itu Mamz memutuskan mencarikan Datuk Maringgi abad modern untukku.
"Kenapa, sih, gue jadi nggak normal cuma gara-gara gue belom kawin?!"
"Karena elo punya kantong rahim, Darling,” jawab Dina kalem. “Kantong rahim sama kayak susu Ultra. Mereka punya expired date."
"Yeah," sahutku sinis. "Sementara sperma kayak wine. Masih berlaku untuk jangka waktu yang lama."
Mamz pikir aku belum menikah karena nasibku yang buruk. Dan kalau beliau tidak segera bertindak, maka nasibku akan semakin memburuk. Tapi Mamz lupa bertanya apa alasanku hingga belum tergerak untuk melangkah ke arah sana.
Alasanku simple. Karena Mamz dan Papz bukan pasangan Huxtable. Mungkin jauh di dalam hatinya, mereka menyesali keputusannya untuk menikah. Atau paling tidak, menyesali pilihannya. Seperti Dina, sahabatku.
"Kenapa sih elo bisa kawin sama laki?!"
Dina tergelak mendengarnya. "Hormon, Darling! Kadang-kadang kerja hormon kayak telegram. Salah ketik waktu ngirim sinyal ke otak. Mestinya horny, dia ngetik cinta!"
See??
"Oh my God!" desah Kika ngeri. "Pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta!"
Yup!
That’s my reason, Darling!
"Kembaliin, gue belum selesai," sembur Oniyon sambil berusaha menarik kembali buku tersebut dari Monky. Namun seperti biasa Monky selalu lebih gesit dari bawang. 

"Wah kayanya nih buku lucu" ujar Monky sambil tetap memerhatikan cover belakang buku. Setelah itu Monky tertawa ngakak 

"Kenapa loe, tiba-tiba ketawa?" tanya Oniyon jengkel

"Kayanya gue tau deh, kenapa elo pilih buku ini buat elo baca?" sahut Monky sambil senyum-senyum

"Maksud loe?" tanya Oniyon heran

"Tema buku ini tuh sesuai sama keadaan elo," jawab Monky sambil tetap senyum-senyum

"Tema? keadaan gue? maksud elo apa sih?"

"STMJ," jawab Monky sambil tergelak

"STMJ? Apa itu STMJ? Ngomong yang jelas, emang loe kira gue kerja di CIA," tegur Oniyon tambah jengkel.

"STMJ itu artinya Sudah Tua Masih Jomblo." 

"Siaul loe!" 

Momon yang sedari tadi mengamati tampak tertarik dan ikut bergabung, "Buku apa sih? romantis ga?"

Monky memandang jengkel saudari kembarnya, "Gue rasa cerita horror pun di otak loe jadi romantis."

"Monky jahat!" teriak Momon sambil pergi meninggalkan ruangan tersebut. 

Chiky yang sedari tadi asyik main video game, tiba-tiba berhenti, "Kenapa sih elo sama kembaran loe sendiri aja susah akur, Ky?"
"Bukan begitu Chik, tapi dia tuh perlu disadarin kalau kenyataan ngga seindah impian," sahut Monky sambil memberikan buku tersebut kepada Oniyon yang langsung dikeukeup oleh Oniyon. 

"Gue udah baca tuh buku, menurut gue ceritanya lumayan," ujar Chiky sementara matanya tetap melihat layar TV

"Jadi gimana? akhirnya si Flory ini berhasil kawin ga? sebelum uh expired?" tanya Monky

"Kalau yang loe maksud apa si Flo dapat jodoh, jelas dapat, karena buku itu bukan soal pencarian jodoh," jawab Chiky datar.

"Eh, kalau gitu tentang apa donk?" tanya Monky keheranan

"Meoow, tentang cinta dan apa itu cinta," ngeong Kitten yang tiba-tiba saja memunculkan kepalanya dari balik selimut. 

"Huh cinta," dengus Monky sambil mencibir, "Gue sih ngga percaya cinta."

Kitten kecil kembali mengeong menyatakan ketidaksetujuannya atas Monky, "Jadi kalau elo gak percaya cinta, menurut elo kenapa para manusia itu pada menikah?"

"Gampang Ten," jawab Monky mantap. "Karena manusia perlu melanjutkan keturunan, dan dalam dunia manusia untuk melanjutkan keturunan, mereka harus menikah."

Chiky tiba-tiba menoleh dari layar TV dan bertanya, "Tapi kalau memang tujuannya buat melanjutkan keturunan, kenapa ada manusia yang mau menikah tapi ngga mau punya anak?"


Monky tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil kesimpulan dengan gaya sotoynya, "Mungkin untuk kenikmatan dan pengabdian."

Oniyon yang tampaknya sudah selesai membaca tiba-tiba nyerocos, "Kenapa bahasan elo orang jadi rumit gitu, pernikahan kan urusan para manusia, yang penting commitment."

"Apa pula itu commitment?" tanya Kitten polos. 

Oniyon tidak mengacuhkan pertanyaan Kitten dan alih-alih melemparkan pertanyaan kepada Chiky, "Chik, apa pendapat elo soal buku ini?"

Kali ini Chiky meletakkan tuas kendali video games yang dipegangnya, lalu dia mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna biru dan berkata, "Kalau menurut gue, konflik utama cerita ini ada pada karakter utama yang bernama Flory, karena dia cenderung over thinking  dan tema cerita secara keseluruhan tentang insecurity, tidak ada konflik yang benar-benar nyata dalam buku ini, karena semua konflik bersumber pada Flory yang cenderung menyelesaikan masalah dengan masalah."

Oniyon hanya manggut-manggut setuju, lalu menambahkan, "Kalau menurut elo gaya penceritaannya bagaimana?"

"Mirip script film, 70% dialog dan 30% narasi, buku ini banyak di percakapan dan permainan dialog" jawab Chiky.

"Bagaimana dengan typo?" tanya Monky tiba-tiba. 

Oniyon dan Chiky hanya saling memandang lalu Chiky kembali berkata, "Typo ada sih tapi ngga terlalu banyak. Halaman 204, 'membutuh' seharusnya 'membutuhkan' trus halaman 327, 'permaian' seharusnya 'permainan' dan hmmm kayanya cuma segitu aja."

"Elu yakin typonya cuma segitu?" ejek Monky. "Buku terakhir yang elo baca kan typonya ada 10 tapi elo sebut cuma 5."

"Tugas gue kan bukan memeriksa typo, Ky," jawab Chiky tenang. "Itu kan bagian elo yang memeriksa typo, kalau jumlah typonya ada lebih yah maklum deh."

"Kan gue belum baca bukunya, Chik," Monky mengingatkan Chiky. 

"Tapi ada satu hal yang mengganjal gue, Chik," gumam Oniyon, tangannya membuka-buka halaman buku dan menunjukkan sebuah kalimat dalam buku lalu membuka lagi lembar halaman lain dan kembali menunjukkan kalimat lainnya. "Gue bingung sama kata acuh di sini. Kalau yang gue nangkep dari penyampaian kalimatnya, makna kata acuh di sini adalah cuek. Tapi kenapa depannya ngga pakai kata 'tak'?"

Monky tampak bingung, "Maksud loe?" lalu Monky ikut membaca kalimat yang ditunjukkan oleh Oniyon. "Aneh ya, gue yakin acuh itu maknanya peduli, tapi kenapa di kalimat ini bermakna cuek?"

"Itu karena tidak ditambahkan kata 'tak' di depan kata 'acuh', jadi yang benar itu tak acuh bukan acuh," jawab Chiky. 

"Apa kelolosan?" tanya Oniyon pada Chiky

"Kelolosan kok banyak? bisa dibilang semuanya?" Chiky balik bertanya kepada Oniyon

"Hanya editor dan penulis yang tahu."

"..."

Kitten kembali menongolkan kepalanya dari balik selimut dan ikut nimbrung, "Kalau ceritanya bagaimana? kok ngga ada yang bahas cerita dan karakternya?"

"Lha tadi kan sudah disebut sama Chiky," seru Monky heran. "Makanya kalau nyimak tuh yang serius jangan sambil guling-guling di kasur."

"Gue dengar kok, tapi itu kan Chiky cuma bilang temanya. Bukan pembahasan cerita atau karakternya. Maksud gue banyak adegan romantisnya ga? adegan yang bisa bikin pembacanya merasa terenyuh," ujar Kitty dengan mata berbinar-binar. 

Monky, Oniyon dan Chiky cuma terbengong menatap Kitten. Tapi mereka memakluminya karena Kitten ditemukan dalam sebuah tong sampah saat masih seekor bayi kucing oleh Momon dan sejak saat itu Momonlah yang mengasuh Kitten, tidak heran kalau sifat Kitten miirp dengan Momon, sama-sama melankolis dan hopeless romantic. 

"Ceritanya seputar dunia sosialita. Adegan romantis ada, kata-kata keju ada, tapi ngga banyak, yang lebih banyak itu seputar persahabatan Flory dan genknya daripada interaksi Flory sama cowonya," ujar Chiky dan sebelum Oniyon sempat menyela, ia kembali menambahkan, "Kalau menurut gue buku ini lebih tentang persahabatan daripada kisah pernikahan itu sendiri."

"Persahabatan yang membahas tentang pernikahan," tambah Oniyon lalu ia kembali berujar, "sebenarnya gue berharap lebih banyak interaksi antara Flory dan suaminya. Kalau untuk karakter, gue paling suka Dina."

"Elo demen yang model bitchy begitu?" tanya Chiky

"Lho justru kan menariknya sifat dia karena bitchy itu. Kalau yang lain typical, ada Gerry yang tipikal cowo gay tukang gosip, si Flory sendiri tipe yang impulsif karena tindakan dan perkataannya bekerja lebih dulu daripada otaknya trus Kika si feminis nanggung dan Ara yang mirip-mirip sama Momon dalam hal romantika cinta. That's all"

"Jadi gue rasa kita udah siap buat laporan untuk Lady Storytelling," ujar Chiky sambil menutup buku catatan kecilnya dan disetujui dengan anggukan Oniyon. 

Sementara itu hujan di luar sudah mulai reda, Momon sudah menghilang entah kemana, Kitten melanjutkan bergolek-golek di kasur. Monky langsung pergi untuk bertemu temannya. Chiky pergi ke minimarket untuk membeli snack cacing kering favoritnya dan Oniyon menghadap Lady Storytelling.

Why I gave the rate 3.5 instead of 4


Note : Semua karakter saya ambil dari http://www.laymarks.com/ saya terinspirasi untuk membuat review ala cerpen dari blog Mbak Dewi saat saya membaca reviewnya yang berjudul Fifty Shades of Grey dan ternyata yah saya gagal untuk membuat cerpen yang lucu jadi sorry yah kalau reviewnya garing.  

Selasa, 25 Juni 2013

10 Things I Hope from GagasMedia #unforgotTEN


Dear Gagas Media,

Sebelumnya aku mau ucapin Happy Birthday to You. Ngga terasa perjalanan Gagas di dunia penerbitan sudah berlangsung 10 tahun lamanya. Aku jujur saja belum banyak buku terbitan Gagas di dalam rak buku milikku, karena terbitan gagas banyak buku-buku romance, yang secara genre, emang bukan tipe aku banget, eitss, jangan salah paham dulu, aku suka romance hanya saja bukan yang sebagai tema utama. Oke, well mungkin alasan aku ngga terlalu suka romance karena selesai baca romance hatiku jadi galau mungkin seandainya Gagas ada terbitin genre favoritku macam fantasy atau science fiction aku bakal banyak punya buku Gagas dalam rak bukuku, eh sorry seharusnya aku ngga membahas tentang diriku mengingat ini ultah Gagas. #cubitdirisendiri eniwei aku suka romance kok karena bikin aku bisa memahami dan merasakan empati dari emosi para tokohnya, cuma masalah keterbatasan dana bikin aku belum banyak beli buku romance *tuh kan ujung-ujungnya soal duit*. 

Aku ingat dulu Gagas ada banyak terbitin buku-buku yang diadaptasi dari film layar lebar dan sekarang kebalikannya, buku-buku Gagas banyak diadaptasi ke layar bioskop. Yang aku suka dari buku-buku terbitan Gagas adalah cover-covernya, cantik banget. Pokoknya cover buku-buku terbitan Gagas itu rata-rata eye candy (dan menurut opini sotoy aku) juga yang termodis dan paling stylish dibanding penerbit lain, seandainya ada Awards siapa penerbit yang paling banyak menerbitkan cover yang artistik dan kreatif, aku yakin Gagas juaranya, untuk itu siapapun tim desain di Gagas, aku acungin jempol untuk mereka. 

Lalu Gagas juga ada terbitin beberapa buku Historical Romance waktu wabah HR sedang melanda dunia perbukuan fiksi romantis di Indonesia, tapi sepertinya untuk sekarang ini karena  genre HR sedang surut demamnya Gagas udah lama ngga terbitin HR lagi (loh, katanya ngga suka romance? kalau ratingnya bagus dan ceritanya ngga biasa yah aku suka). Tapi meskipun begitu aku tetap berharap walau ngga sering-sering amat, Gagas masih mau menerbitkan genre HR, mungkin Gagas bisa adakan polling ke pembaca seputar buku apa yang mau diterjemahkan, kalau aku pribadi sih berharapnya Annie's Song karangan Catherine Anderson karena ceritanya sangat emosional dan menyentuh. 

Tapi sekarang ini Gagas sangat kaya dalam menerbitkan genre, mulai dari fiksi dengan berbagai genre (romance, teenlit, adults) lalu ada non fiksi macam travel-lit (yang aku suka banget, karena keterbatasan waktu dan dana aku ngga bisa traveling sungguhan dan buku-buku travel membantu aku mengetahui suatu tempat tanpa aku perlu pergi ke tempat itu langsung) dan buku-buku humor macam TNSALOA yang menghibur dikala aku sedang stress dan bosan. Kalau sekarang kayanya yang lagi ngetrend itu buku yang berbau Korea yah. 

Ehm, jadi kelamaan di curcol, aku langsung aja yah make 10 wishes for Gagas Media :
  1. Memerkaya genre buku-buku terbitan Gagas, selama ini Gagas kan solid di romance, bagaimana kalau di ekspansi ke genre lain. Misal fantasy, thriller, detektif, oke emang ada sih beberapa buku genre ini yang pernah Gagas terbitkan tapi kok kurang pengenalan yah? (dan ga banyak, selain itu kualitas ceritanya perlu banyak pengawasan lagi kalau mau merebut hati pembaca untuk memilikinya).
  2. Masih lanjut dari point nomor 1, selain karya dalam negeri, buku-buku luar juga banyak yang bikin aku penasaran dan berharap Gagas mau memertimbangkan untuk tetap menerjemahkan dan menerbitkannya (genre apa saja, misal fantasy, YA, HR, New Adults, dll)
  3. Terkait buku terjemahan, ini penting banget, aku berharap setiap buku terjemahan semakin diperbaiki kualitasnya. Sorry to say this Gagas, tapi beberapa buku terjemahan terbitan Gagas itu ngga enak dibacanya. Kalau Gagas mau tau, aku bisa tunjukkan 1 buku yang terjemahannya kurang enak menurutku. 
  4. Sering-sering mengadakan sayembara menulis dan tulisan-tulisan para penulis itu dimuat dalam anthology dan kalau bisa temanya ngga terbatas di romance atau real life fiction.
  5. Bagaimana kalau Gagas sering mengadakan diskon. Sebagai pecinta buku dengan dana terbatas, buku-buku dengan harga affordable adalah impian bagi semua pecinta buku. Diskon di sini maksudku promo githu jadi ngga harus semua buku, misal khusus bulan Juli, buku dengan tema teenlit semuanya diskon 30% untuk setiap pembelian langsung dari gagasmedia.net trus nanti bulan Agusutus tema dewasa/traveling diskon 30-35% dan seterusnya, pasti deh penjualannya lebih meningkat :P
  6. Gagas kenapa jarang banget adain giveaway? sering-sering giveaway donk :D
  7. Moga-moga buku terbitan Gagas dapat menginspirasi dan menciptakan trend daripada sekedar mengikuti trend untuk genre-genre yang lagi in. 
  8. Sering-Sering adain polling ke pembaca untuk tau selera pembaca. Misal kalau mau terjemahin genre romance dari luar, bisa tanya dulu ke pembaca, buku apa yang mereka harap diterbitin sama Gagas.
  9. Ini sih harapanku untuk tim Gagas bagian teknis, yah moga-moga servisnya lebih ditingkatkan, misal kalau ada buku yang cetakannya cacat, gampang tukerinnya. Kalau perlu bisa di toko buku terdekat yang jual buku-buku Gagas tanpa harus kirim langsung ke penerbit Gagas Media. 
  10. And tenth last thing I hope from Gagas is long live Gagas. Jadi Gagas tetap akan ada dalam 10 tahun berikutnya, lalu 10 tahun berikutnya lagi dan seterusnya. 
Oke Gagas, suratku sampai disini saja yah, mohon maaf kalau ada kata-kataku yang menyinggung, tapi aku harapkan yang terbaik buat Gagas dan juga agar Gagas ke depannya makin maju dan sukses.

Salam,
Lina

Rabu, 22 Mei 2013

THE NOT-SO-AMAZING LIFE OF @aMrazing

✭✭✭✭
Judul Buku : The Not-So-Amazing Life of @aMrazing
Pengarang : Alexander Thian
Penerbit : Gagas Media 

Akhirnya saya ikut-ikutan juga beli nih buku. Sebelum saya tau tentang buku ini, saya tau mengenai penulisnya dulu via, yah manalagi kalau bukan twitter. aMrazing alias Alexander Thian alias si seleb tweets. Pertama tau @aMrazing dari salah satu rituit teman yang saya follow akun twitternya. Terus cek tentang @aMrazing dan liat wuih nih orang followernya banyak banget (jujur saya itu ngga aktif banget di twitter dan waktu itu belum tau istilah selebriti twitter) setelah follow akun twitternya, saya baru ngeh apa itu seleb tweets (kesimpulan saya, orang yang punya banyak waktu luang dan suka ngetweets ngalor ngidul ngga jelas).

Saya akui, tweets nya emang lucu-lucu dan gokil tapi suka juga tweetsnya menyentil, kadang beberapa tweetsnya suka saya RT juga. Yah sembari tweets, dia dagang buku juga (lebih tepatnya pengalaman-pengalaman aneh bin ajaibnya), cuma waktu itu karena mikirin timbunan buku yang masih bejibun, saya belum kepikiran beli, cuma waktu lihat review orang-orang kalau nih buku tipis dan ringan serta tak perlu waktu lama untuk membacanya (biasanya antara 1.5 - 2 jam) saya jadi tertarik beli,  itung-itung sebagai bacaan pelepas stress.

Maka mulailah saya membaca buku ini dan inilah ekspresi saya sepanjang baca buku ini :

atau
tapi ada juga yang

Kisah dalam buku ini terdiri dari 14 cerita pendek, yaitu :
  1. Maria Kere vs Seline Dion, hahahah emang kadang ada aja orang yang udah salah, ngeyel lagi, dan saya juga pernah ketemu yang tipe beginian, annoying emang. 
  2. Kondom Ona Sutra, sama kayak yang lain, saya baca bagian ini sambil ngakak keras, cuma yang bikin saya heran, itu kok bisa-bisa nya aMrazing berlama-lama pegangin tuh kondom bekas, kalau saya yang pegang dan pas tau  kalau itu kondom bekas pasti reaksi tangan saya langsung reflek buang /lempar /jatuhin tuh kondom. *O ya sempet penasaran sama siapa itu Ona Sutra, dan (serius) gw gugling dan liat youtubenya lalu nyesel sendiri.*
  3. Fesbuk oh Fesbuk, kisah yang ini dapat highlight langsung di sinopsis belakang buku dan sukses bikin saya penasaran tapi setelah selesai baca bukunya, dari seluruh cerita-cerita dalam TNSALOA, justru kisah ini yang paling kurang membekas. 
  4. Dummy Seharga Dua Juta. Ini kisah yang paling sedih dari semua cerpen-cerpen di TNSALOA. Saya pun ikut terenyuh dan sedih pas baca. Kagum sama pak Soni yang tegar dalam menjadi orang tua dan tegar dalam menyikapi masalah handphone dummy-nya. Gue selalu kagum dan respek sama orang yang tetap tegar dan bijaksana saat menghadapi masalah. BTW apa kabar Rama yah sekarang? 
  5. Ngga Canggih, Nggak Gaya, Nggak Gaul. Kebalikan ama kisah sebelumnya, kisah ini bikin gemes dan bikin saya pegen jitak si anak manja yang merongrong ibunya minta beli hape cuma gara-gara masalah gaul. Ini sih tipikal yah, karena sayangnya banyak anak-anak jaman sekarang yang mirip sama si mini-me nya Pretty Asmara ini. Gue inget temen kantor gue pernah cerita kalau dia punya teman yang suka merongrong nyokapnya untuk minta dibeliin barang-barang mewah karena pengen gaya hidup ala orkay padahal nyokapnya cuma dagang di pasar tradisional dengan penghasilan pas-pasan dan suaminya udah ngga ada tapi kalau ga diturutin selalu ngancem bakal pergi dari rumah (kadang gue mikirnya ini anaknya yang salah pergaulan atau ortunya ga bisa didik anak).
  6. Amnesia Mendadak.  Jujur saya juga termasuk yang jarang atau mungkin udah ngga pernah lagi nonton sinetron dan nonton infotainment (yah mungkin baca infotainment di internet dengan hanya sekilas tampilan muka artis yang biasanya saya ngga hafalin) tapi , kalau ada artis saya juga mungkin ngga ngeh, eh tapi tergantung artisnya juga sih.  Seberapa sering buat prestasi, karya atau gosip :D
  7. Nafas Dari Neraka. Kesan gw cuma 1, udah jatuh tertimpa tangga pula :D
  8. That Awkward Moment. Moral dari cerita ini : 1. Saat ada masalah, hadapi dengan kepala dingin. 2. Jangan pake bahasa canggih ala dokter saat ngomong ke pelanggan. Gue inget, dulu pernah komputer gue rusak, padahal bukan rusak, cuma power supply  perlu diganti tapi kalau gue bilang ke ortu, kalau power supply rusak, mereka pasti bingung, akhirnya gw bilang aja komputernya ada sedikit kerusakan dan perlu diservis. Cuma yang kadang bikin annoying, tanya rusaknya apa? dan kalau gue bilang power supply rusak, ortu tanya lagi power supply apa?  kalau udah gini gw bingung jelasinnya karena bakal lebih panjang x lebar yang bikin mereka tambah gak ngerti. Curiosity is good but to understand it, sometimes it cannot instantly, you need to observe and learn it.
  9. Don't Judge The Heart By The Look. Kisahnya sih klise, dan ini termasuk kisah dalam TNSALOA yang saya tangkep ditulis Alexander Thian dengan tone lebih serius dibanding yang lain. Beauty is only skin deep. Just my opinion, kayaknya kisah ini ditulis sebagai bentuk respek dan hormat sama Mas Bambang. 
  10. Dangdut Halitosis, ini kisahnya mirip sama yang nomor 7. Tapi menurut saya yang lebih lucu ada di bagian awal,  yang mahasiswa tapi ngga bisa bedain iPod dan iPhone :D. 
  11. Manajer Masturbasi, saya asli ngakak kenceng pas bagian manajer dan Alex sama -sama kaget :D. Moral dari cerita ini : Makanya kalau mau nonton bokep, kunci pintu dulu kalau ketahuan bakal rempong, karena bakal dibikin cerpen dalam buku atau dimasukin ke blog :D
  12. Saya Anggota Dewan Y U Know?! Rasanya udah rahasia umum yah, kalau di negara kita tercinta, orang yang harusnya jadi abdi rakyat tapi kelakuannya malah norak dan kayak orang non-education, yang ada kalau  ada anggota dewan kena musibah macam ditipu, bukan dapat iba dari masyarakat ,malah dapetnya, "Sukurin loe, korupsi melulu sih."
  13. Preman Jadi-Jadian. Bab ini sepertinya ditulis untuk menertawakan nasib sial aMrazing. Saya no comment deh, kasihan udah berdarah masih harus diketawain lagi. emang kayanya hari itu jadi hari derita loe.
  14. Jujur Itu Mahal. Ada satu quote yang dalem di sini, "Sometimes, the reality makes people don't want to wake up and smell the coffee, because they're afraid to feel the pain. They choose to live in the warm blanket of denial instead". Alias udah tau, tapi berpura-pura ngga tau, dan ngga mau tau. Terlepas dari apapun kasusnya, tapi banyak orang yang seperti itu, menolak untuk menerima faktanya dan lebih milih tutup mata. Kenyataan ngga selalu seindah bayangan.  Janji banyak yang palsu. Harapan banyak yang tidak kesampaian. Ekspektasi ternyata gagal.  Well, call me pessimistic, but that's life. Hmmm gue belajar bahasa gaul baru, baru tau kalau melambai ada kata lain yaitu ngondek. 
TNSLOA itu lucu? Jelas. Menghibur? Pasti. Enak buat dibaca ulang?iya, kalau lagi stress.  Worth untuk dibeli? ngga terlalu mahal, beli aja lah. Menginspirasi? belum  sampai sih :D


Akhir kata kalau penulis ingin melanjutkan kisahnya di buku 2, aku nantikan deh, soal setau aku, penulisnya punya banyak pengalaman malu-maluin (apalagi kalau lagi traveling), jadi boleh donk di share, biar bisa kita ketawain lagi :D (#eh #LariAlaKeong)

PS : Gue masih penasaran, kenapa sih aMrazing berangan-angan dipangku dan di gendong sama Hugh Jackman?

Kamis, 21 Februari 2013

NIGHTSHADE (NIGHTSHADE #1)

✮✮½
  • Judul Buku    : Perburuan Takdir
  • Pengarang     : Andrea Cremer    
  • Penerbit        : Gagas Media

Okay I will give harsh critique about the translation, because I read the Indonesian translation, so first, I want to complain about the translation, it's just... SO HORRIBLE, really and I am thinking maybe  there are no editor or proofreader for this book,  because the translator seems using google trans to translate this book because there are so many wrong structure and phrases in many sentences I read. 

Alright let's review :
1. I must push myself so hard to read and finish this book, because it's not real fantasy, it's more about romance like Twilight, when a hormonal teenage werewolf girl cannot decide around 2 boys she likes. The Heroine here is called Calla, the author describe her as kick ass but what it showed on the story is more how she is so emotional when it about boys (and mostly anything involved her in the book are about 2 boys), I think maybe I'm just have high expectation about kick ass heroine definition. For me kick ass more than just tomboy, can fight or kungfu or become a leader of some groups. For me kick-ass it's about independent, smart and able to take control on a situation no matter how odd it is, I will give an example, I like Meghan Chase from The Iron King, she is not a fighter but won't mind sacrifice something on herself as long as she can help her little brother.

2. There are not really a real story in this first book. The story are more about romance and Calla's feeling (or hormone). Sure there are universe introduction about werewolf in this book (keeper, guardian & searcher), although it kind of weird and more like fanfiction (too much making up). 

3. Both Calla and Shay are annoying me in some point. Calla annoys me about her hormonal issue, please note I don't have problem with romance novel, I like love story as long as is not overdone or exaggerated and this book so much show how Calla's hormone take control rather than about her feeling, I think she even still confused about her feeling, and Shay annoys me about his free spirited issue, his free spirited attitude and rebellious just making him look like irresponsible character and that's what I see in him. No wonder many readers dislike Shay.

4. The last 100 pages of this book saved the story, I just felt the tense near the ending are the only part that wake me up. And too bad, the twist even just felt incomplete. I still don't know who is Shay's uncle, what about the searcher and many other questions, okay there are sequel but still some question should explain in first book.

5. Last, I shipped Calla with Ren. Funny thing here, the author told Ren as bad boy while it's shown the opposite, he is nice with Calla and will do anything for her.  

So far, I am not find any satisfying books about werewolf. Also note to myself, it's time for me to step up from YA romance with high school background, I think I'm getting too old for this kind of genre (a.k.a easily getting bored).

And since I used to say this book remind me of Twilight, so whether this is still a better love story than Twilight? Well this time I will said no. Because Edward and Jacob are better than Shay, well sorry, just my opinion.  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...