Kamis, 31 Juli 2014

THE JOURNEYS: 12 JOURNALS ABOUT JOURNEYS

Judul: The Journeys
Penulis: Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke 'Sepatumerah', Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Editor: Resita Wahyu Febiratri
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, personal literature, travel
Harga: Rp 36,375 (25% off), bisa dibeli di @bukubukularis, www.bukabuku.com
Rate: ★★★


Sejujurnya saya agak malas mereview The Journeys ini di blog, karena entah kenapa saya merasa rada bosan saat membacanya, mungkin mood saya sedang jenuh membaca buku-buku bertema traveling dan niatan awal cuma mau ngereview di goodreads, tapi akhirnya saya mendapatkan mood untuk bikin reviewnya di blog (mood really control me). Ada 1 atau 2 kisah dalam The Journeys ini yang pernah saya baca, yaitu Kiss from a Stranger-nya Windy Ariestanty yang pernah saya baca di life Traveler dan Melipir ke Tel Aviv-nya Ve Handojo yang pernah saya baca di blog Ve. Dan untuk saya pribadi, personal literature bertemakan traveling itu lebih sebagai sebuah informasi yang saat saya sudah tahu (baca) maka sudah cukup. Jadi bukan jenis bacaan yang asyik untuk di reread.

The Journeys adalah sebuah kumpulan personal literature atau catatan pribadi dari 12 orang penulis yang menceritakan kisah dan pengalaman mereka selama traveling. Baik itu yang dekat macam di Karimun Jawa hingga di New York, Amerika Serikat.

1. Mengejar Mimpi, kereta pagi dan tapas Andalusia - Gama Harjono (Andalusia, Spayol)
Jujur, menurut saya tulisan pembuka ini paling berantakan plotnya. Entah apakah terlalu banyak editing, yang jelas saya agak bingung bacanya, 1 paragraf masih bercerita soal Bologna dan paragraf selanjutnya langsung melompat ke Spanyol. Tidak ada yang spesial, kisahnya lebih mirip tulisan panduan wisata dan itu pun tidak cukup membuat saya tertarik pergi ke Andalusia. 

2. Dari Desa Kecil Bernama Air - Winna Efendi (Shuili, Taiwan)
Winna bercerita mengenai kisahnya saat jalan-jalan ke sebuah kota kecil di Taiwan yang bernama Shuili yang artinya air. Gaya ceritanya ala surat elektronik alias email. Untuk saya pribadi, penulisannya lebih mirip buku harian. Entah apa karena Shuili terlalu normal dan sederhana juga tidak ada yang aneh-aneh seperti culture shock atau gaya penulisan Winna yang seperti buku panduan tempat-tempat wisata, saya merasa bosan saat membacanya dan setelah lanjut ke tulisan lain, saya bahkan lupa apa yang dijabarkan.

3. A Morning Kiss Bye From A Stranger - Windy Ariestanty (Lucerne, Swiss)
Saya sengaja melewatkan kisah ini, karena saya sudah pernah membacanya di  Life Traveler, jadi saya tidak akan berkomentar tentang ceritanya lagi. Saya cuma berharap untuk ke depannya, penerbit tidak memuat cerita yang sama dalam 2 buku yang berbeda walau hanya sepenggalan. Karena saya tidak suka membayar harga dobel untuk informasi yang sama. 

4. Menyingkap Peta Gelap - Farida Susanty (Singapore)
Saya lumayan suka sama cara berkisah Farida, karena ia seperti menulis sebuah editorial tentang perbedaan antara Singapore dan Indonesia. Untunglah ia tidak menulis tentang tempat-tempat wisata di Singapura yang saya yakin gampang dicari di inernet yang rata-rata masyarakat kelas menengah di Indonesia sudah pada tahu, sebagai mahasiswa psikologi, Farida mengajak kita untuk melihat perbedaan rumah sakit jiwa di Indonesia dan Singapura. 

5. Parfum Impian - Valiant Budi (Mekah, Arab)
Ah rasanya seperti membaca salah satu cerita dalam Kedai 1001 Mimpi. Seperti biasa gaya penuturan Vabyo tidak hanya sukses memancing cengiran namun juga membuat mikir.  

6. Sampral - Okke 'Sepatumerah' (Pantai Kolbano, NTT)
Kisah perjalanan kali ini agak unik karena berbau magis. Pernah denger pepatah kan, kalau di tempat baru jangan suka nantangin dan turuti peraturannya. Nah itulah pesan penulis kepada pembaca melalui cerita ini. Kolbano adalah sebuah pantai yang terletak di NTT, pantainya cantik dan tepi pantainya bukan penuh pasir melainkan penuh batu kerikil. Uniknya pantai ini suka 'ngambek' kalau ada orang yang pakai baju merah dan teriak-teriak. 

7. Karimunjawa-Surga Indonesia, Alexander Thian (Karimun Jawa, Jepara)
Saya yakin banyak yang sudah mendengar tentang Karimun Jawa, saya pun berencana ingin pergi ke sana suatu hari nanti. Amrazing ingin kembali mengingatkan bahwa traveling adalah salah satu cara untuk mengusir kepenatan dari rutinitas ataupun patah hati. Terutamna wisata alam, untuk mengingatkan, hidup hanya sekali dan harus dinikmati dengan meluangkan waktu menikmati ciptaan Tuhan. 

8. Amerika Amertua - Ferdiriva Hamzah (New York, USA)
Kisah Riva yang 'terpaksa' jalan-jalan sama mertuanya yang dari segi karakter sangat bertolak belakang dengan dirinya. Tapi siapa sangka karakter yang bertolak belakang bisa asyik dan saling melengkapi. You will never knew if you're not try. 

9. The Truth Behind Free Traveling - Trinity
Untuk kisah ke-9 ini, Trinity tidak mengajak kita berjalan-jalan tapi lebih sebagai pendengar curhatnya sebagai travel blogger atau wartawan majalah travel saat harus jalan-jalan dalam rangka 'dinas' atau kerja, termasuk saat jalan-jalan dengan berbagai jenis karakter manusia. Lucunya di sini ada cerita, meski profesi wartawan itu seharusnya tahu 'tata krama international' namun wartawan Indonesia selalu 'kepo' kalau melihat orang single dan suka nanya, "Kok belum kawin? Kok masih single?"

10. Melipir ke Tel Aviv - Ve Handojo (Israel)
Saya juga sudah pernah baca ini di blognya Ve. Saat kisah ini ditulis, Palestina dan Israel sedang dalam suasana adem, Ve sendiri mengunjungi Israel bukan karena hal religius dan agama tapi semata-mata penasaran akan kehidupan di wilayah Palestina - Israel yang sering diwarnai konflik. Dan ia penasaran akan Tel Aviv yang ternyata walau sekuler namun terasa damai dan tenang.

11. Afrika Berwarna - Adhitya Mulya (Afrika dan sekitarnya)
Baca catatan perjalanan Adhitya ini seperti baca Wikipedia, banyak informasi baru yang saya serap. Saya tidak tahu dengan keadaan sekarang tapi sewaktu menulis ini, Adhitya menggambarkan 1/3 wilayah Afrika sedang terlibat perang dan konflik. Dan sepertinya negara-negara yang menjadi tujuan wisata di Afrika masih itu-itu saja, misal Mesir dan Maroko di Utara dan Afrika Selatan dan Namibia di Selatan. 

12. Kasih Ibu Sepanjang Belanda - Raditya Dika (Amsterdam, Belanda)
Benarnya sih kisah Dika biasa saja, namun sama seperti Vabyo, gaya nulis yang kocak dan penuh humor selalu menjadi nilai plus karena sangat menghibur. Walau ceritanya berlokasi di Belanda, namun cerita ini lebih menceritakan 'hubungan jarak jauh' Dika dan ibunya selama sang anak mengambil summer course di Belanda.

Yang sedih dari membaca cerita traveling saat libur lebaran adalah, saya tidak traveling kemana-mana alias cuma di rumah saja.

This review also for RC:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...