Tampilkan postingan dengan label INTER-BLOGGER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INTER-BLOGGER. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 April 2014

GUEST POSTING: SAAT MEMBACA TIDAK LAGI MENYENANGKAN

Hari itu, saya kedatangan seorang tamu. Ia seorang perempuan dan juga seorang istri dan ibu. Perkenalkan Winda Scorfi Hudah dari blog [roem:pi boekoe], sekarang tinggal di Surabaya.


Hari itu Mbak Winda tampak ceria dan cantik, dengan baju warna coklat dan hijab warna hitam bermotif bunga-bunga. Eh apa tuh yang dibawa sama Mbak Winda, rupanya sebuah sampul buku berbahan kain. Tapi yang membuat saya penasaran adalah kutipan di sampul tersebut.  Bunyinya.

Selasa, 31 Desember 2013

INTER-BLOGGER: SAY HI TO DINI NOVITA SARI + GIVEAWAY

Jumpa lagi dalam Inter-Blogger. Rasanya lama sekali sejak Inter-Blogger terakhir saya. Inter-Blogger Desember mengambil tema blogger yang juga penulis. Untuk kali ini, saya berkesempatan untuk mewawancarai Dini Novita Sari. Dan sebelumnya saya mau ucapkan selamat dulu atas debut novel pertama Dini, yaitu Get Lost, klik review saya di sini. Selain wawancara, saya juga ingin memberikan novel Get Lost secara gratis (hadiah kali ini disponsori oleh penulis, #makasihdinoy dan selain itu masih ada hadiah lainnya, yaitu buku koleksi pribadi saya yang masih segel yaitu Reckelss by Cornelia Funke dan buku-buku pilihan sendiri senilai Rp 75.000. 

Langung saja mulai wawancaranya, sebenarnya agak susah wawancara kali ini, karena sebagian besar pertanyaan sudah ditanyakan oleh Mbak Sulis dari blog Kubikel Romance. Tapi saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk tidak bertanya pertanyaan yang sama. 



      1.  Halo Dini, apa kabar? Boleh cerita sekarang ini apa saja kegiatannya?

Haloo, Lina!! ^^ Kabarnya sekarang baik tapi kayaknya lagi agak pilek, wkwk. Sekarang aktivitasnya ngetwit, ngerumpi di whatsapp, baca-baca novel yang jadi timbunan... *ups! Hehehe. Tapi aktivitas yang menjadi kerjaan yang menghasilkan uang saat ini adalah memeriksa naskah, baik itu mengedit ataupun proofreading. Statusnya freelancer, sampai saat ini ngerjain naskah novel untuk tiga penerbit buku yaitu Haru, Gramedia Pustaka Utama, dan Grasindo. Lalu seperti kubilang, aku juga suka banget baca novel. Selain memang hobi dari remaja, tapi sekarang sih hobi itu juga sangat menunjang di kerjaan karena sekalian merhatiin format penulisannya. Setelah baca novel biasanya aku juga suka membahasnya di resensi lalu kumuat di blogku. ^^

(Kalau ada 1 hal yang saya iri dari Dinoy, adalah kebebasan untuk bisa melakukan hal-hal yang disukai dan dibayar pula untuk itu, hehehe #curhathore)

2. Ngomong-ngomong soal novel Get Lost, ada kendala tidak saat mengerjakan buku ini?

Kendalanya pasti ada. Karena nulis ini sebenernya murni karena aku tertarik dengan event kompetisi menulis waktu itu di suatu penerbit mayor (meski kalah tapi berjodoh dengan penerbit BIP). Jadi terkesan dadakan memang; tanpa outline, dan mengeluarkan apa yang ada di kepala aja, jadinya sempat stuck dan bingung mau nulis apa lagi. Juga karena saat itu aku masih jadi pekerja kantoran jadi deadline-nya udah mepet, tapi aku nggak punya terlalu banyak waktu luang juga. Kendala lain, karena aku masih dini banget dalam hal menulis novel, ya aku mengakui kok kalau pengkarakterannya masih kurang dalam digali. 

3. Karakter Lana, kalau saya lihat nih, sangat mirip sama Dini. Apa Dini merasa begitu?

Haha, mirip apanya dulu nih kalau menurut Lina? ^^ But as much as I want to deny, but I guess that’s kinda true. ^^ Aku mengakui kalau aku bukan orang yang bisa banget berimajinasi, karena itulah meski sering baca novel, tapi pas nulis suka stuck. Jadi ya, aku akui kalau beberapa karakter di Get Lost ini aku ambil dari orang yang udah ada di kehidupan nyata. Termasuk Lana? Ya, ada beberapa sifatku yang melekat pada tokoh ini. Pekerja kantoran (saat itu) yang bosenan, melankolis, dan suka drama, dan tentunya suka pergi ke tempat-tempat baru, hehe. 

(Entah mengapa saya merasa  Lana mirip dengan penulis, mungkin karena saat bersama-sama orang banyak, karakter Lana cenderung lebih pendiam dan lebih banyak jadi pendengar, terus sama-sama arek Suroboyo, sama-sama pekerja kantoran di Jakarta)

(
4.  Soal Traveling, apa Dini ada rencana untuk pergi lagi tahun depan, kalau boleh tahu, mau ke mana?

Hehe, beda dengan tahun lalu yang bahkan dari bulan Oktober 2012 aja aku udah belanja tiket pesawat untuk Oktober 2013, dan berlanjut belanja-belanja tiket lain yang dipergunakan untuk traveling sepanjang tahun 2013... saat ini jujur aku nggak pegang tiket sama sekali untuk ke mana pun. Bahkan pulang ke Surabaya. ^^. Banyak faktor sih, tapi karena sekarang aku lagi mau anteng ngerjain naskah dan ingin melihat ‘hasil’ dari jalan-jalanku selama ini yaitu respons pembaca terhadap bukuku (selain Get Lost yang fiksi, akan terbit naskah nonfiksiku yaitu catatan perjalanan di awal tahun 2014, berjudul Antravelogi). Tapi nggak tahu juga kalau nanti tahu-tahu ada rezeki bisa traveling di 2014, semoga saja....

5.   Apa sih negara dan kota impian yang Dini harapkan suatu saat bisa pergi ke sana?

Jujur belum ada yang spesifik, tapi kalau dari kecil/remaja aku pernah bilang seenggaknya pengin bisa ke Jepang karena kau menganggap itu adalah negara termaju di Asia. Lalu, punya kepenginan bisa pergi ke tiap pulau besar di Indonesia (kecuali Jawa); Puji Tuhan sampai tahun ini udah terwujud Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, tinggal Papua nih yang belum, hehe. Terus, pengin juga ke negara di luar benua Asia. Pokoknya pengin yang jauh-jauh, deh... :D

6. Untuk Dini pribadi, apa yang biasanya Dini cari saat traveling atau apa yang biasanya Dini harapkan dari sebuah perjalanan?

Alasanku traveling biasanya untuk mengusir jenuh aja kok, awalnya, karena aku kan pegawai yang kerja kantoran sepanjang pekan... jadi kalau ada rezeki diusahakan bisa traveling pas akhir pekan atau hari libur. Tapi boleh kubilang yang aku cari saat traveling adalah pengalaman baru; baik dari tempat baru, orang-orang baru yang kutemui, dan juga suasana baru. Harapannya... dulu inginnya setiap perjalananku akan menghasilkan cerita, jadi kadang bahkan sebelum berangkat aku sudah merancangkan apa saja yang akan aku tulis ketika pergi ke tempat itu. Tapi lama-lama aku mikirnya kalau kayak gitu jadi malah membatasi traveling itu sendiri. Jadi aku hanya berharap dari perjalananku itu aku akan lebih terbuka akan hal-hal baru yang selama ini tak aku jumpai dan rasakan sehari-hari. ^^

7. Saya lihat kan selama ini Dini lebih suka membaca genre traveling, realistik drama dan romance. Ada keinginan untuk lebih sering membaca genre lain di luar itu? Misal fantasi atau horror atau misteri?

Hm sesekali pasti ada kepinginan, tapi masih mau perhatiin juga kira-kira ceritanya tetep bakal bisa aku nikmatin nggak? Misalnya pas kapan itu aku pernah milih buku berunsur fantasi pas ada buntelan di BBI. Milihnya cepet aja, tapi pas baca aku ngerasa nggak relate banget jadi maksain kelar dan ngeresensi, huhuu.. L Tapi berhubung kerjaanku juga memeriksa naskah dan pastinya aku nggak bisa pilih-pilih genre, kalau ada kesempatan tentu mau lebih memperluas genre bacaan. :D

8. Ada penulis yang gaya penulisannya sangat memengaruhi Dini?

Bingung... baca banyak novel dan buku nonfiksi, suka terinspirasi untuk menulis sesuatu dari setelah membaca, tapi nggak ada yang terlalu spesifik. :D Cuma aku inget banget pas nulis Get Lost dan juga merevisi buku catatan perjalananku, aku membaca buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo yang berunsur melankolis tapi nggak menye-menye. Itu adalah memoar, nonfiksi tapi ditulis dengan gaya naratif ala novel. Rasanya tulisan kak Agustinus boleh dibilang memengaruhiku saat menulis Get Lost. J

9.  Kalau misalnya lagi suntuk, nggak mood atau mandek ide saat sedang menulis sesuatu, bagaimana cara Dini mengatasinya?

Ngg, kalau boleh jujur frekuensi menulis (cerita)ku belum terlalu banyak dan sering sih. ^^ Apalagi sekarang lebih sibuk ngecek naskah. Tapi ini hal umum aja yang aku lakuin saat lagi suntuk, termasuk saat suntuk nulis: main twitter, internetan, baca novel lain, dengerin musik. Hehehe....

10. Dini kan sekarang ini merantau. Menurut Dini, apakah dengan menulis saja sudah cukup untuk biaya hidup di Jakarta? Atau harus ada sampingan?

Hihi, pertanyaannya ini lhoo.... J Kalau maksudnya menulis adalah menulis untuk jadi buku yang diterbitkan, aku rasa nggak bisa jadi andalan untuk pendapatan utama. Kenapa? Karena untuk bisa menerbitkan naskah buku kan prosesnya nggak sebentar, minimal setengah tahun. Lalu kan nggak langsung tiap buku terjual kita dapat royaltinya, tapi ada periodenya penerbit akan membayar royalti kita, misal setahun dua kali. J Belum lagi secara jumlah nggak bisa diprediksi, tergantung bukumu laku berapa dan juga persentase royalti dari penerbit yang beda-beda. Tapi kalau maksudnya menulis adalah menulis artikel rutin di media cetak atau online yang memang dibayar bulanan, ya bisalah, hahaha! :D


11.  Sebagai seorang penulis, editor, proofreader. Apa pendapat Dini tentang minat baca di Indonesia?

Ngg, secara data sahih aku belum bener-bener survei yaa. Eh tapi pernah baca sih perbandingan minat baca negara kita dengan negara-negara lain masih dikategorikan rendah. Tapi kalau aku menyimak social media ya, ketika aku bahas buku banyak yang nyaut dan ngasih pendapat menarik. Menyimak akun-akun penerbit juga sering nge-RT mention followers yang merespons bagus terhadap buku-buku mereka. Jadi menurutku sih, not that bad. Banyak buku-buku lokal baru rilis, yang menurutku sih tanpa suka baca susah juga orang bisa nulis, jadi artinya banyak pula minat pembaca di Indonesia. Jadi yang aku lihat sendiri minat baca temen-temen yang ada di sekitarku besar, lah. ^^


12.  Menurut Dini, pembaca Indonesia lebih suka novel lokal atau terjemahan/impor?

Hm, yang aku tahu sih lumayan imbang lho. Lagi-lagi hanya bisa melihat dari apa yang ada di sekitarku. Peminat novel lokal banyak, yang suka novel luar pun banyak. Tahunya ya sebatas dari obrolan teman-teman dekat juga dari share di media sosial. Cuma memang yang menggemari karya lokal sedikit lebih banyak ya, menurutku karena karya lokal masih lebih bisa dicerna dan penulisnya pun terasa dekat dengan pembaca. 

13. Apa yang menurut Dini menjadi kendala dalam dunia perbukuan di Indonesia?

Hm, standar dengan apa yg terjadi secara umum di Indonesia: infrastruktur yang kurang tersebar merata. Di Jawa mungkin toko buku besar dan lengkap seperti Gramedia gampang ditemui. Tapi di pulau-pulau lain? Berdasarkan beberapa cerita temen atau dari socmed, susah, bahkan harus pergi ke kota besar terdekat yang jaraknya jauh. 

14. Apa pesan-pesan Dini bagi mereka yang juga bercita-cita menjadi penulis dan ingin menerbitkan novel mereka?

Keep reading, keep writing, keep trying. Hehee. Terus membaca biar makin terinspirasi dan memperkaya perbendaharaan kata, terus menulis ya agar bisa jadi naskah utuh, lalu... terus mencoba untuk memublikasikan karyamu. Misalnya aku, dimulai dari ikut lomba, meski kalah tapi tetap mengirimkan naskah itu ke penerbit lain. Jangan hanya membatasi diri pada satu-dua penerbit yang menurutmu bagus, terus cari tahu penerbit-penerbit lainnya yang sekiranya akan jadi jodoh naskahmu. 

Terimakasih Dinoy, sudah bersedia saya kepoin dan bersedia menjawab semua pertanyaan kepo saya, Dinoy. Hehehe, saya memang biasa panggil Dini dengan Dinoy. Ada lagi yang ingin disampaikan untuk pengunjung blog ini?

Thanks a lot! Anyway kalau ingin lihat buku-buku yang kubaca dan kuulas, bisa cek www.dinoybooksreview.wordpress.com; lalu hasil kerjaanku ada di www.katalogdini.blogspot.com; dan sapa-sapa aku di akun Twitter  @dinoynovita yaa! :D

Saya sangat menyarankan untuk melihat dan membaca 2 blog tersebut, isinya sangat informatif. BTW buku kedua Dini akan terbit lho, masih seputar traveling, tapi bukan novel, kali ini beneran kisah nyata. 



Rajin-rajin mengecek twitter Dini yah, kayaknya sedang ada gieveaway deh. Heheheh, dan ngomong-ngomong soal giveaway, saya juga ada giveaway.

GIVEAWAY 

Ini masih lanjutan dari Giveaway first blogoversary yang lalu, kali ini tahap 2. Syarat-syaratnya kurang lebih sama. Tapi mari saya ulang lagi hadiahnya supaya lebih semangat yaitu:
  1. Satu buah novel Get Lost bertanda tangan Dini Novita Sari 
  2. Novel koleksi pribadi saya yang masih baru, beneran masih baru karena masih segel. Kebetulan untuk buku tersebut, saya punya double, karena sewaktu IBF kemaren, Indah kasih saya versi Inggrisnya. Jadinya saya memutuskan untuk menghibahkan yang punya saya. 
  3. Buku-buku pilihanmu sendiri senilai Rp 75.000. Boleh satu buku atau 2 buku asal nilainya tidak lebih dari Rp75.000 (setelah diskon), ongkir saya yang tanggung.
Itu semua hadiah untuk 1 orang pemenang. Nah, sekarang ke bagian yang agak ribet, tapi  nggak ribet-ribet amat kok. 

Syarat mengikuti giveaway : 
  1. Peserta giveaway hanya yang berdomisili di Indonesia atau mempunyai alamat kirim di Indonesia.
  2. Giveaway berlangsung dari tanggal 31 Desember 2013 - 17 Januari 2014 (tepatnya hingga 17 Jan 2014, jam 23.59).
  3. Pemenang akan saya umumkan kurang lebih 1 minggu setelah giveaway berakhir.
  4. Pemenang akan saya pilih dengan diskusi bersama Dini. 
  5. Pemenang harus mereview buku yang bertanda tangan penulis Get Lost dengan maximal tenggat waktu 1 1/2 bulan setelah hadiah diterima. Bukunya tipis kok, 198 halaman. Review tidak harus di blog buku. Bisa blog pribadi, tumblr, goodreads, fb notes, dll. Hanya satu buku saja yang direview yaitu khusus buku yang bertanda tangan penulis, dalam hal ini buku Get Lost saja. Buku lain tidak perlu dan bebas mau dibaca kapan saja :D
  6. No cheating. 
  7. Apabila pemenang tidak konfirmasi setelah 2x24 jam setelah saya hubungi, maka saya akan pilih pemenang lain. 
  8. Jawab 2 pertanyaan di bawah ini:
  1. Jika kamu bisa berkesempatan untuk mengunjungi 1 tempat/kota/negara yang paling ingin kamu kunjungi di dunia ini (bukan tempat khayalan), kemana kamu ingin pergi dan sebutkan alasan spesifik, mengapa kamu ingin pergi ke tempat itu? Jawaban boleh lebih dari 1, tapi maksimal 3. 
  2. Mana yang lebih kamu suka selama ini? Buku karya penulis lokal / buku terjemahan / buku impor?

Kali ini, saya lagi malas belum sempat untuk bikin google docs, jadi jawab saja via comment pada review Get Lost (jangan jawab di comment postingan ini yah), tapi jawab di sini 
PENTING, Jangan lupa cantumkan:
  1. Nama lengkap
  2. Alamat email dan twitter
  3. Beritahukan link blog/tumblr/goodreads/fb notes tempat kamu akan mereview buku Get Lost seandainya kamu terpilih sebagai pemenang.
  4. Follow Dini Novita Sari di twitter @dinoynovita, kalau follow saya sih optional. Untuk point ini, saya akan cek dengan Dini.
  5. Follow/join blog saya di sidebar (optional) tapi semakin banyak yang follow/join, semakin sering saya mengadakan GA :D
  6. Share mengenai giveaway ini via twitter. Mention saya @arynity dan @dinoynovita. Dengan hashtag #GAGetLost
  7. Cantumkan link toko buku online khusus untuk buku-buku pilihanmu sendiri senilai Rp 75.000. Saya biasa beli di bukabuku atau gramediaonline.
Saya kasih contoh deh:

Nama: Lina
Email: lina.riyanty@gmail.com
Twitter: @arynity
Link untuk review: http://lady-storytelling.blogspot.com/ 
Share link tentang GA: xxxx ( mention @dinoynovita dan @arynity #GAGetLost)
Buku yang mau dibeli: kasih link tempat belinya. 
Jawaban: 
1. Tempat yang mau saya kunjungi adalah Cappadocia, Turki, karena saya ingin naik balon udara dan melihat lanskap alam Cappadocia yang mirip dengan permukaan bulan dan rumah-rumah batu di Cappadocia.
2. Saya ingin pergi ke Milan, Italia dan mengunjungi stadion Giuseppe Meazza, juga nonton derby Milan dan moga-moga saja saya bisa ketemu dengan il capitano Zanetti.
3. Saya mau ke pantai Ora, di Maluku, karena saya ingin menyelam melihat kekayaan laut Maluku, melihat matahari terbenam sambil leyeh-leyeh di pantai dengan pasir putih, melihat bintang-bintang di malam hari. Saya kasih linknya deh, pasti pada tertarik. 

Saya, selama ini lebih suka baca buku terjemahan. 

Itu cuma contoh atau misal saja yah. Jawaban tidak harus 3, kalau cuma terpikir satu, juga tidak apa-apa. Mana tahu, jawabanmu bisa bikin saya dan juga Dini tertarik untuk pergi ke tempat tersebut. Kalau masih ada yang bingung, jangan ragu untuk bertanya pada saya yah, bisa via twitter, bisa di kolom komentar postingan INTER-BLOGGER ini.

Rabu, 04 Desember 2013

INTER-BLOGGER: MEET AGAIN WITH ORINTHIA LEE + GIVEAWAY

Tidak terasa, ternyata kita sudah sampai di penghujung tahun 2013. Yang berarti sudah saatnya bersiap-siap membuat resolusi untuk tahun 2014. Walaupun rasanya untuk saya, resolusi tahun 2014 bakal sama saja dengan yang lalu-lalu, tapi tetap semangat bahwa tahun depan, kita semua harus lebih baik dari tahun ini. Seperti yang sudah saya tulis dalam postingan sebelumnya, bahwa Desember ini adalah bulan yang spesial untuk blog saya. Karena tepat Desember 2013 ini, umur blog saya genap 1 tahun. Masih terbilang sangat muda, dan masih perlu banyak belajar, tapi sekiranya saya sudah berhasil untuk mencoba konsisten dan serius dalam mengelola blog. Karena itu untuk merayakannya, saya ingin mengadakan giveaway kecil-kecilan. 

Giveaway bulan Desember kali ini saya gabung dengan posting Inter-Blogger. Karena Inter-Blogger Desember kali ini bertema Blogger yang juga berprofesi sebagai pengarang. Saya berencana ada 2 giveaway untuk Desember yang berarti ada 2 blogger yang akan saya wawancarai.  siapa saja mereka? Tentang hal itu akan kita ketahui segera, walau saya rasa, kalian sudah bisa menebak salah satunya. Hehehe. 

Untuk blogger pertama dalam Inter-Blogger Desember ini, saya kembali mewawancarai Orinthia Lee. Kembali? Iya, karena ini adalah wawancara kedua saya dengan Orin (panggilan akrab Orinthia Lee). Sebelumnya, saya pernah wawancara Orin saat ulang tahun BBI dalam Close Up Interview With Orinthia Lee. Bila wawancara sebelumnya lebih bersifat perkenalan atau untuk mengetahui pribadi Orin, maka kali ini wawancara saya berhubungan dengan buku kedua Orin yaitu I'mpossible. Silakan cek review saya untuk I'mpossible di sini. Dan silakan juga cek sharing Orin mengenai apa yang melatarbelakangi Orin untuk menulis buku I'mpossible ini di sini.

Meet Again With Orinthia Lee


Orin, apa kabar nih? Sekarang sedang mengerjakan apa saja?
Halo, Lina. Kabar baaik... Makasih loh udah nanya ^^
Aku baru aja nyelesain naskah novel metropop dari Gramedia Writing Project bareng 2 penulis lainnya: Ayu Rianna dan Emilya Kusnaidi. Terus sekarang lagi ngerjain cerpen untuk kumcer 17 peserta GWP sama ada sekitar 3 proyek novel yang menunggu buat diselesain sampai awal tahun depan.
(Wow, benar-benar tahun yang produktif untuk Orin. Selamat yah Rin. Ditunggu buku-buku selanjutnya. Untuk yang penasaran bisa intip dulu tulisan-tulisan peserta GWP di http://www.gramediawritingproject.com/)
Rin, mau tanya seputar buku I’mpossible. Kalau dari blog Orin, ini kan terinspirasi dari kisah nyata. Apa berarti buku ini sejenis sharing atau curhatan Orin akan pengalaman Orin sewaktu berbisnis online?
Kalau dibilang curhat sih nggak, cuma terinspirasi aja kok. Ingin aja berbagi pengalaman lewat cerita fiksi yang bisa dinikmati pembaca. Siapa tau pengalaman Fay di novel I'mpossible bisa memberikan semangat baru buat temen-temen yang mungkin ngalamin masalah yang serupa.
Berapa lama proses pengerjaan buku ini? 
Sekitar 2 bulan lebih.
Apa ada kendala sewaktu mengerjakan buku ini? 
Kendala ya... Paling banyak sih kendala males dan moody hahaha... Dan sempet sakit juga sampe agak bikin molor dari tenggat waktu.
Kalau saya lihat baik Why Always Me ataupun I’mpossible, kedua buku ini lebih menceritakan mengenai perubahan karakter tokoh utamanya. Apakah emang Orin memang sengaja mengangkat tema ini? Maksudnya yang lebih membahas perubahan karakter dan pandangan hidupnya?
Kebetulan dari penerbit minta cerita yang inspiratif ketimbang cuma cinta melulu. Dan aku sendiri juga pengen abis baca bukuku, ada pesan yang bisa diambil sama temen-temen pembaca khususnya yang masih remaja. Moga-moga aja niatku ini kesampaian ya. 
Apakah ada inspirasi dalam menulis tokoh-tokohnya? Seperti Fay, Tania, Felisha, Edmund?
Secara langsung sih nggak ada, tapi kalau secara gak langsung pastinya ada pengaruh dari bacaan dan tontonan aku, juga dari pengalaman pribadi kayak waktu Fay tiba-tiba harus kemana-mana naik angkot bukannya diantar jemput sopir. Ah, tokoh pacar kakaknya Adrian yang jualan sepatu itu terinspirasi dari pemilik Rumah Sepatu Bulan yang dulu memang sempat jadi supplier ol shop aku xD
I’mpossible ini walau ada romens tapi untuk ukuran teenlit, tidak terlalu banyak dibahas, apakah Orin ingin supaya bukunya lebih bersifat universal? 
Hehe ini jawabannya sama kayak nomor 5, permintaan penerbit, Lin xD Padahal aku sendiri pengen masukin romens antara Fay dan Edmund lebih banyak. 
Kalau Orin sendiri bagaimana, apa sekarang masih jualan online?  
Aku udah lama nggak jualan online, tapi lagi berencana untuk mulai lagi nih. Doain lancar ya. 
(Oke, saya aminkan, saja :D)
Mana yang lebih sulit, menulis Why Always Me atau I'mpossible? 
Hmm lebih sulit nulis I'mpossible soalnya harus mikirin tips-tips jualan online hahaha...
Setahuku, Orin kan sekarang kerja kantoran yang jam kerjanya padat mulai dari pagi hingga sore dan kadang bisa sampai malam. Bisa bagi tips bagaimana cara atur waktu antara bekerja dan menulis?
Cara bagi waktu... biasanya sih bangun lebih pagi buat nulis sekitar 1 jam sebelum mulai kerja. Kalau malam masih bisa mikir alias belum kecapekan, kadang dipake buat nulis juga. Selalu diusahain minimal nulis 3-5 halaman per hari. 
(Ambil memo dan pulpen #noted)
Sebagai penulis, biasanya kan  suka ada Writer's Block, atau kebuntuan ide (mandek) saat lagi menulis atau nggak mood. Nah kalau lagi seperti itu, bagaimana cara Orin mengatasinya? 
Hm... biasanya kalau aku sih refreshing dengan nonton, fangirling, jalan-jalan, atau baca buku lain. Tapi kalau sudah deadline, nggak ada jalan lain selain maksain diri buat nulis. Biasanya kalau sudah mulai nulis, mandek idenya akan hilang sendiri.  
(Masih pegang pulpen dan memo #lanjut mencatat) 
Rin, sekarang kan suka ramai Writer vs Reviewer. Nah, Orin sendiri juga blogger yang suka mereview buku, tapi seandainya Orin mendapat review buruk mengenai buku-buku yang  Orin tulis, reaksi Orin sendiri bagaimana?
Hmm... nggak apa-apa sih, Selera orang kan beda-beda. Aku berusaha ambil masukan yang bisa berguna buatku ke depannya dari review buruk itu dan berusaha untuk lebih baik lagi di karyaku berikutnya.  
(Angkat jempol untuk reaksi Orin) 
Oke, sekarang saat yang dinanti-nanti yaitu giveaway :D

Seperti yang kalian tahu, salah satu hadiah giveawaynya adalah novel I'mpossible bertanda tangan Orinthia Lee. Tapi selain buku I'mpossible, saya juga tambahkan buku-buku lain. Untuk lebih jelas dan lengkapnya inilah hadiah-hadiah untuk pemenang 1st Blog Annyversary Giveaway:
  1. Satu buah novel I'mpossible bertanda tangan Orinthia Lee
  2. Salah satu novel dari 2 novel koleksi pribadi saya yang masih baru (iya, saya akui saya belum baca dan bukunya masih mulus seperti baru (_ _") Kebetulan salah satu buku tersebut saya punya double, karena sewaktu IBF kemaren, Indah kasih saya versi aslinya. Jadinya saya memutuskan untuk menghibahkan yang punya saya. 
  3. Buku-buku pilihanmu sendiri senilai Rp 75.000. 
Untuk point nomor 2, inilah buku koleksi pribadi yang akan saya hadiahkan (pemenang hanya pilih salah satu saja):
  1. Bad Men by John Connolly
  2. Reckless by Cornelia Funke

Tapi sebelum membahas hadiahnya lebih lanjut, kita bahas bagian yang sulitnya dulu, yaitu syarat-syaratnya.

Syarat mengikuti giveaway:
  1. Peserta giveaway hanya yang berdomisili di Indonesia atau mempunyai alamat kirim di Indonesia.
  2. Giveaway berlangsung dari tanggal 5 Desember - 20 Desember 2013 (tepatnya hingga 20 Des jam 23.59).
  3. Pemenang akan saya umumkan kurang lebih 1 minggu setelah giveaway berakhir.
  4. Pemenang akan saya pilih dengan diskusi bersama Orin. 
  5. Pemenang harus mereview buku yang bertanda tangan penulis I'mpossible dengan maximal tenggat waktu 1 bulan setelah hadiah diterima. Bukunya tipis kok, baca 2 jam pasti selesai. Review tidak harus di blog buku. Bisa blog pribadi, tumblr, goodreads, fb notes, dll. Hanya satu buku saja yang direview yaitu khusus buku yang bertanda tangan penulis. Buku lain tidak perlu dan bebas mau dibaca kapan saja :D
  6. No cheating. 
  7. Apabila pemenang tidak konfirmasi setelah 2x24 jam setelah saya hubungi, maka saya akan pilih pemenang lain. 
  8. Jawab 2 pertanyaan di bawah ini:
a. Seandainya kamu tiba-tiba mengalami persoalan seperti Fay, di mana usaha orang tuamu bangkrut. Apa yang kamu lakukan untuk membantu keluargamu mencari uang? Jawaban sebebas-bebasnya. Tidak harus jualan online juga. Yang terpenting bisa menghasilkan uang :) Jangan jawab di komentar postingan ini, jawaban silakan ditulis pada komentar di review I'mpossible di sini. Cantumkan juga ID yang kalian pakai seperti: Nama, email, twitter Id. Dan Id tersebut sebaiknya sama dengan jawaban yang kalian isi pada google form.

b. Berhubung ini ultah pertama blog, saya mau tanya, apa pendapat kalian mengenai Let Me Tell You a Story? Jawabannya bebas, mau kritik, saran atau sekedar bilang sudah oke, juga gpp. Untuk pertanyaan ini, silakan jawab pada komentar di bawah postingan ini. Cantumkan juga ID yang kalian pakai seperti: Nama, email, twitter Id. Dan Id tersebut sebaiknya sama dengan jawaban yang kalian isi pada google form.

Nah sudah itu saja, tidak ribet dan gampangkan? Saya tahu pakai helikopter kadang menyebalkan, karena itu saya pakai google form saja. Untuk share, kalian bisa share lebih dari sekali, tapi saya tetap akan hitung entrynya 1.

Nah terakhir, silakan isi juga google form dibawah ini :


Masih bingung? Silakan tanyakan ke saya via twitter di @arynity. Jangan tanya di komentar ya, supaya tidak membingungkan. 

Kamis, 28 November 2013

INTER-BLOGGER: BINCANG SANTAI BERSAMA ZELIE PETRONELLA

Halo,halo, ketemu lagi dalam Inter-Blogger. Kali ini korban tamu saya adalah Zelie Petronella. Siapa itu Zelie? Yang pasti blogger, anaknya manis, masih muda dan suka membaca buku. dan menimbun buku 

Mengapa saya pilih Zelie? Karena saya merasa selera membaca saya dan Zelie agak-agak mirip. Sama-sama suka dengan The Hobbit, buku-buku Young Adult, children dan fantasi. Selain itu, tema INTER-BLOGGER bulan November adalah mereka yang pekerjaannya berhubungan dengan buku-buku. Nah kalau waktu itu INTER-BLOGGER pertama saya adalah seorang pustakawin. Tamu saya kali ini bukan pustakawan, tapi pekerjaannya juga masih berhubungan sama buku. Apa itu dan siapakah dia? 

Dia adalah: 

Chei sehabis hunting buku di IBF

Zelie Petronella dari blog Book-admirer. Kebetulan saya juga kenal dan pernah ketemu Zelie secara pribadi. Nama panggilan Zelie adalah Chei. Karena itu, selama interview, saya akan panggil Zelie dengan Chei supaya lebih dekat dan tidak terkesan kaku #SKSD
Pertama-tama, seperti biasa silakan perkenalkan dulu mengenai diri Chei? Lengkap, padat tapi jangan terlalu panjang juga :D 
Book-admirer. Wanderlust. Music enthusiast. Suka sekali makan tahu, minum green tea dan ngemil cokelat, tapi tidak sambil baca buku.
(Chei, kok nggak sekalian statusnya? taken or high quality jomblo? Mana tau ada yang naksir dan mau kenalan #EmangBiroJodoh #Siapague) 
Chei, saya dengar kerja di salah satu toko buku online yang mengkhususkan diri dalam buku-buku impor, apa benar? 
Iya, sudah sekitar setahun kerja di OpenTrolley Bookstore, toko buku online yang khusus menjual buku impor. Rasanya, seneng karena bisa kerja dekat dengan dunia yang saya suka. 
(Ah, emang enak yah, kalau kerja karena kita suka dengan pekerjaannya juga, tetiba saya merenung, kapan bisa begitu #TetepCurhat) 
Menurut Chei sendiri, siapa saja sih yang biasanya suka belanja di tokbuk online tempat Chei kerja? (Contoh/misal:  kebanyakan pegawai kantoran karena mereka nggak sempat ke tokbuk, atau ibu-ibu sibuk, atau masyarakat yang tinggal di luar wilayah ibukota karena jarang ada toko buku yang menjual buku impor, atau ekspatriat dan lain-lain)?
Dulu, saya pikir tuh yang suka belanja di toko online adalah anak muda –terkait masalah keakraban dengan teknologi. Ternyata, orang dewasa juga suka lho berbelanja online. Walau suka bingung, mereka tidak malu bertanya dan jadinya bikin saya senyum-senyum sendiri membimbing mereka.
(Kapan-kapan, coba belanja di OT ah, sekalian mau ngetest Chei, apakah Chei sudah menjadi CSO yang baik #eh) 
Biasa customer tanya-tanya seputar apa saja, Chei, kalau telepon?
Tanya cara belanja. Hahaha. Sama kapan buku dikirim.
Oh, pernah ada yang tanya cerita di bukunya?
Hahaha, enggak. Jarang banget. Paling mereka tanya covernya bakal sama dengan di web atau nggak. 
Menurut Chei sendiri, orang Indonesia masih lebih suka buku-buku berbahasa Indonesia(baik lokal/terjemahan) atau sudah mulai beralih ke buku-buku impor?
Saya rasa sih ini relatif ya, lebih ke masalah bahasa. Ada orang yang enggan baca buku impor karena merasa tidak lancar berbahasa asing. Ada yang lebih suka baca dalam bahasa asing karena merasa terjemahan kurang pas. Tapi, sejauh ini, saya rasa orang lebih cenderung beli buku impor untuk bahan kuliah/ajar.
(Jadi inget, waktu kuliah banyak pakai text book english, tapi saya cuma baca bagian depan dan soal doank :P )
Apa saja sih Chei, kendala Chei sebagai pihak yang bekerja di tokbuk online dalam menghadapi customer?  
Kepercayaan. Masih banyak orang yang ragu dan enggak yakin mau belanja online. Kendala lainnya juga banyak lho yang seenaknya, yang mau-maunya sendiri aja. Jadi, harus ekstra sabar deh dalam menanggapi keluhan atau saran dari pelanggan.
(Begitulah, kalau pekerjaan Customer Service, kadang harus siap jadi "tempat sampah" saya pun mengalaminya #TetepCurhat) 
Menurut Chei untuk sekarang ini, berapa perbandingan masyarakat beli buku secara fisik di toko buku dan online? 
Lagi, ini relatif. Belanja online itu praktis, tinggal klik, klik, klik, beres. Belanja offline bisa lihat-lihat langsung. Ada yang suka konvensional, ada yang suka praktis aja. Tapi, sepertinya sih untuk Indonesia masih menang toko buku offline deh.
(Saya tahu kenapa, karena kalau offline, kita isa elus-elus buku, eh ini kayaknya saya doank deh.)
Genre atau jenis buku impor apa saja yang biasa dicari customer di tokbuk online tempat Chei kerja?  
Fiction dan text-book. Banyak juga yang beli manga,sepertinya untuk koleksi, hehehe... 
Menurut Chei, genre apa yang kurang dari buku-buku yang ditulis oleh penulis lokal? Dan apa yang Chei harapkan untuk para calon penulis di Indonesia?
Kalau genre, sepertinya science fiction masih jarang ya. Tapi, saya sebenarnya rindu baca novel atau cerita yang emang Indonesia banget. Enggak kebanyakan pengaruh barat atau korea atau jepang atau apalah.. Indonesia itu sangat kaya budaya, kenapa tidak diekspos dengan baik? 
(Kalau saya berharap, beberapa genre macam fantasi, misteri ala detektif dan thriller/horror (di luar pocong-kunti) bisa lebih banyak.) 
Buku-buku impor kan covernya banyak yang keren-keren. Seberapa tinggi pengaruh cover dalam memengaruhi seseorang untuk membeli buku? Kadang 1 buku punya beberapa versi cover dengan harga yang berbeda. Biasanya orang lebih lihat harga atau cover? 
Berdasarkan pengamatan saya sih, pelanggan lebih milih yang penting murah deh untuk buku, kan yang penting baca. Hehhe.. Tapi kalau udah suka, bermacam macam cover jadi dikoleksi deh, enggak peduli harganya berapa.
(Tetep, gak ada bisa mengalahkan hukum ekonomi dalam hal beli buku sekalipun.) 
Menurut Chei, faktor apa yang paling banyak menentukan seseorang dalam membeli buku?   
Tema yang diangkat, penulis, harga dan tentu saja -cover, hahah..  
Apa saran Chei untuk meningkatkan minat baca di Indonesia? Atau bagaimana membuat persepsi bahwa “baca itu seru”? 
Dari sekolah juga harus digalakkan kesukaan membaca. Sepertinya sekarang atas nama efektifitas, siswa jarang mencatat atau membaca buku, lebih ke gadget-gadget. Padahal, menulis kembali apa yang kita baca saja sudah membantu kita menghafal dan paham, seperti yang guru SMP saya selalu ingatkan. Sedangkan untuk orang dewasanya,saya rasa konsep jualan koran di halte bus TJ juga oke. Mungkin bisa di halte bus umum juga atau stasiun? Atau di gerbang tol? Eh, ribet ya? Hahahha.  
(Menurut saya, kalau untuk masyarakat urban, baca buku itu belum menjadi lifestyle seperti fitness di gym atau shopping di mal. Coba saja tengok bus Trans Jakarta, dari 30-40 penumpang, paling 1 atau 2 yang memanfaatkan waktu mereka di jalan dengan membaca buku. Selebihnya tidur, dengerin musik atau cuma bengong. Selama ini suka baca masih dipandang nerd sama orang-orang. BTW, saya nggak ada masalah sama julukan nerd, malah menurut saya pribadi nerd itu keren karena beda dari yang lain.)
Nah, sekarang pertanyaan yang bersifat personal atau favorit Chei :D
Apa genre favorit Chei? 
Young adult, chicklit sama children fiction.
(Wah, selera kita mirip ^^) 
Chei termasuk pembaca cepat atau lama? Berapa lama waktu Chei dalam menghabiskan suatu buku? 
Lama karena aku termasuk yang cari waktu yang nyaman banget buat baca. Aku enggak suka harus terganggu pas lagi seru baca. Jadi, lama deh :P
(Sama donk, Chei. Saya juga benci diganggu pas lagi baca.) 
Apa buku terfavorit Chei hingga saat ini ? 
Sampai saat ini sih The Hobbit sama Charlie and the Chocolate factory.
(Saya juga suka banget sama The Hobbit dan selalu berharap, moga-moga suatu hari, saya ketemu "Gandalf saya" yang akan mengajak saya bertualang, meninggalkan kota Jakarta yang semraut dan pergi ke suatu tempat yang indah di mana ada Raja Elf dan anaknya, Legolas #KayaknyaObatYangSayaMinumMulaiBekerja #ngelantur  
Siapa tokoh paling favorit Chei hingga saat ini? 
Willy Wonka! Aduh, pengen banget punya pabrik cokelat kayak dia. Suka juga karakter dia yang jenaka dan enerjik. Sangat berharap dia bukan sekedar tokoh fiksi, hiks..
Siapa pengarang favorit Chei? 
Roald Dahl, Tolkien, Mira W, Clara Ng dan Enid Blyton
Ada pesan-pesan untuk pembaca postingan atau blog ini? 
Setiap buku itu punya pembacanya sendiri (lupa siapa yang ngomong, maafkan ya..) Jadi, jangan takut kalau bacaan kamu kok kayaknya ‘beda’. Jangan sombong juga karena berasa bacaan kamu ‘keren’. Cukup nikmati apa yang kamu baca, sampaikan pendapatmu dengan baik, lalu teruskanlah membaca dan membaca. Cheers! 
(Bacaan saya juga macam-macam Chei, kadang yang nggak umum. Malah beberapa buku favorit saya underrated. Intinya saya sangat setuju) 
Nama: Zelie Petronella
Blog: http://littleangelinme.wordpress.com/
Twitter: @miss_zp
Ultah: 30 November (2 hari lagi nih)

Oke, sekian untuk Inter-Blogger ke-2 saya. Sekalian pengumuman, memasuki bulan Desember, blog saya genap 1 tahun, dan sebagai perayaan karena saya berhasil konsisten menulis blog selama setahun, saya berencana untuk mengadakan giveaway. Mungkin tidak terlalu megah, tapi hadiahnya cukup lumayan. Jadi tunggu saja pengumumannya.

Kamis, 07 November 2013

INTER-BLOGGER: MEET LUCKTY THE LIBRARIAN

Halo semua, apa kabar? Waktu bulan Oktober, saya pernah tulis, kalau saya akan buat 1 postingan yang sifatnya interaktif. Jadi maksudnya, postingan yang melibatkan sesama blogger lain. Mulanya saya namakan interactivities, tapi kok kurang catchy di telinga yah. Akhirnya saya ganti jadi Inter-Blogger.

Menurut pengertian bahasa latin sendiri, inter artinya antara atau kebersamaan. Karena itu, saya pakai nama Inter-Blogger. Selain itu juga Inter mengingatkan saya akan nama klub sepakbola keren dari Milan #abaikan. 

Untuk tamu pertama saya dalam Inter-Blogger ini, saya berkesempatan mewawancarai Mbak Luckty Giyan Sukarno. 


Mengapa saya pilih Mbak Luckty? Saya kagum akan pekerjaan Mbak Luckty sebagai seorang pustakawan/win :D. Selain itu belum banyak apresiasi masyarakat luas terhadap profesi pustakawan/win. Banyak orang mikirnya kalau pekerjaan pustakawan/win itu cuma sekedar jaga perpus doank. Padahal bukan, pekerjaannya malah cukup berat dan tanggung jawabnya juga banyak. Kalau tidak percaya, silakan kunjungi  blognya Mbak Luckty di Luckty si Pustakawin
Pertama-tama bisa perkenalkan dulu mengenai Mbak Luckty? Kan di Indonesia kalau nggak kenal maka nggak sayang, hehehe.
Bernama lengkap: Luckty Giyan Sukarno. Karena punya nama yang macho banget, kerap dikira laki. Bahkan wisuda pun aku dapet patung laki x) Dulu aku sempet nggak minat ama apa yang namanya kuliah. Aku ngerasa nggak ada jurusan yang aku minati. Pas SMA, aku ambil jurusan IPS. Itu juga nggak ngerti sama sekali yang namanya akuntasi #aib. Cuma suka pelajaran sejarah ama antropologi. Pas pendaftaran SPMB (Kyaaa..ketauan angkatan berapa :p), aku baru tahu ada Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Langsung milih jurusan itu sebagai pilihan pertama. Alhamdulillah keterima. Dulu mikirnya, jangan-jangan masuk Fakultas Sastra atau FISIP. Salah besar, ternyata masuk Fakultas Ilmu Komunikasi x) Ternyata kuliahnya menarik, kita nggak hanya belajar tentang buku-buku doank, tapi belajar tentang penerbitan, komunikasi, dan jangan gak percaya ternyata ada mata kuliah Penulisan Artikel dan Resensi Buku :DNah, semenjak ada mata kuliah itu, jadi nyobain buat blog. Waktu itu nggak langsung fokus ke buku, karena skripsiku tentang film, jadi blogku juga ada beberapa review tentang  film. Punya blog pertama kali sekitaran pertengahan 2008. Mulai fokus nulis review buku tahun 2010, saat mulai berdatangan buntelan rutin dari beberapa penerbit. Makin aktif sejak gabung ama BBI tahun 2011. Uniknya, di tahun yang sama aku kerja di sebuah perpustakaan sekolah. Nulis review juga salah satu termasuk jobdesk sebagai pustakawan loh.. :D 
(FYI, banyak anak-anak BBI yang iri lho sama profesi Mbak Lucty, karena bisa bekerja dikelilingi buku-buku dan yang terpenting bekerja karena passion (bukan hanya uang). Saya juga mirip Mbak Luckty, pas lulus SMU bingung karena berasa nggak ada jurusan yang cocok. Sayang sadarnya terlambat dan sampai sekarang masih nyesel #curcol) 
Mbak Luckty kan pustakawati nih. Menurut Mbak Luckty, genre yang laris atau favorit di Indonesia itu genre apa?
Genre romance. Kenapa? Pada umumnya, masyarakat kita membaca buku karena butuh hiburan, pelapas penat. Nah, kalo suruh baca yang berat-berat yang ada tambah penat. Udah banyak masalah, eh malah baca yang berat-berat, jadi nggak ngilangin stres x) Nah, genre romance biasanya berisi yang manis-manis. Menurutku, genre romance terbagi dua golongan; menye-menye ama unyu-unyu. Aku cenderung lebih menyukai golongan unyu-unyu. Tapi ini juga masalah selera sih. Gak setiap orang punya selera yang sama. Misalnya, kita suka semur jengkol, tapi orang nggak suka, menghirup baunya aja udah nggak tahan. Begitu juga dengan buku, selera nggak bisa dipaksakan. 
Etapi, jadi keinget sebuah kalimat di novel BLISS; “Lebih baik jadi kutu buku referensi daripada ahli novel percintaan.”   
(Hahaha, saya suka metaforanya. Menurut saya, percintaan selama logis gpp, lha emang ada cinta yang pake logika? #NyanyiLaguAgnes, BTW saya tanya Mbak Lucty, apa bedanya romens unyu-unyu dan menye-menye. Menurut mbak Luckty, unyu-unyu adalah manis tapi gak lebay, sedangkan menye-menye itu semacam cinta-cintaan picisan)
Sejauh ini, orang Indonesia, menurut Mbak Luckty, lebih suka buku-buku lokal atau terjemahan?
Sekeren-kerennya novel terjemahan, banyak yang lebih suka novel lokal. Ada banyak alasan kenapa enggan memilih novel terjemahan. Pertama, biasanya memiliki jumlah halaman yang lumayan tebal, jadi mikirnya pasti udah jadi bantal duluan deh buku itu x) Kedua, tema yang diangkat biasanya berat. Pernah tuh, beli buku-buku fiksi bertema thriller buat perpus sekolah. Pada serem duluan, takut nggak nyampe ama jalan ceritanya. Ketiga, dari sisi terjemahan. Udah tebel, temanya berat, mana terjemahannya berantakan banget. Langsung nggak mood mau bacanya. Pernah beberapa kali menemukan buku tipe ini. Oya, pernah beli buku klasik, covernya unyu banget, mana penulisnya juga udah nggak diragukan lagi. Ehhhh...dari halaman pertama aja udah gak sreg ama tatanan bahasanya. Cerita klasik kok pake bahasa gaul, ya hancur imajinasi kita pas bacanya. Ternyata nggak cuma aku aja yang kecewa ama buku terjemahan itu. Sayang banget, padahal itu salah satu buku klasik yang lumayan mendunia. 
Nah, kalo kalo novel lokal beda lagi. Biasanya endingnya gampang banget ditebak. Dari segi tema pun terkadang bukan sesuatu yang baru. Novel lokal yang keren banget adalah Rahasia Sunyi terbitan GagasMedia. Bertema thriller. Nuansa lokalnya kental. Endingnya pun tak terduga. 
(*Mencatat* saran novel thriller dari Mbak Luckty untuk masukin list Wishful Wednesday. Setuju soal terjemahan yang kelewat gaul, saya juga pernah tuh baca terjemahan pake loe-gue, emang dikira tuh bule orang Jakarte)
Saya sering dengar kalau Mbak Luckty tidak percaya bahwa minat baca di Indonesia itu rendah. Bisa dijelaskan mengapa? 
Berdasarkan pengalaman selama bekerja di beberapa perpustakaan, permasalahan utama kenapa minat baca itu rendah karena tidak tepatnya bacaan yang disajikan. Ada nih, sebuah sekolah kejuruan yang isi perpustakaannya hanya buku-buku kimia dan komputer semua. Memang sih, cuma jurusan itu yang ada di sekolah tersebut. Tapi, mabok juga kali kalo suruh baca rumus kimia mulu x)  Begitu juga dengan (kebanyakan) perpustakaan perguruan tinggi isinya di dominasi buku-buku diktat kuliah. Rak referensi isinya cuma sedikit. Pas kerja di perpustakaan sebuah kampus swasta, pas pengadaan buku, kebagian pendataan judul-judul buku plus dikasih kepercayaan buat beli buku-buku tersebut. Lima persen kulokasikan buat buku-buku fiksi. Meskipun cuma lima persen, tapi bisa beli lumayan banyak buku loh. Dua kardus besar, waktu itu nitip beliiin di Jakarta ama salah satu member BBI, Noviane Asmara. Laris manis. 
Begitu juga di sekolah. Pada umumnya sekolah-sekolah negeri, pengadaan buku hanya bergantung pada sumbangan dari pusat. Setiap sekolah jatahnya sama, seragam. Hampir seratus persen buku pelajaran semua. Itu pun nggak semua guru menggunakannya. Di satu sisi, bahasanya yang kaku, terkadang juga isinya tidak sesuai kurikulum. Alhasil banyak buku dari pemerintah yang ‘menganggur’ dan terkesan cuma jadi ‘pajangan’. Sementara pihak sekolah pada umumnya tidak ada yang menganggarkan dana untuk pembelian buku. Sudah menjadi rahasia umum, kenapa perpustakaan sekolah kerap terlihat ‘mati’, karena memang tidak ada ‘gairah’ di sana. Padahal, menurut UU No. 43 Tahun 2007, setiap perpustakaan sekolah harus menganggarkan minimal lima persen untuk perpustakaan. Fakta di lapangan? Yaa...gitu deh... Makanya kalo nggak pintar-pintar pustakawannya, perpustakaan mana bisa ‘hidup’, apalagi mau menumbuhkan minat baca. 
Sekolah yang kutempati sekarang juga dulunya perpusnya nggak layak banget. Cuma rak-rak yang isinya buku-buku jadul sejak jaman kapan, plus hanya satu meja. Boro-boro pustakawan, petugas khusus di perpustakaan aja juga nggak ada. Pemerintah selalu menggembor-gemborkan rumah pintar, taman pintar, rumah baca, dan lain-lain. Padahal itu nggak perlu kalau perpustakaan dimanfaatlkan dengan maksimal sesuai fungsinya. 
(Saya salut lho (dan juga iri) sama upaya Mbak Luckty untuk meningkatkan mutu dan kualitas perpustakaan baik secara buku-buku maupun ruang perpus itu sendiri, benar-benar bekerja memakai hati dan passion, sekali lagi, saya sarankan untuk membaca blog Mbak Luckty)
Kebetulan di lingkungan saya (dan juga mungkin beberapa teman blogger yang lain) minat bacanya rendah.  Di rumah, hanya saya saja yang suka baca. Teman saya bahkan tidak sanggup membaca buku yang hanya mempunyai 50 halaman. Semua teman saya yang suka baca buku itu cuma ada di dunia maya. Mbak Luckty ada saran tidak, bagaimana cara menumbuhkan minat baca? 
Masih nyambung di pertanyaan sebelumnya, ada banyak cara untuk menumbuhkan minat baca. Salah satunya ya, menyajikan bacaan yang tepat untuk pembaca. Misalnya nih, kita buat perpustakaan/ taman bacaan di desa yang warganya rata-rata bekerja di bidang pertanian. Nah, kita sediakan buku-buku yang berhubungan dengan pertanian; Cara Memanen Kacang Lebih Cepat, Menanggulangi Hama Pada Tanaman Terong, Jenis Bibit Unggul Dalam Menanam Jagung, dan lain-lain. 
Nah, kalo aku di sekolah sebisa mungkin minimal satu atau dua minggu sekali ada sepuluh buku baru. Caranya, dulu sih dari uang denda. Tapi nggak begitu efektif, toh denda biasanya cuma seratus dua ratus. Lama terkumpulnya. Cari cara lain, mereka bisa ngeprint tugas di komputer perpus. Ini hasilnya lumayan banget. Trus, pas semester kemarin musim ngeprint danbo, ini pemasukannya dahsyat banget meski resikonya cartridge sering jebol x) 
Dari uang-uang itu, aku beliin semua novel-novel unyu. Muridnya militan banget, hampir tiap hari nanya ada novel baru apa nggak. Semester ini kan ada bazar buku, biasanya di daerahku cuma setahun sekali. Sayang banget kan kalo dilewatkan. Itu pas baru masuk ajaran baru, pas ada bazar. Jelas perpus belum punya pemasukan donk. Alhasil aku rela ‘nombokin’ dulu buat beli ratusan novel-novel dengan harga miring. Uangnya sedikit demi sedikit balik hasil dari uang print-printan setiap harinya. 
(Yah, sebenarnya sih kalau soal hobby, pasti orang itu berbeda-beda yah dan gak bisa dipaksa. Tapi yang bikin saya jengkel tuh, kesukaan atau hobby baca di Indonesia masih dipandang sebelah mata sama masyarakat. Dianggap hobby gak penting, hobby kayak anak kecil, hobby gak guna. Eh sorry jadi curhat.)
Menurut Mbak Luckty, permasalahan dunia perbukuan di Indonesia itu apa sih? 
Hmmm... permasalahan dunia perbukuan di Indonesia ya?!? Paling utama ya dari segi harga. Semakin buku itu bagus, semakin mahal harga bukunya. Terkadang, banyak orang ingin membaca sebuah buku, tapi suka ‘keder’ pas mau beli karena liat harganya x) 
(BENAR BANGET. Lihat saja tuh pas ada sale dan diskon di mana-mana. Orang nggak lihat sinopsis, rating, isi buku, dll. YANG DILIHAT - “mumpung murah, gue harus beli, karena besok-besok belum tentu dapat yang murah”. Bagus-nggak, belakangan. Baca atau tidak, belakangan. Sudah punya (double) atau ngga ada, belakangan. Eh ini nggak nyindir siapa-siapa yah. INTINYA MURAH )
Ada saran bagaimana cara mengatasi masalah dalam dunia perbukuan di Indonesia? 
Seperti kita ketahui, harga mati sebuah buku untuk sekali cetak adalah 3000 eksemplar. Nah, pihak penerbit jelas mempertimbangkan masak-masak untuk menerbitkan sebuah buku, apalagi buat penulis pemula. Belum menjadi jaminan sebuah buku itu bakal laku atau nggak. Sekarang ada banyak cara untuk menelurkan sebuah buku. Pengalamanku saat menerbitkan tulisan-tulisan murid tentang kenangan mereka selama di SMA lewat jalur indie publishing via nulisbuku.com. Gratis, tanpa ditarik biaya apapun. Prosesnya pun nggak rumit. Eits, ini bukan kalimat berbayar loh! 
(Kalau soal ini, saya serahkan pada yang berniat menjadi penulis dan menerbitkan bukunya lewat jalur indie serta lebih ke tujuan membuat bukunya dibaca banyak orang, alih-alih materi semata) 
Menurut mbak Luckty, mana yang saat ini lebih dibutuhkan dalam dunia perbukuan di Indonesia? penulis, penerbit atau toko buku (distributor)? 
Penulis, penerbit dan toko buku memiliki ikatan benang merah. Saling membutuhkan. Dengan adanya penerbit, penulis tidak hanya dibantu sekedar menerbitkan sebuah buku, tapi dari segi yang lain; ada tim editor, tim marketing, dan lain-lain. 
Aku pernah membaca beberapa buku yang isinya bagus tapi sayang kurang terdengar ‘gong’nya. Mungkin dari sisi promosinya kurang.
Begitu juga dengan keberadaan toko buku. Percaya nggak, didaerahku nggak sama sekali yang namanya toko buku. Ada sih, tapi isinya didominasi buku-buku pelajaran plus alat tulis. Kalo mau beli-beli novel ya harus ke toko buku besar, Gramedia. Itupun adanya cuma ada di ibukota. Sekitar dua jam-an dari rumah. Musti naik bus dua kali dan satu kali angkot. Kebayang kan ribetnya kalo beli buku banyak mesti naik turun angkot/bus berkali-kali?!? x)
 
Makanya pengen banget suatu saat bisa punya kafe buku. Itu salah satu impian terbesarku. Tetap semangat membaca. Membacalah yang kita suka. Memilih bacaan itu ibarat memilih makanan. Mau pilih makanan sehat atau fast food?!? ('⌣'┐) (┌'⌣')┌ ('⌣'┐) (┌'⌣')┌  
(Saya juga, sekarang alih-alih mencoba menulis, lebih tertarik punya toko buku sendiri. Toko buku yang sifatnya intim dengan pelanggan, penulis dan penerbit, misal mengadakan event-event yang melibatkan pembaca dan penerbit/penulis. Juga toko buku yang membantu penulis-penulis lokal dengan mendistribusikan buku-buku mereka #doakan) 
Terakhir, ada pesan-pesan untuk pembaca blog? 
Makasih ya udah dikasih kesempatan buat diwawancarai di blog ini. Maaf kalo ada salah-salah kata. Buat Lina Riyanty (manggilnya apa ya?!? :p) , tetap semangat menimbun ehhh membaca :p 
(Panggil saya Lina saja. Saya yang berterimakasih, karena Mbak Luckty sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya dan sukses untuk Mbak Luckty, semoga keinginan mulianya untuk punya kafe buku tercapai. )
Nama: Luckty Giyan Sukarno
Blog  : http://luckty.wordpress.com/
Twitter: @lucktygs

Demikian untuk post Inter-Blogger pertama saya. BTW kalau punya suatu pemikiran dan mau share juga bersedia dikepo-in saya, kalian boleh tampil juga di Inter-Blogger ini. Hubungi saya via email di: lina.riyanty@gmail.com.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...