Tampilkan postingan dengan label Indo Fantasy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indo Fantasy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

RECOLLECTION: FANTASI LOKAL DENGAN DENGAN RASA ANIME DAN GAME

Judul Buku: Recollection (Ther Melian Series)
Pengarang: Shienny M. S. 
Penerbit: Elex Media
Editor: Desy Natalia
Jumlah halaman: 460 halaman
Cetakan 1, Juni 2013
ISBN: 978-602-02-1388-0
Segmen: Remaja
Genre: High Fantasy
Rate: ★★★½


Menjelang festival perayaan musim kemarau, serangkaian pembunuhan sadis terjadi di desa Dominia, membuat para warga desa menjadi resah dan jam malam pun diberlakukan. Elya, gadis Vier-Elv yang juga penduduk Dominia menemukan seorang pemuda misterius dalam keadaan sekarat di malam terjadinya salah satu peristiwa pembunuhan sadis tersebut. 

Namun alih-alih mencurigai keterlibatan pemuda misterius tersebut, Elya memutuskan untuk membawa pemuda tersebut ke rumahnya serta merawat luka-lukanya dengan harapan saat si pemuda siuman, ia bisa memberitahukan bagaimana peristiwa pembunuhan sadis tersebut terjadi. Sayang harapan Elya pupus, karena saat tersadar si pemuda tidak ingat siapa dirinya dan tidak bisa memberi petunjuk apa pun mengenai peristiwa pembunuhan sadis tersebut. Karena si pemuda lupa akan namanya, Elya memutuskan untuk memberi nama si pemuda misterius tersebut, Lucca, yang berarti "Si Anak Hilang."

Sementara rentetan pembunuhan sadis masih terus terjadi di sekitar Dominia, Lucca mendapati beberapa kilasan ingatannya kembali dan menyadari bahwa ia ada hubungannya dengan salah satu peristiwa pembunuhan di Dominia. 

Siapakah sebenarnya Lucca? Apakah ia ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa pembunuhan sadis yang terjadi di Dominia? Siapakah pelaku dari serangkaian pembunuhan sadis tersebut? Apa motif dibalik peristiwa pembunuhan tersebut di sekitar Dominia?

Sabtu, 04 Oktober 2014

ORANG-ORANG TANAH: SEGELAP MALAM DAN SEHITAM TANAH

Judul: Orang-Orang Tanah
Pengarang: Poppy D. Chusfani
Penerjemah: Gramedia Pustaka Utama
Editor: C. Donna Widjajanto
Sampul & ilustrasi dalam: Anne M. Oscar
Jumlah halaman: 200 halaman
Cetakan 1, Agustus, 2013
Segmen: Dewasa
Genre: Kumpulan cerpen, dark fantasy, mystery,
thriller, horror
Harga: Rp 42.000
Rate: ★★★★


Masih dalam rangkaian October Hallowen reading alias membaca buku bertema horror/mystery/thriller/dark selama bulan Oktober, kali ini pilihan saya adalah Orang-Orang Tanah dari penerjemah favorit saya, Mbak Poppy D. Chusfani.
 
Orang-Orang Tanah adalah sebuah novel yang berisi kumpulan cerpen dari penulis sekaligus penerjemah Poppy D. Chusfani. Tepatnya 9 cerita pendek yang mempunyai satu benang merah yang sama, yaitu perjuangan dan balas dendam. 

Jangan terkecoh oleh ilustrasi sampul Orang-Orang Tanah yang mirip ilustrasi pada buku anak-anak. Buku ini sama sekali tidak ditujukan untuk anak-anak. Beberapa adegannya (Bulan Merah) bahkan terkesan vulgar dan balik ke isi ceritanya yang rata-rata mempunyai tema balas dendam. Kalau yang pernah baca Malaikat Jatuh-nya Clara Ng, suasana atau aura buku ini banyak mengingatkan saya akan novel tersebut, yaitu perasaan suram dan seram saat membacanya.

Mari  bahas satu-persatu:

Minggu, 08 Juni 2014

MALAIKAT JATUH DAN CERITA-CERITA LAINNYA: KISAH PEREMPUAN DALAM BERBAGAI ABSURDISME HIDUP

Judul: Malaikat Jatuh
Pengarang: Clara Ng
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Jumlah halaman: 176 halaman
Cetakan kedua, Februari 2009
Segmen: Dewasa
Genre: Fantasi, kumpulan cerpen
Note: Thanks untuk Dewi atas pinjaman bukunya :)
Rate: ★★★★

Malaikat jatuh adalah sebuah buku yang berisi 10 cerpen di mana dalam setiap ceritanya ada satu sosok sosok ibu dan perempuan dalam beragam profesi pekerjaan. Entah pekerjaan tersebut hanyalah ibu rumah tangga biasa, pemilik bengkel, pelacur hingga siluman. Awal saya tahu buku Malaikat Jatuh ini dari review-review para peserta Short Stories Reading Challenge, entah mengapa saat tahu kalau ini tipikal cerita dark fantasy saya malah makin penasaran untuk membacanya. 

Bila ada 1 hal yang saya sukai sekaligus tidak saya sukai secara bersamaan dari genre fantasi, hal tersebut adalah keabsurdan dalam ceritanya, terlepas keabsurdan itu hanya sekedar metafora ataupun tidak. Karena itulah tidak semua orang bisa menyukai genre fantasi, karena tidak semua orang dapat memahami keabsurdan cerita dalam genre fantasi. Mereka yang tidak menerima akan menganggapnya aneh dan sering DNF (did not finish), sedangkan mereka yang menerima keabsurdannya mungkin akan mendapat kesan setelah menyelesaikan cerpennya.

Selasa, 13 Mei 2014

TRIANGULAR LABYRINTH: MENARIK TAPI EKSEKUSINYA TERBURU-BURU

Judul Buku: Triangular Labyrinth
Pengarang: Lommie Ephing
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Veronica Vonny
Desain Cover: Eduard Iwan Mangopang
Jumlah Halaman: 256 Halaman
Cetakan, Maret 2014
Segmen: Remaja, Dewasa-muda
Genre: Fantasi
Harga: Rp 35.000 (30% off dari Rp 50.000, ultah Gramedia)
Rate: ★★★

Luna selalu membuat kehidupan Mauren tidak bahagia. Sejak kelahiran adiknya itu, perhatian kedua orang tuanya seolah tercurah hanya untuk Luna. Apapun yang diinginkan Luna selalu dituruti. Luna adalah nomor 1, sedangkan Mauren seperti anak tiri. Semuanya terasa sangat tidak adil bagi Mauren. 

Puncaknya adalah saat kedua orang tuanya membatalkan liburan mereka sekeluarga ke Bali, dan itu semua akibat ulah Luna. Tidak terima, Mauren memaki-maki Luna dan mendapat tamparan keras dari Papa untuk pertama kali dalam hidupnya. Mauren sakit hati dan ia berharap agar adiknya, Luna lenyap saja dari kehidupannya. 

Dan keinginan itu terkabul. Sebuah papan permainan yang bernama Triangular Labyrinth, yang ditemukan Mauren di suatu toko mainan yang terbakar telah membawa adiknya itu masuk ke suatu dunia antah berantah yang sangat berbahaya. Tapi alih-alih senang karena Luna menghilang, Mauren justru merasa sangat bersalah, dan ia menyadari bahwa ia sebenarnya menyayangi sang adik, apalagi setelah ia tahu rahasia sang adik. 

Merasa bertanggung jawab, Mauren pun menyusul sang adik masuk ke dunia antah berantah tersebut untuk mencari, menemukan dan membawa pulang kembali sang adik. 

Namun ternyata mencari Luna dalam dunia aneh tersebut tidak mudah, selain harus siap menghadapi banyak mahluk-mahluk berbahaya yang siap memangsanya, Mauren tidak punya petunjuk mengenai keberadaan sang adik. Yang ia tahu setelah beberapa saat menemukan Luna, seekor burung gagak raksasa pemakan daging langsung menculik sang adik dan membawanya pergi. 

Beruntung, Mauren bertemu Zermus, mahluk yang tidak bisa terlihat oleh mata ini bersedia untuk membantu Mauren menemukan sang adik. 

Maka dimulailah petualangan Mauren di Triangular Labyrinth untuk menemukan Luna. 

Minggu, 03 November 2013

BOOK REVIEW: FLEUR


★★★½
Judul Buku : Fleur
Pengarang: Fenny Wong
Penerbit: Diva Press
Editor: Misni Parjiati
Jumlah Halaman: 322 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa-muda
Genre: Fantasi, Romance, Historical Romance
Note: Pinjaman dari Mbak Dewi ^^

15.54

Madam Shortcake sekali lagi menoleh ke arah teras belakang rumahnya. Memastikan segala sesuatunya tertata anggun dan terlihat indah seperti yang ia inginkan. Kursi-kursi empuk dengan bantalan mini yang bercorak bunga tampak tertata nyaman di masing-masing kursi. Lalu ia melihat meja bundar di tengah-tengah lingkaran kursi tersebut. 

Segalanya  tampak sempurna dan indah di atas meja makan tersebut. Mulai dari meja berselimutkan taplak putih yang bagian tepinya berhias renda. Dua poci teh, yang masing-masing terdiri atas 1 poci teh Darjeeling dan 1 poci teh Chamomile. Lalu cangkir-cangkir kecil bermotif bunga yang tertata rapih di  meja sesuai dengan jumlah kursi. Dan tentu saja hidangan lezat yang terhampar penuh di meja, mulai dari kue tart, puding karamel, kue soes, setoples kue kering choco chip, sekaleng biskuit cracker berikut dengan selai kacang dan selai lemon dalam masing-masing mangkuk berukuran sedang, dan juga setoples permen pedas. Sementara di bagian tengah meja, sebuah vas dengan bunga-bunga mawar aneka warna tampak menghias cantik.  

Setelah merasakan ruangan untuk minum tehnya siap, Madam Shortcake untuk kesekian kali mematut dirinya dalam cermin. Memastikan bahwa penampilannya pun pantas dan juga cantik.  

16.00
Ting-Tong

Bel berbunyi. Segera Madam Shortcake melangkah cepat  menuju pintu dan membukanya. Datanglah lima tamu yang telah ditunggunya. Mereka adalah:

Miss Momon
Miss Pinkimos

Miss Grinlif
Lady Wan
Miss Bleka

"Selamat sore, Madam," salam Momon, ia menekuk kedua kakinya sedikit dan memberi hormat pada tuan rumah. Diikuti oleh keempat tamunya yang lain. Selesai memberi salam pada pada Madam Shortcake, Miss Pinkimos, Miss Grinlif, Lady Wan dan Miss Bleka langsung menuju teras dan mengambil tempat di setiap kursi yang telah disediakan. 

Tapi Madam Shortcake menggamit lengan Momon, ia menahan Momon sebentar sebelum menuju teras untuk jamuan teh sore, "Jadi, Lady Storytelling sungguh tidak bisa datang?"

Momon melihat seberkas ekspresi kecewa di wajah Madam Shortcake, "Tidak, maafkan aku, Madam. Aku sudah berusaha membujuknya, tapi Milady bilang ia sibuk di bulan November ini. Bukan petualangan, tapi menghibur mereka yang sakit," jeda sebentar lalu Momon melanjutkan, "selain itu, Milady tidak suka dengan pembahasan tema cinta segitiga. Karena menurut Milady, cinta segitiga tidak adil dan pasti ada satu pihak yang akan terluka." 

"Aku mengerti. Hanya saja debat buku sore ini pasti akan terasa seru apabila Lady Storytelling ikut." Madam Shortcake lalu melepaskan genggaman tangannya dari lengan Momon dan menunjuk arah teras, "Silakan, Miss Momon."

Suasana teras sudah ramai oleh percakapan dan gelak tawa saat Madam Shortcake memulai jamuan minum tehnya. Bukan sekedar jamuan minum teh biasa, karena sore ini mereka akan membahas buku percintaan berjudul Fleur. Madam  Shortcake bertindak selaku host dan moderator. 

Madam Shortcake mengambil nafas sejenak, lalu ia bekata, "Baiklah, Nona-nona sekalian dan Lady Wan, karena kita sudah berkumpul semua, jadi silakan nikmati jamuannya dan bahas bukunya." Madam Shortcake mengambil 1 poci yang berisi teh chamomile dan menuangkannya ke cangkir Lady Wan. "Selain itu, tidak perlu menggunakan bahasa resmi dan kaku, jadikan pembahasan ini santai."

"Oke, lagian mengapa sok resmi? Kita tidak berada dalam istana raja" sahut Lady Wan acuh tak acuh.

"Dan gue masih bingung, kenapa elo bisa ikutan dalam acara bahas buku ini, Lady Wan," celetuk Miss Pinkimos. 

"Maksud elo apa?" tanya Lady Wan, heran.

Miss Pinkimos mengambil sekeping kue choco-chip, "Elo kan selalu ngaku kalau elo orangnya logis dan lebih suka cerita yang masuk akal. Gue heran, kok elo bisa ikut masuk klub pecinta novel romens sih?" Miss Pinkimos lalu mencelupkan kue choco-chipnya ke segelas susu. "Maksud gue, yang namanya cinta itu tidak ada logika."

"Yee, justru karena gue logis dan yang paling rasional, makanya gue harus ikut pembahasan ini," jawab Lady Wan sambil kipas-kipas. "Menurut gue tuh, cinta yang sehat adalah cinta yang masih bisa menggunakan logika dan akal sehat."

Miss Grinlif ikut menimpali, "Gue baru tau kalau elo ternyata hopeless romantic juga.  Biasanya kan elo selalu bilang cinta itu lebay dan keju."

"Iya, emang benar, cinta itu lebay dan keju. Makanya gue ada di sini, mencegah elo orang jadi ikut-ikutan lebay dan keju. Gue adalah pengingat," ujar Lady Wan dengan pedenya yang diikuti sahutan, 'wooo' dari para hadirin lain. 

"Cukup, cukup," Madam Shortcake menengahi. "Sekarang bahas bukunya, jadi Fleur ini bercerita mengenai kisah cinta antara peri bunga bernama Belidis, Dewa Bumi bernama Fermio dan Dewa Matahari bernama Helras. Tidak seperti peri bunga lain yang bisa menumbuhkan bunga dengan mudah. Belidis adalah seorang peri bunga lemah, hanya untuk membuat sekuntum bunga mekar saja, ia kesulitan. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan Dewa Bumi bernama Fermio. Pertemuan mereka tidak biasa, namun pertemuan itu sungguh meninggalkan kesan bagi Fermio dan Belidis. Mereka berdua saling jatuh cinta. 

Dewa bumi memberikan kekuatannya pada Belidis untuk membantunya menumbuhkan pohon-pohon dan bunga-bunga. Sayang, kisah cinta mereka terusik oleh Helras, Sang Dewa Matahari. Helras juga jatuh cinta pada Belidis dan berusaha memisahkan kebersamaan Fermio dan Belidis. Namun baik Fermio maupun Belidis saling bersumpah, meskipun mereka berpisah, mereka akan tetap saling mencintai satu sama lain. Apakah itu di kehidupan masa kini ataupun kehidupan yang akan datang. 

Helras yang cemburu dan marah juga ikut membuat sumpah, ia bersumpah walaupun Fermio dan Belidis saling mencintai sampai kapanpun, mereka tidak akan bisa bersatu. Sebab Helras akan merebut Belidis dari Fermio. 

Akhirnya abad demi abad berlalu. Belidis, Fermio dan Helras telah bereinkarnasi menjadi manusia. Belidis menjadi seorang nona bangsawan berparas jelita bernama Florence, Fermio menjadi George, kakak angkat Florence, dan Helras menjadi Alford Cromwell, seorang bangsawan terpandang yang sangat disegani dan juga tunangan Florence."

Madam Shortcake kembali mengambil nafas sejenak setelah membacakan kalimat-kalimat panjang tersebut, lalu ia kembali berbicara, "Mulai dari Miss Momon dahulu," ia mempersilakan tangannya ke arah Momon. "Miss Momon, apa pendapatmu tentang cover buku ini?"

Momon tampak bersemangat, "Covernya cantik. Gambar buku tua dengan background coklat, menyiratkan kesan klasik. Lalu gambar kupu-kupu dan ranting pohon menyiratkan kesan fantasinya." Ia lalu terdiam sesaat, "Tapi kurang suka sama gambar wajah orang di cover belakangnya. Kesannya jadi seperti romens picisan."

Madam Shortcake mengangguk, lalu ia mengalihkan pandangannya kepada tikus dengan telinga pink, "Lalu bagaimana cara penuturan cerita di buku ini menurutmu, Miss Pinkimos?"

Miss Pinkimos menyesap tehnya sebelum menjawab, "Suka banget. Kata-katanya tersusun luwes. Kalimat-kalimat dalam narasinya mengalir lancar. Pokoknya diksinya enak dibaca dan enak didengar," kemudian ia meletakkan cangkir tehnya di meja, "Begitu pula percakapan dan interaksi antar karakter, seperti emosi, ekspresi. Semua digambarkan dengan jelas"

"Bagaimana dengan karakter-karakternya, Miss Grinlif?" tanya Madam Shortcake kepada Grinlif yang sedari tadi tampak asyik memainkan cream pada kue tartnya. 

Grinlif menoleh ke arah Madam Shotcake, "Aku suka dengan karakter-karakternya, Madam. Kurasa yang jadi kekuatan novelnya lebih karena karakter."

"Dan karakter favoritku adalah Alford Cromwell. Dia romantis banget tapi...," ujar Bleka tiba-tiba, membuat perhatian semua orang teralih padanya, lalu raut wajahnya tampak sedih. "Tapi kasihan Alford, seharusnya ada keadilan juga buat dia." 
Momon, Pinkimos dan Madam Shortcake diam-diam mengangguk. Hanya Grinlif yang tampak tidak setuju. Sedangkan Lady Wan sibuk mengoleskan selai lemon ke biskuit crackernya. 

"Maaf menyela," tukas Lady Wan tiba-tiba, "tapi sekeren-kerennya karakter Alford Cromwell, harap diingat apa yang dia lakukan pada Florence di halaman 233." Ia lalu mengambil kepingan biskuit cracker lain dan menaruhnya di atas olesan selai lemon yang lalu membentuk biskuit sandwich cracker. Kemudian ia mencondongkan kepalanya dan berbisik, "Alford memukul Florence hingga lebam. Dan menurutku, sekalipun tunangannya salah, seorang pria tetap tidak boleh melakukan tindakan seperti itu terhadap seorang wanita."

"Benar," timpal Grinlif bersemangat. "Seorang gentleman tidak akan melakukan hal tersebut, semarah apapun dia. Seharusnya dia bisa menjaga emosinya. George adalah satu-satunya yang pantas untuk Florence."

"Tapi Grinlif, aku juga tidak suka kisah percintaan Florence-George," potong Lady Wan cepat. "Maksudku, mereka kakak-adik. Sekalipun tidak memiliki hubungan darah, tapi euhh bayangkan kakak-adik dan sudah dari kecil bersama-sama. Itu namanya pseudo-incest. Aku tak setuju."
"Kali ini aku setuju dengan Lady Wan," jawab Pinkimos. "Mereka kakak-adik. Mengapa harus kakak-adik? Mengapa tidak buat hubungan cinta beda status sosial saja. Lebih enak dan sesuai dengan yang sering terjadi di era Victorian."

"Benar," tambah Bleka. "Incest atau pseudo-incest, rasanya seperti membayangkan Miss Momon jatuh cinta dengan saudara kembarnya sendiri, Tuan Monky.

Seketika itu juga teh yang baru masuk ke mulut Momon langsung tersembur keluar. Setelah terbatuk-batuk dan menenangkan diri. Momon langsung menatap jengkel ke arah Bleka, "Gila aja, masa menyandingkan gue sama monyet kurang ajar itu. Seandainya tuh monyet nggak ada hubungan darah sama gue pun, ogah gue disandingin sama dia."
"Elo kenapa sih? Bete banget sama dia?" Grinlif tampak penasaran. 
Panjang penjelasannya kalau sudah menyangkut hubungan Monky dan Momon. Tapi yang jelas Momon masih jengkel dengan ulah Monky yang menyembunyikan novel-novel romancenya. Kalau saja bukan karena bantuan Lady Storytelling yang mengancam akan membuang buah pisang dari menu makanan mereka, Monky tidak akan mengembalikan novel-novel romance Momon. 

"Udah ah, jangan ngomongin Monky. Merusak suasana aja," Momon ogah menjawab, wajahnya masih cemberut. 
Madam Shortcake langsung mengambil alih suasana, "Ayo semua, kembali ke topik. Jadi menurut kalian bagaimana ceritanya?"

"Kalau menurutku, akan lebih seru kalau endingnya dibuat sebaliknya. Jadinya akan mirip cerita dengan...," Pinkimos tampak berpikir. "Apa tuh drama Korea yang waktu itu cowoknya naksir sama ceweknya gara-gara ceweknya berani ninju cowoknya. Padahal tuh cowok kan ditakuti sama semua anak di sekolah karena kaya dan berkuasa."

"Boys Before Flower!" Momon dan Bleka menjawab serempak. 

"Gue suka tuh film. Romantis," ujar Momon

"Cowonya ganteng dan seksi," lanjut Bleka. 

"Tapi pemaksa, tukang perintah, suka seenaknya. Gue lebih suka temannya yang lembut," protes Grinlif.

Madam Shortcake mengetuk-ngetuk sendok ke meja, "Cukup, kalian OOT. Balik ke topik."

"Aldis lebih bagus," gumam Lady Wan. 

Madam Shortcake dan yang lain langsung menoleh ke arah Lady Wan, "Apa yang kau maksud Lady Wan?" 

Lady Wan membuka kipasnya dan mulai mengipas, "Namanya, maksudku. Daripada Belidis, Aldis lebih enak didengar. Belidis mengingatkanku akan unggas dan merek saus sambal. Lagi pula, apa sih keistimewaan si Florence ini sampai diperebutkan 2 pria bangsawan tampan? Aku masih lebih suka karakernya saat menjadi Belidis. Florence terlalu plin plan dan kurang tegas menurutku."

"Lady Wan," ujar Pinkimos, wajahnya tampak usil, "elo ngaku aja deh. Benarnya elo ngiri kan sama si Florence ini. Karena dia bisa diperebutkan 2 cowok ganteng, sedangkan elo sudah 3 musim, gagal melulu dapat calon suami potensial."
Wajah Lady Wan tampak merah padam, namun dengan seketika ia sudah berhasil mengendalikannya, ia membuka kipasnya dan menyembunyikan sebagian wajahnya di kipas lalu memasang ekspresi angkuh, "Dengar yah, gue bukannya gagal mendapat calon suami. Yang benar adalah, banyak yang mendekati gue tapi gue tolak. Karena mereka semuanya di bawah level gue dan tidak sesuai dengan kriteria yang gue idamkan."

"Memang kriteria calon suami idaman elo, yang seperti apa, Lady Wan?" tanya Bleka. 

Lady Wan menurunkan kipasnya, matanya tampak menerawang, "Kriteria suami yang gue idamkan tuh yang punya tampang ganteng seperti Henry Cavill, senyuman menawan seperti Michael Fassbender, lalu suara menggoda dengan aksen seksi seperti Benedict Cumberbatch dan sifat gentleman seperti Tom Hiddlestone," wajahnya tampak merona. "Ahhh, gue jadi klepek-klepek sendiri."
Momon, Grinlif dan Pinkimos tampak bisik-bisik.

"Huh, katanya rasional," gumam sebuah suara.

"Dan katanya berpikir logis," ujar sebuah suara lain.

"Kenyataannya nggak waras dan delusional," timpal suara lain lagi.

Lady Wan kesal dan langsung merauk beberapa permen pedas dan melemparnya ke arah Momon, Pinkimos dan Grinlif yang sedang berbisik-bisik.

Dentingan suara sendok diketuk kembali terdengar, "Balik ke topik," hardik Madam Shortcake. Lalu ia memulai percakapan, "Aku setuju dengan pendapat Lady Storytelling mengenai cinta segitiga," ia menoleh dan mengangguk pelan ke arah Momon, "cinta segitiga itu tidak adil dan pasti ada salah satu pihak yang akan terluka."

"Padahal, padahal, si Alford sudah berbicara seperti ini pada Florence," sambung Bleka
"Florence, apa kau mencintaiku atau tidak, aku tidak ambil pusing. Aku menginginkanmu, dan itulah yang terpenting bagiku."
"Jika ada satu hal, hanya satu hal saja di dunia ini, yang bisa membuatku terpisah darimu, apa pun itu, aku akan menggunakan segala cara yang kupunya untuk membuatnya musnah." ~hal. 127
"Aku tidak khawatir akan pernikahan, Aku khawatir akan rasa dingin di antara kita." ~hal. 181
Pinkimos ikut menambahkan, "Aku setuju.Seperti yang Alford sendiri bilang di hal. 270, mengapa semua menganggapnya sebagai orang yang jahat? Ia hanya memperjuangkan apa yang semua orang perjuangkan. Ia memperjuangkan cintanya."

"Ia seperti Loki di film Thor: The Dark World, karakter yang rumit, tapi banyak groupie dan fangirlnya," desah Grinlif. 

"Aku juga suka dengan Loki," Momon tampak bersemangat kembali. "Mereka harus membuat film tersendiri tentang Loki."

"Jangan mulai OOT, ini peringatan terakhir" Madam Shortcake tampak jengkel. 

"Jadi akhirnya Alford ini belajar arti cinta sejati, seperti Dear John?" tanya Lady Wan

"Dan jangan berspekulasi yang menimbulkan spoiler dan OOT lagi," pertanyaan Lady Wan langsung ditutup oleh Madam Shortcake. "Hari sudah nyaris gelap, langsung saja kita tutup, berapa bintang?"

"Tiga bintang,karena ceritanya terlalu banyak didramatisir" jawab Lady Wan.

"Empat bintang, suka cerita dan endingnya," jawab Grinlif.

"Empat bintang, suka dengan Alford yang keren," jawab Momon.

"Gue setuju dengan Momon," jawab Pinkimos

"Dua bintang. Karena nggak adil buat Alford, jawab Bleka.

Lady Wan, menatap Bleka, "Dua bintang tidak adil. Penuturan dan plotnya sudah oke. Kalau soal cerita, gue juga ngga setuju sih, tapi nggak sampai 2 bintang lha."

"Lagian kalau alasan elo kasih 2 bintang karena alasan OTP elo nggak canon, bikin aja fanficnya sendiri," sambung Grinlif sambil menuang tehnya ke cangkir. "Banyak kok fanfic yang sukses, contohnya Lima Puluh Semburat Kelabu. Elo bisa buat si Alford jadi Christian Grey. Cocok kan sama-sama cowok alpha male posesif."

"Ih, enak aja, elo samain Alford sama si Grey yang itu," tukas Bleka jengkel.

"CUKUP! Aku bilang jangan ada OOT lagi!" Madam Shortcake menggebrak meja. Ia jengkel dengan semua obrolan OOT dari para tamunya. Sementara para tamu lain tampak kaget. Mereka belum pernah melihat Madam Shortcake marah.

Madam Shortcake lalu mengambil nafas dan menghembuskannya. Ia memejamkan mata dan kembali memasang ekspresi tenang, "Baiklah kukira yang adil adalah tiga setengah bintang. Bagaimana, kalian setuju?"

Para tamunya kali ini tidak ada yang berbicara. Mereka kanya mengangguk-angguk tanda setuju. 

Usai sudah, jamuan minum teh sore. 


Disclaimer : http://emoticoner.com/

Sabtu, 19 Oktober 2013

BOOK REVIEW : AKU TAHU KAMU HANTU


✭✭✭½
Judul Buku : Aku tahu Kamu Hantu
Pengarang : Eve Shi
Penerbit : Gagas Media
Editor : Alit Tisna Palupi
Jumlah Halaman : 208 Halaman
Segmen : Remaja
Genre : Horror, Paranormal, Thriller
Special Note : Kado untuk Blogger dari Gagas Media #unforgotTen

Cerita bermula saat :

Ulang tahun ke-17 Liv. Sweet Seventeen seharusnya jadi peristiwa membahagiakan dalam hidup Liv. Tapi alih-alih bahagia, hari ultahnya malah terasa buruk. Bagaimana tidak? pertama-tama ayahnya sendiri lupa mengucapkan selamat ulang tahun padanya, lalu kelasnya kena semprot seorang guru akibat ulah jahil seorang murid dan keadaan tambah parah dengan penampakan sosok ganjil di toilet sekolah. 

Mulanya Liv tidak pernah menyangka kalau dia akan memiliki kekuatan untuk melihat mahluk halus. Liv sempat mengira semua yang dilihatnya hanyalah halusinasi sesaat karena Liv sedang dilanda stress. Sahabat baiknya sendiri, tidak percaya pada pengakuannya tentang melihat roh dan mahluk halus. Namun akhirnya Liv tahu kalau apa yang ia lihat bukanlah khayalan semata. Sebab mama Liv memberitahu bahwa dalam keluarganya, setiap anak sulung perempuan yang telah berusia 17 tahun akan mewarisi kemampuan untuk melihat mahluk halus atau arwah. 

Bagi Liv, kemampuan istimewa ini sama sekali tidak menyenangkan. Bagaimana bisa menyenangkan bila banyak sosok berwujud ganjil dan seram tiba-tiba menampakkan diri setiap saat di mata Liv. Namun sebenarnya apakah kemunculan mahluk-mahluk tersebut hanya sekedar untuk menakut-nakuti Liv? ataukan ada maksud lain, seperti meminta bantuan Liv untuk menolong mereka?

My thought :

Rasanya sudah nyaris setahun saya nggak menyentuh genre horror atau thriller. Terakhir genre horror yang saya baca mungkin seri demonatanya Darren Shan. Kisah tentang hantu sendiri sebenarnya sudah sering saya baca, tapi berhubung bukunya lebih banyak yang ke genre pararom macam seri mediatornya Meg Cabot, maka alih-alih seram, justru jatuhnya malah romantis. 

Karena itulah saya kangen sama genre fantasi yang lebih ke thriller atau horror, macam Goosebumps. Saya kangen untuk merasakan feel tegangnya. Pas tahu kalau dari 10 buku yang Gagas berikan saat ultah ada buku bertema hantu, maka tanpa ragu langsung saya masukkan ke daftar reading-list saya untuk short term. 

Saya suka sama cerita ATKH ini, misteri dan suspense-nya cukup terasa. Faktor misterinya itu yang bikin saya betah untuk baca buku ini terus menerus tanpa henti (kecuali jeda makan, minum dan mandi) dan kebetulan saya baca pas weekend. Ilustrasi "hantu" yang ada di tiap beberapa bab sukses bikin saya mengambil kertas untuk menutupinya karena ketakutan sendiri. Saya akui, saya emang penakut akan gambar-gambar seram. 

Saya juga suka dengan covernya yang bergambar mawar merah. Mulanya saya bingung, kok buku horror, covernya bunga mawar. Tapi perhatikan deh bunga mawarnya, tepatnya di bagian tengahnya, bentuknya mirip tengkorak. Sedangkan warna merah yang menghias kelopaknya seperti bercak darah. 

Hanya saja ada untuk ukuran novel horror, saya merasa kurang plot twist di sini. Penulis cukup sukses mengeksekusi ketegangan, hanya saja menjelang 3/4 cerita, saya justru merasa ketegangan menurun. Karena sejak awal, pembaca sudah digiring untuk menebak tokoh antagonisnya dan saya sebenarnya berharap tebakan saya salah atau meleset, tapi ternyata memang begitulah adanya. Untuk motifnya sendiri juga standar (bully), bukan suatu hal yang baru. Spoiler, highlight to view: coba pembunuh sebenarnya Dani, yang mempunyai motif sebagai syarat masuk genk Stefan dkk. 

Adegan rumah kosong yang awalnya seram, mendadak jadi tidak seram akibat pestanya pecah. Dan saya lebih berharap antagonis yang cool-psikopat alih-alih yang malah berubah jadi brutal - gila dan suka teriak-teriak. Trus hantu-hantunya sendiri, saya ngerti misi utama Liv adalah Frans, cuma saya berharap hantu-hantu lain juga dibahas, penasaran dengan hantu penunggu bilik di toilet anak perempuan di sekolah. 

Buku ini sebagai buku baca bareng BBI untuk tema buku debut. 

Kamis, 05 September 2013

KRISTALISASI (SEPULUH KISAH VANDARIA SAGA)

✮✮✮½
Judul Buku : Kristalisasi (Sepulah Kisah Vandaria Saga)
Pengarang : Various
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 282 Halaman
Tahun Terbit : 2012
Segmen : Remaja
Harga : Rp 55.000

Pendahuluan (ribet ama yah gue pake ada prolog segala, padahal cuma ripiu):

Sepertinya tidak lengkap bila saya tidak membaca minimal 1 cerita Vandaria Saga, sebagai bagian dari tema membaca kumcer fikfan lokal bulan Agustus kemarin (oke, saya tahu agak terlambat karena sekarang sudah September, tapi yang penting sudah terbaca). Mengingat novel-novel Vandaria Saga termasuk yang sukses diterbitkan oleh major publishing di Indonesia dan dunia Vandaria Saga sendiri sangat luas dan termasuk yang paling berkembang di tanah air karena menawarkan konsep open world, yang bermula dari permainan trading card. Hmmm atau coba cek saja di internet apa itu Vandaria Saga, karena bakal terlalu panjang kalau saya jelaskan di sini (males.com). Gampangnya Vandaria Saga itu adalah suatu franchise tentang universe dalam suatu dunia high-fantasy, yang melingkupi trading card, video games, novel, komik, bahkan ada film animasinya juga. Silakan gugel kalau mau tahu persisnya :D

Saya sendiri meski sering dengar tentang Vandaria Saga, tapi saya belum benar-benar tertarik untuk menyentuhnya (novelnya maksud saya). Sejujurnya walau dulu, saya suka main games, bahkan pernah punya account dan karakter di MMORPG Ragnarok Online (Hunter lv 60 dan Priest full support lv 70) tapi sudah lama saya meninggalkan dunia games, selain karena kesibukan pekerjaan dan faktor u, mungkin karena hobby saya juga sudah berubah. Karena itu sewaktu terbit buku kumpulan cerpennya dan yang terpenting harganya ngga mahal-mahal amir, saya putuskan untuk beli 1 karena penasaran, seperti apa sih Vadaria Saga itu. 

And this are what I thought :

Cover : Pada dasarnya saya selalu suka sama cover bergaya ilustrasi ala video games. Covernya sendiri ingetin saya sama ilustrasi ala games macam Ragnarok Online, Lineage, DotA. Saya selalu suka ilustrasi cover yang digambar memakai sketsa tangan alih-alih terlalu banyak permainan photoshop.  Kalau melihat cover dan isi cerpennya, sepertinya cover ini untuk cerpen nomor 1. 

Bukunya ngga terlalu tebal, cuma ada 282 halaman untuk keseluruhan dan 253 halaman untuk isi cerpennya, Tapi kok ngga ada daftar isi yah? (bolak-balik halaman, tunggu apa daftar isinya itu di peta?) lalu sebelum masuk ke cerpen ada penjelasan singkat banget mengenai dunia Vandaria secara sekilas yang dihiasi dengan ilustrasi. Mengenai terciptanya dunia Vandaria, lalu ras-ras utama Vandaria (cuma 2 sih yang dibahas, yaitu ras frameless dan manusia) dan terakhir peta. Cuma yang saya bingung dari peta ini kan ada penjelasan mengenai waktu atau timeline dari kapan cerpen-cerpen tersebut bersetting tapi malah ngga ada penjelasan apa arti dari I.V, A.V, A.R. Bingung? sama saya juga bingung, mengingat saya ini nubie. Sepertinya saya baca kumcer ini bakal seperti menebak-nebak kesimpulan essay. 

1. Bisikan Sang Angin, penulis Alexia DeeChen.
Cerita langsung dibuka dengan adegan perang dan pertempuran. Saya cukup suka sama cerita ini, terutama karena penuturan atau gaya bahasanya yang mirip novel terjemahan. Cuma sepanjang membacanya ada yang mengganggu saya, entah karena karakter utamanya terlalu telmi atau memang sengaja dieksekusinya seperti itu dengan maksud jadi plot twist, kalau saya jadi karakter utamanya, pasti saya bakal keluarin kalimat, "Why are you helping me?" di awal-awal adegan. Meskipun udah ketebak, tapi sepertinya alasan why-nya itu terkesan maksa dan mirip mie instant.  Mungkin kalau ada alasan yang lebih reasonable dan believable saya bisa kasih 4 stars, secara saya suka sama penuturannya. 
Rate : ✭✭✭½

2. Padamnya Bintang-Bintang Vaeran, penulis Melody Violine.
Adegan dibuka dengan kalimat-kalimat puitis. Dalam hati saya cuma berdoa agar kalimat puitisnya tidak terlalu berlebihan, karena jujur saja akhir-akhir ini saya suka sakit kepala cenat-cenut, kalau terlalu banyak membaca kalimat puitis (saya memang bukan orang yang romantis, sekiranya yang lewat kata-kata). Ceritanya tentang kegalauan. Semua tokohnya galau. Ehem untuk saya pribadi, saya lebih suka galauisme tidak menjadi tema utama dalam cerita bersetting high-fantasy. Selain itu, entah mengapa saya merasa ada yang mengganjal di penamaan tokoh-tokohnya, macam Atwirya.
Rate : ✭✭✭

Sampai sini saya mengambil kesimpulan kalau frameless itu seperti manusia planet Vulcan, miskin emosi, miskin ekspresi. 

3. Batu Filsuf, penulis Aryo Pratomo.
Philosopher Stone tampaknya selalu menarik untuk dijadikan tema. Tidak dijelaskan tokohnya ini ras apa. Tapi yang menarik dari cerita ini adalah character's development yang ditampilkan penulis. Dari yang tadinya polos menjadi pemikir, dari yang tadinya emotionless mulai merasakan emosi. Untuk ceritanya sendiri biasa saja, tapi seperti yang saya bilang, kelebihannya ada pada pengembangan karakter. 
Rate : ✭✭✭½

4. Musim Gugur, penulis Harbowoputra.
Saya asli sama sekali ngga paham dengan ceritanya atau pun makna dari ceritanya. Terus yang bikin kepala saya cenat-cenut itu alurnya yang maju mundur pake cara selang-seling.  Tema utamanya tentang plin-plan dan hingga akhir ceritanya saya juga tetap plin plan buat menyimpulkannya. Kalau lihat dari nama-nama yang dipakai macam Lena, Ivan, Yelen, Tsarik, Raspin, sepertinya sangat berbau Russia atau Slavik. Kalau saya lihat sih ini cerpennya lebih tentang cerita atau legenda mengenai Musim Gugur. Meski membingungkan tapi cerpennya mempunyai satu kesatuan utuh, ada awalan, tengah(permasalahan) dan akhir. 
Rate : ✭✭½

5. Nyanyian Alam, penulis Andry Chang.
Awal cerpen dibuka dengan puisi. Sepertinya ini cerpen mengenai pesan moral bertema lingkungan yang ingin disampaikan penulis. Cuman gimana yah, penyampaiannya terlalu mirip cerita anak-anak tanpa ada narasi atau adegan sebagai filter. Trus terlalu banyak CAPS LOCK dan tanda seru dalam dialog juga agak mengganggu. ras Flavianus? Dan kenapa tokoh antagonis atau menyebalkan selalu digambarkan berperawakan kasar? agak klise sih cara pengambaran karakter-karakternya kalau kata saya. 
Rate : ✭✭✭

6. Padang Hijau Atap Merah, penulis Pratama Wirya.
Cerpen yang cukup enjoyable, penuturannya lugas dan plotnya linear (lurus). Tapi yang bikin menghibur adalah tokoh-tokohnya yang kocak. Tokoh utamanya sih menurut saya bukan cerdik tapi nekat. Salah satu cerita yang punya plot utuh atau penuh sebagai cerpen. Walaupun tokoh-tokohnya sepertinya one dimensional semua.  BTW baru ngeh, kok ngga ada ilustrasi yah di cerpen ini?
Rate : ✭✭✭½

7. Relik Agung Gallizur, penulis Rynaldo C. Hadi.
Ceritanya cukup oke, alur bagian awalnya cukup menarik, sehingga saya langsung tersedot mengikuti ceritanya, walau pas si tokoh utama mulai dapat citra, saya sudah bisa nebak siapa dia. Cuma saya merasa terganggu di bagian ending, entah apa endingnya terlalu terburu-buru atau penulis bermaksud membuat cerita bersambung, yang saya rasakan setelah konflik terpecahkan, ceritanya jadi menguap dan anti-klimaks. BTW hal 168, nama karakternya ada yang hilang.
Rate : ✭✭✭½

8. Di Bawah Bulan Separuh, penulis Iris Aegis.
Terlalu banyak narasi, mungkin karena 1st POV. Dibanding tokoh-tokoh lain dalam 10 kisah, tokoh dalam cerpen ini mungkin yang paling 'terlihat' pemikirannya. Jujur, masalahnya saya tipe yang bosan dengan monolog yang terlalu banyak, apalagi monolog berupa pemikiran dan setelah beberapa halaman baru masuk ke konflik. Itu pun saya masih tidak paham apa maksud si gelandangan? Kok nggak dibahas lebih lanjut?
Rate : ✭✭✭

9. Beri Kami Damai, penulis Ami Raditya.
Sangat terlihat kalau penulisnya ingin menyampaikan pesan moral langsung. Dengan memakai tema perang dan propaganda, maka terciptalah cerita ini. It's okay lah, the story quite fine and easy to read. Cuma sepertinya asal usul si tokoh cowo masih misterius yah (saya lupa namanya). Tidak ada penjelasan kenapa dia bisa hidup abadi? Apakah dia Pejalan Cakrawala? Atau vampir? Atau apa githu?
Rate : ✭✭✭½

10. Pentagon, penulis Hans J. Gumulia. 
Duh, sudah ini cerita pendek, masih dibagi lagi menjadi 5 cerita pendek. Membaca cerpen ini, ibaratnya saya seperti disuruh menyusun puzzle dan dikasih potongan-potongan puzzle yang tidak utuh. Cerita-ceritanya lebih seperti adegan-adegan singkat yang dicomot dari suatu bab dalam novel. Cerita 1 seperti sebuah permulaan dan ya sudah itu saja permulaan, terus nyambung ke cerita 2 yang sama sekali beda dan seterusnya, kecuali cerita nomor 4 dan 5 yang masih nyambung atau ada hubungan. Membaca Pentagon ini seperti membaca sebuah sampel dari buku. Mungkin cerpen ini memang ada hubungannya dengan cerita-cerita dalam novel satuan Vandaria Saga sebagai suatu cara marketing dalam bentuk cerpen. Cuma bagaimana dengan saya yang nubie?
Rate : ✭✭✭

Itu saja, kalau ditanya cerita mana saja yang saya suka terlepas dari segala bentuk kekurangannya termasuk typo, maka jawabannya : Cerpen nomor 1, 3, 6 dan 7. 

Dan kesimpulan saya sendiri mengenai Vandaria Saga? Well this is just another fantasy story set in universe of high fantasy, there are war, kingsom, magic, battle, but not enough monster or beast or any magical creatures, too much writer's thought and opinion karena kumcer ini tidak terlalu banyak menjelaskan apa itu Vandaria Saga. Perang, sihir, pertempuran, iya saya sudah tau, tapi mengenai ras-rasnya, saya hanya tetap tahu 2, sama seperti penjelasan awal dalam kumcer (padahal kan sepertinya banyak ras dalam VS, oke memang ada sekilas mengenai Flavianus, tapi saya tetap bingung, di cerpen nomor 5, saya nangkepnya Flavianus itu manusia tapi di cerpen terakhir ternyata itu sejenis frameless). Trus kritalisasinya sendiri ngga dibahas apa. Apakah cara kerjanya sama dengan kristal dalam game Final Fantasy XIII? 

Saya ngga akan lihat masalah teknis macam tatanan kalimat, typo, aksara, dll karena saya hanya mereview secara garis besar, dari sisi pembaca awam, bukan editor. Kesimpulan saya sendiri mengenai Kristalisasi, cukup oke, beberapa cerita cukup menghibur tapi masih dibawah ekspektasi saya. 

Sabtu, 31 Agustus 2013

ARASSI

✭✭✭
Judul Buku : Arassi (Kumpulan Cerpen Fiksi Fantasi dari Pemenang Lomba Sayembara UFUK)
Penulis : Various
Penerbit : UFUK Fiction
Jumlah Halaman : 245 Halaman
Segmen : Remaja
Tahun Terbit : Januari 2013
Harga : Rp 31.450 (15% off from 37.000, bought at www.bukabuku.com)

Jadi ini adalah kumcer fantasi lokal ke-3 yang saya baca di bulan Agustus. Namun tidak seperti 2 buku sebelumnya, kali ini saya merasa agak kecewa dengan bukunya. Lebih tepatnya beberapa cerpennya yang menurut saya eksekusinya sangat poor (IMO). Langsung saja saya mulai dan sekalian penjelasan mengenai rate yang saya pakai untuk menilainya :
  • Exceed Expectation (E) artinya cerita cukup baik, plotnya terstruktur, gaya bahasa mudah dimengerti dan yang terutama saya tetap bisa mengingat ceritanya sesudah saya selesai membacanya. Istilahnya cukup well written deh
  • Acceptable (A) artinya cerita dan plot sudah oke, penuturannya mudah dipahami hanya saja seharusnya cerita bisa lebih baik. 
  • Poor (P) artinya cerita lemah, penuturannya ngejelimet (please CMIIW the spelling), plot ngga rapih karena terlalu banyak adegan kutu loncat. Dengan kata lain, cerpen perlu ditulis ulang. 
Troll? yah saya tergelitik untuk memberikan nilai itu, tapi sudahlah, bagaimana pun sekiranya bagi yang sudah mencoba menulis, selesai, dan mengirimkannya ke penerbit, apa pun hasilnya, menurut saya tidak selayaknya diberi nilai T. 

Pertama : Cover
Sepertinya UFUK gemar sekali memakai kaver yang berbau malaikat. Mungkinkah ini karena seri terbitan UFUK yang mengandung unsur malaikat laris manis (Halo, Hush.Hush)? yah bisa jadi, karena biasanya pembaca (terutama cewek) selalu suka sama mahluk-mahluk fantasi yang berbau malaikat. Mungkin karena penggambaran malaikat itu cantik, tampan, bersayap, apalagi kalau malaikat cowoknya bertelanjang dada dan six pack pokoknya keren githu lah.  

OR NO


Lalu hmmm, lho kok ngga ada daftar isi? mana daftar isinya? #BolakBalikHalaman, yah terpaksa buka per bab deh. 

1. Nora Antoine, penulis Icha Azania.
Nggg, saya bingung sama ceritanya. jadi si tokoh sudah tau kalau dia akan xxx. Trus kemudian dia ditaruh dalam sebuah tempat yang mirip sekolahan. Saya merasa cerpennya rada aneh saja sih. Seperti berusaha menggabungkan unsur time travel dan high school setting, ngga masalah sih selama eksekusinya wajar, cuma yang ini terkesan maksa gitu. Plotnya juga terasa kurang sinkron sama ceritanya.  Terlalu banyak editing kah?
Rate : Poor

2. Kembali, penulis Sani Nurahayu.
Tema nya sih klise dan agak mirip sama salah satu tema dari FF 2011. Tapi yang saya permasalahkan bukan tema klise tapi pengemasannya. Sejak awal cerpen sudah dibuka dengan tone mellow si tokoh utama, entah apa karena memang karakternya datar atau penuturannya yang melankolis. O ya cuma saya bingung sama adegan yang kekasihnya suka menggoda sepanjang perjalanan waktu berkendara di motor, apa ngga bahaya yah naik motor sambil menggoda orang yang dibonceng? Orang misterius itu siapa? Everything feels so flat. 
Rate : Poor

3. 83845, penulis Angela Oscario.
Cerpen bertema dystopia. Secara penuturan sudah cukup enjoyable. Suasana depresi ala dunia dystopia juga langsung tersampaikan ke pembaca. Cuma yah, saya lebih suka kalau ceritanya nggak ada unsur romens sama sekali. Misal dia hanya ingin bebas dan penasaran akan dunia di luar sana. Trus siapa yang mengajari membaca dan memberikan buku harian? Cukup berpotensi untuk berkembang kalau saja plotnya dipoles lebih dalam. 
Rate : Acceptable 

4. Biru, penulis Nastiti Denny.
Sebenarnya tokoh utama di sini itu siapa sih? Setelah dikisahkan mendapatkan item berharga itu, Marta bermaksud menggunakan item berharganya untuk rencana A, tapi ternyata dipakai untuk tujuan B, terus untuk rencana C terus tahu-tahu semuanya bersih dalam sekejap. Hmmm, tapi kok kesannya repot dan ribet banget yah. Sepertinya penulis terlalu  memikirkan banyak cerita waktu menulis cerpen ini. Ceritanya sudah klise, pengemasannya juga klise. 
Rate : Poor

5.  Mutiara Mimosa, penulis Chen-Chen.
Ini salah satu yang paling aneh dan buruk. Rasanya seperti membaca cerita abstrak. Gaya bahasanya bermaksud puitis dengan kalimat berbunga-bunga, tapi jatuhnya malah menjadi jargon-jargon yang bikin kening berkerut. Juga banyak narasi ngga penting yang tidak memberikan pengaruh bagi jalan cerita. Selain itu saya benar-benar tidak mengerti ceritanya tentang apa? questnya tentang apa? tujuannya apa? Sama sekali tidak ada struktur dalam plotnya. Lalu ada kalimat aneh, misal, "Pada musim dingin, suhu bisa mencapai 40 derajat Celcius." Mungkin musim dinginnya berbeda, I dunno. 
Rate : Poor 

6. Wina The Witch, penulis Ria Tumimomor.
Ceritanya sangat teenlit. High school setting, wannabe popular genk, naksir cowok. Untung penuturannya masih enak dibaca walau saya bingung, apa maksud dari ceritanya. No offense, but the story it's forgettable. 
Rate : Poor 

7. Apa Arti Kebebasan? penulis Susanty Tandra.
Salah satu cerpen yang cukup enjoyable dari segi penuturan dan cerita. Adegan actionnya cukup ditunjukkan dengan baik dan terarah. Mulai dari kejar-kejarannya sampai endingnya. Entah mengapa tema sains fiksi ini agak mengingatkan saya sama buku ini. 
Rate : Acceptable

8. Gelang Lelyard, penulis Alexia DeeChen.
Yah sebenarnya sih tema ceritanya klise mirip sama Solomon Ring. Tapi penulis mengemasnya dengan plot yang rapih dan teratur. Penuturan pun lugas tanpa melupakan detil yang perlu jadi cerita terasa padat terisi meski hanya dibatasi beberapa halaman saja. 
Rate : Exceed Expectation
 
9. Jack & Unicorn, penulis Rickman Roedavan.
Ceritanya simpel, plotnya juga linear. Gaya bahasanya sederhana. Saya rasa cocok untuk cerita anak-anak juga. Ceritanya sudah ketebak sih endingnya bakal bagaimana. Rupanya ini kali kedua saya membaca karya penulis, tampaknya settinngnya masih berhubungan dengan universe dari cerpen yang sebelumnya.
Rate : Acceptable

10.  Jantung Naga, penulis Feby Anggra
Another familiar name for fantasy author, so I think the story should decent at least. Mulanya saya kira cerita ini akan seperti cerita lain yang serius dan kelam. Tapi ternyata di pertengahan, cerita berubah menjadi komedi. Yah lumayan lah, it's just like breath of fire, I mean breath of fresh air. Ceritanya sendiri standar, tapi cukup menghibur.
Rate : Acceptable. 

11. Malaikat Pemberi Luka, penulis Ginanjar Teguh Iman
Waduh, multiple 1st person POV. Walau agak membingungkan sepanjang membacanya, karena saya harus tebak-tebak, siapa narasi siapa. Tapi secara keseluruhan saya paham sih sama ceritanya. Yah kalau suka sama kalimat-kalimat galau, sendu, melankolis, dan agak puitis mungkin bakal suka sama cerpen ini. Tapi berhubung saya selalu mengharapkan hal lebih dari setiap tema Angel daripada sekedar romens, jadi....
Rate : Poor

12. Ray of Light, penulis Fay Shalamar
Saya baca cerita ini kok berasa rempong. Sama seperti cerpen no. 4, berasa alurnya berkelok-kelok padahal intinya sederhana. Terus yang menggangu itu adegan atau kata-kata yang lebih cocok untuk video game, comic atau anime tapi dituang secara mentah-mentah oleh penulis. Padahal konseptual novel itu berbeda dengan video games. Dan memaksakan suatu hero's journey dalam cerpen 2000-an kata. Please, just no. 
Rate : Poor

13. Sang Pemanah Fajar, penulis Alfian Daniear
Pembukaan awal cukup menarik, sayang eksekusi ke titik permasalahan itu seperti kebingungan. Kalau memang mau perang, beritahukan saja sejak awal, terus buat heronya mencoba menyelamatkan atau memperingatkan seseorang akan perang itu. Saya rasa itu lebih reasonable. In the end, it's feel nothing. 
Rate : Poor

14. The Jin, penulis Aoi Shinji dan Shine Cyrus
Kenapa hanya cerita dengan tema jin saja yang paling mendingan di kumcer ini? Saya suka sama karakter-karakternya. Baik itu si jin yang tidak sabaran, sang kakak yang tegas dan tentu saja sang adik yang polos. Penuturan ceritanya sudah oke. Ide ceritanya juga agak berbeda dari ide cerita pemanggilan jin pada umumnya. Endingnya kok githu yah ._.
Rate : Exceed Expectation

15. Arassi, penulis Anggari Purnama Dewi
Diletakkan di akhir cerita, dan karena judul yang dipakai di cerpen juga merupakan judul yang dipakai di kaver utama, saya berasumsi, mungkinkah ini pemenangnya? Dan ceritanya disimpan terakhir dengan maksud save the best for the last? Sayangnya selesai saya membacanya, saya malah menjadi jengkel dengan semua tema malaikat dan cinta yang dibahas dalam buku. Entahlah, mungkin saya sudah capek membaca tema malaikat yang jatuh cinta. Padahal sepertinya cerita ini mempunyai jumlah halaman yang paling tebal dibanding cerpen lain, tapi ceritanya tidak jauh-jauh dari malaikat yang ingin merasakan cinta. I think if the story is just romance without the whole angel things, I might be like it. No need Angel, there are a lot of human who are not ready to fall in love even though they have found the right person. Yah, tapi saya coba obyektif. Gaya bahasa, standar. Cerita, standar. 
Rate : Acceptable

Sekarang akumulasi :
2 E + 5A + 8P = 3 STARS

E = 8
A = 6
P = 4

Khusus yang A (Acceptable) ada beberapa A+ sebenarnya. 

Lalu soal ilustrasi dalam halaman-halaman bukunya, saya tidak tahu diambil dari mana, sepertinya dari internet atau deviantart seseorang, biasanya saya suka sama ilustrasi, tapi untuk kali ini justru terasa disturbing dan terlihat maksa. Menurut saya, lebih baik tidak usah ada ilustrasi sekalian. 

Akhir kata, sayang sekali dibandingkan FF, kumcer di sini agak down. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan keterbatasan jumlah kata (yang kurang lebih 2000-an kata jadi terpaksa banyak cerita yang diedit dengan sadis dan menyebabkan plot yang kurang nyambung) atau memang fiksi fantasi butuh ditangani orang-orang yang memang betul-betul paham dan mengerti bagaimana cara menilai fikfan? Meskipun suatu cerita itu fantasi dan memakai logika ala fantasi, tetap perhatikan hal-hal yang membuat cerita menjadi reasonable dan believable.  (I'm talking about the stories I rate poor)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...