Minggu, 08 Juni 2014

MALAIKAT JATUH DAN CERITA-CERITA LAINNYA: KISAH PEREMPUAN DALAM BERBAGAI ABSURDISME HIDUP

Judul: Malaikat Jatuh
Pengarang: Clara Ng
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Hetih Rusli
Jumlah halaman: 176 halaman
Cetakan kedua, Februari 2009
Segmen: Dewasa
Genre: Fantasi, kumpulan cerpen
Note: Thanks untuk Dewi atas pinjaman bukunya :)
Rate: ★★★★

Malaikat jatuh adalah sebuah buku yang berisi 10 cerpen di mana dalam setiap ceritanya ada satu sosok sosok ibu dan perempuan dalam beragam profesi pekerjaan. Entah pekerjaan tersebut hanyalah ibu rumah tangga biasa, pemilik bengkel, pelacur hingga siluman. Awal saya tahu buku Malaikat Jatuh ini dari review-review para peserta Short Stories Reading Challenge, entah mengapa saat tahu kalau ini tipikal cerita dark fantasy saya malah makin penasaran untuk membacanya. 

Bila ada 1 hal yang saya sukai sekaligus tidak saya sukai secara bersamaan dari genre fantasi, hal tersebut adalah keabsurdan dalam ceritanya, terlepas keabsurdan itu hanya sekedar metafora ataupun tidak. Karena itulah tidak semua orang bisa menyukai genre fantasi, karena tidak semua orang dapat memahami keabsurdan cerita dalam genre fantasi. Mereka yang tidak menerima akan menganggapnya aneh dan sering DNF (did not finish), sedangkan mereka yang menerima keabsurdannya mungkin akan mendapat kesan setelah menyelesaikan cerpennya.

Beberapa hal yang saya tangkap dari Malaikat Jatuh adalah:
  1. Diksi yang indah. Penulis sangat pintar dalam merangkai dan memainkan kata-kata, bahkan kata-kata yang seharusnya sederhana pun bisa diurai untuk menjadi sebuah rangkaian kalimat yang terdengar merdu bila diucapkan. 
  2. Masih terkait dengan permainan diksi penulis, terkadang saya suka merasakan cerita sengaja dipanjang-panjangin untuk menambah kuota halaman. Misal makna sederhana seperti sendirian dan kesepian pun bisa dirangkai oleh beberapa kalimat yang akhirnya menjadi 1 paragraf, yang sebenarnya bisa saja menjadi lebih baik kalau diringkas karena akan mengurangi kesan 'terlalu didramatisir' atau penuturan yang terlalu muter-muter. 
  3. Plot yang sederhana tapi menjadi istimewa berkat diksi. 

Langsung saja saya bahas cerpen-cerpennya:
1. Malaikat Jatuh
Cerpen pembuka yang juga merupakan judul utama dari kumcer ini. Tentang seorang ibu yang akan melakukan apa saja asal anak satu-satunya bisa selamat dari kematian, meski harus 'mengubah' sang anak.

Kalau ditilik dari logika ceritanya, cuma satu yang mau saya pertanyakan, kalau memang masalahnya takut kesepian dan sendirian, kenapa tidak dari awal saja mencari pasangan hidup yang sama-sama immortal daripada akhirnya malah jadi bikin orang lain menderita dan susah. Saya paham kalau cinta itu egois dan tak terkecuali cinta seorang ibu, mungkin karena itulah saya tidak bisa bersimpati sama tokoh Manna di sini.

Cerpen ini juga yang paling panjang dibanding cerpen lainnya (60 hal), mungkin lebih cocok disebut novella. Sayangnya untuk cerpen utama, saya kurang merasa berkesan dengan ceritanya dibanding beberapa cerpen lain dalam buku ini.

2. Negeri Debu
Salah satu cerita yang paling kelam dan getir dari kumcer ini. Narasi di awal agak membingungkan, karena langsung masuk ke 'negeri debu' yang membuat saya mengira-ngira apa sebenarnya 'negeri debu' ini.  Tapi perlahan namun pasti cerita berhasil membawa saya mengikuti alam pikiran Lucinda, sang bocah perempuan yang mendambakan belaian ibu. Ending cerita yang begitu yang kelabu berhasil meninggalkan bekas dalam ingatan saya.

3.  Makam
Cerita gelap kali ini bertema kematian. Saya suka setting serba suram yang dibangun Clara. Makam, kematian, malam, kegelapan, kesendirian, aroma melati. Namun meski suram, tidak seperti 2 cerita sebelumnya yang memiliki unsur ketegangan, cerita Makam terasa sangat tenang.

4. Di Uluwatu
Cerpen yang ini sejujurnya agak mebingungkan saya, masih berkisah seputar 'ibu'. Tapi ini adalah salah satu cerpen dengan plot sederhana tapi kuat di diksi. Contoh: Dunia bayangan sesekali hadir di dunia matahari, dalam bentuk samar-samar seperti saat petang nyaris larut dalam mangkuk malam.  Atau saat cahaya teramat lembut menyelinap di kisi-kisi jendela, menimbulkan pergerakan sinar yang aneh. 

Sejujurnya saya agak bingung apa maksud kalimat-kalimat di atas selain daripada hanya menambah kuota kata-kata.

5. Lelaba
Inti cerpen ini tentang adolescence yang tampaknya mengambil inspirasi dari legenda Jepang, Jorogumo (IMO). Bagi perempuan salah satu tahap menjadi dewasa adalah mengalami datang bulan atau menstruasi, dan inilah inti cerita cerpen ini. Sekali lagi termasuk cerpen yang banyak bermain di diksi. Misal: Beginilah cerita menstruasi pertamaku. Semilir angin bertiup di sela perdu, bagai hantu putih yang bergentayangan di taman rumah. Gorden kain terayun-ayun malas, menyibak jendela yang membingkai malam kelabu. Hujan telah berhenti menjelang tengah malam. Suara jangkrik memenuhi sela-sela rumput, dibawa oleh angin celaka. 

Phew, saya paham sih maksudnya supaya membangun suasana, tapi kesannya jadi dramatis banget, pake melibatkan gorden kain, hujan, suara jangkrik. Dan itu saja baru menstruasi pertama, bagaimana kalau malam pertama. Hehehe

6. Hutan Sehabis Hujan
Bila 5 cerpen sebelumnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, maka Hutan Sehabis Hujan menggunakan sudut pandang orang pertama. Hutan Sehabis Hujan mengambil isu sosial yang sedang ngetrend akhir-akhir ini yaitu 'cinta tidak mengenal batas ras dan gender'.

7. Akhir
Sebenarnya saya sudah bisa menduga ceritanya sih. Penulis sudah memberi tanda-tanda melalui penggambaran settingnya. Ceritanya mirip The Sixth Sense atau The Others. 

8. Barbie
Ceritanya sedikit mirip dengan Toy Story. Itu lho, film animasi populer karya Disney-Pixar tentang mainan-mainan yang menjadi hidup saat tak ada manusia yang melihat. Tapi hanya sampai situ saja kemiripannya, karena apabila cerita dalam Toy Story menghibur dan menghangatkan hati. Sebaliknya dengan cerpen Barbie, yang menurut saya salah satu cerita paling disturbing dan sadis dari seluruh cerpen kelam di kumcer ini. Yang saya suka dari cerpen ini adalah plotnya yang cepat dan tidak terlalu banyak permainan diksi untuk menambah kesan drama.

9. Bengkel Las Bu Ijah
Sepertinya semua metafora digunakan dalam cerpen ini. Penuturannya sendiri mengalir dan enak dibaca. Ceritanya lebih terasa melankolis dan sedih daripada gelap. Walau tentu saja kesan absurd dan aneh tetap terasa karena 'servis bengkel' yang tidak biasa. Selain itu permainan diksi lagi-lagi sangat terasa dalam cerpen ini, misal: Tahu-tahu telah belasan kali matahari urung bersenggama dengan bulan serta puluhan kali angin timur bertabrakan dengan angin barat. 

10. Istri Paling Sempurna
Berbeda dengan 9 cerpen lainnya. Istri paling Sempurna tidak melibatkan mahluk-mahluk supranatural ataupun unsur-unsur fantasi absurd. Malah ceritanya sangat realistis, mungkin sedikit unsur psikologis. Sewaktu membacanya saya hanya merasa biasa saja, namun setelah menyelesaikannya dan makin memikirkannya, tiba-tiba saya menyadari betapa indah ceritanya. Lebih tepatnya indah, romantis dan juga sedih. Seperti sebuah janji pernikahan, di mana aku dan kamu akan selalu bersama mengarungi bahtera rumah tangga baik dalam senang maupun duka atau dalam sehat maupun sakit.

Sebuah cerpen bitter-sweet adalah penutup akhir yang sempurna. 

Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup. ~Pablo Neruda, Soneta XVII. 

Clara Ng sukses menerjemahkan suatu rasa kesedihan, kerinduan, dan kekelaman dari perasaan seorang ibu yang selalu memikirkan anaknya yang telah tiada, seperti yang ditulis oleh sang penulis di kata pengantarnya.


Review ini juga untuk RC:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...