Tampilkan postingan dengan label TRAVEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRAVEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 April 2015

THE NAKED TRAVELER: 1 YEAR ROUND THE WORLD TRIP - PART 2

Judul: The Naked Traveler: 1 Year Round The World part 2
Penulis: Trinity
Editor: Nurjannah Intan
Proofreader: Pritameani & Titish A.K. 
Cetakan 1, September 2014 (326/555)
ISBN: 978-602-1246-15-3
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, traveling, personal literature
Rate: ★★★★

Negara: Kolombia, Kuba, Jamaika, Meksiko, Guatemala

Kolombia
Lanjut berpetualang ke Amerika selatan. Kali ini Mbak T mengunjungi negara yang sempat terkenal akan kartel narkobanya, yaitu Kolombia. Saya baru tahu, bahwa Kolombia, tepatnya di kota Cali adalah tempat lahirnya tarian salsa. Namun bab yang menarik perhatian saya adalah saat Mbak T mengikuti underground tour (tour tidak resmi yang bahkan dilarang pemerintah, namun bukan Mbak T namanya kalau perjalanannya normal-normal saja) di Kota Medellin, kota yang terkenal pernah menjadi pusat kartel narkoba dan dijuluki The Most Violent City In The World. Mungkin karena saya suka akan sejarah dunia, makanya bab ini menjadi salah satu favorit saya dari tntRTW part 2, saya jadi tahu secara garis besar sejarah raja narkoba terkenal Pablo Escobar, yang siapa sangka juga dianggap Robin Hood dan dicintai kaum papa, karena uang haram hasil narkoba banyak dipakai untuk membantu rakyat miskin. 

THE NAKED TRAVELER: 1 YEAR ROUND THE WORLD TRIP - PART 1

Judul: The Naked Traveler: 1 Year Round The World part 1
Penulis: Trinity
Editor: Nurjannah Intan
Proofreader: Pritameani & Titish A.K. 
Jumlah halaman: 260 halaman
Cetakan 1, September 2014 (115/555)
ISBN: 978-602-1246-14-6
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, traveling, personal literature
Rate: ★★★½

Negara: Eropa (just a little), Brasil, Cile, Ekuador, Peru. 


Nama Trinity adalah salah satu nama terdepan untuk penulis buku-buku bertema travel. Para pembaca (termasuk saya) menyukai gaya menulis Mbak T yang cenderung blak-blakan dan jauh dari kesan kaku atau standar. Selain itu pembahasannya seputar traveling selain informatif juga ditulis dengan sangat menghibur, karena Mbak T tidak hanya membahas mengenai tempat-tempat wisata dari suatu tempat tapi juga kebiasaan masyarakatnya dan tentunya pengalaman-pengalaman serunya (baik yang menyenangkan maupun tidak) dari setiap tempat yang dikunjunginya dengan gaya pengemasan yang terkadang kocak. Tak hanya itu Mbak T juga suka berkunjung ke tempat-tempat yang tidak biasa  (bukan destinasi turis) yang tentunya sangat menambah pengetahuan bagi saya. Karena itu saat tahu kalau Mbak T sedang traveling keliling dunia selama setahun, saya coba tahanin tidak membaca keseluruhan blognya, karena saya ingin membaca ceritanya dari buku. 

Dan saat buku ini diterbitkan, saya pun langsung PO edisi bertanda tangan di tokbuk online langganan. 

Saya akan berikan saja kesan singkat dari setiap negara:

Kamis, 31 Juli 2014

THE JOURNEYS: 12 JOURNALS ABOUT JOURNEYS

Judul: The Journeys
Penulis: Adhitya Mulya, Alexander Thian, Farida Susanty, Gama Harjono, Ferdiriva Hamzah, Okke 'Sepatumerah', Raditya Dika, Trinity, Valiant Budi, Ve Handojo, Windy Ariestanty, Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Editor: Resita Wahyu Febiratri
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, personal literature, travel
Harga: Rp 36,375 (25% off), bisa dibeli di @bukubukularis, www.bukabuku.com
Rate: ★★★


Sejujurnya saya agak malas mereview The Journeys ini di blog, karena entah kenapa saya merasa rada bosan saat membacanya, mungkin mood saya sedang jenuh membaca buku-buku bertema traveling dan niatan awal cuma mau ngereview di goodreads, tapi akhirnya saya mendapatkan mood untuk bikin reviewnya di blog (mood really control me). Ada 1 atau 2 kisah dalam The Journeys ini yang pernah saya baca, yaitu Kiss from a Stranger-nya Windy Ariestanty yang pernah saya baca di life Traveler dan Melipir ke Tel Aviv-nya Ve Handojo yang pernah saya baca di blog Ve. Dan untuk saya pribadi, personal literature bertemakan traveling itu lebih sebagai sebuah informasi yang saat saya sudah tahu (baca) maka sudah cukup. Jadi bukan jenis bacaan yang asyik untuk di reread.

Kamis, 30 Januari 2014

SECRET SANTA 2013: AN OPEN LETTER TO MY SANTA AND BOOK REVIEW


Dear My Secret Santa

Sesungguhnya aku tidak ingin menuliskan surat terbuka seperti ini terhadapmu karena aku tidak suka drama, politik dan sinetron #eh namun aku merasa bagaimanapun juga aku harus jujur dan tetap memberikan credit terhadap mereka yang telah memberiku buku menarik ini. 

Selasa, 31 Desember 2013

BOOK REVIEW: GET LOST (AND GIVEAWAY, SOON)

 ★★★
 Judul Buku: Get Lost
Pengarang: Dini Novita Sari
Penerbit: Bhuana Sastra (BIP)
Penyunting: Agatha Tristanti
Jumlah Halaman: 198 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa
Genre: Travel Lit, Drama, Realistic Fiction
Harga: Rp 32.500

Jadi mana yang mau duluan? Ceritanya atau langsung ke pembahasannya? Saya rasa mari kita mulai dengan inti ceritanya dulu. 

Buku ini berkisah tentang seorang gadis bernama Lana Sagitaria yang sedang mencari arti perjalanan hidup dengan melakukan perjalanan di tengah-tengah rutinitasnya sebagai seorang pekerja kantoran. Tapi rupanya Lana tidak hanya sekedar melakukan perjalanan. Lana juga tengah berusaha mencari seseorang. Siapakah orang tersebut yang membuat Lana sampai rela menempuh jarak ribuan mil, mulai dari Bali, Singapore, Korea hingga pulang ke Surabaya? Berhasilkah Lana berjumpa dengan orang tersebut?

I easily Get Lost because

The plot sometimes get lost. Seorang penulis pernah berkata, bahwa sekarang ini penulis berlomba-lomba menciptakan ejaan yang baku, diksi yang keren, bahasa yang puitis dan berbunga-bunga  namun melupakan satu hal penting dalam menulis fiksi yaitu plot. Terkadang apa yang membuat seorang pembaca merasa betah atau tidak bosan dalam membaca suatu buku bukan karena penuturan atau gaya bahasa semata, tapi karena plotnya. Plot yang terstruktur akan membuat pembaca betah untuk tetap fokus membalik halaman demi halaman. Saya agak lama menyelesaikan buku ini karena jalinan plotnya kurang kuat. Jadinya untuk seseorang yang gampang teralihkan seperti saya, terkadang suka menunda bacanya, karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya.

Ini hanya sekadar pengandaian saja dari saya, misal, bab 1, plotnya meminta ijin cuti dari kantor. Nah penulis bisa mengeksplorasi betapa susahnya minta ijin cuti, karena kerjaan kantor lagi banyak, sementara ia sudah terlanjur booking tiket pesawat, terus bosnya tidak memberi ijin karena ada proyek yang harus dikerjakan. Bab 2,  plot utama cari hostel murah di Bali. Tapi ternyata karena di negara-negara 4 musim sedang winter, akibatnya Lana susah cari hostel karena banyak yang sudah penuh. Sempet ada adegan ini, tapi cuma sebentar. Padahal bakal lebih seru, kalau Lana itu kelabakan karena hingga malam tiba belum ketemu hostel dan terpaksa bermalam di rumah seseorang yang bekerja sebagai PSK, tapi dari sana Lana mendapat pelajaran hidup yang penting. Lalu sepanjang cari hostel, bisa diceritakan kalau hostel-hostel yang ditemui Lana, banyak yang aneh-aneh, dst.

Untuk seseorang yang berencana Get Lost, perjalanan Lana tergolong lancar dan smooth menurut saya, padahal saya berharap ada sesuatu yang bisa bikin Lana merasa kesusahan, panik dan putus asa kalau perlu :P

Bali dan Sela. Saya bingung apa sebenarnya plot atau cerita tentang Bali? Sementara Sela, saya merasakan bab ini hanya sekedar filler saja.

Singapore. Saya setuju dengan review-review lain mengenai banyaknya faktor kebetulan, dengan berbagai kemudahan yang didapat Lana sepanjang perjalanannya. Saya berharap daripada cerita soal bule dan kekasihnya, penulis membuat cerita tersesat di Singapore. Misal, Lana terpaksa menginap di hotel kawasan Geylang dan mendapat pengalaman seperti teman saya yang sewaktu ke Singapore, menginap di hotel kawasan Geylang dan setiap malam suka mendengar suara orang merintih-rintih. #mulaibablasOOT 

Korea. Agak berasa ini plotnya agak K-drama. Dan di sini juga, penulis lebih bercerita mengenai cerita karakter pendamping alih-alih karakter utama. Mengapa tidak cerita mengenai kebiasaan masyarakat Korea yang dianggap tak lazim di mata kita. Sedikit sharing cerita, ada cerita lucu dari 2 orang pendeta Indonesia yang pernah ke Korea. Saat di Korea, mereka kaget karena rumah yang ditempatinya tidak ada kamar mandi, hanya ada WC untuk panggilan alam. Rupanya orang Korea itu tidak sesering orang Indo kalau mandi  dan kadang rumah sederhana suka tanpa kamar mandi, jadi kalau mau mandi, harus di pemandian umum. Bentuk pemandian umum ini seperti ruko (yang suka baca manga pasti tahu) yang dalamnya berisi bak-bak besar. 

Tapi yang bikin aneh bagi orang Indonesia adalah mandi sama-sama dengan telanjang bulat, meski sesama jenis sekalipun. Akhirnya dua pendeta ini memutuskan untuk tetap memakai celana dalam dengan alasan bagian tersebut terlalu pribadi untuk dilihat publik, yang berakibat orang Korea melihat 2 pendeta dari Indonesia ini aneh (karena mandi dengan tetap menggunakan celana dalam) dan 2 pendeta ini justru melihat orang Korea yang aneh. Apa maksud cerita saya sih? maksud saya itu culture shock. 

Surabaya dan sekitarnya. Ini adalah salah satu plot utama dalam buku ini. Seandainya saja penulis ingin memasukkan genre misteri, saya rasa buku ini akan lebih menarik, bahkan bisa dikasih judul "Where is Dharma?"

When main character is the author herself

Saya tahu sih, kalau buku ini banyak diinspirasi dari pengalaman penulis sendiri. Tokoh utama pun juga mungkin secara tidak langsung mengambil kepribadian penulis juga. Seandainya ini non fiksi, saya tidak akan cerewet, tapi untuk sebuah fiksi, saya berharap karakter yang lebih imajinatif (baca: berbeda dengan kepribadian penulis, cerita boleh sama tapi karakter, buatlah semenarik mungkin, misal kikuk, teledor, ambisius, sarkastik, pemberontak) saya termasuk yang lebih suka 3rd person POV atau sudut pandang orang ketiga, karena ada kalanya saat membaca sudut pandang orang pertama, penulis suka tertukar dengan karakternya sendiri. 

Penuturan

Cara penuturan di buku ini, seperti personal literature. Jadi kita seperti membaca jurnal perjalanan Lana. Untuk bagian awal, saya merasa penuturannya agak terasa membosankan. Sepertinya hal ini dikarenakan terlalu banyak monolog.  Saya sebenarnya tidak masalah dengan monolog, asal porsinya pas, tidak berlebihan (misal terlalu banyak membahas pemikiran atau perasaan si tokoh utama). Bahkan monolog pun harus masuk bagian dalam plot, misal menjelaskan adegan flashback. Untunglah saat masuk bab Singapore, tampaknya penulis sudah mulai enjoy dalam menulis ceritanya. 

Gaya Bahasa

Saya tidak tahu mengapa, tapi pada bab-bab awal, gaya bahasanya terasa sangat baku dan kaku. Bahkan saya pun membacanya jadi berasa tidak lepas dan tidak santai.

Selain itu terkadang perpindahan adegan terasa terlalu cepat, tanpa penghubung. Misal adegan Oleq kasih lihat KTP-nya ke Lana. Saya rasa akan lebih enak dibaca bila Lana juga memberi sedikit penjelasan mengenai apa yang dilihatnya dalam KTP tersebut alih-alih langsung memberitahukan kesimpulannya pada pembaca. 

Memorable quote:
Dan baru-baru ini aku menyadari, kalau kenyamanan itu mencandu, menimbulkan rasa ketergantungan yang akut. Dan aku rasa, sudah tak seharusnya lagi aku bergantung kepada dia."
Pesan terakhir saya untuk penulis.

"Selamat atas buku perdananya, dinoy. Saya tunggu karya-karyamu selanjutnya, baik fiksi maupun non fiksi. Menulislah tanpa peduli dengan peraturan. Menulislah seperti apa yang kamu rasakan dengan hatimu, menulislah dengan mengekspresikan emosimu."

BOOK REVIEW: (NOT) ALONE IN OTHER LAND


★★★½
Judul (Not) Alone In Other Land
Penulis: Lia Indra Andriana, Fei, Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 276 Halaman
Segmen: Semua Umur
Genre: Travel, Personal Literature
Harga: Rp 45.000

Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca buku bergenre perjalanan yang sifatnya juga Personal Literature. Padahal saya selalu tertarik mengenai buku-buku yang membahas perjalanan dan perbedaan budaya.

Buku ini terbagi dalam 3 catatan perjalanan 3 orang Indonesia ke negara-negara di Asia Timur jauh, yaitu Lia di Korea (Seoul), Fei di Cina (Shanghai) dan Andry di Jepang.

Seoul
"Hai", sebuah sapaan sederhana yang bisa membawa kita lebih mengenal orang lain."
Kisah ini bercerita tentang Lia yang sedang belajar Bahasa Korea di Seoul. Lia belajar bahasa di Universitas Sungkyunkwan, walau universitas tersebut terkenal berkat dramanya yang berjudul Sungkyunkwan Scandal, namun bukan karena alasan itu Lia memilihnya. Tapi karena universitas tersebut adalah yang paling kooperatif dalam membalas email-emailnya saat mendaftar.

Di sini Lia menceritakan kesehariannya sebagai pelajar asing di Korea. Di sana Lia juga bertemu dengan banyak pelajar asing dari negara lain, biasanya Cina dan Jepang. Alasan mereka belajar bahasa Korea bermacam-macam. Kalau orang Cina biasanya karena urusan kerja, terutama bila mereka ingin bekerja di perusahaan-perusahaan Korea, sedangkan untuk orang Jepang, terkait demam budaya pop Korea seperti drama dan K-Pop. Bagaimana dengan Lia sendiri, apa yang membuatnya tertarik belajar bahasa Korea? Lebih baik baca sendiri di bukunya. 

Selain itu Lia  juga menceritakan hubungan yang akrab antara guru dan murid di Korea

***

Yang saya suka dari cara bertutur Lia mengenai Seoul atau Korea adalah kenetralannya. Saat membahas sesuatu, Lia menuliskan segala sesuatu berdasarkan apa yang ia lihat, alih-alih apa yang hanya ingin ia rasakan. Jadi penulisannya terasa bebas dari kesan judgemental atau stereotype ataupun self-centered sebagaimana yang biasa ada dalam Personal Literature. Terkecuali cerita tersebut mengenai diri Lia sendiri, maka yang lainnya terasa apa adanya. Seolah kita seperti sedang membaca repostase dari majalah atau koran yang lebih membahas mengenai berita atau informasinya daripada perasaan penulis sendiri.  

Yang ngga saya suka, eh mungkin, saya penasaran sama pandangan Lia tentang orang Korea pada umumnya #buntutnyatetappenilaian. Terus penasaran, apa ada perasaan homesick atau rindu makanan Indonesia githu? Yah, dibanding Fei dan dan Andry, waktu Lia di negeri orang paling singkat, hanya 3 bulan. 

Shanghai
"So, it's a nice start to build friendship by saying 'hello' to your international friends using their mother language."
Cerita berpindah ke negeri Cina, tepatnya Shanghai. Di sini Fei menceritakan mengenai awal mula perjuangannya dalam belajar bahasa mandarin di Shanghai. Dan awal memang selalu terasa berat, karena di Cina, nyaris semua orang tidak bisa berbahasa Inggris yang sempat bikin Fei frustasi. Namun Fei sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk keluar dari zona nyamannya dan belajar mengenai hal-hal baru. 

Di sini juga Fei menceritakan mengenai kehidupan teman-teman Internationalnya selama di asrama termasuk kehidupan mahasiswa lokal yang justru kampusnya jauh lebih sederhana dari mahasiswa International. Juga perjalanan backpacker pertamanya bersama seorang mahasiswi asal Korea di kota lain di Cina.
***

Setelah membaca cerita Seoul dari Lia, kini kita beralih ke Fei yang belajar bahasa Mandarin di Shanghai. Dari cara bercerita, terasa sekali perbedaan karakter Fei dan Lia #yaiyalah. Seperti Personal Literature pada umumnya, di sini saya merasakan penilaian penulis secara pribadi akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang terkadang terasa sarkastik. Tapi saya suka sarcasm :D

Tetapi intinya baik Fei dan Lia, sama-sama menekankan betapa pentingnya untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu bila ingin berteman dengan orang lain. Persamaan lain adalah betapa pentingnya untuk memiliki suatu 'kelompok' daripada sendirian di negeri orang. 

Satu catatan saya ada di bab terakhir yang Fei ngejar-ngejar pesawat, itu kenapa akhirnya anti-klimaks? Kok tidak ada penjelasannya? Apa pesawatnya terlambat? Atau orang-orang sana yang punya kecenderungan terlambat dan selalu santai saat di bandara?

Jepang

Berbeda dengan Lia dan Fei yang memilih sendiri tempat belajar yang mereka inginkan, Andry mendapat kesempatan belajar bahasa di Jepang melalui jalur beasiswa. Sehingga tempat belajar atau sekolahnya sudah ditentukan oleh pihak Japan Foundation. Dibanding Lia dan Fei, Andry memiliki waktu tinggal yang paling lama di Jepang, karena selain belajar bahasa, Andry juga bekerja sebagai seorang karyawan di Jepang. 

Keseharian Andry hanya dibahas singkat, seperti betapa setiap orang lebih nyaman berkumpul dengan sesama orang dari negara mereka sendiri.  Lalu betapa senioritas di Jepang sangatlah penting dan terasa, juga penggunaan toilet atau WC di Jepang yang lebih rumit dibanding toilet pada umumnya, karena untuk sebuah toilet mempunyai banyak tombol yang kalau salah pencet bisa berakibat sangat tidak nyaman. 

Andry juga menceritakan mengenai pertemanan singkatnya dengan orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya ke Yakushima. Bagaimana sebuah proses sederhana yang bernama membuka diri bisa membuat seseorang mendapatkan teman seperjalanan.


***

Dibanding Lia dan Fei, kisah Andry di Jepang ini paling banyak curhatnya. Terutama soal perasaan galaunya dalam hal mengungkapkan perasaan dan pendapat. Terus perasaan kesepiannya karena tidak ada teman. Kentara banget karakter penulisnya sangat introvert, mudah cemas, dan terlalu mikir panjang. Heheheh agak mirip-mirip saya nih. 

Walau tema utama pembahasan mengenai Jepang, tapi saya berasanya dari 3 cerita, ini yang penuturannya terasa paling personal. Pokoknya banyak banget tips-tips persahabatan dan relationship, contohnya nih:
"Tanpa komunikasi, seseorang tak akan bisa menjadi sahabat. Komunikasi tak hanya membutuhkan telinga tetapi juga mulut. Mulut yang jujur."
"Saat keduanya saling memahami, akan ada ikatan kecil yang terjalin dari hati ke hati, berdegup seirama."
Sewaktu Andry mengajak kita melanglangbuana ke hutan untuk melihat pohon-pohon Cedar tua, di mana mahluk hidup sejenis hewan juga jarang ditemukan dan suasana hutan yang sakral, entah mengapa saya teringat hutan bidadari merah dari manga Garasu No Kamen. 

Selain itu, dibanding Lia dan Fei yang penuturannya terkesan lugas, penuturan Andry sangat terasa seperti penulisan kreatif, karena banyak bahasa puitis dan metafora, macam 'jantung serasa diremas-remas' atau 'berdegup seirama' atau 'bergalon-galon air seperti ditumpahkan dari langit'. Jadi berasa karakter penulis itu mellow atau melankolis, terlepas apakah memang benar begitu atau tidak, tapi untuk buku non fiksi bagi beberapa orang penuturannya terasa agak lebay, sebaliknya seandainya ini fiksi, justru bagus untuk karakterisasi.

Akhir review, saya menikmati membaca buku ini, padahal tadinya saya tidak ada rencana membaca buku ini di bulan Desember, tapi untuk tahun depan, Namun setelah saya baca buku Get Lost-nya Dinoy, saya tiba-tiba pengen baca buku ini. Niat awalnya paling 1-2 bab tapi ternyata tahu-tahu keterusan sampai hal 200 lebih.  

Dan kesimpulan saya, untuk genre traveling, saya lebih suka non fiksi daripada fiksi, karena bagi saya pribadi, yang membuat saya tertarik membaca traveling, karena saya lebih ingin mengetahui senyata-nyatanya dan sebenar-benarnya setiap kondisi dan budaya masyarakat suatu negara.   
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...