Kamis, 30 April 2015

THE NAKED TRAVELER: 1 YEAR ROUND THE WORLD TRIP - PART 1

Judul: The Naked Traveler: 1 Year Round The World part 1
Penulis: Trinity
Editor: Nurjannah Intan
Proofreader: Pritameani & Titish A.K. 
Jumlah halaman: 260 halaman
Cetakan 1, September 2014 (115/555)
ISBN: 978-602-1246-14-6
Segmen: Remaja, dewasa
Genre: Non fiksi, traveling, personal literature
Rate: ★★★½

Negara: Eropa (just a little), Brasil, Cile, Ekuador, Peru. 


Nama Trinity adalah salah satu nama terdepan untuk penulis buku-buku bertema travel. Para pembaca (termasuk saya) menyukai gaya menulis Mbak T yang cenderung blak-blakan dan jauh dari kesan kaku atau standar. Selain itu pembahasannya seputar traveling selain informatif juga ditulis dengan sangat menghibur, karena Mbak T tidak hanya membahas mengenai tempat-tempat wisata dari suatu tempat tapi juga kebiasaan masyarakatnya dan tentunya pengalaman-pengalaman serunya (baik yang menyenangkan maupun tidak) dari setiap tempat yang dikunjunginya dengan gaya pengemasan yang terkadang kocak. Tak hanya itu Mbak T juga suka berkunjung ke tempat-tempat yang tidak biasa  (bukan destinasi turis) yang tentunya sangat menambah pengetahuan bagi saya. Karena itu saat tahu kalau Mbak T sedang traveling keliling dunia selama setahun, saya coba tahanin tidak membaca keseluruhan blognya, karena saya ingin membaca ceritanya dari buku. 

Dan saat buku ini diterbitkan, saya pun langsung PO edisi bertanda tangan di tokbuk online langganan. 

Saya akan berikan saja kesan singkat dari setiap negara:


1. Packing. Ini sih standar saja, lebih berupa tips-tips mengemas barang bila ingin berpergian dalam jangka waktu lama. 
2. Mencret di udara. Saya tidak bisa membayangkan deh kalau saya sampai harus mengalami kejadian macam itu. Mbak T benar-benar mendeskripsikan salah satu "nightmare" saat traveling. 

Eropa
3. Rusia Seram: Jujur, saya rada kecewa karena tidak banyak informasi yang bisa saya dapat di bab ini, Padahal saya pengen tahu seperti apa Rusia. 
4. Ice Hockey, Bir dan Cewek: Sedikit cerita mengenai kebiasaan warga Finlandia.   
5. Tepat Waktu: Selain Israel, di Eropa utara ternyata orang-orangnya bisa memprakirakan waktu dengan sangat tepat hingga menitnya. Seperti di Finlandia yang bisa memprediksi berapa lama seseorang akan tiba di suatu tempat. Misal tiba di stadion jam 16.37, sampai rumah jam 19.17, mungkin hal aneh bagi orang Indonesia dengan menitnya yang cenderung ganjil tapi di negara maju, ketepatan waktu hal yang biasa. 
6. Hostel Ehem: Pengalaman kurang beruntung Mbak T di sebuah Hostel di Lithuania karena ada room mate sedang ML saat sedang tidur pulas yang ditulis dengan gaya kocak. Cerita yang ini pernah saya baca di blog The Naked Traveler dan saya lebih suka versi blog, meski 90% sama, sebab di buku, tulisan Mbak T ada yang dipotong karena itu rasanya kurang utuh. Kalau di blog menurut saya kesewotan Mbak T lebih terasa dibanding di buku, selain itu bagian komennya juga bikin saya tertawa. 
7. Republik U┼żupis: Saya pun juga baru tahu ada negara ini atau lebih tepatnya negara-negaraan. 
8. Seramnya Camp Konsentrasi Nazi: Ini lebih ke perenungan sih. 
9. Pelarian Kriminal: Biasanya tulisan Mbak T itu lucu, tapi untuk bab ini lebih terasa suspense

Brasil
Kesan yang saya dapat dari Brasil dalam buku ini adalah penduduk mereka itu jelas lebih periang dan easy going dibanding Indonesia. Dan bagi Mbak T, Brasil menjadi negara ketiga yang penduduknya (terutama cowok-cowoknya) good looking setelah Italia dan Israel, jadi yang seperti Kaka itu (menurut Mbak T) mukanya sudah pasaran di Brasil. Bagi masyarakat Brasil, sepak bola dan pantai sudah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Brasil, seperti halnya agama bagi orang Indonesia, jadi sangat aneh dan tidak lazim kalau ada warga Brasil yang tidak suka kedua hal tersebut. Main volly pantai pun bukan memakai tangan namun memakai kaki dan rata-rata penduduk bisa menyundul bola dan mendribble bola dengan kaki (pantas Penta Campeon), kalau ke pantai pun buka cuma 2-3 jam, tapi bisa dari pagi sampai matahari terbenam. Makanya pantai di Brasil selalu crowded


Source
Penduduk Brasil juga pede sama tubuhnya, karena mereka suka memakai pakaian sexy dan bikini super mini yang hanya menutupi 2% dari bagian tubuh, meski begitu telanjang bulat itu dilarang di Brasil. (Saya sudah gugel dan memang benar, saat ke pantai, bikini mereka itu membuat mereka terlihat nyaris naked, makanya ada istilah Brazilian wax, yang berarti memangkas bulu di seluruh area tubuh).

Selain itu, pemerintah Brasil juga sangat memperhatikan keselamatan penduduknya. Setiap area publik pasti dipasangi penanda keselamatan bila terjadi keadaan darurat. Setiap pantai di Brasil pun dilengkapi oleh penjaga pantai yang mempunyai pos tersendiri dan selalu siap siaga. Kalau soal safety first pemerintah Brasil terhadap rakyatnya sih memang jelas banget, terbukti dari reaksi mereka ketika ada warga mereka yang mau dieksekusi mati di negara lain. #KenapaJadiMengarahKesitu

Cile
Highlight utama di Cile ini ada pada taman nasionalnya. Dan sama seperti Mbak T, saya sangat salut terhadap cara pemerintah dan juga pelaku bisnis pariwisata di Cile menjaga kelestarian taman nasionalnya tetap asri dan bersih meski menjadi destinasi turis. 

Terlihat banget bahwa semua pelaku pariwisata Cile sangat sadar untuk menjaga alam sebaik mungkin dengan tidak membuang sampah jenis apa pun di dalam taman nasional, bahkan kencing dan BAB pun tidak boleh di sungai sebab air di sungai juga menjadi sumber air minum penduduk setempat, karena itu para traveler pun tidak banyak membawa air minum sebab bisa minum air sungai karena bersih dan tidak tercemar.

Peru
Negara favorit Mbak T dari seluruh negara yang dikunjungi selama RTW. Saya juga ucapkan selamat, Mbak T akhirnya berhasil juga mengunjungi Machu Picchu - kota tua Inca yang hilang itu termasuk ke dalam salah satu warisan budaya dunia paling populer yang harus dikunjungi sebelum meninggal (katanya), saking banyaknya orang yang ingin melihat Machu Picchu, pemerintah Peru sampai membatasi tiket hanya boleh 2500 turis/hari. 


Machu Picchu

Selain mengenai Machu Picchu dan alam Peru yang unik, Mbak T juga mengkritik dan memberi saran terhadap pemerintah Indonesia terkait masalah pariwisata. Seperti kritik urusan izin memperoleh visa dan bedanya perlakuan pemerintah Peru dan Indonesia dalam menangani pariwisatanya. Yang sudah pasti lebih unggul Peru dibanding Indonesia  yang selalu tertinggal (again). 

Bahkan Mbak T, mengapresiasi suku pedalaman Peru yang dalam melakukan atraksi turis tanpa mata duitan atau meminta imbalan (saya tahu sih, ini mengacu pada salah satu pengalaman Mbak T di buku sebelumnya mengenai salah satu perilaku suku pedalaman di Kalimantan yang sangat mata duitan, apa karena KKN di sini sudah jadi budaya makanya, ah sudahlah).


Ekuador

Bila Machu Picchu adalah misi utama di Peru, maka kepulauan Galapagos adalah misi utama di Ekuador. Yang pasti bagi yang suka flora dan fauna, Galapagos adalah destinasi impian. 

Saya juga ikut kecewa saat Mbak T gagal memperoleh visa ke Argentina dan Bolivia. Kadang bingung juga sama negara berkembang yang suka pelit dalam memberikan visa. 

Selain itu, Mbak T juga memberikan beberapa tips, rekomendasi dan sedikit serba-serbi. Sedikit yang ingin saya bahas adalah mengenai mengapa jarang bertemu orang Indonesia saat traveling dan berbahagialah jadi orang Indonesia. 

Kalau soal jarang bertemu orang Indonesia di LN, selain karena memang orang kita lebih invest ke materi juga kalau pun traveling, biasanya ke destinasi yang lebih bertujuan untuk belanja, karena orang Indo itu paling doyan belanja, apalagi melihat barang murah, daripada melihat alam, taman nasional atau cagar budaya. Orang Indo lebih suka destinasi turis dan kota yang glamour, modern, ramai dan meriah. Karena saya ingat, salah seorang teman saya yang kaya, cerita kalau mamanya mengeluh bosan saat ke Korea karena lebih banyak melihat budaya Korea seperti membuat Kimchi, dll. Dan sangat senang saat belanja-belanja di Seoul. 


Kalau untuk bab Berbahagialah Jadi Orang Indonesia, saya rasa ini bab sarkasme, bahwa dengan standar hidup masyarakat Indonesia yang masih rendah, maka kita akan lebih terbiasa kalau traveling ke Amerika Selatan, secara masih sebelas dua belas dalam hal kesemrautan, pelayanan yang payah dan fasilitas publik yang busuk, berbeda dengan turis bule dari Eropa, USA dan Aussie yang selalu mengeluh kalau pergi ke negara berkembang akibat fasilitas busuk dan pelayanan publik yang payah karena mereka terbiasa dengan kemudahan dan keteraturan di negara maju. 

Tapi di satu sisi, juga salah satu alasan mengapa orang Indonesia ogah ke Amerika Selatan atau negara lain yang masuk kategori negara berkembang dan lebih memilih destinasi populer macam Eropa atau negara Asia lain yang sudah maju. Karena saya ingat, salah satu customer saya pernah berkata bahwa dia ogah ke Thailand, India atau negara yang penduduknya juga miskin seperti Indonesia dengan alasan, buat apa jauh-jauh ke negara yang masih semraut kalau di Indonesia juga ada. 

Overall, seperti biasa saya selalu menikmati buku The Naked Traveler yang informatif dan menghibur meski jika ada hal yang saya rasa kurang dari buku ini adalah beberapa bagian terasa ditulis dengan tergesa-gesa. Eniwei, sekarang saya sudah membuka part 2. 


Reviewed by:

Lucky Number 15 RC: Dream Destination



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...