★★★
Judul Buku: Get Lost
Pengarang: Dini Novita Sari
Penerbit: Bhuana Sastra (BIP)
Penyunting: Agatha Tristanti
Jumlah Halaman: 198 Halaman
Segmen: Remaja, Dewasa
Genre: Travel Lit, Drama, Realistic Fiction
Harga: Rp 32.500
Jadi mana yang mau duluan? Ceritanya atau langsung ke pembahasannya? Saya rasa mari kita mulai dengan inti ceritanya dulu.
Buku ini berkisah tentang seorang gadis bernama Lana Sagitaria yang sedang mencari arti perjalanan hidup dengan melakukan perjalanan di tengah-tengah rutinitasnya sebagai seorang pekerja kantoran. Tapi rupanya Lana tidak hanya sekedar melakukan perjalanan. Lana juga tengah berusaha mencari seseorang. Siapakah orang tersebut yang membuat Lana sampai rela menempuh jarak ribuan mil, mulai dari Bali, Singapore, Korea hingga pulang ke Surabaya? Berhasilkah Lana berjumpa dengan orang tersebut?
I easily Get Lost because
The plot sometimes get lost. Seorang penulis pernah berkata, bahwa sekarang ini penulis berlomba-lomba menciptakan ejaan yang baku, diksi yang keren, bahasa yang puitis dan berbunga-bunga namun melupakan satu hal penting dalam menulis fiksi yaitu plot. Terkadang apa yang membuat seorang pembaca merasa betah atau tidak bosan dalam membaca suatu buku bukan karena penuturan atau gaya bahasa semata, tapi karena plotnya. Plot yang terstruktur akan membuat pembaca betah untuk tetap fokus membalik halaman demi halaman. Saya agak lama menyelesaikan buku ini karena jalinan plotnya kurang kuat. Jadinya untuk seseorang yang gampang teralihkan seperti saya, terkadang suka menunda bacanya, karena ada hal lain yang lebih menarik perhatian saya.
Ini hanya sekadar pengandaian saja dari saya, misal, bab 1, plotnya meminta ijin cuti dari kantor. Nah penulis bisa mengeksplorasi betapa susahnya minta ijin cuti, karena kerjaan kantor lagi banyak, sementara ia sudah terlanjur booking tiket pesawat, terus bosnya tidak memberi ijin karena ada proyek yang harus dikerjakan. Bab 2, plot utama cari hostel murah di Bali. Tapi ternyata karena di negara-negara 4 musim sedang winter, akibatnya Lana susah cari hostel karena banyak yang sudah penuh. Sempet ada adegan ini, tapi cuma sebentar. Padahal bakal lebih seru, kalau Lana itu kelabakan karena hingga malam tiba belum ketemu hostel dan terpaksa bermalam di rumah seseorang yang bekerja sebagai PSK, tapi dari sana Lana mendapat pelajaran hidup yang penting. Lalu sepanjang cari hostel, bisa diceritakan kalau hostel-hostel yang ditemui Lana, banyak yang aneh-aneh, dst.
Untuk seseorang yang berencana Get Lost, perjalanan Lana tergolong lancar dan smooth menurut saya, padahal saya berharap ada sesuatu yang bisa bikin Lana merasa kesusahan, panik dan putus asa kalau perlu :P
Bali dan Sela. Saya bingung apa sebenarnya plot atau cerita tentang Bali? Sementara Sela, saya merasakan bab ini hanya sekedar filler saja.
Singapore. Saya setuju dengan review-review lain mengenai banyaknya faktor kebetulan, dengan berbagai kemudahan yang didapat Lana sepanjang perjalanannya. Saya berharap daripada cerita soal bule dan kekasihnya, penulis membuat cerita tersesat di Singapore. Misal, Lana terpaksa menginap di hotel kawasan Geylang dan mendapat pengalaman seperti teman saya yang sewaktu ke Singapore, menginap di hotel kawasan Geylang dan setiap malam suka mendengar suara orang merintih-rintih. #mulaibablasOOT
Korea. Agak berasa ini plotnya agak K-drama. Dan di sini juga, penulis lebih bercerita mengenai cerita karakter pendamping alih-alih karakter utama. Mengapa tidak cerita mengenai kebiasaan masyarakat Korea yang dianggap tak lazim di mata kita. Sedikit sharing cerita, ada cerita lucu dari 2 orang pendeta Indonesia yang pernah ke Korea. Saat di Korea, mereka kaget karena rumah yang ditempatinya tidak ada kamar mandi, hanya ada WC untuk panggilan alam. Rupanya orang Korea itu tidak sesering orang Indo kalau mandi dan kadang rumah sederhana suka tanpa kamar mandi, jadi kalau mau mandi, harus di pemandian umum. Bentuk pemandian umum ini seperti ruko (yang suka baca manga pasti tahu) yang dalamnya berisi bak-bak besar.
Tapi yang bikin aneh bagi orang Indonesia adalah mandi sama-sama dengan telanjang bulat, meski sesama jenis sekalipun. Akhirnya dua pendeta ini memutuskan untuk tetap memakai celana dalam dengan alasan bagian tersebut terlalu pribadi untuk dilihat publik, yang berakibat orang Korea melihat 2 pendeta dari Indonesia ini aneh (karena mandi dengan tetap menggunakan celana dalam) dan 2 pendeta ini justru melihat orang Korea yang aneh. Apa maksud cerita saya sih? maksud saya itu culture shock.
Surabaya dan sekitarnya. Ini adalah salah satu plot utama dalam buku ini. Seandainya saja penulis ingin memasukkan genre misteri, saya rasa buku ini akan lebih menarik, bahkan bisa dikasih judul "Where is Dharma?"
When main character is the author herself
Saya tahu sih, kalau buku ini banyak diinspirasi dari pengalaman penulis sendiri. Tokoh utama pun juga mungkin secara tidak langsung mengambil kepribadian penulis juga. Seandainya ini non fiksi, saya tidak akan cerewet, tapi untuk sebuah fiksi, saya berharap karakter yang lebih imajinatif (baca: berbeda dengan kepribadian penulis, cerita boleh sama tapi karakter, buatlah semenarik mungkin, misal kikuk, teledor, ambisius, sarkastik, pemberontak) saya termasuk yang lebih suka 3rd person POV atau sudut pandang orang ketiga, karena ada kalanya saat membaca sudut pandang orang pertama, penulis suka tertukar dengan karakternya sendiri.
Penuturan
Cara penuturan di buku ini, seperti personal literature. Jadi kita seperti membaca jurnal perjalanan Lana. Untuk bagian awal, saya merasa penuturannya agak terasa membosankan. Sepertinya hal ini dikarenakan terlalu banyak monolog. Saya sebenarnya tidak masalah dengan monolog, asal porsinya pas, tidak berlebihan (misal terlalu banyak membahas pemikiran atau perasaan si tokoh utama). Bahkan monolog pun harus masuk bagian dalam plot, misal menjelaskan adegan flashback. Untunglah saat masuk bab Singapore, tampaknya penulis sudah mulai enjoy dalam menulis ceritanya.
Gaya Bahasa
Saya tidak tahu mengapa, tapi pada bab-bab awal, gaya bahasanya terasa sangat baku dan kaku. Bahkan saya pun membacanya jadi berasa tidak lepas dan tidak santai.
Selain itu terkadang perpindahan adegan terasa terlalu cepat, tanpa penghubung. Misal adegan Oleq kasih lihat KTP-nya ke Lana. Saya rasa akan lebih enak dibaca bila Lana juga memberi sedikit penjelasan mengenai apa yang dilihatnya dalam KTP tersebut alih-alih langsung memberitahukan kesimpulannya pada pembaca.
Memorable quote:
Dan baru-baru ini aku menyadari, kalau kenyamanan itu mencandu, menimbulkan rasa ketergantungan yang akut. Dan aku rasa, sudah tak seharusnya lagi aku bergantung kepada dia."Pesan terakhir saya untuk penulis.
"Selamat atas buku perdananya, dinoy. Saya tunggu karya-karyamu selanjutnya, baik fiksi maupun non fiksi. Menulislah tanpa peduli dengan peraturan. Menulislah seperti apa yang kamu rasakan dengan hatimu, menulislah dengan mengekspresikan emosimu."