Selasa, 31 Desember 2013

BOOK REVIEW: (NOT) ALONE IN OTHER LAND


★★★½
Judul (Not) Alone In Other Land
Penulis: Lia Indra Andriana, Fei, Andry Setiawan
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 276 Halaman
Segmen: Semua Umur
Genre: Travel, Personal Literature
Harga: Rp 45.000

Rasanya sudah lama sekali saya tidak membaca buku bergenre perjalanan yang sifatnya juga Personal Literature. Padahal saya selalu tertarik mengenai buku-buku yang membahas perjalanan dan perbedaan budaya.

Buku ini terbagi dalam 3 catatan perjalanan 3 orang Indonesia ke negara-negara di Asia Timur jauh, yaitu Lia di Korea (Seoul), Fei di Cina (Shanghai) dan Andry di Jepang.

Seoul
"Hai", sebuah sapaan sederhana yang bisa membawa kita lebih mengenal orang lain."
Kisah ini bercerita tentang Lia yang sedang belajar Bahasa Korea di Seoul. Lia belajar bahasa di Universitas Sungkyunkwan, walau universitas tersebut terkenal berkat dramanya yang berjudul Sungkyunkwan Scandal, namun bukan karena alasan itu Lia memilihnya. Tapi karena universitas tersebut adalah yang paling kooperatif dalam membalas email-emailnya saat mendaftar.

Di sini Lia menceritakan kesehariannya sebagai pelajar asing di Korea. Di sana Lia juga bertemu dengan banyak pelajar asing dari negara lain, biasanya Cina dan Jepang. Alasan mereka belajar bahasa Korea bermacam-macam. Kalau orang Cina biasanya karena urusan kerja, terutama bila mereka ingin bekerja di perusahaan-perusahaan Korea, sedangkan untuk orang Jepang, terkait demam budaya pop Korea seperti drama dan K-Pop. Bagaimana dengan Lia sendiri, apa yang membuatnya tertarik belajar bahasa Korea? Lebih baik baca sendiri di bukunya. 

Selain itu Lia  juga menceritakan hubungan yang akrab antara guru dan murid di Korea

***

Yang saya suka dari cara bertutur Lia mengenai Seoul atau Korea adalah kenetralannya. Saat membahas sesuatu, Lia menuliskan segala sesuatu berdasarkan apa yang ia lihat, alih-alih apa yang hanya ingin ia rasakan. Jadi penulisannya terasa bebas dari kesan judgemental atau stereotype ataupun self-centered sebagaimana yang biasa ada dalam Personal Literature. Terkecuali cerita tersebut mengenai diri Lia sendiri, maka yang lainnya terasa apa adanya. Seolah kita seperti sedang membaca repostase dari majalah atau koran yang lebih membahas mengenai berita atau informasinya daripada perasaan penulis sendiri.  

Yang ngga saya suka, eh mungkin, saya penasaran sama pandangan Lia tentang orang Korea pada umumnya #buntutnyatetappenilaian. Terus penasaran, apa ada perasaan homesick atau rindu makanan Indonesia githu? Yah, dibanding Fei dan dan Andry, waktu Lia di negeri orang paling singkat, hanya 3 bulan. 

Shanghai
"So, it's a nice start to build friendship by saying 'hello' to your international friends using their mother language."
Cerita berpindah ke negeri Cina, tepatnya Shanghai. Di sini Fei menceritakan mengenai awal mula perjuangannya dalam belajar bahasa mandarin di Shanghai. Dan awal memang selalu terasa berat, karena di Cina, nyaris semua orang tidak bisa berbahasa Inggris yang sempat bikin Fei frustasi. Namun Fei sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk keluar dari zona nyamannya dan belajar mengenai hal-hal baru. 

Di sini juga Fei menceritakan mengenai kehidupan teman-teman Internationalnya selama di asrama termasuk kehidupan mahasiswa lokal yang justru kampusnya jauh lebih sederhana dari mahasiswa International. Juga perjalanan backpacker pertamanya bersama seorang mahasiswi asal Korea di kota lain di Cina.
***

Setelah membaca cerita Seoul dari Lia, kini kita beralih ke Fei yang belajar bahasa Mandarin di Shanghai. Dari cara bercerita, terasa sekali perbedaan karakter Fei dan Lia #yaiyalah. Seperti Personal Literature pada umumnya, di sini saya merasakan penilaian penulis secara pribadi akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya yang terkadang terasa sarkastik. Tapi saya suka sarcasm :D

Tetapi intinya baik Fei dan Lia, sama-sama menekankan betapa pentingnya untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu bila ingin berteman dengan orang lain. Persamaan lain adalah betapa pentingnya untuk memiliki suatu 'kelompok' daripada sendirian di negeri orang. 

Satu catatan saya ada di bab terakhir yang Fei ngejar-ngejar pesawat, itu kenapa akhirnya anti-klimaks? Kok tidak ada penjelasannya? Apa pesawatnya terlambat? Atau orang-orang sana yang punya kecenderungan terlambat dan selalu santai saat di bandara?

Jepang

Berbeda dengan Lia dan Fei yang memilih sendiri tempat belajar yang mereka inginkan, Andry mendapat kesempatan belajar bahasa di Jepang melalui jalur beasiswa. Sehingga tempat belajar atau sekolahnya sudah ditentukan oleh pihak Japan Foundation. Dibanding Lia dan Fei, Andry memiliki waktu tinggal yang paling lama di Jepang, karena selain belajar bahasa, Andry juga bekerja sebagai seorang karyawan di Jepang. 

Keseharian Andry hanya dibahas singkat, seperti betapa setiap orang lebih nyaman berkumpul dengan sesama orang dari negara mereka sendiri.  Lalu betapa senioritas di Jepang sangatlah penting dan terasa, juga penggunaan toilet atau WC di Jepang yang lebih rumit dibanding toilet pada umumnya, karena untuk sebuah toilet mempunyai banyak tombol yang kalau salah pencet bisa berakibat sangat tidak nyaman. 

Andry juga menceritakan mengenai pertemanan singkatnya dengan orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya ke Yakushima. Bagaimana sebuah proses sederhana yang bernama membuka diri bisa membuat seseorang mendapatkan teman seperjalanan.


***

Dibanding Lia dan Fei, kisah Andry di Jepang ini paling banyak curhatnya. Terutama soal perasaan galaunya dalam hal mengungkapkan perasaan dan pendapat. Terus perasaan kesepiannya karena tidak ada teman. Kentara banget karakter penulisnya sangat introvert, mudah cemas, dan terlalu mikir panjang. Heheheh agak mirip-mirip saya nih. 

Walau tema utama pembahasan mengenai Jepang, tapi saya berasanya dari 3 cerita, ini yang penuturannya terasa paling personal. Pokoknya banyak banget tips-tips persahabatan dan relationship, contohnya nih:
"Tanpa komunikasi, seseorang tak akan bisa menjadi sahabat. Komunikasi tak hanya membutuhkan telinga tetapi juga mulut. Mulut yang jujur."
"Saat keduanya saling memahami, akan ada ikatan kecil yang terjalin dari hati ke hati, berdegup seirama."
Sewaktu Andry mengajak kita melanglangbuana ke hutan untuk melihat pohon-pohon Cedar tua, di mana mahluk hidup sejenis hewan juga jarang ditemukan dan suasana hutan yang sakral, entah mengapa saya teringat hutan bidadari merah dari manga Garasu No Kamen

Selain itu, dibanding Lia dan Fei yang penuturannya terkesan lugas, penuturan Andry sangat terasa seperti penulisan kreatif, karena banyak bahasa puitis dan metafora, macam 'jantung serasa diremas-remas' atau 'berdegup seirama' atau 'bergalon-galon air seperti ditumpahkan dari langit'. Jadi berasa karakter penulis itu mellow atau melankolis, terlepas apakah memang benar begitu atau tidak, tapi untuk buku non fiksi bagi beberapa orang penuturannya terasa agak lebay, sebaliknya seandainya ini fiksi, justru bagus untuk karakterisasi.

Akhir review, saya menikmati membaca buku ini, padahal tadinya saya tidak ada rencana membaca buku ini di bulan Desember, tapi untuk tahun depan, Namun setelah saya baca buku Get Lost-nya Dinoy, saya tiba-tiba pengen baca buku ini. Niat awalnya paling 1-2 bab tapi ternyata tahu-tahu keterusan sampai hal 200 lebih.  

Dan kesimpulan saya, untuk genre traveling, saya lebih suka non fiksi daripada fiksi, karena bagi saya pribadi, yang membuat saya tertarik membaca traveling, karena saya lebih ingin mengetahui senyata-nyatanya dan sebenar-benarnya setiap kondisi dan budaya masyarakat suatu negara.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...