Selasa, 13 Mei 2014

TRIANGULAR LABYRINTH: MENARIK TAPI EKSEKUSINYA TERBURU-BURU

Judul Buku: Triangular Labyrinth
Pengarang: Lommie Ephing
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Veronica Vonny
Desain Cover: Eduard Iwan Mangopang
Jumlah Halaman: 256 Halaman
Cetakan, Maret 2014
Segmen: Remaja, Dewasa-muda
Genre: Fantasi
Harga: Rp 35.000 (30% off dari Rp 50.000, ultah Gramedia)
Rate: ★★★

Luna selalu membuat kehidupan Mauren tidak bahagia. Sejak kelahiran adiknya itu, perhatian kedua orang tuanya seolah tercurah hanya untuk Luna. Apapun yang diinginkan Luna selalu dituruti. Luna adalah nomor 1, sedangkan Mauren seperti anak tiri. Semuanya terasa sangat tidak adil bagi Mauren. 

Puncaknya adalah saat kedua orang tuanya membatalkan liburan mereka sekeluarga ke Bali, dan itu semua akibat ulah Luna. Tidak terima, Mauren memaki-maki Luna dan mendapat tamparan keras dari Papa untuk pertama kali dalam hidupnya. Mauren sakit hati dan ia berharap agar adiknya, Luna lenyap saja dari kehidupannya. 

Dan keinginan itu terkabul. Sebuah papan permainan yang bernama Triangular Labyrinth, yang ditemukan Mauren di suatu toko mainan yang terbakar telah membawa adiknya itu masuk ke suatu dunia antah berantah yang sangat berbahaya. Tapi alih-alih senang karena Luna menghilang, Mauren justru merasa sangat bersalah, dan ia menyadari bahwa ia sebenarnya menyayangi sang adik, apalagi setelah ia tahu rahasia sang adik. 

Merasa bertanggung jawab, Mauren pun menyusul sang adik masuk ke dunia antah berantah tersebut untuk mencari, menemukan dan membawa pulang kembali sang adik. 

Namun ternyata mencari Luna dalam dunia aneh tersebut tidak mudah, selain harus siap menghadapi banyak mahluk-mahluk berbahaya yang siap memangsanya, Mauren tidak punya petunjuk mengenai keberadaan sang adik. Yang ia tahu setelah beberapa saat menemukan Luna, seekor burung gagak raksasa pemakan daging langsung menculik sang adik dan membawanya pergi. 

Beruntung, Mauren bertemu Zermus, mahluk yang tidak bisa terlihat oleh mata ini bersedia untuk membantu Mauren menemukan sang adik. 

Maka dimulailah petualangan Mauren di Triangular Labyrinth untuk menemukan Luna. 


Ceritanya Cukup Menarik

Sewaktu melihat sampul depannya, saya langsung penasaran, karena gambar bayangan centaur di depannya langsung memberitahu saya bahwa buku ini bergenre fantasi. Salah satu genre favorit saya, dan setelah saya baca sinopsis dan lihat nama pengarangnya, ternyata buku ini fantasi lokal. Jarang-jarang ketemu fantasi lokal di tengah gempuran buku fantasi terjemahan dan genre non fantasi lokal. Selain tertarik karena covernya, saya juga suka akan sinopsis di belakang buku yang bertema keluarga. 

Secara konsep, Triangular Labyrinth ini cukup menarik, walau ide ceritanya mengingatkan saya akan suatu film di tahun 90-an yang berjudul Jumanji, kisah mencari adik yang hilang ke dimensi lain juga mengingatkan saya akan cerita dari novel The Iron King, namun gaya bahasa dan penuturan yang ringan membuat buku ini gampang untuk dinikmati, saya pun hanya butuh 1 hari untuk membacanya. Beberapa orang mungkin takut kalau genre fantasi akan terasa berat, tapi tenang saja, buku ini mudah dibaca, walau konten ceritanya sebenarnya cukup serius.

Untuk bagian awal, saya sempat mengira kalau buku ini sejenis bacaan remaja yang ringan dengan persoalan klise macam cowok dan teman. Tapi ternyata saya salah, buku ini lebih ke tema persaudaraan atau keluarga. Dan bahkan pada beberapa adegan terasa cukup sadis dan konfliknya juga serius, makanya meski tokoh Mauren baru berusia 17 tahun saya tidak melihat ada label teenlit di sampul depannya. Karena memang ceritanya bukan tipikal teenlit. Tapi meski ada adegan sadis, penggambarannya cepat dan halus, jadi tidak terlalu menakutkan. 

Sekarang bagian protesnya (may contain spoiler)

Nah ini dia bagian yang kurang menurut saya. Pertama para karakter. Saya merasa karakternya pada tidak konsisten. Hanya Zermus, sang Varaktus yang konsisten, selebihnya macam Mauren dan Pangeran Edmun tidak konsisten. Terutama Edmun yang digambarkan pengecut dan takut mati lalu menjadi "langkahi dulu mayatku", lalu dari gentleman jadi suka main tampar dan tebas lalu berubah jadi gentleman lagi (sepertinya Edmun ini tipe yang kiss and slap yah dan banyak adegan tampar-menampar di buku ini). Yang saya tangkap, karakternya over pede, suka gombal, suka memaksakan kehendak (mungkin karena dia pikir dia anak Raja jadi semua orang harus menurut padanya, tapi lakukan dengan gaya yang lebih elegan donk) dan tentu saja temperamental. Untuk saya pribadi meski berkali-kali diberitahu ganteng, tapi tetap jauh dari likeable.

Untuk pemeran utama sendiri yaitu Mauren, saya masih menganggap Mauren itu damsel in distress. Kalau bukan karena Zermus, mungkin Mauren sudah gagal sejak awal. Dan selebihnya ia selalu ditolong oleh nyaris semua karakter dalam buku. Selain itu sifat Mauren juga menyebalkan menurut saya. Sering perhatiannya teralihkan lupa akan tugas utamanya datang ke Triangular Labyrinth dan Mauren juga self-centered. Padahal karakter Mauren seharusnya bisa dikembangkan atau ada unsur redemption dari yang tadinya egois dan menyebalkan bisa lebih tangguh, berani, berpendirian dan berjiwa besar, tapi saya masih belum menangkap gambaran perubahan ini, selain dari masalah menolong adiknya.

Kedua, plot cerita yang terburu-buru dan terasa janggal. Saya tidak tahu apakah penulis diberi batasan halaman. Tapi beberapa hal terasa janggal, seperti mengapa Mauren tidak fokus dalam mencari adiknya. Masih sempat-sempatnya menikmati pesta dansa, menikmati memilih gaun-gaun & bersenang-senang sama Pangeran, padahal nasib sang adik masih tidak jelas dan waktunya sempit, kenapa tidak langsung ngomong ke Pangeran kalau ia lagi mencari adiknya, secara Pangeran pasti punya pasukan untuk membantu. Memang akhirnya Mauren dibantu, tapi setelah melalui beberapa plot ala opera sabun  keluarga bangsawan yang menurut saya tidak terlalu relevan.

Selain itu Mauren juga seolah tidak banyak diberi kesempatan untuk bereaksi pada beberapa bagian plot. Ia tampak hanya sekedar mengikuti dramanya saja alih-alih sebagai karakter utama, dan inilah yang saya maksud dengan plot yang terburu-buru. Termasuk PDKT dari sang pangeran yang terlalu instant (baiklah anggap saja pangerannya memang gemar merayu).

Karaker yang saya suka di sini Zermus karena ia yang paling tulus dari semuanya, tapi juga karakter yang paling dikasihani. Walau saya ngerti sih pasti bakal aneh rasanya kalau melihat romens Zermus & Mauren. Saya ini tipikal yang kurang bisa memahami hubungan asmara beda species. Beda species yang saya maksud di sini tuh misal burung onta sama badak bercula satu (metafora aja). Saya bisa menerima kalau masih ada wujud manusia utuhnya, misal vampire, shape shifter, malaikat, dll. Kalau untuk romens Edmun-Syanne, saya melihatnya terlalu lebay. Tapi untunglah (terlepas dari adegannya yang kadang cheesy) porsi romens dalam buku ini pas alias masih sebagai bumbu penyedap dalam cerita.

Akhir review, selamat untuk penulis atas novel pertamanya ini. Saya suka dengan gaya bahasanya yang ringan tapi padat, seandainya ada sekuelnya, saya pasti akan membacanya lagi, karena masih banyak hal yang bikin penasaran. Semoga makin banyak genre fantasi lokal terbit di Indonesia dengan cerita yang bagus dan makin variatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...