Rabu, 17 Juni 2015

RECOLLECTION: FANTASI LOKAL DENGAN DENGAN RASA ANIME DAN GAME

Judul Buku: Recollection (Ther Melian Series)
Pengarang: Shienny M. S. 
Penerbit: Elex Media
Editor: Desy Natalia
Jumlah halaman: 460 halaman
Cetakan 1, Juni 2013
ISBN: 978-602-02-1388-0
Segmen: Remaja
Genre: High Fantasy
Rate: ★★★½


Menjelang festival perayaan musim kemarau, serangkaian pembunuhan sadis terjadi di desa Dominia, membuat para warga desa menjadi resah dan jam malam pun diberlakukan. Elya, gadis Vier-Elv yang juga penduduk Dominia menemukan seorang pemuda misterius dalam keadaan sekarat di malam terjadinya salah satu peristiwa pembunuhan sadis tersebut. 

Namun alih-alih mencurigai keterlibatan pemuda misterius tersebut, Elya memutuskan untuk membawa pemuda tersebut ke rumahnya serta merawat luka-lukanya dengan harapan saat si pemuda siuman, ia bisa memberitahukan bagaimana peristiwa pembunuhan sadis tersebut terjadi. Sayang harapan Elya pupus, karena saat tersadar si pemuda tidak ingat siapa dirinya dan tidak bisa memberi petunjuk apa pun mengenai peristiwa pembunuhan sadis tersebut. Karena si pemuda lupa akan namanya, Elya memutuskan untuk memberi nama si pemuda misterius tersebut, Lucca, yang berarti "Si Anak Hilang."

Sementara rentetan pembunuhan sadis masih terus terjadi di sekitar Dominia, Lucca mendapati beberapa kilasan ingatannya kembali dan menyadari bahwa ia ada hubungannya dengan salah satu peristiwa pembunuhan di Dominia. 

Siapakah sebenarnya Lucca? Apakah ia ada hubungannya dengan peristiwa-peristiwa pembunuhan sadis yang terjadi di Dominia? Siapakah pelaku dari serangkaian pembunuhan sadis tersebut? Apa motif dibalik peristiwa pembunuhan tersebut di sekitar Dominia?

My thought

Misteri fantasi. Itulah yang ada dalam benak saya sepanjang membaca Recollection. Karena kisahnya seperti novel detektif. Di mana ada pembunuhan lalu beberapa petunjuk mulai terungkap dan pembaca terus dibuat penasaran dengan serangkaian peristiwa pembunuhan yang terjadi di sekitar desa Dominia sambil menebak-nebak si pelaku. Cerita kali ini bukan menyelamatkan Ther Melian yang melibatkan kerjasama antara ras dan negara tapi menyelamatkan sebuah desa dan battlenya pun hanya skala kecil. Meski begitu, cerita tetap enak diikuti dan prosanya pun ngalir. 

Meski buku ini terbit sesudah Ther Melian, namun cerita dan setting waktunya sendiri terjadi 20 tahun sebelum peristiwa di buku tetralogi Ther Melian, jadi lebih cocok disebut prekuel. 

Plot
Plotnya rapih dan runut, meski awal-awal kisah digulirkan secara lamban karena penulis berusaha membangun adegannya cukup detil. Tapi karena plot yang rapih, sebagai pembaca saya selalu dibuat penasaran akan "apa yang terjadi berikutnya." dan saya suka dengan twistnya meski akibat baca review, saya jadi sudah tahu apa itu twistnya. Dan saya juga suka bagaimana ending si villain yang penyelesaiannya cukup though, karena sering villainnya digambarkan megalomaniac psikopat pintar, tapi ternyata "akhirnya githu" doank. Untunglah tidak di Recollection.

Gaya Bahasa
Sama seperti Ther Melian, karena segmen novel ini adalah remaja, gaya bahasanya ringan dan sederhana. Saya lebih suka gaya bahasa seperti ini daripada gaya bahasa yang berusaha keras terlalu "nyastra" dan justru bikin kening berkerut. 

Karakter

Dua tokoh utama Elya dan Lucca adalah tokoh-tokoh dengan moral putih dan cenderung lurus. Jadi saya kira, mereka akan mudah disukai oleh pembaca. Meski terkadang tokoh Elya terlihat terlalu naif dan terlalu positif thinking, membuatnya terlihat one dimesional. Meski ditinggal oleh ibunya yang manusia, Elya sama sekali tidak menyimpan kepahitan terhadap manusia. Apakah memang faktor didikan ayahnya? Tapi saya ingin melihat perasaan dan pendapat Elya terkait masalah rasial, yang sayangnya kurang dibahas. 

Sedangkan untuk Lucca, "job" dan statusnya yang hilang ingatan membuatnya misterius meski sifatnya yang "anak baik-baik" bikin kesan misteriusnya berkurang, selain itu karakternya pun tergolong serius. 

Beberapa karakter dari Ther Melian juga ada di sini, meski perannya hanya figuran seperti Valadin yang idealisnya sudah kelihatan jelas, untung di sini dia nggak annoying. Tapi kalau ditanya siapa karakter favorit saya di Recollection, maka jawabnya adalah Sorren Noleril, ayah Elya yang mulutnya "nyablak" tapi karena itulah saya suka Sorren. Celoteh Sorren membuat cerita menjadi kocak. 

Romance 
Romancenya cuma bumbu penyedap dan juga digambarkan secara halus, jadinya tidak terasa keju seperti beberapa adegan dalam Anthology. Dan saya justru suka sama adegan romance secara subtle ini, karena bagaimanapun juga fokus utama cerita lebih ke misteri dan menyelamatkan Dominia. 

Cover dan Ilustrasi
Kalau ada yang saya kurang suka dari buku ini ada pada ilustrasi di sampul dan ilustrasi pada tiap awal bab. Saya tidak suka bukan karena gambarnya jelek, sebaliknya gambarnya cukup bagus menurut saya, hanya saya saya kurang suka latar belakang tembok yang hancur dan cara menatap Elya dan Lucca. Mungkin lebih cocok kalau latarnya desa Dominia (bukan cuma temboknya) dengan pose Elya yang siap memanah dan Lucca yang posisinya siaga (bukan jongkok). 

Untuk ilustrasi pada tiap awal bab, saya lebih melihatnya sebagai sebuah sketsa kasar daripada ilustrasi. 

3.5 bintang saya sematkan untuk Recollection, karena secara keseluruhan saya menikmati ceritanya, namun ada beberapa bagian yang menurut saya bisa lebih dipadatkan. Beberapa adegan berantem terasa seperti membaca manga atau menonton anime, which actually is good because easier to imagine. Akhir kalimat, saya harap akan ada buku-buku spin-off Ther Melian lain dan tidak lagi membahas ras Elvar. 

Reviewed by:

Lucky No. 15 RC: Super Series.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...