Rabu, 25 September 2013

BOOK REVIEW : SERAPHINA

✭✭✭✭
JUDUL BUKU : SERAPHINA
Pengarang : Rachel Hartman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Poppy D. Chusfani
Desain Sampul : Martin Dima
Jumlah Halaman : 544 Halaman
Segmen : Remaja, Dewasa-muda
Genre : Fantasy, High Fantasy
Harga : RP 85.000 (Lebih murah kalau beli paketan sama The Host, 2 buku Rp 100.000)

Fantasy, misteri, politik, drama, satire, romance dan musik.

Itulah ketujuh unsur utama yang begitu kental mewarnai cerita dalam Seraphina. 

Selama berabad-abad, kaum naga dan manusia saling berperang. Hingga akhirnya kaum naga menemukan cara untuk membuat diri mereka beralih-rupa menjadi manusia. Naga yang berwujud manusia disebut saarantras. Dari sinilah mulai tercipta perjanjian damai antara para saarantrai (bentuk jamak dari saarantras) dengan manusia. Diharapkan naga yang berwujud manusia atau saarantras dapat mengurangi ketakutan manusia akan sosok naga yang seperti monster. 

Perlahan-lahan para saarantrai  mulai memelajari ilmu-ilmu yang dimiliki kaum manusia dan sebaliknya membagi ilmu-ilmu mereka terutama dalam hal logika dan matematis kepada manusia. Berbeda dengan manusia, otak saarantrai bekerja secara logis, matematis dan rasional. Kaum naga tidak mengerti emosi seperti halnya manusia.  

Namun biar bagaimana pun tidak semua pihak menginginkan perdamaian. Dari pihak manusia sendiri banyak yang tidak percaya sama kaum naga dan menganggap mereka tak lebih dari sekadar binatang buas yang menyamar sebagai manusia. Sedangkan dari pihak naga sendiri, banyak yang meremehkan manusia yang mereka anggap lemah dan aneh, karena memiliki emosi yang bisa membuat logika tumpul. 

Seraphina bekerja sebagai asisten pemusik utama di kerajaan Goredd, dan saat ini rakyat Goredd sedang bersiap-siap untuk mengadakan pesta akbar dalam rangka peringatan 40 tahun perjanjian damai antara rakyat Goredd dan kaum naga, pesta tersebut sangat megah dan mengundang banyak tamu besar dari negeri-negeri di sekitar Goredd. 

Namun di tengah persiapan pesta akbar tersebut, terjadi hal yang dapat mengancam kelangsungan hubungan damai antara manusia dan kaum naga, karena salah seorang anggota kerajaan, yaitu Pangeran Rufus ditemukan tewas terbunuh dengan kepala terpenggal. Cara pembunuhan yang umumnya dilakukan oleh kaum naga. 

Mau tak mau, hal tersebut berpengaruh pada persiapan pesta peringatan Malam Perjanjian Damai. Seraphina bekerja sama dengan Pangeran Lucian Kiggs berusaha menyelidiki siapa yang membunuh Pangeran Rufus.

Namun apa yang menyebabkan Seraphina yang seharusnya lebih bekerja sebagai pemusik kerajaan menjadi ikut terlibat dalam penyelidikan tersebut? 


Konflik :
Temukan siapa yang membunuh pangeran Rufus dan alasan yang membawa Seraphina sampai terlibat dalam penyelidikan tersebut. 

Saya agak kesulitan menulis resensi cerita ini tanpa spoiler. Jadi saya akan bahas saja esensi yang saya rasakan dalam Seraphina. Selain plot misteri pembunuhan yang membuat kisah ini mirip cerita detektif, saya juga merasakan drama satire yang dipakai pengarang untuk menuliskan ceritanya. Yang terutama adalah tentang penerimaan jati diri dari sosok Seraphina. 

Separuh awal, cerita terasa berjalan sedikit lamban karena banyak diisi dengan pengenalan karakter Seraphina, seperti kegiatan sehari-harinya sebagai pemusik kerajaan, tugas-tugas yang harus dikerjakan Seraphina, acara-acara yang harus ia hadiri di istana. Dari sini plot akan maju mundur karena penulis menceritakan mengenai masa lalu Seraphina dan orang-orang di sekitar Seraphina. 

Siapakah Seraphina, mengapa ia selalu mendapat visi-visi atau penglihatan yang membuatnya sakit kepala. Cerita ini secara tersirat membahas tentang eksistensi dari keberadaan seorang Seraphina dan dari sinilah arah cerita mulai dapat ditebak oleh pembaca. 

Dari sisi fantasy sendiri, saya suka universe atau world building yang dibangun oleh Rachel Hartman dan atas alasan itulah mengapa saya masukkan juga genre ini ke dalam high-fantasy. Penulis membawa unsur-unsur masalah yang umumnya terjadi dalam dunia real ke dunia alternatif di cerita Seraphina dalam bentuk drama satire,  mulai dari intrik politik antara manusia dan kaum naga, prasangka buruk manusia akan suatu hal yang kurang mereka pahami yang umumnya berujung pada main hakim sendiri, kisah para santo dalam religi di Seraphina, alasan di balik mengapa kaum naga takut akan emosi, sedikit membuat saya deja vu. Dan tentu saja mahluk-mahluk ganjil dalam visi yang didapat oleh Seraphina. 

Bagian romantis, sejujurnya unsur romance dalam cerita ini hanya sedikit dan baru benar-benar diperjelas menjelang ending. Tapi saya justru suka, karena dengan begitu pengarang tidak sampai kehilangan fokus cerita yang lebih mengutamakan konfliknya, seperti ucapan salah satu tokoh, "Dahulukan krisis, cinta bisa belakangan." 

Karakter-karakter dalam Seraphina :
Seraphina cukup punya banyak karakter, mulai dari karakter manusia yang kebanyakan adalah keluarga kerajaan istana dan para pekerja istana hingga kaum naga. Tapi saya akan bahas 2 karakter saja yang saya suka di sini :

Lucian Kiggs, pangeran kerajaan Goredd dan yang nantinya akan menjadi love interest dari karakter utama. Saya suka cara pendeskripsian pengarang mengenai Lucian yang untungnya tidak Gary Stu. Pengarang benar-benar menggambarkan sifat Lucian yang ramah, cerdas, dan gentleman khas ksatria melalui show lewat tindakannya dalam mengatasi masalah dan juga interaksi-interaksinya dengan Seraphina. 

- Orma, saarantras yang juga guru musik Seraphina. Saya merasa lucu bagaimana Seraphina menggambarkan Orma itu seperti anak kucing. Tindakan-tindakan Orma yang berusaha mati-matian menekan segala bentuk emosi namun akhirnya tetap berujung pada kepedulian. 

Untuk Seraphina sendiri, saya cukup suka dengan karakternya, ada sisi dimana ia rapuh namun ada juga sisi di mana ia tangguh. 

Harapan untuk sekuelnya : Moga-moga actionnya lebih diperbanyak. Gaya bahasanya lebih down to earth. Banyaknya istilah musik mungkin agak sedikit membingungkan pembaca pada mulanya namun akan terbiasa saat konflik mulai berjalan. 

Terjemahan, saya tahu, dalam bahasa aslinya pun buku ini termasuk mempunyai gaya bahasa yang agak "tinggi" karena itu saya salut dengan terjemahan buku ini yang cukup luwes, yang membuat saya bisa  mengikuti ceritanya dengan mudah tanpa henti selama 3 harian (mengingat bukunya cukup tebal, ada 544 halaman). 

Ada sedikit typo :
Hal 118 : manyala → menyala
Hal 396 : hadapa → hadapan
Hal 480 : langir →langit
Hal 521 : terdengr → terdengar

Secara keseluruhan saya suka dengan cerita Seraphina dan pasti akan membaca sekuelnya. 

4 komentar:

  1. punyaku masih di timbunan... ( ʃ⌣ƪ)

    BalasHapus
  2. ayo baca donk mbak pustakawati

    BalasHapus
  3. Hiks sudah tertarik dengan buku ini pas lihat di Gramedia u.u tapi ya itu, emmm.. masih banyak yang harus didahulukan ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, so many books, so little time yah :D
      Sama

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...