Selasa, 05 Februari 2013

KNIFE (FAERY REBELS #1)

✮✮✮✮
Judul Buku : Knife - Pemburu Mantra
Pengarang  : R.J. Anderson
Penerbit     : Ufuk Press
Penerjemah : Melody Violine
Jumlah Halaman : 375
Segmen : Anak-anak, Remaja 
Pertama kali tertarik dengan buku ini karena covernya (yah saya akui saya termasuk orang yang suka menambah nilai buku dari covernya) dan saya senang, UFUK tidak mengganti covernya. Dari covernya tentang seorang gadis dengan sayap capung dan latar belakang pohon, saya sudah tau kalau cerita ini mengenai peri dan ini ketiga kalinya saya baca buku YA yang bertemakan peri. 

Di buku sebelumnya yang saya baca tentang peri yaitu The Iron King, ras perinya adalah tipe elf itu loh yang biasa ada di novel-novel high fantasi dengan kuping lancip panjang seperti Legolas (LOTR) dan fisik lainnya persis sama dengan manusia kecuali bahwa elf mempunyai umur yang jauh lebih panjang dari manusia. Nah kalau di sini ras perinya setipe sama pixie yaitu tubuh mereka mungil, cuma segenggaman telapak tangan manusia dan punya sayap serangga, umumnya sayap capung atau kupu-kupu, contoh yang paling mirip seperti Tinkerbell, peri yang ada dalam cerita Peter Pan.

Waktu baca sinopsisnya, saya langsung tertarik karena ngga seperti kebanyakan buku YA urban fantasy, yang tokohnya biasanya manusia dulu lalu terseret dalam dunia mahluk-mahluk mitology atau fantasi dan lalu berubah jadi mahluk-mahluk fantasi itu (vampire, werewolf, peri, penyihir, angel, demon, dll). Kalau dalam KNIFE justru kebalikannya, yaitu tokoh utamanya peri yang tertarik dengan dunia manusia. 

Jadi ada peri muda bernama Knife yang senang berpetualang dan menyukai kebebasan, Knife tinggal di pohon Oak besar bersama para peri lainnya, sayangnya Knife hidup di dunia peri yang semakin sekarat karena populasi peri yang semakin sedikit dan juga para peri telah lama kehilangan sihir dalam diri mereka. Para peri disini tidaklah abadi atau immortal, walaupun mereka tergolong awet muda tapi mereka bisa menjadi tua dan mengalami kondisi "keheningan" lalu memudar. 

Karena para peri tidak abadi, maka  mereka juga harus makan untuk tetap bertahan hidup. Karena itulah dibentuk suatu sistem tugas untuk mencari dan mengumpulkan makanan demi kelangsungan hidup para warga peri atau Oakenfolk. Ada 2 jenis jabatan yaitu Pengumpul dan Pemburu. Pengumpul ini mungkin lebih seperti petani, peri-peri yang bertugas untuk memetik buah-buahan, mencari biji-bijian, dll. Sedangkan pemburu seperti namanya, mereka berburu hewan untuk mendapatkan daging, karena itulah peri yang menjadi pemburu harus mempunyai skill untuk bertarung juga karena selain berburu mereka juga akan berhadapan dengan bahaya lain macam burung gagak yang ingin memangsa mereka.

Knife tidak pernah mengira kalau dirinya akan ditunjuk menjadi Pemburu. Selama menjadi Pemburu, Knife banyak belajar banyak hal, seperti melawan gagak pertamanya, mencari senjata yg pantas untuk melawan gagak yang diambilnya diam-diam dari sebuah rumah manusia dan mengetahui kalau para peri dahulu banyak yang pergi ke dunia manusia untuk mempelajari banyak hal dari manusia. 

Dari sinilah awal petualangan Knife di dunia manusia dan perkenalannya dengan seorang manusia bernama Paul dan bagaimana mereka bisa bersahabat dan saling mempercayai. 

Jadi sejak awal tertarik sama buku ini karena emang beda banget sama buku-buku YA urban fantasy lain, seperti yang saya sebutkan diatas, kalau tokoh utamanya adalah peri yang tertarik dengan dunia manusia, lalu para peri ini juga tidak digambarkan super dalam artian, kuat, abadi, perkasa, jago sihir. Justru peri-peri disini tampak inferior dan lemah dibandingkan dengan manusia dan justru banyak hal mereka pelajari dari manusia seperti seni, dengan kata lain ceritanya terasa manusiawi.

Yang saya suka dari buku ini adalah karakter-karakternya, penggambaran karakter terasa nyata dalam buku ini, misalnya, Knife yang keras kepala, pemberontak tapi peduli dan tidak egois lalu ada peri Wink yang baik hati, lembut dan keibuan, peri Thorn yang galak, keras tapi baik hati. Juga Paul McCormick, pemuda manusia yang pemurung dan putus asa akibat kecelakaan yang menimpanya. 

Buku ini cocok untuk yang suka action dan petualangan, yang suka cerita fantasy ringan dan yang suka cerita romantis. 

Alasan kenapa saya tidak kasih 5 bintang, karena ceritanya sebenarnya klise, mirip dengan cerita Disney yang berjudul Little Mermaid, tapi sang pengarang mengemasnya dengan sangat baik, dan tidak seperti umumnya cerita romance YA, saya suka karena cerita cinta disini tidak egois. Put other peoples first then yourself second. 


Untuk mbak Mel : terjemahannya oke. 

Sayangnya nasib sekuelnya (seri ini terdiri dari 3 buku a.k.a trilogi) tidak jelas mengingat sudah dua tahun lebih sejak rilis pertamanya tidak ada tanda-tanda bakal berlanjut, padahal ini series yang bagus, menarik refreshing dan kaya akan pesan moral, dan salah satu buku yang mengangkat karakter dengan cacat tubuh dan tetap terlihat "cool" well, this book kind of underrated to me. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...