Minggu, 05 Januari 2014

BOOK REVIEW: ROSES ARE RED

 
★★★
Judul Buku: Roses Are Red (Mawar Merah)
Pengarang: James Patterson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 416 Halaman
Penerjemah: B. Sendra Tanuwidjaja
Segmen: Dewasa
Genre: Thriller, Misteri, Detektif

Serangkaian perampokan Bank terus terjadi. Modus operasinya adalah 1 kelompok merampok Bank sementara 1 kelompok lain mengancam para keluarga pekerja Bank dengan cara menjadikan mereka sandera. Apabila para pekerja Bank ini tidak menurut, maka keluarga mereka akan langsung dibunuh. Dan para perampok ini tidak main-main, karena korban terus berjatuhan, mereka tega membunuh mulai dari anak-anak, wanita hamil hingga orang dewasa lain yang tidak berdaya. Semua perampokan dan pembunuhan keji tersebut didalangi oleh seseorang yang mengaku sebagai 'Mastermind'. 

Perampokan bank itu mulai berkembang menjadi skala nasional saat para perampok mulai menyerang institusi-institusi keuangan lain di Amerika. Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi perekonomian Amerika, masyarakat pun menjadi ketakutan, dan membuat menteri kehakiman ikut bertindak dengan memberikan tekanan kepada pihak kepolisian dan FBI untuk segera menangkap Mastermind. 

Detektif bagian pembunuhan, Alex Cross terus berpacu dengan waktu untuk segera menemukan siapa itu Mastemind sebelum jatuh korban lebih banyak lagi. 

What I thought:

Tadinya saya berencana membaca buku ini untuk posting bareng BBI bulan Desember yang temanya misteri atau detektif, apa daya, saya baru selesai membacanya di bulan Januari 2014, padahal saya sudah mulai baca buku ini sejak akhir Desember 2013, cuma berhubung saya ini penunda, makanya baru direview sekarang, hehehe.

Ok, karena ini buku detektif, saya tidak akan membahas banyak-banyak mengenai jalan ceritanya, saya hanya membahas unsur-unsur yang ada dalam buku:

Misteri
Apa yang saya harapkan saat membaca buku misteri atau detektif? Jawabannya adalah plot twist dan buku ini berhasil mengecoh saya hingga membuat saya terbengong pada halaman terakhir. Tapi tidak sampai bikin saya terbengong lama-lama sih, karena sebenarnya di tengah-tengah hal itu sudah dikasih hint mengenai siapa yang mereka cari, hanya saja James Patterson sukses membuat saya berpikir, "Ah tapi masa iya begitu?"

Suspense
Saya suka dengan cerita yang bisa membuat saya tegang? Unsur ketegangan dalam buku cukup berhasil membuat perasaan saya jadi lebih awas saat membaca adegannya. Sayang kurang banyak. Terutama adegan saat si penjahat beraksi.

Curiousity
Pastinya ada banyak hal-hal yang masih bikin saya penasaran, sebagian terjawab dan sebagian besar tidak. Seperti kelakuan psikopat dan motif si penjahat, semoga semua teka-teki yang belum terjawab itu akan dibahas di buku sekuelnya, yaitu Violet Are Blue. Buku ini terbagi menjadi dua yaitu Roses Are Red dan Violet Are Blue.

Drama
Meskipun genre utama buku ini adalah thriller yang ceritanya lebih banyak mengulas soal pembunuhan, namun pengarang tak lupa menyisipkan unsur drama, terutama untuk memperlihatkan kehidupan pribadi seorang detektif pembunuhan. Betapa tidak mudahnya bagi Alex untuk berada di 2 dunia antara pekerjaannya dan keluarganya. Menjadi seorang detektif pembunuhan berarti harus siap sedia untuk mengorbankan waktu pribadinya untuk pekerjaan, karena kejahatan bisa datang kapan saja. Hal tersebut juga diperparah dengan ancaman terhadap orang-orang yang mereka sayangi akibat pekerjaan mereka yang berurusan dengan para penjahat sakit jiwa.

Ada kutipan yang saya suka dari halaman 258:
"Kau bermain akrobat bola berusaha melempar-tangkap empat bola yang kaunamai pekerjaan, keluarga, teman-teman, dan semangat. Nah, pekerjaan adalah bola karet. Kalau kaujatuhkan, bola itu akan memantul kembali. Bola-bola yang lain-semuanya terbuat dari kaca."
Kutipan itu jelas berkata, pekerjaan hilang bisa didapat kembali, namun hubungan yang retak dengan keluarga, teman-teman bahkan semangat hidup, lebih sulit diperbaiki dan terkadang tak bisa diperbaiki kembali. Penulis tak lupa menyelipkan sedikit latar belakang yang menimpa keluarga Alex, mungkin untuk memberitahukan kepada pembaca baru yang tidak mengikuti buku ini dari awal (seperti saya), karena buku ini adalah seri ke-6 dari seri detektif Alex Cross.

Romance
Ada romensnya? Tenang, unsur romens sangat sedikit, saya rasa hanya 10% dari keseluruhan isi cerita. Sebenarnya lebih tepat disebut "kesenangan semata" daripada romansa. Jujur, saya sendiri tidak suka dengan unsur romens dalam dalam cerita detektif dan ini termasuk yang ada dalam Alex Cross ini. Selain tidak ada chemistrynya sama sekali, Alex Cross tampak seperti seorang player bagi saya, padahal penulis selalu menggambarkan karakternya family man. Tapi saya bisa menangkap maksud penulis dengan sedikit adegan romens di buku ini, mungkin untuk memberikan dorongan tambahan bagi Alex Cross untuk kedepannya. Saya tidak akan membahas lebih banyak untuk menghindari spoiler

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...