Minggu, 01 Maret 2015

A VERY YUPPY WEDDING: NOT YUPPY AS IT'S TITLE

Judul: A Yuppy Very Wedding
Pengarang: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Editor: Rosi L. Simamora
Jumlah halaman:  288 halaman
ISBN: 978-979-22-8798-1
Cetakan 9, Maret 2013
Segmen: Dewasa muda
Genre: Metropop, chiclit, realistic fiction
Harga: RP 60.000
Rate: ★★½


Maaf kalau telat review posbarnya, karena bulan Februari ini saya mengalami distraksi baca luar biasa yang bikin mood membaca jadi turun. Tambah lagi buku yang saya pilih untuk posbar profesi ternyata juga tidak asyik IMO  dan imbasnya saya jadi lelet sekali bacanya, karena menyaksikan doggy-doggy lucu di youtube jauh lebih menyenangkan daripada membaca pertengkaran Andrea-Adjie melulu. #maapkan

Saya bingung ceritain tentang resensinya, karena secara keseluruhan ceritanya hanya tentang pasangan bankir yang selalu salah paham dalam pacaran dan kesibukan menyiapkan pernikahan.

Eniwei, buku ini tidak sepenuhnya bahas profesi, lebih seperti cerita romance yang berlatar belakang profesi bankir. Karena meski ada banyak beberapa istilah bankir, juga bagaimana super sibuknya profesi bankir ini, saya tetap merasa fokus utama adalah hubungan Andrea-Adjie, yang sayangnya sangat tidak enjoyable sepanjang saya membacanya.

Sejujurnya saya merasa masalah dalam buku ini terlalu dibuat-buat oleh kedua tokoh utamanya. Mereka berusia nyaris 30 tahun tapi saya merasa mereka pacaran seperti sepasang abege labil alias ababil. Terlalu banyak cemburunya, insecure melulu atau over thinking yang tidak perlu. Misal baik Andrea dan Adjie selalu cemburu sama sesama partner kerja mereka masing-masing dan juga memerintahkan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti menjauhi cewek itu atau cowok itu, bagaimana bisa menjauhi kalau orang tersebut rekan kerja dan pasti suka-tidak suka harus bertemu karena urusan pekerjaan. Lagian mereka berdua sudah dewasa dan mapan, rasanya aneh karena suka cemburuan nggak penting dan ngambek. Misal saat Andrea marah karena Adjie terpaksa lembur dan nggak bisa menemaninya, saya heran deh secara yang paling tau pekerjaan Adjie kan Andrea juga, seharusnya Andrea ngerti dan paham bagaimana sibuknya bankir alih-alih marah kepada Adjie seperti ibu-ibu sosialita yang kurang perhatian dari suami.

Profesi
Untuk profesi bankir sendiri, saya merasa buku ini curhatan penulisnya yang juga berprofesi bankir. Walau bankir itu digambarkan gaji dan bonusnya menggiurkan (dengan semua belanja brand-brand yang harganya jutaaan dan juga baru saya dengar macam Commes de Garcons, Seven, True Religion, Tag Jeans, dll, maklum saya kampungan, jadi kurang paham sama merek) tapi saya juga merasa capek banget jadi bankir yang harus bersedia merelakan waktu pribadinya seperti weekend demi urusan pekerjaann seperti rapat dengan klien, entertaining klien dengan main golf, meninjau proyek calon debitur, dll. 

Mengapa saya bilang buku ini tidak sepenuhnya bahas profesi bankir, karena tidak ada gambaran bagaimana kalau ada kasus kredit macet dan penyelesainnya dan juga masalah-masalah lain. Tapi wajar sih, karena buku ini kan metro-pop, kalau bahas itu yang ada pembaca bakal pusing dan jadinya malah seperti textbook kuliah. 

Meski penghasilan bankir besar, saya lebih suka kalau penulis tidak menggambarkannya kelewat hedon. Misal alih-alih pamer merek dengan belanja mengapa uangnya tidak dipakai untuk investasi seperti properti atau  modal buka usaha lain untuk sampingan kalau sudah pensiun nanti. Yah saya tahu sih, ini terserah orang bagaimana mereka bersenang-senang mau menghabiskan hasil keringat mereka dan mungkin belanja brand-brand mahal sudah bagian dari gaya hidup bankir. 

Karakter
Untuk karakter sendiri, cuma 1 kata dari saya yaitu annoying. Terutama karakter utamanya, Andrea yang menurut saya terlalu deramah, shallow, egois dan selalu maunya menang sendiri alias merasa paling benar. Tak apa mau buat karakter yang tak sempurna dengan semua sifatnya itu tapi buatlah yang menarik dan tidak terlalu menyebalkan kalau karakter tersebut adalah tokoh utama. 

Kesimpulan saya tentang AVYP, bukan jenis buku atau cerita yang saya suka/selera saya. Saya pernah membaca beberapa buku metro-pop atau chiclit dan buku-buku terdahulu yang saya baca lebih enjoyable menurut saya (saya masih jauh lebih suka Marriageable yang dialognya kocak dan suka bikin nyengir). AVYP sendiri biasa saja menurut saya, selain melelahkan karena konfliknya sederhana namun dibuat ribet. Dan buku Ika yang ini tidak segado-gado yang saya bayangkan, dialog Inggris ada tapi tidak parah. Masih lebih gado-gado yang cerpen Ika yang Critical Eleven yang anehnya saya justru lebih suka karena kesan laid back dalam cerpen tersebut ketimbang novel AVYP meski saya tidak nyaman sama bahasa gado-gadonya.

Saya tertarik beli buku ini sekain karena penulisnya yang terkenal juga karena sampulnya yang unik yang berupa latar putih dan tulisan yang seperti label obat. Cover buku ini terkesan minimalis dan simpel tapi justru itu jadi menarik karena less is more. Eniwei saya rasa, saya tidak akan membaca buku IN yang lain untuk waktu yang panjang.


Reviewed by:
Lucky No. 15 RC: Cover Lust
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...