Minggu, 02 Maret 2014

ENTROK: SEPENGGAL KRITIK SOSIAL MASA LALU DARI KISAH TENTANG PEREMPUAN

Judul: Entrok
Pengarang: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Ilustrasi dan desain sampul: Restu Ratnaningtyas
Jumlah halaman: 283 Halaman
Segmen: Dewasa
Genre: Historical Fiction, Drama, Feminisme
Rate: ★★★★

"Mbok, aku mau punya entrok."
"Entrok itu apa, Nduk?"
"Itu lho, Mbok, kain buat nutup susuku, biar kenceng. Seperti punya Tinah."

Cerita ini dimulai dari suatu akhir baru. 

Sekiranya itulah yang saya lakukan saat membaca selesai hingga halaman terakhir. Dari halaman terakhir, saya balik ke halaman paling pertama untuk mendapatkan kisah selanjutnya. Jika kalian berpikir bahwa buku itu ditulis secara flasback. maka kalian benar. 
Kebisaan di pasar, buruh-buruh perempuan diupahi dengan bahan makanan. Beda dengan kuli laki-laki yang diupahi dengan uang. ~hal. 22
Sumarni

"Bukan masalah kuat-ngga kuat, Nduk. Ini masalah ilok-ra ilok - pantas-nggak pantas. Nggak ada perempuan nguli."

Semua bermula dari keinginan Sumarni untuk mempunyai entrok. Namun bagi orang miskin yang hanya beribukan seorang wanita tua pengupas singkong, entrok adalah sebuah barang yang sangat mahal. Bahkan ibu Sumarni pun tidak mengenal apa yang namanya entrok. Karena itu Sumarni giat mencari cara untuk bisa memiliki entrok. Namun pada zaman itu, buruh wanita tidak ada yang dibayar dengan uang, buruh wanita hanya dibayar dengan singkong, hanya buruh laki-laki yang dibayar dengan uang. Namun Sumarni tidak peduli dengan masalah ilok ra ilok (pantas-tidak pantas) bagi seorang wanita untuk bisa bekerja seperti laki-laki yang juga dibayar dengan uang. Maka Sumarni pun giat bekerja keras dan mencari cara untuk mendapatkan uang agar bisa membeli entrok. 

Rahayu

"Apalah artinya semua perjuangan terhadap penindasan dan ketidakadilan, kalau kebiadaban di depan kita sendiri saja tak mampu kita atasi."

Rahayu hidup dalam dunia yang berbeda dengan sang ibu. Ia tidak mengenal pemujaan terhadap dewa lain. Ia pintar, terpelajar dan berpendidikan, ia tidak seperti sang ibu yang buta huruf. Ia tidak suka dengan segala hal yang dilakukan sang ibu seperti penyembahan kepada leluhur dan pekerjaan ibunya yang rentenir. Keinginan Rahayu cuma satu, yaitu segera kuliah dan pergi meninggalkan kehidupan lamanya, meninggalkan dunia milik sang ibu. 

Jogjakarta

Perkenalan Rahayu dengan Amri Hasan, membawanya pada suatu tekad untuk ikut dalam kelompok melawan tindakan sewenang-wenang dari rezim penguasa. Tapi apa yang bisa dilakukan sekelompok kecil orang sipil dalam melawan pihak penguasa?

Sebuah narasi yang berbicara. 

Saya bingung membuat review tentang Entrok, saya hanya bisa berkata, ini adalah buku yang bagus. Saat membaca narasi kedua tokoh utamanya, yang menggunakan sudut pandang orang pertama, alias "aku", saya tidak merasa seperti membaca, saya seolah mendengar Marni sedang berbicara kepada saya, mendengar berbagai cerita yang terjadi dalam hidupnya, lengkap dengan logat Jawanya yang ndeso. Bagaimana pandangan orang-orang yang sirik akan kehidupannya dan menuduhnya dengan kejam, bagaimana para tentara yang merupakan orang-orang negara yang seharusnya memberi perlindungan pada rakyat kecil seperti dirinya, ternyata malah melakukan berbagai tindakan pemerasan, hanya karena ia lebih kaya dibanding orang lain.

Meski terdapat 2 tokoh utama dengan 2 penuturan "aku", namun saya mengacungi 2 jempol untuk Okky Madasari yang sukses membuat 2 "aku" tersebut terasa begitu berbeda. Tanpa nama pun saya tahu, yang mana cerita Sumarni dan yang mana cerita Rahayu. Dan seperti yang saya bilang, saya bahkan membayangkan kedua perempuan tersebut berbicara kepada saya dengan suara dan logat mereka masing-masing. Sumarni berbicara lebih blak-blakan, sedangkan Rahayu lebih kalem. 

Feminisme

Okky Madasari adalah salah satu dari penulis perempuan yang  suka menyuarakan hak asasi manusia dalam karya-karyanya, dan salah satunya adalah kesetaraan gender. Saya suka dengan unsur feminisme yang diangkat dalam buku ini. Dan pemikiran feminis itu datang dari Sumarni, seorang perempuan tak berpendidikan dan buta huruf, namun mempunyai 1 cita-cita untuk bisa berdiri sejajar dengan kaum laki-laki, sekiranya dalam hal mendapatkan uang. 
"Simbok, lihatlah anakmu ini sekarang. Kita dulu kerja memeras keringat seharian, diupahi telo, bukan uang, hanya karena kita perempuan. Lihatlah sekarang, anakmu yang perempuan ini, berdiri tegak di sini mengupahi para laki-laki." ~hal. 102
Kebisuan dalam ketertindasan

Siapa yang sudah merasakan pemilu saat rezim orde baru masih berlangsung? Saya sudah waktu tahun 1997 (ketahuan deh umur saya berapa). Saya ingat waktu itu RT mendatangi setiap kepala keluarga yang sudah memperoleh hak pilih dan meminta kami memilih partai nomor 2. Dan sama seperti Sumarni yang tidak tahu apa-apa dan hanya menurut, kami sekeluarga juga begitu, apalagi saya yang waktu itu cuma anak baru gede yang masih cuek soal politik, walaupun pemilunya tidak seseram yang digambarkan dalam buku ini, karena seingat saya selama saya mengikuti pemilu, belum sampai ada tentara yang berjaga, paling hanya hansip kelurahan.

Tapi bukan perampasan dalam kebebasan memilih saja yang dibahas dalam buku ini, tapi bagi mereka yang dituduh sebagai orang PKI. Bagaimana pada waktu itu, siapapun bisa dianggap melawan negara hanya karena masalah sepele misal menolak memberikan sumbangan untuk pemilu atau ketahuan sembahyang di kelenteng, langsung dituduh sebagai orang PKI dan dipenjarakan tanpa ada nasib yang jelas. Kalaupun mereka berhasil kembali ke masyarakat, maka ada perbedaan dalam KTP mereka dan hal itu sangat berdampak pada nasib mereka di masyarakat. Orang yang KTP-nya mendapat cap PKI seolah terasing dalam masyarakat, tidak ada yang mau mempekerjakan mereka dan juga dijauhi oleh masyarakat.

Kasih ibu sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali

Pada akhirnya, kisah ini juga tentang seorang ibu. Seorang ibu yang akan selalu menerima kepulangan anaknya dan menyambutnya dengan pelukan, seorang ibu yang akan rela mengorbankan apapun demi seorang anak yang telah pergi jauh agar bisa pulang kembali ke pangkuannya, tidak peduli meskipun sang anak telah menyakiti hatinya. Saya sempat merasa sedih saat bagian ini. 

Akhir kata, meskipun pemerintahan negara kita masih jauh dari memuaskan, namun kita wajib bersyukur karena sekarang ini segala sesuatunya lebih demokasi dan terbuka dibanding dulu, tidak ada paksaan dalam memilih ataupun menjadi golput, seandainya keadaan masih seperti 20 tahun yang lalu, saya rasa, saya tidak bisa menulis review seperti ini di blog dan mungkin juga kita tidak boleh membuat blog, karena setiap kebebasan ekspresi dan berbicara dilarang.

Maafkan kalau saya telat 3 hari mereview ini, karena kebetulan yang saya baca memang kuliner duluan dan hisfic sesudahnya dan kebetulan lagi, Februari hanya 28 hari.


Review ini, saya sertakan juga untuk:
Lucky No. 14 Reading Challenge : Not My Cup of Tea (tapi setelah membaca ini, tampaknya saya jadi tertarik untuk membaca buku-buku bertema hisfic lain, baik Indonesia atau pun luar).
2014 TBRR Pile RC: Additional Challenge - Historical Fiction
New Authors RC 2014

6 komentar:

  1. hoo.. elo bikin gua jadi pengen baca nih buku dhe, Lin XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca aja, Ndah, Mana tau bakal suka kayak Negeri Para Bedebah

      Hapus
  2. Wah, wah..
    sepertinya menarik ya buku ini, tapi aku belum kepikiran buat beli sih waktu itu, hihihi xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ketemu obralannya beli aja chei.

      Hapus
  3. Review-nya asyik, jadi pengen baca buku ini deh buat tema perempuan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih Dian. Iya buku ini juga cocok utk tema perempuan.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...