Kamis, 27 November 2014

KIRA-KIRA: GEMERLAP KISAH SAYANG DALAM KELUARGA

Judul Buku: Kira-Kira
Pengarang: Cynthia Kadohata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Dini Pandia
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
Jumlah halaman: 200 halaman
Segmen: Semua Umur
Genre:  Drama, keluarga, realistic fiction
Harga: Rp 15.000 (beli di obralan Gramedia)
Rate: ★★★★
 
Katie Natsuko Takeshima adalah seorang Amerika keturunan Jepang. Katie dan keluarganya mula-mula tinggal di sebuah tanah pertanian di  negara bagian Iowa. Namun keadaan ekonomi yang memburuk membuat keluarga Katie terpaksa menutup toko bahan pangan oriental mereka di Iowa dan pindah ke negara bagian Georgia, dan kedua orang tua Katie bekerja sebagai buruh di perusahaan yang mengelola daging ayam dengan penghasilan pas-pasan.

Katie sangat dekat dengan kakaknya Lynn. Lynn mengajari Katie berbagai macam hal seperti arti kata kira-kira yang berarti gemerlap dan menggunakan kata tersebut untuk setiap hal yang mereka sukai di dunia seperti gemerlap bintang di malam hari, sinar matahari di laut, warna biru pada langit, dan lain-lain. Katie sangat memercayai dan mengagumi Lynn, karena selain mengajarinya banyak hal, Lynn juga selalu melindungi Katie. 

Namun musibah datang, saat Lynn dinyatakan menderita sakit parah dan kondisinya terus memburuk. Katie dan keluarganya sangat sedih. Ayah dan ibu mati-matian bekerja demi biaya pengobatan Lynn yang mahal dan juga membayar kredit cicilan rumah. Apakah Lynn dapat sembuh? Bagaimana perjuangan mereka sekeluarga dalam bertahan hidup dari segala macam cobaan di tengah keterbatasan dan kemiskinan?

Opini saya

Saya suka novel ini. Kisah keluarganya sangat kental. Saya suka dengan keluarga Takeshima, terutama Mr. Takeshima atau Ayah Lynn, Katie dan Sammy yang digambarkan sangat family man. Seperti sering memeluk istrinya dari belakang seakan menyelimuti dan melindunginya, menghabiskan waktu 1 jam untuk mencari boneka dan sweter kedua putrinya saat pindahan agar mereka tidak sedih lagi karena jauh dari kedua benda kesayangan mereka. Pokoknya Mr. Takeshima ini digambarkan sabar, baik hati, bijaksana dan selalu bersikap terhormat. Sepertinya akan masuk top 5 book fathers/parents saya untuk kaleidoskop tahun ini.

Saya suka bagaimana penulis menggambarkan kasih sayang orang tua pada anak-anak mereka, meski terkesan hal yang klise dan wajar, tapi tetap terasa mengharukan saat dibaca. Yang selama ini merasa orang tuanya terlalu sibuk bekerja sampai kurang perhatian, dengan membaca buku ini, kita akan tahu betapa lelahnya bekerja nyaris sepanjang waktu supaya anak-anak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Saya juga suka akan interaksi anggota keluarga yang saling melindungi dan mendukung satu sama lain dalam buku ini. 

Nah sekarang yang saya rasa kurang. Buku ini mengambil waktu tahun 1950-an (yang berarti belum terlalu lama dari perang dunia 2 dan Jepang salah satu musuh Amerika) lalu settingnya di Georgia (salah satu negara bagian di 'selatan' Amerika Serikat, tahu sendiri Selatan itu tempat yang kurang ramah terhadap orang kulit berwarna di AS). Pasti ada masalah rasial yang dibahas dalam buku ini. Memang ada unsur rasial, tapi bahasannya tidak dalam dan diperhalus terutama yang menyangkut sulitnya mencari pekerjaan yang bersifat profesi bagi orang kulit berwarna (non kulit putih) pada era tersebut, meskipun mereka punya keahlian, tapi tidak ada yang mau mempekerjakan hanya karena mereka bukan kulit putih.

Bila orang kulit putih sering memandang hina orang kulit hitam pada era tersebut, bagaimana dengan Asia? Seperti inilah pendapat Katie:
"Orang kulit putih tidak pernah benar-benar kejam padaku, tapi mereka juga jarang berbaik hati."
Intinya tidak diperlakukan sehina orang kulit hitam tapi lebih cenderung diabaikan, walau saya lihat Katie dan kakaknya bisa berbaur dengan anak-anak kulit putih di sekolah, tapi mereka akan selalu dianggap orang asing atau tamu. Jadi ingat salah satu percakapan lugu saya dan teman saya, Jessy saat ia baru selesai kuliah di US. (Maaf jika dialog dibawah terkesan rasis, tapi maksud saya cuma curious saja).

Saya: Jes, di Amrik bule pada rasis ga sama orang Asia macam kita?
Jessy: Kalau orang Asia sih rata-rata nggak Lin, yang dianggap kelas 2 di sono tuh orang kulit hitam dan hispanik.
Saya: Kulit hitam gue paham, karena dulu sempat ada perbudakan, kalau hispanik kenapa?
Jessy: Selain itu orang kulit hitam juga banyak yang suka jadi kriminal jalanan, sama orang hispanik macam Mexico juga dianggap miskin, kan banyak yang jadi pembantu atau pengasuh di keluarga bule. 
Saya: Oh, kalau Asia, stereotypenya apa?
Jessy: Kalau orang Asia mah banyak yang kaya di sini Lin, kan universitas bergengsi Harvard dan Yale banyak orang Asia yang sekolah hukum, kedokteran, bisnis, teknik, dll. Kalau Asia mah dianggapnya nerd
Saya: *manggut-manggut.

Lalu kekurangan lain dari buku ini mungkin perasaan Katie terhadap tanah leluhur mereka. Meski ada beberapa adat Jepang yang dilakukan tapi tidak diceritakan apakah Katie ada rasa penasaran akan Jepang. Hmm, saya saja waktu kecil suka penasaran akan Tiongkok walau makin besar makin hilang dan lebih penasaran sama Eropa :D



Reviewed by:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...