Kamis, 14 Mei 2015

OPINI BARENG MEI | REALITA SOSIAL: BULLYING

Setelah absen ikutan opini di bulan April, saya memutuskan untuk ikutan opbar bulan Mei yang temanya realita sosial, yaitu seberapa dekat buku-buku yang pernah kita baca dengan kehidupan kita sehari-hari.  Saya suka tema realita sosial, karena cakupan realita sosial sangat luas. 


Mulanya saya ingin membahas tema recent isu atau isu kekinian yang sedang hangat di media masa. Misal yang berhubungan dengan tema baca bulan Mei ini, yaitu HAM. Awalnya saya berpikir, mungkin seru juga kalau bahas tema eksekusi mati, namun setelah saya pikir-pikir sepertinya itu tema yang terlalu berat dan butuh riset mendalam, juga termasuk tema kontroversial. Selain itu saya bukanlah praktisi hukum ataupun aktivis HAM, sepertinya tema tersebut terlalu serius dan ambisius untuk dibahas oleh seorang blogger moody yang bacaannya 90% fiksi-fiksi ringan macam saya. Saya pun mencari tema lain.

Sempat terbesit untuk membahas topik kotroversial lainnya mengenai pro life vs pro choice, karena judul sebuah berita di salah satu media online tentang keinginan gadis 10 tahun untuk aborsi karena hamil akibat diperkosa ayah tirinya. Namun setelah saya pikir-pikir, temanya berat juga dan harus dilihat secara kasus per kasus. Selain itu saya juga bukan praktisi kesehatan, psikolog ataupun petugas sosial. Maka saya pun mencari lagi tema lain.

Lalu sempat ada pembicaraan di grup bajai jabodetabek untuk rekomendasi buku-buku YARN (Young Adult Realistic Novel). Dan ada salah satu rekomendasi buku yang mempunyai kisah seorang anak remaja yang terpaksa bekerja sebagai kupu-kupu malam untuk membantu membayar hutang keluarganya. Lagi-lagi saya jadi terpikir mengenai maraknya kasus prostitusi online yang banyak melibatkan anak di bawah umur. Tapi apa yang mau saya bahas? Saya tidak familiar dengan dunia malam dan juga jarang membaca buku-buku dengan tokoh PSK. Selain itu saya tidak menganggap diri saya kaum sok moralis yang gemar menjadi hakim ataupun kaum liberal yang selalu berbicara atas nama kebebasan, saya hanya kaum yang sesekali ikut-ikutan komentar sotoy di sosmed. Oke, abaikan yang terakhir. 

Akhirnya setelah saya lihat post Nana, salah satu anggota divisi event, saya sampai pada kesimpulan untuk mengecilkan ruang lingkup mengenai realita sosial yang terjadi di sekeliling saya. Dan saya pun memilih tema bullying.  Alasannya sederhana, saya pernah membaca beberapa buku yang ada adegan bullying, teman saya pernah ada yang dibully dan menjadi tukang bully dan saya sendiri pun pernah mengalami dibully. Jadi singkat kata bully sesuatu yang sangat nyata, karena bukan hanya terjadi di sekitar saya, namun juga dalam kehidupan saya.


BTW, bully sendiri itu apa? Saya yakin kalian semua sudah tahu apa arti dari bully. Sejujurnya saya sendiri kesulitan menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia untuk bully. Ada beberapa kata yang bisa diterjemahkan dari bully, yaitu gertak, gencet, siksa, aniaya. Saya sendiri menganggap pembully itu artinya penyiksa. Apa yang membuat seseorang menjadi tukang bully atau penyiksa? Banyak alasannya, bahkan mungkin tanpa sadar, kita pun pernah membully orang lain, meski maksud kita bukan seperti itu. Tapi tanpa kita sadari perbuatan atau ucapan kita telah membuat orang lain tersinggung dan merasa rendah diri.


Ada beberapa buku yang menjadikan bullying sebagai tema utama, seperti Thirteen Reasons Why oleh Jay Asher, lalu Wonder oleh R.J. Palacio dan juga Eleanor and Park oleh Rainbow Rowell. Saya akui, saya belum sempat membaca 2 buku terakhir meski sudah lama punya bukunya (ya deh, masuk list baca bulan Juni). Dua buku terakhir membahas bully karena bentuk fisik seseorang.

Lalu beberapa buku lain yang ada adegan bully macam Harry Potter 5 (Harry Potter & The Order of Phoenix) di mana salah seorang tokoh, yaitu saat Severus Snape remaja dibully oleh James Potter, dkk, salah satu adegan yang sukses bikin saya simpati sama Snape dan sebal sama ayahnya Harry. Masih di buku karangan J.K. Rowling juga, yaitu The Casual Vacancy, ada seorang tokoh bernama Sukhvinder yang selalu dibully oleh teman sekelasnya sendiri, hanya karena fisiknya yang dianggap tidak menarik dan sama seperti Hanna dalam Thirteen Reasons Why, Sukhvinder menjadi tidak percaya diri dan depresi serta berpikir untuk bunuh diri.

Saya pernah mengalami kejadian seperti Sukhvinder dan juga tanggapan keluarga yang mirip dengan ibu Sukhvinder. Mungkin bagi beberapa orang bullying hanya masalah remeh dibanding kemiskinan, namun akibat bullying terkadang susah hilang dampaknya hingga dewasa. Akibatnya seseorang yang suka dibully cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri, meski ada juga yang berhasil mengatasinya dan sukses, namun bekas luka atau rasa pahit akibat bully akan selalu ada. Karena saya pernah dengar pepatah, tidak ada luka hati yang bisa disembuhkan oleh waktu, yang benar adalah waktu telah membuat seseorang terbiasa dengan lukanya.

Di buku-buku terjemahan, umumnya kasus bully menimpa sesama remaja, dalam artian korban bullying dan pelaku bullying sama-sama seumur. Namun ada juga bully dari orang dewasa ke anak-anak. Misal guru ke murid atau orang tua ke anak. Di Asia, hal ini sering terjadi, mengingat di kultur Asia, orang tua itu harus dihormati baik benar ataupun salah. Dan bullying jenis ini menurut saya tidak kalah bahayanya dibanding bullying-bullying dari anggota genk.

Beberapa buku mengenai bullying
Dulu di sekolah saya, ada seorang guru yang terkenal suka menampar murid yang dianggapnya bersalah atau melanggar peraturan. Dan parahnya, guru ini memakai cincin dengan batu perhiasan yang tajam. Apabila dia menghukum muridnya, ia akan membalik cincinnya hingga batunya sejajar telapak tangan dan saat menampar muridnya, bisa dipastikan pipi si murid akan berdarah. Untungnya selama 6 tahun saya bersekolah di sana, guru tersebut tidak pernah mengajar di angkatan saya. Yang pasti guru tersebut mengajar di angkatan atas dan bawah saya. Karena ada cerita mengenai seorang murid perempuan yang selalu absen setiap kali guru tersebut mengajar.  Murid tersebut pergi ke sekolah seperti biasa, namun dia tak pernah tampak di sekolah, selidik punya selidik, si murid takut terhadap guru tersebut.

Di jaman sekarang yang sudah lebih modern, mungkin sudah bukan eranya lagi, orang tua mendidik anak dengan kekerasan, berbeda dengan jaman dahulu di mana kekerasan dalam mendidik anak masih tampak wajar dengan maksud agar anak disiplin dan menjadi penurut (walau menurut saya sih nggak bekerja yah, yang ada tinggal rasa kepahitan). Namun sekarang timbul problematika baru, karena mendidik keras tidak dianjurkan, banyak orang tua yang curhat, anaknya menjadi kurang ajar dan pembangkang. Yah, saya tidak bisa komen soal pendidikan anak, mengingat saya sendiri belum pernah merasakan menjadi orang tua. Eniwei, pembahasan bullying saya mulai melebar menjadi cara mendidik anak.

Back to bullying. Saya juga menyesal saat masih SMU dulu tidak melakukan apa-apa untuk beberapa anak yang kena bullying. Dan excuse atau alasan saya juga sederhana saja, kalau saya membela anak itu, saya bisa dijauhi oleh teman-teman dan ikut dibully, jadi saya cari aman dengan menjadi pengecut. Dan sekarang sebisa mungkin saya menjaga sikap dan kata-kata saya terhadap orang lain. Termasuk dengan tidak memandang rendah seseorang ataupun mengejek dengan alasan humor hanya karena mereka kurang beruntung dari segi ekonomi, fisik maupun otak. Tidak ikut-ikutan menggosipkan seseorang dengan kejam di lingkungan sendiri, misal kantor. Tidak mendikte bagaimana seseorang harus hidup. Mungkin terkesan kalau hidup kita jadi serius dan tidak santai dan bebas, namun saya berprinsip seperti di bawah ini:


Bullying, tidak hanya melalui fisik seperti dipukul, ditendang, dll. Kata-kata pun terkadang lebih tajam dari pena. Dan balik ke bullying orang tua ke anak, saya ingat Peeta, salah satu tokoh dalam novel YA, The Hunger Games, yang sering dibilang tidak mampu oleh ibunya sendiri. Lalu di The Casual Vacancy, Simon Price suka memukul dan mengatai anak-anaknya sendiri dengan kejam. Jangan lupakan juga Merope Gaunt dari Harry Potter & The Half Blood Prince yang disiksa secara fisik dan mental oleh ayahnya sendiri. Itu beberapa contoh kasus bullying orang tua ke anaknya. Jadi setiap kali kita ingin berkata sesuatu pada orang lain ingatlah:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...