Sabtu, 28 Mei 2016

THE 100-YEAR-OLD MAN WHO CLIMBED OUT OF THE WINDOW AND DISAPPEARED


Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out The Window And Disappeared
Pengarang: Jonas Jonasson
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Marcalais Fransisca
Jumlah halaman: 508 halaman
ISBN: 978-602-291-018-3
Cetakan 1, 2014
Segmen: Dewasa
Genre: Humor, historical fiction, petualangan

Ruang kerja Lady Storytelling pagi itu tampak penuh, kalau tidak mau dibilang berantakan. Buku-buku berceceran di lantai dan meja kerjanya. Beberapa saling buku bertumpukan tidak teratur sama sekali. Sementara di sebuah jendela besar terdapat sebuah kursi besar. Sang Lady tampak serius dengan buku bacaannya. Sesekali keningnya berkerut bingung, sesekali dia tertawa sendiri dan sesekali dia menguap.

Dengan semua ekspresi itu, tidak bisa ditebak apakah dia suka atau tidak dengan buku yang dibacanya. Menit demi menit berlalu, Sang Lady tiba-tiba berdiri menuju meja kerjanya dan mengambil sebuah lonceng kecil lalu benda tersebut diayunkan.


KRING, KRING. Lonceng berbunyi nyaring dan tidak lama masuklah seekor kepiting merah diikuti seekor anjing berbadan bogel berbulu pirang dengan kaki yang sangat pendek, mempunyai telinga besar yang lancip. Namun yang paling menonjol adalah pantat anjing tersebut yang seperti pantat kelinci. Si anjing mengendus-endus kaki Sang Lady dengan gembira, ia tahu pasti Sang Lady akan membelai kepalanya.

Lady Storytelling menyapa dan membelai Michan, sudah 3 bulan ia memiliki anjing lucu tersebut. Di hadapan Sang Lady, seekor kepiting tampak menunggu dengan sabar.


"Krebi, silakan duduk. Ada yang ingin kubahas denganmu mengingat kau juga membaca buku biografi gila ini," Sang Lady mempersilakan Krebi, si kepiting merah untuk mengambil kursi dan duduk karena ia sudah di atas kursi.

Sebenarnya, Krebi tidak benar-benar duduk karena ia seekor kepiting, tapi ia bisa memanjat, jadi ia memanjat sebuah kursi yang memang terletak di depan Sang Lady dan berdiri di kursi tersebut. Bagi Sang Lady sendiri itu berarti Krebi sudah duduk.

"Apa yang Milady ingin bahas mengenai buku itu?"

Sang Lady tampak berpikir sesaat sebelum mengajukan pertanyaan, "Krebi apa pendapatmu mengenai buku ini?"

Krebi sejujurnya tidak terlalu suka pertanyaan yang bersifat essay karena pendapatnya akan bersifat panjang, dia berharap Sang Lady lebih spesifik dalam memberikan pertanyaan, misalnya apakah dia suka dengan buku itu atau tidak. Dan tiba-tiba saja Krebi tahu harus menjawab apa.

"Saya rasa, saya cukup suka dengan buku itu."

"Kaurasa kau cukup suka?" Sang Lady mengulang pertanyaan Krebi, yang menandakan ia tidak puas akan jawaban singkat Krebi.

Krebi mengangguk singkat. "Milady, petualangan si tua Allan memang tidak masuk akal tapi cukup seru dan menarik diikuti."

"Beberapa bagian memang seru, namun beberapa bagian aku merasa bosan."

"Itu karena dalam beberapa hal Anda mirip seperti Allan Karlsson, Milady."

Pernyataan Krebi, membuat Sang Lady terperanjat, karena Sang Lady berpendapat Allan adalah orang yang aneh, apakah itu berarti dirinya aneh.

"Apa maksudmu, Krebi? Apanya dari diriku yang mirip dengan si Allan ini?"

Krebi meneruskan, "Allan Karlsson tidak suka dengan politik dan apa pun pembicaraan mengenai politik. Dan Anda juga begitu. Sedapat mungkin setiap ada orang yang membicarakan politik, Anda biasa menyingkir atau berpura-pura tuli. Meskipun tokoh utama dalam buku itu benci politik, namun buku itu sendiri sangat banyak membahas politik, karena itulah pada beberapa bagian Anda merasa bosan."

Mendengar penjelasan Krebi, Sang Lady kembali terperanjat, karena hal itu sangat benar dan ia takjub betapa Krebi, si kepiting merah sangat mengenal dirinya.

"Kau benar, Krebi. Dan bagaimana dengan si Allan sendiri? Dia mempunyai karakter aneh karena suka dengan dinamit."

"Milady, mungkin Anda akan menganggap saya aneh, tapi saya harus mengatakannya, saya menyukai karakter Allan Karlsson. Dia memang mempunyai ketertarikan pada segala sesuatu yang bisa meledak, namun Allan Karlsson bukanlah orang jahat dan sama sekali jauh dari menjadi orang jahat.

"Mungkin karena ia gila, Krebi," tukas Sang Lady.

"Menurut saya gila itu relatif, Milady. Dan yah Allan Karlsson memang pernah dirawat di rumah sakit jiwa, tapi semua itu terjadi menurut saya karena orang-orang kurang memahami dirinya saja. Selain daripada hobbynya yang suka menyalakan sumbu peledak. Allan Karlson punya banyak karakter berkualitas pada dirinya."

Sang Lady melipat tangan di dada, tampak merenung, dan kembali bertanya pada Krebi, "Seperti apa karakter berkualitas Allan Karlsson ini?"

Krebi pun memaparkan jawabannya dengan mantap, "Pertama, ia seorang pekerja keras, Milady. Ada banyak disebutkan dalam buku bahwa ia bekerja keras membangun bisnis bahan peledaknya, dan ia pun bekerja dengan giat selama dibawa ke kamp kerja paksa di Vladivostok. Kedua, ia hanya suka melihat benda meledak, namun bukan orang, karena itulah ia menyelamatkan Jendral Franco, ia juga tidak suka melihat penindasan yang mengakibatkan ia lebih memilih kabur dengan tawanan, karena ia tahu bahwa tawanan wanita itu akan diperkosa dengan keji (saat mengucapkan bagian ini, Krebi tampak mual, karena Krebi benci dengan kekerasan dan penindasan) daripada harus membiarkan semua itu, ia memilih pergi dan meninggalkan  kenyamanan dalam kapal. Ketiga, juga karakter paling favorit saya, adalah ia bukan seorang pengeluh, tidak cengeng dan tidak pernah berharap berlebihan akan sesuatu. Ia cukup puas dengan tempat apa pun selama bisa mendapat makan 3 kali sehari dan tempat tidur hangat. Ia adalah seseorang yang selalu melihat segalanya dari sisi positif."

"Dan ia juga tidak pernah ribet mencampuri urusan orang lain," Lady Storytelling menambahkan. "Selain itu Allan Karlsson seseorang yang cerdas, mengingat dia bisa bertahan dari 2 perang dunia. Tentu saja keberuntungan juga menyertainya, karena dia banyak  berhadapan dengan pemimpin-pemimpin dunia paling bengis dan tetap selamat."

Krebi kembali melanjutkan, tapi dia sudah tidak membahas Allan Karlsson lagi. "Dan saya juga merasa terhibur membaca buku ini, Milady. Maafkan ketidaksopanan saya, tapi saya merasa terhibur dengan semua bulan-bulanan soal negara-negara yang disebutkan dalam buku-buku tersebut."

Sang Lady pun setuju, bahwa beberapa bagian dalam buku itu memang lucu.

"Apa bagian favoritmu, Krebi?"

"Saya suka saat bagian Allan bertemu dengan 3 tokoh komunis di Pyong Yang dan ia mendapat hadiah liburan ke Bali. Dan saya suka saat Allan mengatakan 'Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin'. Segala penjelasan mengenai Indonesia membuat saya jadi penasaran dan ingin pergi ke Indonesia juga, Milady."

"Yah, aku pernah dengar, kau bisa membeli apa pun di Indonesia selama ada uang. Mulai dari racun paling mematikan seperti sianida, hukum hingga integritas. Bahkan dalam Negeri Dongeng tempat kita tinggal saja tidak sehebat itu."

Krebi memberikan anggukan perlahan tanda setuju. Lady Storytelling tampaknya juga tertarik dengan dengan Indonesia, apakah ini pertanda untuk berikutnya mereka akan berlibur ke Bali, Indonesia? Semoga saja, harap Krebi dalam hati.

"Baiklah Krebi," Sang Lady membuyarkan lamunan si kepiting merah. "Kurasa sudah cukup, aku sudah mengerti mengapa aku merasa aneh dengan buku ini. Ada kalanya aku menikmatinya, ada kalanya aku tidak menikmatinya,"

"Ah itu sesuatu yang wajar, Milady. Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna."

"Bagaimana dengan tokoh lainnya, Krebi? Adakah tokoh-tokoh yang kau suka selain Allan Karlsson?"

"Sejujurnya untuk tokoh pendukung, semuanya unik menurut saya. Saya tidak akan bicarakan tokoh-tokoh sejarah yang ditemui Allan sebelum dia melompat keluar jendela. Saya lebih menyukai para tokoh fiktif yang menyertai petualangan Allan setelah dia melompat dari jendela. Bayangkan saja Milady, ada penipu kelas teri, mahasiswa abadi, wanita yang selalu menyumpah, bos gangster, pebisnis kurang sukses, dan lain-lain.

Mereka semua penggambaran tokoh abu-abu yang jarang saya temui dalam novel fiksi, Milady." Lalu si kepiting merah melanjutkan, "Mereka sesungguhnya gambaran realistis rata-rata manusia yang diungkapkan secara humor dan satir."

Sang Lady sepakat, dan ia kembali bertanya, "Apakah kau kesulitan atau merasa bingung mencerna ceritanya dengan plot past dan present ini?"

"Sama sekali tidak, Milady," jawab Krebi. "Terlepas dari absurditas ceritanya, dan plotnya yang maju mundur, namun susunannya runut dan rapih di mana pada akhirnya semua plot itu mencapai suatu titik pertemuan."

"Hahaha, lucu sekali, Krebi. Seperti menjelaskan matematika saja."

Lady Storytelling kembali meneruskan, "Baiklah, kurasa itu sudah cukup. Sebaiknya kita bersulang beberapa gelas anggur untuk buku ini."

Krebi mundur selangkah, "Maafkan saya, Milady. Tapi saya sedang bekerja dan saya tidak minum saat bekerja."

"Meskipun aku yang memintamu?"

"Minum bukanlah bagian dari pekerjaan saya. Dan meski Milady sekalipun yang meminta, saya tetap tidak akan minum. Itu bertentangan dengan prinsip saya."

Salah satu sifat Krebi yang disukai Lady Storytelling adalah si kepiting jenis mahluk yang menjunjung tinggi prinsip hidupnya, walau untuk beberapa hal terlalu kaku. Tapi mungkin lebih baik kaku daripada bablas.

"Baiklah," Lady Storytelling pun mengalah. "Tapi kalau sekedar bersulang saja, kurasa tidak ada salahnya. Jadi tetap tuangkan saja anggurnya, lalu setelah kita bersulang, bagikan ke Monky, Momon dan Oniyon."

Kau ingin berapa gelas, Milady? tanya Krebi.

"Tiga gelas penuh dan 1 gelas lagi cukup 1/2."


Selesai menuangkan anggur-anggur itu ke gelas. Krebi dan Lady Storytelling bersulang. Namun hanya Lady Storytelling yang minum anggur. Sang Lady mengambil gelas anggur yang berisi setengah. Sisa 3 gelas anggur yang masih penuh diletakkan Krebi dalam sebuah baki perak.

"Baiklah, kau boleh pergi Krebi, karena ada review yang harus kuselasaikan." Itu adalah tanda bagi Krebi untuk segera undur diri dan meninggalkan ruangan itu. Ia melirik Michan si anjing Corgi yang sekarang tertidur di kaki Sang Lady.


"Tinggalkan saja Michan bersamaku," seolah tahu kebimbangan Krebi, Sang Lady langsung memberikan keputusan untuk Michan.

Dan masih dari ruang kerja yang berantakan, Lady Storytelling pun mulai menyusun kata-kata untuk reviewnya. Sepanjang membaca buku ini ada beberapa kutipan yang membekas di kepala Sang Lady, seperti:
"Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi."
"Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk akan menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk."
"Tetapi, tidak bersalah berbeda-beda artinya bergantung dari perspektif mana Anda melihatnya."
Selesai menulis reviewnya, tiba-tiba Lady Storytelling merasa bersemangat untuk kembali bertualang. Dan kali ini ia tidak ingin ditemani oleh para asistennya. Karena itu saat melihat jendela besar di pojok ruang kerjanya terbuka lebar dengan gordin yang melambai-lambai tertiup angin, tanpa pikir panpikir panjang, Sang Lady mengambil tas kecilnya, sebuah gulungan peta dan ia pun memanjat menaiki jendela dan melompat keluar.




*Blogger note: Thanks to Indah for borrowing me this book. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...