Selasa, 19 Februari 2013

ALICE IN WONDERLAND

 ✮✮✮
 Judul Buku : Alice in Wonderland
Pengarang  : Lewis Carroll
Penerbit     : Atria

Sinopsis :

Alice, gadis kecil yang selalu serba ingin tahu jatuh ke sebuah lubang gara-gara melihat seekor kelinci putih yang mengenakan jas dan mempunyai jam saku dalam jasnya. Lubang itu membawa Alice ke sebuah negeri yang aneh, negeri di mana binatang-binatang dapat berbicara, negeri yang penghuninya berupa kartu-kartu, belum lagi makanan dan minuman yang bisa membuat tubuh Alice menjadi besar dan kecil. Jadi bagaimana petualangan Alice di negeri ajaib tersebut?

Kesan saya :
Oke, kali ini review singkat saja, karena memang bukunya sendiri singkat dan tipis, tapi saya saja yang keterlaluan butuh waktu hampir 1 minggu untuk menyelesaikannya. Excuse saya sederhana, I'm not match for children book anymore or I have already known about the story of Alice in Wonderland. Yup, sebagai buku anak-anak, cerita Alice di negeri bawah (I think it should be Underland rather than Wonderland) terasa ehem tidak masuk akal/aneh, tapi bila sudah menyangkut fantasy dan imajinasi anak-anak segala sesuatunya menjadi acceptable dan masuk akal.

Sejujurnya saya bingung mengenai moral dan point dari petualangan Alice di negeri ajaib. Petualangan Alice terasa absurd dan membingungkan. Tapi saya kira buku ini bukanlah tentang akhir atau ending, bukan pula tentang karakterisasi. Mungkin moralnya ada di akhir cerita yaitu, imajinasi membuat hidup lebih indah dan menyenangkan. Sayangnya saat kita dewasa, kita cenderung lupa cara berimajinasi, salah satunya adalah saya sendiri yang butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku ini dan bingung mengenai cerita dalam buku, karena orang dewasa cenderung terpaku pada logika dan hal-hal yang menurut mereka wajar, hal-hal yang perlu pembuktian.

Sedangkan dalam dunia anak-anak segala sesuatunya adalah mungkin, tanpa berpikir, "Ini tidak wajar". Bagi anak-anak, mereka percaya oleh karenanya anak-anak bisa melihat, sedangkan bagi orang dewasa, mereka harus melihat dahulu baru mereka percaya.

3 komentar:

  1. to see the wonders of the world through the eyes of a child :D emang orang 'dewasa' cenderung hanya mau menerima yang ga bertentangan dengan logika sih yaa ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, emang biasa githu kan?

      Hapus
  2. ironisnya, penulisnya justru nulis buku matematika & logika juga, misalnya "A Syllabus of Plane Algebraic Geometry" dan "Symbolic Logic."

    http://en.wikipedia.org/wiki/Lewis_Carroll

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...