Kamis, 07 November 2013

INTER-BLOGGER: MEET LUCKTY THE LIBRARIAN

Halo semua, apa kabar? Waktu bulan Oktober, saya pernah tulis, kalau saya akan buat 1 postingan yang sifatnya interaktif. Jadi maksudnya, postingan yang melibatkan sesama blogger lain. Mulanya saya namakan interactivities, tapi kok kurang catchy di telinga yah. Akhirnya saya ganti jadi Inter-Blogger.

Menurut pengertian bahasa latin sendiri, inter artinya antara atau kebersamaan. Karena itu, saya pakai nama Inter-Blogger. Selain itu juga Inter mengingatkan saya akan nama klub sepakbola keren dari Milan #abaikan. 

Untuk tamu pertama saya dalam Inter-Blogger ini, saya berkesempatan mewawancarai Mbak Luckty Giyan Sukarno. 


Mengapa saya pilih Mbak Luckty? Saya kagum akan pekerjaan Mbak Luckty sebagai seorang pustakawan/win :D. Selain itu belum banyak apresiasi masyarakat luas terhadap profesi pustakawan/win. Banyak orang mikirnya kalau pekerjaan pustakawan/win itu cuma sekedar jaga perpus doank. Padahal bukan, pekerjaannya malah cukup berat dan tanggung jawabnya juga banyak. Kalau tidak percaya, silakan kunjungi  blognya Mbak Luckty di Luckty si Pustakawin
Pertama-tama bisa perkenalkan dulu mengenai Mbak Luckty? Kan di Indonesia kalau nggak kenal maka nggak sayang, hehehe.
Bernama lengkap: Luckty Giyan Sukarno. Karena punya nama yang macho banget, kerap dikira laki. Bahkan wisuda pun aku dapet patung laki x) Dulu aku sempet nggak minat ama apa yang namanya kuliah. Aku ngerasa nggak ada jurusan yang aku minati. Pas SMA, aku ambil jurusan IPS. Itu juga nggak ngerti sama sekali yang namanya akuntasi #aib. Cuma suka pelajaran sejarah ama antropologi. Pas pendaftaran SPMB (Kyaaa..ketauan angkatan berapa :p), aku baru tahu ada Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Langsung milih jurusan itu sebagai pilihan pertama. Alhamdulillah keterima. Dulu mikirnya, jangan-jangan masuk Fakultas Sastra atau FISIP. Salah besar, ternyata masuk Fakultas Ilmu Komunikasi x) Ternyata kuliahnya menarik, kita nggak hanya belajar tentang buku-buku doank, tapi belajar tentang penerbitan, komunikasi, dan jangan gak percaya ternyata ada mata kuliah Penulisan Artikel dan Resensi Buku :DNah, semenjak ada mata kuliah itu, jadi nyobain buat blog. Waktu itu nggak langsung fokus ke buku, karena skripsiku tentang film, jadi blogku juga ada beberapa review tentang  film. Punya blog pertama kali sekitaran pertengahan 2008. Mulai fokus nulis review buku tahun 2010, saat mulai berdatangan buntelan rutin dari beberapa penerbit. Makin aktif sejak gabung ama BBI tahun 2011. Uniknya, di tahun yang sama aku kerja di sebuah perpustakaan sekolah. Nulis review juga salah satu termasuk jobdesk sebagai pustakawan loh.. :D 
(FYI, banyak anak-anak BBI yang iri lho sama profesi Mbak Lucty, karena bisa bekerja dikelilingi buku-buku dan yang terpenting bekerja karena passion (bukan hanya uang). Saya juga mirip Mbak Luckty, pas lulus SMU bingung karena berasa nggak ada jurusan yang cocok. Sayang sadarnya terlambat dan sampai sekarang masih nyesel #curcol) 
Mbak Luckty kan pustakawati nih. Menurut Mbak Luckty, genre yang laris atau favorit di Indonesia itu genre apa?
Genre romance. Kenapa? Pada umumnya, masyarakat kita membaca buku karena butuh hiburan, pelapas penat. Nah, kalo suruh baca yang berat-berat yang ada tambah penat. Udah banyak masalah, eh malah baca yang berat-berat, jadi nggak ngilangin stres x) Nah, genre romance biasanya berisi yang manis-manis. Menurutku, genre romance terbagi dua golongan; menye-menye ama unyu-unyu. Aku cenderung lebih menyukai golongan unyu-unyu. Tapi ini juga masalah selera sih. Gak setiap orang punya selera yang sama. Misalnya, kita suka semur jengkol, tapi orang nggak suka, menghirup baunya aja udah nggak tahan. Begitu juga dengan buku, selera nggak bisa dipaksakan. 
Etapi, jadi keinget sebuah kalimat di novel BLISS; “Lebih baik jadi kutu buku referensi daripada ahli novel percintaan.”   
(Hahaha, saya suka metaforanya. Menurut saya, percintaan selama logis gpp, lha emang ada cinta yang pake logika? #NyanyiLaguAgnes, BTW saya tanya Mbak Lucty, apa bedanya romens unyu-unyu dan menye-menye. Menurut mbak Luckty, unyu-unyu adalah manis tapi gak lebay, sedangkan menye-menye itu semacam cinta-cintaan picisan)
Sejauh ini, orang Indonesia, menurut Mbak Luckty, lebih suka buku-buku lokal atau terjemahan?
Sekeren-kerennya novel terjemahan, banyak yang lebih suka novel lokal. Ada banyak alasan kenapa enggan memilih novel terjemahan. Pertama, biasanya memiliki jumlah halaman yang lumayan tebal, jadi mikirnya pasti udah jadi bantal duluan deh buku itu x) Kedua, tema yang diangkat biasanya berat. Pernah tuh, beli buku-buku fiksi bertema thriller buat perpus sekolah. Pada serem duluan, takut nggak nyampe ama jalan ceritanya. Ketiga, dari sisi terjemahan. Udah tebel, temanya berat, mana terjemahannya berantakan banget. Langsung nggak mood mau bacanya. Pernah beberapa kali menemukan buku tipe ini. Oya, pernah beli buku klasik, covernya unyu banget, mana penulisnya juga udah nggak diragukan lagi. Ehhhh...dari halaman pertama aja udah gak sreg ama tatanan bahasanya. Cerita klasik kok pake bahasa gaul, ya hancur imajinasi kita pas bacanya. Ternyata nggak cuma aku aja yang kecewa ama buku terjemahan itu. Sayang banget, padahal itu salah satu buku klasik yang lumayan mendunia. 
Nah, kalo kalo novel lokal beda lagi. Biasanya endingnya gampang banget ditebak. Dari segi tema pun terkadang bukan sesuatu yang baru. Novel lokal yang keren banget adalah Rahasia Sunyi terbitan GagasMedia. Bertema thriller. Nuansa lokalnya kental. Endingnya pun tak terduga. 
(*Mencatat* saran novel thriller dari Mbak Luckty untuk masukin list Wishful Wednesday. Setuju soal terjemahan yang kelewat gaul, saya juga pernah tuh baca terjemahan pake loe-gue, emang dikira tuh bule orang Jakarte)
Saya sering dengar kalau Mbak Luckty tidak percaya bahwa minat baca di Indonesia itu rendah. Bisa dijelaskan mengapa? 
Berdasarkan pengalaman selama bekerja di beberapa perpustakaan, permasalahan utama kenapa minat baca itu rendah karena tidak tepatnya bacaan yang disajikan. Ada nih, sebuah sekolah kejuruan yang isi perpustakaannya hanya buku-buku kimia dan komputer semua. Memang sih, cuma jurusan itu yang ada di sekolah tersebut. Tapi, mabok juga kali kalo suruh baca rumus kimia mulu x)  Begitu juga dengan (kebanyakan) perpustakaan perguruan tinggi isinya di dominasi buku-buku diktat kuliah. Rak referensi isinya cuma sedikit. Pas kerja di perpustakaan sebuah kampus swasta, pas pengadaan buku, kebagian pendataan judul-judul buku plus dikasih kepercayaan buat beli buku-buku tersebut. Lima persen kulokasikan buat buku-buku fiksi. Meskipun cuma lima persen, tapi bisa beli lumayan banyak buku loh. Dua kardus besar, waktu itu nitip beliiin di Jakarta ama salah satu member BBI, Noviane Asmara. Laris manis. 
Begitu juga di sekolah. Pada umumnya sekolah-sekolah negeri, pengadaan buku hanya bergantung pada sumbangan dari pusat. Setiap sekolah jatahnya sama, seragam. Hampir seratus persen buku pelajaran semua. Itu pun nggak semua guru menggunakannya. Di satu sisi, bahasanya yang kaku, terkadang juga isinya tidak sesuai kurikulum. Alhasil banyak buku dari pemerintah yang ‘menganggur’ dan terkesan cuma jadi ‘pajangan’. Sementara pihak sekolah pada umumnya tidak ada yang menganggarkan dana untuk pembelian buku. Sudah menjadi rahasia umum, kenapa perpustakaan sekolah kerap terlihat ‘mati’, karena memang tidak ada ‘gairah’ di sana. Padahal, menurut UU No. 43 Tahun 2007, setiap perpustakaan sekolah harus menganggarkan minimal lima persen untuk perpustakaan. Fakta di lapangan? Yaa...gitu deh... Makanya kalo nggak pintar-pintar pustakawannya, perpustakaan mana bisa ‘hidup’, apalagi mau menumbuhkan minat baca. 
Sekolah yang kutempati sekarang juga dulunya perpusnya nggak layak banget. Cuma rak-rak yang isinya buku-buku jadul sejak jaman kapan, plus hanya satu meja. Boro-boro pustakawan, petugas khusus di perpustakaan aja juga nggak ada. Pemerintah selalu menggembor-gemborkan rumah pintar, taman pintar, rumah baca, dan lain-lain. Padahal itu nggak perlu kalau perpustakaan dimanfaatlkan dengan maksimal sesuai fungsinya. 
(Saya salut lho (dan juga iri) sama upaya Mbak Luckty untuk meningkatkan mutu dan kualitas perpustakaan baik secara buku-buku maupun ruang perpus itu sendiri, benar-benar bekerja memakai hati dan passion, sekali lagi, saya sarankan untuk membaca blog Mbak Luckty)
Kebetulan di lingkungan saya (dan juga mungkin beberapa teman blogger yang lain) minat bacanya rendah.  Di rumah, hanya saya saja yang suka baca. Teman saya bahkan tidak sanggup membaca buku yang hanya mempunyai 50 halaman. Semua teman saya yang suka baca buku itu cuma ada di dunia maya. Mbak Luckty ada saran tidak, bagaimana cara menumbuhkan minat baca? 
Masih nyambung di pertanyaan sebelumnya, ada banyak cara untuk menumbuhkan minat baca. Salah satunya ya, menyajikan bacaan yang tepat untuk pembaca. Misalnya nih, kita buat perpustakaan/ taman bacaan di desa yang warganya rata-rata bekerja di bidang pertanian. Nah, kita sediakan buku-buku yang berhubungan dengan pertanian; Cara Memanen Kacang Lebih Cepat, Menanggulangi Hama Pada Tanaman Terong, Jenis Bibit Unggul Dalam Menanam Jagung, dan lain-lain. 
Nah, kalo aku di sekolah sebisa mungkin minimal satu atau dua minggu sekali ada sepuluh buku baru. Caranya, dulu sih dari uang denda. Tapi nggak begitu efektif, toh denda biasanya cuma seratus dua ratus. Lama terkumpulnya. Cari cara lain, mereka bisa ngeprint tugas di komputer perpus. Ini hasilnya lumayan banget. Trus, pas semester kemarin musim ngeprint danbo, ini pemasukannya dahsyat banget meski resikonya cartridge sering jebol x) 
Dari uang-uang itu, aku beliin semua novel-novel unyu. Muridnya militan banget, hampir tiap hari nanya ada novel baru apa nggak. Semester ini kan ada bazar buku, biasanya di daerahku cuma setahun sekali. Sayang banget kan kalo dilewatkan. Itu pas baru masuk ajaran baru, pas ada bazar. Jelas perpus belum punya pemasukan donk. Alhasil aku rela ‘nombokin’ dulu buat beli ratusan novel-novel dengan harga miring. Uangnya sedikit demi sedikit balik hasil dari uang print-printan setiap harinya. 
(Yah, sebenarnya sih kalau soal hobby, pasti orang itu berbeda-beda yah dan gak bisa dipaksa. Tapi yang bikin saya jengkel tuh, kesukaan atau hobby baca di Indonesia masih dipandang sebelah mata sama masyarakat. Dianggap hobby gak penting, hobby kayak anak kecil, hobby gak guna. Eh sorry jadi curhat.)
Menurut Mbak Luckty, permasalahan dunia perbukuan di Indonesia itu apa sih? 
Hmmm... permasalahan dunia perbukuan di Indonesia ya?!? Paling utama ya dari segi harga. Semakin buku itu bagus, semakin mahal harga bukunya. Terkadang, banyak orang ingin membaca sebuah buku, tapi suka ‘keder’ pas mau beli karena liat harganya x) 
(BENAR BANGET. Lihat saja tuh pas ada sale dan diskon di mana-mana. Orang nggak lihat sinopsis, rating, isi buku, dll. YANG DILIHAT - “mumpung murah, gue harus beli, karena besok-besok belum tentu dapat yang murah”. Bagus-nggak, belakangan. Baca atau tidak, belakangan. Sudah punya (double) atau ngga ada, belakangan. Eh ini nggak nyindir siapa-siapa yah. INTINYA MURAH )
Ada saran bagaimana cara mengatasi masalah dalam dunia perbukuan di Indonesia? 
Seperti kita ketahui, harga mati sebuah buku untuk sekali cetak adalah 3000 eksemplar. Nah, pihak penerbit jelas mempertimbangkan masak-masak untuk menerbitkan sebuah buku, apalagi buat penulis pemula. Belum menjadi jaminan sebuah buku itu bakal laku atau nggak. Sekarang ada banyak cara untuk menelurkan sebuah buku. Pengalamanku saat menerbitkan tulisan-tulisan murid tentang kenangan mereka selama di SMA lewat jalur indie publishing via nulisbuku.com. Gratis, tanpa ditarik biaya apapun. Prosesnya pun nggak rumit. Eits, ini bukan kalimat berbayar loh! 
(Kalau soal ini, saya serahkan pada yang berniat menjadi penulis dan menerbitkan bukunya lewat jalur indie serta lebih ke tujuan membuat bukunya dibaca banyak orang, alih-alih materi semata) 
Menurut mbak Luckty, mana yang saat ini lebih dibutuhkan dalam dunia perbukuan di Indonesia? penulis, penerbit atau toko buku (distributor)? 
Penulis, penerbit dan toko buku memiliki ikatan benang merah. Saling membutuhkan. Dengan adanya penerbit, penulis tidak hanya dibantu sekedar menerbitkan sebuah buku, tapi dari segi yang lain; ada tim editor, tim marketing, dan lain-lain. 
Aku pernah membaca beberapa buku yang isinya bagus tapi sayang kurang terdengar ‘gong’nya. Mungkin dari sisi promosinya kurang.
Begitu juga dengan keberadaan toko buku. Percaya nggak, didaerahku nggak sama sekali yang namanya toko buku. Ada sih, tapi isinya didominasi buku-buku pelajaran plus alat tulis. Kalo mau beli-beli novel ya harus ke toko buku besar, Gramedia. Itupun adanya cuma ada di ibukota. Sekitar dua jam-an dari rumah. Musti naik bus dua kali dan satu kali angkot. Kebayang kan ribetnya kalo beli buku banyak mesti naik turun angkot/bus berkali-kali?!? x)
 
Makanya pengen banget suatu saat bisa punya kafe buku. Itu salah satu impian terbesarku. Tetap semangat membaca. Membacalah yang kita suka. Memilih bacaan itu ibarat memilih makanan. Mau pilih makanan sehat atau fast food?!? ('') ('') ('') ('')  
(Saya juga, sekarang alih-alih mencoba menulis, lebih tertarik punya toko buku sendiri. Toko buku yang sifatnya intim dengan pelanggan, penulis dan penerbit, misal mengadakan event-event yang melibatkan pembaca dan penerbit/penulis. Juga toko buku yang membantu penulis-penulis lokal dengan mendistribusikan buku-buku mereka #doakan) 
Terakhir, ada pesan-pesan untuk pembaca blog? 
Makasih ya udah dikasih kesempatan buat diwawancarai di blog ini. Maaf kalo ada salah-salah kata. Buat Lina Riyanty (manggilnya apa ya?!? :p) , tetap semangat menimbun ehhh membaca :p 
(Panggil saya Lina saja. Saya yang berterimakasih, karena Mbak Luckty sudah bersedia meluangkan waktu untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya dan sukses untuk Mbak Luckty, semoga keinginan mulianya untuk punya kafe buku tercapai. )
Nama: Luckty Giyan Sukarno
Blog  : http://luckty.wordpress.com/
Twitter: @lucktygs

Demikian untuk post Inter-Blogger pertama saya. BTW kalau punya suatu pemikiran dan mau share juga bersedia dikepo-in saya, kalian boleh tampil juga di Inter-Blogger ini. Hubungi saya via email di: lina.riyanty@gmail.com.

17 komentar:

  1. Wah, terharu. Makasih ya udah dikasih kesempatan di Inter-Blogger :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama mbak. Makasih juga udha informatif menjawab semua pertanyaannya :D

      Hapus
  2. wah... bagus juga nih ide inter-bloggernya. semangat Lina! :)

    BalasHapus
  3. Aku juga punya mimpi yang sama kayak Mbak Luckty dan Mbak Lina! Gimana kalau kita join forces bikin book cafe, mbak? >D

    Ini artikel yang bagus banget, Mbak Lin! Semangaat! Suka banget deh sama artikel ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk aja, tapi perlu ngumpulin dana dulu :D

      Makasih Ayu #terharu #hugs

      Hapus
    2. mari menimbun buku... #eh x)

      Hapus
  4. Sama, suka :D Idenya fresh sekali!
    Mbak Luckty pun narasumber yang komunikatif dan inspiratif. Jempol! xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, karena Mbak Lucktynya narasumber yg fun dan inspiratif :D

      Hapus
    2. kyaaaa...jadi maluuu... ( ʃ⌣ƪ)

      Hapus
  5. aku salut dan iri sama mbak luctky.. lucky banget bisa kerja dikelilingi sama buku.. hehehehe

    "Pemerintah selalu menggembor-gemborkan rumah pintar, taman pintar, rumah baca, dan lain-lain. Padahal itu nggak perlu kalau perpustakaan dimanfaatlkan dengan maksimal sesuai fungsinya.." setuju banget, apalagi perpustakaan-perpustakaan daerah, bukunya itu jarang banget diupdate :(

    makasih mbak Lina dengan inter-bloggernya, sangat menarik dan inspiratif.. ciaooo ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi sayangnya di Indonesia langka banget mahluk berlabel pustakawan :D

      Hapus
  6. sukaaaaa sama wawancaranya, ada bebrapa kesamaan nih sama mbak Luckty karena aku juga tinggal di daerah yang nggak ada toko buku.

    setuju kalau perpustakaan itu harusnya bukunya nggak hanya pelajaran semata, aku tipe orang yang suka banget pinjem buku karena nggak mampu sering2 beli buku, makanya langsung sewot kalau ada yang menghina buat baca buku harus pinjam atau cari gratisan, karena mereka nggak ngrasain beli buku dari jerih payah sendiri. seharusnya di sinilah peran perpustakaan yg paling penting, terlebih untuk anak sekolah, saya pernah ada di fase tersebut, rata2 bukunya berat2 dan menghadapi masalah hidup aja udah berat, buat apa menambah beban? makanya suka banget sama genre romance :p. taman bacaan pun di tempatku juga nggak lengkap, yg laris manis buku2 harlequin dan hisrom, komik tentu saja, bacaan buat remaja sedikit banget, makanya dulu aku gencar ikut kuis karena kalau nuruti beli semua buku yang diinginkan saya nggak bisa makan waktu kuliah =))

    haduh, malah curcol nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. *toss sesama #OrdoBuntelanGarisKeras plus #TimGenreRomance :D

      Hapus
  7. kenal Mbak luckty, pas ada yang RT blognya, di dalam hati "Ini orang update mulu tentang buku, updatenya cepat pulak," XD
    masuk ke blognya... jebreeeeet!!! ternyata cewek XD
    tapi aku masih suka silent rider kalau ke blognya Mbak luckty, hihihi... semoga terwujud impiannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Ini orang update mulu tentang buku, updatenya cepat pulak,"
      --> kyaaa...jadi maluuu.... x)

      Hapus
  8. Wow kak Lucty GS muncul diwawancar :D

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...