Sabtu, 30 Januari 2016

WONDER: AN INSPIRING STORY ABOUT KINDNESS

Judul: Wonder
Pengarang: R.J. Palacio
Penerbit: Atria
Penerjemah: Harisa Permatasari
Jumlah halaman: 430 halaman
ISBN: 978-979-024-508-2
Cetakan 1, September 2012
Segmen: Semua umur, anak-anak
Genre: Drama, keluarga, realistic-fiction
Rate: ★★★★½

"Saat diberi pilihan antara bersikap benar dan berbaik hati, pilih berbaik hati."

Sinopsis cerita, saya ambil dari beberapa paragraf dalam buku.

Seandainya aku menemukan sebuah lampu ajaib dan mendapatkan sebuah permohonan, aku akan memohon agar aku memiliki wajah normal yang tidak akan pernah diperhatikan siapa pun. Aku akan memohon agar aku bisa berjalan di tempat umum tanpa ada orang yang melihatku lalu memalingkan wajahnya. 

Kuharap setiap hari adalah Halloween. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu, kita 
bisa berjalan-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng. 

Bocah tikus. Aneh. Monster. Freddy Krueger. E.T. Menjijikan. Wajah kadal. Mutan. Aku tahu semua julukan mereka untukku. Aku sudah mengunjungi cukup banyak taman bermain untuk menyadari bahwa anak-anak bisa bersikap kejam. Aku tahu, aku tahu, aku tahu. 

Omong-omong, namaku August. Aku tidak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apa pun yang kaubayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk. 

Perhatian: Buku ini bukanlah sicklit.

Surprise, surprise, saya tidak menyangka begitu menikmati membaca buku ini. Awalnya saya sempat mengira buku ini bergenre sicklit. Meski beberapa teman BBI sudah memberitahu saya kalau tokoh dalam buku ini, August tidaklah menderita suatu penyakit. Namun akibat kurangnya pengetahuan saya  mengenai Mandibulofacial Dysostosis, saya sempat menyangka itu adalah suatu penyakit alih-alih suatu kelainan genetik yang mengakibatkan wajah tidak terbentuk normal sebagaimana mestinya saat lahir. Selebihnya August hanyalah anak-anak biasa, karena ia tidak merasa kesakitan, ia juga tergolong cerdas dan tidak memiliki kebutuhan khusus.

Yang membuat saya sangat enjoy membaca buku ini:
1. Terjemahannya bagus dan ngalir. Pilihan kata-katanya sederhana, tidak bertele-tele dan mudah dipahami (saya pernah membaca beberapa buku anak-anak yang masuk kategori sulit karena kelewat hiperbolis).

2.  Karakter-karakter yang likeable. Saya menyukai nyaris semua karakter dalam buku ini. Awalnya saya pikir hanya ada 1 POV dari tokoh utama. Namun ternyata ada 6 POV karakter yang saling bergantian dalam melengkapi cerita (August, Via, Summer, Jack, Justin dan Miranda) Dan ini sangat menarik, karena pembaca seolah diajak melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari orang-orang di sekitar August.

Seperti dalam POV Justin. Bagi August, dirinya tidak beruntung karena mempunyai cacat wajah yang membuat orang-orang selalu menganggapnya aneh dan sering menbuatnya menjadi sasaran bullying. Namun Justin tidak menganggap August tidak beruntung, sebab:

alam semesta menjaga mahluk ciptaan paling rapuh dengan berbagai cara yang tidak kita lihat. contohnya dengan orang tua yang memujamu secara membabi buta. dan seorang kakak perempuan yang merasa bersalah karena bersifat manusiawi terhadapmu. dan seorang anak bersuara berat yang ditinggalkan teman-temannya karenamu. dan bahkan seorang cewek berambut pink yang membawa fotomu di dalam dompetnya. mungkin memang sebuah lotere, tapi pada akhirnya alam semesta membuat semuanya impas. ~hal. 278

Bila Anda bertanya mengapa tidak ada huruf kapital dalam kutipan di atas? Karena memang bagian POV Justin dalam buku pun tanpa huruf kapital. Dan itu bukan typo tapi memang disengaja oleh penulis. Untuk alasannya, Anda bisa cari tahu di blog penulis.

Ada 2 POV di sini yang menyatakan bahwa, bukan rupa yang terpenting namun dukungan tanpa henti dari keluargalah yang membuat seseorang bertahan menghadapi dunia. POV kedua adalah dari Miranda yang juga mempunyai keluarga broken home dan cuek.

Saya pribadi iri melihat kasih sayang dan perhatian tak berkesudahan dalam keluarga Pullman. Mr & Mrs Pullman adalah salah satu gambaran orang tua ideal yang pernah saya baca dari banyak literasi. Ada 2 adegan yang menggambarkan betapa luar biasanya Mr & Mrs Pullman sebagai orang tua yang begitu besar menyayangi anak-anak mereka.
 
Mrs Pullman (ibu August)

"Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy? bisikku.
"Tidak, Sayang, kau tidak...."
"Aku tahu aku jelek."

Mom menciumi wajahku. Mom mencium mataku yang terlalu melorot. Mom mencium pipiku yang kelihatan penyok. Mom mencium mulut kura-kuraku. 

Mom mengucapkan kata-kata lembut yang aku tahu seharusnya membuatku merasa lebih baik, tapi kata-kata tak bisa mengubah wajahku.

Mr. Pullman (ayah August)

"Kau selalu memakai helm itu. Dan kenyataan yang paling, paling, paling, paling jujur adalah; aku rindu menatap wajahmu, Auggie. Aku tahu kau tidak selalu menyukai wajahmu, tapi kau harus mengerti... aku menyukainya. Aku menyukai wajahmu ini, Auggie, seutuhnya dan sepenuh hati. Dan bisa dibilang aku patah hati saat kau terus-terusan menutupnya."

Bagi saya, dua adegan di atas adalah 2 contoh sempurna gambaran ketulusan kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Referensi saya mengenai buku bertema keluarga untuk kategori middle-grade belum banyak. Sebelumnya saya pernah membaca Kira-Kira yang mempunyai tema besarnya kasih sayang keluarga juga. Ayah dan Ibu Auggie adalah salah satu karakter yang membuat saya ingin menjadi orang tua seperti mereka. Selalu mendukung dan menyemangati anak-anak mereka. Bahkan cara mereka memerlakukan Daisy, anjing peliharaan mereka, membuat saya semakin takjub.

The Story

Inti cerita dalam Wonder sendiri sebenarnya standar dan tidak ada yang baru, yaitu jadilah manusia yang selalu bersikap baik dan juga baik hati. Namun yang membuat istimewa adalah bagaimana penulis bisa mengemasnya melalui adegan-adegan yang sebenarnya sederhana namun justru karena kesederhanaannya menjadi lebih mengena. Karakter-karakter yang mudah dicintai seperti Summer, the kind one, Jack Will, The loyal best friend, dll. Begitu pun dengan kalimat-kalimat lugas dalam buku ini yang maknanya langsung dapat diresapi oleh pembaca baik yang narasi atau pun dialog. Banyak kutipan-kutipan yang ingin saya catat karena banyaknya kalimat-kalimat mutiara dalam buku ini.

Tentang baik sendiri, ada 2 jenis. Yaitu Nice (bersikap baik) dan Kind (baik hati). Saya pribadi lebih suka yang kedua, karena baik hati itu dari dalam sedangkan bersikap baik hanya dari luar. Semua orang bisa mencoba dan bersikap baik namun tidak semua orang itu baik hati. Contohnya, Charrlotte Cody is being nice with August, but it's Summer who truly kind.

Meski orang-orang berkata kalau ending dalam cerita Wonder ini terlalu Hollywood (salah satu faktor yang  membuat saya hanya memberi rating 4.5 alih-alih 5) namun untuk rating goodreads saya akan tetap berikan 5 bintang. Karena bagaimanapun segmen utama buku ini adalah anak-anak, karena itu saya setuju jika penulis ingin mengakhiri cerita dengan semangat, kehangatan hati dan energi positif.

Namun seperti yang kakak August, Via katakan:

"Kau harus sekolah lagi. Semua orang pun kadang-kadang benci sekolah. Kadang-kadang aku benci sekolah. Kadang-kadang aku benci teman-temanku. Tapi itulah kehidupan, Auggie. Kau ingin diperlakukan  dengan normal, kan? Seperti inilah normal! Kita semua harus sekolah meskipun kadang-kadang kita mengalami hari yang buruk, oke?"


August tidak bisa mengharapkan semua orang untuk selalu bersikap baik padanya. Karena dunia penuh hal-hal yang di luar kuasa atau kendali kita dan anak-anak seperti Julian akan selalu ada. Namun kita bisa memilih bagaimana cara menghadapi semua itu. Untuk saya pribadi, tidak semua hal bisa dipilih dengan berbaik hati, banyak hal dalam hidup ini yang harus dilakukan dengan bersikap benar, meski terkadang itu menyakitkan.

Review saya akan saya akhiri dengan PEDOMAN dalam kehidupan:

TINDAKANMU ADALAH MONUMENMU
Makna pedoman ini adalah kita akan diingat atas perbuatan yang kita lakukan. Perbuatan kita adalah yang paling penting. 

Perbuatan kita lebih penting dari ucapan atau penampilan kita. Perbuatan kita bertahan lebih lama dari umur kita. Perbuatan kita bagaikan monumen yang dibangun orang-orang untuk menghormati para pahlawan setelah mereka meninggal. Perbuatan kita bagaikan piramid yang dibangun bangsa Mesir untuk menghormati para firaun.


Namun bukannya terbuat dari batu, monumen itu terbuat dari kenangan yang dimiliki orang-orang terhadap kita. Karena itulah tindakanmu bagaikan monumenmu. Bangunlah dengan kenangan alih-alih dengan batu.
Hal-hal teknikal:
  • Terjemahan: Bagus. Meski ada sedikit typo tapi secara keseluruhan terjemahannya bagus karena sangat mengalir. 
  • Cover: Cukup. Atria mengikuti cover aslinya. Tapi untuk ukuran buku anak-anak, covernya termasuk sederhana. Cover juga relevan dengan isi buku, namun bukan jenis cover yang bisa membuat pembaca tertarik pada pandangan pertama.
  • Cetakan: Bagus. Kertas, tulisan dan tinta sudah oke dan sesuai standar, tidak ditemukan halaman cacat. 
            Salam hangat,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...